An Abomination.
Bibir yang bergerak meraup...
Lidah yang melulur meminta kooperatif...
Saliva yang membasahi tipis...
Masamune pastinya SYOK BERAT.
Bagaimana tidak? Seorang pemuda, ditekankan: sekelamin, BERANI mengambil kesempatan padanya! SECARA INTIMASI!
"...Baji—" berniat memaki, katup mulutnya yang terbuka malah digunakan oleh Yukimura untuk memasukkan lidah.
Tidak ayal lagi pergulatan pun terjadi... di dalam rongga mulut Masamune —tidak habis pikir, pemuda yang seharusnya sepolos anak kecil mampu menyuguhkan versi ciuman yang lembut membuai...
"...Nhh-h..."
Jemari kedua tangannya menggerat pinggir futon tepat lidahnya dengan gemetar menanggapi, hanya sekedar membasuh tipis. Mungkin mencoba menenangkan —atau setidaknya harapannya begitu.
Namun permainan dewasa memberikan spark, dalam arti: Masamune tidak suka menjadi sisi pengikut.
Dengan gumul perebutan otoritas memimpin, Masamune membuka mulutnya balik meraup mulut lawan mainnya, memperdalam ciuman dan memaksa bocah itu bekerja keras untuk bisa mendapatkan versi kenikmatan darinya.
Dan pengakuannya untuk ini cukup... menyenangkan; membuat Yukimura kehabisan nafas, tentu.
Sekali lagi sayangnya, Sanada Yukimura selalu bereaksi alami. Tabiat itu sudah merupakan talenta tersendiri.
Seketika Masamune menelusurkan lidah pada langit-langit rongga mulut lawan mainnya, menghujamkan dalam agar bocah itu tersedak... Mendadak sengat perih terasa merobek sekujur tubuh.
"A-AH!" Erangnya tepat memutus ciuman dan mencari sumber kala merenggang perih.
Ternyata Yukimura tengah merajamkan deret jari tangan pada area luka sehingga rona merah melebar pada kain perban.
Tidak ayal lagi Masamune mendesis, "Keparat...! Jangan bermain kotor kalau kalah..."
"Aku hanya memanfaatkan celah yang ada," balas Yukimura, seraya jemari tangan sepasangnya mengendorkan lilitan kain perban yang melingkar pada abdomen rival-nya.
Masamune semakin tidak terima menjadi obyek.
"Tetap saja... tidak adil menggunakan luka dalam pertarungan satu-lawan-satu...!" Timpalnya seiring sengal. Dan hell! Sebenarnya pertarungan apa ini?! Bagaimana bisa dirinya sampai terjerumus ke dalam permainan si Sanada Yukimura?!
Sementara Yukimura menjawab mudah, masih tanpa konsiderasi.
"Jadi, kamu mau aku bersimpati? Bukankah simpati tidak sejalan bagi aturanmu?"
Masamune langsung membuka mulut hendak membantah, tapi berakhir hening. Kalimat rival-nya terpaksa ditelannya mentah-mentah.
'Bocah brengsek...! Punya nyali menggunakan kalimat orang dan mengembalikannya pada orang yang mengatakannya tepat di depan muka...' makinya dalam hati.
Spark awal pada sisi Masamune mulai padam. Apapun ini sudah tidak dapat lagi ditolerir.
Namun Yukimura berkata kembali,
"Untukku, kamu seperti idola. Aku tidak bisa berdiri di belakangmu karena Tuan Katakura selalu menjaga punggungmu, maka tempat yang tersisa untukku hanya di hadapanmu. Dan ini... harga bagimu."
SANGAT memperkeruh distorsi... arti.
Masamune mengernyit pasif.
"Haaa? Kau semakin ngawur, bocah." Datarnya.
"Inti disini... dirimu, benar?" Tekan Yukimura, seraya mendekatkan wajah ke kuak luka yang kini terpajang dari celah balutan perban yang kendor.
