Title : Shining Like a Star

Author : In Hyun

Genre : Mpreg, Yaoi, Romance, Sad (maybe), Family.

Rate : T+

Length : Chaptered

Main Cast : Byun Baek Hyun

Xi Lu Han

Park Chan Yeol

Kim Jong In

Oh Se Hun

Wu Yi fan/Kris

Do Kyung Soo

Support Cast : Kim Jong Woon/Ye Sung

Kim Rye Wook

Kim Hee Chul

Dll.

Main Pair : ChanBaek/KrisBaek/KaiLu/HunHan and banyak lagi, jadi temukan sendiri!

Disclaimer : ini ide murni dari otak saya yang lagi senang nulis FF, jika ada kesamaan cerita itu murni tidak kesengajaan. Jangan sekali-kali ngebash cast yang saya pake, apalagi ngebash author nanti saya ngamuk(?) hahah.

"EOMMA!" panggil sesorang yang kuyakin adalah Baek Hyun. Kutorehkan pandangan kearah

datangnya suara malaikatku. Akupun melangkah mendekatinya. Lalu seorang namja berjas hitam yang duduk memunggungiku berbalik.

"Lu Han hyung!"

"s. Hun" lirihku tertahan.

Chapter 3

Shining Like a Star

Author POV

Lu Han hanya diam mematung ditempatnya sekarang berpijak. Saraf motoriknya seakan lumpuh. Pikirannya sekarang berkecamuk, tidak menyangka jika akan dipertemukan oleh Se Hun dalam situasi seperti ini. Mungkin sekarang ia berpikir hari ini hari sial baginya. Tadi ia bertemu dengan Hee Chul eomma Se Hun. Dan sekarang ia bertemu dengan Se Hun.

"Lu Han hyung"panggil Se Hun untuk kedua kalinya sukses membuat Lu Han kembali tersadar dari dunianya sendiri.

"eomma kenapa eomma hanya beldili dicitu? Ayo palli eomma kemali!" Baek Hyun mencoba mengajak sang eomma bergabung tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Lu Han semakin mendekat, entah kenapa ada rasa takut menggerogoti pikirannya. Takut jika Se Hun mengetahui Baek Hyun adalah anaknya. Sementara dikepala Se Hun sudah tertumpuk pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada Lu Han.

"Baek Hyunnnie ayo ikut eomma!" Lu Han menarik paksa tangan Baek Hyun, agar ia segera berdiri dari duduknya. Baek Hyun meringis kesakitan karena perlakuan Lu Han.

"hyung kau menyakitinya" Se Hun yang dari tadi diam disamping Chan Yeol kini angkat suara. Entah apa yang ia pikirkan, namun ia sangat tidak suka dengan tindakan Lu Han.

"APA URUSANMU BAEK HYUN ANAKKU!" bentak Lu Han membuat Baek Hyun yang ada disampingnya menangis karena takut. Chan Yeol juga ikut menangais melihat Baek Hyun yang menangis. Ada banyak hal yang ada di benak Se Hun, dan jawabannya hanya akan ia dapat jika langsung bertanya pada Lu Han.

"hyung! apakah Baek Hyun_"

"ani, Baek Hyun bukan anakmu" potong Lu Han. Hal ini semakin membuat Se Hun semakin curiga pasalnya Se Hun belum mengatakan hal itu.

"aku bahkan belum mengatakannya hyung" namun kalimat ini hanya mampu diucapkan Se Hun dalam hatinya.

"hyung! Hari pernikahanku dan Kyung Soo. Apakah kau datang? Beberapa hari pernikahanku dan Kyung Soo aku mendengar cerita dari pelayan rumahku, bahwa ada seoarang namja yang hamil. Lalu mengaku bahwa aku yang men_"

"jadi kau kira itu aku?" untuk kedua kalinya Lu Han mengintrupsi kalimat Se Hun. "kau salah. Itu bukan aku, kau kan namja brengsek bisa saja itu orang lain" kali ini Lu Han menatap datar kearah Se Hun.

"ayo Baek Hyunnie kita pulang!" Lu Han menarik tangan Baek Hyun. Namun Se Hun menangkap lengaan Lu Han.

"LEPASKAN PABO" benak Lu Han.

"baekki tidak mau pulang cama eomma. Huweee baekki takut" tangis Baek Hyun semakin pecah.

"KAU TIDAK MAU PULANG BERSAMA EOMMAMU SENDIRI? JADI KAU INGIN BERSAMA ORANG JAHAT ITU?" Lu Han menunjuk Se Hun sambil berteriak. orang-orang yang ada di restaurant itu hanya menatap kearah Lu Han dengan bingung.

"huweee" Baek Hyun dan Chan Yeol hanya bisa menangis, mungkin mereka tahu situasi saat ini sangat panas walaupun tidak mengerti apa yang Se Hun dan Lu Han bicarakan.

"hyung mianhe waktu itu aku.." Se Hun menggantungkan kalimatnya.

"cihh" Lu Han berdecih. " aku tidak butuh permintaan maafmu. Sampai kapanpun kau tidak akan mendapat maaf dariku"

Se Hun yang mendengar penuturan pahit Lu Han itu, tidak sanggup membalasnya. Karena Se Hun merasa ia memang tidak pantas mendapat maaf dari Lu Han.

"jebaliyeo hyung, kau harus berterus terang. Apakah benar Baek Hyun bukan anakku"

"Lu Hannie!" panggil seseorang yang ternyata adalah Kai. Saat melihat situasi dihadapannya Kai semakin mendekat.

"omo,, kenapa malaikat appa menangis?" Kai mendekat kearah Baek Hyun kemudian membawa Baek Hyun kedalam gendongannya. Lu Han lalu menatap Se Hun seperti ingin berkata "aku rasa itu adalah jawabannya!"

"anyyeong Se Hun-ssi. Anda yang membawa Baek Hyun kemari?" Kai mencoba berbasa-basi.

"ne" sahut Se Hun singkat.

