Disclaimer © Tite kubo
(Saya hanya meminjam karakter-karakter di dalamnya)
.*.
Our Love
by
Ann
.*.
Peringatan : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s), Gaje (Silakan berpendapat sendiri),
Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...
selamat menikmati.
.*.
Bab III
I choose to Love You
.*.
Aku tak peduli apa yang mereka katakan, yang kutahu adalah bahwa aku mencintaimu. Sesederhana itu.
.*.
Jika Ichigo pernah berpikir untuk mencekik Rukia, mungkin saat inilah ia ingin merealisasikannya. Gadis itu sudah melewati segala batas dalam memprovokasinya. Selama berjam-jam Rukia berada di kamar Renji, memastikan pria itu mendapatkan segala yang diperlukannya; selimut, minuman dan makanan, obat, juga perhatian─yang menurut Ichigo seharusnya tak diberikan Rukia pada pria itu. Rukia menempel ketat dengan Renji, merawat pria itu dengan berlebihan, bahkan sampai menyuapinya makan. Semua itu menyakiti mata Ichigo sehingga ia berderap keluar dari kamar yang ia sewa untuk Renji, dan mondar-mandir di depan kamar itu. Dari dalam kamar terdengar suara Rukia yang tengah membacakan keras-keras sebuah buku untuk Renji. Lihat saja, gadis itu sudah mulai tidak waras. Bagaimana bisa buku bersampul cokelat berisi puluhan puisi cinta bisa membuat luka Renji membaik? Yang pria itu butuhkan adalah obat dan istirahat, bukannya kalimat mendayu-dayu yang menggelikan. Dan yang terpenting dari semua itu adalah bahwa Rukia pun memerlukan istirahat. Gadis itu mengalami kecelakaan yang sama, meski tidak terluka separah Renji tapi tetap saja Rukia membutuhkan berbaring di kasur dan beristirahat. Harusnya tadi Ichigo menyeret Rukia─karena gadis itu berkeras ingin merawat Renji─ ke kamarnya, atau sekalian membawanya pulang ke rumah andai saja di luar tidak sedang hujan salju.
Rumah. Kata itu seolah menggigit Ichigo, karena ia tak memiliki tempat semacam itu dalam hidupnya. Keluarga Kuchiki memang memberinya tempat bernaung, tempat yang ia anggap rumah sampai setahun lalu. Namun sekarang ia tak tahu apakah masih sanggup menyebut tempat itu sebagai rumahnya. Ichigo tinggal di sana, mengerjakan berbagai macam pekerjaan yang bisa ia lakukan; mengangkat barang-barang, melatih kuda, mengawasi penanaman bibit dan panen, juga menangani pembukuan. Ia berpakaian bagus seperti halnya anggota keluarga, tapi ia tak pernah merasa menjadi bagian keluarga. Ichigo berdiri di atas garis lingkaran itu, tanpa bisa menentukan akan menceburkan diri ke dalamnya, atau berlari pergi. Ia terikat pada rumah keluarga Kuchiki karena rasa terima kasih, dan karena putri keluarga itu. Karena rumah bagi Ichigo adalah Rukia.
Ia mencintai Rukia, hal itu sudah tak perlu dipertanyakan lagi, namun di saat yang sama ia menginginkan Rukia mendapat pria yang lebih baik darinya. Seseorang yang memiliki status dan kekayaan, yang bisa menjamin gadis itu memiliki segalanya. Oleh sebab itu, ia mendorong Rukia menjauh. Berlaku seolah tak peduli pada perasaan gadis itu terhadapnya padahal setiap syaraf di tubuhnya menjerit ingin memiliki gadis itu untuk diri sendiri. Namun Rukia menanggapi tindakannya dengan salah. Rukia menganggapnya tak peduli, dan sekarang bertingkah serampangan dengan memilih Renji sebagai calon pasangan hidupnya.
