JUNJOU ROMANTICA
Cast :
Oh Se Hun (EXO) (19 y.o)
Kim Jong In (EXO) (26 y.o)
Park Chan Yeol (EXO) (30 y.o)
Byun Baek Hyun (EXO) (17 y.o)
Lee Tae Yong (NCT) (26 y.o)
Jung Jae Hyun (NCT) (22 y.o)
Xi Luhan (eks-EXO) (26 y.o)
Im Yoona (SNSD) (25 y.o)
Jo In Ho (OC) (20 y.o)
Shin Chan Rim (OC) (26 y.o)
Genre :
Humor
Romance
Hurt/ Comfort
Yaoi / Gay!themed
Length :
12 chapter
Now!3/12
Disclaimer :
EXO'S BELONG TO THEY'RE PARENT'S AND AGENCY! THIS PLOT BELONG MINE AND JUNJOU ROMANTICA BELONG TO MANGAKA!
WARNING!
THIS FANFICTION NOT MEAN TO SUPPORT LGBT! I MADE THIS FOR FUN, AND MY OBLIGATION TO MAKE A STORY THAT DESIRED BY THE READER.
[RE] MAKE FROM JAPAN ANIMATION JUNJOU ROMANTICA BY SHUGIKU NAKAMURA
LAST CHANCE FOR YOU!
CLOSE YOUR TAB IF DON'T MATCH FOR YAOI AND GAY!THEMED
CHAPTER 3,
GO!
Sehun menatap pantulan dirinya dicermin yang sengaja dipasang dekat jendela besar ruang tamu. Setelan kemeja coklat muda dan celana hitam berbahan kain melengkapi tubuh ramping. Rona bahagia jelas terpancar dari wajahnya. Dengan senandung, ia menyisir surai kecoklatan miliknya agar tegak melawan gravitasi.
Dibelakangnya, jongin bergidik geli. Ia menghampiri sehun dan mengusak kepala sehun hingga tatanan rambut yang susah payah di cipta hancur tak bersisa.
"HEI!"
"Kau tak cocok seperti itu. lagipula rambutmu itu lujur, tidak akan bisa tegak seperti itu,idiot."
Sehun menggembungkan pipinya kesal. Sejak jongin menangis dibahunya, pemuda menyebalkan—setidaknya menurut sehun—itu terus-terusan menguntitnya, seperti tadi malam….
Ke dapur.
"kenapa kau mengikutiku?"
"hanya ingin melihatmu memasak."
Ke ruang tamu.
"kenapa kau mengikutiku lagi?"
"siapa yang mengikutimu?aku hanya ingin mengejar deadline."
"dasar pembohong. Deadline mu 2 hari yang lalu."
Ke kamar tidur.
"dan, sedang apa kau disini?"
"kurasa kau salah masuk kamar. Ini kamarku."
"oh maaf."
Ke kamar mandi.
"KELUAR KAU SEKARANG JUGA!"
Dan ember kosong sukses terbang melewati kepala jongin yang berdiri di depan pintu.
Hahh…
Sungguh hari yang melelahkan. Apalagi ketika ia harus menjawab semua pertanyaan kakaknya perihal kenapa ia membawa jongin serta kemarin,dan tak kembali setelahnya.
"heii, kenapa dasinya tidak terpasang juga?" gerutu sehun nyaris berbisik. Ia terlonjak kaget ketika tangan yang lebih besar muncul dari belakang.
"a-apa?"
"dasar bodoh. Sini kupasangkan."
Jongin menjepit rokoknya di sela bibir,sementara tangannya sibuk memperbaiki tatanan dasi di leher sehun. Ia tersenyum ketika mendapati satu kancing kemeja sehun tidak terpasang pada tempatnya.
"satu kancing bajumu lepas." Bisiknya seduktif sambil melepas semua kancing yang telah terpasang.
"huh? AKU BISA SENDIRI. LEPASKAN AKU!"
Jongin tak melepas. ia menduduki sofa dan menarik pinggang sehun untuk duduk ditengah paha yang terbuka.
