Disclaimer : I do own nothing.

.

.

Youth Hurts (Love In The Ice)

Author: Nakki Desinta

.

.


Chapter 3 : Love …


.

.

Minggu berganti minggu.

Secepat itu waktu bergulir, dan aku melewatinya dalam hari-hari penuh belajar untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Otakku lelah sekali rasanya, karena selama seminggu penuh kami sekelas harus melewati sore hari dalam bimbingan wali kelas. Sesampainya di rumah, kami harus mengerjakan beberapa soal yang dijadikan PR dan bahan pengulangan materi. Hingga dua hari menjelang ujian. Kami tidak dibiarkan memegang buku pelajaran, kami hanya menjawab kuis yang disebarkan ketua kelas, memang sih diberi kebebasan untuk memilih mengerjakannya atau tidak, tapi apakah bisa memilih dengan kondisi tuntutan dari wali kelas yang seperti ini?

Saat ujian tiba, tempat duduk kami diacak, bahkan ditukar dengan siswa dari kelas lain. Aku tidak sedikitpun mengalami masalah dengan ujian selama berhari-hari, karena jujur saja, otakku sudah agak muak dengan soal-soal latihan yang sepertinya sudah di luar kepala.

Namun selama dua minggu itu pula, mataku tidak pernah lelah mencari keberadaan sosok pucat Ulquiorra. Karena tidak pernah satu kalipun ada jejak tanda kehadirannya di sekolah. Dari cerita beberapa orang di kelas yang pernah sekelas dengan Ulquiorra sebelumnya, sudah biasa kalau Ulquiorra menghilang di masa-masa ujian seperti ini. Senna bahkan bilang Ulquiorra akan muncul di hari ujian, tapi sekarang sudah hari terakhir ujian, tinggal tersisa giliran praktek olahraga yang harus kami jalani siang ini.

Seluruh murid sudah siap dengan seragam olahraga dan mengantri untuk melakukan beberapa senam lantai, dan ditutup dengan basket 3 point.

"Uryuu selalu ingin tampak sempurna ya? Payahnya ketua kelas sih memang," selorohku saat melihat lima tembakan si ketua kelas berkacamata itu tidak ada yang meleset sama sekali, bahkan bentuk lengkungan tiap lemparannya sama persis. Kalau aku bisa rumuskan ke phytagoras mungkin akan menghasilkan satu sudut rumus yang sama dengan akar pangkat dan variabel yang setara.

"Kenapa jadi payah?" tanya Keigo yang berdiri tepat di belakangku, kami tengah menunggu giliran kami menembak bola.

"Komentar Kuchiki tidak pernah bisa langsung kucerna," celetuk Senna dengan napas berat. Dia baru selesai praktek senam lantai, dan langsung mengambil antrian di basket 3 point.

"Makanya kau harus banyak makan makanan berserat agar pencernaanmu lancar," celetukku seraya menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Itu kiasan, bukan lambungnya yang bermasalah, Kuchiki! Otakmu perlu disetel ulang sepertinya," sahut Keigo dengan wajah meringis, setengah ingin tertawa dan setengah prihatin dengan reaksiku. Mungkin menurutnya candaanku garing, segaring kerupuk yang baru digoreng.

"Ya.. habisnya Senna bilang dia sulit mencerna, kan?" jawabku seraya menoleh pada Senna, mencari anggukan darinya, tapi Senna malah mengibaskan tangan ke udara, sebagai isyarat kalau dia mengundurkan diri dari obrolan tidak jelas ini.

"Kembali ke pokok bahasan awal!" Keigo menepuk bahuku pelan.

"Apa? Kan ujian kita sudah selesai, jadi tidak ada materi yang jadi pokok bahasan lagi," ucapku dengan alis mengerut dalam.

"Ya Tuhan... Kau pantas jadi peserta Stand Up Comedy!" Keigo menggeram sambil mengepalkan tangannya kesal.

Aku hanya nyengir lebar mendapati responnya. "Ya... intinya, Uryuu selalu mengusahakan dirinya tampak sempurna, bukankah itu membuatnya terlalu menekan diri? Berusaha boleh, tapi harus tahu batas, dan kupikir, kalau dia terus-terusan seperti ini, dia akan cepat lelah menghadapi hidupnya. Ayolah, usia remaja tidak seharusnya penuh tuntutan," tuturku perlahan, seraya memandang Uryuu yang melepas kacamatanya dan mengusap peluh di dahinya. Sudah selesai praktek olahraga yang harus dia jalani, dan jujur saja, aksinya itu terlihat agak cool di mataku, bahkan beberapa siswi dari kelas lain sampai berbinar-binar memandang Uryuu yang bermandikan keringat sambil berdiri di sisi ring basket.

Keigo terdiam sejenak, dan detik kemudian dia mengangguk dalam, seolah mengiyakan ucapanku.

"Nah, kalau sejak awal kau bicara seperti itu, aku pasti langsung mengerti, Kuchiki," kata Senna sambil menyatukan tangannya. Senyumnya lembut, tapi agak dipaksakan bagiku. Diam-diam rupanya dia mendengarkan obrolanku dan Keigo.

"Kuchiki Rukia!" sang pelatih memanggil namaku, sontak aku berlari mendekati titik yang ditentukan sebagai tempatku berdiri.

Lima tembakan agar masuk mulus ke ring, bukanlah hal sulit untukku. Nnoitra terlalu sering mengataiku pendek, sehingga aku begitu benci dengan sebutannya itu. Alhasil aku dendam dan sering menantangnya bermain basket. Aku memang pendek, tapi jangan anggap aku akan sulit mencetak 3 point. Lima tembakan untuk 3 point bukanlah hal sulit, aku hanya cukup memusatkan kekuatanku pada tangan, dan wusss! Bola masuk ke ring dengan mulus.

Matahari sudah berada di kaki langit ketika kami selesai melaksanakan praktek olahraga. Aku membantu pelatih membereskan beberapa matras dan bola, lalu mendorong trolly yang penuh peralatan itu ke bagian belakang gymnasium, tempat ruang perlengkapan olahraga.

"Terima kasih, Kuchiki. Bisa tolong sekalian kau antar catatan ini ke wali kelasmu?"

"Baik, Pak."

Selesai sudah ujian kenaikan kelas kami. Keigo sudah berteriak kegirangan karena dalam tiga hari kami akan berangkat ke onsen, tepat setelah kami libur pasca ujian. Entah mengapa hatiku tidak terlalu senang, padahal di tanggal 14 kakak Byakuya tidak menyiapkan acara apapun untuk ulang tahunku, jadi aku bisa pergi bersama teman sekelas, tapi... seperti ada yang salah. Mungkin aku begini karena selalu saja mencari Ulquiorra setiap kali memasuki kelas, di sudut-sudut sekolah, di manapun aku berada di setiap sisi sekolah, aku selalu merasa dia ada dan mengawasiku, tapi tidak sekalipun aku menemukan sosoknya.

Dia tidak memberi kabar, dan aku tidak kaget dengan kenyataan itu. Tapi kukira kami sudah lebih dekat, sehingga dia bisa lebih terbuka padaku. Setidaknya memberi tahu kemana dia pergi, sampai tidak mengikuti ujian kenaikan kelas. Aku ingin mengunjungi rumahnya, tapi aku takut kakak Byakuya akan mempermasalahkannya, menginterogasiku tanpa henti. Kakak tidak pernah memberikan aura bersahabat tentang semua hal yang berkaitan dengan Ulquiorra.

"Permisi..." aku mengetuk pintu ruang guru, dan seorang guru yang duduk paling dekat pintu mengangguk padaku, mempersilahkanku masuk. Langkah kakiku ragu-ragu mendekati Pak Omaeda, karena guru tambun itu tengah mengobrol dengan dokter Matsumoto, petugas unit kesehatan sekolah.

"... baru saja! Iya, aku juga kaget, tapi seperti biasa, dia tidak pernah kesulitan menyelesaikan soal. Ck Ck Ck, namanya juga Ulquiorra, begitu selesai, dia langsung pergi."

Sekujur tubuhku beku, tidak melangkah mendekat lagi ketika mendengar nama Ulquiorra meluncur dari mulut Pak Omaeda. Sementara itu dokter Matsumoto menggeleng pelan, wajahnya terlihat lelah.

"Kondisi kesehatannya kurang baik dua hari ini, dan dia datang hari ini untuk melakukan ujian yang harusnya diselesaikan dalam tiga hari. Anak itu punya otak setara Einstain sepertinya? Memang seluruh sekolah menganggap dia tidak ada, tapi kan dia tidak perlu menganggap dirinya tidak ada," ucap dokter Matsumoto seraya melirik Pak Omaeda sinis.

"Aku hanya tidak ingin kena sial, apalagi kutukan. Maaf saja kalau aku tidak peduli dia ada atau tidak," celetuk Pak Omaeda pelan.

"Kau percaya hal tidak masuk akal seperti itu, Pak?"

"Apa salahnya menghindar?"

"Kau-"

Kepalaku berputar. Nama Ulquiorra berulang-ulang terngiang di telingaku. Dia ada disini, dia ujian, tapi dia langsung pergi dan tidak menemuiku. Cowok itu... beraninya dia menghilangkan diri setelah membuatku kalang kabut seperti ini. Memangnya dia pikir aku tidak lelah? Setiap kali datang ke sekolah, pasti menoleh ke kanan dan diri mencarinya.

Aku berlari mendekati Pak Omaeda. "Sore, Pak! Ini titipan dari pelatih! Permisi!" ucapanku secepat kilat, aku bahkan tidak menunggu Pak Omaeda meresponku. Kakiku berpacu dengan waktu, aku berlari menuju gerbang sekolah dan langsung berbelok menuju halte, mataku melihat sekeliling mencari keberadaan Ulquiorra, aku tidak peduli jantungku berdetak secepat apapun, tidak ingin memusingkan napasku yang tersengal-sengal.

Sosok kurus itu berdiri tegak di pinggir halte, dia menoleh cepat ketika aku menghentikan langkahku, tepat beberapa meter darinya. Pandangan matanya kosong, seolah seluruh jiwanya seperti tengah terbang entah kemana.

"Kenapa kau tidak ke kelas?" tanyaku dalam helaan napas berat, berusaha keras menyembunyikan tarikan napasku yang masih belum teratur. Aku bersikap sewajar mungkin, tidak ingin terlihat kelewat senang saat melihat Ulquiorra.

Ulquiorra hanya diam.

"Kau baru selesai ujian, kan?" selorohku lagi.

Yang aku dapati hanya sikap bungkamnya.

"Kau tidak praktek olahraga? Bagaimana dengan rencana ke onsen, kau ikut kan?"

