Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
New Hope © Black Skull
Rating: T
Genre: Friendship and Romance, meybe little hurt for something present
Warning: Au, Sequel of 'When Love Meet Friendship', short, OOC (meybe), Ino POV, flat.
Chara: Yamanaka Ino, Nara Shikamaru, Akusuna Gaara, Haruno Sakura
Pairing: Shikamaru X Ino, slight Gaara X Sakura and Gaara X Ino
Summary: Pertemuan dengan cinta pertamanya. Harapan baru setelah dia bahkan tidak mampu untuk berharap dan tidak mau mempercayai harapan.
.
A special fic for Fujirai Ichinoyomi. Semoga tidak mengecewakan yah, F-chan ^^.
.
Happy Read Minna~ ^^
.
New Hope
By Black Skull
.
.
:: Stage 3 :: -Meet Again-
.
.
Sudah hampir satu bulan sejak pertemuanku dengan Shikamaru. Pertemuan yang berakhir dengan pertengkaran bodoh dan air mata konyol. Menyedihkan sekali sebenarnya kalau aku menangis waktu itu. Toh itu hanya masa lalu. Seharusnya aku bisa menanggapi pengakuannya secara wajar, bukan malah menangis dan lari tidak jelas. Konyol sekali keadaanku waktu itu. Kalau aku mengingatnya aku bahkan tertawa sendiri. Tapi entahlah, perasaanku terasa begitu sakit mendengar pernyataannya. Aku merasa aku telah dibodohinya sekian lama.
Bocah sialan itu berulang kali minta maaf lewat telepon dan pesan singkat —walau pesannya memang benar-benar singkat. Mungkin dia merasa amat berasalah padaku. Sungguh, aku tidak benar-benar marah padanya. Paling tidak dia kan sudah mau jujur padaku. Walau setelah sekian lama dia baru bicara. Tapi paling tidak sekarang aku sudah tahu.
Aku terus berpura-pura marah padanya. Sampai di hari keempat, dia mengirimiku sebuah bunga yang aku tahu persis itu berasal dari toko bunga ayahku. Hahahaha rasanya aku ingin sekali tertawa bila mengingat itu. Apalagi tulisan di kartu ucapan itu —yang aku tahu tulisan tangan pegawai ayahku.
'Ino, ayolah jangan marah lagi. Kau tahu wanita itu merepotkan dan akan tambah merepotkan saat dia sedang marah. Aku bingung harus membujukmu bagaimana, jadi aku menelepon ayahmu —yang belakang baru kutahu nomornya. Ternyata ayahku yang brengsek itu sudah tau kau dan keluargamu dimana tapi tidak memberitahu aku! Ayahku bilang, karena aku tidak menanyakannya, dia kira aku sudah tahu— lalu meminta sebuah bunga untukmu. Aku juga meminta ayahmu untuk menuliskan pesan ini untukmu. Jadi setelah kegiatan merepotkan ini, jangan marah lagi padaku, oke?'
Aku terkekeh membaca pesannya lagi. Bocah itu memang aneh dan malas. Bagaimana bisa dia memberi kartu ucapan untuk gadis yang sedang marah dengan ucapan seperti itu? Dan dia bahkan sempat mengatai ayahnya 'brengsek'? Aku heran kenapa pegawai ayahku tetap mau menuliskan kata itu.
Dan pada hari keenam, dia datang ke rumah sakit untuk menemuiku. Tapi saat itu sedang ada operasi, jadi tidak bisa menemuinya. Padahal dia sudah menungguiku salama dua jam. Dia menganggapku masih marah dan mengirimiku sebuah pesan singkat yang menjengkelkan.
'Ino, kau keras kepala sekali. Kau begitu marah padaku apa karena kau masih begitu menyukaiku dan you want me so bad, eh?'
Dia benar-benar menyebalkan bukan? Aku tidak membalas pesan itu. Selain karena aku sedikit kesal dengan ledekannya aku jadi merasa malu dikatai begitu. Tapi dia tetap Shikamaru yang menyenangkan dan hangat. Walaupun sifat malas dan menyebalkannya tidak mau hilang. Tapi masih seperti dulu, aku tidak bisa lama-lama marah padanya.
