Stupid Love
Karya : Nakashima Aya
Summary : Bukan berarti seorang setter bisa melihat segalanya, dan bukan berarti seorang setter bisa mengontrol lapangan. Bukan berarti seorang ballerina bisa terbang, dan bukan berarti seorang ballerina bisa melakukan apa saja. Mereka tercipta dari ketidak-sempurnaan, dan berusaha saling melengkapi agar menciptakan harmoni yang seimbang diantara keduanya.
Disclaimer : OC dan storyline ber-hak cipta Nakashima Aya.
Genre : Romance, Friendship, Humor.
Warning : OC, OOC!, OOT!, Typo(s), KarasunoAU!, Kageyama Tobio X OC (Tsukishima Kaori).
.
.
.
Please Enjoy to Read!
.
.
.
3 of 15
"Kaori, kenapa kau begitu bodoh. Kau lupa menanyakan namanya…" Helaan nafas keluar dari bibir tipis seorang Tsukishima Kaori. Ia jadi semakin tidak bisa fokus pada pelajaran di dalam kelas semenjak dirinya sadar bahwa ia satu sekolah dengan gebetannya. Bukan gebetan juga sih, hanya idola, mungkin. Tiba – tiba pemikirannya mengudara pada sosok kakaknya yang berada di tim bola voli bersama Ousama (Kageyama).
"Oh iya! Aku tahu! Aku tahu!" Kaori mendadak berdiri dari kursinya sambil mengacungkan pensil optimis, seakan mendapat pencerahan atas masalahnya.
"Jika kau memang sudah mengerti pembelajaran ini, sehingga kau tidak mendengarkan penjelasanku, sebaiknya kau keluar dari kelas ini, Tsukishima – san!" dan sebuah bolpoin berwarna hitam yang dipoles sangat lembut khas produk Joyko mendarat di dahi Kaori yang tertutupi poni.
"Adududuh… Ittai…" Kaori menepuk dahinya yang memerah, tanpa ada perasaan ingin meminta maaf pada sensei di depan kelas. Pada akhirnya, Kaori mendapat ciuman bolpoin yang kedua di bagian dahi yang sama.
.
.
.
Dahi berkerut, pipi menggembung, bibir dikerucutkan, dan tangan yang disilangkan di dada. Kaori sedang dalam keadaan badmood sekarang. Setelah insiden bolpoin laknat itu, seisi kelasnya mengejek Kaori seharian ini. Dan di dalam bekal makan siangnya terdapat bahan makanan paling menjijikkan yang bisa Kaori pikirkan, ia jadi tidak nafsu memakan bekal makan siangnya. Karena itulah Kaori kini menantikan kakaknya untuk segera keluar dari kelas, berniat menuangkan seisi kotak bekalnya ke dalam kotak bekal Kei, agar ia bisa menghindar dari amukan ibunya jika ia tidak menghabiskan bekal makan siangnya.
"Kei – oniichan!" Kaori langsung masuk ke dalam kelas 1-4 seketika setelah sensei keluar dari kelas tersebut. Gadis beriris obsidian itu langsung menggeledah tas kakaknya dan mengeluarkan kotak bekal berwarna biru dari dalam tasnya, dan segera menuangkan seisi bekalnya bahkan sebelum Kei mengucapkan satu kata pun.
"Kaori… ini…" Tsukishima Kei memandang laknat adik perempuan kecilnya yang tengah berekspresi sibuk, menuangkan satu demi satu pare dari kotak bekalnya ke kotak bekal kakaknya.
"Onii – chan harus makan sayuran yang banyak jadi kau bisa bermain voli dengan baik. Aku pergi dulu, Onii – chan. Jaga dirimu." Kaori berjalan keluar kelas 1-4 dengan tenangnya, tidak sedikitpun terganggu dengan tatapan kawan sekelas Kei yang memandang Kaori aneh.
Hening… Tsukishima hanya memandang kotak bekalnya yang mendadak berisi dua kali lipat dari aslinya.
….
"Tsukki, bukankah itu… Pare?" Tsukishima langsung berlari keluar dari kelasnya, dan berteriak cukup keras di lorong SMA Karasuno.
"KAORI! KEMBALI DAN MAKAN BEKALMU DASAR ANAK MANJA!" tapi Kaori sendiri sudah menghilang dari jarak pandang sehingga Kei hanya bisa memandang makanan laknat di bangkunya. Pare dan segala rasa pahit yang dimilikinya. Jujur saja, Tsukishima Kei tidak suka sayuran bernama pare. Begitu juga Kaori.
Dan sialnya, Kaori lebih pintar dari Kei sehingga ia menuangkan bekalnya kepada kakaknya tercinta, dengan alasan terselubung. Ia benci pare. Sasuga, Tsukishima Kaori dan IQ 175 miliknya.
"Akan kupastikan kau memakan sayuran busuk itu, Kaori." Yamaguchi hanya bisa menghela nafas melihat ke-ooc-an kedua bersaudara itu jika sudah berurusan dengan pare, makanan yang paling dibenci Tsukishima bersaudara.
.
.
.
