Please, Make the Horror Come to Me!

A SEVENTEEN's Fanfiction, with Lee Jihoon and Kwon Soonyoung as the main cast

Characters belong to themselves, story belong to alexssucchi

Lee Jihoon hanya seorang pemuda yang ingin merasakan kejadian yang menyeramkan. Jadi ia berusaha untuk mendapatkan kejadian itu. Doanya terkabulkan. Hanya saja ada seorang pemuda yang turut hadir bersamaan dengan kejadian menyeramkan yang mendatanginya. Siapa dia sebenarnya?

A romance-horror fiction story, not a common horror story, fyi. Few typos.

Enjoy the Story

.

.

.

Chapter 3 : The Guest with Umbrella is Coming

Mata Jihoon bergerak. Membaca huruf demi huruf yang membentuk kata dan tersusun menjadi sebuah kalimat. Menghela napas dengan panjang, mata Jihoon bergerak lagi. Berusaha memusatkan konsentrasinya pada tulisan yang tertera di sebuah buku referensi. Kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya. Lagi-lagi harus membaca kalimat yang sama berulang-ulang.

Cukup sudah.

"Kwon Soonyoung," Remaja 17 tahun yang masih terlihat seperti anak sekolah menengah pertama mengeluarkan suaranya dengan tatapan tajam kepada yang dipanggil. "Hentikan tatapanmu sebelum kau merasakan nikmatnya benturan buku tebal ini di dahimu."

Yang diancam merespon dengan sebuah cengiran. "Iya, iya. Aku tidak akan menatapmu lagi, kok." Namja itu berdiri dan melangkah menjauh.

"Bagus. Tidak ada buruknya untuk menjadi seorang penurut, bukan?" Jihoon berbisik pelan seiring dengan langkah Soonyoung yang semakin menjauh, lalu mencoba untuk kembali fokus kepada bacaannya.

Beberapa detik berlalu dengan hening. Jihoon menutup buku referensi milik perpustakaan sekolahnya dengan kasar. Mengangkat tubuhnya berdiri walau ia masih ingin duduk dan melanjutkan membaca. Dilanjut dengan berjalan menuju tempat penjaga perpustakaan berada, dengan niat meminjam buku yang kini digenggamnya.

Setelah menyerahkan kartu pelajarnya sebagai jaminan atas keselamatan buku yang dipinjamnya, Jihoon berjalan tergesa ke luar perpustakaan. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari namja yang tadi diusirnya. Seharusnya belum jauh. Tapi dimana? Jihoon sulit menemukannya padahal koridor tidak banyak murid.

Teknik menghilangkan keberadaan diri sendiri? Rengutan sebal menghias wajah namja Lee. Ia melangkah lemas menuju kelasnya. Kenapa pula ia harus merasakan kesepian padahal ia sendiri yang mengusirnya?

"Soonyoung." Jihoon menyebut nama itu tanpa sadar.

"Ya?"

Soonyoung yang tiba-tiba berada di sampingnya, dengan cepat merangkul pundak Jihoon dengan gaya yang sok akrab. Jihoon terkejut, tentu saja. Hampir saja ia melayangkan buku yang dipegangnya ke kepala namja pemilik bentuk mata 10:10 itu.

"Kwon!" Jihoon menjerit, mendorong dada Soonyoung yang secara otomatis melepaskan rangkulannya. "Apa-apaan?!"

Yang didorong hanya cengar-cengir. Jihoon mecatat dalam hatinya bahwa hobi Soonyoung yang paling kental adalah membuat cengiran lebar di wajahnya. Yang setiap kali dilakukannya, akan membuat Jihoon kesal serta membuatnya berkeinginan untuk memukul kepala Soonyoung keras-keras. Tapi itu tidak berarti Jihoon membenci cengiran milik Soonyoung. Ia sebal. Itu saja.

Soonyoung mendekat lagi. Kali ini dengan jarak yang sekiranya bisa ditolerir Jihoon. "Kamu memanggilku, 'kan? Ada apa?"

Kerutan muncul di dahi Busan-man. "Aku memanggilmu? Kapan?"

Ekspresi Soonyoung yang awalnya cerah berubah datar. Sedatar lantai ubin yang mereka pijak. Matanya seolah ingin bertanya, "Yang benar saja?"

Jihoon mengangkat bahunya disertai mimik muka ketidaktahuan. Intinya, ia benar-benar tidak sadar telah menyebut nama Soonyoung sebelumnya. Soonyoung menolehkan kepalanya ke arah lain sambil membuang napas kecewa.

"Kau sendiri?" Jihoon mendekap buku referensi di dadanya. "Kenapa menghilang dan muncul tiba-tiba?"

Kakinya berhenti berjalan, diikuti Soonyoung yang baru berhenti beberapa langkah di depannya. "Lebih tepatnya, bagaimana kau bisa melakukan hal itu?"

Kini Soonyoung yang mengernyit. "Itu apa? Aku tidak menggunakan teknik khusus, sungguh. Aku hanya memang berbakat dalam hal mengendap-endap."

Kwon Soonyoung yang sering menarik perhatian orang di sekitar, berbakat dalam hal mengendap-endap. Seseorang, tolong bantu Jihoon untuk menahan tawanya. Sungguh. Sebuah ironi?

Melihat Jihoon menahan tawa remeh, Soonyoung mengibaskan tangannya. "Ya, ya. Tidak semua orang percaya, tentunya."

