Happy Reading! :D


Part 3: Cockroach Story with Garuchan


"GYAAAAAAAAAAAAAAAAA! HELEP MIIIIIIIIIIIIIIIIII!"

Pagi yang seharusnya damai, aman, dan tenteram itu harus dirusak dengan sebuah teriakan yang sangat tidak indah dari kediaman Lammermoor.


GROMPYANG!

Edgar menjatuhkan wajan ke lantai karena kaget mendengar teriakan barusan.


SYUUT! GUBRAK!

"ADOOH!" Salem meringis kesakitan setelah kepeleset di kamar mandi karena mendengar teriakan yang sama.


CTAK!

Rendy mematahkan pensil di tangannya tanpa sengaja.


BUGH!

Tumma jatuh dari kasur.


Edgar berlari dengan cepat ke ruang tengah dimana Edward tengah meringkuk ketakutan di bawah meja sambil mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti orang kumur-kumur.

"Heferrkkehihdjhbhdsh..."

Edgar menaikkan alis dan berjalan mendekati Edward. "Lu kenapa sih?"

Edward mendongak dan bergerak untuk berdiri, tapi...

DUK!

"Aduh!"

Dia kejedot meja.

Edward meringis dan hampir menangis, kemudian merangkak keluar dari bawah meja sambil mengaduh berkali-kali.

Edgar mengusap kepala Edward. "Masih sakit?"

"Iya Kak, masih sa- GYAAAAA!" Edward segera menarik kakaknya menjauhi meja.

"Lu kenapa sih?" tanya Edgar heran.

"I-itu... K-k-k-k-ke-ke-co-ak..." jawab Edward terbata-bata sambil menunjuk binatang mini berwarna coklat yang sedang berjalan di sekitar meja.

Wajah Edgar langsung memucat karena dia membenci binatang yang katanya mirip kurma kalau dilihat oleh orang yang lagi puasa. Yeah, pemikiran yang somplak!

"Ada apa sih ribut-ribut? Ganggu orang nulis aja!" gerutu Rendy yang baru nongol.

"(Kak) Rendy..." panggil Edward dan Edgar bersamaan.

Kecoak itu berjalan mengitari kursi dan berjalan mendekati kedua orang itu.

"GYAAAAAAA!" teriak mereka berdua sambil bersembunyi di belakang Rendy. "K-KE-KE-KECOAK!"

Rendy menatap malas ke arah kecoak yang masih asik muter-muter di lantai, dia pun berbalik dan menghela nafas.

"Ka-Kak Rendy mau kemana?" tanya Edward.

Rendy pun berjalan meninggalkan Lammermoor bersaudara yang masih ketakutan di ruang tengah.


Beberapa menit kemudian, dia kembali lagi sambil membawa sepatu boot berwarna coklat di tangannya.

"Lu mau apain sepatu gue?!" tanya Edgar tidak terima setelah mengenali sepatu yang dibawa Rendy.

"Buat bunuh kecoak." jawab Rendy to the point.

"HE-HEY! JANGAN!" teriak Edgar.

Rendy menatap Lammermoor bersaudara dengan wajah datar sambil berjalan ke arah kecoak itu dan mengangkat sepatu yang dibawanya. "Halah, cuma segini, dibunuh kan gam-"

Perkataan Rendy terputus saat kecoak itu mengepakkan sayap dan terbang ke arahnya, hal itu sukses membuatnya terbelalak.

"ASTAGA KAMBING!" pekik Rendy sambil berlari menjauh dan meninggalkan sepatu Edgar yang baru saja dilemparnya.

"SEPATU GUE!"

Kecoak itu terbang sampai hinggap di dinding, kemudian terbang lagi untuk mengejar ketiganya.

"GYAAAAAAAAAAAAAA!"


Mereka bertiga berlari ke ruang tamu, tapi kecoak itu masih mengejar. Alhasil, mereka pun lari lagi ke ruang makan dan sembunyi di bawah meja.

