Chapter 03

I Love You Doctor

New Assistant

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Pairing : SasuHina

Genre : Romance, Drama

Happy Read ^^

Dua orang dengan warna rambut senada tampak sedang membicarakan hal yang tampak sangat serius. Satu orang dengan rambut emo dan style pantat ayam dengan wajah serius tampak menatap pria lainnya.

"Aku tahu kau ingin aku agar kuliah di Amerika, tapi tidak ada yang menjaga Kaa-chan disini" Kata pemuda berambut pantat ayam tersebut aka Sasuke.

"Sudah kubilang bukan? Aku yang akan pulang dan menjaga Kaa-chan disini selama kau menyelesaikan kuliah doktormu di Amerika" Sahut Itachi. Sasuke tampak terdiam sejenak mendengar ucapan Itachi. Mata onyxnya tampak menatap Itachi dengan tatapan menyelidik.

"Bagaimana dengan Hinata?" Tanyanya penuh dengan kehati-hatian.

"Biarkan saja dia kuliah dulu, terlepas dari itu biaya dari kita atau pun biaya dari orang tuanya. Dia juga kelihatannya semangat tuh" Kata Itachi sambil sedikit nyengir menggoda kepada adiknya.

"Atau jangan-jangan kau sudah kebelet kawin ya? Aku benar-benar tidak membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Tou-chan jika kau menikah duluan sebelum mencapai doktor" Kata Itachi.

"Urusai" Sahut Sasuke dengan nada kesal. Ayah mereka berdua, Fugaku Uchiha adalah seorang direktur di rumah sakit yang sekarang menjadi lahan praktek bagi Sasuke. Seorang dokter spesialis syaraf, seperti Itachi, yang paling senior di dalam rumah sakit tersebut. Tapi, sayang, tenaganya sudah banyak berkurang akibat dimakan usia sehingga dia sekarang tidak mengurusi banyak pasien.

Rumornya, Fugaku akan pensiun ketika Sasuke sudah lulus doktor dan menyerahkan jabatannya kepada Itachi yang juga seorang dokter syaraf, sedangkan Sasuke akan di beri kepala divisi operasi jantung di rumah sakit tersebut.

"Yah...! Kukira Kaa-chan tidak begitu bermasalah dengan pernikahan ini sih. Meskipun kamu tidak kuliah juga Kaa-chan tidak akan marah, tapi aku tidak tahu apa yang akan Tou-chan katakan jika kamu membatalkan S3 mu hanya untuk seorang wanita" Lanjut Itachi sambil memandang Sasuke dengan tatapan serius, tapi penuh kasih sayang kepada adiknya.

"Bukan itu masalahnya" Kata Sasuke dengan nada yang sedikit frustasi.

"Lalu?" Kata Itachi yang tampak heran mendengar Sasuke yang terdengar begitu frustasi tersebut. Sasuke tampak sedikit ragu-ragu untuk memberitahu Itachi tentang apa yang sekarang berada di pikirannya.

"Beri aku waktu untuk memutuskan" Kata Sasuke sambil menghela nafas. Itachi tampak mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari Sasuke.

"Apa yang menjadi pertimbanganmu sih? Bukannya kamu tinggal mengangguk saja? Biaya sudah ada, tempat tinggal disana juga sudah ada. Apa yang sedang kau khawatirkan?" Tanya Itachi dengan nada heran sambil menatap Sasuke dengan tatapan serius.

"Tidak ada. Ayolah, mungkin Kaa-chan dan Hinata sudah menunggu terlalu lama" Kata Sasuke sambil berlalu meninggalkan Itachi yang masih menatap Sasuke dengan heran.

"Nanti akan kuputuskan..."

-0-

Sasuke's POV

Tinnn...! Tin...!

Raungan suara klakson yang memekakkan telinga menghiasi lalu lintas padat yang menjadi langganan Konohagakure setiap hari. Barisan mobil yang mengantri seperti orang yang sedang mengantri sembako, dihiasi dengan motor yang dengan seenaknya menguasai jalan bak anak kecil yang suka bermain-main di sekitar orang dewasa.

Sinar matahari senja tampak bersinar dari arah kiri mobilku, menampilkan sebuah bayangan seorang wanita berambut indigo yang sedang duduk dengan rambutnya yang berkibar tertiup angin. Wajahnya yang lugu dan penuh senyuman memberikan diriku motivasi untuk membuatnya tak melepas senyuman lugu tersebut.