Ulquiorra tidak bergerak sama sekali, bahkan dia tidak berusaha membuka mulutnya sama sekali. Bibirnya terkatup rapat, dan napasku yang sudah mulai teratur perlahan tersulut kemarahan. Bermacam pikiran dan prasangka menyeruak di benakku, melihat sikap dinginnya membuatku seolah melihat Ulquiorra saat pertama kali datang ke Karakura. Dirinya yang tertutup, seolah tidak ingin seorangpun menganggapnya ada.

"Jawab aku! Kau bilang kau akan bicara jika hanya ada aku!" tuntutku kesal. Sekarang hanya ada kami di halte, dan dia tidak menjawabku, tentu saja aku kesal. Berminggu-minggu tanpa kabar, dan sekarang saat ia datang ke sekolah, dia bahkan tidak menemuiku. Apakah dia menjadi orang asing lagi setelah tidak melihatku sekian lama? Apakah dia membuangku setelah puas membuatku jatuh dalam permainannya? Berbagai pikiran buruk menyerbu kepalaku, membuat akal sehatku perlahan rusak.

"Apakah kau sedang aksi bisu sekarang?" sindirku sinis.

Ulquiorra tidak menjawabku, tapi dia mendenguskan tawa kecil yang tidak aku mengerti. Apakah dia mengejekku? Apa yang dia tertawakan? Apa yang lucu? Aku makin kalut mendapati sikapnya.

"Jadi kau benar-benar akan membuangku sekarang? Setelah puas mengerjaiku, sekarang kau kembali ke kebiasaan lamamu?" cecarku marah.

Dia menggeleng pelan.

"Lalu kemana saja kau? Apa kau sakit?"

Yang aku dapati hanya gelengan kepala lemah lagi.

"Bicaralah, Ulqui! Aku tidak bisa mengerti jika kau tidak mengatakan apa-apa. Apa yang salah denganku?" aku melangkah mendekati Ulqui, tapi dia malah mundur. Aku tertegun, ada apa dengannya?

Aku mengambil tiga langkah lagi mendekatinya, tapi dia mengambil langkah yang sama menjauhiku.

"Kau ini kenapa sih? Kita tidak sedang main kucing dan anjing, kan?" seruku.

Dia tersenyum tipis seraya menggeleng.

"Lalu kenapa kau menjauhiku?" aku kembali mendekatinya, dan dia tetap melakukan hal yang sama. Entah mengapa aku merasa begitu frustasi melihat sikapnya ini. Sesak sekali aku rasakan dalam dadaku, aku tidak bisa membiarkannya bersikap seperti ini padaku.

"Pergilah selagi bisa," ucapnya singkat.

"Apa maksudmu?" bisikku tidak mengerti.

"Aku tidak pernah bisa menjauhimu, karena kau adalah takdir yang tidak bisa aku hindari. Tapi aku percaya kau bisa merubah semuanya jika itu untuk dirimu sendiri. Aku tidak akan menyesalinya. Jadi, pergilah selagi bisa."

Aku makin tidak mengerti dengan ucapan Ulquiorra, kepalaku mendadak tidak berfungsi dan tidak mampu berpikir lebih jauh. Apa yang dia maksud dengan 'selagi bisa'? Apakah akan tiba dimana waktunya aku tidak bisa pergi darinya? Lalu kenapa aku harus pergi?

"Omong kosong apa yang kau katakan? Takdir apa? Aku tidak mengerti!" seruku putus asa.

Ulquiorra menarik sudut bibirnya samar, dan aku melihat seringai mengejek, bukan senyum tipis hangat seperti yang aku bayangkan. Dia seperti tengah memojokkanku karena aku tidak mengetahui apapun, karena aku tidak bisa mengartikan semua sikap anehnya saat ini. Apa yang salah dengannya?

"Kau ini bodoh atau apa? Gunakan otak bangsawanmu, Kuchiki! Bukankah kau sudah dididik dengan sangat baik? Ataukah otak Hueco Mundomu masih bersarang kuat? Haruskah aku menjelaskannya secara gamblang?"

Aku terperanjat, terdapat nada sinis dalam suara datarnya, terlebih lagi saat ia menyebutkan nama keluarga yang baru aku terima beberapa bulan lalu, membuat perutku bergolak hebat. Wajah Ulquiorra yang dingin membuatku semakin yakin bahwa aku tidak pernah salah menangkap kebencian dalam wajah seseorang. Sedatar apapun wajah yang ia berikan kepadaku, aku bisa membaca kebencian dalam ekspresinya.

"Kau masih belum mengerti juga?" bisiknya lagi tetap dengan raut wajah yang sama, seolah dia tengah menertawakan kebodohanku.

"Jadi kau membuangku sekarang?" ujarku dengan suara pelan, karena hanya teori itu yang mampu lahir dalam otakku yang sekarang ini kusut bukan main.

Ulquiorra masih tersenyum dengan cara yang sama, membuat darahku langsung naik ke puncak kepala. Kemarahan menyelimuti seluruh sel dalam tubuhku.

"Baik! Silahkan! Lagi pula sejak awal aku tidak punya perasaan apapun padamu, Brengsek!" seruku seraya berbalik, berlari meninggalkannya. Jantungku berdetak keras, tapi setiap dentumannya menghantam dinding dalam dadaku, seolah berusaha merobeknya dan ingin meledak. Aku tidak mendengar suara yang memanggilku, tidak sedikitpun. Apakah aku berharap dia akan memanggilku? Berharap dia akan berteriak 'Aku hanya bercanda, Rukia!' tapi hati kecilku berkata bahwa itu tidak mungkin.

Bagus, dengan begini aku lebih mudah membuangnya dari hidupku! Jika dia membuangku, maka aku akan melakukan hal yang sama.

Kakiku berhenti bergerak, aku lelah. Seharusnya aku cukup lega karena seseorang yang baru saja aku kenal telah berhasil mempermainkan perasaanku, dan untungnya aku belum terlalu dalam mengenalnya, aku belum mengetahui pribadi sesungguhnya seorang Ulquiorra, jadi aku...

"Nona, kenapa Anda menangis?"

Seluruh syaraf dalam diriku tersentak kaget, mataku membelalak begitu melihat telapak tanganku yang basah setelah meraba pipi. Kenapa aku menangis? Bukankah aku belum memiliki perasaan sedalam itu untuknya? Kenapa aku menangis? Apa aku terluka? Apa yang aku rasakan untuknya? Cinta? Atau aku terlalu bahagia sampai meneteskan air mata?

"Nona?"

Sakit!

Aku baru merasakannya. Hantaman dan tusukan yang begitu sakit di ulu hatiku, berulang kali hingga air mataku menolak untuk berhenti menetes. Lututku kehilangan tenaga, hingga aku terduduk pasrah di tepi jalan, menunduk dalam sambil merenggut bagian dada seragamku. Sakit... kenapa sesakit ini? Aku hanya mengenalnya hanya dalam waktu singkat, tidak ada yang khusus tentangnya, hanya keegoisannya untuk memonopoli setiap keadaan, hanya sikap egoisnya yang aku dapatkan, tapi kenapa aku...

"Anda sakit, Nona? Saya antar Anda ke dokter," sepasang tangan kekar milik supir keluarga Kuchiki langsung meraih bahuku, namun hujaman sakit itu tidak juga berhenti. Ingatan saat kami pertama kali bertemu, sikap lembutnya ketika kami latihan, juga saat datang ke Hueco Mundo. Semua itu hanya omong kosong, tipuan agar aku jatuh dalam perangkapnya. Kenapa rasanya sakit sekali? Perlahan ingatan-ingatan itu berganti menjadi kegelapan yang menelan seluruh kesadaranku, gelap dan tidak berujung, sakit, sendirian dan terbuang...

.

.


.

.

"... tapi dokter... sudah tidak sadar dari kemarin... sakit... perlu dirawat..."

Mataku begitu berat, tapi aku memaksakan seluruh bagian dalam diriku untuk melawan rasa lelah ini. Seluruh sendiku seperti berteriak ketika aku gerakkan bangun dari tidurku. Yang pertama kali aku lihat adalah selang infus yang terhubung ke pergelangan tanganku, dan aroma rumah sakit yang terasa begitu sesak karena terlalu kental dengan bau obat.

Apa yang terjadi padaku? Aku hanya ingat rasa sakit di dadaku, dan...

Tiba-tiba saja wajah Ulquiorra melintas di benakku, dan tusukan itu kembali menyerangku. Napasku terasa berat dalam sekejap, dan rasa sakit itu begitu nyata. Begitu dalam dan nyeri... Aku rasa aku mengerti kenapa aku begitu sakit. Mungkin aku ingin mengingkarinya, namun Ulquiorra telah berhasil meruntuhkan bentengku. Aku yang tidak pernah ingin berharap terlalu tinggi pada hal bernama cinta, hal yang begitu fiktif untuk akal sehatku. Dan sekarang aku jatuh dalam permainan busuknya. Apakah ini kesialan atau kutukan yang harus aku terima karena tidak sengaja mendekatinya? Kukira aku tidak pernah sedalam ini menerima kehadirannya, keberadaannya dalam hidupku...

"Kita harus menunggu dua jam lagi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena pasien tidak menunjukkan tanda-tanda kritis."

"Aku sudah sadar, Kak! Aku baik-baik saja," gumamku agak keras, berharap dengan begitu mereka menghentikan perdebatan mereka akibat kekhawatiran kakak Byakuya yang terlalu berlebihan.

Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dan tirai yang menutupi bagian samping ranjangku langsung tersibak, menunjukkan sosok pucat kakak Byakuya. Aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi ketika kelegaan memenuhi wajahnya sepersekian detik kemudian.

"Apa yang kau rasakan?" tanya kakak, dan aku hanya mampu tersenyum hambar.

Seraya melirik dokter di sebelah kakak, aku menyeringai terpaksa dan berkata, "Agak kaku karena terlalu banyak tidur..." ucapku bercanda, berharap bisa sedikit merenggangkan ketegangan di antara mereka.

"Syukurlah, dengan begitu tes lebih lanjut tidak diperlukan, Tuan Kuchiki," jawab dokter seraya meninggalkan kami dengan satu anggukan. "Oh ya, Tuan Kuchiki. Sepertinya Anda harus ke ruang administrasi untuk menandatangani beberapa administrasi dan pembatalan tes Nona Kuchiki," ucap dokter yang kembali berbalik. Kakak tidak banyak komentar, hanya mengangguk sesaat dan berkata, "Aku akan segera kembali." Sebelum beranjak pergi menyusul dokter.

Tinggal aku sendirian di ruang dengan cat warna putih pucat dan perpaduan blue cyan. Mataku menangkap lampu yang menyala redup di atas kepalaku. Dan perih itu kembali menyapa dadaku...

