FALSE

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

FALSE © CHIZURU BOULEVARD

Genre: Drama/Romance/Hurt Comfort mungkin agak angst juga


Hari sudah mulai gelap dan kesunyian semakin menjadi-jadi di ruangan besar tempatnya berada. Bahkan dia bisa mendengar dengan jelas seandainya ada langkah kaki di luar ruanganya. Sasuke duduk bersandar pada punggung kursi. Dia menunggu Sakura mengetuk pintu ruanganya. Dipikiranya, kilasan-kilasan kenangan tentang Sakura mencuat. Sosok gadis itu yang seperti musim semi.

Denting lift berbunyi tepat ketika itu, denting pelan yang terdengar dari luar pintu ruangan miliknya. Sasuke perlahan bangkit dan berjalan menuju pintu. Dia hendak menyambut Sakura di sana tapi mengurungkan niatnya untuk berdiri tepat di depan pintu. Sebagai gantinya, dia memilih bersandar pada sisi kiri pintu sembari benar-benar melihat, sosok Sakura-nya dengan jelas.

Tak beberapa lama, pintu ruangan di ketuk dan sebuah suara menyusul setelahnya. Sasuke ingat suara itu, benar.. suara itu masih sama seperti yang ada diingatanya. "Permisi." Suara itu terdengar agak ragu. Tentu saja karena Sasuke memang menghendakinya demikian. Bersamaan dengan pintu yang membuka, eksistensi yang sedari tadi ditunggu muncul perlahan. helaian softpink menjuntai sebahu membelakanginya, nampaknya dia tak sadar jika Sasuke ada di sana, menunggu dalam diam.

"Anu..Selamat malam.."

"Sakura." Kata Sasuke akhirnya. Dia tidak ingin memastikan apakah itu benar Sakura atau tidak, dia memanggil dengan memerintah sembari menahan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Sungguh dia harus menahan dirinya mati-matian untuk menelan eksistensi di hadapanya. Sakura sedikit berjengit, dia pasti terkejut, Sasuke tau itu. Perlahan-lahan Sakura membalikan diri.

Kedua alis Sasuke hampir bertaut, ah tentu saja dia merasa jijik dengan perempuan dihadapanya. Perlahan-lahan Sasuke bisa melihat dengan jelas wajah Sakura, iris emeraldnya yang membelalak terkejut, bibir yang terlihat berusaha menyebut namanya, kedua tangan yang bertaut. Tentu saja Sakura tidak akan menyangka kalau Sasuke yang memanggilnya.

"Sa.. -kun.." kata Sakura terbata.

Sasuke hendak melangkah ke arah Sakura berdiri dan Sakura mundur perlahan menjauh dari Sasuke. Perempuan itu terlihat tidak hanya terkejut tapi juga takut karena Sasuke tidak memberikan sambutan hangat padanya. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk berdiri menghalangi pintu agar Sakura tidak bisa melarikan diri.

"Kenapa? Bingung? Aku Uchiha Sasuke, CEO Taka Corp." Kata Sasuke dingin.

Sakura masih belum mempercayai dengan baik, bahwa Sasuke benar-benar berdiri di depanya dengan tatapan terdingin yang pernah dia berikan. Dan baru saja Sasuke berkata kalau Sasuke adalah CEO Taka Corp...Mustahil bukan, Pikir Sakura. Dia belum bisa membalas apaun perkataan Sasuke, hawa dingin menyergap diri Sakura.

"Hei Sakura.. ah tidak." Sasuke berhenti sebentar, nada bengis begitu kentara dari suara Sasuke. "Wanita Jalang."

'Sakura' dengan suara yang sama sakura teringat ketika Sasuke memanggilnya dengan lembut. Dan namanya terus menerus dipanggil, berulang kali, dan berulang kali.

Sakura bergidik, dia hampir tidak mengenali lelaki di hadapanya. Lelaki yang dulu dikenalnya tidak seperti ini. Dia bertanya-tanya, apakah yang merubah Sasuke hingga menjadi seperti ini. Kenapa Sasuke menjadi seseorang yang begitu asing bagi Sakura.

"Sa..Sasuke-kun.." Sakura ingin mengatakan sesuatu tapi Sasuke sudah memotongnya.

"JANGAN PERNAH PANGGIL NAMAKU DENGAN MULUT KOTORMU." Bentak Sasuke. Dia menggebrak pintu di belakangnya sampai menimbulkan bunyi benturan keras.

Sakura terkejut. Tanpa sadar air matanya mengalir keluar. Suaranya benar-benar tertahan di tenggorokanya. Dia mengambil langkah menjauh dari Sasuke, lututnya hampir kehilangan keseimbanganya, tubuhnya gemetar menghadapi kemarahan Sasuke yang baru kali ini dilihatnya.

"Panggil namaku, Sakura" di dalam fragmen ingatanya, aroma maskulin Sasuke tercampur dengan musim semi terasa begitu dekat. Sasuke berbaring di pangkuanya, menatap lurus ke arah matanya dan terus menatapnya seolah tak ingin melewatkan sepersekian detik untuk berkedip.