Akhirnya dihari kesepuluh aku mendatangi kantornya. Dan mendapati dia sedang tidur di meja kerjanya. Dasar tukang tidur! Aku membawakannya makan siang, kebetulan hari itu aku sedang tidak ada pasien, jadi aku bisa pergi keluar. Dia terbangun dan menatapku dengan tampang malas. Aku tersenyum dan menyeretnya untuk duduk dan makan bersama. Aku menjelaskan kalau aku sebenarnya tidak marah lagi padanya. Hanya ingin sekedar tahu bagaimana reaksinya menanggapi aku yang marah. Dia hanya menggumam 'mendokusai' berkali-kali disela-sela obrolan kami.
Dihari kelima belas kami makan malam bersama, mengenang masa-masa kecil kami. Mengingat kebodohan yang sering kita lakukan bersama. Dia menceritakan kehidupannya setelah SMA dan kami berpisah. Belakang aku tahu, dia hanya pernah menjalin hubungan sekali. Dengan gadis berambut pirang yang tak disebutkan namanya. Dari yang aku tahu hubungannya berjalan hangat dan menyenangkan. Mereka saling mencintai. Namun pada akhirnya, mereka putus begitu saja. Dia tak menceritakan sebab mereka putus. Dia hanya mengatakan, mereka berpisah disaat mereka hampir bertunangan. Itu saja yang aku tahu, selebihnya dia tidak menceritakan apa-apa lagi. Sementara aku masih belum bisa bercerita mengenai Gaara.
Dan tiga hari yang lalu dia mengirimiku pesan singkat dan mengatakan akan pergi keluar kota untuk mencari bibit kayu untuk perusahaan ayahnya. Dia bilang, 'Tiga hari itu bukan waktu yang lama, Ino, kau tak perlu menangis karena merindukan aku, oke?'
Tiga hari, yup sekarang sudah tiga hari sejak dia pergi. Seharusnya hari ini dia sudah kembali. Dia bilang dia akan langsung menghubungiku begitu dia sampai. Jujur saja aku sudah merindukannya. Dia sama sekali tak bisa dihubungi tiga hari ini. Sebelum pergi dia sempat bilang, mungkin akan susah menghubunginya karena dia akan pergi ke tempat terpencil untuk mencari bibit kayu.
Hah~ bocah itu, dia berubah dan tetap pada sisi yang berbeda. Dia masih Shika yang pemalas, tukang tidur, dan perokok. Tapi disisi lain, dia menjadi lebih dewasa dan 'sedikit' perhatian. Aku menyukai perhatian-perhatian kecil darinya. Jujur saja perhatian kecil darinya sedikit membuatku terhibur. Karena kita bukan anak kecil lagi. Kita sudah lebih dari dewasa untuk urusan yang lebih berkenaan dengan hati. Atau mungkin itu semua hanya harapanku semata.
Entah kenapa, bahkan sekedar harapanpun sangat berarti untukku saat ini. Aku yang bahkan tidak berani berharap pada apapun. Aku terlalu takut akan kembali mengalami sakit bila aku berharap. Ayah pernah bilang padaku, 'Jangan terlalu berharap pada sesuatu, jika kau tidak ingin mengalami kekecewaan yang dalam. Kekecewaan itu hanya akan membuatmu menderita.'
Aku pernah sangat berharap pada cintaku yang sebelumnya. Berharap mendapat cinta yang abadi, cinta yang akan membawaku kedalam lembah kebahagiaan bernama 'keluarga'. Dan kini aku hanya mendapat kekecewaan. Rasa sakit yang dalam. Dan dosa karena mencintai suami orang. Jujur saja, meski kehadiran Shikamaru cukup menghiburku akhir-akhir ini, namun bayangan Gaara belum hilang sepenuhnya. Dia masihlah tetap pria yang kucintai setulus hati.
