Destiny

Story by A.P. Walove

Naruto by Masashi Kishimoto

Chapter 3

Intensitas "pertemuan" antara Sasuke dan Hinata menjadi semakin sering. Hinata merasa dirinya seperti stalker meskipun sebenarnya semua ini di luar kemauannya. Hari ini tepat seminggu sebelum ujian tengah semester dimulai. Seperti biasa Hinata akan menghabiskan waktunya di pepustakaan milik universitasnya. Meskipun ia adalah mahasiswi seni, tetapi tetap saja ia harus mempelajari teori-teori di dalam perkuliahannya. Jadi Hinata memutuskan untuk mencari dan membaca buku referensi di perpustakaan. Ia memilih untuk belajar di perpustakaan karena ia tidak akan bisa berkonsentrasi jika berada di rumah, sebab akhir-akhir ini Hanabi sangat kerap memutar musik dari boy group asal negeri ginseng dengan volume yang lumayan tinggi.

Dan keputusan untuk belajar di perpustakaan kampus sepertinya juga dipilih oleh Sasuke. Hinata hampir setiap hari melihat pemuda itu membaca buku dengan serius di bangku pojok ruang baca yang menghadap langsung langsung ke jendela kaca besar. Dan seperti biasanya, Hinata tanpa sadar selalu mengamati Sasuke dan akan langsung mengalihkan pandangannya saat pria itu berbalik menghadap ke arahnya untuk mengambil buku lain ataupun keluar perpustakaan yang memang harus melewati sisi samping Hinata. Karena memang Hinata memilih meja bagian tengah ruang baca agar bisa dekat jika ia harus mengambil buku.

Dan benar saja, Sasuke bangkit dari bangkunya. Hinata buru-buru menundukkan kepalanya dan menyibukkan diri dengan bukunya. Sambil sedikit melirik, Hinata melihat Sasuke menuju arah samping kanannya. Itu berarti ia akan meninggalkan perpustakaan. Hinata kembali menekuni bukunya karena tidak ingin tertangkap basah sedang mengamati seniornya itu.

"Hei, Kau."

Hinata nyaris melompat dari kursinya jika saja Ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Dengan gerakan pelan Ia melirik sisi samping kanannya. Dan Ia bertambah gugup saat tahu bahwa yang berdiri di sampingnya adalah pemuda yang baru saja diamatinya.

"Y-y-ya, Uchiha-senpai?" Setelah mengumpulkan nyalinya, akhirnya Ia bisa bersuara.

"Apa Kau menguntitku?" tanyanya dengan nada dingin. Membuat Hinata bergetar takut hanya dengan satu pertanyaan itu.

Deg!

"Bagaimana ini? Apakah Uchiha-senpai selama ini menyadari jika Aku melihatnya? Tapi kan aku tidak bermaksud-"

"Hei, Kau dengar tidak?" pikiran Hinata terhenti akibat suara yang terdengar dingin yang agak jengkel dari Sasuke.

"A-a-apa maksud-"

"Ah, sudahlah. Intinya, jangan sering-sering berada di sekitarku." Setelah kalimat tersebut selesai diucapkan, Sasuke langsung berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Hinata yang luar biasa terkejut.

Yang ada di pikiran Hinata saat ini adalah, bagaimana bisa ada orang yang nada bicaranya sedingin itu. Ia bahkan tidak menyebutkan nama Hinata sama sekali dan berbicara langsung pada intinya. Dia berbicara seakan-akan tidak tahu kalau lawan bicaranya juga memiliki hati yang bisa saja tergores akibat perkataannya.

Perasaan Hinata campur aduk antara tersinggung, marah dan juga... sakit.

...

Setelah keluar dari perpustakaan, Sasuke berhenti sejenak di samping pintu masuk perpustakaan untuk merenungkan perbuatannya tadi. Apakah yang tadi itu terlalu kejam? Bagaimanapun Hinata adalah perempuan ditambah Ia adalah adiknya Neji, teman sekelasnya dulu yang selalu menyebut dirinya sebagai rival. Namun semua ini Ia lakukan demi gadis nyang dicintainya.

...

Seminggu yang lalu

Saat itu Sasuke dan Ino sedang makan bersama di Kafetaria yang berada di gedung Fakultas Seni. Mereka memilih untuk menikmati makan siang mereka di bangku yang agak sepi dan terpisah dari keramaian. Karena jujur saja, Sasuke dan Ino, terutama Sasuke, memiliki lumayan banyak penggemar mulai dari junior sampai ada juga dari kalangan senior. Dan tidak sedikit dari penggemarnya yang menggerombol dan dengan terang-terangan melirik mereka sambil tiba-tiba cekikikan tidak jelas.