Siapa juga yang akan percaya?

Kaki pendek Jihoon bergerak dan kembali melangkah, Soonyoung mengekor. Oh iya, ia sedang berjalan bersama Kwon Soonyoung. Kenapa ia bisa lupa?

"Soonyoung." Jihoon memanggil.

"Kali ini kamu memanggilku dengan sadar atau tidak?" Soonyoung bertanya sambil menyamai langkah Jihoon.

Jihoon menoleh kepada Soonyoung untuk membuat pemuda itu yakin kalau ia sadar sepenuhnya. Anggukan Soonyoung menandakan ia tidak perlu penjelasan lebih lanjut.

"Ah. Kau tahu, um," Jihoon mengeratkan pegangannya pada buku. "Itu―aku ingin bertanya."

"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan, aku pasti menjawabnya dengan senang hati."

Setelah berpikir bagaimana menyusun kalimat pertanyaan yang tepat, Jihoon mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang yang terletak di sebuah ruang kelas―tampaknya tidak sedang digunakan melihat betapa sepinya suasana di dalam. Soonyoung tidak duduk, ia hanya berdiri di depan Jihoon sambil sesekali melirik ke dalam kelas melalui jendela yang terdapat di samping kanan tempat Jihoon duduk.

"Uh―kau tahu, tadi malam saat kau berkunjung ke rumah," Jihoon memikirkan kalimat selanjutnya. "Aku―"

Jihoon terhenyak. Tunggu. Tadi pagi Soonyoung bilang sesuatu yang berbunyi seperti, "Malam ini, dia tidak hanya akan berjalan-jalan―"

Masalahnya adalah, bagaimana Soonyoung bisa tahu kalau wanita itu berjalan di depan rumahnya?

Apa Soonyoung melihatnya juga? Lantas―Jihoon menelan ludahnya dengan sulit―lantas siapa yang menekan bel rumahnya? Kalau Soonyoung memang melihatnya, setidaknya ia pasti melihat dari jendela rumahnya. Kapan tepatnya ia keluar rumah dan menekan bel rumah Jihoon? Sementara Jihoon sendiri sedang memerhatikan wanita itu yang mau tidak mau pasti akan melihat jalanan.

Dan pasti akan tahu kalau Soonyoung keluar dari rumah.

"Soonyoung, aku tidak mau berbasa-basi lagi," Tatapan serius terarah pada Soonyoung. "Siapa―apa tepatnya yang menekan bel rumahku semalam?"

Ada perubahan gestur pada Soonyoung. Namja itu menegang. Jihoon yang mempunyai kemampuan analisis, tentu tidak melewatkan respon yang diberikan Soonyoung terhadap pertanyaannya.

"Kenapa kamu bertanya, Jihoonie? Tentu saja aku, bukan? Kamu tahu aku bertamu tadi malam," Soonyoung menggaruk pipinya. "Ingin mengakrabkan diri, kamu ingat?"

"Kau tahu ketika wanita itu berjalan di depan rumahmu, 'kan?" Respon gugup Soonyoung membuat salah satu sudut bibir Jihoon naik. "Aku melihatnya juga dengan mata kepalaku, Soonyoung. Melihat bahwa kau tidak terlihat keluar dari rumahmu sama sekali saat bel rumahku berbunyi."

Soonyoung diam.

"Kuakui mungkin perhatianku hanya terpusat pada wanita itu. Tapi aku masih peka dengan sekitar. Kalau ada orang yang berlalu, aku pasti akan menyadarinya," Jihoon membuka dan menutup sampul buku di tangannya. "Dan aku tidak menemukanmu keluar dari rumah."

Tampaknya lantai yang dipijaknya lebih menarik bagi Soonyoung untuk dipandang. Lelaki itu menunduk dalam-dalam.

"Soonyoung, kau―" Netra Jihoon mencoba untuk menusuk kepala Soonyoung dengan tatapannya. "Kau, manusia, 'kan?"

Soonyoung mengangkat wajahnya dengan cepat. Menatap Jihoon tidak percaya.

Jihoon masih berusaha menganalisis di saat-saat seperti ini. Ada dua hal yang mungkin akan menjadi tindakan Soonyoung berikutnya. Pertama, Soonyoung terkejut karena tidak percaya Jihoon akan mengungkap identitasnya yang sebenarnya, dia bukan manusia, dan akan melakukan hal buruk pada Jihoon saat itu juga.

Kedua, Soonyoung terkejut karena tidak percaya Jihoon akan menuduhnya dengan hal yang tidak masuk akal, dia manusia yang hakiki, dan akan memukul kepala Jihoon untuk menyadarkannya dari sesuatu yang bodoh.

Hasil akhir keduanya mungkin memang sama-sama tidak baik bagi Jihoon. Tapi ia berharap opsi kedualah yang akan terjadi. Ia berharap Soonyoung adalah manusia.

"Apa yang kamu katakan, hei, Jihoonie?!" Soonyoung terkejut. "Aku tidak percaya―"

Oke, opsi yang pertama atau kedua?

Entah kenapa, kalimat berikutnya yang akan diucapkan Soonyoung menjadi begitu berarti untuk dinanti oleh Jihoon.

"Aku tidak percaya kamu akan mengatakan hal seperti itu! Tentu saja aku manusia, bukan?"

