.

Bab 3: Don't Look Back!

.


.

Part 1

Sesampai di sekolah, para siswi lalu turun dari bis tersebut. Sembari menunggu penumpang bis lainnya turun secara tertib, kini hanya ada kami berdua yang terakhir berada di dalam bis. Sementara itu aku masih terus mencoba memperhatikan suaranya. Saat itu orang terakhir yang ada di penghujung pintu bis telah keluar dan anak itu baru saja menyelesaikan percakapan teleponnya.

"...Umm, sampai jumpa. Okaa-san."

Okaa-san?! Eh, berarti dari itu dia sedang menelepon ibunya? Pipiku semakin memerah ketika memikirkan itu. a-apakah ini yang dinamakan ce..cemburu?

Aku memalingkan mukaku dan keluar dari bis menuju arah yang berlawanan arah dengannya. Langkah kakiku tidak kuperhatikan dan tanpa aku sadari jalan yang kupilih itu ternyata semakin jauh dari jalan menuju kelas. Sebuah dojo, bukan. Ini tempat klub ekstra kurikuler Kyudo. Sebuah pelataran setengah terbuka dengan papan target di bagian halaman sementara para pemanah ada di bagian dalam.

Sesuatu yang hangat melanda mukaku. Itu bukanlah terik sinar matahari. Gyaa, mukaku memerah karena belum berhenti memikirkan itu!

Tolong, aku harus menghapus mimik ini sebelum dia menyadari itu!

.


.

Part 2

Sonoda Umi baru saja melepaskan panah terakhirnya untuk menyelesaikan latihan tambahan di klub ekstra kurikulernya. Pagi ini dia datang lebih awal dengan skuter automatic miliknya menuju ke sekolah. Memang, menjelang ajang kejuaraan nasional tingkat SMA maka setiap klub berusaha keras untuk bisa lolos kualifikasi turnamen itu. Termasuk Umi dari klub Kyudo.

Mengingat tentang kejuaraan, aku kembali teringat dengan perkataan anak baru itu ketika memperkenalkan dirinya di depan kelas kemarin.

"Tujuanku masuk sekolah ini adalah untuk menyelamatkan sekolah tempat belajar nenek dan ibuku ini."

Begitu katanya, tapi bukankah itu terdengar... aneh?

Tehehe... Ah, mungkin dia cuma sekedar guyonan saat mengutarakan perkenalan awal tersebut. Lagipula, ayolah..

Sekolah ini kan memang sebentar lagi akan ditutup.

.

"Kotori-chan?" sapa Umi yang baru mengambil handuk mungil dari dalam tas latihannya untuk mengelap keringat di wajahnya. "Apa yang sedang kamu lakukan disini?

"Aku menunggumu." Sejenak Umi tersipu malu namun gadis itu menambahkan. "Bercanda..."

"Aku baru saja sampai sekolah jadi tanpa sengaja bertemu denganmu di lapangan. Kamu latihan terus nih, Umi-chan?"

"Yah, waktu kompetisi sudah semakin dekat. Aku harus mempersiapkan mentalku untuk lebih bersungguh-sungguh lagi latihan kyudo. Oh, jadi kamu hari ini naik bis lagi yah?"

Kotori menganggukkan kepala dengan senyum ramahnya untuk menjawab Umi. Tidak banyak percakapan yang terjadi setelah itu sehingga kedua gadis itu memutuskan untuk berpisah, Umi ke ruang ganti dan Kotori menuju ruang kelasnya.

Ruang kelas dua tidak pernah menjadi sepi sekarang, itu dimulai setelah kehadiran anak baru tersebut. Parasnya yang suka tersenyum membuat dirinya mudah mendekati orang lain dan berbagi keceriaan bersama mereka. Mungkin inilah sesuatu yang disebut dengan charm?

[Oh, aku kira mungkin ini adalah perasaan yang wajar], Kotori memejamkan mata dan menghela nafas pendek untuk tersenyum. Dia sudah duduk di sudut bangkunya. Di sana dia berusaha mengatur perasaannya agar tidak nampak meluap-luap. Begitulah seharusnya, namun...

"Kotori-chan! Ohayou!" sapa sang gadis membuyarkan seluruh usaha relaksasi Kotori. Wajahnya kembali memerah saat menatapnya. "K.. Kotori-chan?"

