Be Bright
Kim Mingyu | Jeon Wonwoo | de el el | Meanie | GyuWon | SEVENTEEN
Genre romance asam manis like always
Ratingnya T lebih dikit mungkin :'v
Plagiat? Kesenangan boleh dipikul, dosa jinjing sendiri /?
WARNING !
.
Chapter ini agak panjang, tolong kuatkan diri Anda :'v
.
.
[Chapter 3]
.
Wonwoo itu tidak bisa bersikap manis bahkan saat dia tidur sekalipun. Ini masih jam 2 pagi tapi bagi Mingyu, sudah kali ke 4 dia ditendang hingga merasakan nyeri di perutnya. Untuk tendangan yang ke 4 ini, Mingyu sukses terjun bebas dari tempat tidur dengan kepala jatuh lebih dulu, matanya terbuka dengan berat sebelum dia menyumpah dalam hati. Kalau tahu begini, lebih baik dia yang menendang Wonwoo ke lantai. Bocah itu selalu mengatainya tidak bisa diam seperti kincir tapi nyata-nyatanya kalau tidur Wonwoo bisa jauh lebih liar.
Mingyu merangkak dan menaiki ranjang, ia menyibak selimut dan berbaring lagi di samping tubuh tertidur itu. Sebelum ia berdoa agar tidurnya bisa tenang, ia merasakan sesuatu meraba perutnya, matanya memicing, dia tersenyum kecil begitu tahu si pemilik tangan putih pucat itu tengah melingkarkan lengannya pada perut Mingyu yang rata. Dan Wonwoo kemudian berguling, memeluk tubuhnya dalam tidur. Mingyu melihat Wonwoo yang sedang memeluknya ini lantas memeluk balik tubuh lidinya, rasanya menyenangkan. Apalagi saat kaki Mingyu menelusup, dengan lengannya yang kuat melingkari pinggang ramping Wonwoo, mengunci gerakan brutal tersebut hingga namja itu bisa tenang dalam sisa waktu tidurnya.
Dan benar saja, Mingyu berhasil membuat Wonwoo tidak bergerak sampai pagi.
Kalau begini, Mingyu hanya bisa berharap kalau matahari bisa bangun siang, hingga waktu tidurnya diperpanjang sedikit saja.
.
Tapi permintaan Mingyu tentang matahari yang kesiangan itu nampaknya mustahil, karena jika matahari bangun siangpun Wonwoo sudah terbiasa bangun pagi tanpa bantuan sinar matahari. Seperti sekarang, bahkan saat sinar-sinar jingga itu semburatnya tidak terlalu kelihatan, Wonwoo sudah mengerang, mengerjapkan matanya yang terasa berat. Namun ketika ia hendak merentangkan tangan dan kakinya, Wonwoo merasa badannya jadi lebih berat.
"Ugh!" dengan erangan kecil, Wonwoo menggeliat tak nyaman begitu tahu badannya seperti tengah ditahan oleh sesuatu.
Dan mata tajam itu terbuka dengan tiba-tiba saat ia mengendus aroma khas yang menghantuinya sejak dia memakai sweater kebesaran ini. Dan sekarang hidungnya benar-benar tak bisa menetralisir bau maskulin yang membuatnya jadi berdelusi.
"ASTAGA!"
Wonwoo berteriak kencang memecah keheningan pagi yang lembut dan penuh embun kala itu. Bagaimana tidak, hal yang pertama kali ia lihat saat bangun tidur adalah dada seorang pria yang dibalut dengan kaus, begitu dia mendongak, rahang tegas dan bibir itu terlihat jelas, sampai pikirannya sadar kalau posisinya saat ini bisa mengundang pikiran liar dari siapapun yang melihatnya. Wonwoo bahkan tak sempat untuk sekedar mengumpat atau bahkan memukuli pria dengan rambut coklat yang tengah tertidur dengan tangan memeluk pinggangnya tanpa permisi.
"Aduh!"
Mingyu jatuh untuk kali kedua dari tempat tidur, matanya terbuka dan menyipit namun masih tak bisa menangkap raut wajah Wonwoo yang terlihat marah dari atas kasur dengan bed cover menyelimuti tubuhnya. Tidur berpelukan dengan pria mesum yang punya tinggi kelewatan ini membuat Wonwoo merasa telah ditelanjangi. Memalukan.
"KENAPA KAU TIDUR DISINI?" Wonwoo berteriak lagi dan melemparkan bantal saat dia melihat Mingyu tak menggubris tatapan marahnya, dengan santai namja itu malah merangkak dengan muka kusut menuju ranjang, menggapai-nggapai bantal yang tersisa dan menguap panjang.
"KIM MINGYU BENAR-BENAR!"
Mingyu merasakan hujaman empuk dari bantal yang perlahan-lahan membuat kepala kosong itu jadi terasa nyeri. Rupanya ia belum sempat mengumpulkan nyawanya yang berhamburan di sekitar kepala, jadi kesadaran Mingyu belum utuh tapi Wonwoo sudah menghadiahinya pukulan.
"Ngantuk," Mingyu menelungkup di atas kasur, mengabaikan segala macam teriakan Wonwoo yang kini mulai mendorong-dorong lengannya yang kuat dengan tenaga seadanya. Mata hazel Mingyu menyipit, melirik Wonwoo yang terlihat begitu kesal dan putus asa dengan wajah memerah, entah karena dingin atau karena malu.
"Jeon Wonwoo berhenti mengomel," Mingyu bergumam, tidurnya sudah dipenuhi dengan tendangan dan rasa nyeri, ia ingin pagi yang damai dan menyenangkan. Tapi belum apa-apa Wonwoo sudah mengamuk layaknya bison.