Jadi begini rasanya dibuang oleh seseorang yang aku pikir bisa aku biarkan masuk dalam hidupku? Begitu sakit hingga aku tidak mampu menahannya dan jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Ironis sekali, biasanya aku bisa menahan sakit seperti apapun setiap kali babak belur di Hueco Mundo. Apa yang berbeda sekarang? Apa karena kali ini aku menggunakan hati, bukan fisikku? Omong kosong ini hanya membuatku kembali menangis, kumohon... jangan biarkan aku berada dalam kubangan sakit hati yang tidak mampu aku hadapi. Sejak aku tumbuh besar dan berjuang sendirian, aku selalu berusaha berdiri tegar di atas kakiku sendiri. Aku tidak akan mengiba belas kasih, ataupun cinta dari orang lain, karena itu hanya akan melemahkanku. Prinsip itu yang aku pegang. Aku sudah cukup terbuang ketika aku berharap ada uluran tangan yang akan menyelamatkanku dari kejamnya kehidupan di Hueco Mundo dan yang aku dapatkan hanya tangan hampa. Aku sudah bertahan sendirian selama ini, lalu kenapa setelah hidup di Karakura sekarang aku jadi pengecut? Kenapa...

Jangan ambil kekuatan itu dariku, jangan...

Setelah aku menjadi seorang dengan gelar Kuchiki, aku telah berubah menjadi sosok lemah. Aku dilarang melawan saat para anggota keluarga Kuchiki yang lain mencemoohku yang berasal dari tempat kotor, dan sulit beradaptasi dengan kehidupan seorang bangsawan. Aku tidak mampu melawan saat Kakak Byakuya melayangkan tangannya padaku. Aku tidak mampu bertahan ketika tahu Ulquiorra telah mempermainkan perasaanku. Lalu apa gunanya aku berada di sini jika sedikit demi sedikit aku kehilangan diriku sendiri?

Di meja tepat sebelah ranjangku, tergeletak ponsel dan dompetku, tanpa berpikir lama aku meraih ponselku dan menekan sebaris nomor yang sudah sangat aku ingat dalam benakku. Nada tunggu terdengar sebelum suara kaku Nnoitra menyapa telingaku.

"Nnoi... ini aku," bisikku lirih, dan seketika itu juga air mataku menetes. Sontak aku menekap mulutku, dan menjauhkan ponsel dariku. Aku tidak bisa... aku hanya menelepon Nnoitra setiap kali aku membutuhkannya. Bagaimana ini, air mataku tidak mau berhenti menetes. Aku bukan perempuan cengeng yang bisa dengan mudah menangis, aku kuat, cukup kuat hingga aku mampu bertahan hidup di Hueco Mundo.

Aku kembali mengangkat ponsel, dan suara keras Nnoitra terdengar jelas sekalipun jarak ponsel masih jauh dari telingaku. "Jangan meneleponku kalau kau cuma mau menangis!" pekiknya marah, dan aku hanya terdiam, membiarkan teriakannya yang lain memekakkan telingaku. "Kau menyebut dirimu sahabat, hah? Bangun Nona Besar! Kau tidak bisa selamanya hidup di istanamu!"

"Aku tahu..." gumamku purau, air mata kembali menetes, dan napasku sesak. "Karena itu aku ingin kau membawaku pergi dari sini, Nnoi..."

Sunyi sejenak, yang mampu aku dengar hanyalah isak tangisku sendiri. "Aku ingin pulang ke Hueco Mundo!" rengekku dengan tangan merenggut selimut erat-erat.

Aku sengaja menelepon Nnoitra, dia adalah pria kasar yang akan memaki dan menyerapah padaku tanpa ampun, dan aku ingin ia melakukan itu. Dia akan membuat aku sadar bahwa aku tidak seharusnya membiarkan ini semua terjadi. Aku harus terbangun dari mimpi berkepanjangan ini.

"Ini pilihanmu, Ru. Kau tidak bisa mengembalikan waktu..." suara Nnoitra melemah, dan aku hanya mampu mengangguk pelan, hanya isakan tangis yang mampu keluar dari mulutku.

"Simpan airmatamu, aku akan ke sana. Kau dimana?" ucap Nnoitra kembali emosi.

Mataku melihat bordir di sisi baju pasien yang aku kenakan. "Ru-Rumah Sakit Karakura," desisku dan yang aku dengar kemudian hanyalah sambungan telepon yang terputus. Tanganku terjatuh lunglai ke ranjang, dan air mata lain menyusul isakanku.

Ulquiorra... Kesalahan apa yang telah aku lakukan padamu hingga aku pantas kau perlakukan seperti ini?

Kenapa...

Entah berapa lama waktu berlalu, karena aku hanya terduduk tenang dan mata menatap bosan pada ujung ranjang. Tidak ada satu orangpun yang datang, tidak kakak Byakuya, dokter, apalagi suster. Hanya ada ruangan dingin dan aku.

Mungkin waktu menjadi tidak berarti lagi ketika aku menyadari semua kebodohan ini. Nnoi benar, aku tidak bisa mengembalikan waktu. Aku yang telah memilih semua ini. Aku yang menyetujui proses adopsi ini, aku yang telah meninggalkan sahabat dan keluargaku di Hueco Mundo untuk hidup dalam kekangan julukan bangsawan, yang bahkan aku tidak berhak untuk berada di dalamnya ketika mereka melihat betapa aku tidak pantas berada di antara mereka, hanya memberikan kesalahan dan rasa malu yang mencoreng harga diri mereka. Lalu sekarang aku berada di rumah sakit, ketika aku tidak menyadari betapa aku terluka karena dibuang setelah puas dipermainkan oleh Ulquiorra. Bukankah sejak dilahirkan aku memang tidak pernah memiliki dan dimiliki. Lalu apa hakku hingga bisa merasa terbuang?

Aku ingin kembali pada kehidupanku yang bebas, diriku sendiri.

Inikah diriku yang sesungguhnya? Kemana perginya Rukia yang bisa mengalahkan dua orang preman sekaligus? Kemana hilangnya ketegaran yang selalu aku banggakan setiap kali aku terluka dan sendirian?

Pintu ruang rawatku diketuk, aku hanya mampu mendongak. Sosok kurus Nnoitra menjulang di pintu masuk, dia mengenakan celana jeans selutut yang sobek di banyak tempat, kaosnya kotor penuh noda oli, dan aku tidak perlu banyak bertanya, karena dengan sendirinya aku sadar bahwa aku telah membuatnya kabur dari bengkel tempatnya kerja sambilan.

"Apa kau kena tusuk belati sampai terbaring mirip mayat hidup begitu?" Nnoitra berseru seraya melangkah masuk, dan tiba-tiba saja dua orang perawat datang menghadang Nnoitra.

"Tuan, Anda tidak bisa-"

"Dia temanku," ucapku cepat, dan kedua perawat itu bertukar pandang penuh tidak percaya.

Nnoitra mendesis kesal, dan dia mendorong bahu kedua perawat itu. "Apa gembel sepertiku tidak diperbolehkan masuk ke rumah sakit, hah?" ucap Nnoitra kasar, dan dia langsung melangkah mendekatiku. Aku tidak banyak pikir lagi dan beranjak dari ranjang, dan meraih bagian depan bajunya, mencengkramnya erat.

"Seharusnya kau menelepon Yammy, kau tahu aku tidak bisa bersikap selembut si Karung Beras!" celetuk Nnoitra yang hanya membalas sikapku dengan tepukan pelan di kepala.

"Aku tidak butuh kelembutan sekarang. Aku butuh seseorang yang cukup kuat dan sangat kasar untuk membangunkan Rukia yang sesungguhnya, karena aku bukan diriku lagi..." tiba-tiba saja deraian air mataku menetes tak kenal ampun, aku terduduk dan membiarkan nyeri itu bersarang di ulu hatiku.

"Ck ck ck ck, kau terlalu kacau. Dan apakah kita pantas dijadikan tontonan? Apa kalian tidak akan pergi?!" pekik Nnoitra keras, dan dua orang perawat yang masih berdiri di pintu langsung berlari tunggang langgang meninggalkan kami.

Nnoi merangkul bahuku, membawa kepalaku bersandar di dadanya, dan aku hanya mampu menangis, menyesap wangi oli dan debu dari kaosnya, wangi Hueco Mundo yang aku rindukan. Wajahnya tegak lurus melihat ke luar jendela, menatap langit kota Karakura yang begitu jernih dan cerah. Napasnya teratur dan aku tidak mampu merasakan kehangatan seperti yang Yammy berikan, namun dari hati terdalam, aku menyadari bahwa Nnoi tidak pernah memiliki hal itu, jadi aku tidak akan berharap banyak. Bukan karena dia membenciku, tapi karena begitulah caranya untuk memahami orang lain.

"Bosku mungkin akan memecatku," gerutunya seraya menghela napas berat.

"Aku akan memintanya menerimamu lagi, kalau perlu aku akan berlutut," ucapku datar.

Nnoi menjitak kepalaku keras, tidak mengurangi tenaganya sama sekali walaupun ia tahu aku tidak sekuat dirinya. "Bicara mudah! Kau bangga jadi bangsawan? Kau pikir semuanya bisa kau miliki dalam genggaman tanganmu, hah?" cerocos Nnoi lagi.

Aku menegakkan tubuh, melihat kearah yang sama dengan Nnoi, dan perlahan namun pasti ketenangan itu mengaliriku, sedikit mengurangi luapan air mataku.

"Aku tidak memiliki semuanya, Nnoi. Aku bahkan kehilangan semuanya... Kehilangan diriku sendiri. Kehilangan satu-satunya hal yang mampu aku miliki."

Nnoi menoleh, seolah tengah memeriksa raut wajahku, tapi aku tidak membalas tatapannya yang terasa menusuk permukaan kulitku. "Kau hanya melihat sisi lain dari kerasnya hidup! Kau kira cuma Hueco Mundo yang bisa memberikanmu pelajaran?" ucapnya lagi.

Seketika Nnoitra menghela napas panjang, membuatku melihat wajahnya penuh-penuh.

"Sejujurnya aku tidak percaya waktu kau menerima tawaran mereka, kau bahkan membawa laki-laki berwajah kaku itu kepada kami. Kau tidak pernah membuka hatimu untuk siapapun. Saat kau bersama kami, mungkin orang lain melihatmu seperti menganggap kami sebagai sahabat bahkan saudaramu sendiri, tapi kau tidak pernah membuka dirimu pada kami. Kau menutup rapat dirimu untuk kau miliki sendiri. Kau bahkan tahu bagaimana perasaan Szayel padamu, tapi kau berpura-pura seperti orang idiot yang tidak pernah tahu bahasa manusia!"

Aku hanya mampu mengangguk.

"Ini pertama kalinya kau menangis. Apakah ini karena si kurus itu?" tanya Nnoi datar, dan aku hanya mampu mengiyakan dalam hati. Aku tidak sedikitpun menyinggung bahwa aku menangis atas apa yang Ulquiorra lakukan padaku, tapi Nnoi bisa melihat jauh ke dalam hatiku, bahwa aku terluka karena seseorang yang mungkin... aku sayangi lebih dari diriku sendiri.