"Mau makan dulu?" Tanyaku membuka percakapan. Gadis berambut indigo itu tampak kaget dengan pertanyaanku yang tiba-tiba sebelum akhirnya menyunggingkan seulas senyuman gugup yang canggung.

"Mungkin, lebih baik aku makan di rumah saja" Kata Hinata.

"Ayolah...! Dengan kemacetan seperti ini, kita sampai di rumah minimal jam 7 malam. Kau bisa menahan lapar sampai jam segitu?" Tanyaku dengan nada yang sedikit khawatir.

"Daijobu... tapi, jika dok... maksudku Sasuke-kun memang lapar, kita bisa mampir untuk makan sebentar kok" Kata Hinata.

"Makan sendirian itu tidak enak" Kataku sambil menginjak pedal gas dengan lembut untuk melajukan motorku dengan kecepatan sedang ketika melihat ada sedikit sela di depanku. Kuputar setir mobilku ke kiri untuk memasuki pelataran parkir sebuah rumah makan yang tampak di sudut mataku tadi.

"Sudah, ayo turun...!" Kataku begitu aku selesai memarkirkan mobilku dan mematikan mesinnya. Ups...! Mungkin aku harus bersikap lebih gentlemen lagi. Aku pun turun duluan dan berjalan memutar melalui depan mobilku untuk...

"Dok... uhm...! Sasuke-kun, bukannya pintu masuknya di sebelah sana?" Sebuah tatapan heran menyambutku ketika aku akan membukakan pintu untuk Hinata. Aku pun langsung berpose tegak seperti tidak terjadi apa-apa dan berdehem pelan.

"Iya" Sahutku denga nada yang cool. Hinata tampak memiringkan kepalanya, mungkin heran dengan sikapku yang sok gentlemen tadi.

"Baiklah, ayo masuk...!" Kataku mencoba mengusir tatapan heran milik Hinata yang begitu menggemaskan sambil berjalan menuju ke arah pintu masuk. Gadis berambut indigo panjang itu pun sedikit berlari untuk mengimbangi cara jalanku yang memang sedikit cepat, sehingga membuat rambut indigonya yang terurai itu bergoyang dengan indah.

"Um...! Dok... maksudku Sasuke-kun, mungkin lebih baik kalo saya tidak makan disini, seperti ucapan saya tadi" Kata Hinata.

"Panggil dokter aja deh, gapapa" Kataku. Kalo aku terus mendengarnya mengucapkan 'maksudku' jadi terkesan bahwa aku memaksanya untuk memanggilku dengan namaku, jadi aku sedikit risih dengan ucapannya.

"Tidak apa-apa, aku bisa memilihkan makanan apa yang baik untukmu kok. Jangan khawatir" Kataku sambil membuka dua pintu restoran yang berada di depanku. Sebuah cahaya jingga dari lilin tampak menyambutku dengan cahaya lembutnya, tidak penuh sesak dengan cahaya putih yang biasanya menghiasi restoran pada umumnya.

Restoran ini adalah salah satu dari restoran alami yang ku kenal. Itachi yang pertama kali membawaku kesini ketika dia sedang dalam kuliah S2 nya. Yah...! Waktu itu aku memang sedikit sembarangan dalam memakan makanan yang dijual di warteg-warteg sehingga membuat Itachi sedikit khawatir dengan pola makanku.

"Baiklah" Kataku sambil duduk dan langsung membuka menu yang tersedia di depanku. Melalui ekor mataku, kulihat Hinata yang tampak dengan gugup berusaha untuk duduk di depanku sambil meremas ujung rok diatas pahanya.

"Pesan saja sesukamu, atau kau ingin aku yang memesannya?" Kataku sambil menaruh menu tersebut diatas meja untuk melihat Hinata yang masih canggung.

"A...ano, mungkin sebaiknya Sas... dokter saja yang memesan" Hah...! Aneh sekali...! Kenapa sekarang dia malah ingin memanggil namaku? Masa bodoh deh.

"Apa kau ingin makan sayur saja? Aku mungkin akan memesankanmu nasi beras merah dan sayur selimut. Jika kau mau makan ikan, mungkin lebih baik memesan tuna bumbu tomat ini. Dan, untuk makanan penutupnya..."

"Sudah, itu sudah cukup kok" Potong Hinata cepat. Aku hanya memandangnya dengan tatapan heran sebelum akhirnya memanggil pelayan. Seorang wanita dengan wajah manis berambut pirang pasir menghampiri meja kami sambil membawa sebuah nota.

"Iya, tuan" Katanya dengan nada ramah. Aku pun menyebutkan semua pesananku yang dengan sigap langsung dicatat oleh pelayan tersebut.