Masamune pun terhenyak —tepatnya sedang berpikir keras menelaah: APA YANG TERJADI?!
"O-oi... Berhenti memutar-balikkan fakta. Kau benar-benar tidak rasional..." komentarnya segera. Sejujurnya was-was, 'Sebenarnya bocah itu hanya berakting atau memang benaran naive sih?!'
Dan lagi-lagi Masamune harus terhenyak saat rival-nya menatapnya bersama tatapan bertema determinasi, sekali lagi, diiringi pernyataan bertema resolusi.
"Aku akan menahanmu, sampai kamu mengerti."
Setelahnya, Yukimura menjilat kuak luka. Permukaan kasar lidah beserta saliva berkadar asin otomatis menciptakan rentetan efek perih.
"Errgh...!" Masamune menggeratkan baris gigi antara kesal dan... bingung.
Entah apa yang harus dilakukannya pada bocah itu karena serba salah. Dilema tersebab kedudukannya sebagai pemimpin, sekaligus tahanan pribadi... Situasi ini sendiri sudah tidak masuk akal. Apa yang hendak dicapai dengan mengikutsertakan faktor intimasi? Apa tujuan Sanada Yukimura dengan melecehkannya dan... mengikatnya?
"...Aku... hanya tidak ingin kehilangan dirimu, suatu saat nanti."
Masamune kembali terhenyak.
"Setiap kali melihatmu..."
"Membayangkanmu dimanapun dirimu berada..."
"Memikirkanmu..."
Perkataan-perkataan dari mulut Yukimura yang sekarang terngiang...
Masamune pun memicing kosong pada langit-langit plafon selama otaknya sibuk dengan berbagai konklusi dan praduga.
"Tidak hanya rival; aku dan kamu,"
"Karena kita adalah..."
"...Nghh-h...!" Masamune menggeliat seketika permainan lidah rival-nya membakar kuak lukanya, literal. Tapi tangan kanan disana sigap mencengkeram paha kirinya, dan tubuh segera merapat bertindak seakan beban.
Sedangkan area privat bocah itu menekan miliknya. Bisa terasa dari ukuran sembul, telah berada di tahap excited.
Sejauh rasa rancu akibat perih dan kontaminasi segala perasaan milik rival-nya yang sedikit-demi-sedikit mulai menimbulkan gairah tumpang-tindih... mengembalikan spark awal, JUGA literal, Masamune tidak menyanggah bahwa bocah itu sukses membuatnya tegang, SANGAT literal.
Saat Yukimura tidak sengaja menorehkan baris gigi, pria muda itu mengerang... manis —atau setidaknya itu anggapan yang ditangkap oleh indera pendengaran Yukimura.
"Kasar..." desah Masamune dikemudian.
Yukimura melirik ekspresi konfrontasi yang masih tergambar pekat pada wajah rivalnya. Kilatan-kilatan petir pada sekujur tubuh itu juga tidak bisa dilewatkan begitu saja, karena sewaktu-waktu—
"Kasar, Yukimura..."
Si pemilik nama langsung membekukan kegiatannya, walau lidah semerah bara api masih menggantung dan saliva seterang magma menetes ke kuak luka.
Masamune perlahan-demi-perlahan membalas lirikan bersama seringai.
"Kalau kau ingin menggenggamku, pastikan: Sekasar mungkin hingga keseluruhan diriku mememori; SEMUA. Karena jika tersisa..." Jeda bertepatan kain perban yang melilit kedua tangannya sobek oleh tarian petir.
Yukimura menelan ludah begitu rival-nya beranjak duduk terhuyung bak zombie. Bahkan dirinya tidak terburu bereaksi seketika jemari tangan kanan itu mencengkeram kuat rahangnya dan menarik wajahnya untuk mendekat.
"...Aku akan membalasmu dua kali... LEBIH dari sekedar lebih," lanjut Masamune di depan bibir Yukimura.
"Oh ya. Itu perintah." Imbuhnya dengan raut... sadis.