"kalau begitu gamsahamnida. Anda sudah menemani Baek Hyun kami. Ayo chagi kita pulang. Kalau begitu saya permisi Se Hun-ssi" Kai lalu pergi bersama Lu Han dan Baek Hyun yang masih ia gendong.

Se Hun hanya mematung melihat kepergian Kai yang membawa Baek Hyun dan Lu Han. "aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan hyung. Matamu menyatakan hal sebaliknya. Aku harus mencari tahu" batin Se Hun.

Shining Like a Star

Didalam mobil, hanya kesunyian yang menyeruak kepermukaan. Lu Han bahkan dari tadi tidak menangis. Kai menatap nanar pandangan Lu Han yang kosong.

" akan lebih baik jika kau menangis. Aku lebih lega melihatmu seperti itu Lu Hannie" batin Kai

Sementara mereka berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Baek Hyun sudah tidur karena lelah menangis.

"Kai aku ingin kita pindah kekampung halamanku besok!" lirih Lu Han ketika mereka sudah tiba di rumah, tentu sebelumnya mereka membawa Baek Hyun kedalam kamarnya.

"kenapa mendadak sekali. Apakah karena tadi?" Kai merasa frustasi melihat Lu Han terlihat seperti orang linglung sejak kejadian tadi sore.

"bukan, bukan hanya karena itu" Lu Han berhenti sejenak menetralkan rasa sesak di dadanya.

"tadi, bertemu dengan Hee Chul ahjumma. Eomma Se Hun"

"lalu ia mengancammu?" tebak Kai yang nyatanya sangat tepat.

Lu Han menggangguk. Membuat Kai mengumpat eomma Se Hun habis-habisan.

"Jebal Kai, lagipula sudah lama aku tidak mengunjungi China"

"bagaiman dengan Baek Hyun? Kau tidak ingin bertanya padanya dulu?"

"aku akan berusaha membujuk Baek Hyun"

"hahhh" Kai mendesah. Walaupun sebenarnya ia tidak setuju, namun ia harus melindungi Lu Han dan Baek Hyun. Semenjak hari itu, hari dimana ia berhasil menyelamatkan Lu Han. Kai bersumpah bahwa ia tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti Lu Han. "baiklah chagi. Kita akan berangakat besok. Akan kusuruh orang untuk membelikan tiket peasawat untuk penerbangan pagi untuk kita bertiga"

"gomawo Kai. Gomawo"

"ne" Kaipun membaawa Lu Han kedalam pelukannya.

Shining Like a Star

"baik-baiklah disana Kai!" tutur Rye Wook.

"jaga Lu Han dan cucu appa baik-baik" pinta Ye Sung saat mengantar Kai, Lu Han dan Baek Hyun ke bandara.

Sebenarnya, mereka juga terkejut dengan rencana tiba-tiba Kai yang ingin pindah dan menetap di China. Padahal disini keperluan mereka terpenuhi dengan baik. Namun, mendengar alasan mereka pindah ke China tentu saja alasan yang masuk akal. Akhirnya Ye Sung dan Rye Wook setuju. Mereka tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Karena sampai sekarang Ye Sung dan Rye Wook belum mengetahuinya.

"ne eomma, appa" Kaipun memeluk eomma dan appanya bergantian. Begitupun Lu Han.

"aku pacti melindukan halaboji cama haelmoni" tutur Baek Hyun saat ingin dipeluk oleh Ye Sung dan Rye Wook.

"ne, haelmoni juga pasti akan merindukan Baekki" Rye Wook sungguh tidak ingin melepas cucu mereka pergi.

"tenang Baekki! Nanti haraboji dan haelmonimu akan datang ke China untuk berkunjung" kini Ye Sung yang memberi pelukan perpisahan pada cucu kesayangannya.

"yaksok!" Baek Hyun mengangkat jari kelingkingnya.

"Yaksokkk" balas Ye Sung, kemudian mengaitkan jari kelingkingnya dan kelingking mungil Baek Hyun.

Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan Korea. Baek Hyun sebenarnya berat meninggalkan Korea, apalagi ia belum berpamitan dengan Chan Yeol. Namja yang ia anggap namjachingunya itu.

Se Hun POV

Hari ini, aku yang mengantar Chan Yeol ke sekolahnya. Aku ingin memastikan sendiri apa betul Baek Hyun anakku atau bukan.

"Kyunggie! Hari ini biar aku saja yang mengantar Chan Yeol ke sekolahnya" pintaku saat kami tengah berada di ruang makan untuk sarapan.

"tidak biasanya Se Hunnie, ada apa?" Tanya Kyung Soo sepertinya penasaran dengan alasanku ingin mengantar Chan Yeol ke sekolah.

"tidak apa-apa chagi, aku hanya ingin mengantarnya saja" jawabku seadanya, sambil terus memakan sarapanku. Masakan Kyung Soo memang yang terbaik. Walaupun kami hidup mewah, dan di kelilingi banyak pelayan. namun Kyung Soo selalu menyempatkan memasak makanan untukku dan Chan Yeol. sungguh istri yang baik.

"baiklah Yeol, hari ini kau berangkat bersama appa ne!" tutur Kyung Soo pada anak kami Chan Yeol.

"ne eomma, kalau begitu kajja appa. Aku ingin cepat sampai ke sekolah. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Baekki" Chan Yeol menarik lenganku saat ia sudah menghabiskan sarapannya.

"wah sepertinya Baekki ini sangat special. Setiap hari kau selalu menyebut namanya Yeol" Kyung Soo mencoba menggoda sang anak. Kyung Soo memang selau bersikap seperti itu kepada

Chan Yeol saat di rumah ia menjadi eomma sekaligus kawan untuk Chan Yeol.

"kalau begitu aku berangkat dulu chagi" pamitku sambil mencium kening Kyung Soo. Diikuti Chan Yeol yang mencium pipi sang eomma.

"Yeollie berangkat eomma"

"ne chagi-ah. Hati-hati di jalan, eomma titip salam sama calon menantu eomma"

"siap eomma" jawab Chan Yeol sambil memeragakan hormat ala bawahan yang mendapat tugas dari atasannya.

