Halo semua. He. Hehe. Hai apa kabar? Sudah lama sekali saya tidak menulis di fanfiction... dan tiba-tiba kangen begitu saja apalagi cerita ini belum beres juga hehe. Semua ini dikarenakan kuliah saya yang semakin padat saja, dengan berbagai kegiatan mahasiswa yang banyaknya super itu. Sebenarnya cerita ini udah punya konsepnya sendiri, jadi saya tinggal mengembangkan, tapi, ya ampun susah sekali menemukan waktu yang pas untuk mempublish cerita ini. Mungkin saya bakal cari orang untuk mempublish updatean fic-fic saya ini. Maafkan saya ya. Saya rindu kalian semua :)
Selamat membaca.
Falling (in) Between
a VOCALOID FANFIC
By : EcrivainHachan24
Desclaimer by Yamaha Crypton Future Media
Sebuah fic "pemanasan" setelah hiatus.
WARNING!
Klise, typo, dan lain-lain. Maafkan saya.
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
.
.
Chapter 2 : The Librarian.
Aku membuka-buka buku menu yang ada di hadapanku berulang-ulang kali. Seriusan, kadang aku tidak mengerti kenapa café atau restoran mematok harga yang tidak masuk akal dan semena-mena. Maksudku, kenapa aku harus membayar setengah dari uang jajanku selama sebulan demi segelas kopi, yang bahkan bisa kau buat sendiri di rumah? Masalah kualitas, katanya. Tapi yang terasa di lidahku, tetap saja itu cairan hitam pahit dengan campuran susu dan krim, dengan atau tanpa es batu. Kopi panas, es kopi, yang mana sajalah—tapi tentu saja aku tidak mengucapkan itu keras-keras lantaran sang pramusaji masih menatap kami—aku dan Lily—dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Apa bedanya sweet violet dan purple cheese? Keduanya terlihat sama, tapi kalian memasangnya dengan harga berbeda," protesku pada si pramusaji—membuat Lily mengulum senyum. Sobatku ini selalu berkata bahwa aku sangat blak-blakan dan blunt—setidaknya itulah menurut orang-orang. Si pramusaji tampak salah tingkah lalu berdeham.
"Sweet violet kue cake biasa, tapi kalau purple cheese, adalah cheese cake," terang si pramusaji.
"Tapi toppingnya?" balasku tak mau kalah.
Si pramusaji terdiam. "Blueberry…"
Aku tertawa. "Manajer kalian hebat sekali. Aku pesan creamy cheese waffle, crème brulee, dan espresso."
Pramusaji itu mencatatnya kemudian memaksakan seulas senyuman kikuk, sebelum akhirnya menyingkir bersamaan dengan buku menu dan pesanan kami.
Lily ngakak. "Astaga, kau seharusnya tidak melakukannya!"
Aku mengangkat kedua alisku. "Kenapa?"
"Karena," dia menghentikan tawanya. "Dia bahkan pakai seragam trainee dan kau sudah melakukan perploncoan yang, aku yakin, senior-seniornya di sini belum sempat melakukannya!"
Aku mendengus tertawa. Aku tidak melakukan perploncoan, sih. Aku 'kan hanya bertanya. Well, gaya bicaraku yang sinis, sarkas, dan berkesan menantang memang menyebalkan, tapi apa sih yang bisa kulakukan mengenai hal itu? Tidak banyak, bukan? Makanya aku sebenarnya tidak bermaksud menyakiti siapa-siapa karena yah, Luka Megurine punya gayanya sendiri.
"Apa maksudmu?" aku ikut tertawa juga. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Yah, L, maksudku," Lily mengerjap. "Kau bertanya macam-macam, melontarkan sarkasmemu yang terkenal itu, tapi kau malah memesan menu lain. Apa lagi namanya kalau kau bukannya sedang berusaha mengerjai anak malang itu 'kan?"
"Yeah right," aku angkat bahu. "Aku sudah kena batunya kok."
"Sungguh?" balas Lily sangsi. "Dari Shion?"
Aku memelototinya. Mana mungkin cowok itu memberiku perlakuan tidak menyenangkan?
"Lil, yang benar saja. Itu sarkasme."