Kini aku kembali berharap —walau tak berlebihan. Berharap terhadap cinta pertamaku. Aku akan menjaga harapanku tidak tumbuh seperti jamur. Aku tidak akan membiarkan harapanku berkembang semaunya. Aku akan menjaga harapan ini sebatas harapan seorang sahabat. Harapan orang lemah yang membutuhkan pertolongan. Bukan harapan seorang patah hati terhadap cinta baru.
Aku merasa handphone di kantong kemeja dokterku bergetar. Aku hampir bersorak gembira saat mendapati siapa yang mengirim pesan singkat itu.
'Aku sudah kembali ke Konoha. Ada sedikit oleh-oleh untukmu. Aku akan datang sore nanti. Jaa ne~ "
Aku tersenyum sendiri membaca pesan dari Shikamaru. Bocah itu memang pemalas tapi dia bukan tukang ingkar janji. Aku sempat meminta oleh-oleh padanya sebelum pergi. Walaupun bocah itu mengatakan itu merepotkan tapi tetap saja, aku yakin dia membawakannya untukku.
'Aku senang kau sudah kembali, tuan malas :). Datanglah ke rumah sakit, aku menunggu...hadiahmu :p.'
Aku menekan 'send' dan bebarapa saat kemudian ada laporan terkirim. Aku hampir memasukkan handphoneku ke dalam kantong saat aku merasa benda mungil itu kembali bergetar.
Aku mengira itu dari Shikamaru —lagi. Walau sedikit aneh dia kembali membalas pesan singkatku, mengingat dia jarang sekali melakukan hal itu. Dia bukan orang yang suka 'berkirim pesan ria'.
Dan benar saja dugaanku, itu bukan dari Shikamaru, melainkan dari sahabatku yang lain —Sakura. Aku menautkan kedua alisku saat membaca namanya tertera di layar androidku.
'Ino, hari ini aku dan Gaara sudah pulang dari honeymoon. Kami mungkin akan ke rumah sakit siang nanti. Selain untuk memeriksakan kandunganku, aku juga ingin mengecek beberapa pasienku. Kau ada di rumah sakit kan siang nanti?'
Oh Kami-sama, betapa membahagiakannya pagi ini. Dua sahabatku sudah kembali kesini. Yang satu sudah aku rindukan. Dan yang satu, entahlah, kalau boleh jujur aku sedikit malas bertemu dengannya. Ini mungkin terdengar jahat tapi, ayolah, aku hanya seorang wanita biasa yang tidak dengan mudah bertemu dengan istri pria yang kucintai. Aku semakin merasa sesak saat setiap kali aku harus bersikap manis dan seolah tidak terjadi apa-apa.
'Ya, aku di rumah sakit.' Hanya itu balasan yang kukirimkan untuk Sakura. Aku kembali memasukkan benda itu ke delam kantongku.
Aku menghempuskan nafas berat. Rasanya sulit sekali mengontrol emosiku jika berada di dekat Sakura dan terlebih lagi —Gaara? Apa aku tidak salah lihat? Tadi Sakura menuliskan dia dan Gaara akan ke rumah sakit? Aku belum bisa menatap langsung pria itu. Aku takut akan kembali menangis bila melihat pria itu.
Aku sebenarnya sedikit merasa senang Sakura akhirnya mengambil cuti hamil selama tiga bulan dan memutuskan untuk pergi berbulan madu. Aku tidak perlu terus menerus tersenyum di depannya. Aku bahagia jika dia bahagia —sungguh! Tapi disisi lain aku merasa sakit hati.
Aku mengambil jurnal berisi nama-nama pasienku dan berjalan keluar ruanganku. Aku harap kesibukanku dengan pasien-pasien itu bisa sedikit membantuku melupakan masalahku.
.
.
"Ino..." Seorang wanita yang sedang hamil sekitar delapan bulan lebih berlari menyongsongku. Lalu menariku ke dalam pelukannya.
"Sakura." Aku tersenyum, lalu membalas pelukannya.
"Aku merindukanmu, Ino."