Jihoon lega dan menyiapkan dirinya untuk dipukul Soonyoung.

"Ya Tuhan, Jihoonie. Aku sama sekali tidak habis pikir!" Membuka salah satu kelopak matanya yang tertutup, Jihoon mengernyit. Soonyoung tidak akan memukulnya? "Baiklah! Aku akan menjelaskan yang sebenarnya!"

Bibir Jihoon membulat. Oh. Soonyoung tidak memukulnya justru akan menjelaskan yang sebenarnya? Bagus. Analisisnya benar sebanyak tujuh puluh lima persen saja.

"Tadi malam itu―" Soonyoung menekan dagu dengan ibu jari dan jari telunjuknya selama beberapa saat. Seolah mempertimbangkan, tepatkah ia bercerita kepada Jihoon tentang yang sebenarnya? Ia ragu, namun perasaan itu hilang setelah menatap Jihoon yang terlihat menunggu jawabannya dengan penuh harap.

Oke. Dia harus cerita.

Soonyoung berdehem. "Tadi malam itu―"


Soonyoung baru saja selesai membereskan barang-barang yang dibawanya setelah berpindahan. Siang tadi ia baru sampai di rumah barunya dan barang-barangnya datang 2 jam kemudian. Agak terlambat dari waktu yang dijanjikan, tapi melihat barangnya yang tidak apa-apa saja sudah lebih dari cukup bagi Soonyoung. Mungkin terjebak macet atau apalah. Dan karena keterlambatan itu, membuat Soonyoung baru benar-benar menyelesaikan semuanya sampai larut malam begini.

Ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Membawa barang-barang berat kesana kemari dan mengatur tempatnya dengan tepat, cukup untuk membuat lelah pada diri Soonyoung. Besok harus menghadiri sekolah pula, membuatnya semakin lelah saja. Bisa dipastikan ia akan bangun kesiangan melihat tubuhnya yang terasa seperti dikuras habis staminanya.

Heh, ya sudahlah. Toh mau bagaimana lagi, terlambat di hari pertama mungkin tidak apa, ia bisa beralasan dengan dalih tersesat karena masih baru dengan lingkungan tersebut. Yang penting bagi Soonyoung sekarang, adalah udara segar. Berkutat dengan barang-barangnya sendiri membuat Soonyoung agak sesak.

Ia ingin menghirup udara malam di lingkungan barunya. Baru saja mencapai jendela depan, ia menangkap sesosok wanita sedang berjalan di trotoar. Soonyoung melihat jam tangan hitamnya. Jam dua belas kurang tujuh menit. Cukup itu saja, Soonyoung pun tahu wanita itu bukan seorang manusia―ditambah dengan pendar keputihan yang mengelilingi tubuhnya, bukti nyata yang tak bisa ditolah kalau sosok itu adalah kalangan makhluk halus. Tapi Soonyoung tidak berbuat apapun. Ia cukup memerhatikan saja.

Tatapannya mengikuti langkah demi langkah wanita hantu itu. Menduga-duga apa yang akan dilakukannya. Dan apa yang dilakukannya selanjutnya, membuat Soonyoung terkaget-kaget. Sosok itu berhenti di depan rumahnya. Menyingkap payung hitam besarnya dan menatap Soonyoung tepat di mata.

Soonyoung ditatap tepat di mata―mata hitam yang menyeramkan. Soonyoung diam membatu. Tidak sempat menghapal rupa sosok tersebut, wanita itu sudah menghilang dari penglihatannya.

Tidak benar-benar menghilang. Soonyoung mendapati sosok itu sedang menghadap ke arahnya dan menekan bel rumah yang bertempat di depan rumah Soonyoung. Soonyoung mengernyit dan terkejut lagi ketika lampu di rumah itu menyala. Si pemilik rumah belum tidur?

Merasa keadaan berubah menjadi gawat apabila ia membiarkan pemilik rumah melihat apa yang menunggu di depan rumahnya, Soonyoung segera berlari keluar rumah. Tak sengaja ia menginjak ekor kucing yang sedang tiduran di trotoar depan rumahnya. Hanya butuh beberapa detik untuknya segera sampai di depan makhluk itu.

Soonyoung membisikkan kata-kata, lalu mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya ke arah hantu yang memegang payung besar itu. "Demi Bapa yang ada di surga, aku memerintahkanmu untuk pergi dari tempat ini! In principio!"

Sosok itu memutar payungnya kemudian menghilang. Soonyoung menarik napas dalam-dalam. Oke, dia harus menggantikan peran hantu itu sekarang. Ia berjalan mendekat ke pintu rumah. Memasukkan kedua tangan ke dalam jaket parasut biru dongkernya.

Ketika pintu terbuka, Soonyoung mendapati anak kecil di sana.

Soonyoung jadi merasa antara kesal dan bersyukur. Kesal karena makhluk tadi berniat mengganggu anak kecil. Bersyukur karena Soonyoung datang tepat pada waktunya.

"Maaf mengganggu malam-malam, Dik."

Dan Soonyoung menunjukkan cengiran pertamanya kepada namja imut yang memandanginya dengan rasa ingin tahu itu.


Soonyoung mengakhiri ceritanya dengan mata yang terus-menerus melirik ke arah jendela kelas di belakang Jihoon. Selama bercerita juga, Jihoon bisa melihat Soonyoung bergerak gelisah sambil melirik ke dalam kelas. Jihoon pikir Soonyoung kelelahan berdiri, tapi sepertinya bukan, ya?

