Tittle: My Black Coffee Sangjanim

Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Other cast: Exo member

Rated: T

Genre: Romance, drama, dll.

.

.

.

.

.

.

Pagi-pagi sekali , Baekhyun sudah di bangunkan oleh benda mungil berwarna merah jambu yang terletak di bawah bantalnya. Getaran ponsel yang cukup kencang ditambah dengan ringtone Exo-Xoxo, yang sangat nyaring benar-benar menggangguya. Tapi walaupun begitu, ponsel itu terus berbunyi membangunkan pemiliknya sebelum jam beker di atas nakas putih berdering.

Xoxo, xoxo, xoxo yeah…

Salmyeosi immatchun x neun kiss

Donggeurake aneun oneun hug

Hoksi boelsso algo isseulkka oh

Ponsel itu tetap tidak menyerah untuk membangunkan pemiliknya dari tidur nyenyak. Dan dengan sangat terpaksa, Baekhyun membuka matanya dan melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi.

Baekhyun meringis kesal melihat sebuah nama terpampang jelas di layar ponselnya yang berkedip-kedip tak sabar meminta diangkat.

"Yeoboseyo?" sapanya malas dengan suara parau khas setelah bangun tidur.

"Apa aku membangunkamu?" Tanya Chanyeol, menyiratkan rasa simpatinya.

Dalam hati, Baekhyun berseru, 'benar kau mengganggu tidurku'. Tapi mulutnya menahan suara hati itudan terpaksauntuk sedikit membual demi penanaman modal yang besar untuk Black Café. bukankah citra mitra bisnis yang baik akan membuat rekan bisnis luluh? Dalam hati, Baekhyun tertawa iblis. Kalau dalam film-film kartun mungkin Baekhyun sudah digambarkan seorang gadis dengan sepasang tanduk merah di atas kepalanya dan sebelah tangannya memegang trisula emas.

"Byun? Kau masih di sana?" lagi-lagi suara Chanyeol membuyarkan lamunannya.

"Ya? Aku masih di sini. Ada apa menelponku pagi-pagi?" tembak Baekhyun langsung pada intinya. Ia tidak suka terlalu lama berkomunikasi lewat telepon yang hanya membuat kupingnya panas.

"Kenapa kau bertanya padaku? Sedangkan kau saja belum menjawab pertanyaanku yang tadi," oceh Chanyeol. "Apa teleponku membangunkanmu, Byun?"

Hati Baekhyun terasa panas. Ia benar-benar kesal pada Chanyeol yang memaksanya untuk berbicara lama di telepon. Ia menggigit bibir bawanya menahan gejolak amarah di hatinya yag sudah dibuat membara pagi-pagi.

"Iya! Kau mengganggu tidurku!" jawab Baekhyun galak. Masa bodoh dengan citra mitra bisnisyang baik. Ia sudah benar-benar kesal sekarang. "Sekarang katakana, ada masalah apa kau menelponku pagi sekali?"

"Aku ingin sarapan," jawab Chanyeol polos. Ia menjepit ponselnya di antara telinga dan bahunya. Kedua tangannya di pakai untuk aktivitas lain, seperti melingkarkan jam tangan pada pergelangan tangan kiri yang bannya terbuat dari kulit asli, mengambil botol parfum dan menyemprotkannya pada kemeja berwarna baby blue berkerah putih yang membalut tubuh atletisnya yang serupa dengan Dewa Hermes dalam mitologi Yunani.

Baekhyun memutar bola matanya. "kau bisa sarapan di apartemen elitmu itu. Aku yakin di sana ada restoran berkelas," sahutnya ketus.

"Nee… nee… nee. Aku ingin makan odeng," ucap Chanyeol.

"Hah? Odeng katamu? Mana ada yang menjual odeng pagi-pagi?" Baekhyun mendengus kesal.

"Sudah, jemput aku saja. Aku tau dimana kita bisa menemukan odeng pagi-pagi. Aku tunggu kauu dalam waktu tiga puluh menit dari sekarang,"ucap Chanyeol sewenang-wenang dan tanpa persetujuan terlebih dahulu.

"Yeoboseyo? Hei, Chanyeol!" seru Baekhyun kesal. Ia melihat layar ponselnya sekilas lalu menempelkanya lagi pada telinga. "YA! Yeoboseyo! Park Chanyeol!" serunya kesal, namun tetap saja ia tidak mendengar suara pria itu selain bunyi tut… tut… tut….

.

.

Octrat™

.

.

Sedan Baekhyun menepi di pelataran lobi Gangnam Sky City, salah satu gedung apartemen elit. Hanya orang –orang yang berdompet tebal yang bisa tinggal disana.

Mengingat hal barusan, Baekhyun mendesah pelan sambil mengingat keadaan apartemennya yang sederhana. Sudah hampir 3 tahun baekhyun menempati apartemennya itu dan ia merasa sangat nyaman. Dia tak merasa harus mengeluarkan lebih banyak uang demi menempati ruangan tipe studio dengan dapur dan kamar mandi yang besa.