Keduanya sama-sama risih dan lebih memilih menghindari keramaian dibandingkan menegur orang-orang tersebut yang kadang kurang sopan karena ada beberapa dari mereka yang dengan berani memotret Sasuke atau Ino tanpa izin.

Mereka menyantap makan siang diselingi mengobrolkan banyak hal. Sebenarnya Ino yang lebih mendominasi obrolan. Sasuke hanya sekali-kali menimpali untuk sekedar bertanya dan menjawab. Bahasan mereka lumayan random. Mulai dari membicarakan pengalaman Ino saat di Perancis, kehidupan kuliah sampai hal-hal – yang hanya menurut Ino – lucu.

"Bagaimana kabarnya?" tanya Sasuke yang langsung membuat suasana menjadi canggung.

"Dia... sangat jarang membalas pesanku. Apakah sesibuk itu?" Ino langsung terlihat murung.

"Mungkin begitu. Lagipula sebulan lagi dia pulang, kan? Kalian bisa bertemu." Ujar Sasuke mencoba menenangkan

"Iya. Tapi bagaimanapun dia seharusnya menyempatkan memberi kabar."

"Kau tahu kan sistem perkuliahan di Inggris dengan di sini berbeda. Kau harus mengerti dan tenangkan dirimu. Mungkin Sai benar-benar sibuk."

Sai. Salah satu sahabat mereka yang memutuskan untuk mendalami ilmu seni lukisnya di salah satu sekolah seni terbaik di dunia yang berada di Inggris. Sai memiliki hubungan yang cukup spesial dengan Ino. Ino tidak berani menganggap mereka adalah sepasang kekasih karena baik Ino maupun Sai belum pernah secara tegas mengungkapkan perasaan mereka. Meski demikian, semua orang dengan sekali lihat juga tahu kalau mereka sama-sama memendam perasaan suka. Dan Sai meninggalkan Ino dengan status hubungan yang tidak jelas. Maka dari itu Ino tidak berani untuk protes kepada Sai apabila komunikasi mereka sekarang merenggang.

"Omong-omong, Sasuke. Aku lihat dari tadi perempuan itu melihat ke arah kita. Atau hanya perasaanku saja?" tanya Ino sambil melirikkan matanya pada gadis berambut indigo yang sedang duduk bersama gadis bercepol dua yang posisinya berjarak tiga meja di belakang Sasuke.

Sasuke langsung menengok ke arah belakangnya dan menemukan si adik Neji, yang dia lupa siapa namanya, sedang panik mengalihkan pandangannya. Memang akhir-akhir ini Ia sering tanpa sengaja melihat gadis itu di area kampus. Mungkin hanya kebetulan.

"Mungkin hanya perasaanmu saja."

"Tapi bukannya itu adik Neji yang berpapasan dengan kita di toko buku minggu lalu?" Tanya Ino penasaran.

"Kurasa begitu. Kenapa? Kau terganggu? Aku bisa menegurnya sekarang." Sasuke agak khawatir kalau Ino tidak nyaman dengan keberadaan gadis itu. Ditambah Ia khawatir Ino berpkiran yang aneh-aneh jika mengetahui kejadian ditangga antara Ia dan Hinata.

"Tidak! Kau ini kenapa, sih. Berlebihan sekali." Jawab Ino heran.

Sasuke jadi ingin menertawakan dirinya sendiri. Kenapa Ia harus khawatir Ino berpikiran macam-macam. Bahkan mungkin Ino tidak mempedulikan bahkan jika Ia berkencan dengan siapapun.

Tapi Sasuke menjadi memiliki keinginan untuk menegur Hinata. Karena kadang Sasuke juga memergoki Hinata sedang melihat ke arahnya. Ia takut kalau adiknya Neji itu benar-benar sengaja untuk berada di sekitarnya.

...

Dan firasat Sasuke mengenai Hinata benar adanya. Setelah mencoba agak "waspada", Ia memang beberapa kali bahkan hampir setiap ada Hinata di sekitarnya, Ia selalu memergoki gadis itu sedang melihat ke arahnya. Walaupun Ia sering ditatap secara sembunyi-sembunyi begitu oleh para fangirlnya, untuk yang satu ini Ia merasa harus menegurnya.

