Previous

Tiba-tiba Jaejoong duduk dari posisi telentangnya lalu berkata dengan tegas, "Baiklah. Bagaimana kalau kita mewujudkan impianmu, impianku, impian kita?"

Yunho mengernyitkan dahinya bingung. Namja tampan itu mengubah posisinya, duduk di depan Jaejoong. "Bagaimana caranya?"

Jaejoong tersenyum makin lebar. "Kita kabur dari yayasan ini."

"MWO?"

.

.

NOVEMBER WITH LOVE

Chang Min Sa

2014

Chapter 2

.

.

Two years later….

Trak! Trak! Trak!

Suara pisau beradu dengan alas kayu terdengar mengusik pagi itu. Menggema hingga sudut terkecil apartemen sederhana itu. Apartemen yang kini menjadi rumah bagi kedua remaja yatim piatu itu. Tepat setahun yang lalu, kedua namja tampan itu melarikan diri dari tempat tinggal sementara mereka. Dengan dalih ingin mengejar mimpi mereka. Meski awalnya mereka hanya bekerja di café dengan gaji kecil dan tinggal di kamar kecil pemilik café itu, mereka tetap bisa menyisihkan uang untuk masa depan mereka. Bahkan apartemen yang mereka tempati sekarang adalah hasil tabungan keduanya selama bekerja di café. Meski kecil tapi tempat itu telah menjadi rumah yang nyaman bagi keduanya.

"Ngghhh….hhuuaah…." seorang namja berkulit kecoklatan terlihat keluar dari sebuah ruangan sambil mengucek kedua mata sipitnya.

Di sisi kirinya, ia melihat seorang namja lain sedang berkutat dengan bahan-bahan makanan. Karena apartemen itu kecil, hanya ada ruang tamu, dapur, satu kamar tidur, dan satu kamar mandi tanpa sekat. Jadi, begitu ia keluar kamar, ia bisa melihat ruang tamu dan dapur sekaligus.

Namja yang tak lain adalah Yunho itu segera menghampiri Jaejoong dan duduk di salah satu kursi di sisi meja makan. "Jam berapa, Jae? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk membuat sarapan? Seingatku, hari ini kita kerja di shift siang." Tanya Yunho sambil memperhatikan Jaejoong yang masih berjalan ke sana kemari untuk mengolah makanan.

Jaejoong hanya diam sambil terus melanjutkan kegiatannya. Ia lalu berbalik sambil membawa sepiring nasi goreng beserta telur. Namja bermata bulat itu meletakkan makanannya lalu mengambil dua kotak susu yang ia simpan di sudut lemari dapur. Setelah meletakkan semua sarapan di atas meja, ia duduk di depan Yunho lalu berseru dengan riang, "Selamat makan!" dan segera saja disantapnya makanan sederhana yang ia buat sendiri.

Yunho mengernyit bingung, tidak biasanya Jaejoong mengabaikannya sampai seperti itu. biasanya sekalipun namja cantik itu terlihat sibuk memasak, Jaejoong masih akan merespon ucapannya. Mau tak mau, Yunho harus rela memendam rasa penasarannya demi menjaga kenyamanan suasana pagi.

Selang tiga puluh menit kemudian….

Keduanya sudah selesai menyantap makanan mereka. Jaejoong sedang memcuci alat-alat makan sedangkan Yunho memilih membersihkan diri sejenak. Ia sadar bahwa ia langsung pergi ke dapur setelah bangun tidur karena hal di luar kebiasaan Jaejoong. Setelah selesai mandi, Yunho beranjak ke ruang tamu hendak menonton televise untuk menunggu jadwalnya kerja. Dlihatnya Jaejoong juga sedang duduk di sofa sambil menatap meja di depannya. Yunho pura-pura tak peduli dan mengambil remote di atas meja hingga sebelum ia memencet tombol "ON", Jaejoong membuka pembicaraan.

"Yunho-yah…"

"Hmm?"

