Yohaa... Minna... saya update lagi... heheheheheh

kecepetan gak sih?
heheheheh

okelah... gak mau banyak cincang... salah... cincong...

DISCLAIMER : TITE KUBO

WARNING : OOC, GALAU, GAJE, AU, MISSTYPO...

*Mohon maaf kalo ada yang salah ketik... biasalah saya suka buru-buru sampe gak nyadar... hehehe*

.

.

.

" Ahhh! Aduh! Pelan-pelan…!" seru Shin ketika Rukia mencoba membersihkan luka disudut bibir Shin.

" Salah sendiri! Aku kan sudah suruh jangan macam-macam! Kenapa kau malah nekat masuk dan menghajar pelanggan? Katamu kau gak suka bermasalah! Apa yang kau lakukan tadi itu?" cerocos Rukia.

" Kenapa kau marah-marah? Aku kan sudah menolongmu… bukannya terima kasih…" cerca Shin balik.

Sekarang ini mereka ada ditaman belakang bar. Tempatnya cukup sepi bahkan tak ada seorang pun disana.

Pelipis Shin agar memar dan sudut bibirnya malah mengeluarkan darah. Rukia menghela nafas panjang. Dia menyerah.

" Aku sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu," kata Rukia kemudian.

" Apa? Dan kau diam saja seperti tadi? Apa yang ada dalam pikiranmu ini? Kenapa kau malah diam saja!"

" Jadi aku harus menghajarnya sepertimu? Kemudian aku dapat masalah dan akhirnya aku dipecat? Kau ini suka sekali bicara seenaknya!"

" Tinggal mencari pekerjaan yang lebih baik. Bukannya itu sudah beres?"

Rukia menekan kapasnya kepelipis Shin dengan kuat hingga Shin menjerit.

" Aduhhh! Hei!" teriak Shin.

" Kau pikir pekerjaan itu mencarinya gampang seperti mencari pakaian? Jaman seperti sekarang ini, semuanya serba sulit. Apalagi pekerjaan. Bagaimana mungkin kau bisa berkata begitu? Kau sendiri saja sampai sekarang bergantung padaku! Mencari pekerjaan saja kau tidak bisa…" keluh Rukia.

" Tapi aku gak akan diam saja diperlakukan seperti itu!" sela Shin.

Dengan perlahan Rukia menempel plester dipelipis Shin. Kemudian memandang Shin dengan tatapan sabar.

" Shin… ada kalanya kita harus menahan emosi kita untuk sesuatu. Emosi itu cuma akan merusak saja. Awalnya kau memang senang berhasil membalasnya. Tapi lihat kebelakangnya. Akan ada masalah selanjutnya. Emosi itu adalah jalan terakhir jika kau sudah tidak bisa lagi menahannya. Itu baru namanya manusia sejati. Kau mengerti?" jelas Rukia.

Shin hanya diam saja. Rukia membereskan peralatannya dan kembali masuk kedalam bar. Shin tak pernah tahu. Menurutnya jika dia sudah marah, tentu saja akan melampiaskan emosinya.

Apa kali ini dia salah?

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Maafkan aku sudah mengacaukan tempatmu tadi…" kata Shin sambil menunduk didepan manager itu.

Rukia termangu menatap Shin yang kembali datang kebar itu setelah pengunjung sepi.

Beberapa waiters wanita lainnya melirik Shin dengan penuh minat.

Manager bar itu berdiri didepan Shin sambil memperhatikan Shin.

" Umurmu berapa?" tanya manager itu.

" Heh? Oh, aku 23 tahun…" ujar Shin kaku.

" Karena keributan yang kau buat tadi, kami harus mengganti rugi pelanggan itu. Dan bar ini juga sedang mencari pengganti pegawai yang mengundurkan diri beberapa waktu lalu. Jika kau tidak ada pekerjaan lain, kau bisa bekerja disini untuk mengganti rugi kerusakan yang kau lakukan tadi…" jelas manager itu.

" Hah?" Shin ternganga tak mengerti.

" Kalau kau setuju, mulai besok kau bisa bekerja…" sambung manager itu.

Apa maksudnya ini?

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Kenapa kau bisa seberuntung itu?" rutuk Rukia ketika mereka pulang kerumah.

" Mana kutahu. Tapi untunglah aku dapat pekerjaan…" ujar Shin.

" Sebenarnya, kau juga gak terlalu salah saat itu… mungkin manager juga berpikir begitu kan?"

" Mungkin saja. Oh ya, berkat kau aku sudah banyak pengalaman selama tinggal bersamamu…" kata Shin.