"Kalian main apaan sih?" tanya Salem yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai boker.

Mereka bertiga hanya diam, sementara Salem menaikkan alisnya karena kebingungan melihat ketiga temannya yang malah menatapnya dengan pandangan kosong dan nafas yang masih ngos-ngosan.

"Kalian main petak umpet? Siapa yang jaga? Tumma? Tumben dia nggak tidur." Salem membuka kulkas untuk mengambil sebotol air minum dan menenggak isinya. "Huaaah~ Segarnya~"

Dia pun kembali menatap ketiga temannya yang masih saja meringkuk di bawah meja. "Aku ikutan main juga dong!"

Rendy, Edward, dan Edgar masih terdiam dan menatap Salem dengan ketakutan.

"Tapi kenapa kalian aneh banget ya? Kok sembunyi di tempat yang sama? Kan bisa ketauan." cerocos Salem.

"Sal..." panggil Edgar ketakutan.

"Apa?" tanya Salem.

"Menjauhlah, dari, kami." jawab Edward penuh penekanan.

"Memangnya kena-"

Salem langsung terdiam ketika merasakan sesuatu yang turun dari puncak kepalanya, benda itu bergerak turun dari dahi menuju hidung dan...

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH! YA TUHAAAAAAAAAAAAAAAAN!"

Kecoak itu pun terbang dan hinggap di lantai. Edgar, Edward, dan Rendy segera melarikan diri sambil menyeret Salem yang sekarang menangis histeris.

"MENJIJIKKAN! HUWEEEEEEEEE!" jerit Salem di sela tangisnya.


Mereka berempat pun duduk di anak tangga. Edgar dan Edward berusaha menghentikan Salem yang mulai mengumpat-umpat.

"Cup... Cup... Cup..." Edward menepuk pelan punggung Salem.

"Huuu... Dia bergerak di wajahku... Menjijikkan... Huweeeee..."

"Tenang, Sal... Tenang..." hibur Edgar.

"Biarkan saja dia..." timpal Rendy sambil menopang kepalanya yang terkulai dengan tangan kiri.

Edgar langsung terkejut. "Jangan begitu!"

"Kalau kecoak itu melakukan hal yang sama denganku, mungkin aku akan melakukan hal yang sama dengannya." balas Rendy datar.

Edward langsung terlonjak mendengarnya. "Aku tidak bisa membayangkannya!"

"Kau mungkin lebih ke arah mengamuk daripada menangis, Rendy." komentar Edgar sweatdrop.

"Tapi Kak Rendy benar, aku mungkin juga akan menangis... Kau tau, jika dia bergerak di kulitmu..." Edward merinding ketakutan.

Keempat orang itu pun terdiam.

CEKREK!

Mereka pun terlonjak dan Tumma muncul dari dalam kamarnya sambil menutup pintu.

"Teriakan kalian membuatku nggak bisa tidur, memangnya kenapa sih?" tanya Tumma sambil mengorek kuping.

"Oh, itu kau. Kukira apa, bikin kaget saja." ujar Edgar sambil mengelus dada.

"He?"

"Aku punya ide! Kalau Tumma tidur lagi, kita harus teriak sekeras-kerasnya biar dia nggak usah tidur lagi!" usul Salem.

"Aku nggak mau ikutan!" seru Edward.

"Aku juga, entar pita suaraku malah putus nanti." sambung Rendy.

Webek, webek...

"Tadi saat aku bangun, aku sekalian buka jendela. Tetangga marah-marah karena kalian teriak-teriak." jelas Tumma.

"Oh, maafkan kami!" balas keempat temannya sambil bersimpuh.

"Kenapa sih?" tanya Tumma.

"Hmmm... Tadi ada-" Perkataan Edgar terputus karena...

"MENJIJIKKAN! DIA BERJALAN DI WAJAHKU!" teriak Salem.

"Dia terbang!" lanjut Rendy.