...

Hinata berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Hinata merasa mood-nya akhir-akhir ini agak kacau. Padahal fase datang bulannya sudah lewat minggu lalu, namun Ia jadi sering melamun dan agak tidak nyambung saat diajak bicara. Sampai-sampai Tenten jadi kesal padanya. Jujur ia belum menceritakan soal insiden di perpustakaan kepada sahabatnya itu. Ia mungkin akan menceritakannya setelah ujian tengah semester mereka usai. Ia khawatir karena Tenten merupakan tipe orang yang tidak akan tinggal diam saat sahabatnya dilukai. Bahkan ia yakin Tenten tidak segan-segan menghampiri dan memperingati seniornya tersebut.

Hinata jadi ingat dua hari lagi ujian tengah semesternya sudah dimulai. Ia benar-benar merasa kurang maksimal dalam belajar. Hinata sangat kesal. Apa ia semengganggu itu sampai-sampai Sasuke memperingatinya seperti itu. Bahkan Hinata hanya sekedar menatap, tidak melakukan hal-hal lainnya. Yah, walaupun Hinata akui hal itu memang agak mengganggu.

Setelah momen teguran beberapa hari yang lalu, Hinata bereaksi dengan mulai menghindari mengunjungi tempat-tempat di kampus yang kemungkinan akan didatangi oleh Sasuke, seperti perpustakaan dan juga taman yang membatasi gedung fakultas seni dengan fakultas teknik. Bahkan Hinata rela membawa bekal dari rumah agar tidak perlu pergi ke kantin karena kadang Sasuke memilih kantin di fakultasnya untuk menyantap makan siang bersama Yamanaka Ino.

Hinata jadi heran dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus bereaksi seperti ini. Bahkan tempat-tempat itu ia datangi karena ia memang suka dan ingin pergi ke sana. Bukan untuk menguntit Uchiha Sasuke itu. Kalau ia bersikap seperti ini kesannya jadi seperti ia benar-benar menguntit Sasuke. Harusnya ia bersikap seperti biasa saja. Toh ia memang tidak salah.

"Ah, daripada memikirkan itu terus lebih baik Aku belajar saja!" Ia segera bangkit dari ranjangnya dan pergi menuju meja belajar. Mumpung Hanabi tidak sedang memutar lagu-lagu Oppa kesayangannya itu.

...

"APAAA?! KENAPA DIA SAMPAI TEGA BILANG SEPERTI ITU?!"

Ujian tengah semester telah usai. Hinata dan Tenten memutuskan untuk "merayakannya" di Cafe favorit mereka yang jaraknya lumayan dekat dengan kampus. Dan Hinata baru saja menyesali perbuatannya karena dengan cerobohnya Ia memilih tempat seramai ini untuk menceritakan kejadian saat diperpustakaan lalu kepada Tenten. Ia lupa kalau Tenten orangnya sangat spontan dan efeknya adalah orang di sekitar langsung mengarahkan tatapannya kepada mereka berdua. Benar-benar malu!

"Tolong pelankan suaramu." Tegur Hinata setelah menundukkan kepala kepada pengunjung-pengunjung Cafe sebagai isyarat permintaan maaf karena sudah mengganggu kenyamanan mereka.

"Gomen. Tapi dia sudah keterlaluan, Hinata-chan. Dan juga kenapa kau waktu itu diam saja, sih? Kalau Aku jadi Kau pasti sudah Aku tinju wajah sok tampannya itu." Ujar Tenten kesal sambil mengangkat tangannya seolah dia meninju seseorang.

"Hmm, mungkin memang Aku yang salah sampai membuatnya risih." Ucap Hinata sambil menghela nafas.

"Tidak bisa. Kau kan tidak bermaksud begitu. Aku harus beri dia pelajaran. Jangan hanya karena dia terkenal terus bisa seenaknya seperti itu." Tenten langsung bangkit dari kursinya bersiap untuk pergi.

"Tenten-chan! Kau mau kemana?" Hinata langsung panik kala Tenten mulai berjalan keluar. "Gawat!", tanpa berlama-lama Hinata langsung berlari mengejar Tenten.

Entah Dewi Fortuna sedang malas berpihak pada Hinata atau bagaimana, saat mereka sampai di gerbang kampus, mereka melihat Uchiha Sasuke sedang berbicara dengan Yamanaka Ino di sebelah mobil sport yang kemungkinan milik Sasuke.

