Ok, chap 3 untuk project crossovers FF XIII n FF Versus XIII

Jangan lupa review n comment'y minna ^^

Author's note:

'…' thinking

Bold = Past event

Disclaimer: © Square Enix


Crossover Bond

Flashback

"Lagi pula tidak ada salahnya mencoba. Lagi pula yang aku dengar dia sedang kerepotan mengelola 7th heaven dan harus membantu Cloud juga dengan Strife Delivery –nya."

"Kenapa dia juga membantu di Strife Delivery jika dia sendiri sudah sibuk dengan 7th heaven?" Tanya Serah penasaran.

"Cloud adalah tunangan Tifa, beberapa bulan lagi mereka akan menikah. Wajar saja mereka kerepotan dengan persiapan pernikahan mereka, belum lagi bisnis mereka yang sedang berkembang pesat." Jelas Vanille.

"Kalau kau mau, nanti sepulang sekolah aku bisa mengantarmu ke 7th heaven untuk menemui Tifa." Tawar Fang.


Lightning POV

Sudah seminggu sejak menjadi murid Fabulla High, hingga kini ia masih saja menjadi buah bibir di sekolah.

'Sigh'

"Ada apa Light?"

Aku hanya diam dan menghiraukan pertanyaan Vanille dan masih berkutat dengan masalahku sendiri. 'Kenapa anak-anak itu masih saja membicarakanku, seperti tidak ada hal lain saja yang bisa mereka bicarakan.' Pikirku. Ini sudah berlangsung selama seminggu sejak aku masih sekolah ini dan hal ini mulai menjengkelkan.

"Biarkan saja Vanille, dia hanya sedang kesal karena ketenarannya." Ledek Fang sambil tertawa.

Aku hanya semakin kesal mendengar ejekan Fang. "Urusi saja urusanmu sendiri." Jawabku dingin. Bukannya berhenti mentertawaiku, tawa fang semakin menjadi. Aku mempercepat langkahku dan meninggalkan Vanille dan Fang dibelakang. Aku bergegas menuju kelas Serah, tapi sebelum aku sampai dari kejauhan aku melihat Serah sedang tertawa dengan seorang laki-laki. 'Dia lagi? Tidak bisakah hariku menjadi lebih buruk?' kutukku dalam hati. Kudekati Serah sambil menatap dingin laki-laki itu. Laki-laki itu menyadari kedatanganku.

"Serah."

Serah menengok kearahku. "Hi kak."

"Hi kak." Sapa Snow sambil tersenyum layaknya idiot.

"Siapa yang kakakmu?" jawabku sinis sambil memberikannya death glare.

Tapi Snow sepertinya tidak terpengaruh dengan sikapku. Dia malah terus tersenyum, membuatku semakin ingin meninju wajahnya.

"Ayo Serah." Aku pun berlalu. Serah mengikutiku setelahnya.

"Kenapa kakak bersikap seperti itu terhadap Snow?"

"Dan harus berapa kali lagi aku memberi tahu mu jika aku tidak senang dengan anak itu."

"Tapi Snow orang yang baik kak."

"Kau bahkan baru mengenalnya selama satu minggu, bagaimana kau bisa tahu kalau dia orang baik atau bukan?"

Serah hanya terdiam mendengar perkataanku. 'Sigh'.

"Aku hanya tidak ingin kau itu dipermainkan oleh anak itu." Jelasku sambil mengelus rambut Serah.

"Dia bukan tipe orang seperti itu."

"Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu Serah.". "Sudahlah, Vanille dan Fang sudah menunggu kita digerbang."

Serah pun tersenyum, kami berjalan menghampiri Fang dan Vanille yang sudah menunggu kami digerbang sekolah.


Normal POV

"Serah, aku berangkat."

"Hati-hati kak."

Lightning berjalan menuju 7th Heaven. Hari ini Tifa meminta Lightning untuk datang karena suasana di 7th Heaven sedang ramai dan Tifa juga harus mengurusi berkas-berkas invoice pengiriman barang Strife Delivery Service. Saat sedang menunggu bus, Lightning melihat Laris, sahabat Noctis dengan seorang gadis cantik berambut pirang. 'Pasti itu kekasihnya.' Pikir Lightning.

"Iya, maaf ya Noct."

"Tak apa, kau hati-hati."

"Iya." Terdengar suara telpon diseberang ditutup.

Gadis cantik bermata violet itu menutup telponnya sambil menghela nafas.

"Noctis?" Tanya pria yang sedang bersamanya.

"Iya."

"Ada apa?"

"Tak apa, hanya membatalkan janji dengannya."

"Apa tak apa kau membatalkan janjimu dengannya?"

"Tidak, lagi pula sepertinya dia tidak keberatan.". "Lebih baik sekarang kita cari makan, aku sudah lapar." Pinta gadis itu.

"At your service princess."

Gadis itu hanya tersenyum geli.

Mean while

"Iya, maaf ya Noct."

"Tak apa, kau hati-hati."

"Iya." Noctis pun menutup telponnya. 'Ini sudah kesekian kali kau membatalkan janjimu sendiri. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukakan?' Tanya Noctis dalam hati.

"Sudahlah, lebih baik aku mengambil barangku." Noctis pun mengambil kunci mobilnya.

"Light, tolong meja 13."

"Iya."

Saat sedang melayani pelanggan, lonceng pintu depan berbunyi menandakan datangnya tamu yang lain.

"Selamat da…" Lightning tidak menyelesaikan kalimatnya melihat siapa yang datang. Dia hanya melihat siapa yang baru datang itu dengan heran. 'Kenapa dia bisa ada disini?' Tanya Lightninng heran.