" Hmm… benarkah? Itu bagus. Oh ya, aku mau bilang… terima kasih Shin. Sudah menolongku tadi…"

Entah kenapa wajah Shin memanas tak karuan. Kenapa dia begitu aneh? Astaga…

Rukia memang gadis yang menarik untuknya.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Tugasmu hanya mengantarkan minuman kemeja pelanggan. Kau paham?" jelas Rukia setelah mengajari Shin malam itu.

" Aku sudah tahu yang begituan. Tidak usah dikasih tahu segala…"

" Aku hanya memperingatkanmu agar tak salah. Kau kan suka seenaknya sendiri…" keluh Rukia.

Mulai malam ini, Shin sudah resmi bekerja ditempat Rukia. Memang agak merepotkan. Tapi entah kenapa Shin cukup senang. Sudah satu bulan bersamanya Rukia banyak hal tak terduga terjadi dengannya.

Benar-benar diluar dugaan. Shin benar-benar menikmati hal ini.

Hari pertamanya bekerja memang melelahkan. Identitas aslinya hampir ketahuan berkali-kali lantaran banyak gadis-gadis mengerikan disana langsung menyerbunya. Benar-benar membuat jantung berdegub gak karuan. Bahkan sampai tante-tante yang gak sesuai umur mengubernya begitu. Astaga!

Ketika mengantarkan pesanan pelanggan lainnya, Shin memperhatikan, sepertinya Rukia punya pelanggan tetap. Dari kejauhan Shin bisa melihat bahwa Rukia tengah akrab dengan seorang pria muda.

Pria berkulit putih pucat itu mungkin berusia sekitar pertengahan 25 tahun. Bagaimana mungkin Rukia bisa punya teman seperti itu?

Mereka tampak mengobrol dengan akrab. Sesekali Rukia tersenyum dan tertawa. Shin penasaran sekali. Apa yang mereka bicarakan sampai seperti itu.

Pakaian pria itupun rapi. Kemeja lengan panjang yang digulung sampai batas siku dan celana jeans. Sepatunya juga terlihat mahal. Sekilas, pria itu memang seperti pria dewasa. Ditambah lagi wajahnya yang dewasa dan terlihat tampan. Apa Shin bisa kalah dari pria seperti itu? Tunggu dulu. Kenapa dia berpikiran begitu? Ada-ada saja.

Mungkin itu hanya pelanggan lewat kan? Bisa saja begitu. Kenapa juga dia berpikiran aneh seperti itu?

Setelah jam kerja usai, Shin membersihkan meja disudut bar. Lalu tanpa sengaja dia melihat kearah grand piano hitam itu.

Perlahan Shin berjalan kearah grand piano itu. Membuka penutup tutsnya dan menekan salah satu nada disana.

Suaranya masih bagus.

Shin duduk dibangku piano itu dan menyetel nadanya. Lalu memainkan sebuah lagu sederhana.

Sudah lama dia tak menyentuh alat musik ini. Ternyata ada satu hal yang dirindukannya. Musik.

" Wah! Kau bisa main piano?" seru Rukia. Shin terdiam, menyadari ternyata Rukia memperhatikannya.

" Sedikit. Dulu aku sempat belajar…" kilah Shin. Mana mungkin dia bilang dia mahir bermainnya kan?

" Ehm… bisa ajari aku? Aku suka suara piano…" kata Rukia.

" Baiklah. Lain kali ya… kau mau dengar satu lagu lagi?" tawar Shin. Rukia mengangguk dengan senang hati. Menambah suasana romantis malam itu. Padahal diluar sudah turun hujan lebat. Pulangnya mereka terpaksa hujan-hujanan.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Lagi. Malam inipun mereka bertemu lagi. Entah kenapa Shin terlihat gusar. Malam ini Rukia kembali bertemu dengan pria kemarin malam. Apa mereka sedekat itu?

Karena kesal, Shin mencoba mendekati mereka.

" Oh ya… jadi semalam kau berhasil lagi? Wah… kau memang dokter yang baik…" ujar Rukia.

Dokter? Pria itu dokter? Yukia mengenal dokter?

" Tidak juga. Oh ya, bagaimana kabar ayahmu? Baik-baik saja?" ujar pria itu.

Hah? Pria itu bahkan tahu ayah Rukia? Astaga! Yang benar saja.

" Papa sudah baik-baik saja. Bahkan dia sudah melakukan tugas dinasnya 3 hari lalu… kata Papa dia perlu 2 minggu…"

" Ehm! Hei… kau dipanggil manager tuh!" sela Shin.

Rukia langsung menoleh kebelakang. Tampak Shin memandang tak suka kearah pria itu.