"Oh," Lily tertawa. "Kadang aku tidak bisa membedakan mana yang asli mana yang tidak. Kau harus mengurangi frekuensinya,"
Aku diam saja, kemudian memandang keluar jendela di mana pemandangan pepohonan palsu yang menjadi interior café ini berdiri menutupi helaan angin dingin dari luar yang agak gerimis. Cukup menyenangkan kau tahu, saat musim semi masih dingin-dinginnya dan langit mulai menangis. Aku akan lebih pilih suasana seperti ini dibandingkan salju. Dingin, namun tak dapat diprediksi. Unpredictable. Berbeda dengan salju yang sudah pasti menggumpalkan padatan putih yang—tentu saja—dingin. Predictable is not my style at all.
Aku sedang brunch dengan Lily ketika anak ini, out of blue, memutuskan untuk bolos kelas Hukum Internasionalnya, dan memilih untuk brunch bersamaku yang sudah tidak ada mata kuliah lagi setelah jam kuliah terakhirku. Berbeda denganku yang agak-agak disiplin masalah kuliah, Lily sepertinya tidak terlalu peduli, malah aku merasa dia sengaja mengambil mata kuliah yang sama denganku dengan tujuan dapat sekelas denganku—dan tentu saja, sistem kuliahku 'kan moving class, sehingga kami hanya sekelas di beberapa mata kuliah, namun dia tidak terlihat keberatan sih. Tapi aku agak khawatir dengan sifat setia kawannya itu—kalau aku masuk, dia masuk, kalau tidak, ya dia juga tidak.
"Ya sama sepertimu," balasku. "Kau harus mengurangi frekuensi bolosmu."
Lily baru akan menjawab ketika pramusaji membawakan pesanan kami. Wangi keju menguar di udara ketika sepiring waffle pesananku di taruh di atas meja—membuatku menelan ludah. Aku sangat suka sekali keju. Memang sih, banyak yang bilang keju tidak baik untuk berat badanmu, tapi hey, aku kan olahraga setiap hari! Keju seharusnya menjadi semacam reward bagi kerja kerasku selama ini.
"Ekspresimu menggoda sekali," kekeh Lily sambil memasukkan choco chips cookie pesanannya ke dalam mulutnya. "Apakah kau terlihat seperti itu saat bertemu Shion?"
Aku memotong-motong waffleku dan memasukkannya pula ke mulutku, membiarkan lelehan keju itu memanjakan seluruh rongga mulutku. Ya ampun, sumpah enak sekali! "Maksudmu, terlihat seperti orang bodoh? Nope."
Lily cemberut. "Aku heran kenapa mantan-mantanmu diam saja melihat kelakuanmu begini sedari dulu. Aku tidak mengerti."
Aku angkat bahu. "Kata siapa? Leon merengek padaku setiap hari seperti bocah yang minta permen lollipop atau apa," kataku sambil mengenang mantan pacarku yang rewelnya luar biasa itu. "Dan mereka bilang, selalu perempuan yang mengemis perhatian. Tapi setidaknya, darinyalah aku belajar, perkataan seksis seperti itu tidak berlaku. Laki-laki juga hobi playing victim."
Lily menggelengkan kepadanya dengan cengiran lebar. "Kau kejam sekali."
"Thanks, that's new," balasku tak keberatan.
"Tapi seriusan Luka," dia menyesap jasmine tea-nya dengan khidmat. "Bagaimana kau melakukannya? Dingin, namun tetap dipuja dalam waktu bersamaan."
Aku mengernyit. "Lil, itu agak geli kau tahu; 'dingin namun tetap dipuja'… kau membuatku terdengar seperti Queen Elsa dari Frozen."
Lily ngakak lagi. "Dan Shion sebagai Olaf si makhluk salju?"
Aku tertawa. Membayangkan pacarku itu sebagai Olaf memang cocok sekali. Lucu, tak pernah serius, kekanak-kanakan, dan… penuh mimpi. Kaito Shion adalah pembeli mimpi, namun aku tak menjual mimpi-mimpinya tersebut… dan dia terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Atau pura-pura bodoh?
"Bagaimana denganmu?" tanyaku balik. "Kau punya selusin pacar."
"Lebih tepatnya, mereka bukan pacarku," tukas Lily sambil menghancurkan karamel beku yang ada di crème brulee pesananku, lalu menyendoknya tanpa malu-malu. Yeah, dia memang sudah biasa berlaku seenaknya kepadaku—and vice versa. Yah, kami 'kan sobat. "Mereka mendekatiku, dan mereka baik hati… jadi apa salahnya kalau aku tanggapi saja mereka semua?" katanya polos.
