Summary: Berawal dari pertemuan para otaku yang direncanakan di Internet. Haruno Sakura jadi terlibat Uchiha Sasuke yang menjadi idola sekolahnya. "Tunggu! Kita satu sekolah?" Sebuah kisah manis yang dibumbui romansa, persahabatan, dan keluarga.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 3:
Mata kelam bak batu pualam itu masih saja mengawasi keberadaan kerumunan yang makin ramai saja. Uchiha Sasuke merasakan mata kirinya berdenyut ketika berbondong-bondong kakak kelas dengan make-up 'over' ikut serta dalam pengeroyokan gadis malang itu. Menolong? Jangan harap! Itu akan lebih berbahaya, bisa-bisa menghilangkan nyawa dan harga diri.
Sasuke hanya mengerjap ketika muncul sebuah bayangan merah jambu yang melesak diantara betis-betis gadis-gadis ababil itu. Dan ketika itu benar-benar keluar kerumunan, Sasuke bisa langsung tahu kalau mahluk berambut pendek acak-acakan itu adalah Sakura. Dengan mantel cokelat dimana dua kancingnya putus paksa, dan kaos kaki yang melorot sampai batas tulang kering, Sakura terlihat seperti korban pengeroyokan asli. Tanpa luka dan memar tentunya.
Mata hijau itu menatap nanar di balik surai kusut merah jambunya, membenci pria yang hanya bengong atas kesialannya. Dalam hati Sakura sudah mengutuki Sasuke karena tidak menolongnya, walaupun Sasuke merasa ia tak punya hutang apa-apa lagi. Secara hutang uangnya sudah ia kembalikan dengan menyuruh salah seorang pelayannya pergi mengantarkan sejumlah uang ke keluarga Haruno.
Tanpa merasa iba, simpati, apalagi kasihan, Sasuke hanya menatap Sakura yang berusaha berdiri. Sasuke hampir tertegun, gadis itu keseleo rupanya, baiklah tak ada salahnya menambah pahala dengan menolong gadis itu. Namun Sasuke kalah cepat! "Hentikaaaannn!" Pekik sebuah suara tinggi yang keras membuat kerumunan itu hening sejenak.
Sasuke menaikkan satu alisnya dan bergidik ngeri mendapati seorang kakak kelas yang cukup populer belakangan ini. Tentu saja karena laki-laki beralis tebal itu dinobatkan sebagai copy cat dari Gai-sensei. Guru olahraga terhebat -sekaligus terheboh- sepanjang masa.
"Sakura-san! Apa kau tidak apa-apa?" Pekiknya dengan heboh, ia menerobos kerumunan. Namun ia hanya melongo, tidak mendapati mahluk yang ia cari disana.
"A-ano, Lee-senpai, aku disini..." Kata Sakura yang ternyata sudah terduduk lesu di luar kerumunan. Sasuke menepuk dahinya yang ditutupi poni.
Rock Lee, kakak kelas dengan seribu energi dengan sigap menghampiri Sakura. "Sakura-san! Maafkan aku! Aku terlambat!" Katanya penuh haru, membuat Sasuke dan yang lainnya hampir mati merinding. Kelakuan salah seorang anggota osis yang berambut bob itu memang terkenal berlebihan, dan katanya ia naksir adik kelas yang namanya Sakura. Sasuke tidak menyangka kalau Sakura yang ini.
"A-aa, aku baik-baik saja kok Lee-senpai." Kata Sakura sambil berusaha berdiri dengan bantuan Lee. Sasuke mendengus, oke masalah selesai. "Aww!" Sasuke kembali berbalik, gadis itu kembali tersungkur, dan setelah gadis itu terjatuh kembali ke tanah, muncul seorang pria lain di balik kerumunan. Itu dia, sang ketua osis. Hyuuga Neji.
"Lee, catat semua nama murid perempuan ini. Lalu serahkan nama-nama mereka ke ruang guru," katanya dengan suara rendah, gadis-gadis itu bergidik ngeri. Kalau sudah ketua osisnya angkat bicara, bukan main-main! Mereka akan dapat masalah!
"Hai!" Kata Lee, segera memojokkan bergumpalan gadis-gadis yang sudah jinak kembali. Neji menghampiri Sakura, dan di belakang Neji sudah ada Tenten, salah satu kakak kelas osis juga.
"Kau baik-baik saja, Sakura-chan?" Tanya Tenten, ia memeriksa pergelangan kaki Sakura yang membengkak, selain osis, gadis berambut cokelat bercepol dua itu adalah anggota kesehatan sekolah juga.
"Hm, cuma sedikit keseleo kok," kata Sakura. Sasuke berhenti bernafas sejenak, ia menghela nafas. Ia berjalan mendekati tiga orang itu, dan segera berjongkok di samping Sakura. Sakura menatapnya kesal, "apa?"