Seharusnya Ichigo tidak mengeluh, karena tak ada yang bisa ia keluhkan dari Renji. Pria itu memiliki segala hal yang ia syaratkan untuk bisa menjadi suami Rukia. Tampan, dengan rambut merah dan mata cokelat serta badan tinggi dan tegap yang dimilikinya, Renji jelas mampu membuat para gadis melirik malu-malu ke arahnya. Bangsawan, meski tidak bergelar. Kaya, walau tak sekaya Byakuya, Renji jelas memiliki penghasilan yang cukup untuk membelikan Rukia gaun yang bagus, perhiasan, dan kereta kuda. Gentleman, mungkin yang terakhir ini patut dipertanyakan sebab seorang pria sejati tidak akan membawa gadis yang ingin dinikahinya ke Gretna Green, tapi meminta persetujuan walinya untuk menikah secara benar di London. Yah, setidaknya ada satu keluhan yang bisa Ichigo jadikan senjata untuk menentang pernikahan Rukia dan Renji. Namun apa gunanya keluhan itu? Bukankah Ichigo ingin Rukia menikah? Dan sekarang ketika gadis itu mendapatkan seseorang yang bersedia menjadi suaminya, kenapa Ichigo mencari-cari alasan agar pernikahan itu tidak terjadi?
"Aku harus menyelesaikan semua ini!" Ichigo berderap menghampiri pintu, dan membukanya dengan kasar.
.*.
Pintu kamar terbuka dengan keras, mengagetkan Rukia yang tengah membaca sambil duduk di sisi tempat tidur Renji.
Ichigo berdiri di ambang pintu. Kalau tidak melihat matanya yang bersinar panas, orang mungkin mengira dia patung. Tapi mata madu itu, terbakar amarah yang membuat Rukia ingin menyembunyikan diri. Rukia melirik cepat ke arah Renji yang terbangun dari tidurnya, padahal pria itu baru terlelap beberapa menit lalu.
Dengan dagu terangkat dan tatapan mencela─yang dilakukannya dengan penuh usaha─Rukia mengomentari kurangnya tata krama yang dimiliki Ichigo "Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?"
Ichigo jelas sedang mengabaikannya. Pria itu melangkah ke sisi tempat tidur di mana Renji berbaring dengan nyaman. Matanya menyipit tak senang. Untuk beberapa saat Rukia pikir Ichigo akan melemparkan Renji keluar melalui jendela, namun pria itu sepertinya masih bisa mengendalikan emosinya.
"Kita perlu bicara." Ichigo berkata pada Renji.
"Dia sedang sakit, dan sekarang memerlukan istirahat." Rukia segera menyela.
Namun sekali lagi Ichigo mengabaikan ucapan Rukia. Sambil menarik sebuah kursi dan duduk menghadap Renji, pria itu berkata, "Kau tentu menyadari kebodohan apa yang sudah kaulakukan, Abarai."
Sudah dimulai. Rukia menarik napas dalam, diliriknya Renji yang sepertinya sekarang sudah benar-benar bangun. Renji terlihat santai, tak ada kekhawatiran apalagi rasa takut padahal sikap tubuh dan tatapan Ichigo cukup mengintimidasi. "Tak apa, Rukia. Cepat atau lambat kami memang harus membicarakannya. Bagaimana kalau kau mengistirahatkan dirimu sambil mendengarkan kami, kaupasti lelah karena mengurusiku dari tadi," ujarnya dengan tenang meski Rukia sadar di dalamnya terdapat pancingan. Dan jika ia melihat Ichigo sekarang, umpan yang dilempar Renji sudah berhasil menarik mangsa. Kata mengurus yang Renji suarakan, membuat tangan pria it terkepal menahan emosi.
"Kurasa lebih baik kalau kaududuk," kata Ichigo. "Kau bisa sendiri atau perlu bantuanku?" Pria itu menawarkan tanpa niat memberikan bantuan.
"Ichigo!" Rukia memperingatkan, meski sedang marah seharusnya Ichigo tetap menjaga tata kramanya. Ia bergerak cepat untuk membantu Renji, namun kalah cepat dengan gerakan Ichigo yang menahannya. Jemari Ichigo terasa panas di tangan Rukia.
"Aku yakin Abarai tidak perlu diurus seperti bayi." Ichigo mengungkapkan ketidaksetujuannya.
