Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, typo, OC, alur cepat, twoshot, etc...

Ending Chapter

.

.

Miracle of Destiny

Chapter 2

.

.

Akhirnya Hinata mendapatkan taxi juga setelah menunggu 15 menit, dia akan pergi ke kampus. Dengan agak sedikit kerepotan membawa dua buah buku tebal memasuki taxi, duduk di kursi belakang. "Ke Konoha University, Pak." ucap Hinata.

Sopir taxi itu menengok ke belakang ke arah Hinata "Ya, No...kau..?" Gaara sopir taxi itu terkejut melihat Hinata. Hinata juga terkejut "Kau..?"

Pertemuan kedua mereka, sekarang Gaara tahu kebenarannya. Tepatnya kemarin, Gaara datang lagi ke rumah Hinata Yumi, ya kemarin adalah tepat dua minggu setelah Gaara datang ke rumah itu sebelumnya. Gaara ke sana bukan untuk kembali berkonsultasi. Melainkan untuk berterima kasih.

Kecanduan adalah hal yang cukup sulit untuk dilawan, tapi Gaara mencoba saran yang diberikan oleh Hinata. Pada awalnya Gaara memang kesulitan, Gaara mendatangi Mortal Kasino dan mengatakan akan berhenti. Kalau ada yang menanyakannya, katakan saja seperti itu. Ya pasti banyak orang yang penasaran akan kemampuannya dalam berjudi. Berusaha mencari pekerjaan lain. Sulit mendapatkan pekerjaan karena ijazahnya hanya sebatas SMA. Namun, Gaara tetap berusaha.

Gaara sempat berpikir untuk bekerja menjadi cleaning service lagi di tempat itu, namun kalau seperti itu dia tidak akan sembuh dari kecanduannya, yang ada banyak godaannya. Sampai pada akhirnya dia mendapat pekerjaan menjadi sopir taxi kemarin. Sekalipun setiap hari kakinya rasanya ingin melangkah ke Kasino, namun dia berusaha menghiraukannya. Mungkin ada sebagian orang yang merasa bersyukur dia berhenti berjudi karena tidak ada saingan yang berat lagi.

Tapi di sini adiknyalah yang paling senang, saat Gaara mengatakan dia sudah berhenti dan menjadi sopir taxi. Rasanya tidak dipedulikan itu tidak menyenangkan. Hera berjanji dia akan berhemat, dia akan sehat, dan rajin menabung. Gaara juga mengatakan "Dan jangan pernah mencari pekerjaan paruh waktu lagi, bahkan untuk berpikir hal itu pun jangan, sampai sudah waktunya nanti."

Gaara akan mengucapkan terima kasih kepada Hinata Yumi, namun kenyataan yang dia dapat adalah kenapa "Saya Hinata Yumi" berbeda dengan orang yang ditemuinya waktu itu?

Gaara melajukan taxinya, dia tahu mungkin penumpangnya ini terburu-buru. Daripada terus terkejut dan membuang waktu, lebih baik berbicara sambil jalan.

"Kau bukan Hinata Yumi. Lalu siapa kau? Kenapa waktu itu kau bilang kau Hinata Yumi?" Gaara memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Hinata.

"Aku...Aku, Hyuuga Hinata."

Hinata...berarti namanya memang Hinata.

"Kau tanya apakah aku Hinata, bukan Hinata Yumi. Dan lagi kau terus bertanya. Aku hanya menjawab semampuku."

Gaara tersenyum tipis, benar juga apa yang dikatakan gadis ini. Ah ya dia salah orang. Tapi "Terima kasih."

"Untuk?" tanya Hinata.

"Saranmu lumayan, agak membantu." Gaara membelokkan setirnya. "Tapi kenapa kau berada di sana? Berkonsultasi juga?" tadinya Gaara hanya iseng bertanya, dia bukan orang yang kepo sebenarnya.

"Iya, aku menderita philophobia." Hinata jujur.

"Philophobia itu apa? Gaara tidak mengerti tentang segala jenis rasa takut itu.

"Itu...takut jatuh cinta."

Entah kenapa mereka nyaman mengobrol saat ini, berbagi kehidupan pribadi mereka. Kepada orang lain rasanya mereka tidak senyaman ini.

Apa ada ketakutan seperti itu? Rasanya Gaara ingin tertawa terbahak-bahak. Aneh sekali orang ini menderita ketakutan seperti itu. Sepertinya dia masih muda, dia masih terlihat berumur 20 tahunan dan dia kuliah. Bukankah kata orang, jatuh cinta itu indah, tapi kenapa perempuan ini justru takut.

"Takut jatuh cinta?"

"Ehm aneh ya?" Hinata tertawa lembut, Gaara berpikir perempuan ini hanya bercanda. "Tapi itu kenyataannya. Gejalanya saat aku mendengar kata 'cinta', aku akan mual dan pusing. Takut memulai hubungan bersama orang lain. Aku bisa gemetar bahkan pingsan kalau umpama ketakutan itu semakin menjadi."

Sampai segitunya? pikir Gaara. "Pasti ada penyebabnya kan?"

