"Bagaimana latihan hari ini?" Chanyeol menanyakkan pada salah satu guru vokal yang bekerja di Sekolah Musiknya, Taeyeon.

"Wuah.. ada gerangan apa seorang pemilik sekolah hadir di kelas hari minggu ini?" Taeyoen adalah teman dekat Chanyeol dan itu membuat dirinya tidak segan – segan menyindir atau pun bicara dengan tidak sopan terhadap sang pemilik sekolah tempat ia bekerja.

Chanyeol pun sudah hapal betul dengan sikap temannya itu dan ia tidak berminat untuk mengomentarinya.

"Aku dengar ada beberapa tambahan murid baru dikelasmu..hanya ingin memastikan pegawai terbaikku tidak mengalami kesusahan dalam bekerja."

Taeyeon tidak menyalahkan wujud Chanyeol yang tampan ataupun sikapnya yang terlihat dingin atau pun wibawa, ia hanya menyalahkan dirinya yang terkadang terlalu mudah dibuai oleh ucapan Chanyeol meskipun sebenarnya pria itu tidak memiliki niatan apapun atau bahkan mengikutsertakan persoalan perasaan disetiap pembicaraan mereka.

"Berhenti Tuan Park.. jangan terlalu perhatian begitu pada pegawaimu ini.. bagaimana kalau aku jatuh cinta dan tidak mau berhenti dari pekerjaan ini.." Taeyeon menghempaskan jauh – jauh buaian hatinya terhadap Chanyeol dan lebih memilih bergurau dan memancing sifat kekanakan Chanyeol yang ia ketahui dengan baik akan mudah terlihat tanpa disadari oleh sang empunya.

Chanyeol menggeleng dan memamerkan deretan gigi putihnya, "Jangan.. nanti perusahaanku bisa bangkrut membayar gajimu yang akan sangat mahal semakin kau lama bekerja disini." Dan tawa mereka lepas begitu saja diikuti dengan perbicangan mengenai pekerjaan.

Chanyeol hendak menawarkan tumpangan pada Taeyoen, namun wanita itu menolak dengan alasan ada seseorang yang tengah menjemputnya, dan Chanyeol menimpali dengan godaan yang semakin membuat Taeyoen malu dibuatnya.

Saat itu Chanyeol mensyukuri Taeyoen tidak jadi ikut bersamanya, Chanyeol mensyukuri ia datang ke sekolah di hari minggu sore, Chanyeol mensyukuri semuanya. Karena apa yang terjadi pada menit berikutnya sangatlah mengunggah hatinya dan bahkan ia hampir dibuat jatuh cinta hanya karena melihat sosok anak perempuan tengah duduk seorang diri sambil melantunkan sebuah lagu, lagu yang amat ia kenal betul bagaimana iringan melodi dan juga bait – bait liriknya.

Geuriwo geuriwoso

Geudega geuriwoso

Meil nan honjasoman

Geudereul bureugo bullobwayo

Bogopa bogopaso

Geudega bogopaso

Ije nan seupgwanchorom

Geudea ireumman bureuneyo

.

.

Chanyeol memberanikan diri untuk mendekat kearah anak kecil itu duduk seorang diri, kemana orang tuanya, kenapa ia duduk seorang diri?

"Hey Princess.." Chanyeol memberanikan diri, ia sudah berada begitu dekat sang anak kecil itu dan semakin jelas Chanyeol melihatnya semakin dirinya terbuai oleh tatapan matanya. Chanyeol masih bisa berpikir jernih dengan meyakinkan dirinya tidak mungkin ia jatuh cinta begitu saja pada sosok anak kecil yang memiliki tatapan mata sama dengan seseorang yang dulu pernah membuat dirinya jatuh cinta terlalu dalam.

Chanyeol masih berpikir jernih bahwa ia bukanlah pria maniak dan akan menjadi seorang phedopillia hanya karena dirinya belum bisa move on dengan wanita yang pernah membuat cara kerja jantungnya bedebar dengan tidak wajar.