Wonwoo menjambak rambutnya sendiri, terdengar frustasi, "Kenapa kau tidur disini?"
"Karena ini kasurku," Mingyu meraup bantal yang dibawa Wonwoo untuk memukuli kepalanya dan membuangnya ke lantai, ia tak mau otaknya yang sudah tumpul ini jadi tambah tergerus karena pagi-pagi Wonwoo sudah membuatnya pening.
Dan sialnya bagi si kurus, dia lupa kalau saat ini ia tengah berada dalah teritori kediaman milik Kim Mingyu. Beralih dari kegiatannya menyumpahi namja yang kini mulai mengambil posisi duduk itu, Wonwoo malah gantian menyumpahi dirinya sendiri.
"Kenapa tidak membangunkanku?" kali ini Wonwoo bertanya dengan lebih tenang saat Mingyu sudah berpindah posisi dari telungkup, mengucek matanya sambil duduk bersandar pada dashboard kasur.
"Aku tidak tega, kau terlihat lelah," Mingyu mengedip dan merasakan kesadarannya sudah kembali normal, ia menahan tawanya yang sudah sampai di ujung lidah saat dia menyadari wajah bangun tidur Jeon Wonwoo, dan ia bersumpah kalau Mingyu lah yang pertama kali melihatnya.
"Harusnya kau bangunkan aku, aku ingin pulang," dan Wonwoo kali ini tanpa sadar malah menggunakan nada merengek pada Mingyu yang susah payah menahan senyumnya, entah kenapa, sudut-sudut bibirnya ini begitu ingin tertarik ke atas.
Wonwoo yang baru bangun tidur itu lucu. Menggemaskan kalau Mingyu bilang, dia tak pernah melihat pria dengan sweater kebesaran dan celana training yang kebesaran juga, ada di atas ranjangnya. Rambut hitamnya yang lembut itu tak karuan, teracak tidak rapi dan mata tajam itu memerah sedikit, pandangannya sayu dan pipinya bersemburat merah muda, efek dingin yang membuat kulit Wonwoo yang sensitif itu tak kuat. Apalagi, Mingyu tak bisa untuk tidak terkejut saat Wonwoo tengah merengek padanya. Astaga, itu benar-benar di luar akal sehat.
Kalau sudah begini, tolong jangan salahkan Mingyu kalau Wonwoo tidak akan pulang sampai besok.
"Pulangkan aku!" Wonwoo merengek lagi, mungkin ia tidak sadar kalau nada bicaranya terlihat seperti anak SD yang tengah minta mainan. Namun Mingyu tak keberatan, ia menyukainya.
Dasar bibir yang tak bisa dikontrol, Mingyu malah membebaskan tawanya, berderai-derai memecah rengekan manja Wonwoo yang minta pulang. Ia membuat Wonwoo yang sudah menggenapkan nyawanya di kepala jadi diam seketika, bingung. Dan agaknya membuat namja yang lebih pendek dari Mingyu ini malah memasang tatapan tajam dan setengah cemberut.
"Kenapa tertawa?" sahutnya galak.
Masih dengan tawa yang tertinggal dalam mulutnya, Mingyu susah payah mengendalikan diri, menghindari tatapan tajam Wonwoo yang mengulitinya, "Kau lucu."
Tidak suka dikatai lucu, Wonwoo dengan sekuat tenaga menggeplak kepala Mingyu dengan tangannya, mengomel lagi tanpa ujung hingga Mingyu mengaduh kesakitan, "Kim Mingyu berhenti tertawa, cepat ganti baju dan pulangkan aku, YA!"
Wonwoo memutar matanya malas, ia membiarkan Mingyu tertawa sendiri sampai puas sebelum ia bisa kelepasan dan malah marah-marah di rumah orang lain. Oke, Wonwoo masih mengingat sopan-santun dan tata krama tentang bagaimana cara yang baik bersikap sebagai tamu. Tapi, ia pikir kalau tuan rumahnya adalah Mingyu, ia harus mengurangi pasal-pasal dalam etika menjadi tamu yang baik karena ia sudah menendang dan menyumpahi Si Tuan Rumah yang punya gigi taring abnormal ini.
Tanpa sadar mata Wonwoo menelusurkan pandangan pada namja di hadapannya yang masih betah tertawa ini. Wonwoo tidak pernah berbagi ranjang sebelumnya, dan kini baru saja tidur berdua dengan seorang biang onar di sekolah. Pipinya memanas begitu ia melihat Mingyu dengan kaos tipis dan celana pendek itu, Wonwoo sebal untuk mengakuinya, namun otaknya terus saja berfikir kalau Mingyu itu seksi kalau sedang bangun tidur. Dengan rambut berantakan kan baju yang kusut, Wonwoo sukses menumbuhkan berbagai fantasi liar yang tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya dengan tidak sopan.
Suara yang berat, bau khas yang susah hilang dari pikirannya, dan sebuah tawa yang sudah ia dengar pagi ini membuat dirinya menunduk, tak berani lagi menelusurkan pandangannya lebih lanjut karena takut pipinya akan betambah panas dan lebih susah dikendalikan.
"Hei, kau punya pikiran jorok tentang aku ya?" Mingyu menaikkan dagu Wonwoo dengan tangan kanannya sambil terkekeh, menuduh tanpa dasar.
Wonwoo mendelik, "Enak saja!" ditepisnya tangan lebar Mingyu dan menghujaninya dengan tatapan menusuk yang kali ini membuat Mingyu tertawa lagi.