" Oh Shin, baiklah… oh ya, kenalkan… ini Ulquiorra Shciffer. Dia dokter ahli dirumah sakit terkenal di Tokyo. Dia juga pernah menolong Papaku beberapa kali… Ulqui, ini Shin… dia…" Rukia bingung ketika menjelaskan siapa Shin ini.

" Pacar…" sambung Shin.

" Pacar?" ulang Ulquiorra.

" Ahh~ sebenarnya… APA! Bukan kok! Bukan pacar…! Hei kau ini kenapa seenaknya begitu!" bisik Rukia bahkan hampir menjerit lantaran kata-kata Shin. Shin kemudian merangkul pundak Rukia.

" Maaf Tuan, pekerjaan kami banyak. Lain kali akan kutraktir minum… ayo sayang…" Shin merangkul Rukia dan langsung menariknya ke Bar belakang. Ulquiorra hanya tersenyum saja. Senyum misterius.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Heh! Kau ini kenapa! Kumat ya? Atau jangan-jangan kau ini memang psycho ya!" begitu sampai dirumah, Rukia langsung menghentakkan kakinya kesal. Shin tak ambil pusing.

" Jangan dianggap serius…" ujar Shin lalu duduk disofa. Badannya terasa tak sanggup lagi menyangga tubuhnya.

" Apa? Bagaimana kalau dia menganggapnya serius? Ahh! Kau ini benar-benar… hei—"

Rukia diam menyadari Shin yang berubah pucat. Rukia menyentuh dahi Shin. Dan benar. Badannya panas bukan main.

" Hei! Ada apa denganmu? Kenapa badanmu panas begitu! Shin…!" Rukia kini panik bukan main.

" Hujan kemarin…"

Rukia menarik lengan Shin dan memapahnya menuju kamarnya. Rukia membaringkan Shin dan menyelimutinya. Rukia sungguh panik bukan main. Bagaimana mungkin Shin bisa begini?

Rukia berlari mengelilingi rumahnya mencari obat dan es batu. Setelah menemukan obatnya, Rukia langsung meminumkannya ke Shin. Kemudian mengompres dahi Shin dengan es batu.

Rukia begitu takut menyadari tubuh Shin yang begitu panas. Bagaimana mungkin bisa begitu?

Shin mengigau tak jelas. Ada apa dengannya?

Bagaimana ini? Kalau sampai terjadi sesuatu? Rukia segera beranjak dari sisi kasurnya, bermaksud untuk mencari bantuan…

" Disini saja… kumohon… disini saja…" pinta Shin sambil menahan lengan Rukia untuk tidak beranjak kemanapun. Astaga.

" Hei… kau itu sakit… Harus dibawa kerumah sakit. Tunggulah sebentar… Ok!" bujuk Rukia. Namun, bagaimanapun juga, Shin tetap tak mau melepaskan tangan Rukia. Akhirnya Rukia menyerah. Orang sakit permintaannya suka yang aneh-aneh dan tidak jelas. Badan Shin masih sangat panas. Bagaimana mungkin Rukia tak menghiraukan perkataan Shin kemarin. Malah mengajaknya hujan-hujanan. Rukia merasa bersalah sekali. Entah kenapa, Rukia merasa bersalah. Kepada orang yang sudah menemaninya selama 1 bulan ini. Kenapa ada perasaan takut dan cemas jika terjadi sesuatu? Rukia membiarkan suasana seperti itu.

Perlahan Rukia menatap wajah Shin. Kenapa wajah ini tak asing? Rukia juga tak pernah menanyakan kenapa Shin ngotot ingin tinggal dirumahnya. Kenapa Shin tidak membicarakan apapun mengenai keluarganya. Kenapa Shin tertutup jika ditanya soal dirinya sendiri. Rukia pikir, Shin belum ingin membahasnya makanya Rukia diamkan saja. Tapi kalau dipikir begini…

Shin… kau itu sebenarnya siapa? Bisik Rukia lirih.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Shin bergeliat didalam tidurnya. Shin membuka matanya perlahan membuka matanya. Mencoba mengingat apa yang terjadi semalam? Oh jangan bilang dia semalam…

Kenapa dia melakukan hal konyol begitu? Pasti gadis itu akan menganggapnya macam-macam! Sialan!

" Kau bangun cepat sekali? Kupikir besok pagi baru bangun…" Rukia masuk kedalam kamarnya sambil membawa nampan.

Rukia membawa nampan berisi minuman hangat dan semangkuk bubur. Lalu meletakkannya disana.

" Kau mau makan? Atau mau melakukan sesuatu?" tanya Rukia.

Shin diam. Dia terlalu takut memikirkan Rukia.

