Main Character :
Namikaze Minato & Uzumaki Kushina

Genre : T

Disclaimer :
Naruto belongs to Kishimoto

Kushina POV

Perasaan apa ini? Kenapa hanya saat dengan Minato?

...

"Argh...!" aku meneriakan kefrustasianku. Aku tak boleh begini. Aku harus segera kembali ke Tokyo dan menyelesaikan syutingnya. Aku tak boleh gagal hanya karena hal sepele seperti ini. Ayolah, Kushina! Kau bisa.

"Kurasa aku harus melihat daftar itu lagi." Aku menghampiri meja belajarku dan membuka lacinya. Dimana kertas itu? Jangan bilang kalau itu juga hilang. Mana?
Tanganku masih sibuk membongkar-bongkar laciku.

"Akhirnya ketemu juga. Kupikir hilang." Aku menghela napas. Secarik kertas kecil yang ada di genggamanku itu adalah kunci keberhasilanku sebagai Himeka. Aku membuka lipatan kertas itu, mengamatinya sejenak.

Himeka :

Ramah

Baik

Pintar

Rajin

Pintar bicara

Sombong

Kejam

Nakal

Bengis

Dia punya kepribadian ganda. Aku belum pernah mencoba yang seperti ini, makanya tawaran itu kuterima. Tapi aku tak tahu akan sesulit ini.

Bagaimana aku bisa memerankan karakter yang sangat berbeda dalam satu tokoh?

Lagi, Himeka sering kehilangan kendali akan dirinya yang buruk itu. Bagian buruk di dirinya seperti mendominasi dalam tubuhnya. Bagian baik di dirinya pun lama-lama akan hilang dan ia sepenuhnya akan menjadi jahat. Himeka yang awalnya punya banyak teman, jadi dijauhi. Dan itu membuat pribadi jahatnya semakin meraja lela. Himeka sering berinteraksi dengan teman sebayanya, sedangkan aku sangat jarang. Rekan ku di tempat yang sebayapun, tak pernah sekalipun aku berinteraksi dengan mereka. Mungkin aku bisa berakting dengan baik, tapi Tsunade-san adalah seorang perfeksionis. Ia selalu menginginkan yang terbaik untuk filmnya. Akting sampai penghayatan pun diperhatikannya. Aku benar-benar sudah kehilangan harapan.

Tou-san...Kaa-san...apa yang akan kalian lakukan jika ada di posisiku sekarang? Aku berbaring dan melihat langit-langit kamarku.

oOo

Pip pip pip

Alarmku? Aku ketiduran ya? Aku mematikan alarmku dan duduk sejenak. Aku harus lebih fokus lagi dengan tujuanku datang ke sini.

"Kushina-chan! Ada telpon untukmu!" Sakura-san memanggilku.

"Iya!" Aku bangkit berdiri dan segera menuju lantai 1, tempat telepon berada.

oOo

"Dari siapa, Kaa-san?"

"Entahlah. Tanyakan saja." Sakura-san memberikan telepon itu padaku.

Halo?

Ini aku, Kushina-chan.

Mikoto-san?

Iya. Aku mau memberitahumu hal penting.

Apa?

Kau sudah dapat teman di sana?

Sudah.

Laki-laki atau perempuan?

Keduanya. Ada apa?

Kau harus menjauhi teman laki-lakimu itu!

Kenapa?

Aku tak mau kau tergangu konsentrasinya karena temanmu itu. Perempuan tidak masalah, tapi laki-laki, kau tak boleh.

Tidak, Mikoto-san. Aku bisa membagi waktuku.

Ta...Berikan teleponnya padaku. Ada suara lain lagi.

Halo? Kushina!

Tsunade-san?

Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau terlalu sering bersama dengan teman LAKI-LAKIMU itu?

Tidak. Kami hanya berteman saja.

Bagaimana kalau kau sampai menyukainya? Kau akan semakin sulit berkonsentrasi. Dan saat kau kembali ke Tokyo, kau tak bisa melupakannya. Pembuatan filmku akan gagal kalau kau tak bisa konsentrasi!

...aku...mengerti.

Dengar, Kushina. Aku tak mau kau jadi sepertiku. Tersakiti karena cinta pada laki-laki.

Aku mengerti. Intinya kau tak mau aku jatuh cinta pada seseorang selama aku di sini, bukan? Aku mencoba memahami perasaan Tsunade-san.

Bagus kalau kau sudah mengerti. Satu lagi, 3 bulan itu tidak lama Kushina. Cepat pahami karakter Himeka dan segera kembali ke Tokyo.

Ya, aku mengerti.

Bagus.

tut tut tut

Aku menghela napas dan menutup telponnya. Teman laki-lakiku saat ini baru Minato. Minato...

"Kushina-chan! Sarapan sudah siap!" Sakura-san memanggilku, lalu aku melihat ke arah jam...

"Tidak! Aku terlambat!" aku segera berlari ke kamar mandi.

oOo

Aku mengetuk pintu kelas.

"Summimasen, Kakashi Sensei. " aku membuka pintunya perlahan dan melihat Kakashi Sensei yang sedang menjelaskan.

"Masuklah, Uzumaki-san." Ia berhenti menjelaskan dan menggerakkan tangannya, mengisyaratkanku untuk masuk.