Dan kini Sasuke mendecih melihat Sakura mengambil langkah mundur menjauhinya. Dengan geram dia berjalan melangkah ke arah Sakura yang perlahan mundur menjauhinya. Sasuke tak melepaskan pendanganya dari Sakura. Dilihat sekilas saja dia tau Sakura tak akan sanggup melarikan diri, karena dia bersusah payah untuk tidak terduduk. Begitu Sakura berada di jangkauanya, Sasuke meraih rambut Sakura dan menariknya.

"Apa kau mau melarikan diri lagi dariku?" tanya Sasuke. Dia menarik wajah Sakura mendekatinya, mengamati dengan detil wajah menyedihkan di hadapanya.

Refleks Sakura menggeleng pelan.

Melalui genggamanya, Sasuke merasakan kalau tubuh Sakura gemetar. Dia mendecih sebelum melemparkan Sakura secara asal hingga Sakura jatuh dengan bunyi bedebum pelan di lantai.

"Menurutmu Konoha dan Kirigakure sejauh apa?"

"Hmmm, sejauh..dirimu yang ada di depanku."

Sakura memekik tertahan ketika bagian kanan tubuhnya menyentuh lantai dengan kasar, rasa ngilu masih tertinggal di sana beberapa menit setelahnya. Sakura terisak tertahan. Dalam hati dia mengetahui kalau Sasuke sedang melampiaskan amarahnya pada Sakura. Benar, Sasuke sedang sangat marah, dan wajar kalau Sasuke marah pada Sakura.

"Ma..maaf.." Kata Sakura di sela isak tangisnya. "Maafkan aku.."

'Tentu saja dia pasti marah dan juga terluka.' Batin Sakura. Sakura tak bisa membalas apapun perkataan Sasuke padanya. Sakura sadar betul kemarahan Sasuke adalah harga yang setimpal jika dibandingan dengan apa yang telah dia lakukan pada Sasuke dua tahun lalu, dia meninggalkan Sasuke begitu saja, tanpa menjelaskan apapun. Benar-benar meninggalkanya begitu saja. Dan Sakura tak berhak membela dirinya kali ini. Sasuke semarah dan seterluka ini.

Sasuke mendengus mendengar permintaan maaf Sakura. "Kau pikir aku bisa menerimanya? Permintaan maaf tidak ada gunanya saat ini Sakura. Aku akan memastikan kau menyesal karena telah mengenalku." Sasuke memberi jeda. "Kau boleh saja pergi, tapi aku akan menyeretmu kembali. Kali ini kau tidak akan bisa lagi lari dariku Sakura."

Sejenak suasana di ruangan itu hening, hanya terdengar isak tangis tertahan dan dentang jarum jam, kemudian Sasuke membuka suaranya, "Ini perkenalan dariku. Mulai besok kau akan bekerja sebagai sekretarisku dan kau akan melakukan seluruh perintahku. Sekarang keluar dari ruangan ini. KELUAR KAU JALANG!" Sasuke berteriak.

'Aku mencintaimu, Sakura.'

Sakura segera bangkit, menuruti perintah Sasuke untuk segera keluar. Dia memilih tidak akan mengatakan apa-apa, karena memang dia tidak berhak memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri dan apapun yang Sakura katakan sekarang akan terdengar seperti pembelaan diri, bahkan kata-kata maafpun kehilangan nilainya.

Sakura berlari kecil sembari menahan isak tangisnya dengan menutup mulutnya, dia keluar dari ruangan Sasuke dan segera menuju lift. Detik-detik menunggu lift terbuka di hadapanya terasa begitu lama, di beberapa bagian tubuhnya rasa linu masih membekas, dia masih bisa merasakan tangan Sasuke yang menarik paksa rambutnya. Lift berdenting dan pintu perlahan terbuka. Sakura melihat pentulan dirinya sendiri di kaca di dalam lift, matanya sayu, noda air mata membekas di sepanjang wajahnya, rambutnya tidak lagi rapi karena Sasuke menjambaknya tadi. Dia terlihat begitu menyedihkan saat ini.

Sakura tidak menyangka kalau dia akan kembali bertemu Sasuke dengan cara seperti ini. Dia tidak mengira Sasuke akan kembali ke Konoha. Dada Sakura sesak, perasaan ketika dia meninggalkan Sasuke dua tahun lalu menyeruak begitu saja. Rasa bersalah karena dia telah menyakiti Sasuke, memang sudah seharusnya Sasuke membencinya. Tapi entah kenapa rasa menyakitkan itu, pandangan kebencian yang ditujukan pada Sakura terasa benar-benar menyakitkan. Sakura merunduk dan terisak keras lalu meraung. Di dalam kepalanya, suara Sasuke di masa lalu masih terdengar.

"Sakura, bagaimana kalau kebahagianmu adalah kita?"

==oo0oo==

Sakura hanya bisa merunduk ketika lembar-lembar kertas berhamburan di sekelilingnya. Di depanya, Sasuke berdiri dengan wajah mencemooh. Tangan yang digunakan untuk melemparkan kertas itu kini berada di saku celananya.