Anak itu berkedip cepat membalas menatap wajah Chanyeol, tidak ada ketakutan dalam dirinya hanya saja ia terdiam dan menunggu Chanyeol melanjutkan apa yang ingin diucapkan.

"Ke-kenapa duduk sendirian disini hm? orang tuamu belum menjemput?" Chanyeol dengan hati – hati duduk didekat anak itu.

"Mommy bilang, Naeun tidak boleh bicara dengan orang asing.." nada polos dari suara anak kecil itu membuat Chanyeol seketika tertawa kecil.

"Hey.. aku bukan orang asing.. kau berada disekolahku Princess.." Chanyeol membela diri dan ucapannya membuat sang anak kecil menatap kearah dirinya.

"Namaku Loey.." tangannya terarah untuk berkenalan. "Kalau kau tahu namaku dan aku tahu namamu.. kita bukan lagi orang asing bukan?" ia mencari cara mendekatkan diri pada anak itu.

"Naeun.." anak itu membalas berkenalan, menyodorkan tangan kecilnya untuk bisa digenggam dengan Chanyeol dan mereka saling bersalaman dalam hitungan detik.

"Naeun.." Chanyeol mengulang, "Nama yang unik. Tapi aku menyukai memanggilmu dengan Princess.. apakah boleh?"

Anak itu menganggukkan kepala dan kini ada rona merah tercipta diwajahnya karena panggilan yang Chanyeol layangkan. "Mommy suka memanggil Nauen seperti itu.. Princess.." dan kini Chanyeol yang dibuat terpesona dengan senyuman yang ditunjukkan anak itu padanya, kembali membawa dirinya mengingat akan senyuman yang pernah membuat hatinya merasa begitu damai di masa lampau.

"Kau memang Princess.."


CHANYEOL


Sudah menjadi tradisi didalam pertemanan mereka berempat bahwa hari Minggu adalah waktunya saling bertemu, keempat orang itu harus bisa menyediakan waktu untuk bisa sekedar bermain atau pun berkumpul bersama di satu tempat. Mengingat hubungan pertemanan mereka sudah dimulai sedari kecil dan seluruh keluarga besar dari masing – masing sudah mengenal satu sama lain.

Keluarga Kim, Park dan Oh.

Mereka harus berterima kasih kepada kakek masing – masing karena mereka bertigalah yang memulai pertemenan sejak masa muda mereka dahulu kala, menurun ke generasi kedua yang mana ini adalah para orang tua, dan hingga akhirnya generasi ketiga yang terdiri dari Kim Junmyeon, Kim Jongdae, Park Chanyeol dan Oh Sehun.

"Okeey… aku masih tidak bisa memahami sedikit pun kenapa hanya mendengar suaranya dan melihat matanya.. itu bisa membuat dirimu hampir mengalami impotensi."

"Iya. Bukannya kau tidak pernah peduli dengan tatapan mata ataupun suara wanita selain desahan dengan tatapan sayu?" Sehun menambahkan ucapan Junmyeon sebelumnya.

"Susah untuk dijelaskan." Chanyeol menjawab acuh, matanya menatap fokus pada bola putih yang akan dia sodok dengan stik billiard yang tengah siap di kuda-kuda tangannya.

Ketiganya tidak ada yang berniat untuk kembali menimpali apa yang Chanyeol katakan hingga pria itu berhasil melesakkan ujung stick beradu dengan bola putih yang akhirnya membuat bola bernomor enam masuk kedalam lubang.

"Aku kira hanya Princess yang bisa menaklukan hatimu.." kini giliran Jongdae yang berucap mengomentari permasalah yang sedari tadi dibicarakan oleh mereka berempat.

Dan mendengar nama Princess diucapkan, dalam sekejap Chanyeol mengumbar senyum manisnya yang mana membuat ketiganya merasa enyuh untuk sekedar melihat kearah wajah Chanyeol yang selalu dipercaya nampak konyol.

"Sekarang aku akan mengganti pertanyaanku menjadi.. Bagaimana bisa Princess kecil ini mau berada dalam waktu yang sama dan lama dengan seorang Park Chanyeol."

"YAA!"