Yukimura sedikit gentar. Maka pilihan jalan tengah agar meminimalkan pertikaian adalah...
"Apa aku bisa menebusnya?" Tawarnya. "Maksudku—"
"Tidak ada maksud, Yukimura." Potong Masamune. Kilatan-kilatan petir semakin menguat ke fase mengancam.
"Ini..." Jeda sewaktu wajah rival-nya dijauhkan, sedetik berikut langsung membanting kepala pemuda itu ke lantai. Dan suara teriakan Yukimura yang nyaring tersapu oleh rusuhnya potongan lantai yang berterbangan akibat efek momentum.
Seketika potongan-potongan lantai berjatuhan dan kepul debu mereda...
"...Hanya harga," lanjut Masamune sembari melebarkan seringai.
Kemudian pria muda itu berdiri.
"Ayo berdiri," perintahnya, terdengar sekental tantangan. Meski jemari kedua tangan malah membuka ikatan tali obi.
Yukimura pun beranjak bangun sambil memegangi belakang kepalanya, sejelasnya pandangannya masih berkabut-kabut pening.
"Tuan Masamune... Aku sungguh tidak bermaksud—" kalimatnya berhenti tepat tali obi jatuh ke lantai. Secara reflek, tatapan kini tertuju pada tubuh rival-nya.
Sinar bulan yang terbias pada kulit Date Masamune menampilkan hias berbagai ukuran bekas sayatan, juga tembakan... ditambah kuak luka dari pertarungan siang tadi belum tertutup sempurna...
Yukimura tidak menilai penampakan itu buruk, justru kebalikannya. Masalahnya...
Masamune menangkap perubahan air muka rival-nya, bisa tertebak apa pemikiran galau di kepala itu.
Versi empati-nya hanya, "Jangan bilang kau akan mundur setelah memancingku sejauh ini."
"Aku..." Yukimura mengepal erat.
"Menyedihkan?" Sambung Masamune.
"Tapi bukan berarti terlalu..." lanjut Yukimura.
"Bloon?" Sambung Masamune kembali dengan cueknya.
"Tuan Masamune!" Seru Yukimura segera, agar lawan bicaranya menghadapinya dengan serius.
Masamune mendesah panjang.
"Ya-ya, kau dan tingkah naive-mu..." komentarnya dikemudian.
'Walau sekarang mulai diragukan,' imbuhnya dalam hati.
"Terkadang... aku tidak percaya selalu mencoba keep up denganmu, kau, dari semua lawan yang pernah menarik perhatianku..." Sorot mata kiri terkunci pada kedua iris rival-nya untuk sejenak tatap.
"Anggap itu pujian, karena aku tidak akan mengulanginya lagi," lanjutnya semudah menyimpulkan senyum.
Berikutnya, Masamune mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuk digerakkan dengan acuan memanggil, sangat menggoda.
"Come on. Ambil hadiahmu, sebelum aku menjatuhkan harga yang lebih tinggi." Invitasinya disertai ilustrasi mimik yang semakin memikat.
Yukimura menegakkan badan, juga menyamai senyum.
"Setinggi apapun, aku Sanada Yukimura akan selalu menggapaimu dan..." Jeda seketika api merebak di sekujur tubuhnya.
Sedangkan Masamune bersiul.
"Semangat!" Cheers-nya, sama saja seperti menuang minyak ke dalam api yang membara.
"...Mendapatkanmu!" Lanjut Yukimura tepat melesat menuju rival-nya.
"Woops!" Masamune mengelak arahan tangan kanan yang meluncur.
Namun Yukimura cekat membalikkan badan dan melancarkan pukulan distraksi.
"A-a!" Masamune mundur dua langkah.
Sekali lagi Yukimura mengejar diikuti tendangan.
"Ayolah! Dimana Sanada Yukimura yang tadi, hm? Perlu aku memanggilmu 'bocah' kembali?" Pancing Masamune sewaktu menangkis menggunakan kedua tangan.
