Title : He Sees a Darkness but Smile Like a Sun
Genre : Family/Adventure
Pairing : 6927, D18, 8059, slight All27, 1827 (brothership)
KHR © Amano Akira
Warning : OOC!, Twin!Tsuna, Shounen Ai, SoftBashing!Nana, Bashing!Iemitsu
.
Bukan Sawada Tsunayoshi yang menjadi kandidat dari Vongola Decimo, tetapi Sawada Yoshimune. Lagipula mereka hanya tahu bahwa Tsunayoshi hanyalah seseorang yang selalu dikelilingi oleh kegelapan karena ia tidak bisa melihat. Meskipun sebenarnya, merekalah yang tidak bisa melihat, bahwa jiwanya bahkan lebih terang daripada matahari.
{3}
Chap. 3, Melody of the Storm
{3}
"Hibari-san...?"
"Hn..."
"Boleh aku bertanya kenapa aku ada disini?"
"Hn."
Cue sweatdrop.
Entah sudah beberapa kali ia bertanya seperti itu namun tidak pernah mendapatkan jawaban. Yang pasti, bahkan jam pelajaran setelah istirahat sudah selesai sedaritadi, dan ia masih berada di ruangan komite tanpa melakukan apapun. Ia bahkan sempat berfikir kalau Hibari tidak ada disini dan ia sendirian, kalau saja Hibari tidak menjawab pertanyaan Tsuna dengan gumaman kecil.
"Bagaimana caramu untuk belajar?"
"Eh?" Menoleh kembali pada asal suara walaupun tidak mengetahui letak pastinya, "pelajaran di sekolah yang diterangkan oleh guru direkam olehku atau dibuat kembali oleh Kurokawa-san... Dan untuk tulisan di buku, ada seseorang yang kukenal menggantinya dengan huruf braille."
"Untuk ujian?"
"Ha—Hanya lisan," jawabnya. Memang, ia hanya bisa mengerjakan ujian lisan karena ia tidak bisa melihat soal yang dituliskan, "dan terkadang mereka tidak memiliki waktu dan nilaiku pada akhirnya tidak masuk sama sekali—d-dan kau tidak perlu menghajar mereka Hibari-san! M—mereka juga punya pekerjaan jadi tidak apa-apa..."
"Kau terlalu lemah Sawada Tsunayoshi," seolah sebuah panah menancap di dadanya, perkataan Hibari menusuk, "hukuman untukmu. Kau harus berlatih denganku untuk menghindar dari semua seranganku setiap harinya. Dan—setiap ujian, aku yang akan mengawasimu."
...
"HIEEEE!"
{3}
Reborn berada di bandara setelah menggantung Yoshi di kamarnya dan meletakkan beberapa granat di atas lantai agar pemuda itu tidak bergerak sama sekali. Oh, sebelumnya ia juga sudah menembakkan beberapa peluru karet dengan pistol berkecepatan tinggi. Kalau saja Bianchi sudah datang, mungkin ia juga akan memberikan beberapa makanannya untuk dimakan.
"Reborn-san..."
Suara itu membuatnya menoleh dan menemukan pemuda berambut perak yang tampak berjalan dengan sebuah kopor di tangannya. Tersenyum samar, Reborn tampak mendekatinya.
"Ciaosuu. Kau datang tepat waktu, apakah kau sudah membaca tugasmu?"
"Ya, aku akan mengetest Vongola Decimo dan kalau ia tidak layak, kau bilang aku bisa membunuhnya bukan," Reborn hanya mengangguk saja.
"Kau hanya perlu menyerang si bungsu Sawada. Dan jangan menyentuh kembarannya sama sekali." Pemuda itu tampak mengerutkan dahinya dan menatap Reborn penuh tanya. Tentu Reborn sudah menyangka apa yang akan menjadi reaksi pemuda itu, "Sawada Yoshimune adalah targetmu. Bukan Sawada Tsunayoshi."
"Aku tidak pernah mendengar kalau mereka kembar."
"Begitupun aku," Reborn menurunkan topi fedoranya.
"Bagaimana caraku membedakannya?"
"Tsunayoshi Sawada memiliki rambut yang lebih gelap, aura feminim, dan juga yang terpenting adalah ia tidak bisa melihat," pemuda itu tampak mengerutkan alisnya saat mendengarkan kata 'aura feminim' apakah memang separah itu sampai sang hitman mengatakan hal itu. Dan terlebih saat mendengar kata 'tidak bisa melihat', "ia tidak terlibat apapun. Kau hanya perlu mengurus kembarnya saja."
...
"Tenang saja, kau akan mudah untuk membedakannya."
{3}
"Tsu-kun, kau tidak apa-apa?"
Nana tampak menatap kearah Tsuna yang pulang dengan tubuh penuh dengan luka memar. Ia tidak menyangka kalau yang dikatakan oleh Hibari tentang berlatih dengannya itu dimulai hari ini. Dengan pendengaran dan juga 'penglihatan'nya ia harus menghindar dari serangan tonfa milik Hibari. Dan tentu itu tidak mudah.
"A—aku..."
"Sebaiknya kau lebih berhati-hati saat melangkah Tsu-kun," Nana menghela nafas. Tsuna yang mendengar itu tampak hanya bisa diam. Bahkan ibunya tidak memikirkan kemungkinan lain saat melihatnya dalam keadaan seperti ini dan hanya mengira kalau ia terjatuh karena kecerobohannya.
DHUAR!
"Oh my, Yoshi-kun benar-benar belajar dengan keras," jawab Nana mendengar suara ledakan di lantai dua. Tsuna tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh Reborn saat itu bersama dengan Yoshi. Ia hanya menghela nafas dan berjalan masuk menuju ke kamarnya sebelum pada akhirnya beralih menuju ke kamar Yoshi minimal untuk melihat keadaan kembarannya itu.
Membuka pintu, melirik dari sudut pintu untuk menemukan kamar Yoshi yang sangat berantakan karena ledakan. Disana juga tampak Reborn yang masih memegang sebuah benda yang terlihat seperti pemacu dinamit dan Yoshi yang tampak memegang sebuah soal di tangannya.
