Story
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Pair : Naruhina.
Genre : Romance, Conflik.
Rated : T.
Chapter 3
.
.
.
.
.
.
.
Hinata menatap kedua kakak iparnya dengan tatapan sendu. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain berdiam, meratapi nasipnya. Hanya mereka yang tersisa. Hinata merasa, sejak kematian ibunya dan adiknya... Ayah, ketiga kakaknya dan kedua kakak iparnya lah keluarga yang hinata miliki.
Srakkk...
Tiba-tiba pintu geser itu dibuka dengan sangat kasar, memperlihatkan wajah angkuh para pelayan kerajaan konoha yang menghantarkan makanan untuk mereka.
Hinata sedikit merasa heran, padahal mereka musuh. Tapi mereka tetap diberi makan. 'pura-pura baik' kata itulah yang ada dipikiran hinata. Tapi disaat melihat Tenten berdo'a dengan khusyuk menerima makanan itu, hati hinata merasa terhenyuh.
Ya... masih ada yang memerlukan makan. Tenten sedang hamil besar, wajar jika dia merasa sering lapar. Disamping tubuhnya, tangan hinata mengepal erat.
'Akan kupastikan... dendam ini akan terbalas, apapun yang terjadi. Aku bersumpah'
CTARRR...
Diluar istana, petir menggelegar. Cahaya kilat memperlihatkan sekelebat bayangan sebuah rombongan yang sedang menerjang kuatnya badai dan hujan demi mempertahankan hidup.
.
.
.
.
.
Pria paruh baya itu berjalan dengan angkuh, sesekali menganggukan kepalanya hanya untuk sekadar merespon sapaan para pelayan kepadanya. Siapa yang tidak mengenalnya... Namanya sudah sangat terkenal diseluruh penjuru jepang.
Kakashi Hatake, Pria yang memiliki kekuasaan hampir sama besarnya dengan kaisar penguasa konoha. Jangan tertipu dengan wajah sayunya. Dalam mengadili seseorang, kakashi tidak pernah pandang bulu.
kakashi memasuki ruang rapat dengan langkah sedikit cepat. Seluruh anggota rapat menunduk kala dia melintas dan akhirnya berdiri disamping tahta penguasa kerajaan besar ini, konoha.
"Kau bisa memulai rapatnya,Tenno-sama" Pemuda tangguh yang baru berumur 23 tahun tampak mengangguk dan mulai mengangkat tangannya sebagai awal dari rapat yang akan dijalankan.
"Selamat siang semuanya, kalian sudah tau alasan kalian digumpulkan diruang rapat ini. Aku tidak ingin berbeli-belit dalam membahas masalah kekuasan kerajaan hyuga dan keluarganya yang tersisa"
"Mengenai masalah kekuasaan kerajaan hyuga, aku akan menjadikan wilayah kerajaan hyuga termasuk kedalam wilayah kerajaan Konoha" Sambungnya. Naruto, kaisar kerajaan konoha tersenyum tipis dan mengangguk kala ada salah seorang dewan rapat mengangkat tangannya.
"Izinkan hamba bertanya tenno-sama" Semua tatapan tertuju padanya.
"Seperti yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan terdahulu. Jika seorang raja berhasil merebut kerajaan lainnya, dan dalam kerajaan itu memiliki seorang putri yang belum menikah, maka dia akan menikahinya. Apa kau akan melakukan hal itu, tenno-sama ?"
naruto mengepalkan tangannya, dia lupa hal itu. Bagaimana bisa dia menikah dengan anak dari pembunuh ayahnya.
Kakashi yang tau saluk beluk kisah masa lalu naruto tampak berdehem.
"Ekhem... itu, mung-"
"Aku akan menikahinya" ucap Naruto memotong perkataan kakashi. Pernyataannya cukup membuat kakashi tercengang. Bagaimana bisa ?
"Naruto, kau-"
"Kita bicarakan ini nanti sensei" Naruto lagi-lagi memotong perkataan kakashi dan beranjak dari singgasananya. Sepanjang perjalanan menuju kamar naruto, kakashi memperhatikan punggung tegap muridnya itu.
Naruto pasti punya alasan yang sangat logis untuk pernyataannya tadi.
"Jadi... apa yang kau maksud dari perkataanmu tadi naruto ?" Tanya kakashi setibanya mereka didalam ruang pribadi sang kaisar.
"Aku juga tidak tau sensei... Entahlah" Kakashi tersenyum samar dan mengusap punggung tegap naruto.