Jihoon berdiri. Tatapan Soonyoung sekarang teralihkan. "Apakah ada yang―menemani kita?"

Soonyoung tersenyum lemas. Dengan segera ia menarik tangan Jihoon dan pergi meninggalkan tempat itu. Entah kenapa koridor jadi tampak sepi sekali, padahal sekarang masih jam istirahat. Mereka berjalan sampai pada koridor yang ramai oleh murid. Soonyoung seperti telah mendapatkan ketenangannya kembali―Jihoon kembali menganalisis.

Di tengah keramaian itu, Jihoon berkata, "Soonyoung, masih ada hal lain yang menggangguku."

"Bisakah kita simpan itu untuk nanti?" Soonyoung berhenti, diikuti Jihoon. "Beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Kita bisa melanjutkannya saat sudah pulang sekolah nanti."

Jihoon ingin berkata tidak karena ia keburu penasaran. Tapi melihat kondisi Soonyoung sekarang―namja Kwon itu terlihat pucat dan tangannya dingin―mungkin memang harus dilanjut nanti saja. Ia mengangguk kemudian. Sambil berpikir sosok seperti apakah yang berada dalam ruang kelas tadi sehingga dapat membuat Kwon Soonyoung yang sudah terbiasa dengan kehadiran makhluk halus memucat.

"Aku akan segera menemuimu, Jihoonie." Soonyoung melepas pegangannya lalu mengelus pipi yang ditempel plester itu dengan lembut. Kemudian berjalan menuju ke kelasnya sambil melambaikan tangan―terlihat seperti Soonyoung yang sebelumnya, bedanya kali ini lelaki itu melambaikan tangan seperti robot. Kaku dan patah-patah.

Jihoon menoleh ke belakang―arah ruang kelas yang mereka tempati beberapa saat waktu lalu. Sungguh. Kwon Soonyoung sampai berkeringat dingin begitu.

Seseram itukah?

└( ' ◦ ‛ )┘

Jihoon tersandung saat baru memasuki kelas dan hampir terjatuh dengan memalukan kalau saja tidak ada sepasang tangan untuk menarik lengannya yang bebas dari memegang buku, memposisikan Jihoon agar kembali seimbang. Yang menolong tersenyum kecil.

"Tersandung kaki sendiri? Kamu ini anak kecil atau apa?" Suara di belakangnya membuat Jihoon menoleh.

"Ah. Kau." Jihoon membuang pandangannya ke lantai. Mencari.

"Aw. Kamu cuek sekali, sih, Hoonie~" Tangan yang tadinya digunakan untuk menolong sekarang terulur―hendak digunakannya untuk mencubit kedua pipi bulat Jihoon dengan gemas.

Tapi batal karena ia melihat plester luka di pipi Jihoon. Jadi ia mencubit yang satunya. Tanpa ada niatan bertanya ada apa dan kenapa plester itu bisa ada di pipi Jihoon.

Tatapan tidak suka khas Jihoon terarah kepada si penolong. "Lepas, Jeon Wonwoo."

Yang disebut namanya tertawa geli lalu melepas cubitannya pada pipi Jihoon, menuruti perintahnya sebelum tangannya patah nanti. Ia berjalan mengikuti Jihoon yang duduk di bangkunya, namja bernama Jeon Wonwoo itu duduk di sebelahnya. Terus menatap Jihoon.

Jihoon adalah orang yang sensitif dan mudah risih. Matanya melotot ke arah pemuda Jeon. "Apa? Kalau memang ada yang ingin dikatakan, katakanlah, dan berhenti memandangiku seolah aku adalah makhluk asing."

Jeon tertawa renyah. "Tidak, tidak. Bukan apa-apa, sih," Ia merubah posisi duduknya menghadap ke depan, guru mata pelajaran sudah memasuki kelas. "Hanya saja, tidak biasa melihatmu bertingkah seperti ini."

Kening Jihoon berkerut. Apa maksudnya? "Seperti ini bagaimana?"

Wonwoo mengambil pensil mekaniknya. Memainkannya sebentar lalu bertanya, "Lelaki yang mengantarmu ke kelas tadi―dia tampan, ya, Hoonie?"

Jihoon semakin tidak mengerti. Apa hubungannya dengan Soonyoung? Dan Wonwoo mengabaikan pertanyaannya sebelumnya. Dan dia mengharapkan Jihoon menjawab pertanyaannya? Jihoon mengambil sebuah buku tulis dari dalam tasnya, membalas perbuatan Wonwoo yang acuh tak acuh terhadap pertanyaannya.

Baru hampir tiga menit Jihoon memerhatikan materi yang disampaikan oleh guru. Ia mengalihkan perhatiannya pada Wonwoo dan menganggap pelajaran kali ini terasa membosankan. Kemudian berkata, "Kenapa kau bertanya?"

Yang ditanya tersenyum menang. Memang tidak mungkin bagi Jihoon untuk mengabaikan pertanyaannya―sebuah pemikiran satu pihak yang tertanam pada Jeon Wonwoo. Padahal Jihoon hanya merasa bosan.

"Yah, karena aku rasa dia cukup menarik."

Mendelikkan matanya, Jihoon menutup mulutnya yang membuka lebar. "Kau―menyukai Soonyoung?"