"Aku hanya salah satu soal! Kau tidak perlu meledakkanku bukan?!" Yoshi tampak menatap Reborn yang tampak tidak perduli dengan apa yang terjadi.
"Aku tidak mengerti kenapa kau bisa mendapatkan nilai yang bagus dengan kemampuanmu seperti ini, soal selanjutnya—" tampak menunjuk sebuah soal yang ada di kertas di tangan Yoshi, tampak mencoba untuk menjawab sebelum matanya tampak bertemu dengan mata Tsuna.
"Apa yang kau lakukan disini dame-Tsuna? Aku muak melihatmu, pergilah!" jawabnya menaikkan nada suaranya dan membuat yang bersangkutan menyerengit seolah merasakan sakit. Reborn yang melihat itu tampak menatap dingin Yoshi sebelum menekan tombol di depannya.
DHUAR!
"HIIIE!" Tsuna tampak terkejut mendengar suara yang besar dan tiba-tiba terdengar itu bersamaan dengan angin yang tampak menekannya. Reborn menatapnya dan tampak menyadari beberapa luka yang ada di tubuhnya. Bukan hanya luka karena pertarungan dengan Mochida, tetapi beberapa luka memar—yang tentu ia tahu bukan karena terjatuh.
"Sebegitu beratnyakah hukuman dari Hibari?"
"E—eh, aku hanya terjatuh seperti biasa ahahaha apa yang kau bicarakan Reborn—" DZIIING! "—san…"
Tsuna tampak memucat saat mendengar peluru yang hampir saja mengenai kepalanya, hanya berjarak beberapa centi dari kepalanya.
"Jangan sekali-sekali berbohong padaku dame Tsuna," Yoshi tampak tertawa melihat wajah useless dari Tsuna, dan kali ini mendapatkan ledakan ganda dari Reborn yang langsung membuat Tsuna menutup pintunya begitu saja.
{3}
"Aku sudah mengirimkan bahan pelajaran yang ada di buku dengan bantuan Kurokawa-san," Tsuna tampak mengangkat telpon yang ada di rumahnya setelah menghubungi seseorang, "u—uh, aku benar-benar minta maaf karena sudah merepotkanmu."
"Nah tidak apa-apa, lagipula sudah kukatakan padamu bukan Tsuna-kun aku hanya perlu melakukan scan dan memakai program untuk mengubahnya ke huruf Braille, tidak akan susah," Tsuna hanya mengangguk, walaupun sudah dikatakan seperti itu tetap saja, "ah aku harus menutup telponnya, ada kiriman datang."
"Ah baiklah, sekali lagi terima kasih Shouichi-kun!" baru saja menutup telpon itu saat tiba-tiba saja tumpukan kertas tampak diletakkan diatas kepalanya, membuatnya sedikit terkejut sebelum merasakan tekanan di bahunya karena Reborn yang naik ke bahunya.
"Menggantikannya dengan huruf brailler sekarang bukanlah hal yang susah dame-Tsuna."
"R—Reborn-san! Apa ini—" mencoba untuk menyentuh kertas yang ada di tangannya sekarang, merasakan tonjolan yang membentuk huruf-huruf brailler yang tentu saja bisa ia artikan. Semakin membacanya, wajahnya semakin pucat karena itu.
"Besok pagi aku akan mengeceknya, dan kau harus mengerjakan semua soal yang ada di kertas itu. Kau harus bisa mengerjakannya delapan puluh persen benar atau—" Tsuna yang mendengarkan suara Reborn yang mendengus dan ia tahu apa itu artinya, "—kau akan tahu kalau kau gagal…"
"HIEEEE!"
{3}
"Tiga puluh persen."
Reborn menatap Tsuna yang tampak masih berada di atas tempat tidurnya meskipun ia sudah memakai seragam. Pukul 6 pagi, Reborn sudah datang ke kamar Tsuna dan mencoba untuk mengecek pekerjaan yang diberikan olehnya. Jangankan delapan puluh persen, bahkan ia tidak bisa mencapai lima puluh persen.
"Dame-Tsuna…"
"HIEE! R—Reborn-san maaf, aku benar-benar tidak bisa mengerjakan soal-soal itu!" Tsuna panik dan mencoba untuk menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya untuk berlindung. Namun sepertinya baik tembakan maupun ledakan tidak muncul dan membuatnya membuka mata.
"Kau belajar lebih daripada orang lain, apa yang membuatmu tidak bisa mengerjakan soal ini?"
"K—Karena, terkadang dari buku tidak semuanya menerangkan caranya, dan suara dari guru ataupun Kurokawa-san terkadang terlalu cepat dan aku tidak bisa memahami semuanya," jawab Tsuna menundukkan kepalanya panik. Dan tentu saja, memang seperti itu yang menjadi kenyataannya.
…
"Kalau begitu bagaimana kalau aku yang mengajarkannya?" suara itu membuat Tsuna dan juga Reborn menoleh kearah suara dimana Fon tampak berada di ambang jendela dan tersenyum kearah keduanya, "Reborn adalah tutor dari Yoshimune-kun, ia tidak akan memiliki waktu untuk mengajarimu. Kau tidak keberatan dengan itu Tsunayoshi-kun?"
"S—suara itu, kau…"
"Namaku adalah Fon, aku adalah teman Reborn. Senang bertemu denganmu Tsunayoshi-kun," Fon menunduk sopan dan tampak menatap Tsuna yang mengangguk dan menundukkan kepalanya juga, "jadi, apakah kau keberatan kalau aku menjadi tutormu?"
"S—seharusnya aku yang menanyakan hal itu Fon-san, aku anak yang ceroboh dan merepotkan, dan aku juga tidak berguna dan juga bodoh. Pasti aku hanya akan menyusahkan—"
PLAK!
Pukulan di dahi Tsuna membuatnya menutup matanya erat. Fon menepuk keras dahi Tsuna sambil berdiri di depannya—diatas meja belajar Tsuna.