" Hei… setelah demam semalam apa mendadak kau jadi linglung?" sindir Rukia.

" Apa semalam aku—"

" Apa? Semalam kenapa? Kau sakit dan langsung tidur. Apalagi? Tenang saja. Aku tak akan berpikir macam-macam. Oh ya, aku keluar sebentar ya… ada sesuatu yang mau aku kerjakan…" ujar Rukia.

" Kau mau kemana?" tanya Shin.

" Suatu tempat. Aku janji gak bakal lama…" ujar Rukia sambil mengambil topi abu-abunya disana.

Hari ini, setelah 10 tahun berlalu. Hari ini yang selalu ditunggu oleh Rukia…

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Kosongkan jadwal hari ini. Aku harus pergi sekarang…"

" Perlu ditemani Presdir Kuchiki?" ujar karyawan lainnya.

" Tidak. Aku sendiri saja. Tidak akan lama. Aku harus memperingati hari penting…" ujar pria setengah baya berambut panjang yang berpakaian rapi itu…

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Rukia naik kesalah satu bis yang menunggu penumpang itu. Rukia membawa 2 ikat bunga. Satu bunga krisan ungu kesukaan neneknya dan satu lagi bunga matahari kesukaan ibunya. Setiap tahun Rukia selalu pergi kesana memperingati ibunya dan neneknya. Karena Rukia tak pernah lupa siapa dirinya dulu.

Perjalanannya memang cukup jauh. Mungkin sekitar 1 jam lebih perjalanan. Tapi Rukia sudah terbiasa. 7 tahun lalu dia masih ditemani oleh ayahnya. Sekarang setelah 7 tahun, Rukia bisa pergi sendiri.

Sebelumnya Rukia belum pernah bertemu dengan ayah kandungnya selama ini. Rukia juga ingin bertemu. Kerinduan selama 10 tahun sudah tak bisa dibendung lagi. Tapi, begitu mengingat masa lalu itu, Rukia jadi berpikir 2 kali. Tak boleh sekarang. Keadaan sama sekali belum aman untuk Rukia.

Paling tidak Rukia harus bersabar untuk sekarang ini.

Perjalanan satu jam Rukia lewati dengan menikmati pemandangan asri dipersawahan yang masih hijau.

Setelah menempuh 1 jam, akhirnya Rukia sampai disebuah tempat peristirahatan nenek dan ibunya. Makam yang hanya dihuni oleh beberapa nisan. Karena tempat luas ini adalah makam keluarganya.

Sejauh mata memandang hanyalah pemandangan luas dengan areal perbukitan yang masih hijau.

Rukia berjalan untuk menemui ibu dan nenek. Tak hentinya senyum tersungging diwajahnya.

Rukia akhirnya sampai dimakam kedua orang yang dia cintai dulu.

Belum berubah sama sekali. Karena Rukia selalu datang setiap pagi sebelum orang lain datang kemakam ini.

Pertama Rukia mengucapkan salam pada ibu dan neneknya.

Lalu membersihkan makam 2 orang itu. Setelah itu baru meletakkan 2 ikat bunga itu dimakam nenek dan ibunya.

Rukia tak pernah lupa apa yang disukai nenek dan ibunya. Selalu diingat dengan jelas. Rukia tak mau melupakannya.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Apa? Presdir sudah berangkat pagi-pagi tadi? Dengan siapa?" tanya wanita setengah baya berkulit cokelat dan berambut ungu yang masih berpenampilan cantik diusianya yang hampir memasuki pertengahan 40 tahun. Wanita itu terlihat anggun dan elegan ketika memasuki perusahaan besar dan mewah milik suaminya.

Awalnya, niat wanita itu ingin bertemu dengan suaminya. Tapi malah tak menemukan siapapun disana. Ditambah lagi suaminya pergi sendirian. Setiap tahun, ditanggal yang sama, suaminya selalu pergi pagi-pagi tanpa didampingi siapapun.

Setidaknya sejak 10 tahun terakhir ini. Wanita itu juga penasaran kemana suaminya pergi.

" Nyonya, apa perlu saya menelpon Presdir Kuchiki untuk mengabarkan Presdir bahwa Nyonya disini?" sela sekretaris pribadi suaminya itu. Sekretaris itu sendiri adalah seorang pria yang berumur awal 30 tahunan.

" Biarkan saja. Aku akan mengurusnya nanti…" ucap wanita itu. Kepalanya masih menerka siapa sebenarnya yang ditemui suaminya sekarang ini?

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Presiden direktur Kuchiki Corp itu memarkirkan mobil mewahnya dipelataran parkir pemakaman pribadi keluarganya.