"Jadi kau akan kembali ke Hueco Mundo?"

Tekad itu begitu bulat dalam diriku, karena aku tidak memiliki alasan lain untuk tetap tinggal di sini. Karakura bukanlah tempatku, aku hanya menjadi perempuan cengeng jika berlama-lama di sini. Bukan hanya tekanan dari anggota keluarga Kuchiki, tapi juga lingkungan yang tidak pernah aku mengerti arahnya. Aku tidak bisa berpura-pura nyaman lagi berada dalam dunia yang tidak aku kenal ini.

"Aku bisa memulai semuanya lagi, sekalipun dari nol!" tandasku seraya beranjak dari ranjang, tanpa memikirkan apapun lagi aku mencabut infus yang masih terbenam di tanganku. Aku hanya mampu meringis kesakitan ketika jarum elastis itu terlepas dengan kasar.

"Ouww... itu... bukan sama sekali tidak sakit, kan?" cemooh Nnoi sambil menunjuk tanganku yang baru saja terbebas dari infus, dan aku hanya mengendikkan bahu tidak peduli. Memang sakit, tapi ini adalah harga yang harus aku bayar untuk bisa mendapatkan kebebasanku lagi.

"Aku sudah merasakan yang lebih sakit dari ini, bahkan sakit yang tidak bisa hilang dengan bius sekalipun. Jadi ini tidak akan me-"

"Rukia!"

Aku tersentak dan menoleh ke sumber suara. Kakak Byakuya berdiri di pintu dengan tangan mencengkram pintu begitu kuat, aku bisa merasakan kemarahan dalam dirinya menguar hingga membuat seisi ruangan ikut panas terbakar.

"Ini dia sang kepala keluarga! Apa yang akan kau lakukan sekarang, Rukia? Sepertinya kau tidak bisa pergi dengan mudah, atau kau mau lompat dari jendela?" celetuk Nnoi seraya merangkul bahuku, membisikkan kalimatnya untuk meledekku. Dia tengah mengetes kesungguhan hatiku, dan aku menatapnya dengan mata penuh, menujukkan bahwa aku tidak sedang main-main. Nnoi sudah datang untukku, dan aku tidak punya alasan lain untuk tetap tinggal, jadi...

"Kakak, aku tidak bisa tetap tinggal dan aku putuskan unt-" lidahku berhenti bergerak, bahkan seluruh syaraf dalam diriku memberontak melawan perintahku ketika seseorang lain muncul di samping kakak Byakuya. Mata emeraldnya menatap tajam padaku, sekalipun kekosongan itu tidak pernah luput darinya, aku bisa merasakan apa maksud dari sorot matanya, bahkan seluruh bahasa tubuhnya.

Kepalaku menunduk dalam, aku tidak bisa melihat orang itu lebih lama, karena semakin lama aku melihatnya, semakin sakit aku rasakan di dadaku. Aku tidak membutuhkan rasa sakit ini, aku hanya ingin rasa sakit yang bisa disembuhkan oleh bius. Jika rasa sakit ini akan dia berikan padaku lagi, maka aku akan melupakannya, dengan atau tanpa izin hatiku sendiri. Aku tidak ingin melihatnya, aku tidak ingin mengingatnya, aku ingin menghapusnya dari hidupku agar sakit hatiku hilang.

Kesalahan terbesarku adalah, aku membuka hatiku untuknya. Jika saja aku tahu dia tidak pernah sungguh-sungguh padaku, tidak seharusnya aku membuka hati.

"Nnoi, kau tahu ini lantai berapa?" desisku dengan tangan terkepal kuat.

"Sepertinya tiga belas, kalau kau melompat mungkin bisa langsung menemui malaikat maut," jawab Nnoi tanpa beban.

Jika aku tidak mati maka aku akan cidera parah, itu jauh lebih baik dari pada terus merasa sakit seperti ini. Aku berbalik dan mendekati jendela, seluruh kepalaku gelap, aku tidak bisa berpikir dan hanya pedih ini yang mampu aku rasakan. Sial! Rasanya sakit sekali!

"Aku ingin kembali ke Hueco Mundo," ucapku tegas, tidak memberi sedikitpun tatapanku pada Ulquiorra yang menatap bosan padaku.

Kakak makin geram, dia mendekatiku. Amarah dalam hembusan napasnya membuatku sadar bahwa dia akan menghancurkan seluruh isi kamar ini dalam satu sapuan tangan. Namun aku tidak gentar, aku hanya membalas sorot matanya.

"Kau ingin kembali ke tempat kotor itu?" gertak kakak Byakuya seraya mengguncang bahuku.

Helaan napasku terasa berat. Ruangan besar ini seperti menyempit dan menghimpit dadaku, mengguncang kebulatan tekadku untuk mengakhiri semuanya. "Aku memang besar di tempat kotor. Ada yang salah?" aku menghentakkan tangannya dan menjauh darinya.

"Rukia!" suara kakak Byakuya terdengar begitu keras, dan aku tidak peduli, aku meraih tuas jendela dan membukanya. Ini akan berakhir dengan mudah, jika aku langsung menemui malaikat maut maka semua akan lebih mudah, setidaknya aku berharap aku akan mengidap cacat mental, dan koma seumur hidup, hidup dalam mimpi yang berkepanjangan tanpa rasa sakit, dan–

Brugh!

Punggungku menghantam lantai begitu keras, dan sepasang tangan kurus memelukku erat, mengunciku tetap terbaring ke lantai.

"Apa yang kau lakukan?" kakak Byakuya kembali berseru, membuatku membuka mata dan bertemu pandang dengan sepasang kolam kehijauan yang menelan sebagian diriku. Sekarang kedua mata itu seperti tengah memohon belas kasih dariku, seperti akan menangis seketika, tapi aku tidak akan terjatuh untuk yang kedua kalinya. Iba dalam sorot matanya hanya ilusi yang diharapkan oleh hati kecilku, karena ketika berada dalam keputusasaan, manusia hanya bisa melihat apa yang diinginkan.

"Jadi memang dia bajingannya?"

Aku hanya berkedip sesaat ketika tinju Nnoi menghantam pipi Ulquiorra, membuatnya terhempas dan menabrak ranjang rawatku, mendorong ranjang hingga menjatuhkan gelas dari meja di sisi ranjang. Suara gaduh sudah cukup mengundang para perawat dan pasien lain untuk menonton keributan di ruang rawatku. Nnoi kembali melancarkan serangannya, kali ini ia menendang perut Ulquiorra, dan cucu kakek Yamamoto itu seperti tidak ingin melawan, atau dia terlalu lemah untuk melawan Nnoi?

"Cukup, Nnoi! Kau baru saja kehilangan pekerjaanmu, jangan sampai kau berurusan dengan polisi karena aku," ucapku dengan tangan terentang di depan Ulquiorra.

"Cih! Terserah saja! Aku bisa menjemputmu kapanpun aku mau, tapi sepertinya tidak sekarang!" sembur Nnoi seraya memberi tatapan penuh dendam pada Ulquiorra, sebelum akhirnya ia meninggalkanku, dan kemarahan dalam dirinya bisa aku rasakan. Dia membenci Ulquiorra, dan dia cukup membenciku karena telah membuatnya terlibat dalam situasi rumit ini.

Nnoi berjalan penuh kebanggaan, dan dia sempat menggertak kakak Byakuya lewat geramannya ketika berjalan di depan kakak Byakuya. Tapi kakak tidak banyak bereaksi, pria bangsawan itu malah bergegas menghampiriku, mencengkram bahuku dan memaksaku bangun untuk duduk di ranjang, mengabaikan Ulquiorra yang masih terduduk lunglai sambil memegangi perutnya.

"Kau gila?! Kau mau bunuh diri?"

Aku hanya diam dengan kepala tertunduk. Aku mencengkram tangan yang berdenyut sakit akibat aksi pencabutan paksa infus tadi. Kakak seperti menyadarinya, karena kemudian ia berkata, "Aku akan panggilkan dokter."

Kakak beralih pada Ulquiorra yang masih terduduk di lantai, tepat berseberangan denganku. Kami sempat bertemu pandang sebelum kakak menyentuh bahunya dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Ulquiorra menjawabnya dengan sebuah anggukan cepat.

"Awas kalau kau berani bertindak bodoh! Sial! Kau membuatku gila, Rukia!" rutuk kakak padaku, hilang sudah aura bangsawan dalam raut wajah dan nada bicaranya. Kemarahan dalam dirinya sudah sampai kepala, hingga ia tidak lagi peduli bagaimana para penonton di luar ruangan melihat kami sambil menutup mulut mereka, seperti tidak percaya telah melihat orang selevel Kuchiki Byakuya bisa berteriak di depan orang lain, bahkan menyerapah.

Kakak mengusir orang-orang di depan ruangan rawatku, bahkan sempat menyebut mereka penyuka tontonan gratis. Sontak kerumunan langsung bubar, tinggal aku dan Ulquiorra dalam ruangan tertutup rapat.

Suasana hening, Ulquiorra hanya terduduk kaku di lantai sementara aku menikmati sakit di tangan dan ulu hatiku sambil melihat langit yang perlahan berubah kelabu akibat awan hitam yang bergerak mendekat.

"A-"

"Tidak perlu mengatakan apa-apa, aku sudah cukup mengerti," gumamku seraya berdiri tegak, berjalan meninggalkan ranjang.

"Kau tidak mengerti apapun," ucap Ulquiorra yang langsung mencengkram tanganku, menahan langkahku, dan aku berbalik menghadapnya, menunggu hingga ia berdiri satu level denganku.

Aku mendengus mencemooh ucapannya. Permainan apalagi yang ingin ia tunjukkan padaku? Aku sudah cukup lelah dengan semua permainannya.

"Selain kau mendekatiku hanya untuk bersenang-senang dan dengan bangga membuangku, apalagi yang perlu aku mengerti?" tantangku dengan wajah terangkat tinggi, menunjukkan padanya bahwa aku tidak akan luluh hanya karena ia berusaha bersikap baik padaku.

"Maaf aku melukaimu, aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Aku hanya tidak bisa tinggal lebih lama denganmu karena aku ingin memilikimu sepenuhnya, aku tidak bisa membagimu dengan siapapun. Aku hanya manusia lemah yang sangat takut kehilangan. Karena itu, sebelum aku terluka, aku berpikir akan lebih baik jika kau membenciku, menghapus semua harapan itu dariku. Aku bisa hidup sendirian selama ini, dan ketika kau datang, aku tahu bahwa kau akan merubah semuanya..."

Aku melihatnya dengan jelas...

Duka, luka lama, rasa ingin memiliki, dan ... cinta yang begitu besar dalam sorot matanya yang sedikit basah oleh jejak airmata yang ditutupi oleh harga diri. Namun apa yang ia lakukan padaku tidak sebanding dengan apa yang ia rasakan sekarang, jangan pernah berharap aku akan percaya dan melemah hanya karena...