"Kau tidak bisa menjadi seperti yang lainnya karena satu keterbatasan. Dan kau tidak pernah mencoba untuk berbicara tentang masalahmu pada orang lain," Tsuna memegangi dahinya dan tampak hanya mendengarkan Fon berbicara, "kalau kau bisa bertahan dengan kekuranganmu hingga sekarang, aku yakin kau masih bisa melakukan banyak hal yang lebih baik."
…
"Terima kasih, Fon-san…"
{3}
"Hari ini kita akan kedatangan murid baru dari Italia, namanya adalah Gokudera Hayato."
Hari itu diawali dengan pengenalan murid baru di kelas Tsuna dan juga Yoshi. Pemuda berambut perak yang tampak memiliki iris berwarna hijau Zamrud dan juga penampilan yang tampak serampangan. Namun, tampaknya kedatangannya sudah membuat beberapa siswi terpesona dengannya. Tsuna sendiri tampak hanya tersenyum dan mendengarkan perkataan dari guru yang memperkenalkannya.
Namun suara sentakan nafas dari semua siswa dan siswi di kelas tampak membuat suasana kelas sejenak hening. Ia jadi penasaran apa yang membuat mereka semua terkejut.
BRAK!
Suara tendangan dan juga benda jatuh juga terdengar dari arah sampingnya. Kalau tidak salah, arah dari meja Yoshi yang berada di nomor dua dari kanannya. Matanya membulat, ia benar-benar ingin tahu tentang apa yang terjadi.
"Hei apa yang kau lakukan!"
"Che, sampai kapanpun aku tidak akan mengakuimu sebagai Vongola Decimo," Gokudera tampak berbicara dengan suara yang berbisik dan pelan, namun baik Yoshi maupun Tsuna masih bisa mendengarkannya dengan baik. Vongola, apakah anak ini ada hubungannya dengan mafia, entahlah.
"Apakah kau kenal dengan anak pindahan itu Yoshi?"
"Entahlah, tetapi ia menyebalkan." Berdecak kesal, Yoshi melihat Gokudera yang tampak masih menatapnya tajam. Tsuna hanya bisa menghela nafas dan tampak mendengarkan guru yang mencoba untuk mencairkan suasana dan kembali melanjutkan pembicaraan.
"Baiklah, karena kita akan melakukan ujian semuanya harap memasukkan buku ke dalam tas," suara 'yaaah' dari para siswa tampak tidak bisa mengubah keputusan sang guru. Menoleh pada Tsuna yang menyusun bukunya, "Sawada—Hibari-san memintamu untuk segera ke Ruangan Komite. Soal ujian sudah berada disana sekarang," Tsuna yang mendengar itu tampak memucat sebelum berdiri dengan segera dan mengangguk cepat. Berjalan cepat menuju ke pintu. Saat menutup pintu kelas, ia akan berjalan namun menabrak seseorang yang berdiri di depannya.
"Anda tidak apa-apa Sawada-san?"
"A—aku tidak apa-apa ehm…"
"Namaku adalah Kusakabe Tetsu, Kyo-san menyuruhku untuk mengantarkan anda karena ia tidak ingin menunggu terlalu lama," Tsuna tampaknya sudah menyangka kalau Hibari tidak akan mungkin mau menunggu lama. Yah, tetapi ia tidak menyangka kalau Hibari akan mengirimkan seseorang untuk itu, "ah, dan kalau Kyo-san sampai menatap anda tajam karena terlalu lama menulis atau menjawab, jangan perdulikan."
Dan saat itu juga Tsuna benar-benar ingin menangis karena perkataan itu.
{3}
Midori Tanabiku Namimori no~ Dainaku Sounaku Nami ga ii~
Suara dari bel yang terdengar itu membuatnya lega dan meletakkan pena di depan meja kecil itu. Ujian yang paling menegangkan yang pernah ia lakukan. Hibari membacakan soalnya dan tampak ia segera menjawabnya. Terkadang Tsuna tampak gugup untuk mengatakan kalau ia tidak begitu jelas mendengar Hibari berbicara dan ingin diulangi kembali.
Namun sepertinya Hibari sendiri mengerti tentang itu dan segera mengulangi apa yang ia bacakan tadi.
Walaupun ujian yang menegangkan, namun ini adalah satu-satunya ujian yang paling bisa ia mengerti dengan jelas. Hibari benar-benar sangat membantu dengan caranya sendiri.
"Se—selesai…"
"Jangan lupakan latihan kita setelah selesai pelajaran herbivore…" ia tidak akan berani melupakannya, ia bisa digigit sampai mati kalau melakukan itu. Tetapi bahkan tubuhnya masih lelah karena latihan kemarin. Hibari benar-benar tidak mengalah dengannya. Tidak membedakannya dengan murid lainnya seolah ia melakukan kesalahan.
Tidak membedakannya…
…
"Terima kasih, Hibari-san…"
Tsuna tersenyum kearah Hibari yang mengambil kertas jawaban Tsuna itu. Entah kenapa mata Hibari membulat dan dengan segera membalikkan tubuhnya menghindari tatapan yang sebenarnya tidak terjadi karena Tsuna tidak bisa melihatnya.
"Kau tidak apa-apa Hibari-san?"
Tsuna tampak mencoba untuk berdiri dan menyentuh Hibari yang saat ini wajahnya sangat memerah. Namun sebelum bisa menyentuhnya tiba-tiba—
DHUAR!
"S—suara apa itu?!" Tsuna mencoba untuk menoleh sekeliling, ia tahu suara itu tidak berasal dari ruangan komite, namun siapa yang berani membawa peledak ke sekolah. Hanya Reborn yang bisa melakukan hal gila seperti itu.
"Herbivore itu…" Tsuna tampak mengerutkan dahinya. Menutup matanya, dan menggunakan 'penglihatan'nya untuk menemukan Hibari yang sudah bergerak keluar dari ruangan. Dengan segera mengikutinya, ia ingin tahu dan intuisinya mengatakan ini berhubungan dengan Yoshi.
{3}
"A—apa-apaan kau ini!"