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Yunho mengernyit makin bingung. Tidak biasanya Jaejoong meminta ijin untuk bertanya, biasanya namja cantik itu langsung mengutarakan pertanyaannya. Tapi entah mengapa kali ini berbeda. "Apa?" tanya Yunho sambil duduk di sebelah Jaejoong.

Jaejoong mengubah posisi menghadap Yunho tapu dengan kepala tertunduk. "Emm, itu… tempo hari aku menemukan selebaran tentang sebuah audisi di sekolah musik untuk mencari penerima beasiswa. Emm, lalu….lalu…."

Yunho memutar bola matanya jengah. Sungguh ia tidak bisa kalau disuruh menunggu. "Lalu apa, Jae? Katakan saja."

Jaejoong memalingkan muka, menatap meja di tengan ruang tamu itu. "Aku ingin mengikuti audisi itu, Yunh…"

Yunho menghela nafas panjang. "Ya kalau kau ingin kenapa tidak coba saja."

Jaejoong menatap Yunho ragu, "Tapi…aku ingin kau juga ikut."

"Mwo?" Yunho memekik menatap Jaejoong tak percaya.

Jaejoong meraih tangan Yunho dan mulai merayu. "Oh, ayolah, Yunn… aku tidak yakin bisa melaluinya sendiri. Lagipula kau sudah pernah menyanyi di gereja waktu itu, bukan? Dan lagi, kita tidak harus membayar sepersenpun sekalipun kita berduet."

Yunho menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya boleh?"

Jaejoong mengangguk cepat. "Ne! Di sini tertera, peserta boleh menunjukkan bakatnya secara solo, duo, maupun grup. Oh, ayolah, Yunn… mungkin ini jalan kita untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Ne? Kau ikut kan?"

Yunho mengalihkan pandangannya. Menatap langit-langit ruangan sambil berpikir keras.

"Bagaimana?" tanya Jaejoong tak sabar. Bahkan ia juga menarik lengan Yunho cukup kencang.

Yunho balas menatap Jaejoong lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi jika hanya ada salah satu dari kita yang diperbolehkan mendapat beasiswa maka kau yang harus maju. Eotte?"

Perlahan, senyum tipis mengembang di bibir merah itu. Mengangguk lalu memeluk Yunho sebagai ucapan terima kasih. "Gumawo, Yunn.. Jeongmal gumawo."

"Cheonma." Yunho melepas pelukan mereka lalu bertanya, "Memang kapan tanggal audisinya?"

Jaejoong makin melebarkan senyumannya, "Besok."

"MWO?"

.

NOVEMBER WITH LOVE

.

Gedung tinggi dengan bagian depan bertuliskan 'SM ENTERTAINMENT' itu tampak berbeda dari hari biasanya. Pasalnya saat ini, agensi tersohor di Korea itu tengah mengadakan pencarian bakat untuk mengisi kursi kosong di SM Academy, sekolah swasta dengan semua jurusan seni terbaik di Korea. Sekolah itu juga telah mengorbitkan banyak artis yang tak hanya tenar di Negara mereka saja, bahkan sampai ada yang sukses di Negara lain.

Lobi gedung itu kini hampir penuh karena banyaknya para peserta yang datang silih berganti. Banyak di antara mereka yang tampak berpenampilan sewajarnya namun ada juga beberapa yang memakai pakaian bagus. Di sudut-sudut ruangan juga ada beberapa orang yang berlatih sembari menunggu giliran tampil. Tapi sepertinya waktu yang terlalu singkat itu tak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh kedua tokoh utama kita. Mereka terlalu gugup barang untuk bergerak saja di antara ribuan orang yang tampak lebih mahir daripada mereka. Beruntung nomor urut mereka masih jauh jadi mereka memanfaatkan untuk menata mental dan sedikit latihan. Dengan resiko menunggu lama tentu.