Tanpa berusaha memperhatikan detailnya dia mengeluarkan bingkisan kue kecil dari dalam tasnya. "Ini untukmu", katanya sembari tersenyum ramah. "Silahkan dinikmati. Ini adalah hasil usaha kecil-kecilan dari keluargaku.

"Kue Manju?"

"Haik, keluarga kami menjual jajanan kue manis. Kue manju ini adalah salah satu andalan dari toko kami. – yah, walaupun yang isi kacang merah itu tidak terlalu enak, sih – Ah, pokoknya, meskipun rasanya tidak terlalu enak seperti kue cake ala barat tapi silahkan menikmatinya, yah?"

Kotori sedikit bengong ketika menyimak perkataan anak itu. Sejenak, sukmanya telah meninggalkan raganya menuju awan kayang ke tujuh selama perputaran waktu terjadi namun itu tidak berlangsung lama setelah dia menyadari bahwa mimik gadis itu mulai berubah menjadi khawatir.

"aa...aaahh, a-aku makan sekarang. I-itadakimasu! Umm, enak! Kue ini pasti jajanan terenak yang pernah aku makan!" ujar Kotori dengan mulut penuh. Honoka memperhatikan itu dan tersenyum. Lalu, dia memberikan sebuah kartu nama kepadanya, "Silahkan main ke rumahku kalau kamu menyukainya."

Kotori menerima itu dengan gugup, dia memperhatikan alamat tersebut. Toko Homura, tertulis disana namun dia mengatakan bahwa itu adalah alamat rumahnya. Bukankah itu berarti itu adalah rumahnya juga?! Kotori menjadi antusias menerima itu apalagi letak rumah tersebut tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal.

Dan gadis itu pergi,

.

Derap langkah yang terdengar mantap menggema di lorong sekitar kelas. Sementara para siswi mulai berteriak dengan hype mereka menyambutnya namun sang 'pusat perhatian' walaupun sepertinya dia malah ingin menghilang dari tempat itu.

Namun, tingkahnya berubah kembali serius ketika menghadapi sang rival yang tersenyum remeh memandangnya. Kakak kelasnya beserta peralatan P3K, oh sahabatnya yang memiliki kantung udara besar di bemper depannya itu sedang bersandar di sisi tangga utama. Seandainya mungkin, dia ingin sekali menjorokkan sang rival jatuh ke lantai dengan keras tapi tetap saja tidak ada gunanya, dia pasti baik-baik saja. Lagipula, itulah gunanya airbag, kan?

"Benar, kan? Ketua OSIS?!"

.

"Ohayou..." sapa Umi yang baru saja memasuki kelasnya. Baru saja dia tiba di dalam kelas tersebut namun perutnya rasanya sudah meraung-raung. Itu adalah neraka kecil yang sukses di bentuk sebelumnya. Aroma kue favoritnya, kue manju terasa pekat di dalam kelas.

Dan, aroma menggoda tersebut sudah berada tepat di depan hidungnya.

"Eh, Honoka-san?"

"Umi-chan, silahkan dicicipi!" gadis berambut coklat ginger itu tiba-tiba menyodorkan tatakan kue berisikan senbei dan kue manju yang sudah terbuka kepadanya. Umi yang terkejut justru nampak kewalahan menghadapi perlakuan tersebut namun pada akhirnya dia juga tetap memakannya.

Satu gigitan. Cukup satu kue manju yang remah-remahnya ada di dalam mulutnya namun itu saja sudah cukup untuk membuat Umi mengalami reaksi yang sama diberikan oleh Kotori. Dia melompat kegirangan seolah baru saja menemukan utopianya sendiri.

"Eh, ini enak sekali! Serius!"

"Benarkah?! Nah, apakah kamu suka? Kamu mau aku bawakan kue ini lagi? Kalau begitu aku punya satu permintaan kepadamu!"

Dia tersenyum penuh maksud kepada atlit kyudo kebanggaan Otonokizaka tersebut. Sang gadis yang dituju nampak bingung dengan seribu tanda tanya. Sementara Kotori yang melihat itu nampak sedikit kecewa melihat sahabatnya bercakap mesra dengan orang yang dia taksir.

.


.

Part 3

Satu Minggu Kemudian.

Sambil menyenderkan kepala di pagar, Kousaka Honoka nampak berwajah masam bersama dengan Kotori Minami yang berada disebelahnya dengan senyum meringis. Itu tidak terjadi di dalam area sekolah dan tidak sedang memakai seragam sekolah. Tempat mereka berada sekarang adalah di depan ring terluar sebuah gedung olah raga, Nippon Budokan.