"Pfft—" Jongdae dan juga Sehun terkikik bersama mendengar ucapan Junmyeon.

"Mungkin Chanyeol sudah meracuni dan mencuci otak anak kecil itu.."

"YAA!" lagi, Chanyeol memprotest.

Sehun menepuk bahu Chanyeol dan memeluk erat untuk mendekat pada dekapannya. "Akui saja Park Chanyeol.. kau bukannya impotensi.. tapi kau mungkin mengidap Phedophilia—

Sontak ucapan Sehun dihadiahi pukulan keras dari Chanyeol tepat dibelakang kepalanya.. sementara kedua orang lainnya tertawa terbahak – bahak. Sehun yang tengah merasa kesakitan pun masih bisa menyempatkan diri untuk tertawa sebelum ia mengeluh akan kondisi kepalanya yang dipikir mungkin saja akan mengalami gegar otak karena pukulan keras dari Chanyeol.

"Kalau aku sampai mengalami gegar otak—"

"Oh.. kau mau?" Chanyeol menyanggah dan tengah siap memberi pukulan kearah kepala Sehun namun anak itu dengan cepat berlari kecil mencari perlindungan kearah Junmyeon dan juga Jongdae yang masih terkikik menyaksikan semuanya.

Chanyeol memilih mengabaikan, melempar stick billiard ditangannya ke sembarang arah dan membawa dirinya untuk duduk di sofa tak jauh dari meja billiard.

"Ayolah Hyung… aku hanya bercanda.." Sehun akhirnya berusaha merajuk kearah Chanyeol yang mana pria itu sudah memasang wajah jengah dan kesal kearahnya.

"Diam kau! Jangan duduk dekat – dekat denganku!" Chanyeol berteriak sekaligus berusaha untuk menjauhkan wajah Sehun dan dekapan tangan anak itu.

"Hyunggg~" Sehun berusaha lagi dan semakin dia berusaha untuk terlihat menggemaskan semakin pula membuat Chanyeol merasa risih dibuatnya.

"Ya-ya-yaa! lebih baik kau segera bersiap Park Chanyeol.. kelas Princessmu akan segera dimulai." Jongdae memperingati dengan tangannya menunjuk kearah jam yang mana sudah menunjukkan pukul empat sore. Dan Chanyeol yang sigap langsung bangkit berdiri membiarkan Sehun yang tersungkur di lantai karena ia dorong sekuat tenaga, ia pun hanya berpamitan dengan suara teriaknya setelah berhasil membuka pintu dan berlari keluar dari ruangan billiard.

"Hanya karena seorang anak kecil berusia lima tahun.. bisa membuat seorang Playboy bersikap kekanakan." Junmyeon bergumam pelan menatap kearah pintu dihadapannya.


A Man and A Woman

Chapter #03

Chanyeol – Baekhyun


"Kau mengenal Chanyeol?" Yixing menanyakkan lagi kearah Luhan yang baru saja melayangkan protest mengetahui bahwa Chanyeol adalah orang yang ditemui oleh Kyungsoo dan Baekhyun di Bar milik Sehun.

"Apa jangan – jangan Chanyeol adalah mantanmu—

"Bukan!" Luhan segera memprotest ucapan Yixing yang masih mencurigai dirinya. "Aku tidak mengenai Chanyeol.. hanya saja aku tahu nama itu.." Luhan memberikan klarifikasi singkat.

"Oh." Baekhyun membeo menganggukkan kepala dengan memasang wajah yang acuh karena sejujurnya dirnya tidak berminat membicarakan hal lebih banyak mengenai seorang pria manapun termasuk Chanyeol saat ini.

"Lalu.." Kyungsoo melirik kearah Luhan, tatapan matanya menyudutkan wanita dihadapannya seakan – akan ia tengah mengisyaratkan pertanyaan yang sudah sedari tadi ia layangkan mengenai kenapa dengan sikap Luhan menyemburkan minuman di mulutnya hany karena mendengar naman Chanyeol disebutkan dalam perbincangan mereka.