Tsukishima Kei bergegas memasukkan semua buku ke dalam tasnya, tidak lupa ia keluarkan kotak bekal berwarna biru dan sebuah sumpit dengan warna senada. Ia harus segera menuju ke kelas tetangga, menemui adiknya tercinta dan memberikan hadiah terindah untuk Kaori. Bahkan ia meninggalkan Yamaguchi yang masih bebersih kelas, contoh anak baik.
Kaori berkeringat dingin setengah mati mendapati kakaknya menyeringai iblis tepat di pintu kelasnya, menanti pembelajaran di kelas 1-5 berakhir. Secepat mungkin ia masukkan semua kebutuhannya di dalam tas, termasuk kotak bekal miliknya, yang berwarna merah muda dan tentunya sudah bersih tanpa noda. Akibat insiden penuangan bekal siang tadi.
Kaori perlahan menundukkan tubuhnya, menenggelamkan diri di balik meja sampai di titik Tsukishima Kei tidak akan bisa melihatnya. Dan segera setelah sensei keluar dari kelas, Kaori buru – buru menyeret tubuhnya seraya masih bersembunyi di bawah kaki – kaki kawan sekelasnya dan langsung berlari keluar kelas sebelum Kei menyadari bahwa bangku Kaori sudah tidak berpenghuni.
Kei masih menunggu. Sudah beberapa saat yang lalu sensei keluar dari kelas, namun ia tidak melihat adiknya sekalipun, akhirnya ia memberanikan diri menengok ke dalam kelas hanya untuk mendapati Kaori sudah tidak ada di dalam kelas.
.
.
.
"Ah, Yamaguchi! Dimana Tsukishima? Tidak biasanya kau datang sendirian."
"Tadi Tsukki buru – buru berlari keluar kelas, kurasa ia menemui Kao–"
BRAAKK…
Ucapan Yamaguchi terpotong ketika terdengar suara pintu gym yang dibanting menutup dengan cukup keras. Tsukishima Kaori, penyebab asal suara tersebut terlihat kelelahan dengan nafas tersengal dan keringat yang mengucur di dahinya. Melihat Yamaguchi, ia langsung berlari ke arah pemuda tersebut, masih dengan langkah terseok – seok.
"K-Kaori – chan, ada apa?"
"Dia sudah gila!"
BRAKK!
Kali ini suara pintu yang dibanting terbuka bisa terdengar hingga penghujung gedung olahraga, seisi gym hanya bisa menahan nafas melihat Tsukishima Kei datang membawa kotak bekal berwarna biru yang terbuka. Kaori bergidik ngeri, langsung berlari ke belakang Kageyama yang ia nilai memiliki wajah paling menakutkan sehingga bisa menakuti Onii-chan nya, bahkan Kaori tidak peduli bahwa pemuda yang ia pakai sebagai tameng itu adalah idolanya.
"Ousama – san, Ousama – san, lindungi aku! Kumohon!" Kaori menarik pucuk kaos Kageyama dengan tatapan memohon. Kageyama hanya menatap Kaori bingung. Dia benar – benar tidak tahu harus melakukan apa.
'Ousama – san? Apa maksudnya? Apakah itu semacam tren masa kini?' Kageyama sungguh tidak mengerti dengan panggilan aneh yang diucapkan Kaori untuknya. Kaori menggunakan dua suffix untuk memanggilnya.
Detik demi detik terus berlalu, Kageyama hanya diam saja sedangkan Tsukishima Kei dan kotak bekalnya semakin mendekat.
"Kaori…" suara baritone Kei mampu membuat Kaori tidak dapat berkutik lagi, ia benar – benar tidak bisa mengelak.
"Ousama – san, tolong aku! Iblis ini bisa membunuhku!"
"Diam dan makan paremu dasar anak manja!" Yamaguchi sudah menduga kalau semua ini masih ada hubungannya dengan pare.
"Tidak mau! Benda menjijikkan itu akan mengontaminasi sistem pencernaanku. Mama akan memarahiku jika aku memakan makanan yang buruk."
"Sudah cukup alasanmu, habiskan sisa bekalmu sekarang juga!"
"Tidak mauu!"
"KAORI!"
"Apa? Bilang saja kau juga tidak suka dengan pare!"
"Baik… baik cukup sudah. Latihan akan segera dimulai, Tsukishima kau gantilah bajumu dan kau, entah siapa namamu kau sebaiknya segera pergi dari tempat ini karena latihan akan segera dimulai." Terpujilah Sawamura Daichi dan aura kelamnya yang mampu menghentikan segala perkelahian pare ini.
Pada akhirnya, sisa pare laknat itu tetap berada di kotak bekal sang kakak. Dan tentu bisa kalian bayangkan betapa mengerikannya seorang ibu ketika bekal makan siang mereka tidak dihabiskan.
.
.
.
Chapter ini sumpah absurd banget. Gak jelas dan Kageyamanya dikit ngettss…
Biarin lah ya, ini sebenernya cuma pingin memperkenalkan ke kalian gimana Kaori sama Tsukishima kalau di sekolah gituu, terus gimana awal Kageyama sama Kaori nanti bisa omong2an.
So keep read this story, 'kay?
Thank you, please all your review!
Salam Hangat,
Nakashima Aya