Dasar ibu dan anak ini, mereka sangat kompak dalam hal apapun. Walaupun Chan Yeol bukan anak kami, sungguh kenyataan yang pahit. Saat aku tahu bahwa Kyung Soo tidak bisa memberiku keturunan. Sehingga kami harus mengadopsi anak dari panti asuhan.

"appa, Yeollie masuk ke kelas dulu" pamit Chan Yeol saat kami sudah tiba di sekolah.

"ne Yeol" Chan Yeolpun melesat masuk kedalam kelasnya. Sementara aku menuju ruang kepala sekolah, mencari tahu alamat rumah Lu Han hyung. Pasti sekolah ini meyimpan data dari setiap orang tua siswa.

"kenapa anda mencari alamat dari tuan Kim?" Shin Dong kepala sekolah Chan Yeol sepertinya tidak mau memberikan alamat Lu Han hyung tanpa alasan yang jelas.

"saya ada urusan dengan tuan Kim" sebenarnya bisa dengan mudah mendapatkan alamat itu. Aku hanya perluh menemui Ye Sung ahjussi di perusahaannya. Namun jika itu kulakukan otomatis, aku juga akan bertemu Kai. Dan aku tidak mau ia tahu jika aku ingin bertemu Lu Han hyung. Masalah akan bertambah sulit.

"tapi sayang sekali tuan Oh, sepertinya anda tidak bisa lagi bertemu dengannya. Keluarga Kim sudah pindah, pagi tadi appa Baek Hyun meminta saya membuat surat pindah untuk anaknya"

"j,jeongmal?" kenyataan ini sungguh tidak bisa kupercaya, akankah kenyataan yang ingin aku dengar dari mulut Lu Han hyung akan terkubur selama-lamanya? "apa anda tahu dimana mereka pindah? Pasti anda tahu kan apa nama sekolah Baek Hyun di sana!" aku mendesak kepala sekolah agar memberitahuku.

"Mianhamnida, saya tidak tahu. Karena tuan Kim meminta surat pindah itu tanpa memberitahu kemana Baek Hyun akan sekolah" sekarang pupus sudah harapanku. Sebegitu bencinyakah Lu Han hyung kepadaku, sehingga ia membuatku seperti ini. Tenggelam dalam kebingunganku akan Baek Hyun. Benarkah dia bukan anakku. Benarkah dia anak Kai. Namun, kenapa aku merasa dia sangat mirip denganku. Wajah, cara ia berbicara, bahkan kebiasaan Baek Hyun yang suka menjilat bibirnya ketika berbicara.

Setelah harapanku tidak ada lagi, akupun keluar dari ruang kepala sekolah.

"Yeol, kenapa kau disini?" aku mendekati Chan Yeol yang tengah berdiri di samping mobilku terparkir.

"huweee" Chan Yeol berhambur kepelukankau dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Aku tahu kenapa ia menagis.

"appa, Baekki pergi meninggalkanku" dan benar dugaanku, ini pasti soal Baek Hyun. Tidak ada hal lain yang bisa membuat Chan Yeol menangis kecuali Baek Hyun. "apakah Yeollie nakal sehingga Baekki pergi, tapi Yeolli hari ini tidak membuat teman Yeolli menangis huwee. Wae appa, wae?"

"ani, Baekki tidak marah sama Yoel, mereka mungkin ada urusan penting sehingga harus pindah"

"tapi appa kenapa Baekki tidak memberitahuku?" tangis Chan Yeol berangsur-angsur reda.

"mungkin Baekki tidak ingin Yeol sedih, makanya Baekki tidak memberitahumu. Jika mau Yeol bisa menunggunya pulang. Cepat atau lambat, mereka pasti kembali"

Ya, cepat atau lambat, mereka pasti kembali. Dan cepat atau lambat pula kebenaran ini akan terbongkar. Jadi, apakah aku harus seperti Chan Yeol. Menunggumu kembali Lu Han hyung?

Shining Like a Star

Author POV

"hyung, tunggu aku!" seorang namja manis pemilik surai coklat caramel yang diperkirakan berusia 16 tahun itu mencoba berlari menyeimbangi kaki jenjang orang yang ia panggil hyung itu. Nafasnya memburu, dan seragam sekolah yang namja manis itu itu kenakan sudah kusut efek dari ia berlari. Sementara namja jangkung di depannya sibuk berlari karena melihat gerbang sekolah mereka sudah hampir tertutup. Jika dilihat dari sekolah yang mereka tempati bersekolah yang begitu elit, sungguh diluar dugaan mereka berlari karena terlambat. Padahal murid disini membawa kendaraan pribadi mereka masing-masing bahkan tidak jarang juga ada yang diantar menggunakan supir pribadi. Dan kalian sebentar lagi akan tahu alasannya.

"hyung tung_"

BRUKK..

Sebuah debuman cukup keras berhasil membuat namja jangkung tadi yang sibuk berlari menoleh ke belakang. Sudah dipastikan namja manis tadi berhasil menghantam aspal yang ia tapaki.

"ya ampun, Baek Hyunnie!" namja jangkung tadi berlari berbalik arah. Ia tidak lagi memedulikan gerbang sekolah mereka yang sekarang benar-benar tertutup. Perhatian namja itu kini teralih pada sosok namja manis yang ia panggil Baek Hyunnie yang sekarang tengah berjongkok memegang lengan dan lututnya yang berdarah.

"Kris hyung kau jahat sekali meninggalkanku!" Baek Hyun menggerutu pelan saat namja yang bernama Kris itu berjongkok dihadapannya.

"mainhe Baek Hyunnie, aku hanya mengejar gerbang sekolah kita yang hampir tertutup supaya kita berdua tidak terlambat" Kris mencoba memberi alasan agar sosok manis dihadapannya yang tengah kesal mau mengerti.

"tapi tetap saja itu namanya meninggalkanku hyung" Baek Hyun tidak mau kalah memberi komentar.

