Pamanku Ganteng Sekali
Naruto? Kishimoto sama masih belum merelakannya pada orang lain .-,-
Fic ini? Ay^^
Halaman 3
.
Perasaan
Sakura berlari begitu saja melewati pamannya yang tengah duduk di ruang tengah. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Kakashi hanya menatap kepergiaan Sakura dengan nanar. Sekelumit rasa tak senang kembali hinggap dalam hatinya pada sosok lelaki yang tadi mengantar Sakura pulang. Tak suka melihat ketampanan lelaki itu, tak suka melihat pandangan lelaki itu pada Sakura, dan yang utama, tak suka mengakui kenyataan bahwa lelaki itu sepertinya adalah seseorang yang penting bagi sang keponakkan.
Sakura masih terisak dalam kamarnya. Terisak mengingat nama Sasuke yang masih dengan jelas terpatri di hatinya. Kenapa begitu sulit melupakan pria yang jelas-jelas melepasnya untuk pria lain? Kenapa begitu sulit meninggalkan pria yang jelas-jelas menolak mempertahankan cintanya? Sasuke masih bersikap seolah masih menyimpan rasa padanya? Kenapa Sasuke tak membiarkan dirinya lepas? Kenapa? Segelintir pertanyaan itu mengusik hati Sakura. Kenapa Sasuke?
"Sakura..." Kakashi memanggil nama Sakura dari balik daun pintu kamar Sakura.
Sakura sedikit menghentikan isakannya, berusaha menata dirinya kembali. Dihapusnya sisa-sisa air mata di pipinya, melirik sejenak pantulan wajahnya di cermin kemudian menuju pintu kamarnya. Dibukanya pintu yang menjadi batas antara dirinya dan Kakashi saat ini.
Kriett…
Emerald itu kembali berhadapan dengan onyx, kali ini onyx yang lain. Yang lagi-lagi menatap di balik lensa kacamata, kacamata yang lain pula. Kakashi masih bisa melihat dengan jelas gurat kesedihan dari wajah Sakura. Air mata gadis di hadapannya juga masih terlihat di sela-sela sudut matanya. Perlahan Kakashi menyentuh sudut mata Sakura, diusapnya lembut sisa-sisa air mata itu dengan ibu jarinya. Matanya menyorotkan sinar ketenangan, seolah berkata, 'tenanglah, ada aku disini untukmu'.
"Jangan menangis, Sakura," Kakashi mengucapkan hal itu masih dengan mengusap sisa air mata Sakura. Perlahan jari itu menyentuh pipi Sakura. Sakura menikmati sentuhan lembut dari pamannya. Sentuhan yang menenangkannya. Tanpa terasa, tubuhnya kini telah berada dalam dekapan sang paman. Sakura memejamkan matanya, mencoba menyesap aroma khas yang menguar dari tubuh sang paman. Aroma yang menenangkan sekaligus membiusnya untuk tetap bertahan berada di sini, dalam dekapan sang paman. Tak terasa, Sakura balas memeluk pamannya dengan erat. Seolah takut sang paman tiba-tiba melepaskan dekapannya.
"Nggng.. Sa..ku..ra," Kakashi terbata-bata saat mengucapkan nama Sakura. Sakura yang terkejut langsung mengadahkan wajahnya untuk menatap wajah sang paman. Tampan, kata itu pun masih kurang untuk menggambarkan ketampanan sang paman.
"Iya?"
"Itu, kau.. me..me..lukk..ku ter..la..lu.. err..rat," Kakashi akhirnya berhasil mengucapkan kalimat yang sedari tadi ingin dikeluarkannya.
"Ng? Ano? Apa? Hah..! Maaf.. maaf, Paman," Sakura yang baru menyadarinya langsung melepaskan pelukannya pada sang paman.
Wajahnya memerah saat menyadari bahwa tadi ia didekap oleh Kakashi, lebih memerah lagi saat ia sadar, ia malah balas memeluk Kakashi dengan erat. Kakashi tersenyum melihat perubahan rona wajah Sakura. Senyuman itu kemudian berubah menjadi seringai yang mampu memabukkan ribuan kaum hawa. *termasuk saia*.
"Tak akan ku maafkan," balas Kakashi masih dengan seringai sexynya.
"Ng? Kenapa?" Sakura mau tak mau memberenggut kesal mendengar jawaban Kakashi.