Hingga berjam-jam kemudian, tibalah saatnya Yunho dan Jaejoong untuk menampilkan yang terbaik. Meski dengan jantung berdegup kencang, kedua namja itu tetap mencoba untuk mengendalikan diri. Ketika mereka tiba di ruang audisi, dilihatnya empat orang juri dengan berbagai variasi usia. Ada dua orang namja paruh baya, seorang namja muda, dan seorang yeoja muda ─yang kalau tidak salah ia adalah salah satu artis SM Ent. Keempat juri tampak kurang ramah karena sedari YunJae masuk, mereka hanya diam dan tak merespon perkenalan YunJae.

"Annyeonghaseo…. Naneun Kim Jaejoong imnida…." Sapa Jaejoong sambil membungkuk dan tersenyum ramah.

Begitu pun Yunho melakukan yang hal yang sama, memperkenalkan diri sambil membungkuk hormat, "Annyeonghaseo… Naneun Jung Yunho imnida…."

"…"

Yunho dan Jaejoong saling berpandangan lama. Seolah saling bertanya apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Tak lama sebuah suara terdengar mengejutkan keduanya.

"Apa yang kalian lakukan di sini? Jika ingin audisi, cepat tunjukkan kemampuan kalian, eoh!" bentak salah satu namja paruh baya yang sudah memasang wajah garang.

Baik Yunho maupun Jaejoong segera menelan ludah. Mental langsung jatuh, tentu. Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa mundur lagi. Keduanya berpandangan lalu mengatur nafas sesaat. Kemudian mulai bersenandung…

skip time

Hening beberapa menit lamanya….

Para juri sedang sibuk berdiskusi ─entah apa itu─ yang justru membuat Yunho dan Jaejoong semakin gugup. Keduang berdiri berdampingan sambil meremas tangan masing-masing. Keringat dingin juga mulai meluncur dari dahi mereka. Mungkin karena terlalu gugup.

Seorang namja paruh baya lain akhirnya mau membuka suara, "Baiklah. Jadi, kau adalah Kim Jaejoong dan Jung Yunho?" tanyanya memastikan sambil menatap keduanya bergantian.

Yunho dan Jaejoong hanya dapat mengangguk sambil menjawab lirih, "Ne."

"Kalau boleh tahu, apa hubungan kalian?" namja paruh baya itu menatap penuh selidik pada kedua namja muda di hadapannya.

Yunho dan Jaejoong tentu saja bingung dan mereka hanya mampu saling melempar pandang hingga Yunho menjawab, "Kami teman baik."

"Hmm, baiklah." Katanya pasrah. Namja paruh baya itu menangkupkan kedua telapak tangannya lalu menumpukan dagu di atasnya. "Sebenarnya kami suka suara kalian. Suara kalian bagus. Masing-masing mempunyai karakter. Dari segi perawakan juga bagus. Tapi sayang sekali, kami hanya punya sisa satu kursi untuk siswa beasiswa. Jika kalian berdua ingin tetap maju bersama tentu saja kalian harus mengorbankan salah satunya untuk membayar biaya training." Namja paruh baya itu mengambil sebuah kertas di depannya. "Sedangkan di berkas pendaftaran kalian menyebutkan bahwa kalian tinggal bersama dan tidak memiliki kerabat, begitu?"

Yunho dan Jaejoong mengangguk.

"Karena kalian teman baik, kami ingin mempertimbangkan siapa di antara kalian yang akan menerima beasiswa itu." lanjutnya kemudian.

Sementara itu, Jaejoong tampak terkejut dengan pernyataan juri, berbeda dengan Yunho yang tampak tenang-tenang saja.

"J-jeosonghamnida_"

"Aku mundur."

Jaejoong menolehkan wajahnya ke arah Yunho. Menatap tak percaya pada namja tampan itu. baru saja Jaejoong hendak mengundurkan diri tapi ia kalah cepat dengan Yunho. Sementara juri di depan mereka tampak tersenyum mencurigakan.