"Okey.. okey.. tenanglah Kyung.. aku akan menjelaskan.." Luhan akhirnya terpaksa menyerah siap menjelaskan sembari dirinya membersihkan sisa – sisa cairan smoothies yang membasahi baju bagian atas dan bawahnya.

"Aku hanya mengetahui nama dan sedikit cerita tentang pria itu.. karena kebetulan Chanyeol adalah sahabat dari Sehun." Luhan memulai, ia tidak tertarik melihat respons dari Kyungsoo maupun Yixing yang sudah pasti ia yakin akan mendengarkan dengan begitu seksama. Perhatiannya lebih terarah pada Baekhyun yang masih terlihat acuh dan sibuk dengan tab di tangannya dan sesekali memperhatikan Naeun yang tengah sibuk dengan game pada ponsel di tangannya.

"Hal baik tentangnya..ia adalah jutawan.. aku rasa ia Milliarder.." Luhan memperhatikan lagi perubahan ekspresi dari Kyungsoo dan Yixing yang nampak terkejut mendengarnya sementara Baekhyun masih nampak acuh. "Ia adalah pewaris Group Park."

"Whaaattt!" dan kedua orang yang sangat antusias mendengarkan mulai bersuara mengekspresikan keterkejutan lainnya.

"Chanyeol? Park Chanyeol?" Kyungsoo mengulang menyebutkan namanya dan Luhan mengangguk membenarkan.

"Seharusnya kau sudah sadar Kyung bahwa yang kalian temui adalah calon pewaris dari Park Group."

"Oh—my—gosh!" kali ini Yixing yang berekspresi sembari memperlihatkan layar ponselnya yang menampakkan foto – foto Chanyeol di halaman internetnya. "He's so freaking handsome.." gumamannya pelan kearah Kyungsoo yang nampaknya menyetujui ucapannya itu.

"He is.." Luhan ikut menyetujui dan sedikit melihat kearah Baekhyun yang sempat ia perhatikan sedikit mencuri lihat foto – foto yang ada di layar ponsel Yixing. "Tampan dan Miliarder." Ia menambahkan lagi. "Pria itu sempurna.. seharusnya kalau kita melihat hanya kearah sisi baiknya.." Luhan mengingatkan lagi bahwa penjelasannya yang akan ia berikan memiliki kemungkinan lainnya.

"Kenapa.."

"Dia Playboy Kyung. No. Dia adalah pemain wanita. An Asshole.." Luhan mengucapkan kata terakhirnya dengan bisikkan diantara Yixing dan Kyungsoo menghindari Naeun mungkin saja mendengar kata umpatan itu.

Kyungsoo nampak tidak percaya begitu juga Yixing yang dalam sekejap kembali melihat – lihat foto – foto yang ditemukan di internet.

"Tapi.. dia tampan.."

"Dia juga milliarder.."

"Dia sempurna.."

Luhan menggeleng, tangannya terkibas – kibas mengabaikan ucapan Kyungsoo yang dengan rincinya kembali mengulang ucapan Luhan dalam pendeskripsian tentang seorang Chanyeol.

"Dia Playboy Kyung!" semuanya terdiam mendenga suara Baekhyun yang akhirnya ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. "Firasatku benar bukan? Dia pasti seorang bajingan.." Baekhyun ikut berbisik di umpatan katanya.

"Tapi…" Kyungsoo masih berniat untuk menyangkal penjelasan negative yang Luhan katakan mengenai sosok Chanyeol.

"Ayolah Kyung! Kenapa kau begitu tergila – gila pada Chanyeol itu!" Baekhyun sedikit meninggikan suaranya. "Semua pria yang kita temui di Bar itu pasti bajingan! Dan semua pria diluar sana selain Kris dan Jongin adalah pria brengsek!" ia bahkan meluapkan kekesalannya dan melupakan untuk menutupi segala umpatan agar tidak diengar oleh Naeun.

"Baekh—" Yixing mengingatkan dengan menggenggam tangan wanita itu untuk menghentikkan luapan emosi dari Baekhyun yang dirasa sudah diluar batas wajar terlebih Naeun tengah berada didekatnya dan anak itu tengah memperhatikan sang Ibu yang dihadapannya dengan raut kesedihan.