"sebenarnya siapa orang yang ingin kita naik bis, karena ia penasaran dengan angkutan umum itu. Dan membiarkan aku meninggalkan mobil di jalan, sehingga berakhit kita terlambat?" Baek Hyun tidak berkutik karena nyatanya dialah orang yang dimaksud Kris, sang tersangka tunggal.

"mianhae" Baek Hyun menunduk tanda menyesal karena ia mereka berdua terlambat ke sekolah. Dan terpaksa hari ini mereka membolos karena tidak mungkin penjaga sekolah mereka mau membukakan gerbang sekolah untuk mereka. Karena bagi penjaga itu walaupun terlembat 1 detik itu tetap saja namanya terlambat.

"gwenchana, kau jangan sedih Baek Hyunnie" Kris membujuk Baek Hyun yang masih tertunduk. " Lagipula hari ini aku sedang malas ke sekolah" penuturan Kris sukses membuat Baek Hyun mendongak.

"kukira kau menangis Baek Hyunnie" goda Kris.

"YAKK! untuk apa aku menangis" Baek Hyun memasang wajah kesalnya yang tadi sempat hilang karena rasa bersalahnya.

"haha baiklah ayo naik!" Kris membalikkan tubuhnya. Memberi kode agar Baek Hyun naik kepunggungya.

"untuk apa, lagipula aku bisa jal… aduhh" Baek Hyun menggeram kesakitan saat hendak mencoba berdiri.

"sudah kubilang ayo cepat naik" Kris kemudian menarik paksa tangan Baek Hyun agar ia mau digendong.

"aku berat loh Kris hyung. Aku bukan lagi Baek Hyun 10 tahun yang lalu"

"tidak apa-apa, karena bagiku Baek Hyun yang sekarang dan Baek Hyun 10 tahun yang lalu masih tetap orang yang sama. Aku juga kan bertambah tinggi, bahkan kau hanya setinggi leherku"

Baek Hyun hanya mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan perkataan Kris yang secara tidak langsung mengatainya pendek. Iapun tanpa babibu lagi naik kepunggung Kris. Seketeka memori saat mereka kecil tereka ulang. Lebih tepatnya kris yang mengingat memori itu. Saat mereka pertama bertemu dan sampai mereka bisa satu sekolah dari sekolah dasar sampai mereka menginjak sekolah menengah atas.

.

.

.

"anyyeong, Kim Baek Hyun imnida"

"Wu Yi Fan imnida, tapi kau bisa memanggilku Kris. Gommapta Baek Hyunnnie"

Kris dan Baek Hyun kecil saling memperkenalkan diri saat mereka pertama kali bertemu. Kris memang bisa berbahasa Korea karena dia sempat tinggal bersama ayahnya Wu Zhaomi di Korea selama 4 tahun. Mereka bertolak ke Korea saat umur Kris baru 1 tahun dan kembali ke China 1 tahun yang lalu tepatnya saat Kris berusia 6 tahun. Mereka pindah ke Korea karena keadaan Zhaomi yang terpuruk karena eomma Kris meninggal akibat penyakit kanker yang ia derita. Zhaomi ingin mencoba untuk tetap kuat untuk anak semata wayangnya di Korea. Namun benar kata orang lebih baik kita tinggal di kampung halaman kita sendiri, itulah pikiran Zhaomi saat tiba di China 1 tahun yang lalu.

"wah Kris, sekarang sudah besar. Saat Baek Hyunnie masuk sekolah nanti Kris temani dia ne!" ujar Lu Han yang memang tidak sengaja bertemu Zhaomi dan Kris disalah satu restaurant yang ada di China itu. Zhaomi dan Lu Han dulu sempat saling mengenal saat Zhaomi pertama kali datang ke Korea yang saat itu membawa Kris yang masih berumur 1 tahun, Lu Han yang membantunya mencari tempat tinggal. Lu Han sangat senang bisa membantu orang lain. Apalagi orang lain itu satu Negara asal dengannya.

"ohh, tahun ini Baek Hyun masuk sekolah dasar tahun pertama kan? Kris pasti akan menjadi teman untuk Baek Hyun" ujar Zhaomi.

"nah Baek Hyunnie, mulai sekarang panggil Kris dengan gege ne" Lu Han menoleh pada sang buah hati yang sedang sibuk memakan eskrim stroberynya. Selang usia Kris dan Baek Hyun memang berbeda 2 tahun.

Baek Hyun kemudian meletakkan sendoknya, sepertinya ia ingin menyeruakan protes. "ani, Baekki akan memanggilnya hyung" tolak Baek Hyun.

Yang lain hanya tertawa mendengar penolakan Baek Hyun, sedangkan yang ditertawakan sibuk mempoutkan bibirnya. hal itu membuat Kris yang duduk di hadapannya gemas sekali ingin mencubit pipi chubby di hadapannya itu.

.

.

"aduh,, huweee" Baek Hyun menangis, saat ia terjatuh karena berlarian dipekerangan luas milik keluarga Wu itu.

"Hyunnie gwenchana? Jebal jangan menangis" Kris kecil yang melihat Baek Hyun menangis, tidak tahu harus melakukan apa.

"klis hyung, huweee. Bagaimana jika dalah Baekki tidak mau belhenti mengalil. Huweee, Baekki pasti mati"

"tidak akan. Aku akan menyembuhkan lukamu! Aku tidak akan membiarkan Hyunnie mati" Kris meniup-niup lutut Baek Hyun. Lalu ia seakan-akan memberi mantra sambil menggerak-gerakan tangannya depan lutut Baek Hyun yang terluka lalu berucap

"SWWAAA" entah apa yang Kris pikirkan. Namun sepertinya cara itu sangat ampuh, karena nyatanya Baek Hyun berhenti menangis.

"hyung, benalkah kaki Baekki akan cembuh?"

"tentu saja, mantra itu bisa mengobati luka apapun"

"luka apapun?"

"ne" jawab Kris singkat.