"Itu...ehm karena Tou-san meninggalkan Kaa-san demi wanita lain. Tapi Tou-san sudah tiada sekarang. Padahal Kaa-san sangat cinta Tou-san. Aku pernah jatuh cinta, namun bertepuk sebelah tangan. Setelah itu, aku jadi sangat ketakutan jatuh cinta."

"Bagaimana setelah konsultasi dengan Hinata Yumi?" Gaara jadi sangat penasaran dan ingin tahu lebih lanjut.

"Dia melakukan hipnoteraphy kepadaku,..." Hinata tersenyum. "Lalu?" tanya Gaara penasaran.

"Aku tidak tahu apakah berhasil atau tidak. Ehm ya ada perkembangan sih, setidaknya aku tidak mual dan pusing saat mendengar kata 'cinta' itu. Tapi aku masih agak takut untuk mulai mencintai orang lain."

"Hei, cinta itu datang dengan sendirinya. Kau cukup membuka hatimu. Itu saja." Ya Gaara percaya itu, hah padahal dia tidak memedulikan akan cinta selama ini. Dia tahu, cinta belum datang kepadanya.

"Sudah sampai." Hinata mengingatkan Gaara. Gaara sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di Konoha University.

Hinata memberikan uang sesuai argo, Gaara menerimanya. Ya tentu saja, Gaara kan memang sopir taxi. Hinata akan keluar taxi, namun Gaara berkata "Mungkin aku akan sedikit membantu mengenai phobiamu itu. Kita bertemu di taman, sore nanti ya?" ajak Gaara.

Entahlah Hinata antara yakin dan tidak yakin, pada akhirnya Hinata setuju "Ya."

.

.

Gaara sok-sok-an ingin membantu Hinata, padahal dirinya bukan psikolog atau pengalaman akan cinta. Dia juga bukan memanfaatkan moment, hanya saja dia hanya ingin membantu Hinata. Karena Hinata juga sudah membantunya.

"Aku seorang laki-laki. Kau bisa mencoba pacaran denganku."

"Pa-pacaran?"

"Hanya pura-pura."

"Iya pura-pura, sampai kau sembuh atau berani mencintai lagi."

Hinata agak tidak yakin dengan saran yang diberikan Gaara. Namun Hinata menyetujuinya, kenapa dia percaya pada orang yang baru saja dikenalnya. Ah ya Hinata bahkan belum tahu nama laki-laki ini. "Sampai lupa, aku Rei Gaara."

Sebenarnya keuntungan juga bagi Gaara, Gaara juga ingin merasakan yang namanya memiliki kekasih walau hanya pura-pura. Namun ya prioritasnya membantu Hinata.

Mereka memulainya dengan berkencan, nonton film. Film horror, Gaara melihat pasangan yang kekasih perempuannya memeluk pasangannya saat menonton film. Tapi dia dan Hinata hanya menonton, Hinata sempat ketakutan dan bersembunyi di balik pundak Gaara. Namun kepala Hinata jadi pusing dan terasa mual. Hinata menahannya, berusaha untuk fokus pada filmnya.

Setelah itu mereka berjalan-jalan di taman, Gaara membonceng Hinata dengan sepeda. Gaara menyuruh Hinata untuk memegang pinggangnya. Hinata ragu, namun tetap melakukannya. Hinata merasa pusing lagi. Dia takut.

Mereka makan ice cream bersama di kursi taman, Gaara mencoba menyentuh tangan Hinata dan menggenggamnya. Gaara merasakan tangan Hinata gemetaran. "Kau bisa." ucap Gaara. Gaara terus menggenggamnya.

.

.

Setelah jalan tiga minggu dan mereka mengenal kepribadian masing-masing. Saat ini Gaara menggandeng tangan Hinata di taman, Hinata sudah terbiasa, sudah tidak gemetaran lagi. Pusing ataupun mual. Berarti dia sudah sembuh. Itu berarti dia harus...

"Gaara...aku sudah menemukan seseorang yang aku cintai."

Gaara terkejut, dan melepaskan genggamannya. Gaara merasa tidak rela, tapi bukankah itu tujuannya agar Hinata berani jatuh cinta lagi. "Hm, bagus. Berarti kita sudahi pacaran pura-puranya."

Hinata mengangguk, "Tapi aku ingin pacaran sungguhan."

Gaara pikir Hinata ingin berpacaran dengan laki-laki yang sedang dicintainya sekarang, Gaara penasaran siapa laki-laki itu. "Siapa laki-laki yang kaucintai? Teman kuliahmu?"

Hinata menunduk malu dan menggeleng "Masa kau tidak tahu?"

"Aku tahu?" tanya Gaara.

"Aku..." Hinata menggigit bibirnya "Aku cinta Gaara."

"Aku?" Gaara terkejut. Hinata tidak suka nada suara keterkejutan Gaara. Hinata kira Gaara tidak menyukainya. Hinata merasa kecewa. Hinata mengangguk sebagai jawaban dan berakatan "Hm".

Gaara memeluk Hinata "Aku juga."

.

.

.

The End

.

.

Thank You

.

.

Ryu