spin-off
Mereka melewati dini hari dengan canggung. Begitu canggung, seakan kecanggungan itu sendiri adalah lendir yang membelit udara, ikut masuk dalam tarikan napas, lengket di dalam paru-paru mereka. Mungkin itu bisa menjelaskan kenapa bernapas mendadak jadi sulit bagi Midorima, dan Akashi lebih tertarik pada penataan bar ketimbang dengan lelaki yang sedang duduk di sebelahnya.
Kata "Oh" dan "Selamat ya" tidak terasa benar ketika diucapkan oleh lidah Midorima, tidak terasa pas juga ketika telinga Akashi menangkapnya, hingga lelaki berambut merah itu bahkan tidak bisa membalasnya dengan sekadar "Terima kasih", jadi ia hanya tersenyum, lagi, dengan penuh profesionalitas; mereka sama-sama tahu bahwa itu hanyalah sebuah lengkungan yang ditempel ke bibir, bukan cerminan emosi.
Akashi dengan santai berusaha mencari topik lain seputar isi ruangan, botol-botol yang berjejer di rak di hadapan mereka, bahkan sampai ke cara berdiri si bartender yang aneh. Tidak terlalu berhasil. Midorima berusaha menutupi rasa ingin tahunya tentang urusan pernikahan Akashi atau calonnya yang merupakan pewaris perusahaan yang akan bergabung ataupun perasaannya saat harus menerima itu. Tidak terlalu berhasil juga. Mereka berdua melempar topik ke hal lain, seperti berbagai hobi yang mereka gemar lakukan bersama, namun semuanya hanya membawa kenangan-kenangan yang justru ingin dihindarkan Akashi. Ia bertanya soal keadaan teman-teman mereka, dan Midorima pun akhirnya memilih untuk menceritakan rangkuman keadaan masing-masing dari bekas anggota Vorpal Swords selama setahun terakhir, daripada harus berpura-pura fokus pada semua hal di bar itu selain Akashi.
Mereka berdua membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan; kegiatan masing-masing, pekerjaan, politik, nilai tukar yen, bahkan sampai perbandingan tingkat kejahatan di Jepang dan Amerika, atau restoran-restoran ternama yang salah satunya menjadi tempat Murasakibara bekerja sebagai juru masak. Ratusan menit lewat, tanpa terasa seperti yang sewajarnya terjadi ketika mereka hanya berdua, namun pada akhirnya, konversasi tetap kembali ke topik itu; Midorima berusaha memulainya dengan hati-hati, "Kau berangkat ke Kyoto pagi ini?"
Akashi melirik kopernya sekali lagi. "Ya, naik Nozomi[1]. Jam 6."
"Aku akan tetap di sini sampai sekitar jam 6."
"Aku senang sekali."
"Tapi itu karena—bukannya mau menemanimu atau apa, ya—aku hanya menunggu kereta paling pagi untuk pulang."
"Aku mengerti."
Keduanya tahu bahwa kereta paling pagi mulai berjalan sebelum jam 6.
Mereka diam lagi. Meneguk kelas ketiga masing-masing. Akashi melirik arloji, lalu tiba-tiba memutar badan menghadap Midorima, matanya agak tidak fokus, padahal si dokter tahu bahwa toleransinya terhadap alkohol tidak selemah itu. "Kau tahu kan kalau selama ini aku selalu menyukaimu?"
Midorima terperanjat, tidak tahu harus menjawab bagaimana ketika ditanya langsung. "A-aku—sealama ini, sebenarnya aku mungkin menangkap beberapa sinyal—"
"Sinyal apa, memangnya kau telepon genggam," potong Akashi tajam, kentara sekali tidak sabar, "aku menyukaimu sejak kita masih di Teikou, tapi aku tidak benar-benar menyadari bagaimana perasaanku sendiri sampai aku memulai kuliah, dan di titik itulah segalanya menjadi terlambat." Ia mengedip, sekali, terlihat agak malu ketika menatap mata Midorima. "Bukannya mengatakannya sekarang akan mengubah apa pun. Aku hanya ingin kau tahu."
Mulut Midorima terbuka, menutup, jakunnya bergerak ketika ia menelan ludah, lalu bibirnya membuka lagi, tapi tetap tidak ada suara yang keluar.
"Maaf kalau aku membuat suasananya tambah kikuk, aku hanya ingin kau tahu kalau aku sangat, sangat menyukaimu, Midorima, dalam artian 'itu'. Konyol sekali bagaimana aku butuh bertahun-tahun untuk mengatakannya langsung padamu." Akashi tertawa kecil, lalu kekehannya memelan dan menghilang begitu saja seperti kerikil yang dilemparkan ke dalam sumur, tenggelam di lumpur yang mengendap di dasarnya.
"Tapi kau tidak perlu memikirkannya jika itu terlalu sulit diterima. Sehabis ini, aku akan menghilang dari kehidupanmu lagi, tenang saja—akan kucari apartemen lain, kupindahkan kantorku kalau perlu—seperti yang memang sudah seharusnya." Ia mengeluarkan beberapa lembar yen dari dompet dan meletakannya di meja, jumlahnya cukup untuk membayari minum Midorima juga. "Lupakan saja semuanya, kau pantas mendapat yang lebih baik. Kau bisa anggap aku tidak pernah ada."