"Mommy.." mendadak suara Naeun terdengar merengek mulai ingin menangis.

Baekhyun mendesah gelisah, ini salahnya tidak bisa mengendalikan emosi begitu saja dan meluapkannya dihadapan Naeun. "I am sorry baby.." Baekhyun lekas memeluk sang buah hati dan membawannya dalam gendongan dekapan tangannya. Ia menyempatkan undur diri untuk membawan Naeun keluar agar anak itu merasa lebih baik terlebih dahulu.

Sementara ketiga orang lainnya yang ikut merasa bersalah karena kejadian tadi sempat terdiam hingga Luhan kembali memberikan perintah pada Kyungsoo untuk tidak membahas pria mana pun lagi terlebih Chanyeol atau pun Changmin.

"Lebih baik dia hidup sendiri Kyung.. bila memang Tuhan sudah menyiapkan pria terbaik untuk menggantikkan Changmin… akan ada waktunya mereka bertemu." Penjelasannya dianggukki kepala oleh Kyungsoo yang masih memilih bungkam seorang diri.

"Dan jangan pernah membawa Baekhyun untuk mengunjungi bar tanpa ada diriku ataupun Yixing dan Tao.. aku tidak percaya kalau kalian berdua yang pergi seorang diri." Luhan memperingati untuk terakhir kalinya.


BAEKHYUN


Baekhyun membawa Naeun duduk di kursi dekat taman rumah sakit dan tentunya menyediakan minuman dan cemilan untuk anak itu agar setidaknya bisa melupakan kejadian emosional yang baru saja ia lakukan dihadapan puteri kecilnya. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia melakukan hal tersebut dihadapan Naeun tapi tetap saja ini tidak bisa dianggap biasa saja mengingat mereka tengah berada dirumah sakit dan kondisi Naeun masih belum satbil.

Entah sudah berapa kali Baekhyun menghela nafas dengan kasar, bahkan ia merasa heran karena minuman kaleng yang baru saja beberapa kali ia tenggak untuk menghilangkan dahaga sudah habis tanpa ia sadari.

"Mommy.. " suara Naeun memanggil dan membuyarkan lamunannya.

"Kenapa sayang.."

"Hari ini Naeun tidak bisa bertemu dengan Loey Oppa?" dan Baekhyun dibuat tertawa kecil karena ucapan itu.

Ia menggeleng dan mengusap pipi bulat Naeun, "Naeun kan masih sakit.. nanti bertemu Loey Oppa kalau sudah sembuh yaa.." dan ucapannya membuat puteri kecilnya melemaskan bahunya dengan bibir mengerucut kedepan.

Baekhyun selalu mendukung dan memberikan terbaik untuk hal apapun yang Naeun sukai, contohnya adalah dengan belajar alat musik dan juga vocal. Naeun sudah menunjukkan kesukaannya akan hal itu sejak umurnya tiga tahun yang mana ia dengan begitu percaya dirinya menyanyikkan lagu anak – anak dan juga memiliki rasa penasaran akan alat musik yang disebut dengan Piano.

Maka dari itu Baekhyun mencarikan sekolah musik dan vocal khusus anak – anak yang ada didaerah Seoul, dan menurut saran dari Kris dan juga Jongin, Loey Studio termasuk salah satu sekolah vocal terbaik mengingat pemiliki sekolah tersebut adalah mantan produser musik terbaik bagi penyanyi di Korea. Mengabaikan harga dan juga mahalnya alat – alat musik pada akhrinya Baekhyun mendaftarkan Naeun untuk tergabung disana hingga sampai saat ini.

Harga memang tidak pernah membohongi kualitas, nyatanya Naeun sudah terlatih sangat baik menyanyikan sebuah alunan lagu dan bahkan memiliki daya vocal lebih baik dibandingkan sebelumnya. Jemari – jemari kecilnya sudah lebihl lincah memainkan setiap tuts dan membuat alunan merdu dari melodi yang dihasilkan.