Yunho balas menghadap Jaejoong. "Kita sudah memperkirakannya seperti ini, kan? Dan bukankah kau juga sudah berjanji jika hanya ada satu yang mendapat beasiswa maka dia adalah kau, Jae."

"Tapi_"

"Aku tahu, Jae. Mimpimu berhak kau raih. Mungkin ini bukanlah jalanku. Beasiswa itu…kau saja yang ambil." Potong Yunho sambil tersenyum pada Jaejoong, berusaha meyakinkan Jaejoong akan keputusannya.

"Aniya! Aku tidak akan menerima beasiswa itu jika kau tidak masuk juga, Yunho!" tolak Jaejoong menatap tajam Yunho.

Sekali lagi, Yunho tersenyum lembut, "Tidak, Jae. Kau harus menerima beasiswa itu."

"Tapi_"

Yunho berbalik menatap para juri lalu membungkuk hormat, "Baiklah, biarkan saya yang mundur. Saya tidak akan menghalangi mimpi teman saya jadi saya harap Anda sekalian bisa mendidiknya hingga sukses." Yunho tersenyum lagi, "Saya permisi."

Tanpa banyak kata, Yunho beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Jaejoong yang menatap punggungnya sedih.

Hingga sebuah suara menyadarkannya, "Jadi, Kim Jaejoong, apakah kamu akan menerima beasiswa itu?"

.

NOVEMBER WITH LOVE

.

Memang di cuaca terik sangatlah nyaman apabila kita menikmati hembusan angin di tempat yang banyak pepohonan. Di taman misalnya. Di tempat itulah seorang namja tengah terduduk di salah satu bangku taman, menenangkan diri. Mata tajamnya terpejam dengan kepala di tengadahkan menatap langit biru. Ia sedang memikirkan nasibnya dan teman seperjuangannya. Ini kali pertama mereka harus terpisah. Mereka hanya tinggal berdua tanpa sanak saudara, jadi wajar bukan jika mereka dekat?

"Yunho? Jung Yunho?"

Merasa namanya dipanggil, namja bermata musang itu segera menegakkan tubuhnya. Menengok ke arah datangnya suara dan menemukan seorang namja berwajah kekanakan ─yang cukup familiar baginya. Beberapa tahun tidak bertemu dengan namja itu sepertinya membuatnya harus membongkar ingatannya tentang nama namja itu.

Begitu menyadari siapa namja di depannya, Yunho melebarkan matanya tak percaya.

"J-junsu?"

Bukannya menjawab, namja imut itu segera duduk di samping Yunho dan memeluk namja bermata musang itu.

"Bogoshippo, Yunho hyung…" katanya sambil tersenyum.

.

NOVEMBER WITH LOVE

.

Ini kedua kalinya suasana apartemen yang ditinggali kedua namja itu terasa sepi. Kalau dulu karena Jaejoong yang ragu untuk mengajak Yunho ikut audisi, tapi kini adalah beasiswa dari audisi itu. Jaejoong hanya diam saja pagi ini, ia merasa tak enak hati karena kejadian kemarin. Ia tak bisa begitu saja menerima beasiswa dari akademi karena ia merasa perlu merundingkannya lagi dengan Yunho. Alhasil, ia kemarin hanya berhasil membawa berkas-berkas tawaran beasiswa bukan kontrak beasiswa. Ia benar-benar membutuhkan Yunho. Tapi sayang, sedari kemarin, sepulang dari audisi, ia tidak menemukan Yunho. Atau lebih tepatnya mereka belum bisa bicara serius.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu diketuk seolah menyadarkan Jaejoong dari dunianya. Ia segera meletakkan pisau yang dibawanya dan mencuci tangan. Saat ia berbalik, ia melihat Yunho berjalan lurus di depannya, sepertinya hndak membuka pintu. Membuat Jaejoong hanya bisa menghela nafas.