"nggh… jongin, aku bisa sendiri." Sehun berucap sedikit geli karena bibir jongin mengecup leher belakang.
"hnn."
"ungh..nghh.. jongin! Aku bisa terlambat."
" ke KyungHee hanya butuh 5 menit dengan mobilku. Lagipula…"
Jongin meraba dada sehun pelan. Sehun kembali mengerang tidak nyaman.
"… ini hukuman karena telah membuat jongin yang terhormat jatuh padamu."
"LEPASKAN AK—nggh..ahhh.."
EXO !YAOI FANFICTION
HATEMATH PRESENT
JUNJOU ROMANTICA
-NO USE CRYING OVER SPILT MILK-
Apartemen yang paling atas merupakan tempat terbaik. Condo city apartement merupakan gedung terbaik di seoul. Apartemen anda paling atas gedung condo city apartement? Hmm, kayaknya harus stop dreaming deh. Kan apartemen itu punya jongin.
sehun memakai apron berwarna hijau muda, dengan motif beruang bertaburan. Tau lah punya siapa. Satu tangannya memegang piring berisi omelette sementara yang lain menaruh sup ayam diatas meja. bocah bersurai kecoklatan itu menyusun semua hidangan yang ia masak—tentu saja karena ia merasa segan jika harus menumpang begitu saja.
'Sip… semua hidangan sudah ditata. Apalagi ya? Oh,tisu.' Dan sehun berlari kecil meraih tisu di laci dapur.
Iris caramel miliknya melirik jarum jam yang terus berputar tanpa lelah. Sebentar lagi… sebentar lagi… dan benar saja. Ketika jarum bagian detik menunjuk angka 12…
Brak.
Pintu kamar jongin terbuka dengan kasarnya. Sesosok zombie—ung maaf—maksudnya seorang manusia keluar sambil menggendong boneka beruang besar. Yap, dia kim jongin.
"se-lamat pagi." Sehun berkata ngeri. Lihat saja. Rambut acak-acakan, kantung mata tebal, dan seperti biasa rokok tak lepas dari bibirnya. 'Kenapa kakek tua ini selalu memakai dasi dirumah?'
"pagi."
"bagaimana pekerjaanmu?"
"sudah selesai."
"kalau begitu duduk dan makan sarapanmu."
Sehun dan jongin duduk berhadapan. Mereka makan dalam diam. Sesekali sehun melirik kearah jongin yang tampak sangat tidak bernafsu untuk makan.
"telur itu cantik ya…"
"hah?" sehun sweatdrop. Mungkin memang orang ini dari sananya aneh ya. Telur dikata cantik?!
"ya cantik. Warna kuning." Jongin menggumam sambil memelototi telur yang disumpitnya. Sehun tiba-tiba merinding.
Dia adalah Kim Jongin. Teman kakak lelakiku ketika berada di sekolah menengah karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara terperinci, orang ini menjadi tutor -hyung menikah dengan gadis cantik bernama yoona,karena itu ia dipindah tugaskan menuju kota Busan dan adiknya yang manis ini harus tinggal bersama jongin. Oh Tuhan…
Sehun menatap jongin yang tampak kelelahan. Sedikit kasihan, banyak kesal. Tampaknya jongin menghabiskan malam dengan berkutat penuh konsentrasi dengan laptop dan naskah novel miliknya. Sehun menggigit ujung sumpit, tanpa mengalihkan pandangan dari jongin yang sedang meminum kuah sup langsung dari mangkuknya (1) jongin sibuk sih, sibuk. Tapi ia tak pernah mengingkari janji bahwa akan selalu makan bersama sehun.
"sekolahmu mulai pukul berapa?"
Sehun tersentak. Ia memandang jongin, dan mengerucutkan bibirnya. "hmm, pukul 8.30"
" aku akan mengantarmu."
"tidak usah. Hanya 15 menit jalan kaki," sehun tersenyum kecil.
