Chapter 3

Hinata Hyuuga, gadis pemalu yang cantik dan butuh seorang partner untuk diajak ke pesta dansa SEGERA!

Terkutuklah panitia dewan siswa yang mengajukan acara ini sebagai bagian perayaan ulang tahun sekolah.

Walau tak ada peraturan yang mengharuskan pesta dansa itu bersama pasangan, tapi dari jaman dahulu, dari saat Cinderella masih jadi babu, pesta dansa itu pasti ada bagian dansa-nya. Terus, kalau datang tanpa punya pasangan, harus dengan siapa Hinata berdansa nanti?

Sekarang yang bisa dilakukan Hinata sebagai gadis pemalu hanya satu: menyerah.

Dia tak mungkin bisa mengajak seorang pemuda untuk jadi pasangannya. Bisa-bisa dia pingsan duluan sebelum semuanya terjadi. Yang bisa dimintai tolong hanya Neji, tapi kakak sepupunya itu sedang dinas luar kota. Pesta besok, sementara sang Kakak baru pulang bulan depan.

Tak mendapat pencerahan, gadis Hyuuga favorit kita merebahkan kepalanya di atas meja, menghela nafas, pasrah. Melihat jam dinding yang terus berdetak di depan kelas merupakan ide yang akhirnya disesali; karena melihat jam berarti melihat waktu, yang akhirnya membuat dia menyadari bahwa hanya tersisa sekitar 24 jam lagi. Dan total jam itu terus berkurang seiring detik yang terus maju.

Mengambil tasnya yang aman di laci meja, Hinata keluar kelas. Pemandangan sepi dengan sedikit murid yang masih tersisa, ini memang jam pulang sekolah.

"Hinata!"

Mendengar suara keras yang memanggil namanya, Hinata berhenti dan menoleh. Wajahnya merona saat menghetahui ternyata itu Naruto.

Sementara si bocah rubah sendiri masih terus nyengir, tanpa pernah peduli giginya akan kering.

Melihat Naruto yang sumringah di depannya, Hinata jadi berpikir soal pesta dansa. Bagaimana jika meminta Naruto saja?

"Mm…Naruto-kun…"

"Huh?"

Hinata mulai berkeringat. "S-soal pesta d-dansa…"

"Ah, iya!" Naruto sedikit memekik. "Kau sudah dengar soal pesta dansa itu, Hinata?"

Terlalu malu untuk menyahut, Hinata lebih memilih untuk mengangguk.

"Sebenarnya aku…" Naruto yang terlihat ragu semakin membuat Hinata penasaran dan berharap. "…pendapatmu bagaimana jika aku…"

Ok! Hinata hampir pingsan penasaran sekarang.

"…mengajak Sakura?"

Oh, tidak! Setelah terbang sampai ke awang-awang, akhirnya Hinata harus merasakan sakitnya jatuh di ketinggian.

"Menurutmu…" Naruto memerah, cengirannya kian melebar, "…apa dia mau?"

Apakah Hinata akan mati, sekarang?

Tidak. Buktinya dia masih mampu sedikit tersenyum walau ada rasa pahit di sana.

"Tenanglah, Naruto-kun. Yang penting, kau harus coba dulu." Hinata memberi semangat untuk Naruto sambil menegarkan dirinya sendiri. "Berhasil tidaknya bisa kau pikirkan nanti."

Naruto mengangguk mantap. "Ya, aku rasa kau benar."

Naruto yang berbelok arah menuju lapangan sekolah melambai sampai jumpa pada Hinata. Hinata tak membalas, hanya matanya yang terus mengikuti arah pemuda itu.

"Kenapa lama sekali?"

Gaara, cowok yang sudah seminggu ini terus menjadikan Hinata sebagai school guide-nya, berkata dengan nada datar sambil terus melihat Hinata yang hampir menangis karena baru patah hati.

"Maaf, Sabaku-san…" Hinata membungkuk.

"Kau jelek." Gaara menegakkan posisi tubuhnya, bersedekap, memandang angkuh Hinata. "Cengeng."

Hinata tahu bukan saatnya memikirkan pandangan orang lain terhadap dirinya, tapi ucapan Gaara membuat hatinya terusik juga. Apa iya Hinata segitu jeleknya? Beberapa saat kemudian, Hinata dapat merasakan setitik kehangatan di pipinya.

Gaara mendengus. Tangannya merogoh saku, mengambil sapu tangan coklat tua yang masih bersih, lalu berjalan mendekat.

Hinata hanya bisa bengong saat kemudian pipinya merasakan sesuatu yang lembut bergerak menyentuh kulit wajahnya. Wajahnya memerah.

Gaara yang menyadari ekspresi Hinata menyipitkan matanya ke arah gadis yang tengah tersipu, 'Menarik.'

OoOo

"Ah, benarkah?"

"Iya, Sasori-kun," suara di seberang sana menyahut.

"Lalu, bagaimana? Hinata tetap pergi, kan?"

"Tidak bisa. Dia tak mau."

"Hm…" Sasori mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk, berpikir. Bagaimana cara membantu sahabat karib pacarnya. "Ah!" Pekik Sasori kemudian, "Ino-chan, aku punya ide!" ujarnya keras ke arah gagang telepon yang ia pegang. Bisa dipastikan telinga sang pacar pasti langsung berdengung.

OoOo

Hinata yang sedih karena patah hati dan tak ikut pesta dansa sekolah, dipaksa bangkit dari ranjangnya karena suara bel yang ketahuan sekali tak sabaran. Kondisi rumah yang sepi karena Ayahnya kerja, Ibu belanja, dan Hanabi yang sekolah, membuatnya harus membuka sendiri pintu rumah, menyambut tamu apapun yang akan datang.