"Tapi─" Rukia akan mendebat jika saja Renji tidak menyela. Rukia duduk kembali ke tempatnya dengan kedua tangan bergerak-gerak gelisah di pangkuannya. Ia ingin semua ini segera berakhir. Konfrontasi antara Ichigo dan Renji seakan memotong sepuluh tahun usianya.
"Aku bisa melakukannya sendiri," kata Renji seraya bangun ke posisi duduk, dan bersandar di kepala tempat tidur. "Silakan mulai, Kurosaki."
Bibir Ichigo terkatup rapat, memutih karena menahan amarah. Matanya menatap garang pada sumber masalahnya hari ini. Renji Abarai. "Kebodohanmu hampir membunuh Rukia."
"Ichigo!" Rukia melompat berdiri. "Renji sama sekali tidak bermaksud begitu dia─"
Ichigo mengangkat tangannya, seketika menghentikan kata-kata yang menyembur dari mulut Rukia.
"Aku bisa saja menuntutmu atas penculikan dan membahayakan kehidupan Rukia."
Rukia memelototinya. "Itu tidak benar!" sembur Rukia berusaha membela Renji.
Ichigo menoleh pada Rukia. "Apa kauingin berkata bahwa kau sepenuhnya bekerja sama dalam semua ini?"
Tantangan itu tak membuat nyali Rukia ciut, malah makin menyulut kemarahannya. "Untuk berkendara dengan cepat aku sama sekali tidak menyetujuinya. Aku berkali-kali meminta Renji untuk melaju dengan lebih pelan, tapi dia tak mendengarkanku."
"Berarti─"
Rukia melanjutkan sebelum Ichigo sempat menyela. "Tapi untuk yang lainnya aku bekerja sama penuh."
Ichigo berdiri, matanya menyipit, rahangnya mengatup rapat, sikap tubuhnya jelas merefleksikan apa yang terjadi dalam hatinya. Pria itu marah, sepenuhnya marah. "Jadi, kauingin mengatakan bahwa dirimu memang setuju untuk kawin lari ke Gretna Green bersama Bajingan itu?!" Telunjuk Ichigo mengarah dengan marah pada Renji. "Kauingin mengatakan bahwa usahaku mengejarmu sia-sia, karena sebenarnya yang kulakukan hanyalah mengganggu rencana besarmu bersama kekasihmu?!"
Seharusnya Rukia menahan diri. Kemarahan tak bisa dilawan dengan kemarahan. Tapi kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, ia tak bisa menahan diri, tak bisa diam saja ketika Ichigo menyemburkan kata-kata kotor pada orang yang berniat menolong mereka. Kata-kata yang turut menghinanya juga.
"Jaga kata-katamu, Ichigo. Renji tidak seperti itu!"
Kobaran api seakan membakar mata Ichigo. Rukia tak pernah melihatnya semarah ini sebelumnya, tapi bukan hanya kemarahan yang tampak di mata Ichigo, di sana juga ada emosi lain. Meski sangat kecil Rukia bisa melihat rasa sakit dan kekecewaan mendalam, sehingga ia tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Ia merasa bersalah sudah memojokkan Ichigo sampai seperti ini, tapi ia juga kesal karena Ichigo tak bisa mengambil sikap. Untuk siapa Ichigo melakukan semua ini? Untuk dirinya atau kepuasan pria itu sendiri? Yang jelas, Rukia tak akan pernah mendapatkan kebahagiaannya bila tidak bersama dengan Ichigo. Ia dapat memastikan itu. Hanya saja Ichigo terlalu buta akan pikirannya sendiri sehingga tak bisa melihat kenyataan yang terbentang di depannya.
"Lalu dia seperti apa? Seorang gentleman? Kaubaru mengenalnya setahun, Rukia. Tahu apa kautentang dia?" kata-kata Ichigo dipenuhi nada mengejek. "Seorang pria sejati tidak akan membawamu untuk pernikahan kilat di Gretna Green, Rukia. Dia seharusnya memperlakukanmu dengan cara yang benar."
"Seperti yang kaulakukan," sindir Rukia.