"K-k-k-keco- AAAAAH!" jerit Edward saat melihat binatang itu terbang ke arah mereka.

"MUGYAAAAAAAAA!"

Keempat orang itu lari tunggang-langgang menjauhi arah terbang kecoak itu dan meninggalkan Tumma yang hanya menatap mereka dengan wajah datar.

"Ya ampun, kukira ada apa... Hanya kecoak..." gumam Tumma.

"Masalahnya dia terbang, tau!" balas Rendy tidak terima.

"Aku benci kecoak!" timpal Edward dan Edgar bersamaan.

"Dia berjalan di wajahku!" seru Salem yang matanya kembali berkaca-kaca.

"Cuci wajah dulu sana." usul Tumma sambil berjalan ke arah lemari dan mencari sesuatu di dalamnya. "Hmm... Mana ya..."


"GYAAAAAAA!"

Keempat temannya kembali menjerit histeris saat kecoak itu terbang lagi ke arah mereka dan berhenti karena terpojok oleh tembok di belakang mereka.

"Hei hei! Dia ke sini!" ujar Rendy panik.

"Kita harus bagaimana?!" tanya Edward ikutan panik.

"Geser, geser!" gerutu Edgar.

"Hush! Hush!" seru Salem.

"Tiarap! Ayo tiarap!" perintah Edgar.

"Kau gila?! Aku tidak mau!" sembur Rendy sambil berlari menjauhi tembok.

Kecoak itu pun hinggap di tembok dan berjalan. Edward, Edgar, dan Salem cepat-cepat berlari menjauhi tembok.

Tumma pun datang sambil membawa sebuah botol berisi cairan di tangannya dan berjalan melewati keempat temannya untuk mendekati tembok yang terdapat kecoak di atasnya.

ZRAAASSSH! ZRAAASSSH! ZRAAASSH!

Tumma menyemprotkan cairan di dalam botol itu ke arah si kecoak dan...

PLEK!

Kecoak itu pun langsung jatuh ke lantai dengan megap-megap sambil berusaha membalikkan diri dan akhirnya mati.

Rendy, Edward, Edgar, dan Salem hanya terdiam melihat itu.

Tumma menatap mereka dengan senyuman mengejek. "Aku baygon user, begini saja tidak bisa!"

Tumma pun berlalu dari tempat itu dan perempatan langsung muncul di kepala keempat temannya.

"Menyebalkan! Biar aku tendang kepalanya!" sembur Rendy.

"Biar aku kuliti dia!" seru Edgar.

"Gantung saja di pohon kelapa!" usul Edward.

"Bakar dia!" celetuk Salem.

Mereka berempat pun mengejar Tumma dengan marah.

Mari kita berdoa untuk keselamatannya!


Di sebuah kamar, terlihat seorang gadis yang tengah membawa sepatu sambil mengendap-endap mengikuti seekor kecoak yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke kamar dan mengganggu waktu istirahatnya. Matanya menatap tajam kecoak yang merayap tanpa beban dan begitu kecoak itu merayap di atas meja, dia langsung...

PAAAAAAAAK!

Satu pukulan.

PAAAAAAAAAAAKKKK!

Terus, pukul saja sekali lagi.

PAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK!


Rest in peace...

Cockroach.

... – 2018

Semoga keluarga yang ditinggalkannya mendapat kesabaran dan ketabahan. Amin.


Krieeeeet!

"BUJUG DAH! MARIN, KAMU ABIS NGAPAIN?!"

Primarin (si gadis yang baru saja menjadi eksekutor seekor kecoak barusan) menengok ke arah pintu kamar dan mendapati seorang gadis berambut biru yang tengah menggendong seekor rakun sambil jawdrop.

"YA TUHAN, YUBI! LU NGAPAIN BAWA MIORIN KE SINI?!" pekik Primarin sambil menunjuk rakun di gendongan gadis itu.

"Aku lagi main sama Miorin di kamar, tau-tau kedengeran suara berisik di sebelah, jadinya aku kemari deh." jelas Yubi santai.