"Hn, aku akan membawanya ke ruang UKS," kata Sasuke, dan detik berikutnya Tenten sudah lemas di tempat. Tampaknya penggemar Sasuke tak memandang bulu, sampai gadis tomboy dan merupakan osis wanita tertegas seperti Tenten, juga menyukai Sasuke.
Hyuuga Neji, menatap laki-laki berambut mencuat itu tak suka. Neji kenal betul siapa pria yang kini mengangkat tubuh Sakura yang meronta ingin turun. Sekilas, mata berbeda warna itu bertemu, dan keduanya memancarkan aura tak suka. Namun, Sasuke sudah berlalu, dan Sakura tetap masih tidak bisa diam.
Biasalah rival. Dulunya Neji adalah idola sekolah, namun sejak kedatangan Sasuke, semua lenyap.
"Kyyaaaa! Sasuke-kun! Harusnya aku yang kau gendong!"
"Waaaa! Sudah kubilang mereka pacaran!"
"Tidakkkkk!"
.
.
.
Sudah setengah jam Sasuke menunggu Sakura agar mau berbalik menghadapnya. Tetap saja Sakura tidak mau menatapnya dan terus membuang muka ke arah yang berlawanan. Setelah menerima hasil ujian, dan ternyata Sasuke merupakan juara pertama, dan Sakura juara ke dua puluh, Sasuke mengunjungi Sakura untuk menungguinya dalam diam.
"Keluarlah! Aku tidak mau dekat-dekat lagi denganmu!" Kata Sakura pada akhirnya, "sini! Cincinnya kembalikan!" Kata Sakura menodongkan tangannya saja, masih tak mau juga berbalik. Sasuke yang duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya tiba-tiba sadar. Sasuke tak mau angkat bicara.
Dengan ragu-ragu, Sasuke melepaskan cincin itu. Agak susah memang, tapi akhirnya benda aneh itu lepas juga. Ada perasaan mengganjal yang begitu merusak hatinya. "Hn, kau kuantar pulang saja," Sasuke memasukkan kembali cincin itu ke jari manisnya. Sakura membelalak.
"Tidak! Aku bisa pulang sendiri!" Kata Sakura, ia mengkakukan dirinya. Akan bertindak nekat jika Sasuke menggendongnya lagi, tak akan ragu Sakura akan melayangkan jurus tinju super kuatnya yang diajarkan oleh ayahnya dulu kalau ada laki-laki yang menggodanya.
"Hn, aku tidak akan menggendongmu lagi, kau berat, jadi bangun sekarang." Kata Sasuke membuat Sakura mendelik, dan mau tak mau akhirnya mereka bertatapan juga.
"Tidak! Pergi sana!" Bentak Sakura galak, Sasuke menggaruk kepalanya frustasi. Dengan sigap Sasuke bangun, dan bukannya malah melesat keluar. Sasuke malah mengangkat tubuh Sakura lagi.
Gadis itu meronta, dan berhasil menjambak rambut Sasuke. "Diamlah!" Kata Sasuke mengeratkan dekapannya dan hampir saja kehilangan keseimbangan ketika Sakura berhasil menjalankan jurus mematikan lainnya.
"Turunkan aku! Jangan gendong aku lagi!" Pekik Sakura, para murid lainnya melihat mereka dengan ragu sambil berbisik.
"Hn," Sasuke berjalan menuju ke halaman depan sekolah. Terparkirlah mobil limo hitam, dimana seorang supir sudah membukakakn pintu dengan senyum yang tulus.
"Wah-wah, Sakura-san, tumben ikut dengan Sasuke-sama," kata pria paruh baya, wajahnya tersenyum, sedikit uban putih menghiasi rambutnya yang ditarik ke belakang.
"Hn, dia keseleo," Sasuke mendudukkan Sakura di jok belakang, lalu menatap supirnya heran, "Takenaga, kau kenal pinky ini?"
"Tentu saja, Sasuke-sama. Bagaimana mungkin seseorang tidak tahu mengenal tetangga sendiri." Jelas pria bernama Takenaga Ishida itu sambil tersenyum. Dan hal yang dilakukan Sasuke adalah mendengus.
Apa ia satu-satunya orang di dunia ini yang sama sekali tidak tahu kalau gadis itu selama ini ada di dekatnya?
.
.
.
Sesampainya di depan rumah Sakura, gadis itu membuka pintu tanpa Takenaga. Ia segera bergerak keluar, walaupun jalannya tertaih dan sedikit menyeret. "Terimakasih, Uchiha-kun, Oji-san," Sakura membungkuk, Sasuke mengerutkan alisnya. Apa katanya? Uchiha-kun?