"Oh, jadi namanya Soon―hei! Kenapa kamu malah menuduhku begitu?!" Wonwoo menggeleng. "Aku bilang begini karena kamu―"

"Ya?" Jihoon menunggu kelanjutan kalimat Wonwoo.

Wonwoo sendiri sedang berpikir matang-matang. Kalau respon Jihoon terhadap pernyataannya seperti ini, apa itu berarti Jihoon tidak memiliki ketertarikan dengan yang namanya Soonyoung itu?

Wonwoo melirik Jihoon―yang masih menanti kalimatnya. Oke, sepertinya Wonwoo harus berhenti bersikap sok tahu. Tapi ini karena tingkah Jihoon sendiri, sih. Wonwoo melihat Jihoon memasuki kelas setelah berpisah dengan namja tidak dikenalnya itu, tapi baru saja masuk kelas Jihoon sudah tersandung. Apa namanya kalau bukan salah tingkah?

Eh, tampaknya memang bukan salah tingkah, sih.

"Tidak. Aku hanya berpikir dia menarik. Itu saja." Wonwoo meralat jawabannya yang pertama akan dilontarkannya.

Jihoon tidak puas. Ia mencibir yang dibalas kekehan oleh Wonwoo. Membuatnya sebal dan merobek kecil kertas buku tulisnya dan melemparnya ke namja Jeon yang duduk di samping kanannya. Kertas yang dilempar Jihoon jatuh ke lantai, bahkan sebelum mencapai bangku Wonwoo. Terlalu kecil, mungkin.

Jadi Jihoon merobek setengah halaman buku tulisnya, mengepalkannya, dan berancang-ancang untuk melemparnya dengan tepat ke arah Wonwoo. Yang menjadi target menyiapkan sebuah buku tulis sebagai tameng.

Kemudian berlangsunglah perang kertas di antara mereka berdua dengan Jihoon sebagai pelempar kertas dan Wonwoo sebagai papan target. Serangan kertas yang melayang ke arahnya ia hindari dengan gesit juga memakai buku tulisnya untuk memantulkan kertas.

Kalau diperhatikan dengan seksama, jadi terlihat seperti seorang olahragawan yang menekuni bidang tennis sedang melatih pukulannya dengan mesin pelempar otomatis bola tennis.

Hal itu terus berlanjut sampai mereka mendengar deheman dari arah depan. Jihoon dan Wonwoo berhenti dalam sekejap, serta berpura-pura melakukan hal lain. Jihoon membuka-buka buku tulisnya―yang dipenuhi robekan―sedangkan Wonwoo berlagak mencatat di atas kertas yang dilemparkan Jihoon.

"Lee Jihoon dan Jeon Wonwoo. Bersihkan kelas ketika jam sekolah telah usai." Titah sang guru yang tidak bisa diganggu gugat oleh kedua siswa yang disebut namanya. Kemudian pelajaran berlangsung tenang lagi, siswa-siswi di kelas itu kembali fokus menghadap depan.

Jihoon dan Wonwoo juga―setelah Wonwoo menunjuk-nunjuknya seolah ia adalah biang keroknya, tidak sadar diri kalau sendirinya yang memancing masalah di awal. Jihoon merengut dan melempar secuil bagian dari karet penghapus, melemparnya pada Wonwoo. Terdiam kemudian setelah guru pemberi materi memanggil namanya.

Jari-jari Jihoon mengambil sebuah ballpoint, kemudian berusaha menangkap inti-inti materi yang dijelaskan dan mencatat di buku tulisnya―yang sebenarnya sudah tidak layak pakai melihat betapa rusaknya―sambil berpikir akan membeli buku tulis baru.

Lagi-lagi Jihoon merasa bosan lima menit kemudian. Dia tidak mood menulis. Jadi ia memilih untuk mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas.

Kemudian teringat sesuatu.

Oh iya, tadi yang membuatnya tersandung itu apa? Kalau diingat-ingat lagi, Jihoon sempat melihat kaki bercelana putih ada di depannya. Saat berusaha melewatinya, Jihoon malah tersandung.

Jihoon menatap celananya. Kemudian menatap celana gurunya.

Ah. Di sekolah ini kan seharusnya tidak ada orang yang mengenakan celana putih, bahkan karyawan tidak mengenakan celana putih. Kok Jihoon tidak sadar?

( •w•)┌

Jam tiga sore bel pulang sekolah berbunyi. Menghidupkan kembali murid-murid yang tumbang di tengah-tengah pelajaran, juga membuat kesal para murid rajin yang masih ingin berasyik ria dengan materi yang diberikan.

Jihoon tidak termasuk salah satunya. Bukan murid tumbang, juga bukan murid yang terlalu antusias dengan pelajaran―walau sebelumnya ia termasuk kriteria yang ini.

Namun untuk kali ini, hari ini saja. Jihoon agak merasa senang saat indra pendengarannya menangkap suara bel. Kesenangannya ini sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah karena ia menanti-nanti hal yang akan terjadi malam nanti.

Meskipun Jihoon belum tahu apa yang akan terjadi, ia hanya terlalu senang saja karena pada akhirnya, usaha kerasnya selama ini untuk berurusan dengan makhlus halus, terbayarkan.

Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan wajah ceria. Wonwoo yang menyadari perubahan ekspresi Jihoon jadi bingung dibuatnya. Jihoon yang termasuk tipikal murid rajin dengan ceria menyambut waktu pulang? Dan―apa? Pulang?