"Aduuuh! Lu jangan bawa dia ke sini, gue abis bantai kecoaaak!" seru Primarin panik sambil mendorong Yubi menjauhi kamarnya.

Tapi bukannya menjauhi kamar, Yubi malah menyelonong masuk ke kamar Primarin. Dia mengambil kecoak yang telah meregang nyawa di lantai dan membuangnya ke tempat sampah.

"Berani bener lu!" komentar Primarin sambil menggendong Miorin.

"Nggak cuma kamarmu doang yang diserbu kecoak, yang lainnya juga!" sahut Yubi sambil merebahkan diri di kasur Primarin dengan seenak pantatnya.

"Kamar lu kena juga?" tanya Primarin sambil duduk di samping tamu kamarnya yang masih merebahkan diri.

"Nggak, tapi tumben-tumbenan hampir seisi markas diserbu kecoak semua." jawab Yubi sambil meraih Miorin yang berjalan ke arahnya.

"Lho, kok? Gimana ceritanya? Kecoaknya pindah semua dari gudang?" tanya Primarin kaget.

"Entah, aku juga nggak tau gimana cerita- ANJRIT, KECOAK!"

Yubi dan Primarin langsung naik ke atas kasur saat melihat seekor kecoak merayap di dekat kaki mereka dan sang pemilik kamar mulai gemetar saat memegangi sepatunya.

"Yu-Yu-Yubi, gimana nih?! Gue nggak berani lempar sepatu nih!"

"Ja-jangan tanya aku! Aduh Tuhan, ini gimana caranya?!"

"Yubi! Gimana nih? Aduuh! Gue nggak berani nih!"

"Aku juga, Marin!"

Saat mereka sedang terdesak dengan seekor kecoak, tiba-tiba...

"Yubi, tadi aku cariin taunya di si-"

"ILIA, AWAS ADA KECOAK!"

"HUWAAAA!"

Ternyata kehadiran Ilia tidak membantu sama sekali, dia malah ikut-ikutan menjadi korban dan meringkuk di samping Yubi.

"Aduuh, gimana nih?!"

"Buruan doong, kecoaknya keburu naik ke kasur gue nih!"

"Itu udah naik, Marin! Aduuuh, ini ada yang bantuin kek!"

"Yubi! Buruaaan, gue takut!"

"Yubi! Matiin kecoaknya!"

Yubi pun mengumpulkan segenap keberanian, dia memegangi sepatunya dengan sedikit gemetar dan...

PAAAAAAAAAAAAAAAK!


Turut berduka cita atas meninggalnya seekor kecoak. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapinya.

Amin.


"U-udah mati kecoaknya?" tanya Primarin sambil meringkuk di sudut kamarnya bersama Ilia.

"U-udah, a-aku bu-buang y-ya..." jawab Yubi terbata-bata sambil memegang bangkai kecoak itu dan membuangnya.

Primarin menghela nafas. "Aduh sumpah, gue merinding..."

"Untung Miorin nggak kenapa-napa. Keluar aja yuk... Serem nih..." ajak Ilia yang masih gemetar setelah peristiwa penyerbuan kecoak barusan.

Akhirnya mereka bertiga keluar kamar sambil mengendap-endap, dan setelah tiba di luar kamar...

"HIIIIIIIII!"

Mereka pun berlari sekencang mungkin menjauhi kamar.


Di tempat lain...

"Lu nyeduh?" tanya Alisa sambil berjongkok di samping Monika yang sibuk merebus mie instan. "Ini kan belum akhir bulan, biasanya lu nyeduh pas akhir bulan."

"Gue sama Maurice lagi pengen nyeduh sekarang, lu mau nggak?" tawar Monika sambil mengaduk mie instan. "Kalau mau, entar makannya bareng gue sama Maurice!"

"Iya deh, gue pengen." balas Alisa. "Betewe enewe beswe, si Maurice mana?"