Sementara itu, Yunho memegang engsel pintu dan memutarnya. Dilihatnya seorang namja yang baru ditemuinya kemarin, tengah berdiri sambil tersenyum ramah padanya. "Annyeong, Yunho hyung…"

"Junsu? Bagaimana bisa kau tahu alamat apartemenku?" tanya Yunho setengah terkejut. Pasalnya kemarin ia berpisah dengan Junsu di taman.

Junsu tersenyum tanpa dosa lalu menggaruk belakang kepalanya, "Sebenarnya, aku mengikuti Hyung kemarin."

"Mwo?"

"Yah! Apakah aku tidak boleh mengetahui alamat Hyung?" pekik Junsu yang merasa Yunho tidak suka dengan aksinya kemarin.

"Bukan begitu." ujar Yunho sambil menggeleng pelan. "Caramu itu salah. Kau kan bisa menanyaiku?"

Junsu mengerucutkan bibirnya sebal, "Bagaimana mungkin aku menanyaimu jika kemarin saja pikiranmu tidak sedang bersama ragamu."

Yunho tersentak. Ia tidak sadar jika kemarin ia tidak bisa menikmati pertemuannya dengan Junsu karena memikirkan hasil audisi. Tapi, apakah sebegitu terlihatnya?

"Siapa, Yunn? Kenapa tidak disuruh masuk? Eoh!" suara lain menyapa pendengaran Yunho. Begitu menoleh ke belakang, ia mendapati Jaejoong sedikit membungkuk pada Junsu lalu kembali berkata, "Annyeonghaseo…. Anda teman Yunho? Mari masuk."

Yunho masih diam di ambang pintu bahkan saat Junsu melewatinya dan masuk ke apartemennya.

"Yunn, kenapa bengong? Kajja, temani temanmu!" ajak Jaejoong sambil menarik Yunho setelah sebelumnya ia menutup pintu apartemen.

Saat sampai di ruang tamu, dilihatnya Junsu sudah duduk di salah satu sofa dan tengah menjelajahi isi apartemen itu dengan mata sipitnya. Baik Yunho dan Jaejoong segera duduk di sofa. Jaejoong di single sofa sedangkan Yunho di sebelah Junsu.

"Jadi, siapa namamu?" tanya Junsu dan Jaejoong bersamaan, membuat mereka tersenyum tipis. Berbeda dengan mereka, Yunho justru merasa tidak nyaman sekarang ini.

"Jae, dia_"

"Annyeong… namaku Kim Junsu. Aku teman Yunho saat di yayasan dulu." Ucap Junsu memotong kalimat Yunho.

"Jinjja? Kalian berkenalan di yayasan? Aku juga penghuni yayasan yang sama dengan Yunho tapi aku tidak tahu siapa kau?" cerocos Jaejoong penasaran. "Ah! Namaku Kim Jaejoong."

"Jae, Junsu ini adalah anak donator utama yayasan kita dulu." Tambah Yunho sambil menatap Jaejoong dan Junsu bergantian. "Dia bilang, dia tidak pernah ikut keluarganya berkunjung ke yayasan sebelumnya dan kebetulan sekalinya datang ia bertemu denganku. Dialah teman pertamaku, Jae." Jelas Yunho lalu menatap Junsu. "Tapi sayang, setelah itu ia tidak pernah berkunjung ke yayasan lagi."

"Yah! Yunho hyung! Bukankah aku sudah bilang kemarin. Aku disekolahkan keluargaku di Amerika dan aku tidak bisa menolak keinginan mereka." Teriak Junsu yang tidak terima disalahkan oleh Yunho.

"Iya, tapi bukan berarti kau pergi tanpa kabar, kan?" ejek Yunho sambil tersenyum, membuat Junsu segera menundukkan wajahnya.

Jaejoong ikut tersenyum mendengar gurauan keduanya. Diliriknya Junsu yang masih menunduk dan tak sengaja mata bulatnya menangkap semu merah di pipi chubby namja itu. Membuat namja cantik itu sedikit merasakan detakan tak nyaman di jantungnya.