Wajahnya tertunduk dalam, nada dalam suaranya begitu purau dan aku tidak menghindar ketika dia meraih tanganku dan meletakkannya di pipinya seraya mengecup telapak tanganku pelan. "Semua hanya karena keegoisanku, karena aku takut terluka maka aku berbalik melukaimu..."

Apa maunya manusia ini? Dia membuat seluruh duniaku jungkir balik dalam waktu singkat. Dia membuatku menerimanya, lalu membuangku dan hanya selang waktu tidak sampai sehari dia datang lagi dengan penyesalan yang mendalam, bahkan airmatanya tengah mengiba padaku untuk ikut menangis bersamanya. Jika ia takut terluka, kenapa dia tidak katakan? Apakah dia begitu takut aku akan meninggalkannya dan membuatnya terpuruk sendirian? Kenapa semua manusia harus memiliki ketakutan seperti itu?

"Jangan pernah sakiti dirimu sendiri lagi. Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Aku mungkin tidak termaafkan, kau bisa membenciku..." bisik Ulquiorra yang perlahan berlutut di hadapanku.

Dia adalah pribadi yang tenang dan cenderung kaku. Dia bisa menjaga emosi dengan baik, tapi kebalikannya, sekarang Ulquiorra menunjukkan dirinya yang sesungguhnya padaku, dia menangis dan tidak memintaku untuk menerimanya, hanya memintaku untuk tidak menyakiti diriku sendiri. Airmatanya terasa hangat di tanganku. Aku berlutut dan memeluknya erat, sudah cukup semua kebodohan dan kebohongan ini.

"Rukia..." bisik Ulquiorra seraya membawaku semakin dalam masuk dalam pelukannya. Dia mengecup lekuk leherku lama, mengirim gelenyar panas ke sekujur tubuhku, dan aku tidak melawan ketika ia membopongku kembali ranjang, dan dia memberikan sebuah kecupan cepat di bibirku, tepat sebelum kakak Byakuya datang dengan seorang dokter dan perawat.

"Kenapa?" tanya kakak Byakuya, dan aku menggeleng cepat, mataku melirik Ulquiorra sesaat. Kakak menoleh pada Ulquiorra, bahkan matanya sampai memicing penuh selidik, tapi Ulquiorra telah memasang wajah tanpa ekspresinya lagi...

Dokter menanganiku, memasang kembali infus yang lepas setelah membuat saluran infus baru di tanganku yang lain.

"Apa yang terjadi hingga infus terlepas seperti ini?" tanya dokter sambil geleng-geleng kepala, memberi isyarat pada perawat untuk merapikan alat-alatnya setelah jarum infus kembali tersambung ke pembuluh darahku.

"Sedikit kekacauan," jawabku datar dan tanpa emosi.

Dokter dan perawat pamit pergi setelah selesai melakukan tugas mereka, sementara aku tetap terduduk dengan mata menatap bosan pada dinding ruangan. Aku sejenak melirik tangan kurus Ulquiorra yang menggenggam tanganku, dan aku tidak memberikan respon apapun.

Ulquiorra memang tidak bisa aku mengerti, dan aku tidak akan lagi berusaha untuk mengertinya. Semua kebodohan dan kebohongan di antara kami bukanlah hal yang bisa aku hadapi dengan nalarku. Mungkin tadi, sesaat aku berharap semua akan kembali pada jalurnya, tapi aku tahu itu tidak akan sama, dan aku tidak ingin mengalaminya lagi. Jika kami sama-sama merasa takut. Dia takut terluka, sementara aku takut kehilangan diriku sendiri jika terlalu lama terjerat dalam semua permainan emosi ini, maka aku putuskan untuk tidak melewati hari dalam ketidakpastian seperti ini. Aku baik-baik saja selama ini, hingga ia datang dan mengubah semuanya. Terlebih rasa sakit ini, aku benci sekali! Ya, aku akan mengakhirinya, kembali pada diriku sendiri. Seketika itu juga aku menarik tanganku darinya, membuatnya agak tersentak kaget dan itu cukup untuk menarik perhatian kakak Byakuya yang tengah memperhatikanku.

"Aku akan kembali ke Hueco Mundo," gumamku tenang.

"Apa maksudmu?" seru kakak Byakuya yang kembali tersulut kemarahan.

Wajahku terangkat dan menatap dua orang laki-laki di ruangan ini. Aku telah menetapkan hati, dan tidak akan dengan mudah aku jilat kembali ludahku sendiri.

"Terima kasih telah mengadopsiku, tapi aku tidak memiliki kebebasan lagi setelah menyandang gelar Kuchiki dalam namaku, karena itu aku akan mengembalikannya pada kakak."

"Rukia!" geram kakak Byakuya dengan mata menyala marah.

Wajahku beralih pada Ulquiorra, kuberikan sebuah senyum miris padanya sebelum berkata, "Aku mungkin telah tertipu, tapi tidak untuk yang kedua kalinya. Aku pendendam, dan aku tidak akan dengan mudah memaafkanmu. Persetan dengan alasan 'takut terluka' milikmu. Sakit hati harus dibayar dengan sakit hati. Jika perlu, aku ingin melihatmu sekarat karena sakit hati, tepat di depan mataku. Aku bukan pribadi lembek yang bisa kau permainkan dengan akal licikmu. Jika kau mau sendiri seumur hidupmu, silahkan. Hiduplah dalam duniamu, dan matilah bersama permainan busukmu. Aku bisa menyakiti diriku berkali-kali, sebanyak aku mau, tapi tidak akan kubiarkan kau atau siapapun menyakitiku!" Aku memicing pada kakak Byakuya, dan bangun dari ranjang, berdiri tegak dengan segala tekad yang aku punya, dan tanpa ragu lagi aku menarik kembali jarum infus yang baru saja tertanam di tanganku.

Ulquiorra terbelalak, tangannya terjulur dan hendak meraihku, tapi aku menepisnya, aku begitu jijik melihat semua sandiwara berkepanjangan ini. Ini bukan duniaku, aku tidak pernah bisa hidup dalam dunia yang penuh kepura-puraan seperti ini.

"Aku jiwa bebas yang tidak akan terkekang oleh tata krama bangsawan ataupun perasaan cinta yang hanya dipenuhi omong kosong!" tandasku sambil mengangkat tanganku yang masih berdenyut sakit.

Kedua alis kakak Byakuya tertaut, pikirannya tercermin dalam wajahnya. Tidak percaya, bingung, bahkan dia meringis seolah merasakan nyeri ketika jarum infus tertarik paksa dari tanganku.

"Terima kasih atas semuanya!" ucapku tenang, dan saat itu juga mendapati senyum lembut Ulquiorra. Binar dalam matanya seperti menyatakan kelegaan. Lega?! Yang benar saja! Dia lega karena aku menunjukkan semua kebencianku padanya?

Semakin lama aku tinggal, semakin gila aku karena berusaha mengartikan raut wajah Ulquiorra. Dendam dan kebencianku padanya semakin menggunung setelah melihat senyum di wajahnya. Dia tengah menertawakan sakit hatiku. Dia sedang mencemooh sakit hatiku.

Segera saja aku melangkah pergi, membiarkan dua orang itu saling bertukar pandang. Ulquiorra masih tenang, sementara kakak Byakuya berteriak memanggil namaku berulang kali, tapi aku tidak peduli, aku berlari menabrak beberapa orang di koridor rumah sakit dan masuk ke lift yang hampir menutup, membiarkan wajah marah bercampur bingung kakak Byakuya terpampang padaku sebelum pintu lift tertutup rapat.

Dengan begini usai sudah semua. Aku tidak akan lagi merasa sakit, tidak ada lagi kekangan aturan bangsawan, tidak ada lagi perasaan terluka karena terbuang. Aku sudah terbuang sejak aku dilahirkan, luntang-lantung tanpa orang tua, hidup di jalanan adalah harga mati untukku. Berasal dari jalanan, dan tiba-tiba hidup sebagai bangsawan lalu mengalami permainan cinta. Semua itu hanya ilusi sesaat yang harus aku akhiri. Sekarang juga!

Aku menerobos langit yang menumpahkan hujan, membiarkan tubuhku menggigil terbasuh air hujan dan dinginnya angin yang berhembus. Hanya sekali ini, hanya sakit ini yang akan aku alami, dan aku akan kembali berdiri tegak.

.

.


.

.

"Kau yakin?"

Aku mengangguk dalam dan melihat jelas kebingungan di wajah Yammy.

"Bukannya kau hidup enak di sana?" tandas Szayel dengan mata memicing rapat.

Aku hanya mengendikkan bahu cuek. Si badan besar sepertinya tidak rela menerimaku, dia terlihat sangat berat menerimaku. Jujur saja, aku langsung datang ke tempatnya begitu kabur dari rumah sakit, membiarkannya iba melihatku yang basah kuyup dan gemetar kedinginan. Setelah mandi air hangat dan meminjam baju Szayel (yang jujur saja luar biasa kebesaran di badanku, tapi jauh lebih baik dari pada telanjang) dan sekarang aku sedang duduk di ruang tengah apartemen sempit mereka dan duduk di hadapan dua orang yang membalalak galak padaku, tapi aku cuek saja sambil memeluk selimut rapat-rapat ke tubuhku.

"Lalu?"

Aku menyeruput teh hangat di depanku sebelum menjawab mereka. "Tampung aku selama satu bulan, begitu aku terima gaji pertamaku, aku akan menyewa tempat sendiri dan membayar sewa selama aku menumpang. Bagaimana?"

Yammy menggeleng berat, terlihat sekali berbeban dan iba, tapi banyak sekali pertimbangan yang sedang berputar di kepalanya, karena kerutan di dahinya bertambah banyak, menunjukkan betapa kerasnya dia berpikir.

"Ngomong-ngomong, Nnoi tidak dipecat 'kan?" celetukku santai dan meluruskan kakiku yang terasa akan kesemutan karena terlalu lama aku peluk ke dada.

Szayel yang paling pertama bereaksi, dia menjitak kepalaku, persis seperti Nnoitra, tapi dia jauh lebih lembut. Aku sadar dengan seluruh hatiku, bahwa kelembutan yang ia berikan padaku adalah wujud perasaan lain yang ia miliki untukku. Saat aku membawa Ulqui... Argh! Aku ingin menyerapah setiap kali melafalkan nama itu, sekalipun hanya dalam benak, aku merasa itu begitu menyesakkan.

"Kau selalu bertindak tanpa pikir panjang. Kau tahu kalau Nnoi akan langsung kabur ke tempatmu begitu kau meneleponnya dengan isakan tangis cengengmu itu! Kenapa kau tidak meneleponku? Kau tahu aku kerja shift malam, kan?" cecar Szayel kesal, dan aku mengendikkan bahu lagi seraya tersenyum.