Selain perkembangan kemampuan Naeun yang lebih baik, ada sebuah kebahagian tersendiri menyadari bahwa seseorang yang sering kali dipanggil Naeun dengan sebutan Oppa selalu bersikap baik dan terlihat amat menyayangi puteri kecilnya meskipun Baekhyun sampai saat ini tidak tahu bagaimana wujud nampak asli orang tersebut. Semuanya hanyalah berasal dari penjelasan Naeun ketika mereka berdua bertemu di sekolah musik tersebut.

Baekhyun sempat berpikir bahkan mungkin nama Loey bukanlah nama asli dari seseorang yang dipanggil Oppa oleh puterinya, mengingat nama Loey digunakkan sebagai nama sekolah musik itu. Ia juga pernah menanyakkan bagaiman rupa dari sosok Oppa-nya dan Naeun menjawab cepat penuh semangat bahwa Loey Oppa lebih tampan dibandingkan Ayahnya dan juga para Ahjussinya(Jongin dan Kris).

"Loey Oppa pasti merindukkan Naeun.." Puterinya bergumam seorang diri sambil tetap menonton film kartun kesukaannya. "Mommy.. mommy harus memberitahu Loey Oppa.."

Baekhyun menggeleng dengan senyuman diwajahnya. "Aigoo.. Oppa-mu akan baik – baik saja Naunnie.. kalian kan hanya tidak bertemu sekali ini saja.." tangannya mengusak gemas rambut panjang puterinya dan kemudian memeluk badan Naeun. "Minggu depan kalau Naeun sudah sembuh kan bisa bertemu dengan Loey Oppa."

Dan Naeun masihlah menunjukkan wajah merajuk hanya karena hari ini ia melewatkan kelas vokalnya dan tidak bisa bertemu dengan Oppanya.

Sudah lama Baekhyun ingin bertemu dengan sosok itu namun ia telah melewatkan berbagai kesempatan, entah karena dirinya sibuk dengan urusan pesanan kue di tokonya atau terkadang sosok bernama Loey yang menghilang begitu saja dikala Baekhyun tengah menjemput Naeun di sekolah musiknya.

"Baekhyunniee!" Kyungsoo dan Luhan memanggil bersamaan sembari mereka menghampiri Baekhyun dan Naeun yang tengah saling duduk berhadapan.

"Sudah berdebatnya?" Baekhyun mengejek kearah Kyungsoo dan Luhan dengan bibirnya yang mengerucut,

"Aigoo.."

"Yaa! Teman macam apa yang membiarkan sahabatnya dan pasien yang tengah sakit berada di luar ruangan inap."

Kyungsoo dan Luhan mengalihkan pembicaraan, Luhan memeluk Baekhyun sementara Kyungsoo membawa Naeun bersamanya dan mereka berjalan bersama menuju ruangan rawat inap Naeun selama di rumah sakit.


CHANYEOL


Ada satu kegiatan yang menjadi favorit Chanyeol di hari Minggu sore, mengawasi bagaimana anak – anak berusia 5 tahun sampai dengan 10 tahun melatih kualitas vocal mereka dan juga belajar bermain musik. Pekerjaannya menjadi produser dahulu terpaksa harus Ia tinggalkan dan mulai mengemban tugas menjadi pewaris Perusahaan ternama di Korea. Tapi bukan Park Chanyeol namanya bila ia tidak menemukan jalan lain untuk menyalurkan hobi dan juga minatnya.

Mempunyai nama yang cukup dikenal dikalangan artis dan juga dunia musik Korea memudahkan dirinya untuk mendapatkan beberapa Investor yang mau bergabung dengannya untuk mendirikan sekolah khusus musik dan juga vokal, tak hanya itu. Berbagai agensi ternama di Korea bahkan memberanikan diri menawarkan kerja sama dengan sekolah milik Chanyeol untuk mencari calon – calon bibit artis di masa yang akan datang.

Ia memang tidak mengajar disana dan juga tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan olehnya di kantor sekolah musiknya, hal yang wajib ia kerjakan hanya melihat bagaimana anak kecil berambut ikal panjang yang dipanggil Princess menikmati kelasnya dan Chanyeol akan menunggu hingga kelas itu usai hingga sang Princess dijemput.