"nah. Aku akan mengantarmu."
Sehun mendelik kesal. Tapi ia hanya diam. Melihat jongin seperti itu mengingatkannya bahwa pemuda itu pernah jatuh cinta pada kakak lelakinya.
Ia menghela nafas pelan dan melanjutkan makannya dengan lesu.
KaiHun
Sehun bersenandung pelan. Tangannya tetap lincah membasuh peralatan makan yang sudah disabuni, setelah itu menaruh semua itu diatas kain putih polos yang dibentangkan di meja pantry. Jongin bilang sih, biar kayu tempat letak peralatan makan tidak mudah lapuk karena terkena air.
" Jongin, jika ada pakaianmu yang kotor, taruh saja diatas meja. aku akan mampir ke laundry sebelum pergi kuliah."
Tak ada sahutan.
" juga, makan siangmu ada didalam kulkas. Kau tinggal menghan—" sehun terpaku. Jongin dibelakangnya, dengan lengan memeluk leher sehun lembut. Bibirnya berada disamping telinga sehun, sehingga pemuda manis dapat mendengar alur nafas jongin yang teratur.
"ap-apa?"
Jongin terkekeh pelan. "Aku kehilangan sehun."
"ha?"
"aku bekerja semalaman. Dan aku kehilangan tenaga . Sekarang aku butuh isi ulang."
Tangan kanannya terulur mematikan kran air. Dan menarik sehun menuju sofa ruang tengah. Tentu saja sehun memberontak. Tapi apa daya, tinggi saja tidak bisa melawan kekuatan jongin yang lebih kekar.
"tung-tunggu. Jongin!"
Sehun memerah. Tangan jongin mengelus alat vital miliknya. Sialan.
Dengan kecepatan kilat Sehun menyikut perut keras Jongin, dan mundur teratur beberapa langkah. Naas, sehun menyandung naskah Jongin, dan kertas-kertas itu berhamburan di atas tubuh sehun yang terbaring karena terpeleset.
Pemuda manis itu mengaduh, sebelum matanya menangkap tulisan aneh dari kertas diatas perutnya. Sehun mengambil dan membaca kertas itu dengan hati dongkol.
Entah ini hanya perasaan jongin, atau memang pemuda manis itu sedang mengibarkan bendera perang. Dan jongin benar. Hanya beberapa detik, sehun langsung membagi kertas itu menjadi beberapa sobekan.
"JONGIN! BEDEBAH KAU! Rasakan ini. semua manuscript mu sobek. Novel mu tidak akan jadi terbit. TULISAN LAKNAT INI TIDAK BOLEH DITERBITKAN!" sehun tertawa kejam sambil merobek kertas itu sampai ruang tengah yang awalnya rapi menjadi berantakan.
" bodoh. Naskah asli ada disini." ujar jongin kalem sambil mengangkat sebuah hardisk berisi file novelnya.
Sehun mengerang frustasi. "HAPUS ITU! TULIS ULANG! KAU—melukai harga diriku brengsek *piiip* dasar kau *piip* kau harus di*piip*" maafkan saya harus mensensor beberapa kata sehun.
"ini pelecehan seksual. Kenapa kau melakukan ini brengsek?" sehun mulai sedikit tenang.
Jongin bersandar pada dinding. Menatap sehun dengan pandangan menilai. Sehun tersinggung tentu saja. "kau Tanya kenapa? Mudah saja."
Jongin melipat tangannya pada dada. Memberi sehun sebuah seringaian yang membuat pemuda berkulit putih susu memerah.
"karena aku ingin."
'kubunuh kau sialan!'
KaiHun
Di pelataran halaman universitas kyunghee. Beberapa mahasiswa terlihat bercanda dan saling merangkul memasuki gerbang. Suasana tampak begitu harmonis dan hangat. Mereka bersenda gurau, melemparkan candaan sampai menggoda mahasiswa baru.
Ini hari yang indah.