"Jadi, apa yang membawamu kemari, Junsu-ah?" tanya Jaejoong membuka pembicaraan lagi. Sebenarnya ia cukup penasaran dengan hubungan namja bermata sipit itu dengan Yunho. Apakah sangat dekat?

Junsu mengangkat kepalanya, membuat Jaejoong melihat sisa semu merah di pipi namja itu. lalu mengeluarkan sesuatu dari tas ransel yang dibawanya. Sebuah map coklat ia sodorkan ke arah Yunho. "Ini."

"Apa ini?" tanya Yunho sambil mengambil map itu dan membukanya pelan.

"Itu beasiswa dari SM Academy."

"Mwo?"

"Kemarin kita bertemu tak jauh dari gedung SM, kan? Kupikir kau menjadi salah satu pesertanya tapi kau tidak lulus karena masalah biaya, dilihat dari wajah jelekmu kemarin, Hyung…" jelas Junsu. "Kupikir aku bisa membantumu karena aku tidak terlalu membutuhkannya."

"Tapi Junsu_"

"Sudahlah, ambil saja. Aku yakin kau lebih membutuhkannya daripada aku. Lagipula orangtuaku masih mampu membiayai sekolahku kok." Lagi-lagi Junsu memotong kalimat Yunho yang hendak menolak pemberiannya. "Hei, Hyung, rejeki itu harus diterima loh… eu kyang kyang…"

Keduanya masih terlibat pembicaraan yang serius, mengabaikan seorang namja lain yang sedari tadi duduk tak nyaman. Karena sudah tak betah, ia bangkit dari duduknya dan berbalik hendak pergi.

"Jae," panggil Yunho, "kau mau ke mana?"

Jaejoong menolehkan wajahnya lalu tersenyum, "Aku akan melanjutkan membuat sarapan. Junsu-ah, makanlah di sini dan aku tidak menerima penolakan, ne?" tanpa menunggu jawaban dari siapa pun, Jaejoong berjalan meninggalkan ruang tamu. Beranjak ke dapur dan menutup tirai pembatas antara ruang tamu dan dapur ─yang disiapkan jika ada tamu.

Yunho masih menatap dapur yang tertutup itu, sedikit merasa tak enak pada Jaejoong karena sudah mengabaikannya. Dan lagi, ia merasa ada yang tidak beres dengan sikap Jaejoong hari ini. apa karena kemarin?

"Yunh_"

"Mian, Junsu-ah. Tunggulah di sini, aku akan membantu Jaejoong untuk menyiapkan sarapan untuk kita." Kata Yunho sambil berdiri dan segera beranjak ke dapur. Meninggalkan Junsu yang tak percaya diperlakukan seperti itu.

Sementara itu di dapur, Jaejoong menatap kosong pisau di tangannya. Ia hanya membeku di tempat, entah memikirkan apa. Bahkan hingga seorang namja lain masuk ke dapur dan berdiri di sampingnya, ia tak menyadarinya.

Tak!

Yunho mematikan kompor yang memanaskan sepanci deokbokki. Diliriknya Jaejoong yang juga tengah menatapnya kaget. Tapi namja cantik itu segera menutupi ekspresinya dan bergegas melanjutkan acara memotong sayurannya.

"Jae, berhentilah. Aku rasa sayurannya sudah cukup ini saja." Pinta Yunho sambil melirik isi panic deokbokki yang baru saja matang.

Tapi Jaejoong tak peduli dan terus melanjutkan kegiatannya. Pura-pura tak dengar. Dan hal itu tentu saja membuat Yunho tak suka, ia terbiasa dengan Jaejoong yang selalu berceloteh, bukan dengan Jaejoong yang pendiam.

Yunho meraih tangan kanan Jaejoong dan menariknya hingga pisau yang dipegang Jaejoong terjatuh.

"Yun_"

Grep!

Deg! Deg! Deg!

Mata bulat itu terbelalak kaget. Yunho memeluknya? Eoh?