Begitu sampai di gedung sekolahnya, Chanyeol lekas melangkah melewati berbagai anak tangga untuk segera sampai pada salah satu kelas anak – anak, senyumannya sudah terbentuk dan membayangkan wajah sang Princess akan menyambut kedatangannya dengan senyuman lebar dan mata yang berbentuk bulan sabit, memikirkan hal itu membuat dirinya semakin tidak sabar dan mempercepat langkahnya.

Nyatanya, Taeyeon yang menyambutnya dipintu depan kelas karena bersamaan wanita itu baru akan menutup pintu.

"Dia tidak masuk hari ini, ibunya menelepon dan mengatakan ia tengah berada di rumah sakit." Taeyeon langsung memberikan informasi yang ia dapat dari bagian administrasi sekolah dan Chanyeol melemaskan badannya, terlebih mendengar anak itu tengah berada dirumah sakit.

"A-apa sakitnya parah? Dia dirawat dimana?"

"Hei! Tenanglah Boss. Kau seperti mendengar puterimu yang masuk rumah sakit saja.." Taeyoen bermaksud menggoda agar Chanyeol lebih tenang namun melihat raut wajahnya yang masih menggambarkan kecemasan upayanya jelas sia – sia.

"Okey.. aku tidak tahu dia dirawat dimana.. Ibunya tidak menjelaskan lebih lengkap kepada bagian administrasi—

"Apa kau memiliki nomor kontak Ibunya?" Chanyeol memotong dan menanyakkan hal yang lain.

"A-ah—aku tidak punya.. kau mau aku tanyakkan pada bagian administrasi? Yaa!" Chanyeol belum menjawab pertanyaan yang Taeyeon katakan, ia lebih dulu kembali melangkah menuruni anak tangga dan segera melesak masuk kedalam mobilnya dengan kedua tangannya yang terfokus pada kedua arah. Salah satunya tetap berada di kemudi mobilnya sementara yang lain sibuk dengan layar ponselnya untuk mencari sebuah nama yang hendak ia hubungi.

"Wae?"

"Hyung! Bantu aku!" Chanyeol segera berteriak memohon ketika suara Junmyeon terdengar diponselnya.

"Kenapa? Bukannya kau tengah berada di sekolah?"

"Ani! Hyung tolong bantu aku dulu.. carikan pasien diseluruh rumah sakit di Seoul.."

"Yaa! kau gila? Untuk apa?—

"Princess dirawat dirumah sakit..tapi aku tidak tahu dimana ia dirawat.."

Chanyeol mendengar dengan jelas suara kikikan dan juga helaan nafas panjang disana, ia sudah menduga bahwa saat ini Junmyeon masih bersama Sehun dan Jongdae dan tentunya mereka mendengar apa yang tengah ia minta pada Junmyeon.

"Aku tidak tahu nama Princess-mu itu—

"Naeun!" Chanyeol berteriak. "Namanya Naeun." Ia mengulang lagi supaya Junmyeon tidak salah mendengar vokal nama yang ia maksud.

Namun ternyata tidak ada jawaban yang terdengar dari Junmyeon hingga pada hitungan detik berikutnya suar Junmyeon terdengar begitu dekat, "Naeun?" Junmyeon mengulang.

"Oh." Keningnya mengernyit menunggu ucapan Junmyeon berikutnya

"Fuuhh.. bagaiman aku menjelaskannya.."

"Hyung.. kenapa?" Chanyeol semakin tidak sabaran dan kini ia memilih menepikan mobilnya pada tempat parkir demi bisa lebih fokus mendengar apa yang akan Junmyeon katakan.

"Tadi siang kita berada dirumah sakit bersama bukan? Dan aku baru saja menangani pasien bernama Naeun, anak kecil berambut panjang ikal.. dia adalah pasienku.. aku tidak tahu dia adalah Naeun yang kau maksudkan atau bukan—

"Aku akan kesana." Chanyeol mengakhiri panggilan teleponnya dan kembali membawa mobilnya menuju rumah sakit tempat dimana Junmyeon bekerja.


