Hi, Minna-san! Lama tak bersua :') Chapter 3 sudah siap, fresh from the oven XD
Warning masih sama seperti yang kemarin2, abaikan saja typonya ya
Disclaimer : Vocaloid is not mine for sure.
Maximum Impulse
Chapter 3
"Nii-san?"
"Latihannya sudah selesai?"
"A-apa Nii-san su-sudah lama d-disini?"
"Baru saja. Kenapa memang?"
"T-tidak apa-apa!"
Syukurlah, syukurlah. Gakupo belum lama ada di depan pintu ruang musik, jadi pembicaraan Luka dengan adik kelasnya pasti tidak terdengar oleh Gakupo. Tapi Luka rupanya sudah terlanjur was-was duluan sehingga nampak guguplah ia di hadapan kakaknya itu.
"Hei, kau tidak latihan?"
"Kasane-sensei t-tidak bisa hadir hari ini. Jadi, latihannya digeser ke hari Jumat," kata Luka setenang mungkin.
"Ooh. Ayo pulang saja kalau begitu," ajak Gakupo.
"E-eh, ano, apa Nii-san sudah tidak marah lagi padaku?" tanya Luka sedikit takut.
"Marah? Kapan aku marah padamu?" tanya Gakupo balik. Alisnya ia kerutkan, mendengar pertanyaan Luka yang terasa aneh baginya.
"K-kemarin Nii-san meninggalkan aku. Nii-san juga tidak pulang," jelas gadis cantik itu.
"Oh, itu.." ujar sulung Kamui itu lalu tersenyum. Ia menyibak poni adiknya yang tebal itu lalu mengacaknya sedikit. "Aku lupa kalau kemarin ada technical meeting di sekolah lain. Jadi aku buru-buru pergi. Masalah aku tidak pulang, aku menginap di tempat Akaito karena technical meeting baru selesai jam setengah tujuh malam."
"Jadi begitu.. Tapi kenapa Nii-san tidak memberitahuku dulu?" kesal Luka sambil mengerucutkan bibir.
"Hmm, kau mengkhawatirkanku?" tanya Gakupo sambil membungkukan badannya sedikit guna menyejajarkan tinggi mereka. Sontak, wajah Luka pun langsung memerah. Walaupun Gakupo adalah saudaranya, tapi Luka masih tetap menghormati Gakupo sebagai seorang laki-laki.
"T-tentu saja aku khawatir! Kau kan kakakku."
"Hahaha! Ya sudah, ayo pulang!" ajak Gakupo akhirnya –seraya menggandeng tangan sang adik.
Dari balik pintu ruang musik, terlihat seorang pemuda tengah bersandar sambil menerawang. "Luka-senpai.." gumamnya. Lelaki berambut pirang itu pun mengela napas dan menghampiri tempatnya bersama si gadis tadi. Ia lalu mengambil tas miliknya, mungkin hendak pulang. Namun, tak sengaja ia menemukan sesuatu. "Ponsel ini.. milik Luka-senpai?"
Tadinya, Len berniat mengejar Luka untuk mengembalikan ponsel flip berwarna putih itu. Tapi ia sedang tidak ingin berurusan dengan si sister-complex. Jadilah ia hanya membawa ponsel tersebut dan berencana untuk mengembalikannya besok.
.
o(^_^)o
.
Seorang gadis cantik berperawakan tinggi semampai dengan seorang lelaki tampan di sebelahnya membuat mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Ya, sepasang kekasih yang pulang sekolah bersama-sama. Luka dan Gakupo, mereka bersaudara sayangnya. Rumah mereka memang cukup jauh dari sekolah, namun mereka lebih memilih untuk pulang dengan berjalan kaki seperti biasa. Setelah melewati gerbang sekolah, sang adik pun memulai pembicaraan.
"Oh iya, Nii-san. Kapan pertandingannya dimulai?"
"Tanggal 3 nanti. Itu hari apa, ya? Aku lupa.."
"Hmm, sebentar. Aku akan mengeceknya," kata Luka sambil mencari-cari sesuatu dalam tasnya. Namun lama-kelamaan, wajah cantiknya mulai terlihat panik.
"Kau mencari apa?" tanya Gakupo.
"Po-ponselku.. Ponselku hilang!" pekik si gadis bersurai merah muda itu.
"Apa? Cari yang benar!"