Sreeek!

"Omo!" suara pekikan seolah menyadarkan keduanya. Segera mereka melepaskan pelukan dan merapikan diri dengan canggung. Lalu melirik takut-takut kea rah Junsu yang membulatkan mata sipitnya.

"J-junsu…. Ini tidak seperti..yang kau pikirkan." Ucap Yunho terbata sambil menatap Junsu.

Bukannya marah, Junsu justru tersenyum lalu berkata. "Tak apa. Aku mengerti." Junsu menatap Jaejoong lalu kembali melanjutkan kalimatnya, "Mian, Hyung sepertinya aku tidak bisa makan di sini." Baik Yunho maupun Jaejoong menatap penuh tanya pada Junsu, "Appa-ku baru saja menelpon, dia bilang harus ada yang aku urus untuk kepindahanku."

Yunho dan Jaejoong hanya diam, tak mengerti atau terlalu canggung untuk menjawab. Membuat Junsu tersenyum kecut dalam hati.

Junsu berbalik lalu berkata, "Sampai ketemu di SM Academy, Yunho hyung!"

Tap! Tap! Tap!

Blam!

Junsu sudah pulang dan apartemen itu kembali sepi. Mungkin bukan sepi, lebih tepatnya canggung.

.

NOVEMBER WITH LOVE

.

22.46

Sisi kanan dan kiri meja makan itu, kedua namja itu masih diam. Bak patung sejak selesai makan malam. Tak ada perbincangan di antara mereka. Sepertinya efek kejadian tadi pagi masih terngiang di benak masing-masing. Padahal tadi saat di tempat kerja, keduanya terlihat baik-baik saja.

Jam masih berdetak kostan seakan menjadi lagu pengiring kesunyian bagi mereka. Seolah mereka begitu menikmati keheningan itu. masing-masing sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

"Yun!" / "Jae!" panggil keduanya bersamaan yang sukses membuat kedua mata berbeda bentuk itu saling menatap. Namun segera diputuskan secara bersamaan.

"Ehem! Kau duluan saja, Jae…" titah Yunho seakan mencoba menghancurkan kecanggungan yang akan terbentuk lagi.

"Ani. Kau saja yang duluan, Yun." Tolak Jaejoong sambil menatap Yunho.

Yunho balas menatap Jaejoong tapi tak segera menjawab. Namja tampan itu menghela nafasnya kasar lalu menundukkan wajahnya. "Jae, bagaimana…beasiswamu itu? K-kau sudah menandatangani kontraknya?" tanyanya sedikit gugup.

Jaejoong menatap Yunho pedih lalu menjawab, "Belum. Aku masih membaca kontraknya."

"Mwo?" Yunho menatap Jaejoong tak percaya. "Kenapa kau tidak langsung menerimanya saja, Jae? Bukankah itu impianmu, hm?"

Jaejoong menggeleng pelan. "Tidak bisa. Aku tidak bisa menerimanya jika kau tidak lolos juga. Aku ingin kita sekolah bersama. Kita membangun mimpi bersama dan aku tidak bisa senang di atas kesedihanmu, Yun."

"Hei, aku tidak sedih kok. Aku justru senang kalau kau menerima beasiswa itu, Jae…"

"Oh, ayolah, Yun… Aku tahu siapa dirimu. Aku tidak mengenalmu hanya satu atau dua hari tapi beberapa tahun, Yun. Aku tahu kau pasti sebenarnya kecewa, kan?"

Yunho menundukkan wajahnya. Apa yang dikatakan Jaejoong benar. Jika boleh jujur, sebenarnya ia juga kecewa dengan hasil audisi. Kenapa hanya ada satu di antara mereka yang harus lulus? Mengapa tidak keduanya? Memangnya jumlah beasiswa yang disediakan sudah habis, eoh?