"Kau tertarik pada mereka semua?" tanyaku sambil menyesap espressoku. "Wow. Aku tahu manusia memang bukan makhluk monogami, tapi tolong jauhkan dirimu dari kutukan succubus atau apalah."
Dia terbahak-bahak. "Seriusan! Hahahaha! Kau adalah sahabat terbaikku, tahu?" lalu tertawa lagi—diikuti denganku. "Tapi… ada sih… satu orang yang paling menarik perhatianku…"
Wajah Lily terlihat agak memerah, membuatku menatapnya kosong. Oh oke. Cerocosannya akan dimulai dalam satu… dua…
"Kau…," dia agak merendahkan suaranya, padahal suasana café tidak ramai, dan tidak aka nada yang mendengarnya pula. "Tahu Yuuma Ryukio?"
Aku menggeleng. "Tidak tuh. Siapa dia?"
"Astaga," Lily melotot. "Dia itu temannya Shion! Teman pacarmu!"
"Lil, aku tidak harus selalu tahu siapa teman pacarku, bukan?"
"Walaupun teman perempuan?"
"Walaupun teman perempuan." anggukku mengonfirmasi. Kadang aku heran dengan para perempuan yang sering stalking siapa saja teman-teman pacarnya, lalu mengamuk setelah menemukan nama perempuan di kontak pacar mereka. Maksudku, apa sih yang salah mengenai hal itu? Hanya karena kau pacarnya, bukan berarti kau bebas mengekangnya seperti anak anjing pudel, dan aku pun tidak suka dikekang seperti anjing pudel. Bagiku, hubungan pacaran itu ibarat diagram venn. Dua lingkaran berbeda yang bersisian di tengahnya. Anggaplah bagian yang bersisian itu alasan kalian cocok dan bersama, namun bagian lingkaran luarnya? Itu adalah kebebasan kita. Pergaulan, hobi, pendidikan, dan hal-hal privasi yang merupakan hak kita sendiri.
Ketika kau memutuskan untuk menerima orang lain dalam hidupmu, bukannya berarti kau harus memercayainya? Kalau baru lihat teman perempuan atau ketika nama perempuan nongol di kontak pacarmu saja kau sudah kebakaran jenggot dan menuduh-nuduh pacarmu selingkuh, lalu untuk apa kau menerima orang yang tidak kau percaya? Konsep cemburu tanda sayang benar-benar hal konyol menurutku.
Sayangnya, Lily, dan mungkin sebagian besar perempuan di muka bumi bakal menolak pemikiranku tadi mentah-mentah. Dasar tolol. Padahal konsepku begitu simpel dan memudahkan diri sendiri. Maksudku, perasaan cemburu itu 'kan energi negatif.
"Ya ampun," Lily menggelengkan kepalanya. "Kau ini tidak ada rasa simpatik atau apa sih?"
"Lil, punya teman perempuan bukan berarti pacarmu selingkuh."
"Tapi 'kan kau dan pacarmu juga dulunya cuma 'teman'," tandas Lily tak mau kalah sembari memotong-motong strawberry spring roll yang merupakan pesanannya. "Bagaimana kalau pacarmu meninggalkanmu demi perempuan yang hanya 'teman' itu?"
"Kalau begitu berarti yang salah adalah pacarku," jawabku datar. "Sudah tahu dia punya komitmen denganku, tapi dia malah menyeleweng ke mana-mana. Dia meninggalkan apa yang sudah dibangunnya demi hal yang dia sukai. Seperti anak kecil, bukan?"
"Bagaimana kalau kau terlanjur terlalu cinta?" balas Lily lagi mencecar. Sepertinya senang sekali mendebatku—dan agak-agak gemas kelihatannya dengan semua pemikiranku. "Maksudku, kau tidak bisa begitu saja melepaskannya, bukan?"
Nyaris saja aku kasihan pada Lily. "Lil. 'Cinta' seharusnya tidak menjadi alasan untuk berbuat bodoh. Bila pacarku selingkuh, berarti ia tidak bisa dipercaya. Sesayang-sayangnya aku kepada cowok manapun, aku tidak bodoh. Tidak akan."