Wonwoo mendekat pada Jihoon. "Hoonie, kamu pulang?"

Setelah menyangga tas ranselnya di punggung, Jihoon menatap Wonwoo heran. "Tentu saja. Kau pikir aku akan melakukan apa?"

"Baca buku di perpustakaan sampai malam?" Jawab Wonwoo ragu.

Ah.

Senyuman dibuat-buat terbentuk. "Ah. Ya. Hari ini aku sedang tidak mood." Jihoon menggaruk tali penyangga ranselnya.

Jawaban Jihoon tentunya membuat Wonwoo memperdalam kerutan di dahinya. "Apakah cara belajarmu itu dipengaruhi oleh mood, Hoonie?"

"Begitulah," Jihoon menjawab seadanya kemudian beranjak pergi. "Sampai jumpa besok, Wonwoo-ya."

Menghilang dari balik pintu kelas, Jihoon meninggalkan Wonwoo yang terdiam di posisinya.

Di persimpangan koridor, Jihoon bisa melihat seorang namja sedang menyandarkan punggungnya ke dinding sambil mengotak-atik ponselnya. Wajah Soonyoung sudah tidak terlihat pucat seperti saat jam istirahat tadi. Gestur tubuhnya yang menunjukkan seolah sedang menunggu seseorang, membuat Jihoon melangkah lebih cepat dan menghampirinya.

"Kwon." Sapanya datar.

Soonyoung menghentikan kegiatannya sesaat setelah mendengar suara Jihoon. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu mengaitkan lengannya ke lengan Jihoon.

"Yuk, kita ke supermarket terdekat!" Soonyoung mulai melangkah, namun tertarik ke belakang karena Jihoon tidak bergerak sedikitpun. "Jihoonie?"

"Untuk apa kita ke supermarket?" Jihoon bertanya sambil berusaha melepaskan kaitan tangan mereka.

"Membeli bahan untuk makan malam, tentunya," Soonyoung tersenyum hingga matanya menyipit. "Kamu bilang tadi pagi di kulkas milikmu tidak ada bahan makanan, bukan?"

Jihoon teringat obrolannya bersama Soonyoung tadi pagi yang tidak penting untuk dia ingat―kecuali dalam beberapa hal. "Kenapa kita? Kenapa tidak aku saja?"

"Anggap saja aku adalah tamu yang mandiri. Mengurus diriku sendiri walaupun sedang bertamu di rumah orang lain." Soonyoung mengacungkan ibu jarinya.

"Bukankah yang seperti itu lebih pantas disebut tamu lancang?" Jihoon mendengus. "Dan lagipula, untuk apa pula kau bertamu ke rumahku?"

Soonyoung memajukan bibirnya. "Bukankah aku sudah bilang aku akan menginap di tempatmu, Jihoonie~"

"Apakah aku berkata aku menyetujuinya?" Jihoon mengibaskan tangannya kemudian mulai berjalan.

Soonyoung menyamai langkahnya dengan Jihoon. "Jihoonie, sungguh. Aku tidak main-main. Aku berani jamin wanita hantu itu berbahaya untukmu," Soonyoung memegang bahu Jihoon. "Pertemuan keduamu dengannya, sudah membuatmu terluka. Dan kamu tidak merasa ketakutan justru merasa antusias akan hal ini. Tidak mungkin aku tidak khawatir, tentu saja."

"Dan semua itu, Kwon Soonyoung," Jihoon mengangkat jari telunjuknya, lalu menggerakkannya memutar. "Sama sekali bukan urusanmu."

Kesabaran Soonyoung itu ada batasnya. Ia menarik bahu Jihoon agak kasar dan membalikkan tubuhnya untuk menghadap Soonyoung.

"Ini bukan hanya urusanmu, Jihoonie," Pancaran mata yang ditunjukkan Soonyoung berisi keseriusan untuk meyakinkan setiap kalimat yang dia ucapkan. "Ini juga urusanku. Sejak kita pertama bertemu, tidak, sejak sebelum kamu membuka pintu depan rumahmu, hal ini juga sudah menjadi bagian dari urusanku."

"Kita belum kenal sebelum aku membuka pintu rumahku."

"Ya, tapi hantu itu yang menghubungkan kita berdua," Jihoon bisa merasakan kekhawatiran yang berlebihan milik Soonyoung. "Dia menghadap ke arahku, tapi menekan bel rumahmu. Aneh, 'kan? Memang aneh. Jadi jangan kamu anggap ini adalah masalahmu sendiri, Jihoonie."

Aneh memang. Tapi Jihoon tidak mau mengakui.

"Hanya begitu dan kau sudah menganggap ini adalah masalahmu juga?" Nada remeh terdengar di sana.

"Bukan hanya itu," Jihoon mempertajam indra pendengarannya. "Tapi entah kenapa aku yakin kalau hantu itu sebenarnya mengincar kita berdua sedari awal, Jihoonie."

Jihoon terhenyak.


Jihoon menatap pintu. Membukanya. Mempersilahkan tamunya masuk, kemudian menutup pintu lagi. Ia berjalan beriringan dengan tamunya menuju dapur. Semuanya Jihoon lakukan dengan ekspresi datar. Berbanding terbalik dengan ekspresi tamunya.