Sasuke segera keluar dan memanggil nama gadis itu, "Sakura," gadis itu berhenti berjalan, dan menoleh tak suka, "hn, kenapa kau marah?" Sasuke hampir saja menjerit histeris ketika merasakan dirinya terlihat bodoh dengan pertanyaan bodohnya! Tapi bagaimana mungkin seseorang sekeren Sasuke bisa menjerit, lupakan.
Sakura memandang laki-laki itu dengan wajah tak percaya, hampir saja mencakar wajah tampan alami pria di depannya. Namun ia menahannya dengan sekali pengendalian diri, sekilas bisa dilihat rok seragam sekolahnya sudah hampir sobek karena ia remas keras dari tadi. "Tidak, sana pulanglah!" Seru Sakura dengan suara tertahan.
Sasuke tampak bingung, kemudian menaikkan bahunya. Kemudian ia menghela nafas sejenak, nampaknya ia bakalan banyak berhutang dengan gadis ini, entahlah, Sakura selalu membuatnya berada dalam posisi yang merasa bersalah. "Hn, liburan semester," suara berat Sasuke membuat perhatian Sakura teralihkan dan berhenti berjalan, "hn, aku punya penginapan di Kiri," Sakura merasakan alisnya bergelombang saking kesalnya, pria ini berbicaranya patah-patah seperti itu.
"Apa? Jelaskan sediki kalau bicara, baka!" Kata Sakura dengan wajah kusut dan sangat kesal.
"Tsk! Menggantikan acara otaku yang baru-baru ini, bagaimana? Liburan di penginapanku yang ada di Kiri? Biaya aku yang akan tanggung semuanya!" Sasuke berkata dengan nada suara ragu-ragu, ia berpikir sejenak, tentu saja tak akan jadi masalah. Sasuke belum pernah mengajak temannya berlibur bersama, namun setelah apa yang terjadi sebelum-sebelumnya, ia tak enak hati juga.
Sakura membiarkan wajah cemberutnya terus terpasang sampai beberapa detik setelah ia mencerna semuanya, ia tersenyum dan melompat hingga akhirnya Sasuke rela menyerahkan bantuan untuk menahan tubuh Sakura. Kalau kakinya yang terkilir itu menghantam tanah, bisa jadi kaki gadis itu patah, dan Sasuke akan mendapatkan masalah yang lebih besar.
"Benarkah? Ayo masuk! Kita umumkan di forum sama-sama," Sakura menarik pergelangan tangan Sasuke dengan kuat. Dan menyeretnya masuk ke dalam rumahnya. Sasuke melirik ke arah Takenaga dan mengangguk, menandakan kalau ia akan mampir sebentar.
Sasuke memasuki rumah minimalis yang begitu terasa sederhana itu. Sakura berteriak mengucapkan salam yang di balas dengan suara meredam oleh ibunya. Tidak begitu banyak barang yang ada di sana, semuanya tertata rapi dan bersih tanpa debu. "Kaa-san terlalu suka bersih-bersih," kata Sakura dengan senyuman lebar. Kemudian Sasuke melintasi koridor dan melewati dapur, berjalan ke ruang tengah dan mendapatkan wanita berumur empat puluhan yang duduk di sofa menoleh ke arah mereka.
"Sakura, kau membawa teman rupanya," kata Haruno Mebuki dengan ragu-ragu, matanya menyapu dan menatap intens ke Sasuke. "Jangan terlalu lama di kamar," kata Mebuki lagi, memperingatkan anak gadis satu-satunya itu.
Sakura hampir saja melotot, ia mendengus, "aku akan mengambil laptop, kau bisa duduk bersama Kaa-san disana," pinta Sakura seraya mendorong punggung Sasuke ke arah ruang tengah. Gadis itu lenyap, menghilang di balik tangga.
Sasuke menatap Mebuki canggung, sementara wanita berambut pendek itu tersenyum. "Duduklah nak," tawar Mebuki sambil bangkit, hendak membuatkan teh untuk tamu anaknya. Sasuke membungkuk sebentar, kemudian mengambil tempat di seberang Mebuki. "Siapa namamu?" Tanya Mebuki sebelum benar-benar pergi ke dapur.
"Uchiha Sasuke," jawan Sasuke pelan. Ia jadi grogi sendiri. Mebuki tersenyum lebih terang sekarang.
"Oh, kau anak dari keluarga Uchiha rupanya," dari nada bicara Mebuki, nampaknya Sasuke merasakan kalau tidak ada rasa yang begitu berkesan. Mebuki tidak memberikan jawaban lebih lagi, ia segera berlalu.