Bibir Ichigo menipis. "Kita tidak sedang membicarakan diriku, tapi─"
"Semua berawal darimu, dan akan selalu terkait padamu!" Rukia bersidekap, menahan tangannya agar tidak menunjuk Ichigo. "Tapi aku tak berharap kau akan mengakhirinya. Kau terlalu pengecut untuk memberi akhir yang bahagia, Ichigo, bahkan untuk dirimu sendiri." Setelah mengatakan itu Rukia berderap ke pintu, keluar sambil membanting pintu kayu itu.
.*.
Pintu itu tertutup dengan bunyi berdebum. Meninggalkan Ichigo yang hanya bisa menatap bingung kayu berpelitur itu. Seharusnya ia yang marah, tapi kenapa Rukia yang ...
"Sepertinya dia sudah sampai pada batasnya."
Suara dari tempat tidur tak membuat Ichigo menoleh. Ia merapatkan rahang dan kembali berkata dengan sinis, "kau yang seharusnya disalahkan bukan aku."
"Oh, ayolah, Kurosaki. Kautahu benar semua ini terjadi memang karenamu. Dia ikut denganku karena apa yang kaulakukan padanya tadi pagi." Kata-kata Renji membuat dirinya mendapatkan pelototan dari Ichigo. Namun itu tak cukup untuk menghentikan dirinya. "Kenapa semua ini menjadi begitu sulit, Kurosaki? Kauhanya perlu mengatakan isi hatimu pada Rukia dan semua akan selesai, tapi kau membuat keadaan begitu sulit dengan menyimpan semua untuk dirimu sendiri. Rukia berhak tahu apa yang kaurasakan."
"Semua tidak akan sulit jika kau mendekati Rukia dengan benar," sahut Ichigo. "Kalau kauingin menikahinya seharusnya kau melamarnya bukan menculiknya. Kau yang membuat semua ini menjadi runyam."
"Astaga! Kau benar-benar kepala batu, Kurosaki!" Renji berseru. "Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana sikap Rukia, dan kaumasih ingin aku mendekatinya dengan benar. Apa kau benar-benar bisa merelakannya untukku?"
Merelakan Rukia. Ichigo sering menasehati dirinya sendiri untuk melakukan itu, dan ia mencoba membuktikan bahwa ia bisa melakukannya. Ia menjauh, membiarkan Rukia mengikuti season pertamanya di London dan mencari suami, namun setiap sel dalam tubuhnya meneriakkan nama Rukia. Setiap bagian tubuhnya─kecuali otaknya─tahu bahwa ia tak akan bisa merelakan Rukia, bahkan jika seorang pangeran yang melamar gadis itu, ia tetap tak akan bisa merelakannya.
"Hati dan pikiran memang terkadang tak sejalan. Satu memintamu berjalan ke arah kanan, dan yang satunya lagi menyuruhmu mengambil arah sebaliknya. Keduanya terkadang bertentangan, kauharus menemukan titik temu di antara keduanya, atau mengalahkan salah satunya."
Ichigo menyapukan jemarinya ke rambut jingganya yang memang sudah acak-acakan. "Sejak kapan kau jadi ahli filsafat, Abarai?"
Renji menyengir seraya mengambil buku yang diletakkan Rukia di nakas samping tempat tidurnya. "Sejak Rukia membacakan ini untukku." Renji mengangkat buku itu.
"Shelley*? Kau bercanda, kan? Di dalamnya hanya berisi omong kosong mengerikan." Ichigo begidik ngeri.
"Omong kosong mengerikan yang disukai para wanita," sahut Renji. "Mungkin kauperlu membawa buku ini saat meminta maaf pada Rukia."
Ichigo mengernyit. "Meminta maaf?"
"Apa aku juga harus mengajarimu tentang ini, Kurosaki? Kau harus meminta maaf jika melakukan kesalahan, bahkan anak kecil saja tahu hal itu."
Ichigo mendengus, tapi ia mempertimbangkan kata-kata Renji. "Apa kaupunya yang lain?"