Alasan mengapa mereka berdua ada di luar sekarang bukanlah suatu keisengan belaka melainkan karena suara keras Honoka saat memberikan dukungan untuk salah satu partisipan yang hadir dan oleh panitia itu dinilai sebagai kegiatan menganggu jalannya kompetisis kyudo yang sedang berlangsung sehingga dia diusir paksa. Pertandingan yang memiliki aturan kebudayaan daerah yang sakral itu sejatinya ketat dengan berbagai macam aturan sehingga tidak bisa sembarangan untuk berkehendak bebas termasuk bagi para penontonnya, apalagi pertandingan ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi.

"Ah, pasti kalah lagi..." keluhnya menghela nafas panjang. Kotori pada saat itu masih berada disana menjadi bingung dengan perkataan anak tersebut.

"Honoka, kamu tidak boleh mengatakan seperti itu. Umi-chan sampai sekarang masih bertandang di dalam. Coba bayangkan perasaannya apabila dia mendengar perkataanmu sekarang. Dia pasti akan sedih."

Tapi perkataan itupun tidak mempan menghalau keresahan hatinya, "aku tahu, insting HonkHonk-ku tidak pernah salah. Yosh, kalau begitu bagaimana kalau kita taruhan. Apabila Umi-chan kalah maka kamu harus mengikuti kemauanku?"

Mendengar itu Kotori menjadi salah tingkah, pasalnya hukuman tersebut tidak terdengar seperti hukuman bahkan tanpa taruhan konyol tersebut dia tetap akan bersamanya. Jadi, mengapa dia tiba-tiba mengajaknya? Apakah dia sudah menyerah dengan Umi? Mm.. lebih dari itu apa maksud dari ini sebetulnya?!

"Aku pasti akan menemukan cara untuk mengangkat popularitas sekolah ini!" gumamnya tanpa dia sadari. Terlambat, perkataan itu sudah terdengar oleh Kotori.

"Ehh, Honoka-chan? Kamu masih memikirkan cara untuk menyelamatkan sekolah? M.. Maksudmu kau bersungguh-sungguh untuk melakukan itu? mengapa itu mengganggumu? Bukankah akan lebih mudah apabila kamu menyerah dan menjadi siswi normal seperti biasa?"

Kotori Minami, anak kepala sekolah itu sungguh terheran dengan tindak tanduk anak baru tersebut yang seolah-olah bertindak dapat menyelamatkan sekolahnya. Dia tahu bahwa sekolah ini memang memiliki sejarah yang sangat panjang. Nenek Honoka bahkan pernah bersekolah disini itu berarti Otonokizaka sudah berusia lebih dari 50 tahun. Bahkan dia sendiri tidak pernah tahu sejarah sekolah ini, alasan mengapa ibunya menjabat kepala sekolah tidak lain karena permintaan Yayasan Akademi yang hampir bangkut dan tidak berdaya untuk mengolah guru pengajar mereka, bahkan mereka telah berencana menutup sekolah lainnya, di sebuah daerah di Uchiura.

"Daijoubu..." gadis itu tersenyum dengan cerahnya membelakangi matahari di atasnya. "Selama ada mimpi pasti bakalan ada kenyataan yang akan terwujud, kan?. Aku percaya itu! melakukan sesuatu yang kamu mampu untuk mencapai impianmu adalah suatu hal yang luar biasa. Lagipula, itulah yang disebut masa muda, kan?"

Kotori kehabisan kata-kata saat menatap senyuman itu dan pada akhirnya dia menyerah untuk berdebat dan mengakhirinya dengan anggukan bersahaja. Tidak ada seorangpun yang berhak menghina mimpi orang lain dan dia telah belajar bahwa gadis yang ada di depan matanya ini merupakan gadis yang penuh mimpi dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Mimpi yang mungkin bisa keberhasilannya cuma 30%?, 10%? namun itupun tetap saja adalah mimpi yang patut untuk dihargai.

Pada akhirnya Umi keluar dari gedung olah raga tersebut. Kepalanya yang tertunduk kesal telah menjelaskan banyak hal bahwa dia telah kalah telak di dalam pertandingan ini. Honoka dan Kotori yang melihat itu tidak berusaha mengajaknya berbicara malahan Kotori maju terlebih dulu untuk memberikan pundaknya yang segera dipeluk oleh gadis ikemen tersebut dan membiarkannya menangis sepuasnya. Sementara Honoka yang memandang itu hanya bisa mengusap poni depan rambut hitam kebiruan itu untuk segera reda.