Ketika pintu dibuka, sosok Gaara berdiri tegap dan menghalangi cahaya matahari yang ingin masuk ke dalam rumah. Hinata yang masih memakai daster pink berlengan panjang mengucek-ngucek mata, memastikan bahwa ini hanya mimpi.

"Kau baru bangun?"

Mendengar suara Gaara yang terkesan dalam dan angker, Hinata nyengir. Ternyata bukan mimpi.

"Kau belum mandi?" Gaara kembali bertanya dengan pertanyaan berbeda namun tetap mengindikasikan hal yang sama: Hinata baru bangun.

Hinata yang akhirnya sadar, tertunduk malu. Rambut yang acak-acakan jelas tak mungkin luput dari pandangan Gaara. "I-iya." Sahutnya.

"Mandi sekarang." Suatu perintah yang tak perlu tanda seru, karena kalau Gaara yang bicara, sedatar apapun kalimat akan tetap menjadi perintah.

Hinata mengangguk cepat, kemudian menutup kembali pintu dan menguncinya, membiarkan Gaara yang datang berkunjung berdiri di luar.

Lima belas menit kemudian, Hinata keluar dengan tampilan yang lebih fresh.

"Ikut aku."

"Hah?"

"Ikut aku."

Butuh waktu lama bagi Hinata untuk mengerti ucapan Gaara sebelum akhirnya pemuda itu menarik tangan Hinata, memaksanya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Gaara juga ikut masuk dan duduk di samping Hinata.

Keadaan yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya, membuat Hinata mulai membayangkan yang tidak-tidak. "KYAA!"

"Diamlah." Gaara membekap mulut Hinata dengan kedua tangannya.

"Hai, Hinata!" sapa seseorang bertubuh jangkung yang pernah terlihat besama Gaara di ruang kelas pada chapter sebelumnya.

"H-Hidan-san?"

"Bodoh!"

Ucapan Gaara menandai mobil yang akhirnya mulai melaju.

Sementara itu, di rumah Hinata, orang suruhan Gaara mengunci pintu, lalu menulis pesan singkat di pintu; Ibu, aku pergi ke pesta dansa sekolah. Kunci ku letakkan di tempat biasa. Tertanda anakmu, Hyuuga Hinata.

Sebuah pesan terkirim untuk Gaara.

Sementara sang Sabaku sendiri tengah puas menatap layar ponselnya; misi sukses. Yah, siapa sangka bertetangga dengan keluarga Hyuuga membuatnya tahu kebiasaan mereka meletakkan kunci rumah di pot bunga?

Ini rahasia Hinata, keluarganya, atau bukan ya?

OoOo

Hinata yang awalnya ketakutan sekarang cuma bisa bengong. Heran karena sempat mikir kalau dia diculik. Tapi kenapa malah dibawa ke tempat ramai begini?

Mall?

Tidak kah itu terlalu ramai untuk lokasi penculikan?

Gaara yang terus menggenggam tangan gadis itu menuntunnya ke arah sebuah salon yang kelihatannya sangat mahal dan berkelas. Hinata terperangah sebentar. Dia yakin Gaara pasti salah mengambil langkah. Berdasarkan film-film yang sering ia lihat, penculik itu selalu menyekap korbannya di tempat yang gelap, usang, bau, dan sepi. Tapi ini tempat yang penuh cahaya, indah, harum parfum, dan ramai.

Apa sekarang trend penculik udah berubah?

Seorang wanita cantik datang menghampiri mereka sambil tersenyum manis. "Anda tuan Sabaku, kan?" tanyanya pada Gaara. Dapat dilihat dari binar matanya kalau dia sedang terpesona.

Gaara jengah.

Hinata menunduk.

Berniat ingin menjauhkan wanita dengan wajah mengkilap yang lebih terkesan seram itu, Gaara menggenggam tangan Hinata dengan lebih erat, berharap si perias langsung menjauh.

Sedetik…

Dua detik…

Tiga detik…

Jika berharap seorang Gaara mempunya tingkat kesabaran yang besar, maka bermimpilah; hal itu terlalu mustahil untuk terjadi di dunia.

"Tolong rias pacarku ini." Mengambil tindakan berani, Gaara mengakui Hinata sebagai pacarnya.

Hinata yang masih asyik mikir macem-macem, tak terlalu mendengarkan ucapan Gaara, jadilah dia diam bak kucing penurut yang diiming-imingi ikan asin.

Beberapa jam berlalu, hingga akhirnya Hinata siap.

Gaara yang biasanya, tak akan pernah mau mengaku walau dia berpikir Hinata itu cantik.

"S-Sabaku-san… s-sebenarnya ini u-untuk a-"

"Bagus."

Hinata mengangkat wajahnya, menatap Gaara lekat. Wajah yang memerah ditambah kerutan tak mengertinya membuat wajah yang putih itu terlihat lebih kawaii. Hinata bingung. Fakta bahwa Gaara jarang memuji, membuatnya ingin tahu. Kenapa barusan dia berkata 'bagus'? 'I-itu, pujian kan?' Hinata membatin.

Selesai dengan semua kebingungan Hinata yang masih belum terjawab, mereka beranjak ke salah satu toko busana dengan merk terkenal. Gaara memilihkan Hinata sebuah dress biru muda selutut, sederhana dengan motif polos.

Satu fakta lain selain soal penyimpanan kunci keluarga Hyuuga; Hinata cocok memakai pakaian apa saja.

"I-ini untuk apa?"

"Pesta dansa."

Hah?

Ini perasaan Hinata aja, atau memang Gaara kelihatan lebih baik?

TBC

Terima kasih buat reviewer yang udah mau mereview.

Arrigatou Gozaimazu.

Mind to Review?