"Wanita jalang tidak berguna." Katanya dingin. "Buang semua itu dan buat baru dari awal. Aku ingin selesai hari ini tak peduli kau pulang jam berapapun." Selesai mengatakan itu Sasuke melangkah keluar dari ruangan. Suigetsu membukakan pintu untuk Sasuke dan mengikuti langkahnya. Sekilas Suigetsu melirik ke arah Sakura yang masih merunduk. Dia tidak tau apa yang terjadi antara Sakura dan Sasuke, sampai Sasuke memperlakukan Sakura seperti seorang budak. Yang dia tau dari Jugo adalah, Sasuke yang memilih sekretarisnya secara langsung, dan itu berati Sasuke memang memilih Sakura mungkin untuk tujuan tertentu. Tapi dia tidak bisa menerka-nerka kenapa Sasuke bertindak sekasar itu pada perempuan.

"Kita pergi Suigetsu." Kata Sasuke.

"Baik, Sasuke-sama." Jawab Suigetsu.

Pintu ditutup dengan bunyi bedebum pelan. Sakura masih merunduk, dia melihat kertas yang berhamburan di meja dan di lantai di dekatnya. Perlahan-lahan setelah memastikan langkah kaki Sasuke tak terdengar, dia bangkit berdiri dan memunguti satu persatu kertas yang berserakan. Sudah 3 hari Sakura bekerja sebagai sekretaris Sasuke, dan perlakuan Sasuke tidak jauh lebih baik di bandingkan dengan kali pertama mereka bertemu setelah dua tahun.

Sakura tidak diizinkan memanggil nama Sasuke dengan kasual, dia hanya boleh memanggil Sasuke dengan 'Uchiha-sama', Sasuke bilang menjijikan namanya dipanggil oleh Sakura. Jika Sakura hendak bertanya mengenai sesuatu dia hanya akan mendapatkan cemoohan 'Wanita Jalang tidak berguna' seperti tadi atau mendapatkan perlakuan kasar seperti kerah kemeja miliknya ditarik dan dia dilempar, atau rambut sebahunya ditarik. Jadi Sakura berusaha mengerjakan sesuatu sambil mempelajarinya manual dari dokumen-dokumen lama, atau jika dia memiliki kesempatan Sasuke pergi dia akan bertanya pada Staff di luar ruangan.

Sakura berusaha untuk menerima dan tidak terluka atas perlakuan Sasuke, tapi meski begitu rasanya begitu berat untuk berdiri tegak.

Sakura telah merapihkan kembali kertas yang tadi dilemparkan Sasuke. Dia harus mengulang draft MoU dengan Anbu Construction untuk acara peluncuran program baru. Sakura tidak terlalu memahami bagaimana alur birokrasi dan jenis kerjasama antara mereka karena memang Sakura tidak diberitau sama sekali oleh Sasuke. Sakura memutuskan untuk bertanya pada salah satu staff di bagian Bisnis Support, Tenten.

"Maaf Sakura, kurasa aku juga tidak bisa banyak membantumu kali ini karena bagian kami memang tidak dominan. Mungkin kau bisa bertanya pada Gaara dari divisi GA karena dia salah satu ketua sie di proyek ini."

Sakura berterima kasih pada usulan Tenten, dia sudah menyadari jika dia tidak mungkin hanya mengandalkan Tenten untuk semua pekerjaanya. Akhirnya Sakura memutuskan untuk menemui Gaara untuk bertanya lebih lanjut mengenai proyek ini. Sembari menuju ke divisi GA, Sakura mengatur nafasnya dan meyakinkan dirinya sendiri kalau dia akan baik-baik saja.

Keringat dingin sudah mulai mengalir di sekujur tubuh Sakura bersaamaan dengan langkah kakinya. Kelebatan ingatan mendadak muncul di kepalanya. Nafas Sakura memburu saat mengingatnya. Lalu kesadaranya akan diambil alaih secara perlahan apabila dia tidak menghentikan dirinya sendiri untuk tidak memikirkan lebih jauh tentang apa yang sudah terjadi.

"KUMOHON HENTIKAN! SASUKE-KUN..KUMOHON TOLONG AKU.."

Sakura memeluk lenganya erat, dia mencengkramnya sekuat tenaga untuk mengembalikan kesadaranya. Dia tidak boleh kalah dengan pikiranya, rasa sakit dari cengkraman kuku di lengannya perlahan-lahan menyadarkanya, dia sekarang tidak sedang berada di ingatanya, dia ada di sini dan tidak terjadi apa-apa padanya, semua baik-baik saja, dia masih berdiri tegap. Mengatakan hal ini pada dirinya membuatnya bisa kembali bernafas.

Merasa belum siap untuk menemui Gaara, Sakura memutuskan untuk mencari udara segar sejenak dan meyakinkan dirinya lebih baik lagi. Sasuke akan pergi selama 3-4 jam dan Sakura masih memiliki waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri dan memilih atap sebagai tempatnya menenangkan diri.

Sakura duduk di salah satu kursi yang ditanamkan secara permanen ke lantai atap. Dia melihat sekelilingnya, beberapa tanaman bunga yang akan mekar dengan cantik di musim semi, rumput yang di pangkas rapi, beberapa pohon kecil di dalam pot yang penataanya dikombinasikan satu sama lain sehingga tercipta taman kecil yang cukup nyaman untuk dilihat. Selain itu ada beberapa tempat yang memiliki kanopi kecil di atasnya sehingga cahaya matahari tidak akan terasa begitu terik.