"Kau tidak akan memakiku seperti Nnoi, jadi aku tidak meneleponmu!" candaku.

Yammy memijat sisi kepalanya, dan dia menghela napas lagi dengan mata terpejam.

"Ok! Kau kami terima, tapi tidak tinggal di sini!"

"Dimana?" rengekku.

"Tempat Nnoi! Di sini sudah terlalu sempit, aku sudah berdua Szayel, jadi tidak perlu tambahan penghuni."

Aku memonyongkan bibir, sepertinya Nnoi tidak bisa menerima makhluk asing ke rumahnya. Soalnya dia terkenal sering membawa pulang perempuan. Aku tahu kalau kebutuhan sex Nnoi jauh lebih tinggi dari siapapun di antara kami semua, jadi dia tidak ingin siapapun menonton kebiasaannya.

"Yammy! Kau mau mengumpankan Rukia pada Nnoi?" sembur Szayel tidak terima, yah... jujur saja aku juga tidak ingin merisikokan badanku sendiri.

"Nnoi sudah punya pacar tetap sekarang, jadi kalian tidak perlu takut begitu!"

"Beneran?" seruku dan Szayel bersamaan. Aku kira cuma aku yang tidak tahu perkembangan di Hueco Mundo.

"Nnoi sengaja cuma bilang padaku," jawab Yammy bijak.

"Jadi kau pikir dengan kondisi ini, Nnoi bisa menerima Rukia?" tegas Szayel lagi, dan Yammy mengangguk penuh keyakinan.

"Dia tidak akan menolak, dan pasti akan menjaga Rukia baik-baik. Kalau dia berani menyentuh Rukia, dia seharusnya tahu konsekuensi apa yang harus dia terima!" ancam Yammy dalam nada tenangnya, dan anehnya dia melirik Szayel juga. Ya, ya, ya, aku tahu kalau Szayel tidak akan tinggal diam jika Nnoi berani menyentuhku.

"Kau bisa dengan mudah diterima di sini, tapi bagaimana dengan keluarga bangsawanmu?" Yammy berbalik menyerangku sekarang.

"Kukira tidak akan ada yang keberatan dengan kepergianku, karena secara garis besar aku tidak cukup membanggakan sih! Tapi mantan kakakku, Byakuya, sepertinya paling tidak rela, dan dia adalah kepala keluarga Kuchiki, jadi mau tidak mau anggota keluarga lain harus mendengarkan titahnya!" jelasku.

"Kalau dia memaksamu kembali, apa yang akan kau lakukan?" desak Szayel.

"Aksi pemberontakkan. Itu paling ampuh, lagipula dia pasti tertekan kalau harus menghadapi semua orang di keluarga besar Kuchiki hanya karena ingin mempertahankanku."

Yammy dan Szayel mengangguk bersamaan.

Aku sedikit lega, karena mereka adalah orang-orang baik yang rela menerimaku setelah aku meninggalkan mereka. Semua ini membuatku semakin sadar dengan asal muasalku sendiri. Aku besar hidup di Hueco Mundo, kehidupan keras adalah makanan sehari-hariku, berjuang untuk tetap bisa makan dan bernapas, bukan terbuai dalam segala macam kesenangan dan kemudahan di dalam lingkungan nyaman.

Selamat tinggal kehidupan bangsawan, dan selamat tinggal cinta penuh omong kosong!

.

.


.

.

"Rukia, antarkan pesanan untuk Pak Urahara!" pekik Pak Kenpachi, membawa dua kardus ukuran besar dengan tulisan, Toko Buah Kenpachi.

"Pak Urahara pesan semua buah ini, Pak?" tanyaku agak kaget.

"Iya, dia sekarang buka bisnis jus buah!" jawab Pak Kenpachi seraya menulis nota, sementara aku mengambil motor dan membawanya ke dekat kardus, memasukkannya ke dua box yang ada di kanan dan kiri jok belakang motor.

Aku bekerja di toko buah Pak Kenpachi lagi. Pria sangar ini berhati baik, dan melihat riwayat kerjaku yang lumayan bagus, dia memberikan kesempatan padaku untuk bekerja lagi. Dia bahkan menambah honorku, dan membiarkanku kerja lembur untuk menambah penghasilan agar bisa menyewa tempat tinggal, karena jujur saja aku tidak enak harus menumpang di tempat Nnoi, apalagi sampai sebulan penuh. Pacarnya sering kali melotot padaku setiap kali Nnoi datang menjemputku di toko buah setelah aku pulang kerja lembur. Habisnya Nnoi menurunkan pacarnya di pinggir jalan, yah... walaupun rumah pacarnya memang dekat dari toko buah Pak Kenpachi, tetap saja sebagai seorang cewek pasti merasa tidak suka diperlakukan begitu.

"Ini notanya!" kata Pak Kenpachi seraya menyodorkan selembar kertas padaku.

"Siap, Bos! Aku berangkat!" ucapku seraya menyalakan motor dan langsung menggasnya keluar dari parkiran toko.

Toko Pak Urahara hanya berjarak sepuluh menit dari toko Pak Kenpachi. Aku kira pria dengan topi dan sandal geta itu hanya akan berdagang benda-benda aneh, tapi dia melebarkan bisnis sampai membuka toko jus buah. Mungkin dia punya lowongan kerja paruh waku di toko jus buahnya. Lumayan untuk menambah penghasilanku.

Jujur saja aku merasa jauh lebih tenang. Dua minggu ini aku sudah menjalani kehidupanku sebagai seorang Rukia, hanya Rukia. Tidak ada gangguan dari keluarga bangsawan yang sudah kubuang namanya. Tadinya kukira mantan kakakku itu akan mengirim orang untuk menyeretku kembali ke rumah mewahnya, yah... wajahnya yang terakhir kali kulihat seperti terlihat akan bertindak begitu sih, tapi syukurlah dia tidak berlaku ekstrim. Mungkin dia juga dijegal anggota keluarga yang lain, yang justru bersyukur karena aku sudah hengkang dari silsilah keluarga.

Aku membunyikan klakson motor dua kali, membuat seorang pelayan toko jus buah menyambutku. Wajah cerah Ggio tidak bisa kusangkal lagi, aura tampannya menguar layaknya bau sampah di penampungan. Dia seumuran denganku, dan selalu tersenyum cerah pada setiap orang yang datang ke toko, makanya Pak Urahara awet memperkerjakan dia. Berhubung Ggio juga lumayan tampan, jadi banyak menarik konsumen perempuan Hueco Mundo yang haus melihat cowok-cowok tampan dan ramah. Kebanyakan karakter cowok di Hueco Mundo ya seperti Yammy, atau Nnoi. Sangar, terlalu kurus atau telalu besar, he he he

"Rukia? Kukira Szayel bohong waktu cerita kalau kau kembali!" seru Ggio seraya meninju bahuku, padahal aku dalam posisi akan turun dari motor, hampir saja aku kehilangan keseimbangan tubuh.

"Aku hanya liburan sebentar beberapa bulan kemarin. Nanti aku juga akan sekelas lagi denganmu!" candaku seraya menurunkan kardus dari box kanan motor, dan Ggio mengambil yang di kiri.

"Kau liburan kemana? Kudengar kau malah diadopsi keluarga bangsawan."

"Tidak jadi, mungkin karena melihat aku yang terlalu begajulan!" candaku.

"Makanya kau harus lembut sedikit," sahut Ggio

"Lembut? Memangnya aku ini whip cream!"

Ggio tertawa lepas mendengar sahutanku, dan mengisyaratkanku agar mengikutinya.

Kami lewat bagian samping toko, sengaja agar tidak mengganggu pelanggan toko jus. Kami langsung ke dapur dan meletakkan kedua kardus di dekat kulkas.

"Ini notanya!" aku memberikan nota pada Ggio

"Kau tunggu di sana dulu, aku akan minta uangnya pada Pak Urahara!" ucapnya seraya menunjuk kursi kosong di dekat counter tempat pelayanan pesanan.

"Ok!"

Aku yang sudah hendak melangkah, malah membujur kaku melihat seseorang dengan rambut model cepol dan berbadan mungil yang duduk di tengah toko, dengan santai menyeruput segelas jus berwarna merah dengan satu porsi kue. Aku sontak bersembunyi di balik counter, menaikkan kepala sedikit untuk melihat sekeliling toko, memeriksa apakah ada orang lain yang aku kenal dan tidak seharusnya berada di Hueco Mundo. Lama aku memantau, tapi aku tidak melihat siapapun lagi selain dia.

Aduh... bagaimana ini? Kalau aku keluar dari persembunyian, maka dia langsung tahu kalau aku di sini. Tapi kenapa juga aku harus bersembunyi? Aku bukan penjahat, dan aku tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Keluar atau tidak? Lagipula mungkin saja dia sedang iseng main di sini. Tapi orang Karakura main di Hueco Mundo? Terlalu tidak mungkin! Tidak masuk logika sama sekali!

Lalu aku harus bagaimana? Keluar dari pintu samping saja, terus minta uangnya langsung ke kantor Pak Urahara saja, jadi aku tidak per-

"Rukia! Kenapa kau di situ? Kan sudah kubilang tunggu di sini!"

Aduh, Ggio...

Begitu Ggio menyerukan namaku, si cepol langsung menoleh ke Ggio, membuatku mau tidak mau berdiri tegak dan dalam sekejap melihat orang yang aku hindari menoleh ke arahku. Aku sedang mempertimbangkan aksiku, eh tahu-tahu Ggio sudah memutuskan aksiku tanpa izinku.

"Kuchiki?" suara kecil itu menyebut mantan gelar di namaku, dan sontak aku pura-pura kaget.

"Senna? Kenapa kau ada di sini?" tanyaku sambil garuk-garuk kepala, melangkah berat mendekati Senna.

Ggio agak bingung melihatku dan Senna bergantian. Matanya yang berwarna terang, bertemu dengan mata Senna, membuat Senna agak terperanjat ketika pandangan mereka beradu. Ada sesuatu yang membuatku bertanya-tanya dari cara Senna melihat Ggio. Ada apa?

"Ehem!" aku berdehem pelan, membuat perhatian keduanya pecah, dan aku langsung menjulurkan tangan pada Ggio, menagih uang yang seharusnya aku terima.

"Maaf, Ru. Ini! Sekalian Pak Urahara memberikan tip untukmu," ucap Ggio dengan mata melirik Senna penuh ketertarikan. Aku tersenyum simpul, sepertinya ada sesuatu yang harus aku hindari. "Ini temanmu?" tanya Ggio lagi, dan aku hanya tersenyum tipis, karena aku tidak ingin mengakui ataupun menyangkalnya. Aku tidak ingin merasa memiliki atas apapun yang pernah aku alami di Karakura, sekalipun itu hanya sebutan 'teman'

"Senna!" jawab Senna dengan tangan terulur pada Ggio.

"Ggio!" sambut Ggio dengan senyum jauh lebih lebar.