"Sudah! Tapi tetap tidak ada," keluh Luka.
"Mungkin ada yang mencurinya," ujar si sulung asal.
"Mana bisa? Ah! Mungkin aku meninggalkannya di ruang musik tadi. Aku akan memeriksanya dulu!"
"Perlu kuantar?"
"Tidak. Nii-san tunggu saja di sini," pinta Luka.
"Okay. Cepatlah."
Luka pun cepat-cepat kembali ke gedung sekolah dengan setengah berlari. Ia benar-benar takut ponselnya hilang. Bukannya apa-apa, tapi seluruh rekaman lagu yang baru ia ciptakan beberapa hari lalu tersimpan di memori ponselnya. Ia belum sempat meng-copykannya, jadi akan sangat sayang bila rekaman itu terbawa hilang bersama ponselnya. Ia hanya sedang asal bersenandung waktu itu, namun ia sempat merekamnya dan hasilnya memang baik. Dan bagaimana jika rekaman itu hilang? Ia belum menunjukkannya pada Kasane-sensei dan ia pun sudah sedikit lupa dengan nada dan liriknya jika tidak terus diputar ulang. Aargh, semoga ponselnya bisa ia temukan.
Dengan napas memburu, ia membuka pintu ruang musik. Dan ternyata.. kosong. Ia tidak menemukan siapapun di sana. "Len.." bisiknya tanpa sadar. Adik kelasnya itu adalah orang terakhir yang ia lihat di ruangan ini. Tapi tidak mungkin anak itu mencuri ponselnya. Ia lalu masuk dan mulai mencari ke seluruh sudut, ke tempat duduknya tadi, ke dalam piano, namun hasilnya nihil. Ponselnya tidak ada.
"Kau sendiri?"
Kaget! Luka kaget setengah mati dan jantungnya hampir loncat keluar saat ia mendengar suara bariton seorang laki-laki yang bertanya padanya. Ia lalu berbalik dan melihat seorang pemuda berambut merah yang juga mengenakan seragam yang sama dengannya.
"Akaito-san?!"
"Hei, kau tidak bersama Gakupo?" tanya laki-laki bernama Akaito itu.
"Nii-san s-sebenarnya menungguku di luar. Aku kemari untuk mencari ponselku yang tertinggal, tapi tidak ada," jelas Luka.
"Nanti kau harus lebih berhati-hati. Jangan ceroboh," ujar si pemuda sambil tersenyum ramah.
"Pasti. Kalau begitu aku duluan, Akaito-san.."
Tidak menemukan apa yang ia cari, Luka akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia tidak enak hati jika harus membuat kakakknya menunggu lebih lama lagi.
"Sampaikan salamku pada Gakupo, ya!"
"Baik, akan kusampaikan. Maaf, aku terburu-buru. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa! Hati-hati, Luka-chan," ujar Akaito sambil melambaikan tangannya ke arah si gadis yang nampaknya sudah berlari menjauhinya. "Hah! Gadis pengganggu, kau tidak pantas ada di dekat Gakupo.."
.
o(^_^)o
.
"Segarnyaaa!" seru seorang pemuda sambil mengacak rambut pirangnya yang basah dengan handuk. Nampaknya ia baru selesai mandi.
Setelah berpakaian, ia menghampiri meja komputernya untuk memulai rutinitasnya setiap malam; online gaming. Namanya sudah kecanduan, pasti akan sulit bagi si pemuda untuk berhenti.
Username : K123n
Password : **********
Selagi menunggu autorisasi akunnya, ia teringat sesuatu saat ia melihat tas sekolahnya sekilas. Yap, ponsel.
Bukan bermaksud untuk bersikap tidak sopan atau apa, namun ia hanya sedikit penasaran dengan benda pribadi milik seniornya itu. Ia lalu membuka tasnya dan mengambil ponsel milik Luka. Pikirannya masih bertarung antara melihat isi ponsel itu atau memasukkannya kembali ke dalam tas. Bagaimanapun juga, itu privasi orang lain. Sayangnya, kali ini bukan sisi baik Len yang menang.
Hanya mengintip sedikit tidak apa-apa, kan?