Ya hari yang sangat indah, sebelum sebuah mobil mewah keluaran terbaru (dan dengar-dengar juga hanya ada 10 buah di dunia) muncul. Mobil itu mengerem mendadak. Semua orang terpaku. Apalagi melihat sosok pemuda manis turun. tak sedikit yang terperangah melihat malaikat dalam balutan sweater coklat susu, dan celana jeans selutut yang menampilkan betis ramping yang bersih dari rambut halus. Tipe-tipe bottom di film gay.
" Jongin. Terima kasih sudah mengantarku." Sehun berucap malu-malu. Jongin tersenyum lembut.
"hati-hati. Perhatikan dosenmu ketika ia berbicara."
Sehun mengangguk. Ia masuk melewati gerbang. Kepalanya yang awal menunduk, terangkat dan hatinya sedikit sedih. Semua orang menjauhinya. Ia tak tau apa yang terjadi, tapi hal ini dimulai dari awal orientasi mahasiswa. Ketika ia berjalan, semua orang akan menyingkir dan berbisik-bisik tentangnya. Begitupun ketika pembelajaran, semua orang tak mau dekat-dekat dengannya.
Sehun melangkah pelan di koridor. Hatinya semakin remuk, koridor itu awalnya ramai, ketika sehun lewat semua otomatis menyingkir dan melihatnya sampai ia masuk kedalam kelas.
Ia menggeser pintu. Desing suara perlahan hilang. Sehun rasanya ingin menangis. Ia menaiki tangga menuju barisan paling belakang, mencoba mengabaikan bisikan dan tatapan yang dilemparkan orang-orang padanya.
Mungkin hatinya terlalu risau, sampai ia menginjak tali sepatunya sendiri dan tersungkur dihadapan 50 orang lebih didalam ruangan. Tak ada yang tertawa, tapi sehun merasakan tatapan dari belakang punggungnya. Air matanya menggenang.
'apa aku harus menjalani masa kuliah tanpa teman?' batinnya pilu. Tangan mungilnya menepuk lutut yang sedikit perih. Ketika ia bangkit, sebuah tangan terulur dan membantunya berdiri. Sehun mendongak, menatap seorang pemuda tampan yang sedang tersenyum.
" Kau baik-baik saja?" Tanya nya sambil menarik sehun agar berdiri. Sehun mengangguk dengan semangat.
Pemuda itu terkekeh kecil. "aku Jo Inho. Kau belum mendapat tempat duduk? Ayo berdua denganku."
Sehun terperangah, dan sedetik setelahnya mengangguk senang. 'teman baru', pikirnya. Tak lama setelah itu, Byun Baekhyun selaku dosen Sastra mereka masuk dan memulai pelajaran hari itu.
KaiHun
Saat ini, Sehun dan Inho sedang makan siang dikantin kampus. Sehun dengan frappucino latte miliknya dan Inho menyeruput kopi hitam tanpa gula.
" Inho, kau tau kenapa aku selalu dijauhi?" Tanya sehun. Ia menatap kosong genangan kecoklatan didalam gelas kertas digenggamannya.
" Yah, kau tau kan KyungHee ini kebanyakan anak golongan menengah kebawah?"
Sehun mengangguk.
" lalu tiba-tiba kau datang, dengan mobil mewah. Dan supir mu adalah Kim Jongin yang sangat terkenal? Makanya mereka menjauhimu karena takut dibunuh Jongin bila dekat-dekat denganmu,dasar tidak peka." Cerocos Inho tanpa memperdulikan perasaan Sehun.
"TAPI!," sehun mendapat pelototan dari senior yang kebetulan duduk didekat meja mereka. Sehun berdehem pelan dan kembali duduk, "Mereka hanya tidak tau kalau aku juga sederhana"
Inho tertawa pelan.
"ayo pulang. Kau ada jadwal setelah ini?" inho menatap sehun intens.
"tidak."
"bagus. Ayo pulang. Oh,ngomong-ngomong," Inho menunjuk gerbang dengan gesture dagu runcingnya, "Pangeranmu sudah menanti."