Sakura lebih menyukai tempat yang memiliki kesan luas seperti taman kecil di atap dibandingkan dengan ruangan sempit. Berada di ruangan yang sempit bisa membuatnya merasa sesak, dia seperti terkurung di sangkar dan tidak bisa lari kemanapun untuk menghirup udara kebebasan atau untuk sekedar melarikan diri. Oleh karenanya, Sakura lebih memilih untuk berada di atap daripada di ruangan sempit.

Angin berhembus dengan kecepatan yang bisa dibilang pas—tidak terlalu kencang, tidak terlalu pelan dan sejuk— untuk membuat syaraf Sakura rileks. Wangi udara tidak terasa pekat di atas sini, Sakura menghirup dalam-dalam oksigen di sekelilingnya, merasakan keberadaan alam yang nyata ada di sekitarnya entah bagaimana bisa mendatangkan ketenangan pada dirinya. Sakura berharap hujan turun, karena hujan membawa wangi untuk melengkapi sesi menenangkan dirinya sendiri.

.

.

Lelaki pendiam adalah kesan pertama yang Sakura rasakan ketika bertemu Gaara. Dia tidak banyak bicara dan menjelaskan pertanyaan Sakura tepat pada intinya, tidak berbelit dan mudah di pahami. Warna rambutnya merah, di sekitar matanya ada lingkaran hitam karena sepertinya Gaara kekurangan jam tidur, tapi di luar semua itu, Gaara adalah seorang lelaki yang rupawan dan memiliki karisma.

Awalnya Sakura takut menemui Gaara karena dia adalah laki-laki yang tidak di kenalnya, Sakura sudah bertekad untuk melawan rasa takutnya. Oleh karenanya, Sakura mencatat perkataan dan pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Gaara di sebuah notes. Tapi entah bagaimana pembawaan Gaara tidak membuatnya merasa begitu ketakutan sampai sesak nafas.

"Ini silakan diperiksa, saya rasa dari penjelasan yang anda buat masih banyak yang harus saya perbaiki perbaiki." Sakura menyerahkan berkas yang tadi dilemparkan Sasuke pada Gaara. Gaara menerima dan memeriksa lembar demi lembar kertas, membacanya dengan teliti.

"Maaf aku akan memberikan koreksi pada bagian-bagian yang salah, kuharap kau tidak keberatan jika aku mencoret dan memberikan beberapa usulan?" tanya Gaara memastikan.

"Tidak apa-apa." Kata Sakura.

"Kurasa kau perlu membaca referensi lain soal draft ini, aku yakin pasti sekretaris sebelum dirimu sudah banyak mengarsipkan berkas-berkas yang bisa kau pelajari. Lagi pula, bukankah terlalu dini untuk membuat draft ini, karena kulihat kau hampir tidak tau apa-apa soal proyek dengan Anbu Construction." Gaara bersedekap dengan pandangan menyelidik.

"Mm, memang saya masih belum satu minggu mulai bekerja, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin membantu Uchiha-sama." Sakura menimpali.

"Hnn, ganbatte."

Sisa waktu yang ada digunakan Sakura untuk berdiskusi dengan Gaara mengenai bagian-bagian yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena mempengaruhi proyek kedepanya, juga tujuan mengenai terjalinya kerja sama dengan Anbu construction.

.

.

Deru mesin mobil yang dikendarai Sasuke perlahan berhenti bersamaan dengan Sasuke yang menjejakan kaki di loby kantornya. Pandanganya menyapu sekitar dan mendapati pegawainya bekerja seperti pada hari-hari biasanya, mereka sedikit merunduk ketika Sasuke melewatinya. Suigetsu menyusul tak lama setelah dia selesai memarkirkan mobil milik Sasuke. Langkah Sasuke tegas, tidak terasa ada keraguan dari suara benturan sepatu dan lantainya, tidak juga terdengar distorsi suara, langkah kaki yang tegas dan stagnan, pikir Suigetsu.

Akan tetapi untuk kali ini, Suigetsu tidak ingin mengusik Sasuke karena perasaanya sedang buruk. Tentu saja buruk, seharusnya Sasuke membicarakan proyek dengan Kakashi, tapi karena alasan yang tidak jelas Kakashi mengatakan dia akan terlambat dan menemui Sasuke di kantor saja.

'Ah sial si Hatake Kakashi.' Pikir Suigetsu. Sasuke dan Kakashi sudah mengenal satu sama lain selama beberapa tahun, dan selama itu pula Kakashi selalu saja tidak bisa datang tepat waktu, atau yang paling buruk adalah dia membatalkan janji pertemuan mendadak seperti ini. Jelas saja ini menyusahkan karena dia tidak senang menghadapi Sasuke yang sedang kesal seperti ini.

Dalam pandangan Suigetsu, sekelebat bayangan berwarna pink tertangkap sudut matanya. Dengan ragu dia menoleh ke arah bayangan pink, dan benar saja dia mendapati Sakura ada di sana berasama dengan Gaara. Entah bagaimana Suigetsu merasa akan terjadi hal yang buruk kalau Sakura tidak ada di ruanganya ketika Sasuke sampai nanti.