Begitu ia membuka ponsel tadi, Len menemukan sebuah gambar gitar listrik berwarna emas yang Luka pasang sebagai wallpaper. Mungkin gadis itu pandai memainkan gitar. Hanya melihat wallpaper saja mungkin tidak cukup bagi Len. Dengan sedikit rasa bersalah, ia membuka menu utama lalu memilih file. Pertama-tama, ia membuka folder photos, berharap bisa menemukan banyak foto Luka di sana. Tapi, hanya ada gambar-gambar gitar? "What? Hanya ada ini?" kata Len gemas. Ah, untunglah ada beberapa foto Luka yang terselip di sana. Tapi hanya beberapa buah saja –mungkin empat.
Tidak menemukan sesuatu yang menarik di folder tadi, ia lalu membuka folder musics. Ah, ada subfolder lagi; Classic, Jazz, Random, RnB, (xxxx). Heee? Apa-apaan nama folder itu? Membuat orang penasaran saja. Tanpa pikir panjang, Len lalu membuka folder (xxxx) sambil tersenyum jahil. Dan... semuanya berisikan suara hasil rekaman. Bodohnya, Len sempat mengira kalau Luka menyembunyikan sesuatu yang aneh di sana. Haha!
Tak ada salahnya mencoba untuk mendengarkan rekaman ini. Siapa tahu ini rekaman suara emas sang senpai. 'Answer' menjadi rekaman yang ia pilih untuk didengarkan.
Are kara nan nen tatta usurete iku keshiki
Toki wa zankoku de soshite yasashii
"I-indah sekali.." gumam Len tanpa sadar. Iris emeraldnya berbinar penuh kekaguman.
Rencananya untuk bermain online game malam ini agaknya perlu diatur ulang. Ia memutuskan untuk log out. Tapi sebelum ia menutup akunnya, ada sebuah pesan masuk yang berasal dari chatbox permainan itu.
StarWish : Prince-sama! I miss you so much!
Oh, gadis itu rupanya.
K123n : I miss you too..
StarWish : Kau tahu tidak? Aku akan ke Jepang secepatnya! Tunggu aku, ya!
K123n : Benarkah? Kapan?
StarWish : RAHASIA! Hihihi..
K123n : Alright.. Oh iya, aku lupa kalau ada tugas dari sekolah. Lain kali kita lanjutkan lagi, ok?.
StarWish : Yaaaah.. Baiklah kalau begitu. Good luck, Prince-sama!
K123n : Thanks. See you.
Begitu selesai membalas kotak obrolan tersebut, kali ini Len benar-benar log out dari sana. Setelah mematikan komputernya, ia mengambil headset yang tergantung di pegangan lemari pakaiannya lalu berjalan menuju tempat tidur dan berbaring di sana. Len kemudian menyambungkan headset tadi ke ponsel milik Luka, memasangkannya di telinga, dan mulai memejamkan mata. "Suara inilah yang membuatku menyukaimu, Luka-senpai.."
Rekaman asal-asalan yang ada di ponsel gadis bersuara emas itu terasa amat merdu di telinga si Kagamine. Walau tanpa musik, ini sudah bisa dikatakan bagus. "Answer.. Aku akan coba untuk membuat musiknya. Semoga kau suka," bisik Len –masih memejamkan matanya.
Sungguh, Len sangat menikmati apa yang sedang didengarnya sekarang ini. Beberapa detik lagi pasti ia sudah terbawa ke alam bawah sadarnya kalau saja tidak ada getaran dari ponsel flip itu. Sepertinya ada pesan masuk.
Dan di sinilah tingkat 'kesopanan' Len diuji.
'Buka, tidak? Buka, tidak? Buka, tidak?' batinnya bingung. Tapi mungkin itu adalah pesan dari Luka untuk memastikan ponselnya aman. Sebaiknya dibuka saja. 'Gomen, Senpai.. Aku buka.'
Ada nomor asing –entah siapa, yang tertera di layar. Lalu Len mengarahkan manik emeraldnya ke badan pesan. Ia membacanya sambil bergumam, "Kau tidak pantas berada di samping Gakupo, pengganggu!" Hell, apa maksudnya semua ini?
Tak lama, sebuah pesan baru masuk lagi dengan nomor yang sama dengan si pengirim barusan.
From :
+8180 – 589 – 4547
Subject :
Kau tidak tahu kan kalau sebenarnya Gakupo itu bosan jika harus selalu berjalan denganmu!
Dasar gadis pengganggu!