"telmasuk luka yang ada dicini, karena dada Baekki akan sangat sesak saat merindukan Yeolli" Baek Hyun menunjuk dadanya. Kris tahu siapa Yeolli yang disebut namja manis didepannya. Anak iu selalu menceritakan sahabatnya yang sekarang tengah berada di Korea. Bahkan bukan hanya sekedar sahabat, karena meraka secara tidak langsung terikat hubungan. Dan Kris berperan penting di dalamnya.

"ne. Baek Hyunnie kau hanya perluh mengangkat tanganmu keluka yang ingin kau sembuhkan lalu membuat gerakan pada tangannmu, dan SWWAA. Lukamu akan sembuh" Kris memperagakannya pada Baek Hyun agar ia mengerti. Sebenarnya Kris tahu itu semua hanya cerita dongeng yang pernah ia dengar dari ayahnya.

"hmm. Baekki pasti akan selalu mengingatnya klis hyung" mantap Baek Hyun.

"tentu saja harus. Kalau begitu ayo aku gendong kau masuk kedalam rumah" Kris membalikkan tubuhnya, sedang Baek Hyun bersiap naik. Dan happ sekarang Baek Hyun tengah berada dipunggung Kris.

"klis hyung, wangi tubuhmu cepelti appa. Baekki suka" Baek Hyun menyandarkan kepalanya ketubuh Kris. Sementara Kris hanya tersenyum mendengar perkataan Baek Hyun. Sepertinya Kris sudah menemukan cintanya. 'cinta pertamanya" akankah cintanya akan terbalaskan? Entahlah, hanya waktu yang akan menjawab semuanya.

.

.

.

.

"Kris hyung kau mau kemana?" Tanya Baek Hyun saat mereka tiba di sebuah taman dekat sekolah.

"tunggu disini aku akan ke apotik disebelah sana membelikanmu perban dan obat merah" Kris kemudian berlari menuju apotik itu. Dan beberapa menit ia kembali dengan beberapa plester dan obat merah ditangannya. Iapun berkjongkok agar dapat lebih mudah mengobati kaki Baek Hyun yang terluka. Kemudian menempelkannya plaster dengan gambar strobery yang lucu.

"kemarikan lenganmu" perintah Kris. Iapun dengan cekatan mengobati luka dilengan Baek Hyun.

"Kris hyung seharusnya tidak perluh mengobatinya. Kau hanya cukup mengepalkan tanganmu kelukaku dan sedikit membuat gerakan lalu SWWAA. Lukaku akan sembuh" Kris sedikit tertawa melihat tingkah Baek Hyun, ia benar-benar selalu memaKai cara itu untuk membuat setiap luka sembuh. Dari dulu sampai sekarang,

"kenapa kau malah tertawa hyung?" Baek Hyun kembali kesal, karena melihat Kris yang menertawainya.

"kenapa kau masih percaya akan hal itu. Kau bukan Baek Hyun yang berusia 6 tahun. Haha seharusnya sekarang kau tahu, kalau waktu itu aku hanya membual haha" Kris tidak bisa lagi menahan tawanya. Air matanya sudah keluar karena terlau asik tertawa.

"biar saja. Karena memang cara itu manjur" Baek Hyun melipat tangannya didada lalu memalingkan wajahnya. "lagipula aku percaya pada Kris hyung. Setiap yang kau katakana aku percaya" lirihnya masih tetap memalingkan wajahnya,

Kris tertegun mendengar penuturan Baek Hyun. Tawanya seketika lenyap terbawa angin yang tengah berhembus diantara mereka.

"gomawo Hyunnie, kau sudah mau percaya kepadaku" lirih Kris. Baek Hyun kemudian menatap wajah Kris dan.

GREEP

Kris membawa tubuh Baek Hyun kedalam pelukannya. Membuat Baek Hyun sedikit tersentak karena kaget.

" hyung" panggil Baek Hyun.

"Baek Hyunnie, jebal. Sampai kapanpun jangan pergi. Jangan pernah"

"memang aku akan kemana hyung. Aku akan selalu disini"

Kris kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap Baek Hyun intens.

"ne tentu saja. Kau tidak akan bisa pergi. Karena Baek Hyun tidak akan ada tanpa Kris begitupun sebaliknya" ujar Kris mantap.

"ishh kau mau jadi seorang penyair Kris hyung. Itu sangat tidak cocok denganmu tipikal sepertimu terlalu dingin untuk menjadi seorang penyair" Baek Hyun memeletkan lidahnya kearah Kris.

"ya Baek Hyunnie, tidak bisakah kau menghargai usahaku. Aku hanya berkata seperti itu kepadamu"

"jeongmal? Bagaimana dengan Lay ge" goda Baek Hyun kemudian bersiap berlari. Ia tidak mempedulikan kakinya yang sakit.

"awas kau Hyunnie, jika tertangkap tidak akan aku lepaskan"

Kris kemudian bersiap mengejar Baek Hyun. Membuat hari itu menjadi acara kejar-kejaran antara Baek Hyun dan Kris. Baek Hyun terlihat sangat senang. Ia tak henti-hentinya berteriak kegirangan. Apalagi jika ia hampir tertangkap oleh Kris. Namun sepertinya Baek Hyun bukan tandingan kaki jenjang Kris. Salahkan kakinya yang pendek sehingga ia dengan mudah dikejar oleh Kris yang memiliki tinggi yang tidak wajar itu. Kris kemudian berhasil menangkap Baek Hyun, saat tangan Kris menggenggam lengannya. Baek Hyun kemudian pura-pura mengadu kesakitan pada kakinya.

"aduhh kakiku sakit"

"Baek Hyunnie kau tidak apa-apa" Kris sedikit berjongkok kemudian bersiap mengobati kaki Baek Hyun. Seringaian jahil muncul dibibir plum Baek Hyun. Iapun mendorong Kris dan berhasil membuat Kris berbaring direrumputan taman. Baek Hyunpun kembali berlari.

"haha Kris hyung, kau sungguh mudah ditipu" Baek Hyun memeletkan lidahnya.

Sementara Kris, ia hanya duduk sibuk menikmati wajah ceria didepannya. Seperti malaikat pikir Kris saat melihat wajah cerah Baek Hyun.