'Ah sial! Harusnya aku minta saja nomor ponselnya untuk mengabari kalau hal seperti ini terjadi! Aduh kenapa aku hari ini sial sekali.' Rutuk Suigetsu.

Langkah kaki Suigetsu berhenti karena langkah kaki yang sedari tadi dilihatnya juga berhenti. Dia melihat ke arah Sasuke dan ingin menanyakan kenapa Sasuke berhenti mendadak seperti ini, tapi niat itu diurungkan karena Suigetsu tau dengan pasti jawaban dari pertanyaan yang ingin dia ajukan. Tatapan Sasuke mengarah lurus pada Sakura yang sepertinya sedang berbincang dengan Gaara.

'Oh tidak, tentu saja..' teriaknya dalam hati. Tentu saja semesta sedang mempermainkanya hari ini. Tentu saja semua kekhawatiranya terwujud dalam hitungan detik. Suigetsu juga tidak tau dengan pasti, tapi ketika ini menyangkut sekretaris baru—Haruno Sakura— Sasuke akan lebih emosional seperti ini. Padahal jelas sekali jika Sasuke membenci Sakura, lalu kenapa dia memilih gadis itu sebagai Sekretarisnya?

Sasuke melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang tadi dia lihat dari luar kaca, di dalamnya ada Sakura yang masih belum sadar aka kehadiranya, dan beberapa pegawai lain yang langsung berpura-pura sibuk memeriksa sesuatu atau sikap terlalu hormat yang terasa janggal.

"Sakura." Katanya.

Tubuh Sakura menegang ketika suara dingin itu kembali memanggilnya. Hawa dingin mendadak terasa pekat di indranya. Nama yang diucapkan dengan lamat dan nada yang memerintah dengan dingin itu entah bagaiman membuat Sakura merasa tidak memiliki daya untuk menghadapinya. Dengan perlahan dia menoleh dan merundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menatap Sasuke saat ini.

"Apa yang kau lakukan di sini?" imbuh suara dingin itu.

Bibir Sakura bergetar ingin bersuara tapi kembali terkatup. tapi entah bagaimana dia merasa apapun yang akan dia katakan hanya akan terdengar seperti bualan, tak peduli jika yang Sakura katakan adalah kebenaran, Sasuke akan tetap menyalahkanya atas apapun.

"Maaf.." hanya itu yang akhirnya terucap dari bibirnya.

Tanpa berkata apa-apa Sasuke berbalik lalu melangkah pergi. Sakura mengikuti langkah kaki Sasuke, dia berusaha tidak tertinggal sekaligus membuat syaraf di tubuhnya mengikuti keinginanya untuk tetap berdiri tegak di belakang Sasuke. Hanya langkah kaki tegas yang berjalan cepat dan langkah kaki kecil yang mengikuti dibelakangnya yang terdengar selama mereka menuju ke ruangan Sasuke, tak ada yang memulai pembicaraan apapun selama itu.

Suigetsu menyusul di belakangnya dengan perasaan tak menentu. Jujur sana dia tidak akan bisa menghentikan Sasuke kalau temperamennya sedang seperti ini. Biasanya Sasuke akan mencari pelampiasanya di luar dan Suigetsu hanya menuruti saja, dia pernah mencoba menghentikan Sasuke tapi kemarahan itu dilampiaskan padanya. Tapi dia tidak ingin membiarkan sekertaris yang tidak tau apa-apa—ah mungkin bukan berarti tidak tau apa-apa melihat sikap Sasuke— menjadi pelampiasan untuk kemarahan Sasuke.

"Suigetsu, kau tidak usah ikut ke dalam."

Suigetsu tersentak dari lamunanya ketika Sasuke memanggilnya. Dia tidak boleh masuk ke dalam ruangan, ketakutan Suigetsu menjadi kenyataan. Sejak awal Sasuke memang tidak memberinya kesempatan untuk mencegah hal-hal seperti ini, dan harga diri Suigetsu agak terluka karena hal-hal seperti ini.

"Baik Sasuke-sama." Suigetsu mendongak dan melihat punggung kedua orang di depanya lenyap tertelan pintu yang sepertinya kehilangan fungsinya untuk menyembunyikan kebenaran di baliknya, karena Suigetsu sudah tau apa yang akan terjadi di dalam sana.

.

.

Pintu di belakang Sakura berdebum pelan ketika Suigetsu menutupnya. Sasuke masih berdiri membelakanginya tak mengatakan apapun dan Sakura hanya menunduk tidak tau apakah ada hal yang bisa membuat kemarahan Sasuke mereda.

"PLAKK!" sebelum Sakura selesai memikirkan kemarahan Sasuke, sebuah tamparan keras mengenai wajahnya. Sakura terdorong ke samping dan terduduk. Matanya terbelalak, dengan bergetar, jemarinya meraba perih yang tersemat di pipinya. Tamparan Sasuke pasti sangat keras sampai meinggalkan lebam di sudut bibir Sakura.