"Lagi ke warung, beli mie buat persediaan akhir bulan." jawab Monika datar sambil melirik lawan bicaranya.

Dia tak menyadari kalau ada seekor kecoak yang tengah merayap di samping kompor portable, kecoak itu pun terbang dan mendarat di...

"Eh, Nik." Alisa menyadari seekor kecoak ikut terebus bersama mie instan yang dimasak Monika. "Mie-nya kemasukan kecoak tuh!"

"Mana ada keco- ANJRIIIIIIIIIIT!" teriak Monika kaget sambil mematikan kompor portable dan berlari membawa panci yang berisi mie instan bersama kecoak yang terebus, kemudian membuangnya ke selokan.

"Kok mie-nya dibuaaang?! Sayang mie-nya woy!" seru Alisa panik.

"Lu mau makan mie bekas kolam renang kecoak?!" balas Monika kesal sambil membersihkan panci. "Lu doyan mie instan rasa kecoak?! Kalau doyan, entar gue kasih ke lu!"

"Mana doyan gue sama mie instan kayak itu? Hiii!" Alisa bergelidik geli.

"Mampus, mie yang gue buang barusan mie terakhir."

Webek, webek...

"YA TUHAAAN, MONIIKAAAAAAA!"

"GUE NGGAK NYADAR, DOGOL! NGGAK NYADAAAAAR!"

"TERUS KITA MAKANNYA KAPAAAN?!"

"TUNGGUIN MAURICE BA-"

"Monika, ini mie buat akhir bulannya."

Berbahagialah kalian wahai Alisa dan Monika, seorang Maurice Wolvine datang menyelamatkan kalian dengan membawa dua kantong plastik berisi mie instan~

"Akhirnya~" seru Monika dan Alisa kompak sambil memeluk Maurice yang bingung dengan kelakuan kedua gadis itu.

"Ayo kita lanjutkan masak mie-nya!" ajak Monika bersemangat.

'Monika kenapa sih?' batin Maurice kebingungan.


Kembali ke markas...

"Kecoaknya ke arah situ tuh!"

"Eh, pindah lagi ke sono!"

"Kejar terus kecoaknya, Elwa!"

"Yang bener kemana sih?!"

"Lucy! Kayaknya kecoaknya ke sono deh!"

"Teiron, kecoaknya sekarang ke sofa!"

Beberapa jam setelah kejadian di atas, Lucy, Elwa, dan Donna mendadak harus menjadi 'The Cockroach Hunters' bersenjatakan sepatu, sapu, dan koran yang digulung.


Kejadiannya berawal saat Jean sedang bermain 'Nascar Rumble' sendirian dengan PS 2 di ruang tengah, tiba-tiba datanglah dua ekor kecoak yang sukses membuatnya kaget dan mengungsi ke atas sofa sambil berteriak meminta bantuan sampai Teiron, Vivi, dan Rina datang.

Boro-boro membasmi kecoak, mereka malah ikutan naik ke atas sofa bersama Jean dan ikutan teriak kayak korban kebakaran yang sukses membuat Lucy, Elwa, dan Donna datang.


PAAAAAAAAAAAAAAK!

Seekor kecoak langsung tewas terkena hantaman sepatu dari Lucy.

"Kecoaknya mana lagi? Katanya ada dua." tanya Donna yang bersiaga dengan sapu-nya.

"Perasaan di deket sofa deh, tadi liat di situ sih." Vivi menunjuk ke bawah sofa.

"Mana? Nggak ada ah!" balas Lucy.

"Iiih, tadi ada satu di situ tuh!" seru Rina sambil menunjuk bawah sofa.

Kemudian matanya tak sengaja melotot ke arah seekor kecoak yang terbang dengan santainya dan mendarat di...

Punggung Teiron.

"Te-Teiron, ba-balik ba-badan du-dulu d-deh." pinta Rina terbata-bata.

"Memangnya kenapa?" tanya Teiron bingung sambil balik badan.