"Baiklah...! Segera kami antarkan" Katanya sambil kembali tersenyum manis dan bergegas menuju ke arah temannya yang memakai setelah sama untuk menyerahkan nota tersebut, meninggalkan kami berdua dalam keheningan. Kuhela nafasku untuk menghilangkan kecanggungan milik Hinata dan mulai membuka percakapan.

"Jadi, bagaimana? Apakah kamu mau kuliah disini?" Tanyaku sambil menatap ke arah mata lavender yang tampak lugu tersebut.

"Tentu saja" Jawabnya sambil mengangguk polos. Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar ucapan Hinata. Kenapa harus begini sih?

"Umm...! Ada masalah, Sa... dokter?" Tanya Hinata.

"Panggil saja sesukamu lah. Tidak ada masalah kok" Kataku sambil sedikit menyunggingkan seulas senyuman. Hinata tampak menunduk mendengar ucapanku.

"Go... gomen, Sasuke-kun" Gumamnya lemah. Keheningan kembali menyelimuti kami

"Umm...! Jadi, Sasuke-kun akan kuliah juga kan?" Tanya Hinata. Aku pun mengangkat pandanganku pada gadis tersebut dengan tatapan heran.

"Hmm...! Tou-chan menyuruhku untuk mengikuti jejaknya Itachi. Yah...! Aku akan mengisi jabatan wakil direktur di rumah sakit sih, jadinya mau bagaimana lagi" Kataku. Hinata tampak terkejut dengan ucapanku.

"Sugoi...! Bukannya Sasuke-kun masih muda belia ya? Jika dihitung-hitung, kuliah doktoral hanya memakan waktu 2 tahun kan? Itu artinya, ettooo... 26 tahun" Kata Hinata sambil memasang wajah terkejut. Aku hanya sedikit terkikik geli mendengar ucapannya yang seperti anak kecil tersebut.

"Jadi, kau tak keberatan jika aku ke Amerika dulu kan?" Tanyaku dengan hati-hati. Hinata dengan cepat menggelengkan kepalanya, sehingga surai indigo miliknya tampak berkibar ke kanan dan ke kiri.

"Tidak, tidak. Menurutku, Sasuke-kun juga harus mendapatkan mimpinya selagi masih muda kan?" Katanya dengan nada bersemangat. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.

"Kamu juga masih harus mengejar mimpimu kan?" Tanyaku yang hanya dijawab dengan anggukan pelan oleh Hinata sebelum tatapannya dipisahkan oleh nampan besar yang menandakan pesanan kami sudah datang. Sang pelayan manis tadi menata pesanan kita dengan cekatan, seperti seorang bandar yang sedang membagi kartu bridge dengan cepat.

"Itadakimasu" Kata Hinata sambil menyendok nasinya.

Keheningan yang memuakkan kembali menyelimuti kami berdua, membuatku merasakan sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. Apa ini duri ikan? Bukan, yang pasti bukan duri ikan.

Membayangkan senyuman Hinata yang polos dan lugu layaknya anak kecil membuatku merasa malu terhadap diriku sendiri. Apakah aku berbuat seperti ini demi kebaikan Hinata? Untuk melindungi senyuman polosnya yang memiliki impian besar meskipun dengan keterbatasan pada jantungnya?

Ataukah aku hanya mencari alasan untuk itu? Semua pemikiran menjijikkan yang masuk ke dalam otakku membuatku merasa ingin memuntahkan makanan yang sudah susah payah kutelan ini.

Manusia memang menjijikkan bukan?

End of Sasuke's POV

-0-

"Hei...! Sasuke, kau terlihat tidak sehat" Kata seorang dengan rambut pirang panjang pada Sasuke yang tampak lemas.

"Aku baik-baik saja" Kata Sasuke sambil menepis tangan Ino, tampak tak bersemangat untuk diajak bercanda. Gadis berambut pirang itu tampak sedikit sebal melihat perlakuan Sasuke dan duduk di sebelah Sasuke sambil menggembungkan pipinya.

"Jangan pasang wajah seperti itu. Kau tampak lebih menyebalkan dari biasanya" Celetuk Sasuke dengan nada tidak bersemangat.

"Kau yang lebih menyebalkan dari biasanya" Sahut Ino dengan nada sebal. Beberapa saat kemudian wajah gadis tersebut berubah menjadi sedikit manis dengan seulas senyuman samar yang disunggingkan oleh bibir merah mudanya. Mata aquamarine miliknya bergerak ke samping, melirik pemuda tampan yang entah sedang melamunkan apa.