Tanpa diduga, Yukimura cepat kembali ke pose menyerang dan menghunuskan kepal.
Sebelum Masamune memutuskan antara bertahan atau menghindar, kepal berhenti sejarak inci di depan wajahnya dan beliung api dasyat mendadak menerpa melewati kedua sisinya... sampai aliran tenaga tersebut menghajar tembok di belakangnya.
Dan... bisa diduga.
"DUAAAAR!"
Tembok itupun runtuh, plus sebagian area sayap kiri rumah besar milik Takeda Shingen ini.
Di tengah kericuhan puing-puing dan pilar-pilar yang berjatuhan...
"..." Masamune menoleh datar ke pemandangan rata di belakangnya.
Berita bagusnya, masih terlihat pergerakan sosok-sosok para prajurit dan para pembantu yang kebingungan di antara semerbak kepul debu. Setidaknya mereka tidak menjadi korban kolateral.
Berita buruknya...
"Bocah..." ucapnya kala menghibahkan segenap perhatian ke rival-nya kembali.
"Apa kau mau mengundang penonton, hah?!" Omelnya dikemudian, sehingga tanpa sadar Masamune telah mengabaikan faktor defensif.
"Gotcha~"
Sepatah kata dari mulut Yukimura, dan sekejap... Kain kimono tertangkap, dan tubuh pria muda itu terkukung dalam dekap.
Entah Masamune harus tersenyum atas momen kelewat bodoh ini...
Namun...
"Ya," sahutnya singkat, tidak menolak saat Yukimura menuntunnya menyandar ke partial tembok yang masih utuh dan mencium bibirnya. Secara sukarela Masamune pun membuka mulut, membiarkan lidah pemuda itu menyeka miliknya, berdansa liar mengadu kefasihan penuh gairah.
"...Nhh- Oh..." desah berat berulang kali terlepas disela kuncian antara mulut tersebab jamah yang saling mengarungi masing-masing tubuh.
Yukimura tidak lagi basa-basi saat menarik kain kimono sebatas lengan dan menaruh jejak cakar pada leher dan bidang dada, alhasil, Masamune terkadang mendesis disertai membenamkan deret jari kedua tangan pada kulit kepala pemuda itu.
Gesekan antara teritori privat pun tidak kalah panas dengan aksi saling memancing. Yukimura sudah merasa tidak nyaman karena lingkar celananya terasa menyempit, menjadikannya tidak sabar. Dan semakin berani, Yukimura menggigit bibir bawah pasangan intimasinya untuk melayani tingkat kasar dan menikmati rona darah yang membaur dalam saliva.
"...Fuck..." serapah Masamune kala mencari oksigen...
"Nanti." Sahutan polos Yukimura begitu memutus fase ciuman, beralih mengigit leher rival-nya.
"...Anh... Tidak disini, bodoh." Balasan Masamune tepat merajamkan deret kuku pada belakang leher rival-nya, berlanjut mengigit rahang.
"Takut?" Tantang Yukimura saat menjilat daun telinga kanan rival-nya.
Masamune memutar bola mata kirinya dengan tingkah bosan.
Lalu melirik barisan pintu yang masih berdiri kokoh, walau groak pada sebagian plafon dan atap sama sekali bukan si-kon yang pas untuk momen privasi, apalagi suara orang-orang di balik partial tembok ini terasa semakin mendekat.
Sayangnya, sikap waspada dalam mengantisipasi keadaan sekitar menjadikannya lengah terhadap sosok yang terdekat.
"...OH!" Erangnya seketika jemari tangan kanan Yukimura menggenggam erat batang kemaluannya.
"Lihat padaku... hanya padaku, Tuan Masamune" bisik pemuda itu, rupanya meminta atensi.
Tapi Masamune tidak menyukai nada komando yang tersisip, membuatnya menjambak rambut rival-nya hingga kepala pemuda itu terbawa alur menengadah tinggi.