"Hmm... kau harus mengetahui alasan kau melakukan itu naruto, Kau tau sendirikan siapa hyuga dimata ibumu. Walau pun mereka merestui pernikahan kalian nantinya, tapi hatimu akan merasakan sakit. Kau tau jelas apa yang kumaksud naruto"
Kakashi berjalan menuju pintu kamar, sebelum keluar dari kamar. Pria paruh baya itu mengucapkan sebuah kalimat yang membuat naruto tidak bisa tidur semalaman memikirkannya.
"Karna hyuga lah yang membunuh ayamu naruto"
.
.
.
.
Langkah kaki itu kian semakin cepat saat tempat yang ditujunya sudah berada didepan mata. Masuk kedalam kamar tanpa ijin, tapi tidak ada siapa pun yang berani memarahinya. Mata seindah baru aquamarine itu menajam kala melihat punggung tegap yang memunggunginya.
Wajah pria yang dipandang tampak bersinar diterpa cahaya bulan.
"Jadi... apa argumen yang akan kau sampaikan kepadaku..." Pria itu berbalik dan menatap sang wanita dengan mata tajamnya.
"Ino..." Sambungnya disaat mendapati wajah jengkal sang istri.
"Kau sudah tau apa argumen yang akan kusampaikan naruto, Kenapa kau melakukan ini naruto ? Apa kau lupa tujuanku menjadikan mu raja penguasa konoha ?Apa kah... aku dan Shion belum cukup ? Hingga kau rela menikahi hyuga pembunuh itu, hah ?!"
nada bicara ino semakin meninggi kala melihat wajah datar naruto.
"Pernikahan bukan hal sepele naruto, kau harus tau itu. Aku-"
Tap
Shion berhenti berbicara disaat naruto menggenggam tangan ino yang menunjuk kearahnya.
"Aku tau apa yang kulakukan ino, ini hidupku. Jangan mengaturku untuk saat ini, aku ingin sendiri... bisa kau meninggalkanku" Ino melepaskan genggaman tangan naruto dengan paksa.
"Aku ini istrimu naruto, jangan lupa kan hal itu. aku berhak mengatur suamiku jika dia melakukan hal yang salah, Naruto"
"Jadi menurutmu aku melakukan hal yang salah ? Ino... kau-"
"Apa kau melupakan tujuan awalmu naruto ?! Jawab aku !" Naruto terdiam dan sedikit menghela nafas. Inilah sifat yang tidak naruto suka dari ino.
"Tentu saja aku tidak melupakannya ino. Kau tau... Betapa menderitanya kedua orang tua ku waktu itu. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja, dengan menikahinya aku bisa membuat luka mendalam dihatinya"
Manik saphire naruto memancarkan amarah yang sangat mendalam. Jujur ino sangat mengerti apa yang naruto maksud.
"Tapi... itu masih belum cukup naruto, ka-"
"Aku tau apa yang aku lakukan Ino, dan ini pasti akan menyenangkan" Naruto mengakhiri ucapannya dengan sebuah smirk yang membuat siapapun gemetar melihatnya.
Ino tersenyum dan menggapai lengan kekar naruto.
"Yahh... aku tidak sabar"
Naruto sedikit merasa tidak enak disaat ino lagi-lagi bermanja kepadanya. Jika shion yang melakukannya naruto merasa biasa saja. Tapi ino, naruto tidak menyukai perlakuannya.
Mengesampingkan hal itu, Naruto memejamkan matanya. Memikirkan rencana apa yang akan dia pakai untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya.
.
.
.
.
Pagi hinata kali ini dikejutkan oleh para pelayan yang memasuki ruangan penyekapannya. Bagaimana tidak ? Terlihat sekitar lima orang pelayan masuk dengan membawa nampan yang berisi perhiasan dan pakaian mewah.
"A-ada apa ini ?" Tanya Tenten disaat para pelayan itu sudah meletakan nampannya didekat tempat duduk hinata. Para pelayan tidak menjawab, mereka hanya menyingkir kesisi lain kamar dan menundukan kepala.
Tidak lama kemudian masuklah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun walaupun sudah terlihat sedikit uban didekat telinganya. Wanita itu, Kushina. Tersenyum lembut kearah hinata dan tanpa aba-aba langsung memeluk hinata erat.
Sontak saja hal itu membuat Hinata dan kedua kakak iparnya terkejut.
"A-apa yang...?"
"Ternyata calon menantuku sangat cantik" Hinata terdiam, tidak mampu berkata-kata disaat ibu dari musuhnya tersenyum lembut setelah melepas pelukannya.
"Sebenarnya ini ada apa ?!" Hotaru bertanya dengan nada tinggi. Siapa pun pasti akan terkejut disaat diperlakukan seperti itu oleh musuh.
"Ahh... jadi kalian belum mengetahuinya ya. Begini, Naruto anakku akan menikahimu nak... Itulah kenapa ka-"
Tap
Hinata mundur selangkah dengan raut terkejut.