"Oh, ya Senna. Bukan hal biasa melihatmu di Hueco Mundo!" kataku, menyela acara tukar tatapan penuh makna dua orang di depanku. Senna terlihat agak tidak enak, tapi Ggio masih saja berdiri dengan mata penuh pesona. Iih, anak ini sedang menebarkan pheromone, dan berita buruknya Senna sudah terjaring!

"Ggio..." panggilku sok manis.

"Kenapa, Ru?" ucapnya santai dan tenang, seolah tidak merasa kalau aku sedang berusaha memisahkan mereka berdua. Aku hanya tidak ingin melihat potret lain diriku, ketika dua orang dari dunia berbeda harus mengalami perasaan yang tidak pernah menemui titik temu.

"Kau tidak merasa kalau Pak Urahara membutuhkanmu di dapur?" lanjutku, dan Ggio langsung kalang kabut berlari meninggalkanku. Jujur saja Pak Urahara jauh lebih tegas dari Pak Kenpachi, karena Pak Urahara lebih perhitungan dari pak Kenpachi. Dari pada risiko dipecat, Ggio memilih meninggalkan acara tebar pesonanya, dan meninggalkanku berdua saja dengan Senna di tengah toko.

"Aku mencarimu," ucap Senna dengan wajah penuh kelegaan.

"Mencariku?" ulangku agak tidak percaya. Yah... karena aku berpikir yang paling masuk akal, adalah orang dari keluarga Kuchiki yang mencariku, tapi kenapa malah teman sekelasku yang datang ke sini?

"Kau lupa liburan ke onsen?"

Aku sontak mengernyitkan alis dalam-dalam. "Bukannya kalian sudah pergi dari beberapa minggu lalu? Apa hubungannya kalau aku lupa?" kataku tidak mengerti, karena seharusnya mereka ke onsen sudah dari dua minggu lalu, tepatnya dua hari sejak aku kabur dari rumah sakit Karakura.

"Kami menunda acara ke onsen karena kau tiba-tiba menghilang. Aku, Keigo dan yang lain juga ikut meminta penundaan. Kami sampai harus meminta Pak Omaeda memohon pada komite sekolah. Kau dan Ulquiorra yang membuat kami bisa liburan ke onsen, karena itu kami tidak ingin pergi jika kau tidak ada," jelas Senna dengan wajah merana, membuatku makin tidak percaya dengan penuturannya.

"Bagaimana dengan Ulquiorra?" tanyaku penuh selidik.

Wajah Senna berubah makin murung. Sebenarnya aku tidak ingin menyebutkan nama itu, tapi ternyata semua tidak terhindari. Bertemu orang dari Karakura, berarti berputar pada cerita tentang sekolah, keluarga Kuchiki dan yang paling aku benci adalah, Ulquiorra. Namun aku selihai mungkin menyembunyikan semuanya dalam hatiku, cukup hanya dalam hatiku. Tidak perlu ada orang lain yang akan membuatku membahasakan sakit hatiku dalam tiap helaan napas.

"Informasi dari Bu Matsumoto, Ulquiorra pergi ke luar negeri bersama keluarganya, dan baru kembali akhir bulan. Lagipula semuanya sudah terbiasa dengan ketidakhadiran Ulquiorra, dan yang aku juga agak kaget... Uryuu ikut meminta penundaan acara liburan," tutur Senna lagi.

Aku tidak mengerti kenapa mereka begitu ngotot agar aku hadir dalam acara liburan ini. Mungkinkah ada pengaruh dari keluarga Kuchiki? Karena secara garis besar aku ini bukan seseorang yang bisa sehebat itu mempengaruhi satu kelas, terlebih lagi aku hanya anak baru. Mereka seharusnya bisa dengan mudah meninggalkanku, melupakanku, karena aku bukan bagian dari mereka sejak awal. Kalau memang ini bagian dari konspirasi Kuchiki Byakuya untuk membawaku kembali ke Karakura, maka dia salah. Aku tidak akan kembali.

"Apakah ada anggota keluarga Kuchiki yang mendesak kalian?" tembakku tanpa ba bi bu lagi. Aku hanya ingin tahu alasan yang sesungguhnya. Jika ini memang ancaman dari keluarga Kuchiki, atau dengan kata lain adalah cara mantan kakakku itu untuk menyeretku kembali ke keluarga bangsawannya, maka aku harus menghindarinya.

Senna menggeleng cepat, wajahnya tidak menyiratkan ketakutan sama sekali. Dia terlihat sangat tenang, bahkan dia sempat terlihat kaget ketika aku menyebutkan nama yang pernah disematkan di namaku.

"Tidak ada, memangnya kenapa harus ada anggota keluargamu yang mendesak?" tanya Senna, malah membuatku salah tingkah. Aku seharusnya tidak asal bicara, karena Senna pasti tidak tahu kalau aku sudah tidak menyandang nama Kuchiki. Jadi sebaiknya aku jangan memulai apapun.

"Ketua kelas pernah bertanya pada kakakmu mengenai keberadaanmu, tapi dia bilang kau sedang tidak ingin diganggu, jadi aku berinisiatif mencarimu di Hueco Mundo. Maaf, aku melihat data dirimu dari database sekolah. Illegal sih, tapi kami punya cara apalagi?"

Aku tersenyum lega. Ternyata tidak seburuk yang aku perkirakan. Jadi sekarang aku menjadi satu-satunya orang yang mereka tunggu untuk pergi liburan. Solidaritas yang terlewat kuat untuk orang baru sepertiku, bahkan rasanya agak tidak wajar.

"Ok, aku akan datang ke acara liburan. Kapan?" kataku setelah berpikir agak lama, karena jujur saja aku tidak ingin membahas ini lebih lama lagi. Pak Kenpachi bisa marah-marah padaku, karena aku terlalu lama mengantar dua dus buah, dan hanya ke toko Pak Urahara.

"Besok lusa bisa? Aku akan kabarkan pada yang lain. Kita semua bertemu di halaman sekolah jam 8 pagi. Bisa?" senyum sumringah Senna membuatku sedikit merasa bersalah.

"Ok," jawabku cepat, dan mataku melirik kanan kiri toko yang didatangi dua orang pria sangar dengan tato disekujur tubuh. Aku kenal betul siapa mereka ketika melihat tindikan di bibir dan ujung alis mereka. "Aku akan datang, dan sebaiknya kau cepat pergi, tempat ini tidak cocok untukmu. Kau dengan siapa ke sini?" tanyaku penuh waspada.

"Ada supir yang mengantarku," sahut Senna lagi.

"Ayo!"

Aku menarik tangan Senna, membawanya keluar toko, dan dua orang pria tadi memperhatikan kami dengan mata buas mereka. Tapi aku balas memicingkan mata pada mereka, sengaja aku mengantar Senna sampai di mobil, dan setelah melihat dia cukup aman berada di mobil, aku bergegas kembali ke motorku, dan menggasnya habis-habisan untuk bisa menutupi waktu yang aku pakai untuk mengobrol dengan Senna.

Kembali ke Karakura, aku pastikan ini untuk yang terakhir kali. Anggap saja aku berhutang hadiah perpisahan pada teman sekelasku, jadi setelahnya aku bisa menghapus kehadiranku dari mereka dengan mudah.

.

.


.

.

Seluruh wajah penghuni kelas hadir di dalam bis. Hanya satu orang yang tidak ada, dan aku pikir tidak perlu menyebutkan namanya. Seperti biasa, Keigo yang paling berisik, dia menyanyikan lagu tidak jelas dengan gayanya yang sama tidak jelasnya, dan ini jadi hiburan berharga. Kegilaan Keigo membuat Uryuu berteriak keras memintanya diam, yah... sang ketua kelas memang tidak menyukai keributan. Tapi ini liburan, bukan kelas, jadi seberapa banyakpun Uryuu berteriak, dia tidak akan digubris. Terlebih lagi Keigo niat sekali dengan membawa gitar bersamanya. Seisi bis menertawakannya, tapi dia cuek saja.

Perjalanan menuju onsen menjadi tidak terasa karena kami tertawa sampai perut sakit melihat parodi yang diperankan Keigo dan teman-teman gilanya, Hanatarou juga ikut-ikutan menari bersamanya. Padahal kukira dia cowok pemalu, ternyata punya sisi liar juga ya.

"Pembagian kamar sudah tertera dalam brosur yang kalian pegang. Acara bebas sampai makan malam, kita akan berkumpul di halaman untuk acara kembang api. Jangan lupa pakai yukata kalian," jelas Pak Omaeda agak emosi, melihat anak-anak sekelas tidak ada yang mendengarkannya bicara keras-keras, semuanya sibuk mengagumi onsen yang begitu asri dengan penataan tanaman bambu, bonsai dan berbagai macam bunga yang memberi kesan tentram menyejukkan.

"Jangan ada yang keluar onsen tanpa izin ketua kelas atau wali kelas. Kalian mengerti?" Pak Omaeda kembali menguras oksigen di paru-parunya, tapi lagi-lagi tidak ada yang merespon. Aku mendengarkan dengan baik sih, tapi sepertinya tidak perlu menjawabnya, soalnya kalaupun kami terpisah, kami masih bisa pulang ke rumah masing-masing.

"Uryuu! Kau tanggungjawab atas keutuhan warga kelasmu!" pekik Pak Omaeda yang sudah kehabisan stok sabarnya. Dia tidak lagi berteriak, karena sudah cukup ngos-ngosan gara-gara bicara tanpa pengeras suara. Uryuu tidak menjawabnya dengan sopan, hanya mengangkat tangan dan mengacungkan jempolnya. Para penghuni kelaspun langsung berpencar, menyeret tas dan koper mereka menuju kamar yang sudah di tentukan.

"Jangan menggunakan onsen campuran! Itu khusus untuk keluarga!" tambah Pak Omaeda lagi.

"Siap, Pak!" pekik Keigo dengan seringai mencurigakan.

Pak Omaeda menggeram kesal, dan berkata, "Khusus untukmu, Keigo, kau akan kuawasi sepenuhnya. Awas kalau kau berani mengintip onsen khusus perempuan!" ancam Pak Omaeda, dan Keigo nyengir lebar, menunjukkan bahwa ia sudah siap kucing-kucingan dengan Pak Omaeda. Dia memang cowok mesum yang tidak akan melewatkan kesempatan emas begini.

"Kuchiki!"

Aku tidak ingin mengakui ketika nama itu digunakan seseorang untuk memanggilku, tapi itu adalah nama yang harus kusandang sampai besok, sebelum perpisahan 'resmi' karena aku harus kembali ke kehidupanku yang sebenarnya.

"Ada apa B-Nona Matsumoto?" aku meralat ucapanku sebelum ia mencak-mencak karena aku telah membuatnya terkesan lebih tua dari umur yang seharusnya.