"Ne, kudengar dari direktur kau bakalan kuliah ke USA ya?" Kata Ino dengan seulas seringaian kecil. Sasuke hanya mendesahkan nafasnya dengan sedikit rasa kesal di dalamnya.

"Yap...!" Jawabnya singkat.

"Yah...! Jadi kangen dong, ga ada yang bisa digodain lagi" Kata Ino dengan nada sedikit merajuk.

"Bukannya kau sudah ada pacar ya? Apa dia gak marah kalo kau menggoda cowok lain, selain itu..." Sasuke tampak tak peduli dengan godaan dari Ino dan mengarahkan mata onyxnya ke Ino yang memang berpakaian sedikit seksi.

"Dia tidak keberatan kok, selama dia tidak tau" Kata Ino sambil terkikik geli. Wanita memang menyeramkan.

"Jadi, akan ada seseorang yang menggantikanmu kan selama kau di USA?" Ucapan Ino jelas membuat Sasuke terkejut. Kenapa begitu mendadak seperti ini? Tidak, dia tidak terkejut jika dia digantikan, tetapi dia terkejut jika ayahnya tiba-tiba saja membuat keputusan untuk langsung menguliahkannya di USA tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

"Serius?" Tanya Sasuke mencoba untuk lebih meyakinkan dirinya. Ino tampak memandang Sasuke dengan tatapan heran.

"Kau belum diberitahu?" Ino malah balik bertanya pada Sasuke. Mendengar jawaban Ino yang mungkin memang sudah pasti itu pun Sasuke mendesah pelan. Bahkan meskipun dia menolak dengan mogok makan sekalipun, dia tidak akan bisa menolak keinginan ayahnya.

"Eh...! Dia datang kesini kok. Kabarnya sih selama beberapa bulan sebelum dia menjadi penggantimu, dia akan menjadi asistenmu untuk sementara waktu" Kata Ino.

"Hn" Jawab Sasuke singkat, seperti tidak tertarik dengan bahan yang dibicarakan oleh Ino.

"Apa-apaan dengan jawabanmu itu? Apakah moodmu sudah mulai membaik sehingga kau mengeluarkan kata-kata itu lagi?" Tanya Ino dengan nada kesal yang dibuat-buat.

"Hn. Kenapa kau tidak pergi menggoda lelaki lain sana?" Jawab Sasuke cuek.

"Kenapa ya?" Kata Ino dengan nada yang di manja-manjakan. Sasuke tetap tidak peduli dengan suster genit tersebut dan hanya mendesahkan nafasnya menghadapinya di jam istirahat. Beberapa saat kemudian, tatapan Sasuke terbentur pada seorang dengan rambut merah muda permen karet tampak berjalan dengan tegap sambil sesekali melihat smartphone di tangannya.

Penampilan formalnya dengan jas berwarna biru tua yang kontras dengan warna cerah di rambutnya. Menggunakan kemeja polos berwarna putih, tetapi jika dilihat lebih detail, akan ada semu merah muda di beberapa bagian kemejanya. Rok dibawah lutut dengan belahan belakang menghiasi kaki jenjangnya yang melangkah dengan langkah tegas dan penuh percaya diri.

Mata emerald itu menunjukkan sebuah kepercayaan diri yang luar biasa, seperti kucing yang tidak takut kepada apapun. Postur tubuhnya penuh wibawa, menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah seorang yang terpelajar. Garis wajahnya yang muda menampakkan feminimitas (bener gak nih bahasanya?) dan ambisi yang luar biasa.

"Maaf, apakah anda dokter Uchiha, Uchiha Sasuke?" Tanya gadis berambut pink tersebut. Mata onyx Sasuke yang sejak tadi sudah terpaku pada sosok tersebut hanya bisa memandangnya dengan tatapan tajam.

"Ya...! Ada perlu apa dengan saya?" Kata Sasuke dengan nada tegas. Segaris senyuman tipis yang manis menghiasi bibir gadis berambut pink tersebut. Dengan langkah yang sangat elegan, dia mengangkat tangan kananya yang putih langsing.

"Saya adalah dokter muda yang terpilih untuk menggantikan posisi anda selama anda belajar di USA" Kata gadis tersebut. Sasuke pun menyambut uluran tangan gadis tersebut dengan onyx yang masih terpaku pada emerald penuh ambisi tersebut.

"Sakura Haruno"

TBC

Mungkin fic ini hanya akan ada 5 chapter (dan kemungkinan besar tamatnya sama kayak dua fic yang menemaninya XD).

Thanks for Read

Don't Forget to Review