"Hei, aku tidak menyangka anak sepertimu bisa punya pikiran kotor, tapi wajar sih, laki-laki mana yang tidak mengalami e…"
Cepat-cepat Wonwoo membekap mulut kotor yang susah dikendalikan itu dengan telapak tangannya, wajahnya merah. Mingyu mengerjap sementara Wonwoo kini tak bisa lagi menyembunyikan rasa malunya yang sudah menguar kemana-mana.
"Berhenti mengoceh," desisnya sebal.
Mingyu tak berkutik saat merasakan telapak tangan itu menyentuh permukaan bibirnya, ia mengerjap dan memandang Wonwoo yang kini buru-buru menjauhkan tangan. Wonwoo gelisah lalu dengan cepat mencari objek apa saja asal jangan melihat wajah tampan pria di depannya ini.
Sial, sejak kapan Wonwoo jadi gampang merasa malu sih.
Kaki panjang Mingyu bergerak turun meninggalkan ranjang menimbulkan suara decitan kecil. Ia tersenyum dan mengusak kepala Wonwoo sebelum menjatuhkan handuk tepat di atas kepalanya, membuat Wonwoo mengerjap cepat.
"Mandilah, pakai air hangat," Mingyu meregangkan sedikit pundaknya yang kaku sebelum memilih berjalan meraih kenop pintu, "Aku tunggu dibawah, kita sarapan."
Lagi-lagi tanpa banyak bicara Wonwoo mengangguk, mengendus aroma handuk yang entah kenapa bisa membuat pikirannya pening ini. Dirinya meruntuk kesal, ia sebal karena bisa-bisanya Mingyu membuat dirinya jadi mudah merasa lemah.
Tapi yang pasti, delusi liar di pikiran Wonwoo muncul sejak ia bangun setelah tidur dalam dekapan namja berandalan itu.
.
Sepanjang Mingyu menggoreng kentang dan sosis, Wonwoo terus menerorrnya dengan kalimat 'aku mau pulang' sementara namja tinggi itu tengah memasak sambil sesekali mengibaskan rambutnya yang basah karena keramas tadi, ia sama sekali tak berniat menggubris Wonwoo yang kini mulai cerewet di meja makan.
"Sebelum kau pulang, harusnya kau minta maaf dulu padaku," Mingyu berucap tanpa memandang Wonwoo yang sekarang sengah memainkan pisau dan garpu, rambut Wonwoo sama basahnya dengan Mingyu, efek keramas yang belum kering benar.
"Memang kenapa?" Wonwoo mengusak rambutnya lagi dengan handuk sebelum hidungnya mengendus wangi keju yang menguar, hingga perutnya meraung tiba-tiba.
"Kau sudah menendangku tahu, sepanjang tidur kau berputar seperti kincir," Mingyu berbalik badan, mendengus kesal sembari menuding-nuding Wonwoo dengan sendok kayu.
"Aku tidak seperti kincir," Wonwoo berdesis, tidak mau dia disamakan dengan benda yang tidak bisa diam itu, lagipula, yang seharusnya seperti kincir itu Mingyu, bukan dia.
Mingyu berbalik membawa 2 piring kentang dan sosis, sebelum meletakkannya di hadapan Wonwoo yang sudah siap garpu dan pisau, Mingyu berkata, "Apa kau selalu tidur seperti itu?"
"Asal kau tahu itu sudah turunan!" Wonwoo menyahut piring lebar tersebut dan buru-buru menuangkan beberapa serbuk lada.
"Jangan tidur dengan orang lain kalau begitu," sembari menarik kursi, Mingyu duduk tepat di hadapan Wonwoo yang mulai tidak sabaran, sepertinya dia sangat lapar.
"Memang kenapa?"
Mingyu batal menusukkan garpunya pada potongan kentang, "Kau itu baru bisa diam waktu aku menjepitmu tahu, masa kau harus dipeluk orang dulu baru bisa tidur tenang?"
Wonwoo tersedak, mulut bawel Kim Mingyu memang terkutuk, terbatuklah ia sekarang, tangannya menggapai-nggapai gelas berisi air putih tanpa memperdulikan namja di hadapannya ini yang masih asyik mengoceh, "Jangan tidur dengar orang lain! Kau ini liar sekali waktu tidur, kau kira ditendang dan jatuh itu tidak sakit? Dua kali kepalaku benjol gara-gara ulahmu, dan juga, jangan sembarangan memeluk orang, aku sih tidak masalah kalau kau memelukku tapi jangan peluk orang lain sembarangan, nanti kau yang susah."
Wah hebat sekali namja ini pagi-pagi sudah berceramah seperti pendeta, ia berhenti bicara saat melihat Wonwoo menunduk dengan ekor matanya, terlihat sekali kalau pria ini sedang berusaha menyembunyikan rasa malu dan memasang topeng aspalnya yang entah kenapa bisa dengan mudah rontok di hadapan pemuda ini.
"Aku, tidak, memelukmu!" Wonwoo menuding Mingyu dengan pisau kecil dan menatap namja yang mulutnya penuh dengan kentang itu.
"Heol, kau tidak tahu memang, aku yang merasakannya, lenganmu melingkari perutku sampai sesak," beberapa bulir garam terhambur dari mulut cerewet Mingyu membuat Wonwoo tak tahan untuk melemparkan serbet. Tapi urung karena ia masih mengikuti pedoman manjadi tamu yang baik.
"Kakimu bahkan sampai di pinggangku, kau kira aku ini guling?" Mingyu menceroros lagi sebelum Wonwoo dengan paksa buka suara.