Vivi, Rina, dan Jean yang melihat itu langsung menutup mulut agar teriakan mereka tidak keluar.

"Lucy, siniin sepatunya." pinta Elwa sambil merebut sepatu yang dipegang Lucy.

Dia pun bersiap mengarahkannya ke punggung Teiron yang dihinggapi kecoak dan...

PAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!

Kecoaknya mah udah KO dihantam sama Elwa, tapi Teiron-nya?

"PUNGGUNGKUUUUUUUUUUUU!" jerit Teiron histeris sambil mengusap punggungnya.

"Maaf Tei, tadi ada kecoak di punggungmu." jelas Elwa sambil memegangi sepatu Lucy yang lagi-lagi membunuh seekor kecoak.

Donna langsung menyapu kedua bangkai kecoak itu dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.


Sementara itu...

"Ck ck ck ck! Kecoak, come with me~"

"Aniki, kau sedang mancing kecoak atau manggil ayam sih?"

"Kecoaknya kan di sono, dayo!"

"Kecoaknya ngumpet di gorden tuh!"

Kali ini malah Luthias, Mathias, Vience, dan Musket yang menjadi 'The Cockroach Hunters'.


Awalnya Musket dan Vience sedang berkunjung ke kamar Mathias dan Luthias masuk ke kamar kakaknya untuk meminta berkas makalah. Tanpa diduga, ternyata seekor kecoak tak sengaja masuk ke kamar Mathias dan mereka berempat terpaksa berburu kecoak laknat tersebut.


"Vience, si Arta kemana sih?" tanya Luthias sambil mencari kecoak yang tengah bersembunyi dengan sapu.

"Ngambil laundry bareng Mundo." jawab Vience sambil memegangi sepatunya.

"Lama nggak ngambil laundry-nya?" tanya Mathias sambil memegangi koran yang digulung.

"Nggak tau deh, tergantung macet atau nggak." jawab Vience. "Soalnya, tempat laundry-nya deket rumahnya Iris."

"Yaaah, itu mah lama nyet!" gerutu Mathias sebal. "Keburu kecoaknya betah di sini!"

"Eh, kecoaknya jalan ke pintu, dayo!" seru Musket sambil menunjuk seekor kecoak yang merayap menuju pintu. "Gue buka pintunya ya!"

"Buka aja, Musket! Biar kecoaknya keluar!" seru Mathias.

Untungnya kecoak itu keluar dari kamar Mathias dan terbang menuju...


"Buruan nyalain kompornya!" gerutu Daren sambil berjongkok di samping Saphire yang berusaha menyalakan kompor portable. "Gue udah kelaperan nih!"

"Sabar atuh, bentar lagi nyala!" sahut Saphire santai.

Beberapa saat kemudian, kompor itu pun menyala dan mendaratlah seekor kecoak yang baru saja terbang dari kamar Mathias.


Berita terkini! Seekor kecoak tewas terpanggang di tengah api kompor, terima kasih!


"Bentar deh! Tadi apaan tuh di kompor?" Daren baru menyadari ada seekor kecoak yang menghembuskan nafas terakhirnya di tengah api kompor yang menyala. "Muke gile, kecoak itu! KECOAK!"

"Keren coy, KECOAK PANGGANG!" seru Saphire sambil mematikan kompor.

Daren langsung facepalm begitu melihat Saphire yang langsung memotret kecoak panggang di kompor lewat kamera ponselnya.

Ujung-ujungnya pasti bakalan di-posting ke FB.

"Sap, lu addict bener sih..." komentar Daren sambil menggelengkan kepala. "Buruan bikin mie-nya, gue udah laper nih!"

"Iye, sabar!" gerutu Saphire yang sudah membuang kecoak panggang itu sambil menyalakan kompor lagi dan menaruh panci berisi air.


Sepertinya cara tadi merupakan cara meregang nyawa yang kelewat awkward bagi seekor kecoak: Mati terpanggang di tengah api kompor.