Teh disiapkan di sebuah cangkir keramik hias, disertakan beberapa gula balok yang diletakkan diatas mangkuk kaca bermotif serupa. Mebuki meninggalkan Sasuke ketika Sakura datang beberapa detik kemudian, ia membawa laptopnya serta ponsel merah jambunya yang di timpa diatas laptop itu.
"Coba tebak, Ino dan Hinata sudah setuju dengan rencana kita!" Sasuke menaikkan satu alisnya, 'kita' katanya? Yang membuat rencana kan Sasuke, gadis itu kan cuma ikut-kut saja! "Tapi aku belum mendapatkan balasan dari Naruto dan Sai, ponsel mereka tidak aktif," Sakura menggaruk dahinya yang terasa gatal.
"Hn, akhirnya ponsel itu berguna juga ya?" Sindir Sasuke membuat Sakura tidak menanggapinya. Perlahan Sasuke senang juga memperhatikan gadis di sebelahnya yang sudah berganti pakaian dari seragam sekolah menjadi sebuah kaos santai dan celana pendek. Sakura kini sibuk mengetikkan sederet kalimat yang begitu panjang dan berlebihan, membuat Sasuke sedikit berjengit kesal.
"Selesai," kata Sakura, ia menyodorkan laptopnya ke Sasuke, "giliranmu!" Pekiknya tertahan, Sasuke melongo.
"Apanya?" Tanyanya gusar, sebenarnya ia heran juga kenapa gadis ini malah mengajaknya ke rumah miliknya? Sementara perlahan Sakura menatap kesal padanya, Sasuke masih berharap Sakura menjelaskan sedikit apa maksudnya, namun beberapa menit berlalu Sakura masih menatapnya kesal, "apa?" Ulang Sasuke sembari menatap bingung ke laptop berwarna merah jambu itu.
"Aku kan sudah membuat pembukaannya, sekarang kau tulis dimana dan kapan rencananya," kata Sakura dengan malas, "dasar, tampan tapi telmi," gerutunya dalam reruntukan. Sasuke mendelik, namun Sakura buru-buru membuang muka.
.
.
.
Yamana Ino baru saja selesai mengerjakan cat kuku terakhir pada kelingking kirinya yang kini sudah berwarna biru cerah. Liburan semester menanti dan tiba-tiba sebuah pemberitahuan grup membuatnya hampir berjoget dalam kegembiraan. Ia berulang kali membaca kalimat yang di post oleh akun Sakura, dan isinya tentang acara liburan di penginapan milik Sasuke.
Buru-buru ia mengetikkan kata-kata dengan tanda capslock dengan semangat, dan tetap bersikap tidak berlebihan. Setidaknya ia akan mencoba menjadi normal, walaupun sekarang melihat profil akun Sasuke saja sudah membuatnya teringat wajah rupawan Sasuke yang terpahat begitu menggoda.
Ino hampir saja kelupaan, kalau Hyuuga Hinata akan segera datang ke rumahnya untuk rencana liburan. Ino segera berlarian di rumah mewahnya yang bertingkat dua namun luas itu dengan tangan masih diangin-anginkan. Ia mendengar deruan mesin mobil sudah terdengar ketika ia hendak membuka pintu sebelum pelayan-pelayannya menyambut Hinata duluan.
Ia membuka pintu dan mendapati gadis berammbut panjang itu berada di depan pintu masuk rumahnya. Ia melirik ke arah mobil, dimana Hyuuga Neji ada di kursi kemudi. Menatapnya datar di balik jendela, Hinata mengangguk dan Neji pun berlalu.
"Neji-senpai masih saja kaku seperti itu ya, dasar," Ino membiarkan dirinya sekedar basa basi, namun ia segera mengajak Hinata masuk, dan dalam perjalanannya menuju kamarnya, Ino tak bisa menyembunyikan niat terselubungnya. "Jadi, Hinata... Neji-senpai satu sekolah dengan Sasuke-kun kan? Apa katanya?"
Hinata tampak ragu-ragu sebentar, ia kemudian menjelaskan dengan suara tertahan, "hm, Neji-niisan tidak begitu akrab dengan Sasuke-kun. Katanya, Sasuke-kun adalah orang yang populer di sekolah, tapi tadi katanya ada keributan yang menyangkut Sasuke-kun, dan Sakura-chan..." Hinata menggantungkan kata-katanya, Ino sedikit menoleh ketika mendengar nama Sakura menyelip diantara cerita Hinata.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Ino.