Yoshi tampak menatap Gokudera yang memegang beberapa dinamit di tangannya. Ia baru saja menunggu anak buahnya untuk datang ke belakang gedung sekolah, saat Gokudera muncul dan tiba-tiba menyerangnya setelah sekali lagi mengatakan kalau ia tidak pantas menjadi seorang Vongola Decimo.
"Aku akan menghabisimu sekarang juga Sawada Yoshimune!"
"Memangnya aku hanya akan diam begitu saja?! Dan bukan kau yang menentukan aku akan jadi boss atau tidak," jawab Yoshi sambil menatap tajam kearah Gokudera.
"Ia memiliki kesempatan itu dame-Yoshi."
Yoshi dan Gokudera tampak menoleh dan menemukan Reborn yang duduk di ambang jendela dengan sebuah pistol ditangannya. Menggerutu pelan, tampak Yoshi yang menatap tajam kearah Reborn karna perkataannya barusan.
"Apa maksudmu Reborn, aku yang seharusnya menjadi boss bukan?! Lagipula siapa dia tiba-tiba saja mengatakan hal tentang Vongola dan ingin menjadi boss Vongola?!"
"Ia adalah pembunuh bayaran paruh waktu yang bekerja dibawah pimpinan Vongola Nono, Smoking Bomb Hayato." Jawab Reborn dengan tenang dan menatap Gokudera yang juga masih menatapnya.
"Apakah benar kalau aku akan menjadi boss Vongola kalau aku bisa mengalahkannya Reborn-san?"
"APA?!"
"Begitulah, kalahkan saja dia dan kau akan menjadi boss Vongola selanjutnya."
"Tunggu Re—"
DHUAR!
Suara ledakan tampak mengagetkan Yoshi saat beberapa dinamit tampak terlempar kearahnya dan meledak di sekelilingnya kalau saja ia tidak menghindar. Yoshi tampak memucat melihat Gokudera yang benar-benar serius dengan apa yang ia katakan.
"R—Reborn, kau adalah tutorku kau harus membantuku!"
"Tidak, kau harus memecahkan masalahmu sendiri dame-Yoshi," mengacungkan senjatanya kearah Yoshi, tampak siap menembaknya, "tetapi Dying Will Bullet yang akan membantumu…"
BANG!
…
"REBORN!" dari tubuh yang tumbang itu tampak seolah terkoyak dan Yoshi tanpa menggunakan apapun selain boxer muncul dengan sebuah flame di dahinya, "aku akan bertahan dari ledakan itu dengan sekuat tenaga!"
Gokudera sedikit tersentak dan melemparkan beberapa dinamit menuju kearah Yoshi.
"Double bomb!"
Dengan segera memukul dinamit itu dan membiarkannya meledak di tempat lainnya. Beberapa kalipun tampaknya tidak mempan dan tampak pemandangan yang ada di sekeliling mereka hancur karena dinamit itu. Berdecak kesal, tampak menatap kearah Yoshi yang ada di depannya.
"Tch Triple—" baru saja akan melemparkan saat tiba-tiba salah satu dari dinamit itu terjatuh dari tangannya. Tampak menyumpah karena dinamit itu akan meledak di depannya, benar-benar kacau—ia bisa mati karena itu.
"Gokudera-kun!" suara itu tampak terdengar sama, namun dengan nada yang berbeda. Menoleh saat melihat tubuh Yoshi yang bergerak kearahnya dan mencoba untuk mendorong tubuhnya menjauh dari dinamit itu. Namun telihat sedikit aneh dengan gerakannya.
"Huh? Dame-Tsu—" Yoshi yang tampak sudah sadar dari Dying Will Bullet tampak menoleh sekeliling sambil berdecak kesal. Ia bahkan sepertinya tidak sadar kalau sudah mendoorng Gokudera dari lajur ledakan itu tepat sebelum dinamit itu meledak.
"A—aku," Gokudera tampak menatap dengan tatapan terkejut sebelum tersenyum lebar pada Yoshi, "aku salah, kau ternyata berhak untuk menjadi Vongola Decimo, Juudaime!"
"Huh?"
"Aku tidak pernah memiliki keinginan untuk menjadi boss Vongola. Tetapi, saat mengetahui kalau yang akan menjadi boss selanjutnya adalah anak seusiaku, aku penasaran dan ingin mengetestnya," Gokudera tampak menggaruk dagunya dan memalingkan wajahnya, "awalnya aku ragu karena perkataan Reborn-san, tetapi sepertinya aku salah! Aku ingin mengikutimu dan melindungimu mulai sekarang Juudaime!"
…
"Jangan bercanda," menatap tajam dan juga dingin kearah Gokudera yang ada di depannya, berdecak kesal saat mendengarnya, "apakah kau fikir aku akan menerima seseorang yang awalnya mencoba untuk membunuhku? Lagipula aku tidak ingin anak buah yang lemah dan juga ceroboh sepertimu!"
Reborn dan Gokudera tampak terkejut mendengarnya, dan menatap Yoshi yang tampak menoleh kearah sekelilingnya.
"Jadi, dimana dame-Tsuna itu?!"
{3}
"T—Terima kasih Hibari-san…"
Tsuna tampak berada di dekat tempat ledakan itu terjadi. Hibari menariknya saat ia menerjang kearah Yoshi dan juga Gokudera. Mendorong Yoshi hingga menabrak Gokudera dan membuatnya tampak menolong Gokudera yang hampir saja terkena ledakan itu.
"Jangan hanya mencoba menyelamatkan herbivore itu. Apakah kau ingin mati?"
"T—tetapi Yoshi membutuhkan guardian," Reborn menerangkan padanya tentang guardian saat hari pertama ia datang ke kediaman mereka, "dan, kalau tidak seperti itu Gokudera-kun akan terluka parah…"
"Dan kau, entah terlalu bodoh atau tidak menyadari kalau tanganmu terluka karena ledakan tadi," Tsuna sebenarnya tentu menyadarinya karena rasa sakit yang menjalar di tubuhnya saat tangannya sedikit terbakar, "obati sekarang. Latihan hari ini dibatalkan, aku tidak ingin melawan seseorang yang sedang terluka…"
"E—eh tetapi aku tidak—"
"Lakukan, atau kamikorosu…"
{3}
'Tetapi beruntung aku tidak perlu berlatih dulu hari ini…'
Tsuna tampak berjalan kearah lorong sekolah yang sepi karena bel sudah berbunyi menandakan waktu pelajaran sudah dimulai. Dengan izin resmi dari Hibari, ia bisa mengobati tangannya dulu baru kembali ke kelas. Ia juga meminta sebuah perban dan juga obat merah untuknya kalau-kalau saja ia membutuhkannya saat pelajaran dimulai nanti.
