Grey : "The Missing Piece"
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, Crypton
Ini bukan kisahku, gadis hantu itulah tokoh utamanya. Aku hanya karakter pendukung yang berusaha membantunya, menuntaskan kisah cinta yang ABU-ABU..
.
.
.
Kepingan Kedua : "Pecahan Masa Lalu yang Terungkap
Tanaka Miu.
Nama asli sementara hantu ini adalah Tanaka Miu. Umurnya masih 14 tahun ketika nyawanya dilepas—setidaknya, itu hipotesis sementara yang dapat kusimpulkan berdasarkan informasi yang tertera di nisan (tak terawat) itu.
"Rin…"
Aku menoleh menatap kedua iris cokelat miliknya yang masih terpaku kepada nisan (yang kemungkinan) miliknya tersebut.
Kecewa.
Sorot tatapannya itu memang terlihat biasa, tapi… aku yakin—dengan segenap garis-garis koordinat dan variabel-variabel Aljabar yang tak penting di otakku. Gadis hantu itu kecewa—uhm, siapa yang tidak kecewa ketika mengetahui saat kau tiada, tidak ada yang merawat nisanmu sama sekali.
Uhm… walaupun aku sama sekali belum pernah merasakan yang namanya mati, setidaknya aku mengerti apa rasanya terlupakan. Uhmm.. karena aku pernah merasakannya, benar?
"Hn?" aku membalas sapaannya setelah beberapa menit terdiam.
Sebuah senyuman terukir di wajah gadis hantu itu. "Sepertinya aku tidak memiliki kesan yang baik, ya?"
"Hah? Maksudmu?" aku mengernyit heran.
"Lihat makam-makam disekitar sini," ia menunjuk kesegala arah. "Nisan mereka tampak terawat… bahkan masih ada buket-buket bunga yang segar didepannya. Sementara aku…."
Astaga…, sepertinya aku kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut—
"Jangankan bunga, nisanku saja tampak tak terurus dan tersembunyi begini…."
—benar kan?
Aku dan Miu pulang saat matahari tergelincir dan jatuh kembali ke tempat peristirahatannya. Dan tahu apa hal menyebalkan? Gadis hantu yang selalu mengoceh tak karuan ini hanya diam dan merenung menatap jalan.
Tolong untuk sementara ini jangan ingatkan aku untuk bersyukur atas terkunci rapatnya mulut si gadis hantu—
"Rin… perasaanku saja atau aura disekelilingmu benar-benar suram?" Rinto, kakak laki-laki bersuara.
—karena aura hantu yang sedang galau jauh lebih menyeramkan daripada hukum-hukum Newton apapun.
.
.
.
Aura dingin menguar kesegala penjuru kamarku, ah, kalian tidak perlu berpura-pura untuk tidak tahu … karena sudah jelas kan sosok transparan yang sedang melayang di pojokan kamarku itu penyebabnya!
"Hei…."
Tidak ada respon darinya.
"Hei..."
Dia masih berkutat dengan dunianya sendiri.
"Hei…"
Cukup sudah! Hantu amnesia ini benar-benar membuatku kesal—mengabaikan seorang Kagamine Rin? Tidak akan aku maafkan!
"Tanaka Miu… cukup sudah semua ini! Kau boleh saja galau tidak menentu karena melihat nisanmu itu. Tapi, jangan membuat hawa kamarku semakin dingin, hantu bodoh!"
Kali ini aku benar-benar berteriak tepat didepan telinga hantu amnesia menyebalkan itu—masa bodoh dengan Rinto yang akan mendobrak kamarku karena mengira ada maling dikamarku. Yang aku ingin lakukan sekarang adalah menceramahi hantu bodoh ini.
Dia masih saja diam, seakan tak peduli dengan telinganya yang berkemungkinan besar bisa tuli karena teriakanku.
Ck… dia memang hantu yang menyebalkan.
"Hei! Siapa yang mengizinkanmu untuk mengabaikanku seperti ini, hah?" Aku terdiam sejenak—berusaha mengambil persediaan oksigen sebanyak mungkin. "Aku tahu kau kecewa! Kecewa, karena berharap nisanmu begitu indah dengan ribuan orang yang selalu mendatangi nisanmu…. Tapi, kau kan masih belum tahu jelas tentang dirimu yang sebenarnya!"
Aku yakin walaupun tak dapat kulihat, wajahku pasti sudah memerah menahan emosi—yang entah mengapa seenaknya muncul ini.