Wonwoo meletakkan garpu dan pisaunya, "Oke, bisa tolong jangan bahas kejadian tadi malam dan pulangkan aku segera. Maaf kalau aku menyakitimu."
Dengan kalimat barusan Wonwoo berharap Mingyu akan berhenti bicara dan dengan cepat akan membawanya pulang, lalu lenyap sudah delusi yang mampir ke kepalanya mulai dari kemarin.
"Nah, sudah seharusnya memang kau minta maaf. Kita ini laki-laki, memang wajar kalau punya pikiran kotor, haha," tawa ringan itu muncul saat Wonwoo baru saja mencelupkan sosis ke dalam saus.
"Hentikan obrolan tentang pikiran kotor, aku sedang makan."
Mingyu mengangkat alis, lalu memasukkan sepotong besar kentang dan daging bacon, "Kalau begitu kita lanjutkan setelah makan."
Oke, beruntung sekali leher Mingyu masih utuh setelah ucapannya barusan.
.
"Kau benar-benar sengaja menculikku, atau bagaimana sih?" Wonwoo masih duduk di kursi ruang makan, tangannya bersedekap, malas melihat Mingyu yang asyik menuangkan jus wortel bercampur jeruk ke dalam dua buah gelas bening.
"Bisa dibilang begitu," Mingyu mengangguk-angguk, menambahkan sedikit serpihan daun mint pada permukaan cairan berwarna oranye tersebut.
"Kau benar-benar mau menculikku hanya gara-gara 2 lusin ayam goreng? Kau ini keterlaluan!" Wonwoo membelalakkan matanya tak percaya.
Sejenak, Mingyu ingat taruhan tentang ayam goreng dengan Soonyoung dan Seokmin kemarin, namun ia perlahan jadi malas memikirkannya saat teringat senyuman Wonwoo di bawah guyuran hujan itu, rasanya entah kenapa Mingyu jadi tak ingin berbagi mata bulan sabit itu dengan Soonyoung dan Seokmin.
"Tidak juga sih," Wonwoo melayangkan pandangan pada gelas berisi jus yang baru saja disodorkan Mingyu padanya. Ragu-ragu, Wonwoo mengulurkan kedua tangan, meraih gelas tersebut dan meminumnya beberapa teguk.
"Aku benar -benar tidak mengerti jalan pikiranmu," Wonwoo masih tak mau menyerah, tapi Mingyu ini otaknya sedikit bebal.
Mingyu terkekeh, lalu mendekatkan wajahnya pada Wonwoo membuat namja itu mengerutkan dahi, "Aku akan mengajakmu bersenang-senang hari ini."
"Hah?"
Telunjuk Mingyu yang panjang kini mampir di dahi lebar Wonwoo yang tertutup poni, "Aku ingin menghilangkan kerutan ini di bawahmu. Kau itu kurang piknik."
Wonwoo masih dengan wajah datarnya menepis telunjut tersebut, "Tidak butuh terima kasih."
"Tapi aku ingin."
"Aku tidak," Wonwoo menyembur kesal.
"Aku bertaruh kau ini tidak pernah bersenang-senang kan? Kau pasti paling suka kencan dengan buku dan bola-bola bulu mengerikan itu di kandang," Mingyu mencibir dan dihadiahi delikan mata Wonwoo yang melebar.
"Serius, Kim Mingyu kau itu yang aneh. Untuk apa kau repot-repot menahanku, berhentilah terlalu peduli pada kerutan di dahiku atau apapun itu, ini tidak nyaman," Wonwoo menyesap lagi jus yang terasa sedikit masam di lidahnya.
Sebenarnya ucapan Wonwoo itu ada benarnya juga, untuk apa Mingyu repot-repot melakukan ini semua. Perlu diketahui, Mingyu bukan orang yang rela menyisihkan waktunya untuk hal aneh seperti ini. Dan juga, kenapa tiba-tiba ia melupakan ayam goreng 2 lusin yang sebelumnya mati-matian ia dapatkan itu? Mingyu sendiri bingung, hingga akhirnya ia tak bisa menjawab pertanyaan yang barusan dilontarkan Wonwoo untuknya.
"Hanya, ingin," Mingyu menundukkan pandangannya dan memilih memandangi daun mint yang melayang-layang pada permukaan jusnya.
Wonwoo mengangkat alis, sebelum akhirnya menghela nafas karena mulutnya sedang tak ingin beradu dengan namja di hadapannya ini. Keheningan menyelimuti ruang makan tersebut sebelum akhirnya Wonwoo yang melontarkan pertanyaan.
"Apa orang tuamu tidak kerja di korea? Mereka tidak pulang dari kemarin," sebenarnya Wonwoo tak ingin bertanya, namun melihat Mingyu yang semenit sebelumnya begitu cerewet seperti burung parkit itu mendadak diam dan tampak seperti berfikir.
Mingyu mendongakkan wajahnya, "Seperti yang kau katakan barusan, saat natal mereka akan pulang."
"Oh," Wonwoo mengerucutkan bibirnya, "Tidak apa-apa sendirian?"
Sialnya Wonwoo tak tahu kenapa mulutnya malah bertanya seperti itu, membuat Mingyu mengedip cepat, sebelum tersenyum kecil membuat jantung Wonwoo seperti dialiri listrik statis. "Aku sudah terbiasa sih, lagipula, aku bisa bebas kemana-mana kalau sendirian."
Wonwoo melihat guratan aneh di mata gelap Mingyu, ia mendesah pelan, menenggak habis jusnya dan memangku dagunya dengan kedua tangan. Dia menatap serius sosok di depannya ini dengan mataya yang tajam selama beberapa detik sebelum Mingyu yang merasa dirinya diperhatikan.