Sakura tersenyum —melepas pelukannya, perutnya terlihat buncit, rambut merah jambunya dihiasi jepitan berbentuk bunga. Dia memakai daster; pakaian khas ibu hamil. Dia tampak cantik dan bahagia, wajahnya terlihat berseri, jadenya memancarkan kebahagiaan. Di belakangnya muncul pria berambut merah yang sangat aku kenal, sangat aku rindukan —Gaara. Pria itu tersenyum kepadaku, senyum yang tak dapat kuartikan dengan gamblang.
"Aku juga,"
Aku melirik Gaara yang kemudian berdiri berjajar dengan Sakura dan merangkul istrinya.
"Apa kabar?" dia menjulurkan tangannya; hendak bersalaman, suara Gaara terdengar bergetar. Dia menatap iris biruku intens. Aku menelan ludahku mendapati tatapannya. Bukan, bukan karena aku takut, entahlah, tatapan itu membuatku merasakan perasaan aneh.
"Baik," jawabku singkat. Aquamarineku menatap lurus iris hijaunya, seolah mengajaknya berkomunikasi hanya lewat saling tatap.
"Kau tampak kurus, Ino." Suara Sakura memutuskan komunikasi-lewat-mata aku dan Gaara.
"Ah, benarkah?"
"Kau pasti menderita," aku tercekat mendengar ucapan Gaara. Dia mengatakan itu dengan nada datar, masih menatap lurus kearahku. Sakura mendongak menatap wajah suaminya lalu dia tertawa, menyikut pelan perut suaminya.
"Kau ini bicara apa. Tidak mungkin Ino menderita," Sakura kembali menatapku, "kudengar dari beberapa perawat, kau sedang dekat dengan seorang pria tampan, eh Ino?"
Aku terkesiap kaget mendengar pertanyaan Sakura, bingung mau menjawab apa. Gaara menatapku semakin intens, seolah mencari jawaban lewat mataku.
"A-aku—"
"Dia tidak mungkin dekat dengan pria lain." Gaara memotong omonganku, menatapku semakin tajam. Sakura mengamati suaminya dengan bingung. Aku menjadi semakin bingung mau menjawab apa.
"Apa yang kau katakan dengan pria lain? Ino kan sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun." Sakura melotot pada suaminya, Gaara tidak memperhatikan Sakura sama sekali, dia masih terus menatapku; meminta kepastian.
"Dia hanyak milik—"
"Dia milikku, Ino itu milikku," suara bariton yang kukenal; yang tiga hari ini aku rindukan, memotong omongan Gaara. Aku bersyukur Shikamaru datang tepat waktu.
"Hai," Sakura menyapa Shikamaru ramah, "aku seperti mengenalmu?"
"Benarkah?" Shikamaru menaikan satu alisnya, bertingkah seolah terkejut. "Aku Shikamaru, Nara Shikamaru. Kekasih, Ino."
Shimakaru menjulurkan tangannya —berkenalan. Sakura menyambutnya dengan antusias. Gaara masih menatapku tidak percaya. Aku menjadi bingung harus bereaksi seperti apa untuk menanggapi omongan Shikamaru. Sakura memang sering kuperlihatkan foto Shikamaru, aku bercerita banyak hal tentang Shikamaru pada Sakura. Dulu saat aku belum mengenal Gaara, hatiku hanya berisikan Shikamaru.
"Aku Sakura, Haruno —eh tidak, Sabaku no Sakura. Ini suamiku, Sabaku no Gaara." Sakura memperkenalkan diri dengan antusias.
Tangan Shikamaru terjulur ke arah Gaara. Aku sedikit khawatir Gaara akan menampik tangan Shikamaru. Namun aku salah, Gaara menyambut tangan itu, meneliti Shikamaru dari atas sampai bawah. Aku sedikit ngeri melihat pemandangan ini.
"Gaara,"
Shikamaru tersenyum aneh; menyeringai, lebih tepatnya. Dia ikut mengamati Gaara dari atas sampai bawah. Memperhatikan pria berambut merah itu dengan seksama. Lalu dia kembali menyunggingkan senyum aneh tadi, senyum yan tidak simetris.