"Jihoonie~" Soonyoung meletakkan belanjaan di atas meja makan―yang akhirnya harus ia beli sendiri karena Jihoon tidak mau diajak ke supermarket. "Enaknya kita masak apa, ya? Aku membeli beberapa bahan yang―memiliki cukup nutrisi. Kamu ingin apa?"

"Telur mata sapi."

Soonyoung menatap Jihoon sebal―bercanda, tentunya. "Aku membelikanmu bahan-bahan yang bernutrisi dan kamu meminta telur mata sapi? Yang benar saja, Jihoonie~"

Jihoon merasa tidak asing dengan nada yang digunakan Soonyoung pada kalimat, "Yang benar saja." Kemudian mengumpat dalam hati saat tahu kalau Soonyoung menirukan nada Jihoon saat mengucapkan kalimat yang sama kepada Soonyoung ketika pertama kali mereka bertemu.

"Aku bahkan membelikan bahan makanan yang sekiranya mungkin dapat membuatmu tumbuh jadi lebih ti―AW! Jihoonie! Itu sakit!" Soonyoung berteriak protes saat Jihoon mengambil wortel dari plastik belanjaan dan melemparnya ke dahi Soonyoung.

Kenapa Soonyoung masih juga tidak mengerti kalau Jihoon itu sangat-sangat sensitif jika sudah ada orang yang membahas mengenai tinggi badannya?

"Terserah padamu. Masak saja sesukamu. Aku tidak peduli." Jihoon meninggalkan dapur tanpa menoleh.

"Eh? Bantu aku, dong, Jihoonie~!" Rengekan Soonyoung membuat Jihoon ingin kembali ke dapur dan melemparinya dengan bahan makanan yang Soonyoung bawa, jika perlu sekalian dengan kulkasnya kalau bisa.

"Bukannya tadi sore kau bilang, kau adalah tamu yang mandiri. Tetap mengurus diri sendiri walau sedang bertamu di rumah orang lain?" Jihoon menyilangkan kedua kakinya di atas sofa sementara tangannya menekan-nekan tombol remote televisi di ruang tamu, mencari acara yang bagus di malam hari begini.

Jihoon mengabaikan teriakan Soonyoung―yang menyatakan bahwa Lee Jihoon adalah orang yang sangat tega―sambil melirik jam dinding di ruang tamu. Masih jam setengah delapan.

Kemungkinan wanita itu muncul adalah ketika mereka menyelesaikan makan malam atau tengah malam.

Jihoon merasakan tubuhnya gemetar. Wow. Adrenalin yang terpacu, jantungnya yang berdetak dengan cepatnya, tangannya yang berkeringat, dan peluh dingin yang mulai muncul di dahinya. Jihoon sudah seperti seseorang yang sedang mengalami petualangan seru saja.

Ia senyum-senyum dengan berbagai hal yang ada di kepalanya―mayoritas berhubungan dengan dugaan-dugaan atas apa yang akan ia alami nantinya―dengan kepala menghadap televisi. Hingga selang beberapa waktu, Soonyoung mendatanginya dan menyuruhnya untuk makan malam.

Jihoon sempat terkagum―ditunjukkannya selama hanya sekitar 5 detik―terhadap makanan yang dibuat Soonyoung. Terlihat enak. Dan itu membuatnya jadi lapar.

"Aku boleh memakan ini? Ini dan juga itu?" Jihoon bertanya tidak jelas. Melupakan nama makanan karena kekagumannya akan keahlian Soonyoung.

"Tentu saja, Jihoonie. Kan ini aku buatkan untukmu juga," Soonyoung tertawa kemudian mendudukkan Jihoon di kursi yang telah ditariknya. "Makanlah apapun yang kamu suka, Jihoonie."

Ada 3 jenis makanan di sana. Disuruh Soonyoung begitu, tentunya Jihoon tidak akan melewatkannya. Ia membalik piring bersih yang sudah disiapkan Soonyoung di depannya, lalu mengambil ketiga jenis makanan itu dalam satu piring. Memakannya dengan lahap yang membuat Soonyoung terkekeh―bisa melihat Jihoon dalam keadaan seperti ini, langka juga.

Soonyoung akhirnya menyusul Jihoon menyantap makan malam. Hanya beberapa menit yang dibutuhkan bagi mereka untuk menandaskan makanan di sana. Kini keduanya sedang duduk malas dengan perut kenyang.

"Aku merasa aku akan bisa melalui apapun kalau mendapat santapan lezat seperti ini," Jihoon tersenyum, Soonyoung sekarang yang menatap kagum. "Soonyoung, kalau mau bikin yang seperti ini lagi, tolong bagi juga kepadaku."

Soonyoung mengangguk. "Tentu saja."

Mereka duduk diam selama lima belas menit. Hanya ada keheningan dan suara televisi dari ruang tamu yang tadi Jihoon tidak sempat matikan. Jam berdetik menjadi background music di rumah Jihoon.

Jihoon membuka lebar matanya. Ia merasa aneh. Tidakkah ini terlalu sepi?

Terlalu hening. Dan keheningan ini mengganjal.

Mata sipitnya beralih ke jam dinding yang ada di dapur. Baru jam sembilan. Suasana hening di lingkungan rumahnya biasanya akan berlangsung pada pukul setengah sepuluh malam. Kenapa semuanya sudah hening di tiga puluh menit lebih awal?