Baekhyun menoleh cepat saat kaca jendela di sebelahnya diketuk oleh seseorang. Ternyata Chanyeol. Dengan malas, ia menurunkan kaca jedelanya samapai habis.

"Masuklah," pinta Baekhyun sambil mengedikkan kepalanya kea rah kursi penumpang yang kosong di sebelahnya.

"Tidak, biarkan aku yang menyetir mobil mu pagi ini," tolak Chanyeol sambil membuka pintu ruang kemudi. Ia menggamit tangan Baekhyun yang memegangi roda setir dan setengah memaksa gadis itu untuk turun.

"Hei, apa-apaan ini?" protes Baekhyun yang bersikukuh untuk tetap berada di kursi kemudinya.

"Aku tidak biasa menaiki mobil yang dikemudikan oleh seorang perempuat karena aku akan merasa menjadi seorang lelaki yang tak bisa apa-apa. Jadi, kau duduk manis saja di kursi penumpang dan biarkan aku yang mengemudikan mobilmu," ujar Chanyeol sambil menarik Baekhyun mengitari sedan hitamnya. Tak sabar, Chanyeol bergegas membuka pintu kabin penumpang dan seikit mendorong tubuh Baekhyun supaya cepat-cepat masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan, memasang tampang sebal. Ia merasa dijajah oleh pria yang sekarang sedang mengendarai mobilnya menuju pasar kuliner di Insadong.

"Kenapa kau diam saja?" Chanyeol tanpa dosa sambil sesekali memperhatikan jalanan di depannya.

"Aku sedang kesal," jawab Baekhyun seadanya.

"Kesal? Kesal pada siapa?" Tanya Chanyeol lagi. Kali ini benar-benar tanpa dosa.

Baekhyun memutar bola matanya. 'apa pria ini tidak bisa membedakan mana orang yang sedang kesal dengannya dan mana yang tidak kesaldengannya?' dalam hati Baekhyun, amarahnya sudah bergejolak hebat. Dan sama seperti gunung berapi, hanya tinggal menunggu waktu kapan gunung itu akan meletus dan memuntahkan lahar panasnya.

"Kau terlihat sangat cantik kalau sedang kesal seperti itu," celetuk Chanyeol sambil tetap focus pada kondisi lalu lintas di depannya.

Baekhyun menoleh cepat. Ia menatap Chanyeol serius dengan mata sipitnya yang bereyeliner itu. Bulu matanya yang lentik menaungi mata sipitnya yang mengerjap-ngerjap takk percaya.

Merasa di pandang tatapn yang intens, Chanyeol menoleh kearah Baekhyun. Namun dengan cepat, gadis itu membuang pandangannya ke jendela kaca di sampingnya. lagi-lagi, Baekhyun salah tingkah membuahkan senyuman geli yang mengembang di bibir Chanyeol.

Sedan hitam itu terus melaju sampai ke sebeuah pujasera kecil yang berlokasi di ujung jalanan kecil di Insadong. Jalanan kecil itu begitu padat dengan para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang lalu-lalang.

"Parkir di sana saja," tunjuk Baekhyun pada sebuah lapangan kecil yang nampak lenggang. Hanya ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk sambil menikmati sarapan.

"Hah? Verboden to parkeren (Dilarang parkir-Belanda)," sahut Chanyeol sambil menunjuk tiang rambu-rambu dengan huruf 'P' yang disilang.

Tanpa bertanya lebih lanjut, Baekhyun mengerti maksud Chanyeol barusan. jelas-jelas ada rambu di larang parkir, tapi ia masih menyuruh Chanyeol untuk memarkirkan mobilnya di sana. Pabo!

Chanyeol mengambil kesempatan baik saat ia melihat ada sebuah mobil keluar dari slot parkirnya. Dengan cekatan, ia langsung memrakirkan mobilnya di slot parkir yang baru di tinggalkan oleh mobil bercat putih itu.

"Kau sudah lapar?" Tanya Chanyeol sambil melepas sabuk pengamannya.

"Tidak. Aku jarang sarapan. Kau saja yang sarapan,"jab Baekhyun ketus.

"Byun, kenapa kau begitu galak padaku?"

Baekhyun mendengus. Akhirnya pria ini sadar juga dengan sikap Baekhyun yang selalu berusaha untuk mengabaikannya.

"Sudah turun saja. Cepat cari odengmu, karena satu jam lagi aku harus berangkat kerja," pinta Baekhyun sambil membuka pintu mobilnya, lalu menyeberang. Melenggang memasuki ke bangunan pujasera yang sedang ramai pengunjung.

.