"Sakura-chan dan Sasuke-kun katanya punya hubungan spesial, tadi Sasuke-kun sampai menggendong Sakura-chan ke UKS dan mengantarnya pulang," jelas Hinata yang nampaknya menyadarkan kekhawatiran Ino. Pantas saja post liburan itu Sakura yang mengirimkannya padahal Sasuke yang menyediakan tempat. Apa benar mereka jadi dekat? Tidak! Ino tidak boleh posesif, ia harus membuktikannya. Ya! Tiga hari lagi, ketika mereka akan pergi ke puncak!
.
.
.
Naruto memegang bola basketnya, dan berkali-kali melemparnya ke udara dalam posisi terlentang malas diatas ranjang, kemudian menangkapnya mantap. Bunyi lagu-lagu dengan rap yang mengalir lewat headphonennya berirama sampai ia merasakan telapak kakinya yang bebas bergerak-gerak naik turun mengikuti tenpo musik.
Lemparan terakhir meleset karena bocah berambut pirang itu langsung dikejutkan oleh getaran hebat ponselnya. Bola oranye itu dengan naasnya menghantam permukaan hidung Naruto keras. Naruto mengaduh dan nyaris mengutuki siapa saja, terutama si penelpon. Namun mata birunya bercahaya ketika ia mendapati nama itu muncul di layar ponselnya.
Sambil menggosok hidupngnya yang berdenyut, Naruto mengangkat, berusaha menenangkan hatinya, "yo, Sakura-chan," sapanya ringan sambil menyengir, walaupun ia tahu kalau gadis yang itu tidak mungkin bisa melihat senyuman menawannya.
"Hai, Naruto, kau tidak sempat online ya?" Suara di seberang tampaknya terdengar ringan dan gadis itu langsung ke point pembicaraan.
"Aa, aku tadi sedikit sibuk. Ngomong-ngomong ada apa?" Tanya Naruto sembari bangkit dan menaruh bola basketnya di atas rak penuh dengan koleksi mainannya. Entah itu berupa mobil atau miniatur-miniatur superhero yang sering muncul di televisi.
"Ng, kau tahu, Sasuke-kun merasa bersalah atas acara kita yang kemarin gagal itu, jadi dia mengundang kita semua ke penginapannya. Kau ikut? Semuanya sudah setuju sih," kata Sakura dengan suara santai, dan berharap agar acra mereka bisa diramaikan oleh kehadiran Naruto.
"Tentu saja Sakura-chan! Aku akan ikut," Naruto membiarkan dirinya tertawa ringan dengan sedikit salah tingkah karena merasa Sakura begitu peduli dengan dirinya sampai-sampai ia menelponnya, "jadi kapan acaranya?"
"Tiga hari lagi!"
"Yosh! Roger!"
.
.
.
Sasuke memasuki rumahnya dengan enggan ketika mendengar kalau ayahnya sudah kembali dari kepergiannya ke luar kota. Sempat hendak berlalu begitu saja ketika ayahnya memanggilnya saat ia berjalan menyeberangi ruang kerja ayahnya yang terbuka.
"Sasuke," panggilnya dan suara berat dan menegangkan itu membuat Sasuke menghentikan langkahnya, dan kepalanya terasa berat untuk berputar, memprediksikan apa yang akan dibicarakan ayahnya lebih lanjut.
"Hn, ada apa Otou-san?" Tanya Sasuke memberanikan diri masuk ke dalam ruang kerja ayahnya, menatap lekat-lekat pria dewasa dengan balutan jas di balik meja kaku itu.
"Kata Takenaga, kau mau berlibur bersama teman-temanmu di penginapan air panas di gunung, benar?" Tanya ayahnya nyaris terdengar seperti suara yang mengintimidasi.
"Ya," jawab Sasuke singkat.
"Hm, siapa saja mereka?" Tanya pria bernama lengkap Uchiha Fugaku itu dengan pelan.
Sasuke terdiam, "teman-teman sekolah dan beberapa teman luar sekolah." Katanya, kemudian Fugaku memberi izin untuk keluar.
Sasuke berjalan, kebencian tersirat di benaknya ketika melihat Fugaku. Pria itu selama ini selalu membuat Sasuke muak, entah dengan cara yang disengaja ataupun tidak. Mulai dari sejak kecil, ayahnya itu selalu membanding-bandingkannya dengan kakaknya. Mengatur segalanya dalam hidupnya, membebaskan Itachi dari tanggung jawab dan membebaninya sebagai pewaris keluarga. Dan menjadi pewaris keluarga, sama saja dengan bunuh diri. Semua diatur dan terlalu dikekang.
Membosankan.
Bahkan Sasuke terlalu malas untuk membahasnya, dimana ayahnya tak pernah mau berlama-lama menatapnya. Masa bodoh. Sasuke berjalan, melewati altar almarhum ibunya di sebuah ruangan di dekat ruang keluarga. Ia lahir dan saat itu ia merenggut nyawa Uchiha Mikoto. Harusnya ibunya tidak usah repot-repot melahirkannya, karena sejak dulu ia tidak pernah merasa kalau itu suatu berkah.