"Shelley atau tidak sama sekali. Rukia sudah menandai bagian yang ia sukai, bacakan salah satunya, itu akan membuatnya lebih mudah memaafkanmu."
Ichigo menyerah. Diambilnya buku itu dari tangan Renji dan menyelipkannya ke saku. "Aku mungkin harus berterima kasih kepadamu untuk hal ini, tapi kau masih berhutang banyak padaku."
"Kau bisa menagihnya nanti kalau urusanmu dengan Rukia sudah selesai," kata Renji sambil menyusun bantal-bantal di kepala tempat tidur dan berbaring. "Tolong tutup pintunya saat kaupergi, dan lakukan dengan pelan. Jika pintu itu sampai rusak, tagihan kita akan membengkak."
Ichigo memutar matanya sebelum berputar dan melangkah ke pintu.
"Dan satu hal lagi, Kurosaki."
Ia menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Jangan lupa mengatakan, aku mencintaimu pada Rukia, karena ini kesempatan terakhirmu." Renji menutup kalimatnya dengan seringai.
Ichigo menarik pintu hingga terbuka, keluar, dan menutup pintu dengan bunyi berdebum nyaring.
.*.
Di luar Ichigo menemukan Mrs. Urahara tengah menaiki tangga. Ichigo terpaksa menunda niatnya menemui Rukia beberapa menit karena tidak sopan mengabaikan wanita yang berdiri tepat di depannya.
"Aku mendengar suara nyaring, apa yang terjadi?" tanya pemilik losmen itu.
"Bukan apa-apa, hanya pintunya─"
Belum selesai Ichigo menjelaskan Mrs. Urahara sudah menyelanya. "Apa pintunya rusak?"
Ichigo mengedikkan bahu. "Mungkin. Kurasa kauharus meminta suamimu untuk memeriksanya."
"Ah, tentu saja," sahut Mrs. Urahara.
"Apa ada lagi yang lain?" tanya Ichigo tak sabar.
Mrs. Urahara tersenyum. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa makan malam sudah siap."
"Terima kasih, aku akan menyampaikannya pada Rukia," kata Ichigo cepat. "Dan aku akan menyampaikannya sekarang." Tanpa menunggu ia berbalik, dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
.*.
Ichigo sampai di depan kamar Rukia, kamar itu hanya berjarak tiga pintu dari kamar Renji, dan bersebelahan dengan kamarnya. Setelah dilihatnya Mrs. Urahara menuruni tangga, ia mulai mengetuk pintu untuk meminta perhatian si pemilik kamar. Menunggu, tetapi pintu itu tak kunjung terbuka. Ichigo mencoba lagi, mengetuk dengan keras sekaligus mengucap nama gadis itu. Alih-alih pintu terbuka, jawaban saja tidak ia dapatkan.
"Aku tahu kau marah, makanya aku datang untuk meminta maaf, dan selain itu ada hal lain yang ingin kubicarakan. Tolong buka pintunya, dan dengarkan aku. Please ..."
Lama tak ada tanggapan sehingga Ichigo berkata lagi, "kumohon, Rukia. Buka pintunya. Aku ingin bicara denganmu."
Masih tak ada respon positif yang Ichigo dapatkan, dan ia melanjutkan, "Rukia, kumohon buka pintunya. Aku ingin mengatakan semua ini langsung di depanmu, bukannya di depan pintu kamarmu. Rukia!"
Sekali lagi Ichigo tak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Kepalanya tertunduk lemas. Helaan napas keluar darinya. Ichigo tidak mengira dirinya akan terlambat. Yah, sebenarnya ia tidak mengira akan berada di posisi ingin mengungkapkan perasaaan pada Rukia. Semula Ichigo pikir selamanya kata cinta itu akan ia simpan, tak pernah terucap. Namun ketika dunianya terbalik, dan ia ingin mengungkap semua rasa itu, Rukia tak mau memberinya kesempatan. Rukia membuatnya merasakan keputusasaan yang sama seperti yang dirasakan gadis itu ketika ia menolak menyatakan cintanya tadi pagi. Ini pembalasan yang setimpal, dan Ichigo tak bisa menyalahkan orang lain selain dirinya sendiri untuk segala penyesalan yang menggumpal di hatinya kini.