Jihoon tersentak saat Soonyoung bangkit dari duduknya. Apa ada sesuatu? Jantung Jihoon mulai memompa dengan keras lagi.

Kemudian Jihoon ingin jatuh saja rasanya karena Soonyoung berdiri hanya untuk membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel. Namja itu menyibak rambut poni hitamnya dan memegang dahinya yang berdenyut.

Suara desakan piring yang dicuci Soonyoung berhenti ketika tiba-tiba lampu di rumah Jihoon padam dengan tiba-tiba. Suara air mengalir memecahkan keheningan untuk beberapa saat, sebelum Soonyoung memutar keran untuk menutup alirannya.

Padamnya lampu itu hanya berlangsung sepuluh detik, rumah Jihoon kembali terang kemudian. Tapi suasana yang hening itu belum menghilang dan terasa makin mencekam. Soonyoung berjalan dengan cepat menuju Jihoon. Menyuruhnya bangkit dan pergi meninggalkan dapur.

Entah kenapa, tanpa perintah atau kesepakatan, Jihoon dan Soonyoung sama-sama melangkah dengan pelan dan berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi.

Jihoon merasa telinganya mendingin. Ia menangkupnya dengan kedua tangan. Soonyoung segera menyadari perlakuan Jihoon dan melepas beanie-nya yang berwarna abu-abu untuk kemudian ia pasangkan di kepala Jihoon. Jihoon mengangguk berterima kasih.

Mereka melangkah ke ruang tamu. Hendak menaiki tangga ketika sayup-sayup terdengar suara pintu kayu diketuk beberapa kali.

Jantung Jihoon berdegup kencang, terlalu antusias sampai ingin menangis rasanya. Soonyoung menarik Jihoon ke belakangnya. Mereka melangkah mundur dan naik perlahan ke lantai atas.

"Permisi. Saya ingin bertamu. Apakah kedatangan saya tidak disambut?" Suara seorang wanita terdengar sampai ke telinga Jihoon. Ia melangkah maju yang seketika dihentikan Soonyoung.

Namja itu memberi kode untuk tetap naik ke lantai atas. Jadi mereka melangkah mundur perlahan tapi pasti, menaiki anak tangga.

Suara pintu terbuka adalah hal selanjutnya yang mereka dengar.

"Aduh, aku jadi harus berlaku tidak sopan nih. Karena kalian―"

Jihoon merasa ada sesuatu di belakangnya. Ia menoleh. Dan hampir menjerit sekuat-kuatnya.

"―Tidak mau menyambutku, sih."

.

.

.

To be Continued...

A/N :

Story Count Words : 4.276 words. (Without Summary, Emoji, Dots, and A/N).

Ini sudah malam dan saya tidak sempat memeriksa ulang. Jadi maafkan kalau ada beberapa salah ketik. Semoga readers akan tetap menunggu bab selanjutnya.

Note 1 : Saya kurang yakin dengan kesan horor di bab ini. Namun saya tetap berharap ini dapat memuaskan sedikit dari beberapa pertanyaan yang mengganggu readers.

Note 2 : Seperti yang saya sebutkan di summary, ff ini tidak seperti cerita horor pada umumnya.

Note 3 : Kali ini saya hanya tidur 3 jam. Dan mata saya sudah lelah sekali sekarang.

Note 4 : Saya adalah penakut kalau boleh jujur. Saya mengetik ff ini dengan tubuh gemetaran dan keringat dingin yang bercucuran.

Note 5 : Sebenarnya ini akan dijelaskan di bab-bab mendatang, tapi saya akan menjelaskan sedikit di sini. Tolong jangan ada yang menduga kalau Soonyoung adalah semacam pendeta atau bahkan pengusir hantu. Yang ia lakukan di bab ini hanya sekadar spontanitas. Soonyoung tahu tidak baik membiarkan sesuatu yang buruk terjadi depan matanya, karena itu Soonyoung nekad berlari ke rumah Jihoon untuk menolongnya dari wanita hantu. Rapalannya saja dia masih amatir.

Note 6 : FF ini tidak bermaksud untuk mengundang unsur SARA. Saya menggunakan kalimat itu hanya untuk membantu jalan cerita. Tidak ada niat untuk memberi kesan buruk pada agama lain. Saya tahu Jisoo beragama Kristen, karena saya tidak tahu apa agama yang member lain anut, jadi saya menggunakannya untuk agama Soonyoung di ff ini.

Note 7 : Ada yang masih percaya kalau Soonyoung bukan manusia?

Note 8 : Saat saya mengetik ini, televisi tiba-tiba berubah menjadi biru. Saya rasa cukup sampai di sini.

Special thanks to : siscaMinstalove, SweetHoon, ohyuns, Firda473, mongyu0604, clee6314, sophiasoraya2,

Calum'sNoona, bbihunminkook, yayaerma1, KittyJihoon, fallen1004, BakaNone, m2hyj,

Special thanks to Guest : Vida, Uhee, Jung Heerin

Terima kasih telah memberi tanda ceklis pada favorit dan follow. Terima kasih telah mengungkapkan pendapat Anda terhadap ff ini melalui kolom review, dan membeludaknya silent reader, saya sangat berterima kasih.

Masih perlu dilanjutkah? Atau cukup sampai di sini? Mungkin ada yang ingin mengekspresikan pendapat lagi atau memberi masukan?

Terima kasih.

alexssucchi.

Malang, 20151102