"Aku akan menjaga Ino dan tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti hatinya dan membuatnya menangis." Dia mengatakan itu dengan tegas, tidak dengan malas. Dia lalu menarikku kedalam rangkulannya.
"Benar dia kekasihmu, Ino?" Tanya Gaara, terdengar menuntut.
"Ah, i-itu—"
"Tentu saja benar. Bahkan aku berniat melamarnya," Shikamaru mengambil sesuatu dari kantong celananya, "sekarang."
Dia mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bunga yang terbuat dari batu ruby yang indah.
"Kalung?" Sakura menaikan sebelah alisnya.
"Ya, lebih dekat ke hati." Shikamaru membalikkan badanku menghadapnya lalu memasangkan kalung indah itu ke leherku. Aku tertegun dan membiarkan Shikamaru melakukan sesukanya.
Kulihat Gaara masih terdiam di samping Sakura. Iris emeraldnya menatap Shikamaru dengan pandangan tidak suka. Sementara Sakura sudah berlonjak kesenangan melihat aku dan Shikamaru.
"Kau mau menikah denganku kan, sayang?"
Aku bergidik ngeri ketika Shikamaru membisikan kalimat itu tepat di telingaku. Dapat kupastikan wajahku sudah merah seperti tomat sekarang, apalagi saat kudengar kata 'sayang'. Bocah sial ini, dia —melamarku?
.
.
.
TO BE CONTINUE?
.
.
.
Next Chap
"Laki-laki itu, dia benar kekasihmu?"
"Secepat itu kau mencari penggantiku?"
"Aku mencintaimu, Ino." Aku dengar suaranya bergetar, mungkinkah dia juga menangis?
"Jangan menangis lagi, jangan sia-siakan air matamu untuk sesuatu yang tidak berguna."
"Aku harap hubungan kita berjalan lebih baik lagi."
.
.
Balasan Review
Misaki 'Arra' Kuroda : hahaha iya itu lagu kesukaan mang Jidih, tau aja ih Arra~ syukur deh kalau emang lebih panjang, tapi chap ini juga ga terlalu panjang sih hehehe. But I hope you guys like it ^^
Minori Hikaru : Arigatou, ini update :D
Namikaze Ex-Black: panggil aja Skull ^^ ah iya nama kita sama sama Black, kalau saya sih alasannya karena saya suka banget warna item *malah curhat*. Salam kenal juga Black (?) –san . Arigatou udah baca dan review. Ini update ^^
Nanoko Muran : Arigatou, ini udah update ^^
Namikaze Rurui-chan: Arigatou ne ^^ hahaha langsung nyari lagunya ya? Emang enak sih lagunya :D. Tunggu terus ya kelanjutan ceritanya *ngarep.
Yuki Tsukushi : Nggak papa telat juga yang penting udah baca dan review, makasih banget lho :D iya di chap lalu Gaara nggak muncul. Ceritanya memang terfokus ke ShikaIno, tapi di chap ini ada Gaara juga lho~ ^^
Fujirai Ichinymi: waah aku juga seneng kalau F-chan suka ceritanya. Semoga chap ini juga nggak mengecewakan ya?
Saqee-chan: Arigatou ^^ sudah baca, review dan fav. Ini udah update lagi ^^
.
.
a/n
It's still special for Fujirai Ichinymi, how do you feel bout this chap, F? How you like it ^^
Seperti biasa chap ini memang tidak terlalu panjang. Mungkin chap depan depan akan sedikit lama update mengingat kesibukan di kampus yang sangat sangat sangat menyita waktu. Namun saya akan berusaha terus mengupdate fic ini walau mungkin tidak se-rutin biasanya. Jujur saja saya suka fic ini walau review-nya boleh dibilang sangat sedikit, tapi saya sangat sangat berterimakasih pada kalian yang sudah baca dan tidak review alias silent reader. Dan saya juga sangat berterimakasih pada yang sudah review. Itu membuat mood menulis saya naik kalau membaca review.
Saya sangat menunggu tanggapan dari anda semua, karena review anda sangat berharga untuk saya