"Tenten-chan, kumohon." pinta Hinata memelas sambil memegangi tangan Tenten agar tidak menghampiri dua seniornya itu.

"Tenang saja, Hinata-chan. Aku hanya akan meluruskannya saja." Tenten berlalu dan Hinata hanya bisa pasrah mengikuti di belakannya.

"Konnichiwa, Uchiha-senpai, Yamanaka-senpai." sapa Tenten setelah sampai di hadapan kedua senpainya yang memberikan tatapan bertanya. Hinata pun hanya bisa menunduk dan berdoa semoga hal buruk tidak terjadi.

"Konnichiwa, senpai." Hinata akhirnya memberanikan diri untuk menyapa.

"Oh, Kau, siapa namamu? Aku agak lupa." Tunjuk Ino pada Hinata.

"H-hyuuga Hinata, senpai."

"Oh, Iya. Hinata! Kita bertemu lagi, ya." Ucap Ino dengan ramah.

Hinata membalasanya dengan tersenyum malu.

"Ehem. Sebelumnya perkenalkan, Saya Tenten, teman Hinata. Saya di sini mau ada perlu dengan Uchiha-senpai." Tenten yang merasa terabaikan langsung memulai tujuan awalnya.

"Oh, baiklah kalau begitu. Silakan. Aku tetap di sini saja tidak apa-apa, kan?" Ucap Ino sambil memperlihatkan senyumnya yang mempesona.

"Daijoubu, senpai."

Sedangkan pemuda yang menjadi sasaran Tenten mulai heran sekaligus tidak tenang.

"Ada apa?" ucapnya datar.

"Oke, Saya akan langsung saja pada intinya. Ini soal kejadian di perpustakaan antara Anda dengan Hinata."

"Hm."

"Apa Senpai tidak merasa keterlaluan menyebut Hinata sebagai penguntit? Asal Senpai tahu, dia juga tidak sengaja dan bingung kenapa terus menerus bertemu dengan Senpai. Hinata tidak serendah itu sampai Anda bisa menyebutnya penguntit! Dan Senpai juga tidak se-spesial itu sampai sampai Hinata mau mengiku-"

"T-tenten-chan, cukup."

"Tapi, Hinata-chan." Balasan yang diterima Tenten hanya gelengan dan tatapan memohon dari Hinata.

"Hah, baiklah. Mungkin memang sudah cukup. Gomennasai, Yamanaka-senpai, sudah mengganggu waktu Anda. Saya permisi dulu." Kedua sahabat itu pun berlalu tanpa memedulikan sang pemuda berambut raven yang hanya bisa terdiam.

"Sasuke, kita perlu bicara." Nada bicara Ino berubah menjadi serius.

"Hm. Di mobil saja." Sasuke menghela napas lalu membukakan pintu untuk Ino.

Setelah memastikan Ino masuk ke dalam mobil, Ia lantas menutup pintu dan berjalan memutari mobil untuk menempati jok pengemudi. Ia membiarkan mobilnya tetap terparkir di depan kampus mereka.

"Sasuke, Aku kan sudah bilang, Kau tidak perlu menegur Hinata. Dia pasti sakit hati."

"Tapi Aku melakukan ini demi Kau."

"Apa maksudnya demi Aku? Aku bahkan tidak terganggu sama sekali."

"Ya. Kau mana peduli."

"Sasuke."

"Hm."

"Apa Kau... masih belum bisa melupakan perasaanmu padaku?" tanya Ino hati-hati.

"Apa menurutmu perasaanku begitu mudah hilang?" Sasuke tersenyum getir.

"Sasu-"

"Sudahlah, tidak perlu membahas itu. Pakai seatbelt-nya. Aku antar Kau pulang." Mobil sport hitam milik Sasuke berlalu meninggalkan area kampus.

...

Empat tahun yang lalu

"Kenapa mereka lama sekali, sih." Keluh Ino agak kesal.

Saat ini Sasuke dan Ino sedang berada di area atap sekolah untuk makan siang bersama. Seharusnya bukan hanya mereka berdua. Ada lagi Naruto, Sakura serta Sai. Mereka berlima dulu pernah satu kelas waktu berada di tingkat pertama. Namun saat tingkat dua kelas mereka terpisah. Sasuke satu kelas dengan Ino, Sai dengan Sakura, sedangkan Naruto sendirian. Maka dari itu Sasuke dan Ino bisa sampai di atap bersama.