Akan tetapi yang membuat Sakura makin tak mampu berfikir adalah.. ini kali pertama Sasuke menamparnya. Sakura melihat ke arah Sasuke dengan tatapan tak percaya. Iris emerald miliknya menangkap sorot mata dingin dari Sasuke, sorot mata yang tidak pernah Sakura lihat pada Sasuke sebelumnya. Sakura tidak lagi menemukan adanya seberkas cahaya di iris obsidian yang menggelap. Benarkah ini adalah Sasuke yang dikenalnya dulu?

'Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan pada Sasuke.'

Perih di pipinya seolah terlupakan begitu saja ketika dia memikirkan apa yang telah dia lakukan pada Sasuke sampai merubahnya menjadi seseorang yang benar-benar tak dikenalinya. 'Sedalam apa luka yang kutinggalkan pada Sasuke?'

Sakura memalingkan wajahnya, sebelah jemarinya menutup mulutnya menahan isak tangis yang akan muncul begitu saja. Dirinyalah yang telah membuat Sasuke berubah seperti ini, ini semua adalah salahnya karena meninggalkan Sasuke begitu saja dua tahun lalu. Padahal Sakura tau Sasuke benar-benar mencintainya dengan segala apa yang dimilikinya. Sakura tau itu.

Dadanya berdenyut. Ada bagian di dalam dirinya yang terasa sakit, seperti ribuan jarum yang mendadak menyerangnya tanpa belas kasih. Perasaan bersalah yang selama ini dipendam mencuat ke permukaan dan menutupi kesadaran Sakura. Rasa ketidakberdayaan yang selama ini ditekanya mendesak keluar.

Sakura tidak memiliki pilihan lain untuk meninggalkan Sasuke kala itu. Dia tidak ingin membuat Sasuke terluka, tapi lebih dari itu, Sakura tidak mampu menghadapi Sasuke. Dia benar-benar tidak bisa dan kehilangan haknya untuk bersama Sasuke. Akan tetapi...dia juga tidak mengininkan Sasuke berubah jadi seperti ini. Sakura mengutuk ketidakberdayaanya, lebih dari itu, Sakura mengutuk keberadaanya sendiri.

"Berdiri jalang. Aku masih belum selesai dengan hukumanmu." Kata Sasuke. Sasuke melihat Sakura yang masih terduduk. Bayangan Sakura yang bersama Gaara sangat mengganggunya, bagaimana mungkin Sakura memasang senyum di wajahnya ketika dia melihat Gaara. Sakura tidak mematuhinya untuk tetap berada di dalam ruangan menyelesaikan pekerjaanya. "Tch." Sasuke mendecih.

Sasuke kehilangan kesabarannya dan menarik paksa tangan Sakura untuk membuat Sakura berdiri. Tidak memperdulikan pekikan sakit dari Sakura, Sasuke mengencangkan genggaman tanganya pada pergelangan tangan Sakura. Saat itulah sudut matanya menangkap sesuatu di tangan itu. Iris matanya menyipit hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Bekas luka sayatan.

Selama ini dia tidak memperhatikanya karena Sakura selalu memakai pakaian dengan lengan panjang. 'Apakah dia benar-benar mencoba menghilangkan eksistensinya dengan membunuh dirinya sendiri?' pikir Sasuke. Iris obsidianya masih melihat bekas luka di pergelangan tangan Sakura.

"Katakan padaku..apa ini?" tanya Sasuke pada Sakura.

Sakura mendongak dan mendapati lengan bajunya sedikit turun dan memperlihatkan luka yang selama ini disembunyikanya. Dan Sasuke menemukanya. Refleks Sakura menarik tanganya, tapi genggaman Sasuke semakin erat tidak membiarkan Sakura melarikan diri dari Sasuke. Sebagai gantinya, dengan tangannya yang lain, Sasuke menarik wajah Sakura menghadap langsung ke arahnya. Sasuke melihat kedua iris Sakura yang menyiratkan dia tidak ingin Sasuke mengetahui apa penyebab luka sayatan di pergelangan tanganya.

"Jawab aku. KATAKAN PADAKU APA YANG KAU LAKUKAN!" Sasuke membentak.

"Aku tidak bisa..hiks.." Sakura menggelengkan kepalanya. "Kumohon...aku tidak bisa.."

'Aku tidak bisa membiarkanmu terluka lebih dari ini. Kumohon, aku benar-benar hanya ingin melindungimu saja.' Batin Sakura berteriak. 'Kumohon Sasuke, jangan biarkan aku melukaimu lebih dari ini.'

Sasuke menggeram'Beraninya..beraninya...beraninya dia ingin mati dan meninggalkan semuanya begitu saja. Beraninya dia tanpa izinku berniat menghilang sebelum aku membalas semua perbuatanya.' Pikir Sasuke. Dia tidak akan mengizinkan Sakura melakukan itu, tujuanya adalah membuat Sakura menderita di sisa hidupnya, bagaimana mungkin Sakura berniat mengakhiri hidupnya sendiri sebelum Sasuke membalaskan luka yang dia terima dari Sakura.

Sakura meninggalkan dirinya, lalu kenapa Sakura ingin mengakhiri hidupnya? Lagi-lagi Sakura memunculkan pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Sasuke berkali-kali memikirkan apa alasan Sakura meninggalkanya waktu itu dan dia justru mendapatkan pertanyaan baru yang juga tak terjawab.