"Kuharap Yoshi-kun tidak marah padaku…"
Langkahnya terhenti saat ia mendengarkan suara yang ia ketahui berasal dari ruangan yang ada di sampingnya. Mencoba untuk bergerak mencari tempat untuk menggeser pintu di depannya, penasaran dengan suara piano yang ada disana.
'Ini ruangan musik,' mendengarkan bagaimana suara alunan musik itu terdengar merdu dan juga indah, menenangkan namun juga menyedihkan. Ia menutup matanya sejenak untuk menikmatinya, sebelum pada akhirnya ia membuka mata dan menggunakan 'penglihatan'nya.
Penasaran dengan siapa yang memainkannya.
BRANG!
Menutup matanya saat suara piano yang sumbang itu terdengar. Melihat flame berwarna merah, tampak membara dengan kejernihan dan juga jumlahnya—walaupun hanya sekali ia tahu kalau yang ada di depannya adalah Gokudera.
"Tch…"
'Apakah suaranya sumbang karena ia sedang sakit? Mungkin ledakan itu melukainya juga—' Tsuna tampak bisa juga mendengarkan umpatan seperti 'aku berbuat bodoh', 'juudaime tidak menerimaku', atau 'aku tidak berguna'. Menghela nafas, tampak menunduk melihat perban di dekapannya.
Dengan segera mencari sesuatu, sebuah kertas kecil dan tampak meraba pinggirnya untuk kemudian mengeluarkan pulpen untuk menulis. Tulisannya tidak pernah rapi karena ia tidak mengetahui garis pembatas antara baris di kertas ataupun buku. Tetapi, minimal ia tahu kalau ia bisa menulis sesuatu dengan jelas.
Tersenyum, meletakkan perban di depan ruangan itu dan segera berbalik menjauhi tempat itu.
{3}
"Tch, seharusnya aku tidak melakukan itu dan lebih percaya pada Juudaime," Gokudera yang tampak frustasi karena tangannya yang memang sakit karena tadi sedikit terkena ledakan hanya menutup pianonya dan berdiri. Ia memang sering diam-diam memainkan piano saat ia sedih ataupun merasa gagal. Itu mengingatkannya pada ibunya, dengan senyuman yang menenangkan dan juga dengan suara yang menyemangatinya.
"Aku akan tetap melindunginya karena Juudaime sudah menyelamatkan nyawaku…"
Membuka dengan keras pintu itu, tampak akan berjalan sebelum merasakan sesuatu yang tertendang olehnya. Menunduk ke bawah, melihat beberapa perban yang ada disana dengan sebuah kertas terselip diantaranya. Mengambil benda-benda itu dan tampak membaca tulisan yang ada di kertas.
'Permainanmu sangat bagus Gokudera-kun, kuharap kau menyembuhkan tanganmu agar aku bisa mendengarkanmu bermain lagi.'
~Sawada.
Matanya membulat, melihat kearah kiri dan kanan, tidak ada lagi orang lain disana. Melihat nama yang ada disana, Sawada—yang mungkin tahu kalau tangannya sedang sakit dan juga yang paling mungkin bisa berada disana hanyalah—
"Juudaime…"
{3}
"Kuharap aku tidak mengganggu anda Sawada-san, namaku adalah Fon dan aku adalah teman dari Reborn. Aku ingin menjadi tutor dari Tsunayoshi-kun kalau anda tidak keberatan," itulah suara pertama yang Tsuna dengar saat ia kembali ke rumahnya. Dengan segera melepaskan sepatunya dan berjalan kearah dapur dimana sumber suara itu berasal.
"Ah Tsu-kun, apakah kau setuju Fon-san menjadi tutormu? Dia adalah teman dari Reborn," Nana tampak melihat Tsuna yang hanya tersenyum dan mengangguk.
"Y—ya, Fon-san sudah mengatakannya padaku kemarin kaa-chan…"
"Maaf kalau nanti ia akan merepotkanmu Fon-san, ia sering tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar," jawab Nana sambil tersenyum dengan nada yang tidak berubah. Baik Reborn maupun Fon tampak hanya diam dan langsung menatap Tsuna yang hanya tersenyum kecut.
"Apa-apaan Reborn, kenapa dame-Tsuna juga mendapatkan tutor?!" Yoshi yang tampak baru tiba langsung menatap kesal Reborn yang mengalihkan perhatiannya langsung menuju Yoshi, "kukira hanya aku yang akan—"
DHUAG!
"Sebaiknya kau istirahat dan kita akan lanjutkan latihan," Reborn menarik dasi seragam Yoshi dan membawanya (menyeretnya) ke lantai dua, "dame-Tsuna, aku ingin kopi sekarang, aku akan berada di kamar dame-Yoshi…"
Tsuna tampak mengangguk dan tersenyum, membiarkan Reborn lewat.
"Apakah perlu kaa-chan yang membuatkannya Tsu-kun? Kau bisa terluka dan merusak barang-barang kalau memaksakan diri," Nana mendekati Tsuna sebelum Fon bergerak dan berdiri diantara Tsuna dan juga Nana sambil tetap tersenyum.
"Tidak apa-apa Sawada-san, aku akan mengawasinya…"
"Ah, baiklah Fon-kun dan jangan panggil aku Sawada-san, panggil saja maman." Nana tampak tersenyum dan menepuk kepala Fon sebelum berjalan meninggalkan mereka berdua di dapur sendirian. Tsuna yang tadi mematung tampak hanya menghela nafas sebelum berjalan dan akan meletakkan tas di meja makan.