Hari itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan. Karena sudah sore Kris mengantar Baek Hyun pulang kerumahnya. Ia tidak mau jika tuan Kim dalam hal ini adalah Kai akan marah jika membuat anak semata wayangnya pulang terlambat. Kris juga yakin pasti sekarang orang tua mereka sudah tahu jika mereka bolos sekolah.

Shining Like a Star

"eomma aku pulang!" teriak Baek Hyun ketika tiba dirumahnya diikuti Kris dibelakangya. Lu Han kemudian keluar dari ruang kerja suaminya, hari ini ia tidak ikut ke perusahaan bersama suaminya. Karena mendapat telfon dari sekolah bahwa anaknya tidak ke sekolah. Sehingga ia dirumah saja menunggu Baek Hyun pulang.

"Baek Hyunnie, coba beritahu eomma. Kenapa kau dan Kris membolos sekolah?" Lu Han mencoba mengintrogasi dua reamaja yang ada dihadapannya.

"mianhe ahjumma. Ini semua salahku" balas Kris.

"ani. Ini karena aku eomma. Aku yang merengek pada Kris hyung agar mau naik bus umum. Sehingga kami berdua terlambat" timpal Baek Hyun.

"baiklah kali ini eomma maafkan. Lain kali kau harus mendengar ucapan Kris. Aratchi!" Lu Han tidak memperhatikan luka Baek Hyun karena masih tersulut amarah. Walaupun marah Lu Han hanya sekedar menegur saja.

"ne eomma"

"kalau begitu saya pamit pulang ahjumma" pamit Kris.

"ne. hati-hati dijalan Kris salam sama appamu" balas Lu Han.

"Baek Hyunnie, aku pulang ne. besok aku akan menjemputmu"

"ne Kris hyung"

Setelah itu Kris keluar dari kediaman Kim. Sementara Baek Hyun masuk kekamarnya untuk mengganti seragamnya sekaligus mandi agar tubuhnya kembali segar. Saat ingin hendak kekamar mandi, Lu Han mengajak anaknya untuk mandi bersama. Sebuah kebiasaan Lu Han dari dulu sesekali ia akan mengajak Baek Hyun mandi bersama. Walaupun saat ini Baek Hyun sempat menolak dengan alasan ia bukan anak kecil lagi sehingga tidak perluh dimandikan oleh Lu Han. Namun Lu Han memaksa, bahkan merajuk kepada anaknya membuat Baek Hyun tidak tega menolak. Dan sekarang disinilah mereka, disebuah kamar mandi super besar dengan bathup yang bahkan muat 5 orang besar.

"Hyunnie, tidak terasa sekarang kau sudah 16 tahun" ujar Lu Han sambil terus menggosok punggung sang buah hati. Sementara Baek Hyun hanya menggerang nyaman, otot kakunya terasa rileks kembali.

"Baek Hyunnie, kau tahu. Dulu eomma sempat khawatir jika eomma tidak akan pernah bisa memelukmu lagi" Lu Han tertunduk, berusaha menahan tangis yang berdesakan ingin keluar. Setiap ia mengingat kejadian 16 tahun silam, diamana dokter memvonis Baek Hyun tidak bisa bertahan, hati Lu Han begitu hancur.

"mianhe eomma, selama ini aku hanya bisa membuatmu khawatir" lirih Baek Hyun. Ia tidak tahu jika Lu Han yang ia punggungi tengah berusaha menahan tangis.

"gwenchana. Karena sekarang kau ada dihadapan eomma. Itu sudah membuat eomma bahagia" tutur Lu Han kemudian kembali menggosok punggung Baek Hyun.

"aduhh" Baek Hyun menggerang kesakitan. Sepertinya Lu Han menyentuh lengan Baek Hyun yang terluka.

"kau kenapa chagi. Apa eomma terlalu keras menggosok punggungmu?" nada bicara Lu Han berubah menjadi khawatir.

"ani eomma. Hanya lenganku yang sakit karena terjatuh saat hendak ke sekolah tadi"

Lu Han lalu membalik tubuh Baek Hyun agar menghadapnya, kemudian mengangkat lengan Baek Hyun yang terluka. ia hanya menatap miris keluka itu. Demi apapun ia paling benci melihat buah hatinya terluka.

"hmm. Nanti setelah kita mandi eomma akan mengobatinya" Lu Han kemudian membelai pelan rambut Baek Hyun. Menelusuri lekuk wajah yang semakin hari semakin menyerupai dirinya.

Setelah mandi, Baek Hyun kemudian mengenakan pakainnya. Sebelum ia tidur, ia selalu berkumpul bersama eomma dan appanya diruang keluraga setelah makan malam bercengkrama satu sama lain. Bahkan tidak jarang Baek Hyun akan menceritakan kejadian yang ia alami setiap hari. Baek Hyun memang tipe orang yang sulit untuk berhenti berbicara, bahkan saat matanya terpejampun ia masih bisa mengomentari sarapan yang Lu Han buat untuknya dan Kai. Setelah merasa mengantuk,Baek Hyun lalu menuju kamarnya untuk tidur.

Baek Hyun POV

Hoamm, aku menguap lebar saat pagi mulai menyapaku. Kubuka pelan mataku, membiarkan retina mataku menangkap cahaya seditit demi sedikit. Hal yang selalu ditangkap indera penglihatanku adalah kamarku, dengan nuansa biru yang menyelimutinya. Ditambah berbagai aksesoris yang menyerupai buah strobery. Dimulai dari bantal stroberry, boneka stroberry super besar yang aku dapatkan saat aku dan appa ketaman bermain, seperai bermotif stroberry dan masih banyak lagi. Aku juga bingung, kenapa aku sangat suka dengan buah satu itu. Sepertinya dulu waktu eomma mengandungku, ia selalu mau makan buah strobery tapi tidak pernah terpenuhi. Sehingga aku yang mendapat dampaknya. Menjadi penggemar fanatic dari buah yang memiliki rasam asam manis itu.

"Baek Hyunnie kau sudah bangun?" eomma mengintrupsi pagiku. Seperti biasa ia setiap pagi memastikan bahwa aku sudah bangun atau masih asik berlabu dalam mimpiku.