Lily cemberut, sepertinya mulai kesal denganku. "Lihat siapa yang bicara. Dasar nona tak punya hati."
Demi mengalihkan topik yang menyebalkan ini, lantas aku membalikan kembali pertanyaanku tadi. "Jadi siapa… tadi? Yuuma?"
Wajah Lily kembali cerah. "Ya, Yuuma Ryukio. Astaga, dia keren banget!"
"Kenapa?" tanyaku sembari menyendok crème brulee-ku yang tinggal setengah karena dimakan Lily tadi. "Tampangnya seperti Robert Pattinson?"
"Aku sudah bosan dengan ras kaukasia," balas Lily sambil terkekeh. "Separuh keluargaku orang Kanada, ingat?"
"Ya benar," anggukku. "Kalau begitu dia orang asia."
"Ya!" kata Lily dengan wajah cerahnya. "Luka, dia itu tinggi, tampan, dan pintar. Kau tahu? Indeks prestasinya nyaris 4.00 kemarin!"
Aku mengernyit. Sebagai peraih indeks prestasi di atas rata-rata, seharusnya aku tahu ada nama Yuuma Ryukio di papan pengumuman yang mengumumkan 10 besar terbaik mahasiswa peraih IPK tertinggi diangkatan kami.
"Seangkatan kita?" tanyaku.
"Ya, Luka. Dia menempati posisi pertama kemarin! Kau kan ketiga terbaik, masa kau tidak tahu?!" cetus Lily.
Yeah. Aku memang jarang memerhatikan nama orang lain. Ketika aku sudah melihat namaku, ya sudah. Aku akan pergi dari kerumunan yang semakin siang semakin ramai itu. Namun aku tak pernah menyangka Ryukio Yuuma-entah-siapa-itu adalah peraih indeks prestasi tertinggi di angkatanku. Mungkin aku harus mengurangi sifat cuekku ini.
"Yang mana sih?" tanyaku akhirnya, agak penasaran juga. "Apa kita pernah sekelas dengannya?"
"Di kelas Pidana Nasional dan Internasional, Luka," balas Lily sabar. "Dia selalu duduk di paling belakang, berbeda dengan kita yang selalu duduk di barisan depan."
"Dia duduk di belakang?" kernyitku. Aku memang sering dengar ada beberapa bajingan beruntung di muka bumi; tidak melakukan usaha apapun namun terlahir di keluarga super kaya, tidak pernah hadir saat kuliah, namun berhasil lulus dengan nilai A ketika ujian akhir, atau orang yang selalu duduk di paling belakang kelas dan mendapatkan indeks prestasi tertinggi seperti si Yuuma ini.
Astaga, apa aku baru saja terdengar iri?
"Yeah!" angguk Lily, tak sadar dengan perubahan ekspresiku yang mengerut-ngerut saking kesalnya dengan cowok yang dibicarakan Lily ini. Mengenal orangnya saja aku belum, tapi sudah bikin kesal duluan. "Hebat bukan? Duduk di belakang saja dia bisa mendapat nilai terbaik, apalagi di depan?!"
"Lalu, dia mendekatimu?" tanyaku berusaha mengalihkan topik. Yeah, anggap saja aku picik, tapi aku tidak begitu suka mendengar prestasi-prestasi orang lain yang lebih baik dariku, karena aku memang seambisius itu. Terserah penilaianmu mengenai aku; entah aku sombong, sok pintar dan lain sebagainya, aku tidak akan peduli pada yang bibir orang lain yang terbuka mengenai aku.
"Sayangnya tidak," balas Lily cemberut sembari menghabiskan kunyahan terakhir spring rollnya. "Dia bahkan mungkin tidak sadar kalau aku ada. Cowok-cowok seperti dia bakalan mencari cewek-cewek pintar lainnya. Sedangkan aku 'kan tidak termasuk dalam deretan cewek-cewek pintar."
Yah. Di tingkat awal, Lily sering tidak masuk karena sibuk pacaran dengan cowok-cowok lusinannya itu, sementara di semester tiga dan empat dia pacaran dengan Dell dan nyaris mati karenanya. Sekarang dia semester lima, sama denganku, tetapi karena tertinggal terlalu banyak, mata kuliah yang dia ambil tidak sebanyak yang aku dapatkan karena indeks prestasinya yang di bawah 3.00.