Sehun mendengus pelan. "Penyihir,maksudnya? Eh, tapi bukannya kita mau 'kencan'?" sehun menaik-turunkan alis tebalnya, menggoda Inho.
"Oke. Kau mau kemana, Tuan Putri?" inho berlari menghindari kejaran sehun yang terlihat semakin manis dengan wajahnya yang memerah.
Jongin memperhatikan interaksi mereka sedari tadi. Ia merasa kesal karena sehun terlihat dekat dengan pemuda yang diakuinya cukup tampan.
Akhirnya, sehun sampai didepan Inho yang secara kebetulan membelakangi Jongin yang sedang memasang tampang terganggu.
"Oh,kebetulan sekali. Perkenalkan, ini Jo Inho. Dia seniorku di Literature. Kami akan pergi bermain sebentar." Sehun terlihat sangat bahagia dan itu membuat jongin semakin kesal.
" ."
"kenapa,Jongin? Aku sudah besar. Aku berhak menentukan kemauanku!"
Inho menyeringai menatap jongin yang disudutkan oleh sehun. Namun pemuda tan itu lebih cerdik, ketika sehun mengomel ia segera membopongnya ala karung beras dan melempar pria manis itu kedalam Ford Mustang miliknya.
"HEY!" sehun memukul-mukul kaca jendela, meminta petolongan pada Inho. Jongin segera melajukan kendaraan agar sehun tak bisa keluar. Ia juga sudah mengunci otomatis semua pintu.
Selama diperjalanan,sehun hanya diam dan tidak menggubris panggilan jongin. Ia masih kesal. Bahkan saat diapartemen ketika ia sudah berganti pakaian, ia tetap mendiamkan jongin.
Sehun jengah dengan jongin yang selalu menatapnya dengan tatapan tajam. Tak lama, kecanggungan itu buyar oleh dering telpon. Sehun segera mengangkatnya,
"Inho-hyung?"
"…"
"Tentu saja. Dimana?" sehun menjawab dengan antusias yang berlebihan.
"…"
"Oke. Aku akan dat—"
Jongin segera merebut gagang telpon dan menutupnya dengan kasar. Sehun menatapnya dengan kesal. Tak sepatah katapun terucap sampai dering telpon lagi-lagi mengacau. Kali ini jongin yang mengangkat.
"Halo?"
"…"
Sehun menerka itu Inho karena jongin terdiam.
"Oh, Luhan?"
Dada sehun langsung menjerit sakit. Ia tak suka, jika jongin bersikap manis kepada Luhan. Dengan segera ia menekan tombol end . jongin menggeram kesal dan menarik kerah sehun kasar. \
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya geram. Sehun menatapnya nyalang. Dengan kasar sehun menepis tangan jongin dan beranjak pergi.
"Berisik. Aku menginap di rumah Inho hari ini, mungkin seterusnya." Tuturnya dingin.
Jongin termangu. Dan segera mendorong sehun berbaring di sofa.
"AP—mmh…"
Bibir sehun dilumat kasar oleh jongin. Decak saliva menggema diruangan luas itu. bahkan dering telpon yang berisik tak menghentikan kegiatan jongin, malah semakin berani karena sekarang tangannya menyusup kedalam kaos sehun.
Plak.
Jongin bangkit. Menunduk dalam diam. Hanya deru nafas sehun yang berantakan yang memenuhi ruangan. Tapi kemudian ia menegang mendengar isakan tertahan sehun.
"KENAPA KAU LAKUKAN INI BRENGSEK! SUDAH KUDUGA KAU ITU BAJINGAN TENGIK! AKU—aku, kau hanya menjadikanku sebagai pelarian,sialan." Sehun mengusap kasar air matanya. Bibirnya terlihat memerah dan bengkak, bahkan setitik darah tampak karena gigitan jongin tadi.
Jongin mencoba meraih bahu bergetar sehun namun yang ia dapatkan hanya penolakan. "Aku tidak menganggapmu sebagai pelarian sehun. Sama sekali tidak. Aku-aku mencintaimu." Ujarnya lirih. Ia mengusap air mata sehun pelan.