Akashi sudah menurunkan satu kaki dari kursinya ketika Midorima menahan lengannya. "Melupakanmu itu adalah hal paling tolol yang pernah aku dengar."
"Maaf?"
"Aku tidak mengerti bagaimana kau sanggup melakukannya, menghilang seperti itu," katanya cepat, "atau bagaimana kau bisa berpikir kau begitu mengetahui segalanya hingga berhak menentukan apa yang terbaik untukku." Mata Midorima menyipit di balik lensanya, suaranya menjadi bisikan rendah. "Melupakan seseorang yang kau cintai tidak semudah itu!"
Sekitar jam lima pagi itu, mereka keluar dari bar dan mengambil jalan memutari bangunan untuk menuju stasiun. Akashi berjalan dua langkah di depan Midorima. Di gang yang sepi itu, ia berhenti dan berbalik. Mereka berhadapan dalam jarak yang dekat sehingga Akashi harus mendongak, biasanya itu akan membuatnya benar-benar jengkel, tapi kali ini ia sama sekali tidak keberatan.
Tangan Akashi menggapai belakang lehernya, menariknya lembut, Midorima memeluk pinggang lelaki yang lebih pendek, dan meski wajahnya memerah, ia mempertemukan bibir mereka. Begitu saja, tanpa kata-kata ataupun aba-aba. Segalanya terjadi secara alamiah seakan memang itulah yang seharusnya terjadi.
Akashi menciumnya, Midorima menciumnya balik. Si rambut merah memiringkan kepalanya ke satu sisi dan membuka bibirnya, lidah mereka melekat, merasakan sisa pahit di mulut masing-masing. Midorima telah memimpikan ini selama bertahun-tahun, mengecap lembutnya bibir Akashi dan tergelitik saat napasnya yang hangat menyapu wajahnya. Ia nyaris berharap akan terjadi sesuatu yang digambarkan di novel-novel cengeng milik adik perempuannya yang sesekali ia baca karena tertinggal di apartemennya, seperti kupu-kupu yang mengepak di perutnya atau kembang api yang meledak-ledak di balik matanya; tapi tidak ada apa-apa selain sengatan mirip listrik yang membuatnya ingin mendapatkan lebih dan lebih dan lebih. Akashi telah memikirkan ini selama yang bisa ia ingat, dan ia tahu tidak akan ada perasaan berbunga-bunga yang mekar di dadanya jika ia, suatu hari, memiliki kesempatan untuk mencicipi sedikit bagian dari Midorima. Kupu-kupu yang mengepak di perutnya adalah binatang yang sekarat dan frustrasi, dan ledakan-ledakan mercon di kepalanya nyaris menghanguskan saraf kendali dalam otaknya.
Hujan telah berhenti, mendung masih membayangi, sisa tangisan awan menetes-netes dari sudut atap, seperti kewarasan Akashi yang ia rasa sedang terkikis perlahan-lahan semakin lama ia berdekatan dengan Midorima, sementara mengetahui dengan pasti bahwa mereka tidak akan bisa saling memiliki.
Mereka berpisah.
Midorima masih ingin memilikinya, tapi sorot mata Akashi berkata bahwa ciuman itu adalah untuk yang pertama dan yang terakhir. Ia tahu ia tidak akan sanggup menghentikan dirinya sendiri untuk yang kedua kali.
Seperti sebuah spin-off, kata kita dalam kehidupan mereka berdua hanyalah tambahan dari yang sudah tertulis di buku takdir masing-masing; sebuah cerita sampingan. Mungkin fungsinya untuk mengoreksi sesuatu, mungkin juga tidak. Apa pun yang mereka lakukan, tetaplah tidak bisa mengubah apa yang telah digariskan.
Kedua lelaki itu beriringan menuju stasiun, yang memakai kacamata berjalan dua langkah di belakang yang satunya. Sebelum masuk ke peronnya, Akashi berhenti lagi, tapi Midorima lebih dahulu bicara, "Itu tidak seharusnya terjadi."
Si rambut merah menoleh, irisnya yang merah dan sejernih kaca seakan mengiyakan, Memang tidak.
Akashi tersenyum pada Midorima.
"Kau bisa menganggap kita tidak bertemu tadi malam," ujarnya, sama sekali tak menyiratkan emosi, "karena kita bukanlah sebuah awal, Midorima, bukan juga sebuah akhir; yang ada hanya kau dan aku, dalam sebuah kisah yang tidak pernah ada."
Kemudian ia pergi tanpa menoleh lagi.
Itu adalah pertama kalinya Midorima Shintarou melihat Akashi Seijuurou setelah setahun tak bertemu, dan terakhir kalinya ia melihat lelaki itu sepanjang sisa hidupnya.
[1] Kereta tercepat di jalur Tokaido/Sanyo Shinkansen.
a/n: saya sebenernya juga nggak tau ini apaan, mungkin efek memulai akamido week kemarin dengan yang manis-manis kali ya, pas nyampe midoaka month stok fluff saya habis hahaha. /dibanjur anyway, terima kasih sudah membaca dan mari kita mengisi MIDOAKA MONTH! owo