Pada akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah bersama-sama menuju halte bis yang sama. Seharusnya perjalanan itu tidak akan memakan waktu 10 menit namun ketika pandangan mereka teralihkan ke sudut kota lain maka rencana pulang itu telah dikesampingkan pula.

Itu adalah Akihabara, sudut tepi lain dari ujung daerah Kanda terletak disana. Seolah ditelan dalam keramaian lalu lalang orang banyak mereka tiba-tiba sampai kepada sebuah papan layar digital raksasa yang menempel di sebuah bangunan modern, UTX. Itu adalah iklan pengumuman konser grup idola sekolah mereka. Honoka menatap ke sekelilingnya bagaimana banyak orang yang berteriak gegap gempita untuk menyambut suara merdu dari ketiga orang yang sebenarnya tidak ada disana.

Aneh, pikirnya.

Namun pemikiran itu adalah ujung pintu untuk membuka pemikiran berikutnya. Dengan begitu banyak orang yang antusias semacam ini tentu saja akan mudah untuk mempromosikan sekolah itu. tidak, lebih tepatnya bahkan sekolah yang baru sekali dia dengar namanya itu tidak perlu apa-apa untuk bisa menjadi terkenal. Hal yang membuat ini semua bisa terjadi adalah karena satu hal, itu adalah buah pemikiran berikutnya yang terkandung dalam senyumannya.

"Eh, school idol? Hmm, patut dicoba."

.


.

Part 4

"NGGAK MAU!"

Keesokan harinya, Mendadak Umi keluar dari ruang kelasnya dengan terbirit-birit. Disusul di belakangnya ada Honoka yang masih menenteng sebuah majalah gadis terbuka. Pada lembaran artikel yang terbuka terdapat rubik idola yang memasang foto idola yang mereka lihat kemarin.

"Hei, Umi-chan! Aku kan masih belum memberitahumu tentang rencanaku kan?!"

"Aku tahu niat busukmu! Kamu pasti memaksaku untuk ikut kehendakmu dan menjadi school idol, kan?!" tunjuk Umi dengan suara tinggi. Sementara itu Honoka yang mendengar itu nampak kaget, "eh, b-bagaimana kamu tahu itu?!"

Tanpa berusaha menunggu jawaban Honoka berakhir dia segera memilih untuk mengambil langkah seribu. Kejar-kejaran di pagi hari itupun berlangsung dengan heboh. Umi berpikir bahwa Honoka pasti telah kehilangan jejak bayangannya namun itu tidak dapat terjadi karena suara lengkingan dari para anak kelas satu yang berasal dari official fans club Umi Sonoda. Mereka dengan antusias menyoraki keberadaan sang idola yang sedang mati-matian untuk bersembunyi.

Dan sebuah tapak sepatu perlahan-lahan mulai terdengar dari ujung koridor. Bersamaan dengan itu para fangirl itu mulai bubar secara acak menuju kelas mereka masing-masing.

Suara itu semakin mendekat beserta dengan degup jantung Umi yang berdetak kencang. Dan tiba-tiba suara langkah itu telah berhenti. Sahut suara derap itu telah berganti kepada suara manusia normal.

"Ke-Te-Mu."

Suara itu terdengar agak kelam. Perubahan suasana itu tidak hanya berlaku bagi Umi bahkan dia telah berubah, sama sekali tidak menunjukkan rasa kekhawatirkan melainkan rasa amarah yang kembali muncul. Itu karena...

.

Honoka masih terus mencari keberadaan Umi Sonoda namun keberadaannya terhalang oleh kakak kelas yang secara tiba-tiba menegurnya karena berlarian di koridor sekolah. Dengan sangat terpaksa dia harus membuyarkan tujuan awalnya dan bersiap menerima hukuman dari wakil ketua OSIS yang baru saja ditabraknya.

"Jadi, jelaskan kepadaku kenapa kamu berlari di koridor kelas tadi?" tanyanya dengan penuh wibawa. Honoka mendengar itu namun dia nampaknya tidak mampu berkelit untuk memberikan jawaban yang konyol. Seperti jawaban ["aku tadi sedang mengejar temanku yang kabur karena tidak mau diajak bergabung ke dalam grup idola."] Apalagi yang bisa dia lakukan sekarang yah tersenyum saja.