Wanita dewasa berbadan seksi itu meraih sesuatu dari saku celana pendek super ketat yang ia gunakan. Aku mendekatinya, karena ia mengulurkan tangan padaku.

"Sepertinya ini milikmu, petugas kebersihan sekolah memberikannya padaku kemarin. Dia bilang menemukannya di bawah lokermu saat ia menyapu ruang loker dua bulan lalu," ucapnya seraya menyerahkan sebuah kantong plastik yang persis plastik obat. Aku menerimanya, dan mengangkatnya hingga sejajar dengan jarak pandangku. Aku melihat sebuah cincin berwarna burgundi, warnanya transparan memperlihatkan tulisan 'Rukia' dengan gaya tulisan klasik dan luik-liuk indah bermotif gotic. Cincin ini belum pernah aku lihat sebelumnya, aku tidak ingat pernah punya cincin seperti ini.

"Ini bukan punyaku," jawabku seraya menyodorkannya kembali pada dokter unit kesehatan sekolah itu.

Dia menyatukan alisnya yang tebal, lalu berkata, "Tapi ada namamu di sana."

"Tapi aku tidak pernah punya cincin seperti itu. Bisa saja cincin itu berisi kutukan dari orang yang membenciku," ucapku asal, dan Bu Matsumoto seperti terperanjat, sepertinya aku sudah salah ucap. Tapi apanya yang salah? Kutukan? Apa dia sensitif dengan kata kutukan?

"Baiklah..." helaku berat.

Aku tidak ingin memperpanjang diskusi ini dengannya, makanya aku memutuskan untuk menyerah, anggap saja ini hadiah yang tak terduga, aku bisa menjualnya untuk menambahkan biaya sewa tempat tinggal yang sedang aku kumpulkan. Diskusi lama-lama dengan wanita ini hanya menyita waktu, tidak perlu aku memberikan kesan baik padanya. Aku membuka plastik dan mengeluarkan cincin, lalu meraih kalung yang aku kenakan, menyatukan cincin burgundi itu dengan bandul berbentuk bulan sabit di kalungku.

"Dengan begini selesai, kan?" tandasku dengan tangan menganggkat bandul kalungku yang sekarang ada dua.

"Kau ini memang siswa yang sulit berlaku sopan ya?" celetuk Bu Matsumoto meledek, dan aku hanya nyengir lebar, berpura-pura terhibur dengan candaannya.

"Anda sepertinya cukup mengenalku, he he he... Dah... Ibu dada big size," selorohku sebelum pergi menyusul Senna,

"Jangan bercanda dengan cara begitu, Kuchiki!" pekik Ibu Matsumoto marah, mungkin dia marah aku sebut berdada besar. Yah... Keigo kan selalu mengidam-idamkan bisa memeluk dadanya, jadi aku hanya menyuarakan kebenaran dari khayalan para cowok kebanyakan...

Aku dan Senna ditakdirkan sekamar untuk acara kali ini. Aku sih berharap tidur sendiri, karena menurut penuturan Nnoi, aku kalau tidur meninju dan menendang apapun yang ada di dekatku, aku sih tidak heran, karena aku selalu mimpi buruk sejak aku pergi dari Karakura.

Kamar kami cukup luas untuk dihuni dua orang. Jika membandingkan onsen yang aku datangi sekarang dengan pemandian umum di Hueco Mundo, euh… fasilitas onsen untuk orang kelas atas memang berbanding seperti surga dan neraka. Jadi kamar kami bisa dibilang kamar pribadi dengan onsen pribadi, dan kami diberikan pilihan jika ingin memakai pemandian umum untuk perempuan.

"Cuma beberapa kamar yang dapat fasilitas seperti ini, Kuchiki," celetuk Senna yang sepertinya menangkap dengan jelas kekaguman di wajahku.

"Maksudnya?" tanyaku balik bingung, dan dia tersenyum lembut menenangkan. Hah... orang dari kalangan sepertinya memang selalu memberikan efek air mengalir yang membuatku kesal, karena dengan mereka menunjukkan wajah begitu, aku jadi sulit untuk membaca apa yang ada dibenak mereka.

"Kamar yang ada fasilitas onsen pribadinya ya hanya kamar ini, juga kamar Uryuu yang seharusnya dia huni bersama Ulquiorra, dan kamar para guru."

"Kenapa begitu?" tanyaku cepat, sekalipun aku merasa sedikit sengatan sakit ketika nama orang itu Senna ucapkan, tapi walau bagaimanapun aku berusaha tidak menunjukkannya.

"Sst... Layanan ini khusus untuk para pahlawan kelas saja," bisik Senna dengan wajah malu-malu, dan aku hanya mengangguk dalam dengan senyum-senyum sekenanya.

Hanya untuk pahlawan kelas?

Mau tidak mau aku teringat euphoria kemenangan kami saat festival sekolah. Hari itu aku merasakan kebahagiaan yang sangat hebat, dan sekarang semuanya terasa begitu getir dalam hatiku. Semua ingatan itu hanya kamuflase, dan akan tertutup oleh sakit hati berkepanjangan yang aku rasakan sekarang seperti sekarang. Sifat pendendamku bukan sesuatu yang bisa aku hilangkan dengan mudah. Maaf saja.

"Kita jalan-jalan yuk! Ada jajanan enak di halaman onsen, soalnya ada festival kecil. Ayo!" Senna langsung menarikku tanpa menunggu jawaban dariku. Padahal aku sedang memeriksa isi tasku, takut ada yang tertinggal, karena jujur saja bajuku terbatas. Aku hanya membawa kaos dan celana pendek, tidak ada baju mewah yang biasa kugunakan selama berada di rumah mantan keluarga adopsiku. Jadi aku biarkan saja tatapan beberapa orang di bis tadi jatuh padaku, mungkin mereka bertanya-tanya mengapa aku mengenai kaos yang sudah pudar?

"Kuchiki!"

Si berisik Keigo berlari mendekatiku dengan satu porsi takoyaki di tangannya. Hanatarou di belakangnya hanya memberikan sebuah senyum melihat aksi temannya yang luar biasa berlebihan itu.

"Akhirnya..." pekik Keigo seraya merangkul bahuku, dan aku hampir tercekik karena tangannya yang terlalu erat menarikku. "Aku kangen berat, kau benar-benar membuatku hanya mampu terpaku pada tubuh mungilmu. Aku rindu, mwuah... mwuah..."

"Euh..."

Aku mendorong wajahnya yang sudah siap-siap membuat wajahku bau takoyaki dari mulutnya. Senna hanya tertawa, bukannya menolongku yang hampir jadi santapan liar Keigo dia malah terlihat senang. Sejak pertama kali bertemu dia, orangnya selalu saja lebay begini, jadi sebel, tapi kalau Keigo menghilang, terasa sepi sih.

"Keigo, kau mau aku depak dari sini? Jaga kelakuanmu!" Uryuu tiba-tiba saja muncul entah dari mana, dia langsung memiting tangan Keigo dan menariknya menjauh dariku.

"Auw... a... a... auw.. Sakit, iya ampun, ampun Pak Ketua!" erang Keigo seraya meringsi kesakitan, wajahnya benar-benar jelek saat meminta amnesti dari Uryuu.

"Rasa'in!" celetukku seraya menjulurkan lidah, dan Senna makin tertawa keras.

"Kau kenapa sih, Senna?" protesku kesal, habisnya dia tertawa terus dari tadi.

Senna menghentikkan tawanya sebentar, dan berdehem pelan untuk menenangkan diri. "Habisnya lucu, dan sepertinya kau memang penghancur kekakuan kami, termasuk Ulquiorra. Kalau kau tidak ada, aku yakin selamanya Ulquiorra tidak akan tersentuh," tutur Senna lagi.

Sejelas itukah?

Aku menunduk dan kembali membiarkan perih itu menjalar sesaat di sekujur tubuhku. Rasa sakit ini... selalu saja hadir setiap kali aku mengingat orang itu, membuat kebencianku semakin menggunung, membuat dendam dalam hatiku semakin menjadi. Aku tidak bisa terima hatiku terus tersakiti seperti ini.

Aku tidak bisa merasa terbuang untuk yang kedua kalinya.

Sejak awal aku tidak memiliki apapun dalam genggaman tanganku. Tangan ini kosong, tidak ada apapun dalam genggamanku. Seberkas debu saja tidak. Aku telah terbangun dari mimpi yang mungkin menggelapkan semua kesadaranku, dan sekarang se-

"Ulquiorra?"

Suara terkejut Senna membuatku terhentak dari pikiranku sendiri, mataku bergerak cepat ke arah Senna, dan penuh ketakutan aku melihat kemana Senna memusatkan perhatiannya. Seluruh sel dalam diriku berhenti bekerja, berganti dengan sengatan duka yang tak pernah aku alami seumur hidupku.

Inikah yang namanya duka mendalam?

Waktu yang berlalu tidak serta merta mengurangi rasa sakitnya. Memangnya sedalam apa aku telah terluka?

Terima kasih telah membuatku merasakannya!

Aku bergegas berjalan menghampiri sosok pucat yang berdiri tenang di seberang Senna, yukata yang ia kenakan rapi dan lengkap. Dia sangat tenang, berbanding terbalik dengan perutku yang seperti diaduk badai tropis. Aku ingin muntah, dan muntah tepat di wajah orang itu, tapi aku tidak akan segamblang itu menunjukkan kebencianku. Lihat saja bagaimana aku akan membalasmu, Ulquiorra.

"A- Aku kira kau tidak akan datang..." Keigo tergagap ketika berusaha menyapa Ulquiorra, dia terlihat masih segan untuk menyapa cowok yang terkenal dengan kesialan juga kutukan yang menyelimutinya ini. Sedangkan aku bukan takut terkena kutukannya, tapi aku mengutuknya dengan segenap hatiku.

Ulquiorra hanya melirik Keigo sesaat, ada aura persahabatan yang ia pancarkan, dan detik kemudian perhatiannya kembali padaku yang semakin mendekat padanya.

"Ehem... mungkin aku tunggu kau di kedai Takoyaki, Kuchiki?" seru Senna sambil berlari dan melambaikan tangan menjauh dariku, wajah cerahnya tersipu. Mungkin dia mengira ini akan menjadi hal romantis, ketika aku dan Ulquiorra bertemu. Omong kosong!

Aku berdiri di hadapan Ulquiorra dan menengadahkan wajahku dengan sangat perlahan.

Angin dingin berhembus, membawa awan hitam menaungi langit onsen. Daun-daun pohon sakura berterbangan melewati kami, membawa debu bersamanya dan menjadikan udara pekat di sekeliling kami. Tidak ada perasaan apapun yang aku rasakan selain kebencian yang memenuhi hati, dendam yang membara dan keinginan untuk menyakitinya detik ini juga.

.

.

To be continue…


.

.

Chapter 4 will upload soon ^^

-:- -:- Nakki Desinta -:- -:-

16.03.2018