Di tempat parkir...

"Muke gile, macet bener barusan..." keluh Raimundo sambil mengelap keringat di dahinya. "Gile lu, Arta! Laundry-nya jauh bener dari markas!"

"Kan lumayan, biar sekalian bisa kencan!" sahut Tartagus sambil memarkir motor.

"Lu mah enak bisa ngapel, tapi yang lainnya gimana?!" gerutu Raimundo sambil menurunkan dua kantong plastik besar berisi laundry beberapa temannya yang kebetulan nitip (termasuk dirinya).

"Oy, lu berdua abis dari mana?" sapa Federico sambil membuka pintu pagar markas diikuti Alexia dan Garcia.

Raimundo menengok ke arah mereka. "Lho, kok baru pulang? Abis mampir ke squad sebelah?"

"Iya. Harusnya kita pulang jam dua, tapi si Federic malah ngajakin makan." jelas Alexia sambil menunjuk Federico dengan jempolnya.

"Oh iya! Laundry-nya udah gue ambilin tuh, kalau mau ambil sekarang aja!" Tartagus menunjuk kantong plastik besar di samping motor.

Federico pun langsung menghampiri kantong plastik itu sebelum tiba-tiba mematung.

"Federic, lu kenapa?" tanya Alexia sweatdrop.

"Oy, lu kenapa?" tanya Tartagus ikutan sweatdrop.

"Ada... Kecoak..."

Federico, Tartagus, dan Alexia langsung melotot ke arah seekor kecoak yang merayap dengan seenak pantatnya di dekat kantong plastik laundry.

"Oy, kalian kenapa sih?" tanya Raimundo yang kebingungan dengan kelakuan teman-temannya.

"Kecoaknya..." gumam Federico gemetar.

"Jalan ke lu, Mundo." lanjut Alexia yang ikut gemetar sambil menunjuk seekor kecoak yang melenggang menuju kaki Raimundo dan langsung diinjak.

"Gue udah tau." ujar Raimundo cuek.

Tartagus dan Federico langsung jawdrop.

"Bujung gile..." gumam Federico sambil terus memperhatikan bangkai kecoak yang diinjak Raimundo barusan.

"Udah yuk, masuk!" ajak Tartagus yang sepertinya sudah menyelesaikan kegiatan 'pelototi-bangkai-kecoak' sambil berjalan menuju pintu depan.

"Woy, tungguin gue nyong!" seru Raimundo sambil membawa (baca: menyeret) kantong plastik laundry.

"Mulut gue nggak monyong!" sahut Tartagus tersinggung.

Saat mereka berjalan menuju pintu, tiba-tiba seekor kecoak terbang dengan santainya di depan mereka dan hinggap di...

Daun pintu depan.

"WOY, BURUAN CABUT!" teriak Alexia panik sambil menarik tangan Garcia dan Federico (yang juga menarik tangan Raimundo) memasuki markas tanpa memandang kecoak yang bertengger di daun pintu.

Tartagus hanya terdiam melihat seekor kecoak yang hinggap di daun pintu depan, dia pun melepaskan salah satu sepatunya dan...

BRAAAAAAAAAAAAAKKK!

Tiba-tiba Thundy muncul menghampiri Tartagus yang masih berdiri di depan pintu. "Woy Arta, lu ngamuk?!"

"Ngamuk apaan sih? Gue nggak ngamuk!" bantah Tartagus sambil memegangi sepatunya. "Gue abis begini nih, lu liat aja sendiri!"

Thundy langsung terbelalak melihat bangkai kecoak yang tewas karena hantaman sepatu dari Tartagus.

"Permisi kek, gue pengen masuk!" Tartagus mendorong Thundy memasuki markas.

Kita bisa menyimpulkan bahwa menurut para penghuni markas Garuchan, kecoak adalah...

The Worst Enemy Ever.


To Be Continue, bukan Two Brown Cockroach...


Review! :D