"Untung saja kau punya Shion!" kekeh Lily lagi. "Sehingga dia tidak mungkin mengincarmu. Yeah, menikung pacar teman sendiri, kurasa melanggar aturan tidak tertulis di antara persahabatan cowok."
Aku nyengir. "Aku bahkan tidak tahu siapa dia Lil."
Lily cemberut lagi. "Kau ini benar-benar, deh!" katanya putus asa dengan keacuhanku.
Aku melirik jam tanganku. "Lil. Aku harus ke perpustakaan sekarang. Ada tugas presentasi besok, dan aku belum mencari referensi apapun."
"Presentasi apaan lagi sih?" tanya Lily tak senang. Dia selalu bereaksi begini ketika aku memutuskan bahwa belajar lebih menarik dibandingkan ngobrol cantik dengannya seperti sekarang ini.
"Untuk kelas Profesor Leon pagi hari besok." balasku sembari mulai membereskan barang-barangku. Laptop yang aku bawa seriusan membuat bawaanku super berat hari ini.
"Kelas apaan?" tanya Lily lagi, masih dengan nada tidak senang. Dia jelas tidak mengenal siapa Profesor Leon karena dia 'kan tidak mengambil mata kuliah Common Law yang diajar oleh dosen berkebangsaan Britania Raya itu. Lebih tepatnya, Lily tidak bisa mengambil mata kuliah itu karena indeks prestasinya yang jeblok.
"Common Law. Tahu sendirilah."
Matanya melebar. "Oh! Professor Leon yang itu! Yang katanya pacaran dengan Lola, ya?!"
Lola Yamada adalah teman seangkatan kami, merupakan mahasiswi pendiam namun berhasil menggaet jabatan sebagai ketua angkatan mewakili suara para perempuan angkatanku, sejajar dengan Kasane Ted yang merupakan perwakilan dari pihak laki-lakinya, dan ternyata dia pacaran juga dengan dosen luar negeri. Aku tidak begitu melek gosip, tapi ternyata konsep 'diam-diam menghanyutkan' memang cocok untuk imej Lola.
"Yah," aku mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetku ketika bill kami datang dan membayar pesanananku. "Benar. Profesor Leon yang itu."
"Eh, aku saja yang traktir," kata Lily menegurku. "Nanti Len akan kemari, dan dia pasti membayariku. Aku sudah chat dia tadi!"
Aku mengernyit. "Len pacarmu yang mana lagi?"
"Dia anak teknik mesin," kata Lily dengan sumringah. "Memang sih dia lebih muda, tapi dia keren sekali!"
Yeah. Kayak aku percaya saja pada Lily Evans, si pirang bodoh yang menyebut seluruh penjaga pantai itu keren.
Aku mengangkat bahu dan menuruti Lily yang tidak suka dibantah itu dengan cara memasukan kembali lembaran uangku ke dalam dompet. Lily terkekeh. "Tapi dia—maksudku, Profesor Leon, memang tampan, ya? Masih muda, tapi sudah meraih gelar professor dan keren setengah mati!"
"Yeah," balasku acuh. "Katakan itu lagi ketika kau mendapat tugas darinya."
"Kenapa memangnya?" balas Lily sambil menaruh lembaran uang juga di meja. "Oh ya, benar juga. Kenapa kau tidak nyontek internet saja? Zaman kan sudah canggih."
Aku mendengus. "Profesor Leon, sayangnya, bukan penggemar internet. Dia mau referensi dari buku-buku tebal super menyebalkan itu," balasku kecut. "Makanya aku sangat harus ke perpustakaan."
Lily terbahak. "Astaga, walau masih muda, ternyata dia tidak doyan peristiwa globalisasi!"
Aku meraih tasku. "Kau masih mau di sini apa ikut denganku?"
Lily mengangkat alisnya dengan sarkastis. "Kau bisa menemukan Lily Evans di perpustakaan, kira-kira ketika Donald Trump berhasil menjadi presiden Amerika Serikat atau ketika rakyat Korea Utara akhirnya menganut sistem liberalisme, Luka."
Yeah. Artinya tidak akan pernah, iya kan?
Aku nyengir. "Tidak ada salahnya mencoba kan?" aku kemudian bangkit. "Bye Lil."