"ne eomma, sudah" aku memang sangat susah bangun pagi, entah kebiasaan siapa yang menurun kepadaku. Padahal eomma dan appaku sangat tepat waktu untuk bangun pagi.

"pagi eomma, appa" sapaku yang sudah siap dengan seragam dan tas sekolah yang aku kenakan.

"pagi Hyunnie. Hari ini kau mau berangkat bersama appa?" ajak appa.

Aku menggeleng sebaga jawaban sambil terus menyantap roti bakar buatan eomma "hari ini Kris hyung akan menjemputku appa"

"baiklah. Tapi jangan sampai kalian bolos lagi seperti kemarin" titah appa, aku hanya menggerutu kesal karena appa masih mengungkit masalah kemarin.

"isssh appa sudahlah. Yang kemarin itu anggap saja kesalahan kecil yang dibuat oleh anakmu ini" appa hanya tertawa sambil mengacak rambutku yang sudah kusisir dengan rapi.

"appa, kau membuat rambutku berantakan"

"aigoo, Baek Hyunnie Kris tidak akan meninggalkanmu hanya karena rambutmu yang berantakan" goda eommaku yang baru keluar dari dapur. Kebiasaan eomma tidak pernah berubah. Selalu membuat sarapan untuk aku dan appa. Walaupun pembantu dirumah ini bertebaran dimana-mana.

"eomma!" aku hanya menggerutu kesal sekaligus tersipu.

"tuan muda Baek Hyun. Tuan muda Kris sudah menunggu anda di depan" seorang pelayan datang mengampiri meja makan.

"wah Hyunnie pangeranmu sudah tiba rupanya" dasar eommaku, jika sikap jahilnya sudah keluar ia tidak akan berhenti untuk menggoddaku. Apa ia tidak bisa melihat jika wajahnya anaknya ini sudah merah karena malu.

Akupun pamit lalu menghampiri Kris hyung yang sudah meungguku depan rumah yang tengah bersandar pada mobil ferari putihnya. Seperti pangeran dengan kuda putihnya saja. Aishh kenapa dengan otakku, ini semua gara-gara eomma.

"kukira kau masih berda dialam mimpi Hyunnie" dasar tiang listrik satu ini, memang kerjaku hanya tidur. Ya walaupun aku memang susah untuk bangun pagi. Aku menyesal sudah mengatakan ia seperti pangeran.

Aku hanya berjalan menuju mobilnya tanpa mempedulikan perkataan Kris hyung. Kemudian duduk di jok depan.

"Duizhang, kenapa kau hanya diam diluar. Mobil ini tidak akan berjalan sendiri kan?" kulihat ia bertingkah seolah sedang marah. Bertingkah sok imut.

"kau ini, tidak bisakah kau berkata manis, walaupun hanya sedikit" ujar Kris yang kini sudah berada dijok kemudi. Bersiap-siap menjalankan mobilnya.

"untuk apa, aku sudah manis. Kau tidak lihat wajahku, jika kata-kataku juga kubuat sama. Maka orang-orang yang ada disekitarku akan terkena diabetes karena kadar manisku yang berlebih" Kulihat Kris hyung hanya tersenyum menahan tawa karena penuturanku. Hei memang ada yang lucu dengan yang kukatakan. "hei Duizhang kenapa kau hanya tersenyum. Jika ingin tertawa, tertawa saja" geruruku.

"hahah" dan seketika tawanya pecah, aku hanya mempoutkan bibirku. "Baek Hyunnie bukan kadar manismu yang berlebih. Tapi kadar kepercayaan dirimu itu yang berlebih, dan hei kenapa dari tadi kau memanggilku Duizhang, Duizhang?"

"biar saja daripada aku memanggilmu tiang listrik blasteran, atau tiang jemuran" jawabku ketus.

"aku memang tidak bisa berdebat denganmu Baek Hyun. Oh iya kau tahu, minggu depan China akan menjadi tuan rumah dalam festival pelajar tahun ini"

"jeongmal? Wah, lalu pelajar dari Negara apa saja yang akan hadir?" tanyaku penasaran, karena baru pertama kali ini selama aku menetap di China. Acara besar itu diadakan dikampung halaman eommaku ini.

"yang aku dengar dari Tan seongsengnim Taiwan, Jepang, Thailand, Singapura dan Korea. Pelajar yang terpilih dari Negara mereka akan datang sehari sebelum festival" terang Kris hyung panjang lebar yang terus fokus menyetir.

"apa aku juga akan terpilih untuk ikut berpartisipasi dalam acara besar itu?" aku sangat ingin ikut serta dalam acara itu, bertemu dengan pelajar-pelajat yang ada dari Negara lain.

"benar kau sangat ingin ikut?"

"tentu saja, memang kau tidak?"

"aku tidak suka acara seperti itu. Terlalu berisik dan pengap" Kris hyung memang bukan tipe seseorang yang suka dengan acara seperti itu. Dirinya terlalu menutup diri dari keramain. Sikapnya terlamapau cuek dengan orang lain. Tapi sayahnya jika ia bersamaku sikapnya itu bisa berubah 180 derajat. Aish, sepertinya memang benar, kadar kepercayaan diriku terlampau berlebihan. "tapi jika kau mau, kau bisa ikut dalam acara itu"

"kau bercanda Kris. Tidak mungkin sekolah memilihku" jawabku ketus.

"memang aku tipe orang yang suka bercanda?"

"jadi benar, aku bisa ikut?" aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Seketika kulihat wajahnya bersemu merah. Apakah disini panas? Kenapa dengan wajahnya.

"Baek Hyunnie, menjauhlah. Aku tidak bisa menyetir"

"hmm araseo. Kris hyung, kau belum menjawab pertanyaanku"

"ne, kau bisa ikut. Tan seongsengnim memberiku 10 tiket, dan ia memberi kepercayaan kepadaku untuk mencari orang yang cocok untuk mengikuti acara itu. Karena kau mau ikut, sepertinya aku juga harus hadir. Nanti kau mengacau disana" Kris hyung memang sangat dipercaya di sekolah. Dia adalah murid teladan dan mantan ketua osis.