"Arigatou, Sensei." Aku berjalan masuk menuju tempat dudukku.

"Kupikir kau orang yang tepat waktu." Minato mengejekku.

"..." tidak, aku harus menjauhinya. Aku tak boleh mengecewakan Tsunade-san.

"Hei, ada apa?"

"Bukan apa-apa." Aku menjawab dengan dingin tanpa berani melihat matanya.

"Aku tahu terjadi sesuatu. Ceritakan padaku."

"..." aku diam tak merespon setiap perkataannya.

Minato POV

Ada dengannya? Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Aku tak mengerti.

Aku tak mau kau membenciku, Kushina. Jangan bersikap seperti itu.

oOo

Pulang sekolah

Ia sedang membereskan barangnya. Aku akan bicara dengannya. Semua orang juga sudah pulang.

"Kushina." Aku menggenggam tangannya. Ia terkejut, dan melihatku. Ia seperti menghindari bertatapan denganku.

"Ada apa?" aku menggenggam tangannya erat. Aku khawatir padamu.

"...Minato, aku sedang ingin sendiri." ia melepaskan tangannya.

"Aku tak peduli. Sebelum kau cerita apa masalahmu, kau takkan kubiarkan pergi."

"Jangan." Suaranya bergetar. Ia mengambil tasnya dan berlari meninggalkanku.

Kushina POV

Apa yang kau lakukan, Minato? Aku harus menjauhimu! Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? Kau membuatku semakin sulit menjauhimu!

Aku berlari terus sambil menghapus air mataku. Kakiku berlari tanpa tujuan, aku hanya ingin sendiri.

Aku...harus menjauhi Minato. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.

oOo

Taman dekat sekolah

Kushina...ada apa denganmu? Kau tak boleh seperti ini! Air mataku mengalir.

"..." aku menggerakkan kakiku, berjalan menuju pohon besar di tengah taman itu.

Kududuk di bawah pohon itu, berusaha menenangkan diriku.

Aku harus menjauhi Minato, orang yang ingin aku kenal lebih dekat lagi. Sekarang kami sudah mulai akrab dan tiba-tiba saja Tsunade-san melarangku berteman dengan laki-laki. Dan Minato itu laki-laki...

"Kushina!" seseorang memanggilku. Tapi siapa?

Kuangkat kepalaku berusaha melihat wajahnya.

"Minato...?"

"Aku mencarimu dari tadi. Ternyata di sini." Napasnya tersenggal-senggal.

Aku tak tahu harus bagaimana. Aku senang Minato menemukanku, tapi kalau begini ia akan memaksaku mengatakannya lagi. Aku harus lari.

"Maaf, Minato." Aku berdiri dan berjalan pergi darinya.

"Tunggu!" tangannya menahan tanganku.

"Le-lepaskan!" suaraku lirih. Air mata ini sudah tak mampu kubendung lagi.

"Tidak. Aku tak mau kau menderita sendiri." Matanya...aku tak bisa menyembunyikannya lagi.

Minato POV

Aku menggenggam tangannya erat-erat. Takkan kubiarkan ia pergi lagi. Aku menghapus air matanya. Wajahku panas.

"Aku tak mau kau membenciku." Wajahku semakin panas.

"Minato..." wajahnya memerah.

"Aku ingin lebih dekat denganmu."

"Tidak boleh..." ia menundukkan kepalanya.

"Kenapa? Memangnya apa salahku?"

"Kau tak punya salah apapun denganku. Aku memang tak mau dekat denganmu." Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Aku tahu dia berbohong.

"Aku tidak percaya."

"Aku tak peduli. Lepaskan!" kau tak bisa berbohong di depanku Kushina.

"Tidak. Tidak sampai kau mau jujur denganku." Aku takkan melepaskan genggamanku ini.

Air matanya mengalir lagi. Aku tak tahan melihatnya menangis. Jangan menangis.

Kushina POV

Air mataku mengalir lagi. Minato, biarkan saja aku pergi. Jangan menahanku seperti ini.

"Minato..." sedikit saja, mungkin tidak apa kalau aku jujur sedikit padanya.

"Aku tidak boleh dekat denganmu."

"Aku tak peduli." Ia menjawab dengan penuh keyakinan.

"Ada yang melarangku dekat denganmu." Tsunade-san, maafkan aku.

"Kenapa aku?"

"Bukan hanya kau, Minato. Aku tak boleh dekat dengan laki-laki. Dan kau itu laki-laki." Aku berusaha memberinya pengertian.

"...Kushina, aku tahu ada alasan lain. Kalau kau belum siap bercerita sekarang juga tak apa." Akhirnya ia menyerah juga. Ia melepaskan genggamannya.

"Terima kasih, Minato."

"Aku akan antar kau pulang." Ia menghela napas.

"Ya." Aku tak tahu jalan pulang. Mau tak mau, aku memang harus pulang dengannya. Ini yang terakhir Tsunade-san. Aku takkan mendekatinya lagi.

Sekian chap.3 lebih pendek sih.

Maaf kalo ada typo dan perubahan image karakter.

Aku kurang pinter buat fic, jadi maaf kalo masih gaje dan belum dapet feelnya. Gomen

Chap.4 segera menyusul