"Jangan bercanda denganku. Harga, kau ingat?" Balasan sinis, sarat akan pertunjukan diferensiasi.
Begitu rengkuh dilepas... Yukimura melepaskan genggam, kedua tangannya kini merangkap di kedua sisi wajah rival-nya dan menatap bersama raut tidak terbaca.
"Kamu masih tidak mau mengakuinya," ucapnya sambil maju mengecup bibir.
Masamune sedikit terhenyak akan ingatan tentang sepatah kata yang membawanya jatuh tenggelam.
"Memaksa adegan dan bertele-tele sampai membuatku migran. Fuck you." Datarnya kala mengangkat wajah, melewatkan kecupan tadi.
"Turun." Perintahnya segera.
Yukimura tersenyum tipis.
"Ah ya. Sampai tidak tersisa," komentarnya sembari jemari tangan kanannya menyeka bawah garis mata kiri rival-nya... diteruskan menyusuri lekuk batang hitung... dan menggenggam penutup mata kanan.
Tidak ada balasan kata dari Masamune tepat tali terputus seiring Yukimura menariknya, kasar, sekasar tanpa konsiderasi.
Ego di sisinya, dan kemunafikan di sisi pemuda itu. Dua pribadi berbeda yang tidak akan pernah bisa sejalan, apalagi kawan, selain...
"Heh," dengung Yukimura saat memperhatikan penampakan geram dari rival-nya, plus penampilan bola mata seputih salju di antara sela rambut coklat bertatanan belah kiri.
"Yeah, get it on." Pernyataan kompleks dari mulut Masamune, dengan sebuah arti: Mengijinkan...
Yukimura menaruh penutup mata itu ke dalam saku celananya. Lalu telunjuk menyelip pada sisi atas kain penutup teritori privat, menarik disertai telusur untuk mengendurkan sebentar dan kain itupun jatuh ke lantai.
"..." Masamune merasa terekspos, namun tidak memutus kontak pandang dan menyaksikan baik-baik pemuda itu turun berlutut di hadapannya... menjamah kedua buah zakar, berlanjut meraba ukuran panjang seolah-olah menghitung takaran inci... sebelum lidah itu menjilat ujung kepala batang seakan mengincip, diteruskan mulut yang bergerak meraup.
"...Mmh..." desahnya tepat kehangatan rongga mulut menyambutnya, menelan utuh... mengklaim keseluruhan dirinya.
"Apa ini juga harga?"
Ngiang kalimat itu...
"...Ohh..." lirihnya begitu lidah Yukimura menyusuri sepanjang menarik diri, mengulur sejenak... kemudian meraupnya kembali, membuat jemari kedua tangannya membenam pada rambut pemuda itu.
"Aku... selalu serius, padamu."
"...Nggh..." Masamune menggeratkan baris gigi kala merengkuh kasar kumpulan rambut rival-nya, seolah-olah mengatur frekuensi tarik-ulur... atau mungkin hanya bertahan, menahan diri dari jalinan benang merah yang mulai merantainya.
"Deeper." Perintahnya dengan ekspresi sedingin es.
Yukimura tidak mempermasalahkan kecambuk harga diri saat memfleksibelkan rahang agar menjauhkan kontak gigi tepat menelan kembali hingga pangkal.
Saliva merembes dari ujung bibirnya begitu lawan mainnya menggerakkan pinggul mengikuti alur, memperdalam dan menekankan benda tegang itu mencapai pangkal kerongkongannya.
"Faster." Perintah dari Masamune kembali, kali ini terdengar sedikit mengambang dan... frustasi.
Yukimura mempercepat laju, sesekali diseling kocokan dari jemari tangan kanannya sewaktu mulutnya sibuk mengulum salah satu buah zakar.
Sementara Masamune terus menyaksikan rival-nya yang patuh menyajikan gelora kenikmatan baginya sesuai komando... bak seekor anjing.