"Kenapa masih juga diam, heh? Kemana hantu menyebalkan yang kutemui beberapa hari yang lalu? Mengapa, yang sekarang kulihat justru hantu pecundang yang terus diam ketika kupanggil?!"
Dia menoleh kearahku, menatapku dengan lirih. "Kamu tidak mengerti..."
Aku terdiam, menatap kearah iris cokelat tersebut—berusaha meminta penjelasan atas kalimatnya yang menggantung.
"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya diabaikan oleh orangtuamu, dikhianati oleh sahabat yang selama ini selalu ada disisimu…."
Tunggu… apa maksud perkataannya ini?
"Dan bahkan aku sendiri juga tidak mengerti…. Kenapa saat aku telah tiada pun aku masih belum juga bisa tenang?"
Sumpah, otakku belum bisa mencerna apapun yang ingin dia maksud.
"Apa ini hukuman? Karena aku mempercepat jatuhnya daun kehidupanku, sebelum yang Dia gariskan?"
Tunggu. Apa jangan-jangan dia…..
"Miu, kau sudah mendapatkan ingatanmu?"
Seulas senyum masam terukir jelas di wajahnya. "Sepertinya…."
Mulutku menganga seenaknya. Tolong, siapapun sadarkan aku dari semua kegilaan ini. Maksudku, bukankah seharusnya masih ada tiga ratus halaman lagi sebelum kembalinya ingatan hantu?—ok, Rin novel-novel roman picisan itu sudah mulai menginvasi otakmu.
Sayangnya ini kenyataan, bukan kisah-kisah picisan dengan alur lambat khas novel yang sering kubaca itu. Dan kenyataan terkadang jauh lebih mudah daripada permasalahan-permasalahan yang ada di novel.
"Rin… apa kontrak ini bisa diputus?"
Aku mengernyit. "Maksudmu?"
"Sepertinya aku lebih memilih menjadi hantu gentayangan, lagipula… aku tidak pernah memiliki misi yang belum tuntas di dunia ini."
"BODOH!" aku mendecih kesal. "Kau yang menyeretku dalam masalah dunia lain beberapa hari yang lalu, dan sekarang hanya karena mengingat masa lalumu yang kau sebut menyedihkan atau apalah itu. Dengan seenak jidat kau ingin memutus kontrak?!"
Kali ini giliran alisnya yang tertaut bingung. "Bukannya kau terpaksa membantukku?"
Skakmat!
Aku terdiam sejenak, berusaha mereka ulang berbagai kalimat dan pernyataan ku dulu yang berharap bisa terbebas dari masalah yang ditulis oleh Dewi Fortuna. Benar juga… seharusnya aku senang akan terbebas dari urusan dunia gaib dan segala himpunan-himpunannya itu.
"Itu karena…." Aku melihat sekelilingku berusaha menemukan alasan yang tepat untuk menjawab. "Yah…., karena aku merasa kehidupan eh kematianmu itu menderita sekali dan juga aku tidak tega membiarkan populasi arwah gentayangan semakin meningkat."
Gadis hantu itu terkekeh pelan mendengar alasan (konyol) yang terlontar dari mulutku tersebut—ck, masa bodoh. Setidaknya aura-aura suram sudah memudar perlahan dari kamarku.
"Sebenarnya tadi aku hanya mengetes…."
Hah? Apa maksudnya lagi ini.
"Ingatanku memang sudah kembali, dan jujur saja aku memang belum tahu apa misiku yang belum tuntas di dunia ini. Dan mungkin kisah menuju cahayaku masih sangat panjang!"
Ia melayang mendekati bahuku dan menepuknya (menembus lebih tepatnya). "Karena itu aku mencoba mengetesmu, dan melihat reaksimu sepertinya kau tidak akan menyerah nantinya. Hihi…."
Aku melongo mendengar penjelasan—kurang ajar—tidak jelas darinya itu.
"Jadi… daritadi kau hanya mengetesku?"
Miu—gadis hantu amnesia dicampur menyebalkan itu mengangguk. "Untuk memutuskan kontrak iya. Tapi soal aura menyeramkan dan kecewa itu tidak~!"
Ck, dia memang hantu paling (pertama) menyebalkan sejagad raya. Baik dunia manusia maupun dunia lain.
.
.
.
"Jadi kau mati karena bunuh diri?"