"m-menikah..." Amarah hinata semakin memuncak kala melihat anggukan dari wanita didepannya. Apa dia tidak salah dengar ? Setelah semua yang telah naruto lakukan kepadanya dan seluruh kerajaan hyuga, pemuda itu ingin menikahinya.
Hinata lebih rela dijadikan seorang geisha atau pelacur dari pada menikah dengan orang yang sudah membunuh keluarganya.
"Tidak ! Aku tidak mau !" Bentak hinata dengan tatapan tajam kearah wanita bersurai merah itu. Senyum lembutnya memudar, digantikan dengan ekspresi tajam yang sangat mematikan.
"Seharusnya kau bersyukur hyuga, karna kami masih mau menghargai kalian semua dengan menikahkanmu dengan putraku, Tapi apa yang ku dapat ? kau berkata kasar dan menolaknya. pikirkan baik-baik hyuga. kalau kau tidak ingin meihat kedua kakak iparmu menderita.."
Kushina menjeda perkataannya dan berbalik menghadap pintu keluar.
"...Kau tau harus datang kepada siapa"
Srakkk
Pintu geser itu ditutup dengan kasar. menyisakan tiga orang wanita bermarga hyuga yang terdiam. Terutama sibungsu yang sedang berfikir keras bagaimana membatalkan pernikahan dan balas dendam yang akan dia lakukan.
Hinata merasa dunianya runtuh seketika disaat melihat kedua kakak iparnya yang diseret dengan paksa untuk meninggalkan ruangan yang sudah seminggu mereka tempati.
"Apa yang kalian lakukan ! lepaskan mereka berdua !" Hinata mencoba untuk menarik kedua pergelangan tangan kakak iparnya. air matanya meleleh dengan sendirinya.
Hotaru dan tenten berusaha berontak, tapi tentu saja kekuatan mereka tidak sebanding dengan pengawal wanita kerajaan konoha.
"HINATA !"
"NEE-SANNNN !"
.
.
.
.
Gadiskecil itu berlari-lari dengan kimono kebesaran yang dia pakai. mengejar kupu-kupu indah yang bewarna kuning dengan riang. tangan-tangan mungilnya terlambai-lambai. berusaha meraih kupu-kupu yang terbang tinggi.
Karna tidak memperhatikan jalannya, putri kecil yang berusia 4 tahun itu akhirnya tersandungdan jatuh tersungkur.
Brukkk
"Aduuuhhh... hikss..." Isaktangis mulai terdengar kala manik amnestynya melihat darah yang mengalir di lututnya.
"Hahahahaha..." Gadis itu memandang kearah belakang dengan tatapan cemberut. Terlihat ketiga kakak dan ibu gadis itu sedang duduk diatas sebuah tetami yang sengaja digelar untuk kenyamanan duduk mereka.
Makin kencanglah tangis gadis itu disaat melihat tawa anggota keluarganya.
"Hinata benci, benci benci benci dengan nii-san... ! Hwaaa !" Hinata, gadis itu tengkurap diatas hamparan rumput hijau, menyembunyikan linangan air matanya.
Salah seorang dari tiga pemuda yang duduk diatas tetami tampak berdiri dari duduknya dan menghampiri hinata.
"hey... kau marah ?" Hinata tidak memperdulikan perkataan kakak tertuanya dan semakin membenamkan wajahnya kedalam rumput.
"hey hey... wajahmu akan mirip monster jika kau menggosokannya kedalam rumput hinata-chan...!" Teriak salah seorang pemuda yang masih duduk santai diatas tetami.
tawa dari empat oarng yang lebih tua dari hinata semakin terdengar nyaring.
Hinata semakin merengek dan terduduk dengan wajah merahnya.
"Hinata-chan yang kawai... jangan cemberut lagi ya..." Pemuda yang berada didepan hinata berjongkok dan menghapus air mata yang terdapat dipipi gembul hinata.
gadis kecil itu mempoutkan bibirnya dan mengalihkan pandanganny kearah lai n.
"minta maaf dulu..." gumam hinata. perkataan pelan gadis itu mengundang sebuah kekehan ringan dari sang kakak.
"Hum, baiklah kalau begitu. nii-san minta maaf tuan putri" Pemuda itu menangkupkan tangannya dan memasang wajah seolah-olah dia menyesali perbuatannya.
"Utakata-nii dan Sai-nii belum meminta maaf padaku" kedua pemuda yang masih duduk santai diatas tetami ikut berdiri dan menghampiri hinata.
"kami minta maaf"ucap keduanya serentak yang mengundang senyum cerah dari sang putri.