"Kau?" Tanya orang itu.

Lightning hanya mengerutkan alisnya. Tidak pernah Lightning menyangka kalau dia, diantara semua orang yang akan datang ketempatnya bekerja itu, itu bukan seperti Lightning dapat mengatur siapa yang akan datang ketempat itu.

"Selamat datang." Sapa Tifa.

Tersadar dari shocknya. "Ah, apa Cloud ada?" Tanyanya.

"Sebentar akan kupanggilkan. Duduklah Noct." Jawab Tifa.

Noctis pun duduk disalah satu meja yang kosong. Dan karena 7th Heaven sedang sibuk, maka mau tidak mau Lightning pun menghampiri Noctis.

"Ada yang bisa kubantu tuan?" ucap Lightning dengan nada Profesionalisme.

Noctis hanya mengerutkan alisnya sambil tersenyum meledek. "Sejak kapan kau bekerja disini?"

Tapi Lightning tidak menjawabnya. "Jika anda belum mau memesan, maka saya permisi dulu." Ucap Lightning dengan nada dingin dan senyum yang dipaksakan.

Tanpa sabar Noctis memegang tangan Lightning, Lightning terkejut karena tangannya dipegang hanya dapat terdiam.

"Ehhmm."

Noctis dan Lightning melihat siapa yang baru saja datang.

"Aku mengganggu ya?" Tanya orang yang baru saja datang itu.

Noctis hanya memberikan tatapan what-on-the-earth-do-you-mean? Namun Cloud hanya tersenyum penuh arti.

Lightning yang heran melihat kedua pria itu pun bertanya "Kalian saling kenal?"

"Somehow, he's my relative." Jawab Cloud.

"Terdengar seperti kau tidak mau punya saudara sepertiku?"

Lightning semakin bingung dengan dua orang ini, "Sudahlah, bukan urusanku juga." Lightning meninggalkan mereka berdua dan kembali bekerja. Tapi selagi Lightning bekerja, dia masih sempat melirik kearah Noctis dan Cloud. Tak lama kedua orang itu keluar dari 7th Heaven. 'Mereka mau kemana?' Tanya Lightning.

"Mereka hendak kebelakang tempat barang kiriman disimpan." Ujar Tifa yang sepertinya tahu apa yang Lightning sedang pikirkan.

"Me… Memangnya siapa yang ingin tahu mereka pergi kemana?" Jawab Lightning.

"Kau." Balas Tifa sambil menunjuk kearah Lightning.

"Aku tidak…" Jawab Lightning, mukanya merona mendengar perkataan Tifa.

"Noctis itu sepupu jauh Cloud, walau mereka berdua tidak terlihat seperti saudara.". "Kau jangan heran mengapa Noctis ada disini, Noctis sering datang ketempat ini." Jelas Tifa sambil membuatkan minuman pesannan pelanggan.

"Kenapa kau memberitahuku?"

"Who knows?" Jawab Tifa dengan nada meledek.

Beberapa waktu lamanya mereka berdua saling cakap-cakap sambil sesekali melayani para pelanggan. Tifa tidak ada henti-hentinya meledek Lightning yang sepertinya tertarik dengan Noctis. Lighting tidak mau kalah, dia selalu menyangkal dengan alasan bagaimana bisa dia tertarik pada pemuda yang baru saja ia kenal seminggu lalu itu.

'Giggle.'. "Kau tidak akan pernah tahu kapan cinta datang menghampirimu, silly."

Lightning hanya terheran mendengarnya, sebelum Lightning menyangkal perkataan Tifa tadi. Tifa sudah terlebih dahulu bicara. "Kuberi tahu satu rahasia. Dia itu…"

"Dia itu siapa?" Tanya Cloud yang muncul tiba-tiba di meja bar.

"Tidak." Jawab Tifa ceria.

"Ada apa?" tiba-tiba Noctis muncul.

Tifa dan Lightning terkejut akan kedatangan Noctis hanya bisa salah tingkah. Sedangkan Noctis dan Cloud hanya menatap mereka heran.

"Bukan apa-apa kok, tak usah dipikirkan." Jawab Tifa.

Tapi sepertinya Cloud tidak terpedaya oleh pernyataan Tifa, ia mengerutkan alisnya seolah meminta penjelasan Tifa. Tifa hanya tersenyum gugup.

"Sudahlah, Light shift mu hari ini sudah berakhirkan?" Lightning melihat jam disudut bar. Dia baru sadar kalau sudah saatnya pulang.

"Oh iya, kalau begitu aku ganti baju dulu." Lightning pergi ke belakang untuk mengganti seragamnya.

"Noct, urusanmu sudah selesaikan?" Noctis hanya mengangguk.

"Kalau begitu kau antar Lightning pulang. Aku tidak enak karena sudah menyuruhnya datang dihari liburnya. Kau mau kan?" pinta Tifa.

"Ayolah. Kau sedang tidak ada kerjaan kan?". "Tidak ada salahnya kan mengantarkan temanmu pulang, lagi pula ini sudah sore."

Noctis hanya diam mendengar permintaan Tifa, memang dia sudah tidak ada kerjaan dan mengantarkan Lightning pulang bukan masalah. Tapi jika mengingat sikap dingin Lightning, Noctis jadi ragu.

"Ayolah Noct."

Noctis belum sempat menjawab, Lightning sudah kembali dan berganti pakaian. Noctis mematung melihat penampilan Lightning...

TBC...~