Kerongkonganku serasa kering begitu mendengar penyebab kematiannya, bunuh diri? Hei, itu dua kata yang paling berusaha kuhindari selama ini. Dan gadis hantu amnesia yang baru saja kembali mendapat ingatannya dengan polos mengatakan ia mati bunuh diri?
Ah, pemikiran dunia begitu sempit ternyata.
"Lebih tepatnya bunuh diri dengan tali yang menggantung," Miu terkekeh. "Kamu tahu? Hidupku dulu itu menyebalkan. Papa dan Mama sibuk dengan pekerjaannya, dan selalu bertengkar setiap saat. Aku bahkan masih ingat rasa sakit lebam pertama yang dihadiahi mereka kepadaku saat ulang tahunku yang kelima."
Ok, mendengar penjelasan darinya tersebut membuatku bisa menyimpulkan. Dewi Fortuna jauh lebih bermusuhan dengannya dibandingkan aku.
"Awalnya aku mengira tidak apa… karena Miki selalu berada disisiku." Ia mendongak keatas, memandang langit-langit kamarku yang bewarna putih. "Tapi ternyata dia hanya memanfaatkanku saja."
Ok, jadi bisa dibilang Miki adalah sahabat yang dia maksud ketika aura suram menyelinap didalam kamarku kan?
"Karena capek, akhirnya aku memutuskan untuk tidur—tidur untuk selamanya… tapi saat sudah mati pun aku masih terjebak masalah ya~?" ia terkekeh.
Aku menghela nafas, sepertinya aku sudah bisa untuk mengeluarkan suara. "Uhmm, bunuh diri memang tak pernah bisa menyelesaikan masalah kan? Dan jujur, aku juga bingung ketika mendengar ceritamu. Seharusnya tak ada lagi hal yang kau sesalkan bukan begitu?"
Miu mengangguk, "Tapi ada satu hal yang membuatku bingung…."
"Apa?"
"Hujan."
Ah, aku jadi teringat suatu hal gadis hantu ini selalu menangis ketika hujan turun, dan selalu akan menatap suram langit mendung.
"Bagaimana bisa aku menangis ketika melihat hujan, aku memang meninggal dihari berhujan, hanya saja mana mungkin karena hal kecil seperti itu aku menangis?"
Benar juga, kebiasaannya itu sedikit aneh. "Mungkin ada pecahan ingatanmu yang belum kembali?"
Ia mengangkat bahu, "Entahlah. Terkadang aku merasa ada sosok anak kecil yang melayang-layang dipikiranku…, hanya saja tak bisa kuingat."
Demi sudut-sudut dan Pythagoras…, mungkin itu kuncinya!
TBC
Preview
"Sebenarnya siapa anak kecil berambut aneh itu?"
"Arggh! Fortuna berbaik hatilah sedikit, aku sudah lelah!"
"Manusia dan hantu tidak seharusnya berbagi alam, seharusnya kau tahu itu."
"Aku? Ah, hanya orang aneh yang memberantas hantu."
Kepingan Ketiga : "Siapa?"
Akhirnya cerita ini update juga :'3
Jujur, sebenarnya chapter ini benar-benar melenceng dari yang sudah saya pikirkan. Sebenarnya saya cukup ragu dengan chapter ini..., mengingat alurnya yang terlalu cepat dan ingatan Miu yang kembali dengan cepat. Tapi hal ini saya lakukan karena 'ingatan' dan 'masa lalu' Miu bukanlah konflik utama disini ; 3 ;
Sebenarnya fanfic ini bukan hal pertama yang ingin saya update, tapi ketika membaca ulang dua chapter sebelumnya entah kenapa tangan saya langsung semangat untuk mengetik lanjutannya XDD
Ah sekian curhatan saya, waktunya membalas review~! :D
Kiriko Alicia
Len mungkin akan muncul di beberapa chapter lagi, atau chapter selanjutnya ya XD?
Ini sudah lanjut kan :D?
Kurotori Rei
Haha, Miu kan penakut XD /ditendang
Rin sudah cukup sabar kok :'D
Sip, ini sudah lanjut kan :D?
Kagamine 02 Story
Dewi Fortuna lagi musuhan sama Rin makanya nasib Rin sial terus XD
Takdir Tuhan yang menyebabkan Miu menjadi penakut /SLAP
Ini sudah lanjut :D?
Saya ucapkan terima kasih untuk reader semuanya, baik yang sudah mereview atau hanya sekedar membaca cerita ini ;D