" ingat ketika luhan mengatakan ia akan menikah? Saat itu aku benar-benar terluka. Aku pikir aku sudah memasang topeng dingin yang rapat, namun siapa sangka bocah tanggung sepertimu mampu melihat kedasar hatiku…" jongin menghela nafas dan terkekeh pelan.
"saat aku melihatmu menangis untukku,aku langsung berpikir 'Ya, dia orangnya'. Karena itu aku takut sehun. Aku tidak ingin seseorang yang aku cintai kembali diambil didepan mataku."
Sehun termangu. Menatap jongin ragu. Air matanya kembali meluncur ketika ia mengerjap mencoba memahami perkataan jongin.
Jongin kembali menindih tubuh kurus sehun. Ia memeluk sehun erat, dan berbisik "Kumohon sehun. Jangan pernah tinggalkan aku."
Sehun kembali menangis. Ia balas memeluk jongin dan mencengkram punggungnya erat. "Ya,Jongin. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Bisiknya serak. Jongin tersenyum lemah. Ia menatap dalam menyusuri bola mata pekat sehun, dan bibir mereka perlahan bertaut.
Sehun tidak tau karena terlalu terlena. Ia tersadar ketika merasakan sakit saat jongin mencoba memasukinya. Sehun menjambak surai jongin erat menahan sakit yang amat sangat.
"Jonghh-in. sahhkithh."
Tapi kata-kata itu tergantikan desahan nikmat tak lama kemudian. Mereka bercinta diatas sofa sampai matahari mulai terbenam di ufuk barat.
Jongin tersenyum lembut melihat sehun begitu kewalahan dibawahnya. Ia mencium pucuk dada sehun, dan menghembuskan nafas disana.
"Jangan pernah membiarkan seseorang menyentuhmu, Sehun."
Sehun memekik nikmat. Jongin menyentuhnya tepat dititik itu.
"Yang perlu kau lakukan, hanya memilihku."
Dan setelah itu, sehun melepas beban yang ditahannya sedari tadi. Begitupun jongin. Mereka terkulai lemas dan tertidur dalam keadaan berpelukan di atas sofa.
"Aku…Mencintaimu,Jongin." Bisik sehun parau sebelum terlelap dalam rengkuhan hangat lengan kekar jongin.
TBC.
MUEHEHEHE…
Udah berapa lama yak, gue gak update ini cerita?
yah, selain sibuk disekolah, laptop gue juga chargernya rusak. Baru beli kemaren dan langsung ngebut nyelesein ini cerita :v ini dari jam 3 sore ampe jam 0.42 baru selesai :v soalnya nonton dulu animenya yang eps 2, baru lanjut ngetik.
Dan…
sorry banget buat keterlambatannya. Tapi gue harap kalian semua gak kecewa sama MUNGKIN perubahan gaya nulis, atau bahasa yang gue gunakan terlalu vulgar dan kasar. Sumpah, ngetik secara ngebut ampe tengah malam itu bikin kepala gue mumet :v
Udah lah ya. Gue harap, kalian yang baca mau ngasih review karena gue sebagai Author juga butuh feedback dari kalian. Mungkin kalian gak tau, tapi sebenernya author yang nerjemahin novel, atau mengadaptasi dari anime itu sulitnya minta ampun. Menyesuaikan setting cerita dari jejepangan ke koreaan. So, tolong hargai jerih payah gue,oke?
Thankseu :*
(1)=Adat masyarakat Jepang,Korea maupun China. Menurut mereka, meminum sesuatu langsung dari mangkuk (tanpa menggunakan alat bantu seperti sendok) itu menunjukkan apresiasi kita atas hasil masakan dilakukan ketika makan dirumah dan restoran tradisional.
p.s : jangan gunakan itu untuk restoran yang sudah modern. Karena bisa saja dianggap tidak sopan :)
See You Next Chapter~