Naruto, Sasuke serta Sakura sudah bersahabat sejak kecil. Itu karena orangtua mereka juga bersahabat. Mereka bertiga selalu bersekolah di tempat yang sama. Bahkan tak jarang mendapatkan kelas yang sama. Berbeda dengan Sai dan Ino. Mereka berdua bergabung dengan pertemanan ini sejak berada di tingkat pertama SMA. Hal itu karena mereka teman sekelas dan juga sama-sama merasa cocok walaupun kepribadian mereka berbeda satu sama lain.

Sejak pertemanan mereka berlima dimulai, mereka memutuskan untuk menjadikan atap sekolah sebagai markas mereka. Selain sejuk, atap sekolah mereka didesain sangat unik. Terdapat pohon maple yang tumbuh di sana. Dan di situlah spot favorit mereka berlima.

"Ino."

"Ya, Sasuke? Ada apa?"

"Karena baru ada kita berdua, Aku ingin bicara." Entah kenapa nada Sasuke sangat serius.

"A-apa, sih. Kau membuatku gugup saja, hehehe." Ino langsung menghentikan tawa canggungnya saat Sasuke menatap langsung ke matanya dengan serius.

"Aku menyukaimu."

"A-a-apa maksudmu?" Ino benar-benar dibuat bingung.

"Ya. Aku menyukaimu sebagai wanita. Bukan teman." Ucap Sasuke tegas.

"Se-sejak kapan?"

"Sejak pertama kali Kau mengajakku berbicara."

"Tapi, Sasuke. Kau tahu, kan, kalau Aku menyukai Sai."

"Aku tahu. Aku hanya ingin mengungkapkan saja. Tidak mengharapkan apa-apa lagi. Kau bisa bersikap seperti biasa."

Bohong!

"Sasuke, Arigatou. Dan... maaf." Ino menundukkan kepalanya. Ia sangat merasa bersalah, tidak yakin akan bisa bersikap seperti biasa dengan Sasuke.

Bagi Ino Sasuke adalah teman yang sangat baik. Dia terlihat dingin, namun jika sudah dekat, dia akan menunjukkan sikap pedulinya. Dan bodohnya Ino karena selama ini tidak merasa aneh dengan sikap peduli Sasuke padanya yang kalau dipikir-pikir memang agak berbeda jika dibandingkan dengan yang ditunjukkannya kepada yang lain.

"Yo! Kalian sudah lama, ya?" Suara cempreng dari Naruto menyelamatkan mereka berdua dari suasana yang canggung.

"Kalian lama sekali, sih!" Ino benar-benar kesal sekaligus bersyukur mereka akhirnya datang.

"Maaf, Pig, tadi kami mampir ke kantin dulu untuk membeli makan. Si Baka ini lupa membawa bekal." Timpal Sakura sambil melirik kesal pada Naruto. Yang ditatap hanya menyengir tanpa rasa bersalah.

"Ya sudah. Ayo cepat makan. Tinggal lima belas menit lagi." Ajak Ino pada teman-temannya.

Sai yang dari tadi diam merasakan ada yang aneh pada sikap Ino. Namun dia tidak berpikir lebih lanjut dan segera bergabung dengan teman-temannya untuk menyantap makan siang.

Sejak saat itu Ino dan Sasuke mencoba untuk bersikap sewajarnya teman. Walau kadang masih canggung. Namun seiring berjalannya waktu mereka – atau mungkin hanya Ino – mulai bisa melupakan kejadian pengakuan dari Sasuke.

Hanya Sakura saja diantara sahabat-sahabat mereka yang mengetahui perihal perasaan Sasuke pada Ino. Karena memang menurut Ino hanya Sakura lah orang yang tepat untuk diajak bercerita. Selain karena sama-sama wanita, dia merasa terlalu berisiko untuk bercerita pada Naruto yang kadang mulutnya susah dikontrol. Sedangkan untuk bercerita pada Sai? Ino tidak segila itu.

Saat Sai memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Inggris, Ino merasa sangat sedih dan Sasuke lah orang yang paling setia menemani dan mengembalikan mood Ino. Namun apa daya, apapun yang dilakukan oleh Sasuke untuknya tidak akan bisa merubah perasaannya yang memang dari awal hanya untuk Sai.

Sasuke hanya bisa berdoa. Karena jika memang Ia dan Ino ditakdirkan bersama, pasti akan ada jalan yang diberikan Tuhan untuknya.

...

..

.

To Be Continued

Thanks for reading

Jangan lupa fav, follow dan review ya..