"Jangan menatapku begitu, mengerikan!"
Pemuda emo itu mengerjap sebelum ia mengucapkan sesuatu yang bisa membuat telinga Mingyu serasa berdiri.
"Baiklah, kau boleh menculikku!"
Jeon Wonwoo benar-benar sudah gila.
.
Mingyu menjejakkan kakinya yang terbalut converse menjejak di depan pintu sebuah amusement park. Wonwoo bengong, Mingyu benar-benar punya jiwa yang terlampau 'cerah'. Ayolah, Wonwoo anti sekali dengan yang namanya taman bermain, game centre, pasar malam, festival atau apapun itu, alasannya sederhana.
Wonwoo benci keramaian.
Dan sekarang dia bisa melihat sebuah tulisan besar berwarna emas. Memang sih, Wonwoo rela saja jika dibawa bersenang-senang, tapi ia tak menyangka kalau seperti inilah tipe bersenang-senang ala Kim Mingyu. Mendadak Wonwoo merasa bodoh saat beberapa menit yang lalu ia malah rela 'diculik' oleh namja setinggi tiang ini.
"Aku tidak mau," Wonwoo menggeleng.
"Kau akan menyukainya, percayalah," dengan senyuman kecil, Mingyu merangkul bahu Wonwoo dan mengajaknya melangkah masuk untuk membeli tiket. Kekehan Mingyu makin menjadi saat ia melihat raut wajah ketakutan Wonwoo.
Wonwoo menggeleng, "Aku tidak suka, jangan kesini ah!"
Mingyu akhirnya memutar bola matanya malas, ia menghadapkan Wonwoo ke arahnya dan mengusak rambutnya sambil terkekeh, "Kau kalah dengan anak SD," namja itu melempar pandangan ke sekumpulan anak kecil yang berlari-lari menuju loket masuk.
"Aku tidak suka keramaian Kim Mingyu!" Wonwoo meninju perut bidang Mingyu dengan kesal, tapi ini serius, Wonwoo tidak suka banyak orang dan suara-suara bising.
"Semakin lama kau berdiri di sini, loketnya akan semakin ramai," Wonwoo memasang tatapan melas saat Mingyu makin menarik lengannya, ia menggeleng lagi.
"Kau mau jalan sendiri atau aku yang menyeretmu?"
Wonwoo menggeleng.
"Kau mau jalan atau kugendong?"
Kali ini ia mendelik. "Heol, kau gila!"
Dan sepertinya memang benar, rasanya Wonwoo tak lagi mendapati kakinya menapak pada tanah, Mingyu menggendongnya dan menaruh badan ringannya itu dengan enteng di bahu, seperti karung beras. Membuat Wonwoo melayangkan makiannya lagi sembari memukul punggung tegap Mingyu. Lelaki itu tak segera menurunkannya di depan loket, mengundang setiap pasang mata yang lewat. Bagaimana tidak, seorang pria dengan rambut hitam yang tak henti-hentinya mengoceh digendong seperti karung di atas pundak tegap pria tinggi yang terkekeh ringan.
"Pulang nanti aku akan benar-benar menggorok lehermu!" Wonwoo menyahut tiket masuk dengan kasar dari tangan Mingyu saat melihat pria itu memamerkan gigi taringnya dengan tawa menyebalkan.
Mingyu masih menampilkan senyumannya yang menurut Wonwoo itu menjengkelkan, langkahnya yang panjang menyusul Wonwoo yang sudah berjalan duluan dengan langkah memburu dengan muka ditekuk.
"Ya! Jeon Wonwoo!"
.
Wonwoo merasakan sedikit tak nyaman saat ia melihat banyak orang di sekitarnya. Begitu segerombolan orang tanpa sengaja menyenggol bahunya, tangan kurus itu refleks mengamit lengan Mingyu dan meremas jaketnya. Mingyu mengangkat alis dan menunduk sedikit saat ia melihat Wonwoo tengah berusaha menghindari beberapa orang yang berjalan di sekitarnya.
"Jangan lepaskan peganganmu, aku tidak mau repot kalau kau sampai terpisah dan hilang," Mingyu melepaskan genggaman Wonwoo pada jaketnya sebelum ia membawa tangan kurus itu pada genggamannya sendiri. Ini lebih baik, daripada jaketnya harus ditarik-tarik.
"Salah sendiri mengajakku kesini, kan aku sudah bilang tidak mau!" si pendek itu hanya mendengus sebal, merasa risih dengan genggaman tangan yang lebih besar darinya itu.
"Kau hanya belum terbiasa, nanti juga akan betah kok," Mingyu terkekeh, keduanya berjalan beriringan menyusuri jalan yang cukup padat. Berbekal peta lokasi di tanganya, Mingyu masih bingung menentukan tujuan awalnya bersama Wonwoo kali ini.
"Lepaskan peganganmu, ini memalukan," Wonwoo menggoyangkan tangannya, namun Mingyu malah memukulkan peta yang berbentuk seperti brosur itu pada kepala Wonwoo dengan cukup keras.
Dan si pemilik kepala hanya bisa mengomel, "Kau mau terpisah? Tidak tidak, kalau kau tidak mau, aku akan membelikanmu rantai sekalian."
"Lucu sekali Kim," dengan dengusan sebal, Wonwoo akhirnya mengikuti saja keinginan namja jangkung di sampingnya ini.