Mungkin Sasuke belum merasakannya.
"Yo, Sasuke, kenapa wajahmu masam seperti itu?" Tanya Itachi yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam kamar luas Sasuke tanpa mengetuk pintu. Membuat laki-laki yang baru saja mempersiapkan barang-barangnya untuk liburan.
"Kalau masuk ketuk pintu, Aniki-baka!" Sasuke hampir saja melempar kakak sulungnya itu dengan barang-barang yang kini ia genggam, sebuah iPad dan iPod. Sasuke menatap wajah kakaknya yang selalu terlihat menyenangkan dan ramah itu, seribu persen berbeda darinya.
"Jadi..." Itachi menggantungkan kata-katanya seraya menjatuhkan pantatnya di atas ranjang Sasuke yanig tak terhalang barang-barang yang Sasuke siapkan untuk liburan, "siapa saja teman-temanmu yang ikut?"
Sasuke memandang kakaknya dengan tatapan wajah malas, sedetik kemudian ia kembali memandang ke barang-barang yang ia masukkan ke dalam ransel biru tua garis-garis hitam, "teman-teman sekolah dan teman-teman luar sekolah," katanya santai, memilah pakaian.
"Ada berapa orang?" Tanya Itachi mengambil sebuah kaos lengan panjang yang cukup bergaya di kalangan anak muda, "wow, Sasuke, bajumu keren-keren, waktu SMA aku selalu pakai kemeja lusuh," gosa Itachi.
Sasuke langsung merebut bajunya dengan ganas, "hn, jangan bercanda, aku lihat foto-fotomu bersama mantan-mantan pacarmu, Aniki terlihat mencolok dengan pakaian sok mengikuti mode!" Sasuke melipat sembarang baju itu kemudian memasukkannya ke dalam ransel, "ada enam orang."
"Wah, seru kan! Tumben kau baik sekali mau mengajak teman-temanmu," goda Itachi. Sasuke hanya menggumam. "Aku menyuruh asisten penginapan, Yamato-san, menyiapkan bis di airport Kiri, kalian ke bandaranya naik mobil biasa saja, suruh teman-temanmu berkumpul di rumahmu."
Sasuke hanya mengangguk, kemudian setelah kakaknya pergi, ia baru tersenyum-senyum sendiri. Kakaknya selalu begitu, ingin dapat bagian repot. Setidaknya, walaupun kehadiran kakaknya yang membuat dirinya selalu dibeda-bedakan oleh ayahnya, tetap saja, kakaknya itu tak pernah melakukan hal yang bisa membuat Sasuke membencinya.
.
.
.
"Kaa-san lama sekali pulangnya, padahal kan aku ingin minta uang!" Gerutu Sakura yang kini tengah duduk diantara gundukan baju yang berantakan, "baju-bajuku tidak ada yang bagus-bagus, Ino-chan dan Hinata-chan pasti memakai pakaian yang keren-keren," Sakura meratapi nasibnya, sedetik kemudian ia melirik amplop cokelat yang ada di atas meja belajarnya.
Ia meraih amplop itu, 'Terimakasih makanannya, U.S.' Uang itu bahkan lebih banyak dari pada apa yang telah ia berikan pada Sasuke saat itu. Tidak, Sakura tidak mau membelanjakannya, Sakura melirik sesekali pakaiannya. Ia menyerah, kemudian dengan sedikit bersenandung ia mulai menyiapkan barang-barangnya.
"Ke Kiri ya? Aku baru pernah dua kali ke sana." Sakura merasakan sesuatu yang bergetar di bawah kakinya. Ia segera tersentak bangun, dan melihat di ponselnya terdapat sebuah panggilan masuk. "Kaa-san, ada apa?" Tanya Sakura, ia berjalan duduk di atas kursi meja belajarnya dan membuka laptop, menyambungkan kabel ADSL ke laptopnya.
'Sakura, coba lihat di ruang depan, apa ada berkas-berkas Kaa-san yang tertinggal?' sahut ibunya dari seberang.
Gadis bercelana tiga per empat itu segera menyeruak berlari ke ruang depan, dan menemukan sebuah map merah yang terjatuh di dekat lemari sepatu. "Aa, ada kok Kaa-san," sahut Sakura.
'Syukurlah, Kaa-san kira hilang. Sudah ya, Kaa-san pulang malam. Ada kari sisa kemarin di kulkas, panaskan untuk makan malam,' sahut Mebuki.
"Oh, oke!"
Sakura berjalan sambil memegang map itu dan membukanya iseng-iseng. 'Transfer Kerja' Sakura mengangkat bahunya, ibunya mungkin akan pindah kerja di tempat lain.