A Man & A Woman


"Mommy boleh mengantar Auntie Luhan dan Kyungsoo?" Baekhyun menanyakkan ijinnya kepadan Naeun, puterinya itu terkadang tidak mudah memberikan ijin padanya hanya untuk pergi begitu saja, pasti akan ada penjelasan panjang yang harus Baekhyun berikan pada Naeun, entah itu maksud atau pun tempat tujuannya.

"Iya Mommy.. " Naeun mengangguk dengan yakin.

"Aigoo.. pintarnya Princess Auntie.." Luhan mengusap kepala Naeun dan menawarkan sebuah ciuman pamit pulang. "Cepat sembuh sayang.. supaya kita bisa makan es krim yang banyak..okey?" Naeun mengangguk, memberikan ibu jarinya kearah Luhan .

"Besok kalau Dokter sudah memperbolehkan Naeun pulang, Auntie dan Uncle akan menjemput Naeun bersama Taeoh.. kita akan makan bersama yaa.." kini giliran Kyungsoo menawarkan pelukan dan juga ciuman di pipi Naeun, lagi –lagi anak itu mengangguk setuju.

"Baiklah.. bye Princess!" Kyungsoo dan Luhan melambaikan tangan disusul Baekhyun dibelakangnya yang hendak mengantar mereka hingga lobby rumah sakit.

"Mommy hanya sebentar ya.." ia sempat berbisik kearah Naeun yang bersandar di ranjang dan masih menikmati sajian buah yang ada dihadapannya.

.

Entah apa maksud dari jalan takdir yang membuat Chanyeol dengan mudahnya mencari nama Naeun di rumah sakit yang mana baru saja ia datangi beberapa jam lalu, setelah menanyakkan pada pihak adminitrasi rumah sakit mengenai kebenaran nama pasien bernama Naeun, kini tujuan Chanyeol adalah kamar rawat inap anak itu berada.

Chanyeol tidak berharap banyak, ia hanya menginginkan bahwa tujuannya adalah benar dan bertemu dengan Naeun yang dimaksud supaya ia tidak perlu meminta Junmyeon mencari di rumah sakit lainnya.

Ia bahkan tidak memperdulikan para dokter wanita, suster dan petugas rumah sakit yang ia lewati, keinginan menemui Naeun lebih kuat dibandingkan harus memikirkan bagian paha dan kaki yang baru saja ia lewati begitu saja. Dan cobaan Chanyeol lebih besar ketika dirinya berada disebuah lift yang penuh sesak dengan penumpang, memang bukan semua penumpang disana adalah wanita namun dirinya tengah diapit dengan empat buah payudara yang begitu kenyal dirasa pada setiap lengannya dan itu membuatnya terasa pening penuh penyiksaan. Belum lagi ketika ia harus berusaha keluar karena telah tiba dilantai yang diinginkan, dengan tidak sengaja ia menabrak seorang wanita yang memiliki badan lebih kecil darinya dan sangat mungil hingga mengakibatkan wanita itu tersungkur jatuh dan Chanyeol harus membungkuk meminta maaf selagi membantu wanita itu berdiri, ditambah dengan sebuah pukulan dari tas yang terasa begitu sakit ketika berhasil mengenai bagian punggungnya.

Seberat inikah perjuangannya untuk menemui Naeun?

Sesampainya di kamar—yang masih Chanyeol yakini itu adalah kamar Naeun—ia berusaha menormalkan deru nafasnya dan bahkan mengatur nada suaranya supaya terkesan bersahabat dan tidak terlalu terlihat ia baru saja melewati berbagai rintangan hanya demi melihat Princessnya.

Chanyeol mengetuk pintu lebih dulu sebagai tanda sopan santun mengingat bisa saja orang tua Naeun ada bersamanya saat ini.

"Ne.." ketukan keempatnya dibalas oleh suara si mungil yang sudah Chanyeol kenal dan dengan begitu ia lekas melesak masuk kedalam dengan senyuman lebar.

"Annyeong.." Chanyeol menyapa.

"Loey Oppa!"

Tbc.