"Karena kau membuatku tak ingin lepas darimu," ucap Kakashi pelan—tak terdengar oleh Sakura.
"Eh?" Sakura menegakkan tubuhnya, ia tatap dalam-dalam onyx di balik kensa kacamata milik Kakashi—mencoba mencari penegasan dari perkataan Kakashi sebelumnya.
"Tidak. Lupakan," ucap Kakashi lalu berbalik dan meninggalkan Sakura yang masi tercengang,antara sadar dan tak sadar atas ucapan Kakashi.
.
.
Sasuke memarkir mobilnya di garasi rumahnya. Ia dengan segera menuju kamarnya di lantai dua Uchiha Mansion. Tak ada yang berubah dengan kamarnya sejak satu tahun yang lalu. Foto Sakura masih mendominasi dinding kamarnya. Mulai dari foto saat Sakura masih bayi yang berhasil ia ambil diam-diam dari ponsel Sakura, sampai foto terakhir, saat Sakura masih menjadi kekasihnya—setahun yang lalu. Sama sekali tak terbersit di hatinya untuk menata ulang kamarnya, terlebih memindahkan foto Sakura dari dinding kamarnya. Hanya dengan cara ini ia bisa menatap Sakura, Sakura-nya yang mulai menjauh di kehidupan nyatanya.
"Sampai kapan aku terus terjebak seperti ini?" gumam Sasuke. Ia sunggingkan senyum lemah, menyadari betapa bodohnya ia melepas Sakura yang jelas-jelas dicintainya.
'Apa aku masih mencintainya?' pertanyaan itu sedikit banyak menggelitik batin Sasuke.
.
.
"Sudah baikan?" Tanya Kakashi pada Sakura.
"Eh? Mmm… sudah," jawab Sakura singkat. Ia pandang Kakashi malu-malu. Entah apa yang dirasakannya, ia masih malu dengan kejadian tadi sore, saat ia memeluk pamannya dengan erat. "Paman…" panggil Sakura pelan.
"Yo?" Tanya Kakashi sambil menatap dalam emerald Sakura.
"Terimakasih," ucap Sakura tulus. Ia bingung ingin mengatakan apa lagi. Yang jelas, saat ini ia sangat berterimakasih pada pamannya.
"Sama-sama. Bukankah sudah kewajibanku sebagai paman?" sambung Kakashi dengan senyum di wajahnya. Ia betulkan sejenak kacamata yang bertengger di pucuk hidungnya.
"Ngngng… Paman, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Sakura hati-hati. Ia takut pertanyaan yang akan diajukannya terkesan aneh.
"Silahkan," Kakashi berkata lalu meminum teh di hadapannya. Mereka kini tengah duduk di ruang tengah sambil menonton acara televisi.
"Apa paman sudah punya pacar?"
"Uhuk… uhuk…" Kakashi terbatuk mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan Sakura.
"Eh… Maaf, Paman!" Sakura merasa bersalah. Buru-buru ia tundukkan kepalanya bekali-kali, meminta maaf secara non-verbal pada Kakashi.
"Ti—tidak apa-apa," balas Kakashi gugup. Ia benar-benar tak pernah menyangka Sakura akan melontarkan pertanyaa sejenis ini padanya.
'Apa yang harus aku jawab?'
"Mmm… Paman—"
"Aku sudah punya tunangan," Kakashi merutuki dirinya sendiri yang terlalu cepat menjawab pertanyaan Sakura.
'Sial… Kenapa aku bilang begitu?'
"Oh…" Sakura hanya berkomentar itu. Hatinya sedikit mencelos mendengar jawaban dari Kakashi. Ia merasa ada sumbat besar yang ditarik paksa dalam hatinya sehingga membuatnya merasa sesuatu yang sangat tak mengenakkan saat mendengar jawaban Kakashi.
'Kami-sama, kenapa aku kecewa?'
.
.
'Aku sudah punya tunangan.'
Kalimat singkat itu menari-nari di benak Sakura. Ia tak heran, dengan wajah tampan yang sanggup membius jutaan wanita, tak salah jika pamanny itu seyogyanya telah memiliki kekasih. Tapi masalahnya, ini bukan kekasih, tapi… tunangan. Sekali lagi, apa salahnya jika Kakashi telah bertunangan? Bukankah itu sesuatu yang wajar? Yang jelas, Sakura yakin, ia tak menyukai kenyataan itu—Kakashi, pamannya yang ganteng sudah memiliki tunangan.
