Hyah, chap. nya telat….. Gomen! Lagi libur, sih, jadi males bikin fic lagi *ditimpuk.

Ternyata Ruvina nggak masuk sepuluh besar, jadinya nggak jadi dapet PSP, deh… Hiks.

Sekarang Ruvi coba untuk memperbanyak ngomongnya, ya!

Terima kasih untuk:

-Miku Usagi Deviluke yang ngasih usul. *Aku memang kebiasaan bikin paragraph panjang2…

-Safira Love SasuNaru yang nge-review lagi!

Okeh, langsung aja, ya…

Disc. : Haduh, Ruvi masih bingung siapa sih sebenernya? *di chidori sama Masashi Kishimoto *emang bisa pake chidori?

Warning: Maaf kalau agak OOC... Kalau nggak suka, nanti Ruvi ganti, deh!


Gaara, Naruto, dan Minato akhirnya sampai di kantor Kazekage.

"Gaara-san, Naruto, aku ada urusan sebentar dengan Kazekage. Mungkin kita masih pulang beberapa hari lagi, dan kurasa sekarang saatnya kau tidur, Naruto." Minato berjongkok di depan Naruto.

"Tapi aku tidak- Hoahem." Tiba-tiba Naruto menguap lebar.

"Kau harus tidur, Naruto. Besok kau masih bisa bermain dengan Gaara. Benar kan, Gaara?" Minato menatap ke arah Gaara.

Gaara mengangguk pelan.

"Tapi- ya sudahlah. Tapi aku mau tidur di kamar Gaara!" Naruto berteriak kencang.

Gaara nampak shock.

"Baiklah." Gaara mengangguk lagi.

"Jadilah anak yang baik. Jangan menyusahkan Gaara-san, oke!" Minato mengusap rambut Naruto, berdiri, lalu mulai berjalan.

Naruto menangguk pelan, lalu berjalan bersama Gaara.

"Dan, Naruto... " Tiba-tiba Minato berhenti.

Naruto berhenti dan membalik badannya.

"Tidurlah yang nyenyak!" Minato melambaikan tangannya lalu berjalan lagi.

Naruto tersenyum dan berjalan lagi. Gaara beberapa langkah di depannya.

Tak lama kemudian mereka sampai di kamar Gaara.

Naruto's POV

Hah? Ini kamar Gaara? Bu... bukankah ini tempat yang tadi kumasuki? Aku ingat persis ini memang ruangan itu.

Gaara memutar kenop pintunya dan... Gelap.

Walau gelap, aku masih bisa melihat bahwa... Ruangan ini memang ruangan yang tadi kumasuki.

Aku terdiam sementara Gaara menekan saklar yang ada di samping pintu.

Gaara tiba-tiba terdiam melihat ruangannya.

Dia segera mendorongku lalu membanting pintunya. Terdengar suara pintu dikunci dari dalam.

Aku berdiri diam di luar, menunggu Gaara membukakan pintu untukku.

"Gaara..." Aku memanggilnya setelah cukup lama di luar.

Tidak ada jawaban.

"Gaara... Aku..." Aku agak ragu-ragu mengucapkan kalimat itu.

"Aku... Sebenarnya aku tadi sudah masuk ke kamarmu! Dan aku sudah melihat gambar-gambar yang bertebaran di lantai itu. Kau tidak perlu menyembunyikan apa-apa, Gaara! Aku ini temanmu, ingat?" Aku berteriak, menunggu jawaban.

Gaara's POV

Dia... melihatnya? Jadi itu mengapa dia bisa menemukanku di taman. Mungkin dia mengikuti jejakku. Entah mengapa aku merasa ingin menangis.

Aku terduduk di balik pintu, menangis.

"Gaara!" Terdengar Naruto berteriak lagi.

"Bukalah pintunya! Gaara! Aku temanmu! Ingat? Kau bisa bercerita apapun padaku. Kau tidak bisa terus menutup dirimu, Gaara!" Te... man?

Aku... masih belum mengerti apa itu teman... Mungkinkah... aku bisa memberinya kesempatan?

Aku berdiri, memutar kunci lalu membuka pintu. Air mataku masih mengalir, tapi aku bisa melihat Naruto berdiri di depanku.

Dia memandangku cukup lama, lalu dia maju dengan kedua tangan direntangkan. Dia...

...memelukku. Mengapa? Perasaan apa ini? Aku merasa ingin menangis karena Naruto melihat gambarku dulu. Tapi, saat dia memelukku... Rasa hangat itu kembali lagi.

Aku terkejut, tapi juga senang. Tak lama kemudian Naruto melepasku. Kuusap air mataku, lalu kupandang dia.

Naruto tersenyum, dan aku merasa nyaman berada di sampingnya.

Normal POV

Naruto masuk ke dalam kamar Gaara. Gaara menutup pintu, lalu mulai membereskan kertas-kertas yang bertebaran di kamarnya. Angin telah meniup kertas-kertas itu, membuatnya bertebaran dimana-mana.

Naruto nampak ragu-ragu, tapi dia membantu merapikan kertas-kertas itu.

Beberapa menit kemudian...

"Ah, akhirnya selesai juga!" Naruto segera merebahkan badannya di tempat tidur Gaara.

Gaara duduk di sebelah Naruto. Entah sudah berapa lama tempat tidur itu tak disentuh oleh Gaara.

"Naruto..." Gaara memanggil teman pertamanya itu.

Tak ada jawaban.

"Naruto...?" Gaara memanggil lagi.

Masih tak ada jawaban.

Gaara turun dari tempat tidur, lalu menghampiri Naruto. Mata Naruto terpejam, napasnya teratur. Naruto tertidur.