Baekhyun takjub melihat selera makan Chanyeol yang begitu baik. Sudah beberapa tusuk odeng yang Chanyeol habiskan. Ia meminum kuah kaldu kepiting dari bibir mangkuk lalu menyeka mulutnya dengan saputangan tangan katun yang ia keluarkan dari saku celananya.

"Berapa lama kau tidak pulang ke Seoul?" Baekhyun melemparkan pertanyaan untuk pria itu. Entah kenapa, ia tiba-tiba penasaran dengan kehidupan Chanyeol.

Chanyeol mendongakkan kepalanya lalu menerawang bebas. "Ehm… lima tahun? Enam tahun? Mungkin sekitar itu," jawab Chanyeol yang kemudian terlihat sangat bersemangat hendak menyantap tteokbokki dengan saus pedas di depannya.

"Kau tidak mau makan?" Tanya Chanyeol kemudian ketika melihat Baekhyun yang sejak tadi hanya menontonnya menyantap panganan pinggir jalan Korea yang sangat khas dan membuatnya terlihat seperti orang yang tidak pernah makan selama seminggu.

Baekhyun menggeleng. "Aku jarang sarapan," jawabnya.

tiba-tiba Chanyeol menyodorkan setusuk tteokbokki di depan mulut Baaekhyun. "Cepat makan. Aku tidak enak melihatmu hanya menontonku makan saja."

Baekhyun memundurkan tubuhnya, berusaha menolak setusuk tteokbokki yang mengantri di depan mulutnya. Namun seperti biasa, Chanyeol selalu memaksa dan pria itu tidak akan berhenti lawannya menyerah. Chanyeol terus menyodorkan setusuk tteokbokki di depan mulut Baekhyun sampai akhirnya gadis itu membuka mulutnya dan menyantap kue beras pedas itu.

Tidak hanya satu kali. Chanyeol terus-terusan menyuapi Baekhyun dengan kue beras pedas itu. Nyaris seporsi tteokbokki Cahnyeol pindah ke dalam perut Baekhyun dan hal ini membuat pria itu tersenyum puas.

"Ehm… Byun, heb je een vriendje? (Apakah kau punya pacar laki-laki? –Belanda)"Tanya Chanyeol ragu-ragu.

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti dengan ucapan Chanyeol. Bagaimana tidak, sedangkan Bahasa Inggris saja ia pas-pasan. Apalagi bahasa laiinya, seperti bahasa Belanda yang tidk pernah ia dengar sebelumnya.

"Aah… kau tak mengerti rupanya," ucap Chanyeol kaku.

"Maksudku, apa kau… ber… pacaran?" Tanya Chanyeol sedikit tergagap.

Baekhyun melongo setelah mendengar pertanyaan dari Chanyeol yang sedikit pribadi. Mereka baru bertemu kurang dari 24 jam dan tiba-tiba pria itu menyodorkan pertanyaan yang ehm… bisa memaksa Baekhyun untuk membuka ceritalamanya yang sudah terpendam jauh di dalam hatinya.

"Ya," jawab Baekhyun singkat dan berhasil membuat raut wajah Chanyeol sedikit kecewa. "Tapi itu dulu," lanjutnya lagi.

"Dulu?" Chanyeol membeo.

Baekhyun mengangguk pelan. "Dulu, sebelum aku bekerja dengan Jongdae."

Lalu, kenapa sekarang tidak?" Tanya Chanyeol lagi.

"Aku sedang tidak ingin menjalin hubungan khusus dengan pria manapun."

"Kau dikhianati?"

Baekhyun tersenyum miris mendengar kalimat tajam menusuk dari mulut Chanyeol yang benar-benar menghujam hatinya. Ironis. Luka lama yang berhasil dibalut dengan perban serapat mungkin, perlahan-

Lahan terbuka dan ternyata luka itu masih juga belum kering. Rasanya perih sekali saat Baekhyun harus mengingat-ingat kejadian itu.

"Chanyeol, bisakah kita mengganti topic pembicaraan kita? Aku rasa ini sudah terlalu jauh. Kita baru menegnal dan…"

"Bahkan denganku sekalipun?" potong Chanyeol cepat.

Bibir mungil Baekhyun menganga lebar. Mata sipitnya itu tidak mengerjap sekalipun. Dan ia pun tenggelam di dalam ucapan Chanyeol tadi.

T B C

Hahahahaaa… akhirnya chapter 3,, update kilat kan saya hehehhe….

yups,,, bener banget ini cerita hasil remake saya dari novel "DUET"... suka aja ceritanya jadi di remake deh...

Makasi yang udah review yaa … makasih juga dah yang jadi silent reader #saya pun begitu juga, hehehe# … ternyata banyak juga hehehe … makasih juga yang dah follow dan favorite yaa …. Nda nyangka kalau responnya cepat juga padahal sayanya masih baru….

Oyaa … tetep di baca yaa ceritanya …. Maaf kalo ada typo …

Review terus yaa…. Muuaahhhh

Salam

Octrat, 2 Mei 2015