Namun sepertinya kaki kursi tampak berada di depannya, dan ia terlambat menghindar hingga tersandung dan akan terjatuh ke depan sebelum Fon menahannya.
"Kau tidak apa-apa Tsunayoshi-kun?"
"T—tidak apa-apa Fon-san, terima kasih sudah membantuku!" Tsuna mencoba untuk berdiri tegap dan membungkuk pelan sebelum meletakkan tas dan bergegas menuju ke kitchen set dengan meraba-raba bagian yang ada di sekelilingnya.
"Aku bukan hanya harus mengajarimu Tsunayoshi-kun, kau juga bisa mencritakan semuanya padaku," perkataan Fon tampak membuat Tsuna menghentikan gerakannya namun tidak menoleh ke belakang dimana asal suara berasal.
"Tidak apa-apa Fon-san, aku sudah biasa mendengar kaa-chan mengatakan hal itu. Lagipula tidak masalah, selama aku bisa melihat kaa-chan tersenyum dan juga melihat Yoshi-kun senang…" Fon masih melihat punggung Tsuna yang ada dihadapannya.
'Tetapi tubuhmu gemetar, dan kau masih bisa tersenyum saat bahkan keluargamu tidak mengakui keberadaanmu?' Fon tampak hanya menghela nafas samar sebelum tersenyum dan melompat kedepan Tsuna, "aku akan membantumu membuktikan pada mereka, kalau kau bisa melakukan apa yang mereka fikir tidak bisa kau lakukan…"
…
"Terima kasih, Fon-san." Dan sekali lagi, senyuman itu muncul dan benar-benar membuat Fon berfikir kalau Tsuna memiliki senyuman yang mirip dengan Luce dan juga Aria. Ia akan menjadi orang yang hebat—dan ia akan menjamin hal itu.
"Apakah kau ingin minum kopi juga Fon-san?"
"Ah, Bùyòngle xièxiè… aku lebih suka teh, apakah kau ingin mencobanya? Aku akan membuatkannya untukmu…"
"Tentu kalau kau tidak keberatan Fon-san."
{3}
"Hah, kalau ia bahkan dikatakan tidak berguna oleh orang-orang, apa yang membuatmu berfikir ia akan bisa berguna saat masuk ke Vongola?"
Tsuna yang membawa nampan berisi secangkir kopi dan dua cangkir teh miliknya dan Fon berhenti saat mendengar suara Yoshi dari balik pintu. Fon membantu Tsuna dan membuka pintu di depan mereka, dimana Yoshi tampak diikat oleh Reborn seolah sedang diinterogasi.
"Gokudera Hayato memiliki potensi yang bagus untuk menjadi tangan kananmu…"
"Hah, aku tidak ingin seseorang yang dikenal hanya karena pandai bermain piano tetapi tidak kuat menjadi anggotaku apalagi tangan kananku," Yoshi mendengus sambil memalingkan wajahnya dari Reborn. Tsuna tampak meletakkan cangkir kopi didepan Reborn.
"Te—tetapi kukira Gokudera-kun adalah orang yang hebat…"
Yoshi menatap kearah Tsuna.
"Memangnya kau tahu apa dame-Tsuna, bahkan kau tidak bisa melihatnya dan kau langsung bilang kalau ia adalah orang yang hebat?" Tsuna tampak menunduk dan panik. Apa yang dikatakan oleh Yoshi adalah benar, tetapi intuisinya mengatakan kalau Gokudera akan benar-benar menjadi orang yang hebat—dan kalau melepaskannya Yoshi benar-benar akan menyesal.
"Pe—permainan pianonya tidak buruk…"
"Aku bukan ingin membentuk kelompok musik dame-Tsuna, mungkin kalau Hibari, Yamamoto, dan Ryouhei lebih terlihat kuat," Yoshi tampak menyenderkan tubuhnya sambil tersenyum sinis. Tsuna yang mendengar nama Hibari benar-benar terkejut.
"Ka—kau bisa terluka kalau mencoba memerintahnya Yoshi-kun…!"
"Hah, dengan dying will bullet aku pasti bisa mengalahkannya!" Yoshi tampak mendengus percaya diri, Reborn sendiri tampak diam dan meminum kopi buatan Tsuna itu. Tsuna tahu kalau memang seperti itu Reborn akan mengatakan sesuatu.
Fon melihat Reborn yang sepertinya menahan diri untuk melakukan sesuatu pada Yoshi. Menoleh pada Tsuna, ia harus menyelamatkan muridnya saja terlebih dahulu bukan.
"Apakah kau ada pelajaran rumah yang harus diselesaikan Tsunayoshi-kun?"
"A—ah, ya sejarah, matematika, dan juga sastra Jepang—" Tsuna tampak berdiri dan diikuti dengan Fon yang tampak mengangguk dan melompat ke atas kepala Tsuna. Membungkuk sedikit kearah Reborn dan Yoshi sebelum keluar sambil membawa nampan dan kedua gelas tehnya.
"Aku akan membantumu menjelaskan, jangan bergerak dari tempatmu walaupun kau mendengarkan sesuatu," mereka sampai di kamar Tsuna yang berada tepat di samping kamar Yoshi dan duduk di kursi belajarnya.
"Eh?"
DHUAR!
"—HIEEEE!"
{3}
"Selamat pagi Juudaime!"
Itulah yang terdengar saat Yoshi dan juga Tsuna yang ada di belakangnya saat pagi hari mereka membuka pintu rumah. Gokudera tampak tersenyum lebar dan menatap kearah Yoshi yang membulatkan matanya begitu juga dengan Tsuna.
"Kenapa kau berada disini?"
"Aku ingin melindungi anda, bisa saja akan ada seseorang yang mengincarmu saat berangkat ke sekolah!" Tsuna tampak tertawa melihat bagaimana sang pemuda menjadi sangat loyal setelah ingin membunuh Yoshi. Ia tahu, Gokudera bukanlah orang yang jahat.