"Honoka, benar itu namamu kan? Anak kelas dua yang baru saja pindah dari Koto-ku. Jadi penasaran, apa alasanmu repot-repot pindah ke sekolah yang mau di tutup ini? Apakah kamu ada masalah dengan sekolah lamamu?" tanya Nozomi heran.

"Ah, bukan begitu senpai. Aku cuma ingin merasakan belajar di sekolah yang sama tempat dimana Ibu dan Nenekku dulu pernah belajar."

"Cuma itu saja?" tanyanya mencoba memancing namun Honoka tetap bersikukuh untuk tetap menganggukkan kepala saja. "Yah sudahlah, kamu boleh keluar sekarang. Jangan diulangi lagi yah?"

"Haik!" Honoka lalu segera menuju pintu namun tiba-tiba dia berhenti dan berbalik. "Umm, senpai, kalau aku boleh tanya bagaimana yah cara mendirikan klub di sekolah ini?"

Kali ini giliran senpainya yang menjadi heran.

.

"Duh, kemana yah kedua anak itu?" gumam Kotori Minami yang baru saja keluar dari ruang kelasnya. Sudah 10 menit berlalu semenjak kedua anak itu pergi namun kepergiannya telah terganggu pada saat langkahnya sampai ke depan sebuah pintu. Ruangan sakral yang tidak sembarang murid Otonokizaka memasukinya bahkan jika tidak terpaksa maka mereka tidak akan pernah memilih untuk sukarela memasukinya. Dan dari dalam ruangan tersebut seseorang memanggil namanya.

"Okaa-san?" dia membuka pintu itu dan mendapati wanita yang memiliki rambut yang sama dengannya itu sedang menatap kaca jendela depan.

"Ah, ternyata itu beneran kamu yah? padahal mama cuma asal tebak saja tadi. Tehehehe..."

"ibu memanggilku?"

"Ah, semacam itu. bagaimana kabarmu? Apakah anak baru itu sudah menjadi temanmu? Lalu apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Ah, yang terpenting. Jadi, bagaimana dengan itu..."

Kotori mendengar itu namun dia tidak sedang ingin merespon balik bahkan sebaliknya dia mengatupkan bibirnya dan terus tersenyum tipis. Setelah itu dia menundukkan kepala dan berbalik menuju pintu keluar.

Suasana lorong ke kantor kepala sekolah itu selalu kosong. Dari depan pintu dia kemudian mengepalkan tangannya erat-erat dan kemudian sesuatu yang asing dari diri Kotori mulai berubah, dia seperti melepaskan karakter aslinya dan berubah menjadi sosok minami yang lain. Tiba-tiba saja dengan seluruh tenaganya dia mulai berteriak dengan seluruh nafas yang ada di dalam paru-parunya kepada pintu depan tersebut.

"AKU INI ANAKMU! BUKAN ALAT KEKUASAANMU!"

.

Secara kebetulan ketiga siswi kelas dua tiba-tiba bertemu kembali di depan halaman sekolah. Pada awalnya Honoka yang bersemangat untuk menjelaskan mimpinya kepada Umi tentang klub school idol yang akan didirikannya namun tiba-tiba Umi menyela perkataannya dengan mata agak sembab.

"Baiklah. Pokoknya, kamu mau membentuk school ido,l kan? Kamu mau jadi pahlawan yang menyelamatkan sekolah ini, kan? Aku gak peduli tentang tetek bengek rencanamu selama kamu berhasil membuktikan bahwa kamu mampu berguna bagi sekolah ini maka aku ikut!"

"Sertakan aku juga!" seru Kotori tidak sabaran. "Kalau itu rencanamu selama kamu bisa membuktikan bahwa kegiatan non-formal adalah cara belajar efektif bagi sekolah maka aku tidak akan pernah menentangmu. Pada dasarnya, aku akan terus mendukungmu walaupun sekonyol apapun rencamu itu.

Honoka tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi kepada dua sahabat barunya yang baru saja dia tinggalkan sebentar namun agaknya rencana berikutnya yang sudah ada di dalam rencananya akan berlangsung tanpa masalah. Apapun yang terjadi kedepannya dia akan mencoba untuk mengatasi setiap rintangan sembari menapak anak tangga yang akan membawa mereka semakin tinggi.