Setiap tahun, ditanggal yang sama presiden direktur itu selalu menemui 2 orang yang amat dikasihinya. Yang tak akan pernah hilang meskipun 2 orang itu mungkin tak ada lagi didunia ini.

Ada yang membuat hatinya janggal bukan main. Sebelum dirinya datang kesana, pasti sudah ada ikatan bunga disana. Masing-masing bunga kesukaan 2 orang itu.

Kali ini, presiden direktur itu ingin tahu, siapa yang selama 10 tahun terakhir ini meletakkan ikatan bunga disana.

Paling tidak dia ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Presiden Kuchiki itu berjalan perlahan ketika sudah menemukan makam keluarganya.

Kali ini dia ingin menemui makam istri yang sampai kapanpun akan dicintainya meski sang istri sudah meninggalkannya. Dan makam ibu yang dicintainya melebihi apapun.

Ketika presiden direktur itu tiba dimakam kedua orang yang dicintainya itu, presiden tersebut termangu dari jauh.

Ada seseorang yang berdiri tepat didepan kedua makam itu sambil membawa ikatan bunganya. Bunga krisan ungu dan bunga matahari.

Sosok tersebut cukup jauh. Presiden direktur itu hanya melihat seorang sepertinya seorang laki-laki dengan sepatu keds, jeans dan kemeja kotak-kotak berwarna merah. Lalu topi abu-abu.

Presiden itu berjalan mendekati kearah makam itu. Kelihatannya orang yang berdiri didepan makam 2 orang itu sedang berdoa. Karena tak ingin mengganggu, presiden direktur itu hanya berdiri dibelakang sosok itu tak jauh dari sana.

Sambil menunggunya selesai berdoa.

Kemudian, orang itu berbalik sambil tersenyum. Anehnya, orang itu terkejut luar biasa. Senyum yang tadinya menghias wajahnya digantikan dengan keterkejutan yang luar biasa.

" Siapa anda? Anda mengenal ibu dan istri saya?" tanya presiden direktur itu pada sosok itu.

Astaga.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Rukia memandang sekali lagi kearah makam kedua orang itu. Nenek dan ibunya. Lalu tersenyum penuh arti. Rukia berjanji tahun selanjutnya Rukia pasti akan datang kembali.

Rukia berbalik untuk pulang sambil tersenyum penuh arti.

Tapi senyumnya mendadak hilang.

Matanya membulat sempurna. Jantungnya berdegub dengan kencang dan tubuhnya gemetar.

Bagaimana mungkin…

" Siapa anda? Anda mengenal ibu dan istri saya?" tanya orang itu.

Dia. Pria yang memakai pakaian mahal dan mewah itu lengkap dengan dasi dan jasnya. Pria setengah baya yang baru saja dirindukan Rukia.

Ayah kandungnya.

Mulutnya kaku tak bisa bicara. Entah apa yang ayahnya pikirkan jika tahu Rukia adalah anaknya yang menghilang 10 tahun yang lalu. Tapi Rukia sadar. Ayah kandungnya sama sekali tak mengenalinya. Ayah yang dirindukan lebih dari 10 tahun ini sama sekali tak mengenali Rukia.

Akhirnya sebelum airmata Rukia benar-benar jatuh, Rukia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan topi abu-abunya.

" Siapa anda? Anda mengenal mereka berdua?" tanya pria setengah baya itu sekali lagi.

Rukia menahan emosinya dan menghapus airmatanya. Lalu menatap dengan tegar ayah kandungnya itu.

" Tidak. Aku hanya mengantarkan ikatan bunga itu dari seseorang… aku tidak benar-benar mengenal mereka…" jawab Rukia.

" Siapa yang memintamu mengantarkan bunga itu? Apa kau mengenalnya?" tanya pria itu lagi.

" Tidak. Aku tidak mengenalnya. Aku hanya dikirim perintah untuk mengantarkan bunga ini. Kalau begitu aku permisi dulu…"

Rukia menghindari tatapan dari ayahnya dan langsung pergi.

" Kalau…" presiden direktur itu melanjutkan kata-katanya. Dan Rukia mematung tanpa memandang kearah presiden direktur itu.

" Kalau kau tahu siapa yang mengirimkan bunga ini, maukah kau memberitahukannya padaku?" ujar presiden direktur itu.

Rukia diam cukup lama.

Sepertinya presiden itu masih menunggu jawaban Rukia.

Akhirnya Rukia berbalik.

" Tentu saja pak. Saya akan memberitahu bapak secepatnya…" jawab Rukia. Sambil menahan tangis yang mungkin akan segera pecah, Rukia segera meninggalkan pemakaman itu.

Rukia ingin berteriak sekencangnya. Sekencang mungkin.