Di saat keputusasaan itu menggerogoti semakin dalam, menariknya menuju kata menyerah, terdengar bunyi pintu terbuka. Ichigo mendongak dengan penuh harapan, namun pintu di depannya masih tertutup rapat. Ia hampir kecewa lagi, jika saja tidak terdengar suara tawa familiar tak jauh darinya. Kepala Ichigo tertoleh, dan kalimat panjang dari Rukia langsung menyambutnya.
"Kukira kau pembaca arah yang hebat, Ichigo. Bukankah kau tidak pernah tersesat, dan selalu menemukan tempat dengan sangat cepat. Kau bahkan bisa menemukanku di tengah badai salju, tapi melihatmu sekarang membuktikan bahwa aku terlalu memandang tinggi dirimu."
"Ba-kenapa kau ada di sana?" Ichigo tak bisa menutupi kebingungannya melihat Rukia berdiri di ambang pintu di sebelah kamar yang pintunya ia ketuk sedari tadi.
Rukia tersenyum geli. "Karena ini kamarku, dan yang kauketuk itu adalah kamarmu sendiri."
.*.
Wajah terkejut dan bingung Ichigo merupakan pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat. Rukia tak bisa menahan geli dan akhirnya menertawakan pria itu. Bagaimana bisa tadi ia begitu kesal pada Ichigo sehingga pergi begitu saja, tapi sekarang ia malah tertawa karena pria itu? Sungguh aneh. Lalu sekarang dengan menakjubkan perasaan kesalnya pada Ichigo menghilang entah ke mana. Wajah bodoh pria itu memang sangat ampuh meniup segala kemarahannya. Rukia harus menyimpan baik-baik gambaran itu dalam kepalanya sehingga saat ia marah pada Ichigo lain waktu, ia akan membayangkan wajah bodoh pria itu dan mengusir pergi semua kemarahannya.
"Ini kamarku?" Ichigo menunjuk pintu di depannya masih dengan wajah kebingungan.
Wajah itu terlihat begitu menggemaskan, membuat tangan Rukia gatal ingin mencubit kedua pipinya.
"Ya, itu kamarmu, dan ini kamarku," jawab Rukia.
"Tapi─bukannya─"
Rukia terkikik geli. Rupanya sore ini otak Ichigo mengolah informasi dengan sangat lamban. "Kalau itu memang kamarku, aku tidak akan berdiri di sini, Ichigo," ujar Rukia gemas.
Ichigo menyisir rambutnya dengan jari, mengacak rambut jingga. "Well, itu menunjukkan bahwa aku memang kehilangan konsentrasiku, dan semua ini karenamu."
Kedua tangan Rukia terangkat, dan diletakkan masing-masing di pinggang kanan dan kiri. "Oh! Sekarang kau menyalahkanku," tantangnya.
"Tentu saja. Semua kerepotan ini karena kau. Kalau bukan karena dirimu, Rukia Kuchiki, aku tak akan mau melewati semua ini; menembus badai salju, menahan cemburu karena kau berlama-lama di kamar Babon itu dan mengabaikanku, bertengkar denganmu, lalu berakhir dengan mengetuk kamar yang salah selama lebih dari lima belas menit. Semua ini karena kau, karena aku mencintaimu terlalu dalam. Jika bukan aku tidak akan─"
Semua kalimat itu terhenti, mengambang di udara tanpa pernah diselesaikan, dipotong oleh sebuah gerakan cepat Rukia yang melompat dan langsung memeluk Ichigo. Kedua tangan Rukia melingkari pinggang Ichigo dan pipinya menempel di dada pria itu.
"Aku ingin mendengarnya lagi," ucapnya.
"A-apa ...?" Ichigo terbata.
"Kata itu."
"Y-yang mana?"
Rukia mendongak, mencebik kesal pada pria jingga itu. "Apa aku harus mengingatkanmu?"
Ichigo meringis. "Kautahu, aku mencoba mempersiapkan semuanya dengan baik, bahkan sampai meminjam ini." Pria itu mengeluarkan buku puisi karangan Shelley dari sakunya.