Namun belum habis pikiran Wonwoo yang berkecamuk, dirinya sudah tertarik duluan karena Mingyu menyeretnya dengan setengah berlari, langkahnya yang pendek membuatnya sedikit tertatih mengimbangi Mingyu yang notabene punya kaki yang panjang – dan ini menjengkelkan.
"Kau mau kemana?" Mingyu bertanya saat mereka berdua sudah memisah dari kerumunan, di bawah pohon maple yang daunnya masih belum terlalu kuning, Wonwoo melirik peta tersebut dan sama sekali tak mengerti bagian mana yang harus dia datangi lebih dulu.
Mingyu menunggu jawaban Wonwoo saat kemudian ia tersenyum lebar begitu namja di sampingnya ini menunjuk icon penguin di sana. Sebenarnya ia tak tahu wahana apa itu, tapi hanya karena gambar penguin yang menarik mata tajam Wonwoo, akhirnya ia memilihnya.
"Aku tidak tahu kau suka roller coster," Mingyu melipat peta itu menjadi kecil sebelum memasukkannya dalam kantungnya.
"Roller coster?"
Mingyu mengedip cepat, "Kau tidak baca tadi? itu wahana roller coster. Jangan bilang kau asal pilih!"
Dan sialnya memang begitu.
.
Mingyu bersumpah dia tak pernah mendengar Wonwoo berteriak dengan suaranya yang mirip dengan suara nyaring burung parkit yang dicabut paksa bulunya, saat roller coster bercat biru laut itu menukik tajam, Wonwoo tak bisa untuk tidak berteriak, bahkan membuat Mingyu yang seharusnya ikut larut dalam kehisterisan itu mendadak bengong saat pendengarannya menangkap suara jeritan Wonwoo yang disertai tawa lepas pemuda itu.
Namja jangkung ini agak tidak rela untuk mengakuinya, tapi kalau disebut jatuh cinta, rasanya itu bukan sesuatu yang berlebihan.
"Ya ampun, berikan aku petanya, cepat!" Wonwoo merogoh kantung kemeja dan celana Mingyu saat si pemilik kantung masih berusaha menstabilkan nafas dan isi perutnya yang masih terasa teraduk. Selain isi perutnya yang membuat Mingyu mual, kepalanya juga pening karena teriakan namja yang sekarang malah meraba-raba bagian tubuhnya hanya demi mencari peta taman bermain tersebut.
"Whoa whoa, tunggu," Mingyu menahan tangan Wonwoo sebelum namja itu makin menyentuh area-area berbahaya yang bisa membuatnya punya pikiran kotor. Oke, itu agak tidak sopan.
Wonwoo mengedip, menghentikan gerakan tangannya saat kemudian Mingyu mengeluarkan peta tersebut dari dalam kantung celana jeans yang ia pakai yang langsung disambut dengan sahutan tidak sabar oleh Wonwoo.
"Itu tadi benar-benar mengerikan," Wonwoo tak bisa menyembunyikan rasa senang yang menyesakkan di dada, "Tapi aku suka. Aku mau naik lagi!"
Dan Mingyu belum siap kalau kuda besi mengerikan itu harus mengaduk isi perutnya untuk kedua kali.
"Bisa kita naik sesuatu yang lebih tenang?" Mingyu menaikkan alisnya sebentar sebelum ia menyadari kalau Wonwoo sama sekali tak menggubrisnya, mata tajamnya saat ini tengah asyik menelusuri peta sebelum Ia makin tersenyum lebar saat icon cheetah besar di tengah-tengahnya.
"Aku mau naik ini, ayo!" Wonwoo dengan cepat menggandeng pergelangan tangan Mingyu dan dengan cepat namja itu berlari menerobos beberapa orang. Kini Mingyu yang terasa kewalahan demi mengikuti langkah Wonwoo yang cepat.
Gigi taring Mingyu terlihat lagi saat ia tanpa sadar tersenyum begitu melihat Wonwoo menggenggam tangannya dengan erat, darahnya berdesir tiba-tiba saat mata bulan sabit itu terlihat lagi.
Melihat Wonwoo yang obral senyum, rasanya Mingyu tak masalah jika harus memuntahkan sarapan paginya.
.
Tubuh tinggi itu berselonjor seperti kukang yang kelelahan pada salah satu kursi taman, Wonwoo duduk di sebelahnya, dengan tangan yang memegang peta amusement park yang mulai kusut, Mingyu tak tahu kenapa staminanya jadi payah begini. Biasanya dia yang paling semangat naik wahana tornado dan roller coaster yang bisa membuatnya berteriak mengalahkan sound system. Tapi alih-alih berteriak lepas, Mingyu jadi lebih sering diam dan bengong melihat Wonwoo yang tanpa sadar berteriak senang tanpa terkendali. Mungkin itu salah satu alasan kenapa perutnya jadi melilit.
"Ini sudah sore, bisa naik sesuatu yang lebih tenang? Perutku agak tidak bersahabat," Mingyu sudah tak memperdulikan wajahnya yang kuyu sekarang, namun sudah ke 11 kali ini rasanya makananan di dalam lambungnya sudah mau naik ke tenggorokan.
"Kau payah, bukannya kau yang megajakku kenapa malah loyo begini?" Wonwoo mencibir sembari menatap kasihan pada tubuh terkulai Mingyu yang seakan meleleh.
"Dan siapa tadi yang merengek-rengek tidak mau masuk?" Mingyu balas mencibir dan menyentil pelipis Wonwoo yang langsung mengundang pukulan tidak menyenangkan.
Wonwoo menghela nafas panjang sebelum ikut menyandar pada bangku taman, "Mau aku belikan minum?"