"Tch, aku tidak perlu. Mungkin saja malah kau yang akan mengincarku lagi," Yoshi berjalan begitu saja diikuti dengan Gokudera yang berjalan di samping kanannya. Tsuna sendiri hanya diam dan berjalan di belakang mereka dan mendengar mereka berbicara.
"Se—selamat pagi Gokudera-kun…"
"Ah, selamat pagi kakak Juudaime!" Gokudera membungkuk juga dan tampak tersenyum lebar walaupun Tsuna tidak bisa melihatnya. Gokudera yang mengingat apa yang dikatakan oleh Reborn tampak tersenyum dan mengamati pemuda itu juga.
"Terima kasih sudah melindungiku kemarin Juudaime!"
"Sudah kubilang, aku tidak berniat untuk melindungimu—lagipula bukan aku yang—"
"Ciaosuu," menoleh saat menemukan Fon dan juga Reborn yang berjalan di dekat mereka, Fon melompat ke atas kepala Tsuna dan Litchi tampak melompat dan melingkar di leher Tsuna. Menepuk kepala Litchi, tampak berjalan kembali sesekali mendengar Fon yang mengatakan untuknya berhati-hati.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, lihat saja Juudaime!"
"Apakah kau fikir aku akan menerimamu sementara keluargamu sendiri tidak yakin dengan kekuatanmu? Aku tidak ingin memasukkan orang yang lemah dan hanya bisa bermain musik kedalam famiglia!"
"Yoshi-kun!" Tsuna tampak mencoba menghentikan Yoshi yang sangat menyinggung perasaan Gokudera. Yoshi tampak tidak perduli dan mendengus. Mendapatkan tendangan telak dari Reborn di leher belakangnya.
"Argh, pokoknya aku tidak mau! Lagipula aku tidak bermaksud menyelamatkanmu kalau saja dame-Tsuna tidak mendorongku!" Gokudera yang mendengar itu tampak menoleh pada Tsuna yang panik karena apa yang dilakukannya ketahuan oleh Gokudera. Yoshi seharusnya mengerti kalau ia melakukan itu agar bisa mendapatkan anggota pertamanya.
"Jadi, yang—"
"Herbivore, apa yang kau lakukan—kalau kau tidak bisa sampai lebih cepat dariku aku akan menggigit kalian sampai mati," suara yang tiba-tiba muncul itu membuat semuanya menoleh untuk melihat Hibari yang tampak muncul begitu saja. Menoleh pada Tsuna yang gugup mendengar suara Hibari, melihat tangan yang sudah diperban.
"Karena kemarin kau tidak berlatih, bukan berarti kau bisa membolos hari ini. Tanganmu sudah sembuh, kalau begitu kita bisa memulai latihan sebelum pelajaran di mulai." Dan bahkan sebelum berteriak, tangan Tsuna sudah ditarik oleh Hibari menjauhi yang lainnya, tentu saja dengan Fon yang berada di atas kepalanya dan Litchi di lehernya.
"HIEEEEE!"
…
Suasana hening sebelum Reborn mengacungkan senjatanya kearah Yoshi.
"Lari sampai ke sekolah atau aku akan menembakmu sekarang juga."
"BAIKLAH-BAIKLAH, JANGAN TEMBAK AKU!" dengan segera berlari dan meninggalkan Gokudera yang menatap kearah dimana Tsuna pergi. Ia sempat melihat perban yang ada di tangan Tsuna, mirip dengan miliknya.
"Apakah…"
{3}
"Dan Hibari-san tidak berhenti bahkan tidak sadar kalau bel masuk sudah berbunyi…"
Setengah jam setelah bel masuk berbunyi, Tsuna baru bisa kabur dari Hibari yang selalu mengatakan kalau ia kurang untuk mencoba bertahan darinya. Tetapi, ia bahkan sudah berusaha lebih keras daripada biasanya, dan tubuhnya masih sakit semua.
"Yah, tetapi aku jadi lebih terbiasa melihat api-api itu dan juga mendengarkan gerakan lebih cermat," menghela nafas, akan berjalan kearah kelas sebelum lagi-lagi suara yang familiar terdengar di depannya. Alunan piano yang sama yang ia dengarkan kemarin, benar-benar selalu membuatnya kagum.
Sekali lagi ia membuka pintu ruangan di sampingnya dengan perlahan, dan mendengarkan suara musik yang semakin terdengar jelas dari sana. Memutuskan untuk diam dan mendengarkan, kali ini tidak ada suara sumbang yang menunjukkan kalau tangan pemuda di depannya ini tidak lagi sakit.
Satu tuts yang ditekan mengakhiri permainannya. Kalau saja Tsuna sedang tidak mendengarkannya diam-diam, mungkin ia akan menepuk tangannya karena permainan itu benar-benar sangat hebat.
"Aku sudah mengabulkan permintaanmu…" suara Gokudera yang seolah berbicara dengan seseorang membuatnya tersentak. Menoleh ke dalam ruangan musik itu namun tidak ada siapapun disana selain dirinya dan juga pemuda itu, "kau yang menulis pesan itu dan memberikanku perban bukan? Kakak Juudaime?"
"M—maaf kalau aku membuatmu salah paham Gokudera-kun…"
"Apakah benar yang dikatakan oleh Juudaime kalau kau mendorong Juudaime untuk membuatnya menjauhkanku dari ledakan itu?" Tsuna tampak ragu menjawabnya, namun tidak ada yang bisa ia sembunyikan lagi. Gokudera sudah mendengar semuanya dari Yoshi.
"Y—ya…"
"Kenapa? Aku hampir saja membunuh saudaramu. Kalau aku tidak menghindar mungkin aku akan berakhir di Rumah Sakit sekarang," Gokudera berdecak kesal, dan Tsuna hanya diam, "tidak ada yang perduli kalau aku terluka atau tidak. Toh, aku memang hanya bisa bermain musik saja dan tidak pantas untuk menjadi calon tangan kanan mafia seperti Vongola."
