Cornelia : Yeay...! Akhirnya bisa juga update fanfic setelah sekian lama gak buka! *teriak gaje*

Hitsu : Ma-Masih lanjut? *merinding*

Cornelia : Iya dong, Hitsu-chan *evil smile*

Ichigo : Gw kira udah tamat, soalnya gw'kan udah ke timpa besi...

Cacao : Kan si Hitsu belum... *dibungkem*

Cornelia : Jangan Spoiler Cacao *natap tajam Cacao*

Cacao : *tatap balik*

Ichigo : Baca review aja... *buka kotak review

Hitsu : Dari Rui Rei Rin, hm... tolong di maklumi sifat author sarap ini...

Ichigo : Dari Shiroi Hitsugaya ini ada animenya, namanya Shonokora no Mahou, hanya 2 episode...

Cornelia : Final Chapter!~

Diclamer : Tite Kubo

Warning : OOC, AU, GAJE, yaoi, aneh, dll


-_Normal Pov_-

"Ku-Kurosaki-kun?" Toshiro terbelak, tubuhnya gemetar melihat tubuh Ichigo yang tertimpa oleh besi-besi yang jatuh tadi, dengan tangannya yang gemetar, ia berusaha meraih tangan Ichigo yang hanya tidak tertima oleh reruntuhan besi. Dari atas gedung itu, tempat besik-besi itu jatuh, terlihat seorang malaikat. Wajah malaikat itu tampak kecewa.

"Lho, kok aneh... seharusnya kan yang seharunya mati itu Hitsugaya Toshiro, kenapa malah lelaki itu? Tanggal 14 Maret pukul 17.45 yang mati tertimpa musibah ini seharunya'kan..." malaikat itu menggantung kalimatnya dan menatap datar Toshiro yang menangis memeluk lengan Ichigo. "Hitsugaya Toshiro..."

"Kurosaki, kuatkan dirimu! Aku akan memanggil bantuan! Aku mohon Kurosaki!" Toshiro berteriak kencang. Seorang gadis dengan pakaian misterius berjalan mendekati Toshiro. Ia menatap dingin Toshiro. Toshiro menyadari ke hadiran gadis itu. "Kau, kau sang Chocolatier'kan?!"

"Kurosaki Ichigo menggantikan posisimu..." Toshiro menatap bingung Chocola.

"Apa maksumu Kurosaki menggantikan posisiku?"

"Kurosaki memakan coklat untuk menghindari musibahmau... tapi hasilnya, mautmu perpindah ke padanya, aku tak bisa menggambil bayaran yang cukup besar darinya." Chocola mengangkat tanganya, seketika itu juga, semua bercahaya dan tubuh Toshiro menjadi lemas.

"Hei, kau baik-baik saja?" tanya seorang ibu-ibu yang melihat Toshiro pingsan di jalanan. Toshiro perlahan-lahan membuka kedua matanya.

"Kurosaki!" Teriak Toshiro, ibu-ibu yang membangunnya sontak kaget. Toshiro melihat sekitar, tak ada besi yang menimpa Ichigo di depannya, wajah semua orang juga tampak biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Toshiro berdiri dari duduknya dan berlari ke tempat club basket berpesta merayakan kemenangan mereka. Toshiro membuka pintu ruang karauke dengan kasar dan melihat sekeliling. "Maaf, apa ada yang tau kemana Kurosaki?!"

Semua mata menatap Toshiro bingung. "Kurosaki, siapa dia?"

"Kurosaki Ichigo yang membuat 3 pointers di final!" Toshiro berteriak marah. Semua berbisik-bisik kecil dan menganggap Toshiro gila.

"Etto... maaf Hitsugaya-san, yang membuat 3 pointers di final itu aku dan di tim kami tak ada orang yang bernama Kurosaki Ichigo." Ucap seorang lelaki berambut merah berbentuk nanas a.k.a Abarai Renji. Kedua mata Toshiro membulat lebar. "Apa kau ingin ikut pesta merayakan kemenangan tim basket sekolah kita?" Renji tersenyum bangga karena berhasil membuat 3 point di final.

Toshiro segera berlari kencang meninggalkan tempat karauke itu, ia berlari memasuki hutan mencari toko coklat yang bisa mengabulkan permohonan. Ia segera memasuki toko coklat itu, terlihat sosok Aikawa Chocola yang sedang menatap keluar jendela. "Akhirnya kau datang juga, Hitsugaya Toshiro, aku sudah menunggumu."

"Dimana Kurosaki?! Kenapa semua orang tak mengenalnya?!"

"Kurosaki Ichigo ada di hadapanmu..." Chocola membalas tatap Toshiro, ia tersenyum misterius.

"Di hadapanku? Dimana?" Toshiro menatap seluruh ruangan toko itu, tapi ia tak melihat sosok Ichigo sama sekali.

Chocola mengeluarkan sebuah botol kaca yang di dalamnya terdapat sebuah kristal. "Dia ada didalam sini."