Ternyata beban yang dia rasakan selama 10 tahun ini masih belum ada apa-apanya daripada menahan perasaan selama 10 tahun ini pada ayah kandung yang sangat dirindukannya.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Demam Shin sudah lebih baik. Untungnya Shin bisa bertahan. Rumah gadis aneh ini sudah kosong. Katanya dia akan pergi sebentar. Tapi ini sudah lewat tengah hari. Apa yang dilakukannya selama ini?

Padahal dia sudah pergi dari subuh sekali.

Akhirnya Shin mengambil inisiatif untuk pergi kepasar.

Mungkin saja Rukia ada disana. Gadis itu selalu kesana apapun yang terjadi. Mungkin kali ini dia memang ada disana.

Setelah mengganti pakaiannya Shin keluar.

Staminanya masih tidak cukup kuat. Tubuhnya masih terasa pusing tak karuan. Tapi kalau berdiam tubuhnya seakan bertambah lemas saja.

Shin benci saat seperti ini. Sangat benci. Saat dimana dirinya terlihat lemah dan tak berdaya sama sekali.

Setelah keluar dari rumah, Shin langsung menuju pasar tempat biasa Rukia ada.

Untungnya setelah lama mengikuti Rukia, Shin sudah begitu hapal jalanan sekitar rumahnya.

Lagipula, Shin bukan dikenal sebagai penyanyi terkenal disana. Tentu saja Shin sudah menyamar sebaik mungkin.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Apa? Ichigo hilang? Kakak bagaimana sih? Kakak kan managernya. Masa Ichigo hilang hampir 1 bulan begini gak ada kabarnya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya!"

Gadis berambut ungu lurus melewati bahu itu mengoceh sedari tadi sejak dia tiba dikantor agensi kekasihnya. Yang dia temui malah hanya managernya seorang. Pria 26 tahun itu hanya diam mendengar ocehan pacar penyanyi sekaligus artis yang diasuhnya selama hampir 4 tahun ini.

" Dia sendiri yang bilang. Kalau masih ingin mendengarnya menyanyi jangan mencarinya. Aku harus bagaimana? Kau tahu sendiri dia itu keras kepalanya bagaimana…" managernya membela diri.

" Kak Shinji! Lalu bagaimana sekarang? Aku sudah susah-susah datang kemari sampai mengajukan cuti kuliahku untuk bertemu Ichigo. Kalau dia gak ada, apa artinya aku kemari!" rengek gadis cantik itu. Boleh diakui, gadis itu memang tepat untuk pasangan Ichigo si artis terkenal. Dia cantik, pintar dan berpendidikan. Bisa melakukan apa saja. Tubuhnya langsing dan tinggi. Mirip model. Siapa yang bisa menolak gadis secantik itu jadi kekasih? Hanya pria bodoh.

" Senna… aku harus bagaimana? Ponselnya dari bulan lalu hingga sekarang gak aktif. Aku juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh anak itu selama ini. Hebat sekali dia bisa tahan diluar sana selama ini. Kupikir setelah 3 hari sampai seminggu dia akan pulang…"

" Kak Shinji sudah lapor polisi belum? Kalau benar-benar terjadi sesuatu pada Ichigo…"

" Jangan Senna! Kau bisa merusak reputasinya. Aku sudah mengatakan pada agensi bahwa Ichigo sedang liburan diluar negeri untuk bertemu Ayah dan Ibunya. Jangan sampai kau membuat kegaduhan begitu. Ichigo juga pasti akan marah besar…"

" Lalu bagaimana! Apa selama ini kakak diam saja? Kakak terlalu menuruti Ichigo. Pokoknya, kakak harus menemukan Ichigo! Aku gak bisa membayangkan kalau terjadi hal gawat dengan Ichigo!" rengek Senna sekaligus memerintah.

" Baiklah. Aku mengerti. Ngomong-ngomong. Apa kau sudah menemui Ayah dan Ibumu? Mereka pasti khawatir kalau kau tiba-tiba pulang begini tanpa memberitahu mereka…"

" Biar saja. Toh bagi Ayah, kepulanganku sama sekali tidak ditunggunya…" jawab Senna.

Ya. Buat apa memberitahukan ayahnya? Ayahnya sama sekali tak tertarik padanya.

Apapun yang Senna lakukan untuk mendapatkan perhatian ayahnya sama sekali tak pernah membuat ayahnya senang. Meskipun juara kelas dan peringkat nilai tertinggi selalu diraihnya sama sekali tak pernah memuaskan ayahnya.