Len cepat-cepat merubah posisinya menjadi terduduk di tepi ranjang. "Siapa yang berani mengirimkan ini padamu, Senpai.." ujarnya sedikit kesal campur gelisah.
Di tengah kekesalan Len, tiba-tiba ponsel yang sedang ia genggam itu pun berbunyi, menampilkan tulisan 'Nii-san' di layarnya. Untunglah itu bukan dari si pengirim pesan menyebalkan tadi. Tapi tunggu, 'Nii-san'? Berarti yang sekarang sedang menghubungi ponsel itu adalah Gakupo. Apa yang harus si pirang lakukan? Menjawab panggilannya? Matilah ia nanti.
Tapi sebaiknya memang dijawab, siapa tahu ia bisa memberitahu Luka bahwa ponsel itu aman bersamanya.
"Moshi moshi.." jawab Len agak malas.
"A-ano.. Apakah kau yang menemukan ponselku?" Itu suara Luka, bukan Gakupo seperti perkiraannya.
"Gomen, Senpai! Gomen! Aku tidak bermaksud untuk mengambilnya," seru Len di ujung sambungan. Nada malasnya kini sedikit berubah ceria –walaupun masih terdengar panik.
"Len-san?" tanya Luka memastikan.
"Ya, aku. Tadinya aku mau mengembalikannya. Tapi Luka-senpai sudah pergi," bohong pemuda Kagamine itu. Alasan yang sebenarnya adalah karena ia malas untuk bertemu dengan Gakupo, bukan?
"Syukurlah kau yang menemukannya. Terima kasih sudah menjaga ponselku," ujar Luka lembut.
"Senpai, kau tidak marah?"
"Tidak. Justru aku sangat berterima kasih padamu."
"Aku akan mengembalikannya besok. Aku janji!"
"Iya, iya. Kelasmu dimana? Biar aku yang mengambilnya."
"Tidak, tidak. Aku saja yang mengembalikannya. Bagaimana kalau kita bertemu di perpustakaan besok pagi?" tawar Len.
"Hmm, baiklah. Tapi kukira perpustakaan belum buka jika kita datang sepagi itu," ujar Luka.
"Ahaha! Kita tidak perlu masuk. Aku kan hanya mau mengembalikan ponselmu, bukan membaca buku."
"A-ah, b-benar juga.." Luka sempat merutuki dirinya sendiri yang menganggap ajakan Len sebagai pertemuan resmi mereka. 'Baka, baka, baka!' rutuknya dalam hati.
"Baiklah. Sampai jumpa besok, Luka-senpai."
"I-iya. Sampai jumpa."
Tunggu, percakapan mereka belum berakhir..
"Eeerr, Senpai!" seru Len tiba-tiba. Niat Luka untuk memutus sambungan terhenti karena masih terdengar suara di sana.
"Ya?"
"Oyasumi.."
Hening untuk beberapa saat. Oyasumi. Itukah yang Len katakan?
"O-o.. y-ya.. su– "
Beep...
Sebelum Luka membalas ucapan selamat malam tadi, Len cepat-cepat memutus sambungannya. Wajahnya mendadak merah seperti kepiting rebus. Apa yang baru saja ia katakan tadi? Ini benar-benar memalukan. Yah, walaupun memalukan, tanpa Len tahu, sang Gadis pun rupanya tengah tersipu malu sambil terus tersenyum-senyum sendiri.
To be Continued
.
.
A/N
Aaaaaakh! Akhirnyaaa! Bisa update! :"D UAS dan remedial mengganggu T^T Kayaknya nilaiku di semester ini menurun drastis deh *curcol nggak penting*
Gimana gimana ch 3 ini? :D Oke, mungkin ada readers yg nggak puas ya? Atau ch ini ngebosenin? Soalnya aku ngerasa ide cerita dan kualitas penulisanku menurun *masih galau UAS*
Hmm, mulai sekarang, aku bakalan coba buat fic ini lebih panjang dan lebih baik dari sebelum2nya. Doakanku bisa yaaa :'3
Balasan review yg login sudah lewat PM (semoga semuanya masih inget ya..) Terakhir, sisipkan kesan dan pesan kalian di kotak review di bawah ini :") Segala macam bentuk review benar2 menambah semangatku! Sankyuu! :D
Salam hangaaattt,
Kazuko Nozomi~