Mingyu menoleh saat mendengar Wonwoo menawarinya minum, "Nanti kita beli bersama saja."
"Baiklah," Wonwoo tersenyum kecil dan menepuk-nepuk pundak tegap Mingyu, "Tenangkan dulu perutmu, aku sudah menentukan tujuan kita setelah ini."
Namja itu tak berniat menanggapi ucapan Wonwoo dan hanya mengangguk pasrah, menenangkan rasa melilit yang menggelitik perutnya.
.
"Oke, Jeon Wonwoo, kau pasti tidak serius mau ke tempat ini!"
Wonwoo dengan tawanya yang berderai mendorong Mingyu masuk ke dalam wahanya yang berbentuk rumah dengan dominasi warna hitam dan merah gelap, Mingyu tak menyangka sama sekali kalau Wonwoo bakal serius membawanya masuk ke dalam haunted house.
Mingyu tidak suka hantu.
Ralat.
Mingyu takut hantu.
Selain ketakutannya pada kelinci, hantu dan segala embel-embelnya adalah salah satu lini depan dalam hal yang harus dihindari oleh seorang Kim Mingyu.
"Ini tidak seram, kau tidak punya riwayat penyakit jantung kan?" Wonwoo memberi kode pada salah satu penjaga kalau mereka akan masuk berdua, mengabaikan Mingyu yang susah payah menahan dorongan kuat Wonwoo, begitu dingin AC dan kain-kain sobek menyambutnya di pintu masuk, Mingyu merasa bulu romanya bukan lagi berdiri, tapi dicabut.
"Aku memang tidak punya, tapi kalau begini jadinya aku akan punya, Jeon Wonwoo!" Mingyu tak bisa menghindar saat mereka berdua akhirnya sudah masuk kedalam wahana yang mampu membuat jantung berasa turun ke ginjal tersebut.
Wonwoo mendecih kesal, "Kau sudah pernah membuat kepala sekolah hampir masuk selokan, harusnya ini bukan apa-apa bagimu."
Ah, itu tragedi bulan lalu yang sampai jadi buah bibir seluruh sekolah, tak perlu diceritakan kisah aslinya, agak rumit kalau menyangkut pak tua yang hobi makan jeruk itu.
"Asal kau tahu," Mingyu kini tak bisa berbuat apa-apa selain mengekor Wonwoo menyusuri lorong gelap tersebut, "Aku alergi dengan hal ghaib."
Untuk kali ini Mingyu agak kesal saat tahu Wonwoo terkikik karenanya, "Bilang saja takut."
Dan tentu saja Mingyu tak akan dengan mudah merontokkan wibawanya sebagai berandalan sekolah ini. Agak lucu kalau tahu si biang onar ini ternyata takut setan.
Jeritan-jeritan dengan suara baritone yang khas berasal dari tenggorokan Mingyu keluar dengan bebas saat beberapa hantu dengan tampang mengerikan mulai bermunculan, semakin dalam mereka berdua menyusuri lorong tersebut, Mingyu makin tak bisa mengendalikan jantungnya sendiri, rasanya menyengat apalagi saat bau terbakar menelusup hidungnya.
"Aku tidak akan mengajakmu ke amusement park lain kali," Mingyu mendesis sebal saat tiba-tiba suara kikikan wanita terdengar.
Bohong kalau Wonwoo tidak merasa takut, tapi setidaknya namja berswater ini masih bisa mengontrol rasa takutnya sendiri. Satu hal yang membuatnya banyak tersenyum hari ini, melihat 'Mingyu yang lain' dari yang biasa dia lihat dan dengar di sekolah sudah memberikannya banyak alasan untuk tertawa.
Mingyu takut kelinci, Mingyu takut hantu, Mingyu mual naik roller coaster dan Mingyu yang setengah mengiba padanya agar Wonwoo tidak jalan cepat-cepat di dalam haunted house.
Wonwoo tak bisa menahan tawanya sampai perutnya sakit karena melihat Mingyu menyumpah serapahi salah satu hantu yang mengejarnya begitu mereka berdua keluar dari rumah hantu tersebut. Mingyu mendelik sebal begitu Wonwoo menertawainya dengan nada mengejek dan menepuk-nepuk punggungnya yang lebar.
"Capek?" Wonwoo bertanya pada Mingyu yang memilih menstabilkan deru jantungnya.
"Aku tidak tahu selain takut kelinci kau juga takut hantu," Wonwoo masih tertawa lepas berderai-derai di telinga Mingyu.
"Kau harus lihat wajahmu yang ketakutan, astaga, kau lucu!"
Jeon Wonwoo masih hebat dalam urusan mencela orang.
Dengan cepat namja berkulit tan itu melingkarkan lengannya ke leher Wonwoo, menguncinya sambil mengacak-acak rambut hitam namja tersebut.
"Aduuh," Wonwoo mengiba, namun bibirnya masih melontarkan tawa kala Mingyu makin mengacak rambutnya yang kini berantakan.
"Kalau aku sampai mati gara-gara sakit jantung aku akan menuntutmu," Mingyu melepaskan kunciannya dan menyandarkan punggungnya pada salah satu tiang lampu jalan.
"Baik-baik, sekarang kau yang pilih deh, mau kemana?" Wonwoo menyodorkan peta tersebut.
Mingyu menelusurkan pandangannya sebelum ia melihat sebuah wahana yang menarik perhatian mata hazel tersebut.
"Wonwoo, kau bisa main ice skatting?"
.
Duak!