Bicara mengenai tunangan, Sakura jadi teringat akan tunangannya. Tunangan yang sama sekali belum pernah ditemuinya. Jangankan bertemu, wajah orang itu saja Sakura belum tahu. Ia bahkan tak mengetahui apa-apa. Ia hanya tahu, bahwa ia telah ditunangkan secara sepihak oleh orang tuanya. Ya… Pertunangan yang membuat hubungannya dengan Sasuke… berakhir.
Benarkah berakhir?
'Sasuke…'
Sakura segera mengambil ponselnya, ia tekan keypadnya dengan angka-angka yang sudah dihapal di luar kepalanya. Nama Sasuke muncul di layar ponsel itu. Sakura berharap Sasuke mengangkat panggilannya. Entah apa yang diharapkannya. Yang jelas, saat ini ia ingin berada dekat dengan Sasuke.
"Sasuke," panggil Sakura saat nada sambung terhenti digantikan dengan tanda panggilan diterima.
"Sakura?"
"Bagaimana kalau malam ini kita bertemu di taman?" Sakura menanti jawaban Sasuke dengan penuh harap.
'Ku mohon Sasuke… Jangan tolak aku.'
"Baik. Di taman jam 7."
"Terimakasih Sasuke—" Sakura menelan ludah mencoba menguatkan hatinya sebelum meneruskan, "—kun," Sakura langsung memutuskan sambungan.
Sasuke terdiam di tempat. Ia masih bisa mendengar dengan jelas sufiks yang diucapkan Sakura pada namanya. Ia tersenyum. Benar-benar tersenyum… Walau senyum itu penuh kepiluan.
'Kenapa aku tak lagi merasakan rasa itu, Sakura…'
.
.
Sakura begegas menuju taman di dekat sini. Ia memang belum hapal benar jalan-jalan di daerah sini. Tapi, ia sempat melintasi taman saat pergi ke Konoha Univ tadi pagi, setidaknya ia tahu jalan menuju taman itu. Ia lirik sekilas Kakashi yang kini tengah berkutat dengan buku—entah buku apa itu—yang dibacanya. Kakashi yang menyadari kehadiran Sakura, bertanya dengan singkat pada Sakura.
"Sakura, kau mau ke mana?"
"Jalan-jalan sebentar," balas Sakura cepat tanpa menghentikan langkahnya walau hanya sekedar menatap Kakashi.
Kakashi memandang kepergian Sakura dengan tak suka. Hatinya sedikit khawatir dengan kepergian Sakura.
.
.
"Sudah lama?" Sasuke menepuk bahu Sakura yang kini tengah melamun di bangku taman.
"Eh?"
"Maaf, aku terlambat," ucap Sasuke.
"Tak apa, aku juga baru datang," balas Sakura sambil tersenyum.
"Nah, ada apa?" Tanya Sasuke langsung.
Ia tahu, Sakura tak mungkin mengajaknya bertemu jika bukan ada sesuatu yang akan disampaikan.
Tiba-tiba saja Sakura langsung memeluk erat Sasuke. Sasuke hanya bisa diam… Ia terlalu terkejut dengan tindakan Sakura. Tak tahu apa motivasi dari pelukan Sakura saat ini. Sakura hanya berbisik pelan di telinganya.
"Ku mohon, Sasuke-kun… Izinkan aku memelukmu sebentar saja."
Dan Sasuke tahu, ia tak bisa menolak.
"Sampai kapan pun, aku tak kan menolakmu, Sakura," balas Sasuke dan ia balas memeluk erat Sakura.
Kesunyian taman ini menjadi saksi pelukan mereka. Tak sadar ada satu lagi saksi bisu yang menyaksikan kejadian itu dengan wajah tak suka. Lensa mata orang itu sedikit keruh terkena kontraksi udara di sekitarnya. Sedikit banyak seperti hatinya yang kini mulai keruh.
'Kenapa harus seperti ini, Sakura?'
.
.
TBC
Catatan Kecil:
Terimakasih pada semua yang telah memberikan kesan dan pesan untuk fic ini*hug*
Maaf, saya memang sangat tidak bertanggung jawab dengan menelantarkan banyak fic saya…*pundung di pelukan Kakashi*#plakk..XDD
Terimakasih telah membaca sampai di sini.
Jaa…
Aya^^19082010