"memang aku tukang bikin onar?" ujarku dengan nada yang kubuat seolah sedang marah, walaupun sebenarnya aku sangat senang. "lalu siapa saja yang kau pilih?"

"aku sudah memilih Chen dan Xiu Min dari kelas 3. Mei Lien, Song Qian, Lay, dan Li Xu dari kelas 2. Dari kelas I ada Si Hwa, kau dan teman sebangkumu aku lupa siapa namanya. Yang memiliki lingkaran hitam dibawah matanya terlihat seperti panda"

"maksudmu Tao?"

"oh ne Tao. Lalu aku, jadi kita genap 10 orang"

aku sudah tidak sabar akan hari itu tiba. Tanpa kusadari ternyata kami sudah berada depan gerbang sekolah, mobil Kris hyungpun melaju ke pelataran parkir sekolah. Disini sudah berjejer mobil-mobil merk terkenal tak ubahnya pameran mobil.

"Baek Hyun!" kuedarkan pandanganku mencari asal suara yang memanggilku. Namun sepertinya itu tidak perluh, karena pemilik suara tadi yag ternyata adalah Tao sudah menuju kearahku dan Kris hyung.

"ni hao Kris ge" sapanya sambil tersenyum manis.

kulirik Kris hyung yang hanya mengangguk membalas sapaan Tao tanpa ekspresi. Dasar tiang listrik ini, tidak bisakah ia bersikap lebih baik lagi.

"kalau begitu aku pergi dulu hyung, anyyeong" akupun dan Tao melesat meninggalkan Kris hyung. Karena memang arah lorong kelas kami berlawanan.

Aku sungguh bersyukur bisa berteman dengan Tao. Selama aku sekolah di China, baru kali ini aku bertemu teman sekelas yang mau berteman baik denganku. Itu di karenakan mereka menganggapku berbeda. Jadi selama ini hanya Kris hyung yang selalu menjaga dan menemaniku. Aku masih ingat waktu aku pertama kali menginjakkan kakiku di sekolah dasar. Teman sekelasku bahkan ada yang mencaci dan menghinaku. Bahkan menyuruhku kembali ke korea. Tahun-tahun awal sungguh sangat sulit. aku baru tahu arti umpatan teman sekelasku itu setelah aku fasih berbahasa mandarin. Dengan les privat super ekstra. Jadi sewaktu tahun awal sekolah dasar dulu, hanya Kris hyung teman mengobrolku. Karena hanya ia di sekolah itu yang bisa berbahasa Korea. Bahkan sampai sekarang aku dan Kris hyung hanya mengobrol dengan bahasa dari Negara kelahiranku. Itu hanya jika kami berdua.

"Tao, kau mau ikut ke kantin denagnku?" ajakku saat jam istirahat sudah tiba. sekalian aku ingin membicarakan soal festival pelajar nanti dengannya.

"hmm, bolehkah? Apakah Kris ge tidak keberatan jika aku ikut" sepertinya Tao sedikit ragu, karena memang aku dan Kris hyung selalu ke kantin bersama. Jarang sekali ada orang yang bergabung.

"tenang saja, si siang listrik blasteran itu pasti tidak keberatan" jawabku, memecah keraguan Tao.

"baiklah Baek Hyun!" akupun dan Tao menuju kelas Kris hyung untuk memanggilnya ke kantin. Sebenarnya biasanya ia yang akan ke entah kenapa hari ini ia tidak datang. Mungkin ia banyak tugas. Hanya itu yang dapat aku pikirkan. Namun, saat aku kekelasnya, teman sekelasnya mengatakan jika Kris berada di taman belakang sekolah. Jadi aku dan Tao menuju kesana.

"Baek Hyun, bukankah itu Kris ge!" tutur Tao saat kami sudah berada di taman belakang sekolah.

"benarkah?" akupun melihat kearah telunjuk Tao.

"lalu siapa orang yang bersamanya?"

Aku hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Tao. Karena memang jarak kami dan Kris hyung sangat jauh ditambah lagi wajah namja itu terutup oleh Kris yang menjulang. Mereka sepertinya membicarakan sesuatu. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan.

Seketika mata kecilku membulat takkala melihat adegan yang ada dihadapanku. Namja itu, dan Kris hyung. Mereka, mereka apakah mereka berciuman?

Seperti ada bunyi KREEKK, di sini. Didadaku, ada apa ini. Apa yang salah denganku. Kenapa aku tidak suka melihat Kris hyung dan namja yang ternyata Lay ge berciuman. Tidak, aku tidak bisa terus disini melihat adegan yang membuat dadaku berdenyut. Sakit sekali. Akupun pergi dari tempai itu meninggalkan Tao yang juga ikut mematung melihat Lay Ge dan Kris hyung bercimuan. Aku harus memastikan, apa yang hati ini rasakan terhadap Kris hyung.

~~~TBC~~~

Krik krik, akhirnya chap 3nya selesai juga. Pas ngetik chap ini gw semangat banget. Gegara selir gue Kris udah nongol.

Chap depan mungkin Chan Chan nongol sebentar. Jadi yang kangen ama si happy virus pantengin aja terus FF ini. Udah seslesai sih chap 4nya tunggu respon kalian dulu.

BALASAN REVIEW

Mrschanbaek : pengen nyatuin Hunhan dan ChanBaek? Hehe tunggu aja lanjutannya

Guest : makasih udah review.

rilakkumechan : Ne ini udah dilanjut, tetep Review ya

neli amelia : gak papa, tetep review ya. Ini Kris udah muncul.

Babybacon : heheh makasih udah review

SparKyuCuttieKyu : makasih ya udah review, tetep review ya abis baca

ViviPExotic46 : hehe maksih udah review lagi dan suka ama FFku.

meliarisky7 : ini udah lanjut, maksih ya udah review.

makasih juga sama yang udah ngefollow dan ngefav FFku.

See you next chap all.