Mingyu tertawa puas melihat Wonwoo jatuh terduduk di atas lintasan ice skatting indoor tersebut, tak terlalu banyak orang saat itu, membuat Mingyu bisa leluasa meluncur mengitari tubuh terjatuh itu tanpa berniat menolongnya, sedikit balas dendam sepertinya menyenangkan.
"Kan aku sudah bilang aku tidak bisa main," Wonwoo berteriak kesal, malas rasanya bangkit lagi, tapi tangannya tak sabar untuk melayangkan tinjunya pada perut namja yang tertawa mengejeknya ini.
"Maka dari itu aku mengajakmu kesini, karena kau tidak bisa main," Mingyu berhenti, ia menunduk dan mengulurkan tangannya pada Wonwoo yang masih belum berdiri di atas es tersebut.
Wonwoo melotot kesal, belum sempat dia berdiri dengan benar, Mingyu sudah melepaskan pegangannya, membuatnya terpaksa berdiri dengan posisi tidak nyaman di tengah arena tersebut.
"KIM MNGYU! YA!" Wonwoo berteriak saat Mingyu malah meluncur menjauh, meninggalkan Wonwoo yang masih ragu-ragu untuk bergerak.
"Aku benar-benar akan menggorok lehermu, jangan tertawa! Ya Tuhan, dia benar-benar!" Wonwoo menggeram kesal, dengan bekal rasa jengkelnya yang sudah naik ke ubun-ubun itu, Wonwoo memaksakan diri untuk bergerak seadanya.
"Kau terlihat seperti penguin!" Mingyu berteriak, tawanya yang renyah membuat Wonwoo makin kesal.
Beberapa orang yang melewati Wonwoo dengan meluncur, membuat badan itu sedikit terguncang. Wonwoo tengah berdiri sendirian di tengah arena es itu, saat tiba-tiba seorang pria tanpa sengaja menubruknya, Wonwoo jadi meluncur sendiri tanpa bisa ia kendalikan.
Dan lagi-lagi teriakan seperti burung parkit tersedak itu terdengar, Mingyu mengubah tawa mengejeknya menjadi panik saat Wonwoo menuju ke arahnya, menerjangnya tanpa bisa mengerem.
Kalau mungkin mau dikategorikan, hari ini bisa jadi hari sial Kim Mingyu, ia jatuh untuk ke tiga kalinya hari ini.
Dua kali dari atas ranjang karena ditendang, kini ia jatuh karena ditabrak.
Pelakunya masih sama, si namja emo yang beraura gelap dan punya bibir pedas ini.
Namun kali ini agak beda, Wonwoo menindihnya sekarang, di ujung arena ice skatting yang tak diperhatikan orang itu, Wonwoo jatuh dengan dahinya yang terantuk dada Mingyu yang bidang. Entah kenapa, selama beberapa detik Wonwoo masih enggan menyingkir, hingga Mingyu berasumsi tumbukan tadi membuat Wonwoo jadi pingsan atau semacamnya.
Tapi Mingyu mendadak mengerjap saat tangan kurus itu mencengkram jaketnya, suara rintihan dan erangan kecil menyadarkan Mingyu dari efek terkejut karena tabrakan tadi.
"Sakiit," Wonwoo mengaduh, perlahan muncul lagi rengekannya. Persis seperti sat ia bangun tidur tadi.
"Kim Mingyu bodoh, ini sakit sekali tahu!"
Mingyu tak keberatan kalau dia dikatai bodoh, namun yang membuatnya saat ini susah bernafas adalah Wonwoo yang mendongakkan wajahnya, memicing dan menahan rasa sakit di dahi.
Oke, Mingyu masih waras, tapi itu 3 detik yang lalu, sebelum otak kosongnya itu menyadari sesuatu.
Dia tak pernah sedekat ini dengan wajah seseorang, Mingyu tak bisa untuk menyuruh jantungnya agar sedikit melambat saat matanya tanpa sadar menelusuri wajah di hadapannya, pipinya terlihat lembut dengan sepasang mata tajam, dahinya tertutup poni dengan bibir merah muda yang digigit karena menahan sakit di bagian siku dan lututnya.
Sekarang Mingyu benar-benar sudah tidak waras.
Tangan kekar namja tinggi itu tanpa aba-aba melingkar di pinggang Wonwoo saat pemuda itu hendak berdiri sambil terus mengomel dan meruntuki tubuhnya yang sakit. Wonwoo terkejut, matanya menyalak garang, memberikan isyarat agar Mingyu melepaskan tubuhnya.
Tapi Mingyu bergeming.
"Wonwoo!"
Mata tajam itu berkedip, sembari menggerakkan tubuhnya yang tak nyaman karena Mingyu belum berniat melonggarkan lingkaran tangan pada pinggangnya.
"Ayo kita pacaran!"
"…"
"…"
Terkutuklah Kim Mingyu dan mulutnya yang tak berfilter.
.
.
TBC
.
.
ANJU NAISSSS /JOGET UBUR UBUR BARENG UDIN/
Gua ngebut habis balik dari kampung halaman hiyahahaha, maapkan ini kalau nda memuaskan setelah gua tinggal /sujud/ MINAL AIDZIN untuk para pembaca, agak telat nda papa ya :3 untuk salam tempelnya, gua tempelin ciumnya wuno mumumu .g
Tolong pencet segala tombol review follow dan fav wkwk, gw jadi semangat setiap liat review kalian kalian /ciyom/ TERIMA KASIH YANG TAK TERKIRA YAH ~ maafkan untuk segala typo dan kesalahan di dalam sini, gw akan berusaha lebih baik lagi di chapter depan.
Terima kasih!
Salam super ~
Raeyoo.