"Kaa-san juga minta maaf" ucap wanita yang sangat mirip dengan hinata. gadis kecil itu berusaha berdiri dan menggelengkan kepalanya.
"Lie kaa-san, kaa-san tidak perlu meminta maaf karna kaa-san tidak salah. berbeda denganmereka" Hinata bicara sambil berjalan kearah sang ibu dan mengerlingkan matanya kearah ketiga kakaknya.
"hey hey hey, itu curang" Sai berujar dan segera menarik tangan utakata untuk menuju kearah hinata yang sudah tergelak didalam pelukan sang ibu. kedua pemuda itu menggelitiki perut sang adik, membuat hinata tertawa riang.
Neji tersenyum lembut melihat kehangatan dan kebersamaan dalam keluarganya. Tapi tiba-tiba kegelapan mulai muncul diangit yang biru. menenggelamkan ibu dan ketiga adiknya yang sedang bercanda.
Kegelapan itu semakin menyebar disertai teriakan-teriakan kesakitan yang keluar dari mulut orang yang dia sayangi.
Sesaat kemudian tampak sebuah bayangan wajah orang yang sangat dia benci menggambar dilangit yang bewarna merah kegelapan. kemudian tampak adik perempuannya yang sudah berumur 18 tahun berada digenggaman bayangan itu.
gadis itu menangis dan berusaha berontak. Neji tersikap dan berusaha mengejar bayangan itu dengan sekuat tenaga. suaranya hampir habis disaat meneriakan nama sang adik yang sudah hilang bersama sang bayangan.
neji jatuh tersungkur, saat itulah terdengar tawa-tawa orang yang menertawakannya karna gagal melindungi seluruh keluarga.
Kemudian muncul seorang wanita yang sangat dia kenal, wanita yang sedang mengandung anaknya.
"tenten..."
Wanita itu tersenyum lembut dengan air matanya yang terus mengalir semakin deras kala sosok wanita itu semakin menjauh.
"Tenten !"
Sosok wanita yang sangat dia cintai akhirnya hilang ditelan kegelapan.
.
.
.
.
"TENTEN !"
Matanya terbuka tiba-tiba, keringat dingin tampak membanjiri pelipisnya. Neji menegakkan tubuhnya dan berusaha mengatur nafasnya. Mimpi buruknya kembali datang. mimpi yang menampakan kebahagiaan keluarganya sekaligus kehancuran keluarganya.
Hanya karna sebuah dendam lama, seluruh keluarga dan kerajaan yang dipimpin oleh sang ayah jatuh ketangan musuh.
Dendam yang membuat dia harus terpisah dengan sang istri. Dendam yang membuat adik perempuannya harus menjadi tawanan musuh. Dendam yang membuat salah satu adik laki-lakinya merenggut nafas terakhir dimedan peperangan.
Neji mengusap wajahnya kasar dan berusaha menahan gejolak yang dia rasakan. Tanpa dia minta, air mata jatuh dengan sendirinya. Neji memukul-mukul dadanya sendiri dengan keras, membuat seorang pemuda yang berdiri tidak jauh dari nya membelelakan mata dan berlari cepat kearah neji.
"Aniki ! Apa yang kau lakukan ?!" pemuda bersurai klimis itu berseru dan menahan tangan neji.
"Aku gagal sai, aku gagal..." Tangis neji pecah disaat menglihat gelengan kepala sai.
"Tidak aniki... ini bukan salahmu, ini memang suratan takdir. Jika saja dulu tetua klan tidak gelap mata dan rakus, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Sudahlah..."
Ucap sai sambil menenangkan neji. Bagaimana pun yang tersisa hanyalah mereka dan beberapa orang lainnya.
Kepakan sayap burung memecah keheningan yang terjadi antara dua kakak beradik itu. Sai beranjak dari duduknya dan menghampiri burung elang yang berlabuh dimulut goa.
Tangan pemuda bersurai hitam klimis itu bergetar saat membaca surat yang dibawa burung sang mata-mata yang dia utus.
"I-ini..." Neji memperhatikan raut wajah sai yang berubah menjadi marah.
"Sai ?" Dengan amarah yang memuncak, sai akhirnya meremas surat itu dan berlari semakin dalam kedalam goa. Melihat itu, Neji memutuskan untuk ikut masuk kedalam.
Dan sepertinya... keputusannya untuk mengikuti sang adik adalah keputusan yang salah. Luka hati yang tadinya akan sembuh malah kembali terbuka besar, malah semakin besar dari sebelumnya.
.
.
.
.
Tbc...
Selamat Hari Raya Idul Fitri semuanyaa... ^.^
Maafkan kizu yah semuanya, karna baru sempat buat lanjutin fic ini.