Sakura melirik ke arah laptopnya sesampainya di kamar. Ia langsung membuka chatting room otakunya.
Sasuke_U is typing...
Sasuke_U: kumpulnya di rumahku.
Sakura_H: oke.
Ino_Y: aku dan Hinata akan datang bersama. Alamat yang kau tulis di berita acara kemarin kan?
Sasuke_U: ya. Semua sudah dapat izin dari orang tua?
Sakura_H: sudah kok.
Ino_Y: Sudah.
Hinata_H: tentu...
Naruto_Uz: aku ikut karena Sakura-chan yang mengajakku!
Sasuke_U: terserah, dobe!
Naruto_Uz: hmp! Aku menunggu permohonan maaf diatas kertas!
Sasuke_U: jangan harap.
Sakura_H: jangan ribut, Sai kau disana kan? Kau online kan?
Naruto_Uz: gara-gara teme! Sakura-chan jadi lebih peduli sama Sai!
Sasuke_Uz: Zzzzzz...
Sai_: aku ada disini kok, Sakura-san.
Sakura_H: jangan mulai lagi, Naruto. Bagaimana denganmu Sai? Diizinkan oleh orang tuamu?
Sai_: tentu...
Naruto_Uz: Sakura-chan, Sai tidak tinggal bersama orang tuanya, ia tinggal bersama kakeknya. Kakeknya galak lho...
Sai_: Naruto-kun, apa itu penting dibahas disini?
Sakura_H: -_-"
Sasuke_U: Sakura, bisakah kau ke rumahku?
Sakura_H: hah? Untuk apa?
Sasuke_U: datang saja.
Sakura_H: oke, tunggu. Setelah makan malam aku langsung ke sana.
Sasuke_U: sekalian saja makan malamnya di rumahku.
Sakura_H: serius?
Sasuke_U: hn, cepat datang!
Naruto_Uz: Sakura-chaaaaannn! Jangan, nanti kau di apa-apain sama teme!
Ino_Y: aku off..
Sai_ is offline
Ino_Y is offline
Sakura_H: ya tuhan Naruto...
Sasuke_U: cepatlah Sakura!
Sakura_H is offline
Hinata_H is offline
Sasuke_U is offline
Naruto_Uz is offline
Sakura tidak percaya ini, Sasuke itu sungguh menyebalkan, menyuruh mendadak, tapi marah-marah pula. Dengan tampilan seadanya, baju hangat dan celana tiga per empatnya, ia langsung meluncur menuju rumah besar di depannya ditemani sandal jepit. Berlari cepat-cepat menahan dingin.
Ia bingung, bagaimana caranya ia mengetuk pintu kayu itu, apa dia teriak saja?
Hayalan
"SASUKE-KUN! SASUKE-KUN!"
Tiba-tiba segerombolan pria berbaju hitam berkacamata gelap membawa pistol mengerubunginya. Seorang pria berkumis pemimpinnya berkata, "beraninya kau berteriak-teriak, tembak dia!"
"Kyaaa!"
'Dor'
End of Hayalan
Sakura terkesiap, dengan keringat dingin ia langsung meraup ponselnya yang ada di saku celananya dengan gesit dan menghubungi Sasuke.
'Halo,' suara baritone yang tampak kuat menjawabnya di seberang.
Sakura sedikit berbisik dan berkata, "Sasuke-kun, aku sudah di depan rumahmu, bukakan pintunya."
'Hn, tunggu,' sambungan telpon terputus, dan dalam waktu lima detik pintu kayu itu bergeser, menimbulkan suara berdenyit yang membuat adrenalin Sakura berpacu lebih cepat.
Sakura berjalan dengan dipandu seorang kakek-kakek dan di ekori oleh beberapa pelayan di belakangnya. Sakura jadi senyum-senyum sendiri, ia seperti putri. Ia duduk di ruang tamu yang hangat, disajikan segelas the hijau dan biskuit kering buatan tangan.
Sakura buru-buru menyeruput tehnya dan memasukkan dua biskuit ke dalam mulutnya. Suara langkah kaki melewati koridor dan berhenti menatapnya ketika Sakura belum benar-benar menghabiskan biskuitnya. Masih utuh di dalam mulutnya, menimbulkan efek wajah mengembung di luar.
Uchiha Fugaku melirik mahluk aneh nan asing yang duduk di ruang tamunya. Sementara objek yang dilihat kebingungan dan mengunyah cepat bibirnya. Ketika Fugaku menyapu seluruh inci mahluk itu, dia bersuara, "Selamat malam, Uchiha-ojiisama, saya temannya Sasuke-kun eh- Uchiha-kun."