Hanya ibunya saja yang kelihatan menggebu menginginkan Senna untuk bisa mewarisi semua milik ayahnya.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Rukia duduk dipinggir jalan dipasar setelah pulang dari makam nenek dan ibunya.

Pertemuan yang tak terduga itu sama sekali membuatnya kaget dan bimbang. Semua perasaan bercampur aduk disana.

Padahal dulu, Rukia sudah berjanji tak akan menemui ayahnya lagi apapun yang terjadi. Semuanya demi ayahnya juga. Bagaimana mungkin Rukia bisa melanggar janjinya sendiri?

" Yo! Akhirnya, ketemu juga…"

Rukia terkejut ketika menyadari sepasang kaki didepannya.

Rukia mendongak perlahan. Mulutnya menganga lebar.

Ya ampun. Itukan?

" Kuharap kau tak melupakan kami… Rukia…" kata kepala gerombolan itu.

Pria berwajah garang dengan bekas luka diwajahnya itu adalah kawanan bodyguard yang disewa untuk mengincar Rukia. Kenapa mereka kembali kesini.

Bahkan dengan kawanan yang lebih banyak.

Rukia segera berdiri dari duduknya. Berharap bisa berlari secepat kilat. Dan sialnya, kawanan itu sudah terlebih dahulu mengepungnya dari segala arah.

" Aku tidak lupa sama sekali… hahahha… apa yang kalian lakukan? Belanja juga?" kelakar Rukia.

" Tentunya. Tapi uang yang kau pinjam setahun lalu itu belum sampai ditempat bos kami. Kira-kira apa kau akan mengembalikannya?" tanya orang berbadan gemuk dan menyeramkan itu lagi.

" Oh… aku ingat. Aku tahu. Pasti akan kukembalikan. Kalian percayakan padaku… hanya saja aku butuh waktu… tolong…" mohon Rukia sambil terus mencari celah kabur secepat mungkin.

Apa ini! Kenapa Rukia terdesak begini!

" Bawa dia!" perintah pria gemuk menyeramkan itu.

" Apa? Tu—tunggu dulu! Hei…"

Seketika itu pula, kawanan menyeramkan itu mengunci kedua lengan Rukia dan menyeretnya pergi.

" Tunggu dulu! Kubilang tunggu! Aku akan jelaskan…!" teriak Rukia.

Tapi kawanan itu sama sekali tak mau mengerti. Rukia terus berontak. Hingga akhirnya dari jauh Rukia melihat pria yang memandangnya dari jauh. Jangan-jangan…

Shin melihat Rukia dipaksa pergi dari sana.

Shin berlari mengejar Rukia. Tapi Rukia lagi-lagi berteriak.

" LARI SHIN! JANGAN KEMARI! CEPAT LARI!" teriak Rukia. Tapi Shin sama sekali tak menghiraukannya. Shin berusaha melawan untuk melepaskan Rukia.

Kawanan itu semakin beringas dan memukuli Shin.

" JANGAN PUKUL LAGI! BAIKLAH AKU IKUT KALIAN…! KUMOHON JANGAN PUKUL DIA LAGI!" teriak Rukia. Mereka berhenti memukul ketika Shin sudah tak bisa lagi melawan. Rukia tahu Shin masih sakit. Tiba-tiba airmatanya mengalir deras.

Sebuah mobil hitam tiba-tiba melaju kencang dan berhenti tepat didepan Rukia.

Tiba-tiba tubuh Rukia bergetar hebat. Kenangan 10 tahun lalu kembali menari kedalam kepalanya. Sesaat Rukia diam terpaku disana. Tubuh Rukia seakan tak ada reaksi karena tiba-tiba dirinya melihat mobil.

Mobil itu…

Karena reaksi yang tiba-tiba dan ingatan yang menghantam pikirannya, Rukia mendadak kehilangan keseimbangan. Dan akhirnya pasrah begitu kawanan itu melemparnya kedalam mobil hitam itu. Tubuh Rukia masih bergetar hingga tak sanggup mendengarkan suara Shin yang berteriak memanggilnya.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" RUUKIIAAAAAAA!,"

Tapi percuma saja, 2 mobil hitam itu sudah pergi membawa Rukia. Shin kesal sekali tak bisa berbuat apapun.

Dirinya masih lemah dan sulit bergerak setelah dipukul oleh orang-orang menyeramkan itu.

Dengan langkah tertatih, Shin berusaha menggapai topi abu-abu Rukia yang terlempar cukup jauh.

Sambil menahan sakit diperut dan dadanya, Shin menuju telepon umum. Shin menekan nomor telepon itu. Disana…

" Kak Shin… tolong aku… tolong hubungi polisi… katakan… katakan ada kasus penculikan… cepatlah…!"