Perpustakaan yang kumaksud adalah sebuah bangunan berlantai empat super besar dengan banyak jendela di tembok-temboknya. Arsitekturnya bagus sekali—aku suka. Konon katanya, yang merenovasi perpustakaan ini adalah alumni mahasiswa jurusan arsitektur dari universitasku. Hmm. Keren sekali. Mungkin aku harus melamar jadi juru bicara atau konsultan di Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) yang ada di fakultasku itu.
Aku duduk di bangku putih panjang dengan meja kayu di depannya. Sembari meletakkan laptopku di atas meja, aku mulai membuka dan mencermati catatanku untuk mencari buku-buku referensi yang diberikan professor Leon pekan lalu, yang ternyata tidak cukup banyak. Yang perlu kulakukan hanya mengembangkan teorinya saja.
Lalu aku berdiri untuk mencari buku-buku yang kumaksud.
Ada ratusan rak buku dengan berbagai label bertuliskan tema-tema buku; fiksi, nonfiksi, karya ilmiah, penelitian kasus-kasus, kitab undang-undang, simulasi persidangan, buku-buku biografi, filsafat, dan banyak lagi. Buku yang dimaksud professor Leon ada di rak penelitian kasus-kasus.
Aku meraih buku tebal bertuliskan 'The Great Britain in The Past and Future : Unity and Diversity over Two Millenia" karya CC. Johanson. Aku mengeluh dalam hati. Yang kucari adalah 'European Law' bukan 'The Great Britain' karya Van Caenegem.
Jadi aku meletakkan asal buku tersebut dengan perasaan gusar. Menyebalkan sekali tahu, ketika kau menemukan buku dengan judul mirip-mirip tapi ternyata bukan buku itu yang kau maksud.
"Tidak sopan sekali," kudengar suara bariton di belakangku. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki dengan rambut merah muda yang ditutup kupluk hitam bermata hijau keemasan menatapku dengan datar. Tubuh tingginya yang dibalut kemeja putih berantakan dengan jaket merah ia sandarkan di pinggir rak.
"Maaf?" aku mengernyit. Apa dia bicara padaku?
"Tidak sopan," balasnya masih dengan wajah datar. Sebenarnya dia tampan, tapi sekarang aku kesal sekali. Apa-apaan dia, kenal denganku juga tidak, tiba-tiba mengataiku tidak sopan? Dialah yang tidak sopan!
"Apa maksudmu?" tanyaku judes.
Dia menghela napas, kemudian menggedikan dagunya ke arah buku yang kutaruh dengan asal tadi. "Seharusnya kau menaruhnya dengan benar di tempat semula. Orang-orang sepertimu inilah yang membuat pekerjaanku sulit dan menyebalkan."
"Kau 'kan dibayar untuk membenarkan buku-bukunya di tempat semula," balasku jengkel. "Kau tidak lebih dari pemalas, dan jangan menjustifikasi sikapmu itu."
"Lucu sekali," balasnya tetap tenang. "Dikatai pemalas oleh orang tidak sopan. Kau pikir hanya karena kau membayar kuliahmu untuk membayarku, lantas kau bisa seenaknya saja? Rupanya selain tidak sopan, kau juga manja. Menyedihkan sekali."
Aku mengerjap. Sesaat tidak bisa berkata-kata.
"Nah sekarang," lelaki menyebalkan itu menggedikan dagunya lagi ke arah buku yang kutaruh tadi. "Kembalikan ke tempat semula, Nona."
Mataku menyipit membaca badge nama lelaki menyebalkan itu.
Ryukio Yuuma. Librarian.
Yeah. Sialan benar. Itu si Ryukio-Sialan-Yuuma yang ditaksir Lily.
Aku punya firasat moodku bakal rusak total hari ini.
To be continue
Akhirnya kemunculan Yuuma! Hahaha. Sebenernya ini pertama kalinya saya pake karakter Yuuma, jadinya agak bingung gimana karakterisasi yang cocok buat dia. Tapi sepertinya kalo diliat-liat, dia tipe cowok badass gitu ya? Jadi saya menempelkan karakter yang nyaris mirip Luka, tapi versi cowoknya. Gimana? Cocok nggak? Apa malah jadi terkesan kayak pembunuhan karakter? Wahaha.
Mind to review? ;)
V
V