Fugaku menatap gadis bermahkota merah jambu itu dengan tatapan menerawang, ia mengangguk-angguk, "selamat datang." Dengan kata-kata itu pria tegap itu meninggalkan rumah. Ketika suara deru mobil menjauh, Sasuke baru tiba.
Pria itu langsung dihadiahi wajah murung, "apa?" Tanya Sasuke, dia mendekati Sakura dan ikut menyambit satu biskuit. Sakura mencium aroma tubuh Sasuke yang begitu harum, rambut yang basah dan wajah yang cerah.
"Jadi kau tega-teganya menyuruhku kemari cepat-cepat sedangkan kau masih mandi?" Sangsinya ketus.
Sasuke menatap Sakura bosan, "hn, biasa saja," kata Sasuke santai, Sakura ingin sekali melayang dan melakukan tendangan udara, tapi dua pelayan mengawasi di dekat mereka, ia jadi ragu sendiri.
"Jadi mau apa aku disuruh kemari?" Tanya Sakura sembari memainkan tangannya memutar-murar permukaan cangkir yang isinya sudah habis.
"Hn, hanya ingin mendiskusikan program yang sebaiknya kita ikuti ketika sampai disana." Jelas Sasuke santai. "Kau tidak ingin hanya diam di penginapan dan berendam di pemandian air panas saja kan?"
Sakura mengangguk-angguk paham, "kenapa harus aku? Sejujurnya aku ini repot tahu." Kata Sakura pura-pura serius.
Sasuke menaikkan satu alisnya, menatap Sakura dengan tatapan malas, "sederhana, kita tetangga kan?"
.
.
.
Yamanaka Ino hampir saja mengamuk, kalau saja Hinata tidak ada di sini. Menenangkannya. Wajah Ino sudah merah padam karena marah, kalau bisa diandai-andaikan, Ino bisa mengeluarkan asap dari telinganya.
"I-Ino-chan, aku yakin Sakura-chan dan Sasuke-kun hanya dekat sebagai teman," kata Hinata, walaupun dirinya sendiri juga ragu-ragu.
Ino menghembuskan nafas panjang, "oke, aku mengerti sekarang. Sakura dan Sasuke-kun. Apa yang dilihat dari Sakura sih? Mungkin Sasuke-kun tidak serius kan? Maksudku, aku bertaruh tidak akan ada yang benar-benar serius menyukai Sakura kan? Lihat dia, dia bahkan paling tidak pantas ada diantara kita. Baik, sekarang hanya perlu rencana untuk di penginapan, apapun itu."
Hinata menatap ragu-ragu temannya, ia jadi bingung. "Sakura-chan bu-bukan orang yang seburuk itu kok, Ino-chan," kata Hinata pelan.
"Apa? Darimana kau tahu? Kita bahkan baru bertemu sekali kan Hinata!" Kata Ino dengan suara melengking.
"Ta-tapi, Ino-chan juga tidak boleh berkata seperti itu kan? Ino-chan kan belum kenal Sakura-chan," kata Hinata pelan.
"Aku tidak peduli, apapun itu! Aku harus melakukan sesuatu."
.
.
.
Sai hampir merusak seluruh lukisannya. Membakar setiap kanvas yang berisi sosok gadis itu. Kenapa ia jadi kecewa? Kenapa ia jadi marah dan tidak rela? Perlahan lukisan sempurna itu dihancurkan oleh bara api di tungku. Matanya yang hitam sempurna tanpa emosi mengawasi lahapan api yang mulai menggantikan kanvas dengan debu.
Kenapa? Sai mengeluarkan buru-buru kanvas yang tersisa dan yang masih utuh. Ia jadi emosional begini! Ia perlahan membelai lukisan gadis itu lagi, ia belum mencoba, ia harus berusaha.
Awan tiba-tiba menjadi kelabu, gerimis salju putih di bulan Desember, memberikan hatinya sensasi dingin.
.
.
.
(A/N)
Greetings Minna-san!
Chapter 3 nih! Dan jangan keroyok saya karena saya telat. (T^T)
Maaf ya, telatnya bukan karena saya WB atau males ngelanjutin. Tapi saya males update! Hahaha #plak
Oke deh! Saya harap senang dengan chapter ini, dan terimakasih atas reviewnya.
Big Thanks to: karimahbgz, Fran Fryn Kun, , dee-chaan, Rannada Youichi, karisaardeliaa, Natsuyakiko32, Dian-chan, Sara Rizuki, Hanna Aiko, AnnisaHM, Koibito cherry, Rinachan, nugu, Lulu-mya, Uchiha, akasuna no ei-chan, Hanaxyneziel, Puput mochito, temechickenbutt, Ken Katayama.
Review Please :D