"Oh, kuharap aku mengganggumu, Sasuke."

Sasuke tersentak ketika sebuah suara mengagetkanya. Ah tentu saja suara pengganggu ini. tanpa melepaskan Sakura dia menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati seseorang yang membuat moodnya hari ini benar-benar buruk. "Kupastikan Suigetsu sudah mencegahmu untuk masuk ke sini, Kakashi?" Sasuke membalas.

"Yah..tapi dia tidak bisa menghalangiku." Pria bernama Kakashi itu terkekeh sambil menggaruk kepalanya, mengabaikan suara keributan di luar— suara protes Suigetsu yang tengah di tahan oleh bodyguardnya, Naruto.—

Sakura menoleh ke arah laki-laki yang dipanggil Kakashi. Dia terlihat lebih tua dari Sasuke, wajahnya tertutup masker dan ada sebuah bekas luka sayatan di mata kananya. Rambutnya berwarna silver dan mencuat ke atas. Sakura merasa lega dengan kedatangan Kakashi karena dia bisa menghindari pertanyaan Sasuke mengenai bekas luka di pergelangan tangannya.

"Sebenarnya aku ingin meminta maaf karena tidak bisa datang tadi, jadi aku membawakanmu jus tomat. Tapi sepertinya kau sedang benar-benar marah. Apa aku harus membawakan dua buah jus tomat?" tanya Kakashi sembari memamerkan kantung berisi jus di tanganya.

"Tidak butuh." Jawab Sasuke. Dia melepaskan Sakura dengan kasar dan berjalan menuju ke arah Kakashi. Tanpa menoleh ke arah Sakura, Sasuke masuk ke ruang meeting.

Kakashi tertawa kecil. Dia mengikuti Sasuke yang berjalan mendahuluinya, lalu menoleh kebelakang ke arah perempuan berambut pink yang Kakashi tidak kenal. Perempuan itu kebetulan sedang melihat ke arahnya—atau mungkin ke arah Sasuke, lalu Kakashi tersenyum pada perempuan yang sepertinya tadi menangis.

Yah dia tidak tau apa urusan Sasuke dengan perempuan itu, tapi Kakashi tidak menyangka dia akan mendapati Sasuke melakukan sesuatu sekasar itu pada perempuan pink di belakangnya, padahal dilihat sekilas, perempuan itu bukan seseorang yang akan melakukan seuatu yang jahat. Kakashi mengingat iris emerald yang tadi di tatapnya. Yah tapi tidak baik juga menilainya seperti itu, pikir Kakashi sembari mengingat pepatah yang mengatakan tidak baik menilai buku dari covernya saja.

.

.

Sakura berdiri di depan pintu apartemen tempat dia dan Ino tinggal. Lampu di dalam sudah menyala, pasti Ino sudah pulang. Sakura menyembunyikan kenyataan pada Ino bahwa dia bekerja sebagai sekretaris Sasuke, karena dia tidak ingin membuat Ino khawatir. Tapi kali ini Sakura tidak akan bisam menyembunyikan lebam di sudut bibirnya. Ino pasti akan mencercanya dengan banyak pertanyaan sampai Sakura benar-benar mengakui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi lebih dari itu, Sakura benar-benar membutuhkan sebuah pelukan dari Ino dan sebaris kalimat, 'semua akan baik-baik saja'.

Sakura menghela nafas panjang dan memasukan kode kunci pintu apartemen. Aroma masakan dan suasana hangat menyambutnya, Ino sedang memasak. "Aku pulang..Ino.." kata Sakura lesu.

"Ah Sakura sudah pulang." Terdengar jawaban Ino dari dapur. Derap langkah kaki menghampiri Sakura terdengar makin jelas. "Aku buat kare un.." bibir Ino berhenti berbicara ketika dia melihat Sakura di hadapanya. Dia terkejut dengan keadaan Sakura, wajahnya jelas sekali kentara kalau Sakura tadi menangis dan ada lebam di sudut bibirnya. "Apa yang terjadi, Sakura?" tanya Ino.

"Kau tau Ino.." genangan air mata mulai memenuhi sudut mata Sakura, Sakura menahan isaknya agar dia bisa mengatakan dengan jelas pada Ino. "Aku..bertemu Sasuke-kun." Sakura menutupi wajahnya dan menangis dengan keras.

Mata Ino membelalak. Sakura dengan jelas mengatakan kalau dia bertemu Sasuke. Uchiha Sasuke... 'ya Tuhan, Sakura bertemu dengan Sasuke.' Kenapa takdir begitu mempermainkan Sakura dengan mempertemukanya kembali dengan Sasuke. Ino masih belum mengetahui dengan pasti, apa yang terjadi ketika Sakura bertemu dengan Sasuke, tapi jelas sekali kalau ada bekas lebam di sudut bibir Sakura.

Bertemu dengan Sasuke saja adalah sesuatu yang cukup berat. Rasa bersalah itu pasti sedang menggerogoti Sakura lagi, dan rasa kehilangan segalanya itu pasti perlahan-lahan akan menggerogotinya kalau apa yang Ino takutkan terjadi— bekas lebam itu adalah perbuatan Sasuke. Kalau itu benar, maka pasti Sakura akan sangat menyalahkan dirinya sendiri.