Gaara's POV

Hn, dia tertidur. Aku sendiri tidak tahu kapan terakhir aku tertidur seperti dia... Aku berdiri dan berjalan pelan menghampiri balkon. Angin berhembus sejuk malam ini.

Kuulurkan tanganku. Pasir berkumpul dan mengeras di depanku. Aku naik ke atas kumpulan pasir itu, lalu menerbangkannya ke atap.

Aku turun, dan pasir itu hilang dalam sekejap. Sekarang aku ada di atas atap, tempat yang sering kudatangi jika malam tiba.

Angin bertiup semakin kencang di atas sini, tapi aku sudah terbiasa dengan dinginnya angin malam. Kubaringkan tubuhku perlahan, dan terlihat pemandangan yang indah di langit.

Ratusan bintang berkilauan memancarkan cahayanya. Dan di tengah-tengah kumpulan bintang itu, ada bulan yang bersinar redup. Sungguh indah pemandangan malam ini.

Walau sudah setiap malam aku berada di sini, aku tak pernah bosan. Lagipula aku tidak ada kerjaan. Tidur pun tak bisa...

Setelah berapa jam aku berbaring di atas atap, tiba-tiba terdengar suara erangan.

"Gaara..."

Aku menjulurkan kepalaku ke bawah, ke dalam kamarku. Terlihat Naruto kini duduk di tempat tidurku. Sepertinya dia terbangun dari mimpinya.

Tiba-tiba dia menoleh ke arahku.

"Gaara!" Dia beteriak dan segera menghampiri balkon kamarku. Dia terus melihat ke arahku, lalu dia melihat ke pagar balkon.

Naruto menaiki pagar balkon, lalu dengan sekali lompatan dia meraih pinggiran atap. Dengan susah payah dia berhasil naik ke atap, dan sekarang duduk di sebelahku.

Normal POV

Naruto berbaring, menatap langit di atasnya.

"Wah, pemandangan yang indah! Ngomong-ngomong, apakah kamu juga tak bisa tidur karena bermimpi buruk sepertiku?" Tanya Naruto yang sekarang duduk di sebelah Gaara.

Gaara menggelengkan kepala.

"Lalu? Mengapa kau ada di atas sini dan bukannya tidur di tempat tidur?"

Gaara menatap ke bawah cukup lama, sebelum akhirnya menjawab.

"Sebenarnya..." Gaara berhenti cukup lama.

Gaara's POV

Mengapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu? Haruskah aku memberitahunya yang sebenarnya? Bisakah aku mempercayakan rahasia ini? Aku tak mau kehilangan teman pertamaku karena rahasia ini.

Tapi kurasa... aku bisa mempercayai Naruto. Dia berbeda, tidak seperti orang lain. Yah, kucoba saja.

"Sebenarnya... aku... Sebenarnya ada monster yang tersegel di dalam diriku." Aku memegangi perutku.

Mata Naruto melebar.

"Aku takut monster itu akan mengamuk jika aku tertidur, jadi... aku harus tetap bangun untuk memastikan itu tidak terjadi. Aku... Aku tak ingin melukai siapapun lagi, aku tak ingin mereka berakhir seperti pamanku yang telah kubunuh" Aku mulai sedikit menangis.

Semua rahasiaku, perasaanku sudah kukatakan pada Naruto. Mata Naruto semakin melebar, sepertinya dia shock. Tapi tiba-tiba Naruto tersenyum lembut, lalu mendekatiku. Dan memelukku... lagi.

Rasa hangat itu lagi-lagi kembali. Aku suka dengan rasa ini. Rasa nyaman yang terjadi saat aku sedih, tapi ada seorang teman yang menenangkanku. Dan teman itu adalah Naruto.

"Begitu, ya... " Naruto melepaskan tangannya dariku dan mengusap air mataku.

"Kalau begitu, aku akan menemanimu setiap malam! Itulah yang teman lakukan, benar?" Naruto tersenyum sambil mengacungkan jempolnya padaku.

Aku merasa... senang. Tidak! Lebih dari senang. Mungkin, namanya... bahagia? Ya, namanya memang bahagia. Aku tersenyum penuh kebahagiaan.

Dia... benar-benar berbeda. Tak seperti orang-orang yang menjauhiku karena takut padaku, dia malah mendekatiku. Dia memang orang yang aneh... Tapi aku menyukainya.

Mungkinkah... aku bisa mempercayainya dengan berbagai hal? Kurasa itu yang namanya teman. Kurasa... itulah gunanya teman.

Normal POV

Tiba-tiba seberkas cahaya kemerahan memancar dari depan Gaara dan Naruto.

Naruto segera menolehkan kepalanya ke depan dengan bingung. Gaara juga menolehkan kepala.

Pemandangan matahari terbit yang sangat indah. Cahaya kemerahannya menyinari Naruto dan Gaara. Malam itu adalah malam paling indah yang pernah Gaara lewati... bersama teman pertamanya.


Akhirnya selesai juga... *tepar di lantai.

Tadinya mau cepat-cepat selesai... Tapi tiba-tiba liburan datang. Jadwal padat banget, nih... Akhirnya selesai di akhir-akhir liburan pas lagi bete di rumah.

Thanks buat Uchiharuno Rin yang udah nge-confirm friend request aku di fb, dan para reviewer lain yang memberikan saran, semangat, komentar, dll, ya!

Oya, ada informasi (nggak) penting, Ruvi masuk kelas paling ancur: 8-4! Argh... Bete berat, nih!

Yasud, click tombol di bawah itu, ya... Yang warnanya biru, ada garis bawahnya, terus tulisannya: Review this Story, oke!