Mata violet Rukia melebar. "Shelley? Bukankah menurutmu dia hanya menuliskan omong kosong menyesatkan?"
"Mengerikan," ralat Ichigo.
"Sama saja."
"Bagaimana bisa sama, kedua kata itu memiliki arti yang jauh berbeda."
Rukia memutar mata. Ichigo mulai membelokkan pembicaraan, pria itu pasti ingin ia terbawa suasana dan melupakan apa yang berusaha ditagihnya pada pria itu tadi. "Bagian mana yang akan kaubacakan untukku?" tanya Rukia disertai senyuman manis.
Gelengan pelan menjawab pertanyaan Rukia. "Entahlah. Kupikir mungkin sebaiknya tidak menggunakannya. Memakai kata-kata orang lain membuatku merasa bukan diriku sendiri."
Senyuman Rukia semakin lebar. "Aku ingin mendengar kata-kata darimu."
Rukia bisa melihat rona mulai menjalari wajah Ichigo, membuat pria itu terlihat manis. Pria manis miliknya. "I-ini tidak akan terdengar seperti puisi Shelley."
"Aku tidak butuh Shelley. Aku membutuhkanmu."
Ichigo mendesah. "Apa yang harus kulakukan padamu?"
"Lakukan yang seharusnya kaulakukan," bisik Rukia.
"Akan kulakukan." Ichigo menundukkan kepalanya, terus turun hingga hidungnya bertemu dengan hidung Rukia. "Aku mencintaimu."
Hanya sebuah kalimat pendek, tanpa penjabaran puitis, atau lirik-lirik syahdu. Ucapan yang langsung ke pokoknya, khas Ichigo, tapi itu cukup. Amat sangat cukup untuk menyegel hati Rukia. Untuk meyakinkan Rukia bahwa dirinya kini telah dimiliki.
"Aku juga mencintaimu."
Dan Rukia mendapatkan apa yang Renji janjikan padanya, pernyataan cinta Ichigo sebelum hari berakhir, bahkan masih berjam-jam sebelum batas akhir taruhan itu berlaku.
.*.
fin
.*.
*Percy Bysshe Shelley adalah salah satu penyair romantis terpenting di Inggris dan dianggap sebagai penyair liris Inggris terbaik.
.*.
Review's review:
Lhylia Kiryu
Makasih dah RnR ya.
Sebenarnya saya emang berniat bikin kepala Ichigo berasap, tapi entah kenapa jadinya begini. Akhirnya kepala Ichigo nggak benar-benar berasap. Hehe ...
Guest1
Makasih dah RnR ya.
Udah saya lanjutin nih, dan sekalian ditamatin juga.
Ryuuki
Hola, Ryuuki. Makasih dah mampir lagi di fic saya.
Saya sudah mencoba membuat Ichigo lebih panas, tapi sepertinya kurang berhasil. Hehe ...
Mungkin lain kali aja Ichigo nge-bankai Renji, untuk saat ini dipending dulu. wkwkwk ...
Udah saya lanjutin nih. ;) Ini last chap loh. Hehe ...
Tiwie Ichiru
Makasih dah RnR ya, Tiwie.
Haha ... kamu biasanya nggak suka banget kalo ada Renji ya.
Nggak ada bagian tinju-tinjuan. Hum, di fic lain aja bikin mereka adu bogem mentah. wkwk ...
Udah lanjut nih, tapi sepertinya chap ini nggak sebagus yang kamu bayangkan.
.*.
Last chap! Selesai dalam satu hari pengetikan. Wkwkwk ...
Sebenarnya tadi pagi cuma mikir mau ngetik lanjutan fic ini, tapi setelah memulai jadi nggak mau berhenti sampai chap ini kelar. Rasanya fic ini emang benar-benar pendek, jadi penjabaran karakter dan isi ceritanya mungkin berasa kurang. Yah, saya rasa ada beberapa pembaca yang merasa begitu, sebenarnya saya pun sedikit merasakannya. Tapi entah kenapa saya hanya ingin cepat menyelesaikannya. :'( mungkin bawaan laper. wkwkwk ...