Jaejoong mengamati Yunho yang sedang berpikir. Terbesit rasa bersalah karena ia telah membangkitkan kekecewaan Yunho tempo hari. Tapi apa mau dikata, namja di depannya itu selalu tak bisa jujur pada dirinya sendiri. Selalu menyembunyikan luka untuk dirinya sendiri. Setidaknya Jaejoong ingin Yunho berbagi sedikit isi kepalanya. Ia ingin menjadi orang yang berguna bagi Yunho.

"Lalu, bagaimana denganmu, Yun?" tanya Jaejoong yang ditanggapi kerutan di dahi Yunho saat namja bermata musang itu mendongakkan wajahnya, "Beasiswa dari Junsu. Apakah kau akan menerimanya?" jelas Jaejoong begitu memahami kebingungan Yunho.

Yunho menggeleng lemah. "Aku tidak tahu, Jae."

Hening kembali. Lagi-lagi denting jarum jamlah yang menjadi latar belakang kesunyian malam itu.

"Yun!" / "Jae!" lagi-lagi keduanya memanggil di waktu yang sama. Kali ini keduanya saling menatap lalu tersenyum lepas. Menertawakan diri mereka sendiri, eoh?

"Hahahaha! Kenapa hari ini kita sering mengatakan hal yang sama, eoh? Hahaha…."

"Ne, Yuunn… ini lucu."

Keduanya tertawa cukup lama hingga suara tawa itu menghilang dengan sendirinya.

"Hei, bagaimana kalau kita menerima kedua beasiswa itu?" celetuk Jaejoong setelah selesai menuntaskan tawanya. "Kau menerima beasiswa dari Junsu sedangkan aku akan menerima beasiswa dari akademi. Bukankah dengan begitu kita sama-sama bisa sekolah, eoh?"

Yunho berpikir sebentar lalu mengangguk pasti. "Boleh. Why not?"

Jaejoong tersenyum senang. Akhirnya ia masih bisa bersama dengan Yunho. Setidaknya untuk saat ini.

"Baiklah, sampai bertemu di kelas tari, Jae!" canda Yunho sambil bangkit dari duduknya.

Jaejoong mengernyitkan dahinya, "Eh? Kelas tari? Aku di kelas vokal, Yun."

"Eoh?" Yunho tampak terkejut. "Tapi, beasiswa dari Junsu itu ada di kelas tari."

Jaejoong menundukkan wajahnya. Ia sedikit kecewa pasalnya ia tidak bisa sekelas dengan Yunho. Memang ada beberapa kelas di akademi dengan pengelompokan berdasarkan jurusan seninya. Ada kelas, tari, kelas vokal, kelas drama, dan beberapa jurusan seni lainnya. Sayangnya mereka mereka harus berpisah kelas.

Puk!

Yunho mengusap rambut halus Jaejoong dan tersenyum simpul, "Tak apalah, Jae. Yang penting kita bisa sama-sama sekolah, kan? Kita masih bisa berangkat dan pulang bersama. Atau kalau perlu kita istirahat bersama." Hibur Yunho lalu menarik tangannya dari atas kepala Jaejoong. "Jja! Ini sudah malam. Ayo, tidur!"

Yunho segera beranjak dari tempatnya, berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Jaejoong yang mulai merasakan firasat tak baik lagi. Setelah berhasil menepis pikiran-pikiran buruk di benaknya, Jaejoong segera beranjak dari tempatnya. Masuk ke kamarnya lalu mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

.

.

TBC

.

.

Annyeong…. Chapter 2 dataaaaangggg!

*lambaikan tangan ke kamera*

Yosh! Seminggu menjelang UN, dalam rangka menghibur diri, aku menyempatkan diri untuk melanjutkan ff ini. dan jadilah seperti ini.

Mianhae, ne kalau mengecewakan, soalnya ini nggak sempet aku edit…

Peminat ff ini dikit ya? Gapapa deh, masih bagus ada yang baca, ne?

Sedikit itulah cuap-cuap dariku, Goodbye for Now~

*nyanyi bareng Changmin*

.

Last one, Review please!