Tubuh Toshiro gemetar marah. "Kau jangan berbohong!"

"Aku tak bohong... sebagai bayaran atas coklatnya aku mengambil eksitensinya."

"Aku mohon kembalikan dia, hilangkan sihir itu!" Toshiro berteriak memohon. Wajahnya terlihat sedih.

"Baiklah jika maumu seperti itu, tapi sebagai gantinya..." Chocola menggantung kalimatnya dan menatap dingin Toshiro. "Kau yang harus mati, kau tak keberatankan?"

"A-Aku harus mati?" Ucap Toshiro gemetar. Ia mengepalkan erat tangannya mencoba menenagkan dirinya sendiri.

"Seharusnya kau yang terkena musibah itu, jika mengembalikan semuanya seperti semula, kau harus menerima takdir mautmu itu... orang yang sudah mati tak dapat di hidupkan kembali." Chocola menatap dingin ke arah Toshiro.

"A-Aku... aku..." Toshiro tak bisa menjawab pertanyaan Chocola.

"Ahahaha, wajahnya tampak ke bingungan..." tawa seorang malaikat yang muncul secara tiba-tiba. "Padahal orang yang ia suka mati demi dia." Malaikat itu tersenyum kejam ke arah Toshiro.

"Kau?! Dari mana kau masuk?!" teriak Cacao marah, ia menatap tajam ke arah sang malaikat. Malaikat itu hanya membalas denganya senyuman senang karena telah membuat sang iblis marah.

"Siapa dia?" tanya Toshiro ke Chocola.

"Toko ini wangi ya. Cokelat pengabul permohonan... Aku tak akan memakannya." Ucap malaikat itu tak mempedulikan teriakan marah Cacao. "Masih hidup sambil menyeringai menatap jiwa lelaki di dalam botol, itu lah yang di lakukanmu... Toshiro." Ucapnya mengejek, Toshiro hanya diam membatu mendengar ucapan dari malaikat itu.

"Nanti saja berbicaranya malaikat... bukan tapi shingami." Chocola menatap dingin sang malaikat, ia hanya tersenyum senang, Toshiro menatap malaikat itu tidak percaya.

"Ahahaha, aku ini hanya malaikat yang kebetulan lewat, tepatnya malaikat maut." Malaikat itu menatap Toshiro. "Namaku Shiki, tugasku untuk mengumumkan kematian kepada manusia kunyanyikan lagu kematian untuk mereka." Suara nyanyian yang dapat membuat telinga sakit membuat Toshiro menutup telinganya. "Aku menginginkan jiwamu, akan aku kembalikan Kurosaki Ichigo yang ada di dalam botol itu. Seharunya kau yang mati."

Chocola menatap Toshiro. "Apapun yang dikatakannya... keputusan ada di tanganmu."

"Chocolatier, kembalikan aku dan Kurosaki, ke takdir semula." Ucap Toshiro gemetar.

"Baikalah, ini chocolate macaron untuk mengembalikan waktu, makanlah ini." Toshiro mengambil satu buah macaron. Toshiro menutup ke dua matanya, lalu ia memakan coklat.

Perlahan-lahan Toshiro membuka kedua matanya. Ia melihat sekitar. "I-ini kan sore tadi...?" batin Toshiro. Ia melihat sosok Ichigo.

"Itu balasan untuk valentine yang kemarin." Ichigo tersenyum ke arah Ichigo. Dengan tubuh yang gemetar, Toshiro menatap sedih Ichigo.

"Kurosaki... Arigatou." Terdengar suara nyanyian yang sangat menyakitkan telinga. "Sayonara..." tiang besi jatuh ke arah Ichigo dan Toshiro, Toshiro segera mendorong Ichigo. Toshiro tersenyum ke arah Ichigo.

"Toshiro...!" teriak Ichigo. Kalung yang di berikan Ichigo bersinar, semua berubah menjadi putih.

Toshiro membuka kedua matanya, ia melihat sekitar, ia kembali ke Toko Chocolate Noir. "A-Aku hidup...?" Ucap Toshiro tak percaya.

"Kenapa dia masih hidup?" tanya malaikat itu ke Chocola.

"Itulah kekuatan coklat para kekasih, coklat dragee. Sama dengan leontin pemberian Kurosaki Ichigo, Dragee adalah untuk menghindari musibah bagi para kekasih, ini lah coklat yang dimakan Kurosaki Ichigo. Jimat yang dipakai untuk menampung Dragee punya kekuatan pelindung. Hari ini White Day, jimat itu menggunakan kekuatan White Day yang hanya bisa dipakai sekali." Toshiro menatap kalung yang diberikan Ichigo. "Apapun yang terjadi, ia ingin kau hidup, kekuatan macaronpun jadi tidak berguna, dia ingin melindungimu dengan taruhan nyawanya, dia ingin menjagamu."