Ino merangkul Sakura dan membawanya ke sofa. "Aku ambilkan air, ya?" Ino beranjak dan mengambil air dingin dari kulkas lalu membawanya pada Sakura.

Sakura menceritakan bagaimana dia kembali bertemu dengan Sasuke, bahwa Sasuke adalah CEO dari perusahaan tempatnya bekerja dan Sasuke menunjuknya langsung sebagai sekretaris, juga tentang bagaimana Sasuke berubah menjadi orang lain yang tidak dikenali oleh Sakura.

Ino geram mendengar Sakura menceritakan pertemuanya kembali dengan Sasuke. Bagaimana mungkin Sasuke menghakimi Sakura seperti itu, dia bertindak seperti kewarasan telah meninggalkanya. Sebuah pukulan di wajah Sakura memiliki makna lain yang lebih menyakitkan, bagi Sakura saat ini, rasa sakit dari pukulan itu tidak akan hilang meski lebam di wajahnya pelan-pelan terhapus.

"Sakura apa kau masih...mencintai Sasuke?" tanya Ino curiga.

Sakura tidak menjawab Ino. Dia mengalihkan pandanganya ke arah yang berlawanan dengan ino, tak tau harus menjawab apa. Dia ingin menjawab tidak, tapi kenyataan sepertinya berkata lain dan menyumbat tenggorokanya. Satu hal yang Sakura tau dengan pasti, adalah dia tidak pantas mencintai Sasuke. Sungguh dia tidak pantas setelah apa yang diperbuatnya dan setelah apa yang terjadi pada Sasuke. Tidakkah terlalu hina ketika dia masih mencintai Sasuke setelah Sakura meninggalkan Sasuke tanpa menyisakan apa-apa selain luka? Mengubur perasaanya sendiri adalah satu-satunya pilihan yang dia punya.

"Aku..tidak bisa lagi melukainya lebih dari ini Ino,, aku tidak bisa meninggalkanya lagi..." kata Sakura.

"Sakura dengar." Ino menyentuh pundak Sakura. "Kau tidak pantas diperlakukan seperti itu. setelah apa yang kau lakukan untuk menjadi lebih baik, tak seorangun berhak menghakimimu seperti itu. Kumohon..maafkanlah dirimu sendiri.." kata Ino.

Sakura mengatakan pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia memaafkan dirinya sendiri? Kata-kata maaf yang bisa dia terima adalah kata maaf untuk Sasuke. Tidak ada artinya bukan? Tidak ada artinya kalau Sasuke tak bisa memaafkanya, bagaimana mungkin Sakura bisa mencintai dirinya sendiri kalau Sasuke tidak mengizinkanya. Bagaimanapun, dia berhak dibenci oleh Sasuke.

"Aku tidak mengerti Ino,, tapi..aku memang berhak mendapatkan perlakuan seperti ini. Aku..perempuan yang buruk benar,'kan?"

Ino tidak ingin membenarkan perkataan Sakura. Dia tau, Sakura tidak akan bisa memahami bagaimana cara memaafkan dan mencintai dirinya sendiri saat ini. Bahkan sebelum bertemu dengan Sasuke pun, Sakura sudah membenci dirinya sendiri. Tapi dengan kehadiran Sasuke dan respon Sakura, seolah semua usaha yang dilakukan sia-sia. Dan memang benar, ketika Sakura dan Sasuke dipertemukan kembali seperti ini, Sasuke adalah salah satu jalan yang paling memberikan dampak pada perkembangan Sakura, tapi sayangnya dampak yang diberikan justru berlawanan degan apa yang Ino harapkan.

Ino memeluk Sakura. "Sudahlah.. tidak apa-apa..semua memang terlalu tiba-tiba. Istirahatlah Sakura. Kau bukan perempuan yang tidak bisa melakukan apapun, aku tau itu.." Ino menarik nafas. "Aku tau itu..maka dari itu Sakura..cobalah pelan-pelan untuk menerima dirimu sendiri."

Sebuah fragmen kenangan yang terasa jauh berkelebat di benak Sakura. kenangan itu jelas, tapi terasa jauh. Tentu saja, itu adalah fragen ingatan tentang dirinya dan Sasuke ketika semua masih baik-baik saja.

"Tau tidak satu mantra yang bisa membuatmu percaya diri?"

"Tidak tau."

"Aku mencintaimu."

==oo0oo==

To be continoued~


Terima kasih kepada temen-temen yang sudah review, : )

Uchihasasusaku, Guest, Shaula, CherryMalikha, tixxxx, Kimm, Fujiwaraa, ires

Terima kasih sudah memberikan review buat cerita saya, : ) terharu lho sama temen-temen yang nunggu false, : ) tiap baca komen jadi makin semangat lanjutin he he terima kasih buat supportnya. Semoga suka dengan chap 3 nya, :): ) ehe gimana ya, semoga tebakan-tebakanya mulai terjawab.


Semoga temen-temen suka dengan chapter tiga FALSE jangan lupa review kalau ada kritik dan saran tentang gaya kepenulisan saya : )

Sampai jumpa di chap 4: )))