"T—tetapi aku perduli," Gokudera menatap Tsuna. Pemuda itu bahkan tidak pernah berbicara dengan Gokudera seperti ini sebelumnya, dan ia mengatakan kalau ia perduli padanya? Apakah ia bodoh, "aku akan membantumu menjadi tangan kanan Yoshi-kun, itu yang kau inginkan bukan? Tetapi, jangan melukai dirimu Gokudera-kun…"
"Aku bahkan tidak mengenalmu dengan baik, kenapa kau sampai memikirkan apakah aku terluka atau tidak?"
"A—aku yakin Gokudera-kun akan menjadi seseorang yang hebat," Gokudera tidak pernah mendengar kata-kata itu dari mulut siapapun selain ibunya. Melihat Tsuna tersenyum, tidak bisa dipungkiri kalau ia mengingat senyuman ibunya. Membuatnya tenang dan juga nyaman, "a—aku yang tidak bisa melihat saja awalnya tidak bisa berjalan sendiri pada akhirnya bisa menemukanmu. Kenapa kau yang sempurna tidak bisa melakukannya? Kalau aku membantumu, mungkin Yoshi-kun akan—"
"Tidak…" Tsuna tampak gugup saat mendengar penolakan dari Gokudera.
"Be—benar juga, lagipula aku tidak yakin bisa meyakinkan Yoshi-kun—"
"Aku tidak akan mengikuti Juu—Sawada Yoshimune. Tidak apa-apa kalau ia tidak menginginkanku, aku tidak akan mengejarnya lagi—" Tsuna mendengar langkah yang menunjukkan Gokudera mendekatinya.
"K—kenapa? Bukankah kau sangat ingin masuk ke kelompok Vongola?"
"Tidak, ada yang lebih ingin kulakukan saat ini daripada mengikuti si brengsek itu," jawabnya membuat Tsuna sedikit menyerengit karena panggilan Gokudera pada saudaranya itu. Gokudera membungkuk Sembilan puluh derajat di depan Tsuna, "izinkan aku menjadi anak buahmu Tsuna-sama!"
"A—anak buah?!"
"Aku akan membantu semua yang kau perlukan, aku bahkan akan menjadi pengganti matamu untuk melakukan semuanya!" Gokudera masih membungkuk dan menutup matanya, tidak berani bangkit menatap Tsuna, "aku juga akan melindungimu dari semua mafia yang akan mengincarmu karena adikmu adalah Vongola Decimo!"
"T—tidak perlu Gokudera-kun, la—lagipula aku ragu kalau mereka akan tahu Yoshi-kun memiliki kakak karena tou-san dan kaa-chan tidak pernah mau menceritakan tentangku," Gokudera mengangkat sedikit kepalanya. Ia bisa merasakan rasa sedih dari setiap kata yang keluar dari Tsuna tadi. Ia juga merasakan perasaan yang mirip, yang tidak diterima oleh keluarganya sendiri karena dia adalah anak hasil hubungan gelap.
"B—begitu…"
"Tetapi, kalau kau tidak keberatan…" Gokudera yang sempat memalingkan wajahnya kembali menatap mata karamel Tsuna dan juga senyuman yang sekali lagi tampak di wajahnya, "a—aku ingin kau menjadi temanku…"
Karena ia tidak menginginkan apapun selain seseorang yang menyadari keberadaannya.
"I—itu kalau kau tidak keberatan, aku tahu kalau aku hanya akan merepotkan karena aku tidak bisa melihat, tetapi aku akan berusaha untuk tidak membuatmu repot dengan—"
"Suatu kehormatan, untuk mengabulkan permintaanmu… Tsuna-sama…"
{To be Continue}
Oke, yang ini tentang ceritanya Gokudera :) sedikit beda dari canon ya ;) karena di canon kalau ga salah Gokudera ga mau nyentuh piano semenjak dia kabur dari rumahnya. Tapi disini dia masih mau walaupun diam-diam ^^
Fon bakal dapet porsi yang jauh lebih banyak dari cerita canon dengan adanya peran sebagai tutor dari Tsuna seperti Reborn yang menjadi tutor dari Yoshi. Tapi untuk sekarang hanya sebatas untuk tutor normal dalam hal pelajaran.
Chapter depan akan diceritakan tentang Yamamoto, dan sedikit tambahan yang (mungkin) mengejutkan besok, tambahan karakter lain yang bakal dapet porsi lebih banyak daripada canon ^^
Mau tahu siapa? Dilihat aja nanti chapter depan :D
Thanks buat yang review, Fave ataupun yang Follow ^^ saya benar-benar senang kalau anda menikmati.
-Numpang Aja : makasih ^^ semoga chap ini lebih memuaskan :)
-moodywitch : Makasih ^^ ini sudah di update :D
-Guest (1) : ayo cincang aja XD Yoshi memang karakter dengan penciptaan untuk dibenci kok XD
-Sinister : cukup panjang karena bakal ikut alur canon bahkan ditambah bumbu-bumbu cerita baru :) Kuda bakal datang lebih cepat loh XD #apa Tropikal fruit kayaknya hampir sama kaya canon :/ makasih ^^
-ABC : waaah maaf kalau benar-benar membuat anda kecewa. Saya akan jawab pertanyaan anda satu per satu :D
a. Akan saya cek dan semoga typonya berkurang. Diulang-ulang ya, semoga yang ini lebih sedikit :)
b. Saya punya tahapan dari sifat Tsuna. Disini lebih daripada canon karena tambahan dari kekurangannya, tetapi tahapan dari kedewasaan sifat Tsuna akan lebih cepat dibandingkan dengan canon, diharap tunggu saja ^^ maaf kalau pemakaian sifat Tsuna itu terkesan lebay :D
c. Untuk Yoshi, sama seperti Tsuna, saya punya tahapan dari sifat jahat Yoshi yang bakal bertambah seiring berjalannya chapter di depan. Dia akan lebih jahat saat mendapatkan kekuatan yang lebih dari Reborn, dan bukan hanya mental yang akan diserang oleh Yoshi pada Tsuna, tapi perlahan akan berubah menjadi kekerasan fisik ^^ ditunggu saja~
Tidak ada masalah :D saya suka kalau ada yang ngritik kok, semoga jawaban saya bisa menjawab pertanyaan anda :D
{RnR?}