"Kurosaki, kau ingin aku tetap hidup...?" Perlahan air mata turun melewati pipi Toshiro, Toshiro menggenggam erat kalung peemberian Ichigo.

"Apa boleh buat, jika kau hidup, Kurosaki Ichigo yang harus mati." Malaikat itu menatap botol yang berisi jiwa Ichigo, ia menyanyikan lagu kematian ke arah botol itu. Botol kaca itu perlahan mulai retak. Toshiro dengan cepat merebut botol itu dari tangan malaikat itu.

"Aku tak peduli kau malaikat apa, tapi aku tak ingin mati dan tak akan aku biarkan Kurosaki mati...! Karena kami akan berbahagia bersama!"

"Semangatmu boleh juga, tapi kau tak bisa apa-apa lagi sekarang." Malaikat itu kembali menyanyikan lagu kematian, botol kaca yang berisi jiwa Ichigo hampir pecah.

Toshiro menatap Chocola, "Chocolatier, berikan aku cokelat yang dimakan Ichigo!"

"Akhirnya kau sadar juga, cepatlah dimakan." Chocola memberikan cokelat dragee ke Toshiro dan Toshiro segera memakannya. "Hati yang teguh untuk mengubah takdir, sambutlah cahaya terang." Chocola mengangkat ke dua tanganya dan mengambil sesuatu milik Toshiro. Semua terlihat menjadi putih.

"Toshiro...! Toshiro bangun!" Toshiro perlahan membuka matanya, ia melihat Rukia duduk di samping tempat tidurnya. "Syukurlah kau sudah sadar, kau koma karena tertimpa musibah." Rukia menghapus air matanya. "Sekarang kau di rumah sakit."

"Kuchiki... dimana Ichigo?" tanya Toshiro.

"Aku disini." Toshiro menoleh ke suara itu, ia melihat sosok Ichigo. Toshiro segera turun dari tempat tidurnya dan memeluk Ichigo.

"Syukurlah kau masih hidup..." Toshiro memeluk erat Ichigo. "Aku... Aku suka Ichigo."

"Akhirnya kau bilang juga... aku juga suka Toshiro." Ichigo mencium Toshiro. Toshiro tersnyum senang ke arah Ichigo.


Cornelia : Yeay... selesai! *teriak gaje*

Hitsu + Ichigo : *blushing*

Rukia : Bakauthor, kan masih ada ke lanjutannya *sweatdroup*

Cornelia : Eh?! I-Iya juga... ok, lanjutin...!


"Dragee adalah cokelat yang dimakan mempelai di hari pernikahan. Kalau dimakan oleh pasangan sejoli yang saling mencintai... mereka bisa mengatasi halangan seberat apapun, dan hidup berbahagia. Selama ini tak ada tamu yang menyadarinya." Ucap Chocola.

"Tapi Toshiro berbeda, dia bukan hanya tak mati, tapi malah berumur panjang. Kau tau semuanya'kan?" Ucap sang malaikat.

"Ingatan Hitsugaya Toshiro, di ambil oleh macaron yang kujual di awalnya tadi." Ucap Chocola.

"Karena menghindari kematian, cowo itu dikurung ke dalam botol!" Cacao berkata dengan angkuh ke arah sang malaikat.

"Hehehe... hahaha!" Tawa kejam sang malaikat. "Aikawa Chocola, kau sungguh menarik." Malaikat itu menghilang dan menyisakan sehelai bulu sayap.

"Kau salah malaikat... bukan aku yang mengubah takdir, tapi mereka. Dengan ke ajaiban sang kekasih." Batin Chocola.

-_Beberapa Tahun kemudiam_-

"Apakah kau berjanji akan untuk setia dalam sakit maupun sehat?" ucap seorang pastor.

"Aku berjanji." Ucap Toshiro dan Ichigo. Lonceng gereja berbunyi. Kedua pasangang mempelai itu berjalan ke luar gereja. Disambut dengan tepuk tangan para tamu.

"Selamat ya Ichigo, Toshiro!" Ucap orang-orang memberi selamat. Dari kejauhan, Chocola melihat pernikahan mereka.

"Ichigo, Toshiro. Semoga kalian berbahagia selalu..." Ucap Chocola dari kejauhan lalu menghilang

END


Cornelia : Selasai...! Yeay! Dapet PM!

Rukia : Apa tuh PM?

Cornelia : Pajak Menikah, minta yuk Rukia!

Rukia : Ayok...!

Cornelia : Toshiro...Ichigo...! PM, Pajak Menikah!

Hitsu : Soten ni zasa, Hyourinmaru!

Cornelia : Kyaaa! *beku*

Ichigo : *peluk Toshiro dari belakang*

Hitsu : I-Ichigo...? *blushing*

Cornelia : *es hancur+ambil kamera+foto moment langka* Dapet foto langka *kabur*

Rukia : Keluarga yang bahagia... *senyum senang* Minna, jangan lupa review ya!