O ya, saya juga sekalian mau bilang kalo saya mungkin akan hiatus dulu beberapa saat (mungkin satu-dua bulan) dari FBI. Ada kesibukan lain yang harus saya utamakan saat ini daripada menulis fanfik. Untuk teman-teman, jangan kangen sama saya ya. Ntar susah ngobatinnya loh. Hehe ...
Selanjutnya saya mau ngucapin terima kasih buat kalian semua yang sudah ngedukung saya selama ini baik lewat review, follow, maupun favoritin fanfik saya.
Nozaki, Naruzhea AiChi, HyperBlack Hole,Tiwie Ichiru, Baramjji, Arya u dragneel, Guestguest, Permen Lemon, wowwoh geegee, Amai Sora, , Ryuuki, Eonnichee835, Lhylia Kiryu, nenk rukiakate, XI-hime, RyuzakiRyuga, Baby niz 137, 3nd4h, Guest1,
Juga buat kalian para siders, terima kasih sudah mampir di fanfik saya.
Akhir kata, tolong maafkan saya jika ada salah kata dan untuk semua kekurangan yang ada di dalam fanfik ini.
See ya,
Ann *-*
.*.
Omake:
Sebulan kemudian Renji Abarai melangkah melewati meja-meja biliar di sebuah klub kenamaan di London, menolak dengan sopan semua tawaran bermain dari teman-teman yang ia temui. Ia sedang bergegas. Ada seseorang yang tengah menunggunya di ruang VIP klub itu. Seseorang yang sangat penting.
"Ruang 4, Sir."
Ia mengikuti instruksi itu dan melangkah menuju ruang no. 4. Pelayan yang berjaga di depan pintu VIP 4 langsung membukakan pintu ketika melihatnya datang. Renji mengangguk dan melewati ambang pintu. Di tengah ruangan, di salah satu sisi meja berbentuk persegi, seorang pria sudah menunggunya. Renji segera melangkah mendekatinya.
"Maaf, membuat Anda menunggu," ucapnya yang dibalas anggukan dari pria beriris onix tersebut. Rambut hitam panjang pria itu terikat rapi di belakang leher, sikapnya angkuh, khas seorang bangsawan. Namun siapa yang menyangka di balik sikap dingin dan kaku seorang Byakuya Kuchiki tersimpan kasih sayang yang begitu besar untuk adik perempuannya. Rasa kasih yang memaksanya meminta Renji melakukan sesuatu untuknya.
Renji mengambil tempat duduk di sisi lain meja, tepat berhadapan dengan Byakuya. "Seperti yang Anda tahu bahwa saya sudah menjalankan tugas saya dengan sangat baik."
Sebelah alis Byakuya terangkat. "Membahayakan nyawa adikku tidak membuatmu mendapat predikat sangat baik."
"Itu kecelakaan," Renji berusaha membela diri.
"Yang disebabkan oleh kecerobohanmu."
"Aku tahu. Adik ipar Anda mengatakannya dengan sangat jelas dan berulang-ulang. Dia bahkan melarang saya bertemu Rukia tanpanya."
"Dia melakukan tugasnya sebagai seorang suami dengan baik."
"Dan itu memuaskan Anda."
Byakuya tidak menjawab. Pria itu hanya menyodorkan sebuah kertas ke tengah meja. Dari tempat duduknya Renji dapat melihat dengan jelas apa yang tertulis di atasnya.
"Seribu pound, seperti yang kujanjikan."
"Terima kasih, Sir." Renji meraih kertas itu seraya berdiri. "Saya rasa, saya harus pergi sekarang. Jika Anda memerlukan bantuan saya lagi, Anda tahu di mana menemukan saya."
"Kuharap aku tidak perlu mencarimu lagi," kata Byakuya.
"Sampai jumpa, Sir."
Renji melenggang pergi. Tersenyum pada pelayan yang membukakan pintu untuknya, lalu melemparkan koin padanya.
"Berbisnis dengan keluarga Kuchiki ternyata begitu menyenangkan," ujarnya.
.*.
End
.*.