*KINKYO SATSUKI*

.

.

" Masa kau berencana tinggal disini sampai Ichigo kembali?" desah Shinji ketika Senna tak kunjung pulang.

" Kenapa? Mungkin saja ikatan batin kami begitu kuat kan? Aku yakin Ichigo pasti akan segera pulang…" ujar Senna sambil membolak balik majalah fashion dikantor Shinji.

Tiba-tiba telepon kantor berdering nyaring memekakkan telinga. Dengan malas Jun menjawab telepon itu.

" Halo dengan agensi—Ichigo! Apa yang terjadi?... polisi? Untuk apa? Sekarang kau dimana! Ichigo…!"

Senna langsung berdiri dari tempat duduknya begitu mendengar nama Ichigo dan wajah Shinji yang memucat.

" Ada apa Kak? Ichigo kan? Ada apa dengan Ichigo Kak!" tanya Senna khawatir.

" Dia minta hubungi polisi… katanya ada kasus penculikan…"

" APA! Siapa yang diculik Kak? Bukan Ichigo kan!" kali ini Senna ikutan panik luar biasa.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

Rukia dibawa kegudang tua yang cukup jauh. Setelah keluar dari mobil itu, Rukia masih bergetar. Kenangan itu terus menghantamnya. Entah kenapa mimpi buruk tentang ibunya kembali datang. Potongan kenangan itu terasa nyata baginya dan menari-nari disana.

Rukia tak menghiraukan caci maki boss kawanan itu. Karena kesal dan marah, boss itu langsung menendang Rukia dan memukulinya.

Rukia menangis sejadinya. Sambil berusaha menghapus bayangan menyeramkan itu.

Rukia ingin berteriak dan memaki juga. Tapi keadaaannya yang sekarang tidaklah memungkinkan untuk bisa melakukan perlawanan.

Gerombolan itu masih memukulinya. Memakinya seenak hatinya. Rukia hanya bisa berteriak dan menangis.

" Katakan kapan kau akan mengembalikan uangnya! Kami sudah kehilangan kesabaran karena dirimu!" teriak boss dari kawanan itu.

Rukia diam. Disela isak tangisnya. Apa yang mungkin bisa dilakukannya? Menunggu ajalnya? Yang benar saja.

" Masih tak mau bicara ya! Hei! Kalau kau tak sanggup mengembalikannya kenapa kau pinjam uang itu hah! Dasar gak berguna!" teriak si boss kawanan itu lagi.

Karena Rukia sama sekali tak bicara, boss itu akhirnya kehilangan kesabaran dan menjambak rambut Rukia juga menendangnya. Rukia mengaduh kesakitan. Sepertinya ada beberapa tulangnya yang mau patah. Terutama perutnya yang sejak tadi ditendang tak karuan.

Kalau saja dia bisa. Hidup begini juga siapa yang mau? Tapi kalau melakukan dalam keadaan terpaksa siapapun juga akan terdesak bukan? Hanya bisa menunggu keajaiban datang entah darimana…

Disaat kesadaran Rukia yang semakin menipis, Rukia mendengar suara aneh diluar gudang itu. Juga suara toa entah siapa.

Secepat mungkin kawanan itu mencoba melarikan diri.

Setelah itu, Rukia benar-benar tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

*KINKYO SATSUKI*

.

.

saya balas review dari chap 1 deh...

Searaki Icchy La La La : makasih udah review senpai... heheheh... nih udah update... ohya emang Byakuya aja deh ayahnya...heheheh... review lagi yaaa..

ChappyBerry : makasih udah review... heheheh iya nih saya sukanya cowok yang terkenal. jadi lebih dapet feelnya kalo bermasalah... heheheheh review lagi yaa

Rukianonymous : makasih udah review... iya nih saya suka cowok terkenal... hehehehe, itu emang ichigo... kan dia lagi nyamar tuh... bakal ketauan kalo rambutnya masih orange gitu... heheheh review lagi yaaa..

mautauaja : yuppio... tu emang Ichigo... makasih udah review... review lagi yaaa

Kurotsuki Aoichi : ehehehehe... makasih udah review... iya nih tuh emang Ichigo... dia kan lagi nyamar jadi orang biasa... jadi cat item dehh... hehehe topi Rukia emang kayak topi biasa aja... warnanya abu-abu... saya suka deh warna itu... hehehe review lagi yaaa

Yamakaze Shizuka :makasih udah review... hehehehe... ya bukan kok... ntar diliat lagi aja yaaa... hehehe.. makasih udah review... ntra review lagi yaa...

Kuchiki Ojou-sama : makasih udah review... ntar review lagi yaa... saya juga suka kok... heheheh