'Apa ini harga yang ingin kau tebus untuk mendapatkanku, eh Yukimura...?' Utaraan batinnya. Sejujurnya pedih.
Meski begitu...
"...Mmmh... Kau melakukannya dengan baik... Teruskan..." apresiasinya sembari menyandarkan belakang kepalanya pada permukaan tembok.
Ada kalanya Masamune berharap bahwa dirinya mampu sebrengsek Oda Nobunaga atau sebebal Mori Motonari untuk membuat Sanada Yukimura pantang menyerah mengejarnya dan mengakuinya LEBIH.
Tapi kalau cerita sudah berubah kacau begini...
"...Ohh... Oh..." Masamune mencoba fokus pada limitnya yang terus dan terus terpacu.
Sedangkan kehangatan rongga mulut rival-nya mulai meresap jauh ke lubuk dada... menerangi jiwanya yang kelam...
"Aku akan selalu kembali padamu, untukmu."
"...Nhh-aah...! Cepat...! Lebih cepat...!"
Erangan tidak sabar itu memaksa Yukimura memberikan LEBIH dari sekedar lebih, bahkan memautkan jemari tangan kirinya pada kuak luka kala meraba. Sekujur otot-otot tubuh Masamune pun reflek mengejang dan merenggang seiring suara sengal yang memburu.
Di detik dentang tangga puncak...
"Harder." Perintah untuk kesekian kalinya dari Masamune...
Yukimura tidak tanggung merajamkan jemari lebih dalam pada kuak luka, sekaligus membakar. Dan fatal... Masamune kehilangan keseimbangan seketika mengerang lepas dibarengi melesatnya cairan mani.
Meski begitu tanpa simpati Yukimura meneruskan menyedot seluruh sari jiwa tepat pria muda itu merosot terduduk.
"...S-stop... Ahh-h sudah..."
Perkataan Masamune sedikit lemah dan terpotong-potong karena sedang ribet mengatur nafas, sementara jemari kedua tangan berusaha menjambak rambut rival-nya untuk memisahkan kontak secara paksa.
Begitu terpisah, Yukimura menyeka ujung mulut menggunakan jempol dan menjilat sisa cairan mani disana.
Lalu Yukimura membasuh bulir keringat di pipi kiri Masamune, sambil menyahuti selayaknya khas determinasi yang penuh resolusi. Hanya saja LEBIH mengarah ke... obsesif.
"Belum. Sampai tidak tersisa, benar?"
Masamune pun merinding sejalan kontes pandang.
TBC...
A/n: Entah kenapa saya bisa merasakan tingkat stres si Masamune...
Oh ya, sepertinya mulai masuk rate: M. XD
Dan tentang penggunaan bahasa Inggris pada beberapa kalimat si Masamune, itu karena di anime-nya Masamune juga menyelingi bahasa Jepang yang digunakannya dengan bahasa Inggris.
Tq reviewnya *hugs*
Laila Sakatori 24: Iya, author demen mengangkat pairing reverse.
Yukimura di versi manganya keren loh~ Terlihat 'seme'-nya *kyaaaa~* Meski tidak di manga maupun di anime tetap saja oon-nya ga kurang-kurang... -_-"
Sedangkan Masamune memang agak ambigu karena hobinya yang doyan memancing lawan, uniknya Masamune pernah mengakui bahwa cuma si Yukimura yang bisa membuatnya kehilangan cool. Dan author memanfaatkan cara Masamune menaruh interest 'khusus' pada Yukimura, plus dilema ego dan harga diri sebagai yang terkuat. *aiiih* XD
dee-mocchan: Kyaaaa, Dee!
Hooh different. Sedang mencoba versi 'soft', soalnya dikau tahu imajinasi-imajinasi sarap saya selama berkutat dengan SN. Terkadang terlalu sadis untuk dituang ke dalam versi tulisan. *Laughs*
Lah update profile tinggal tulis aja kan? (bisa tinggal co-pas dari mswords atau notepad kok) Plus store gambar, setting dll...?
