Memory
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning: Misstypo, OOC, sinetron, gj, dll haha
Memory 3
.
.
"S-sakura-chan─" aku menatap Sakura bingung. Suasana di ruangan ini tampak terselimuti hawa dingin. Baik Sasuke, Sakura, maupun Gaara tetap diam. Siur-siur angin yang terasa dari AC di dindinglah yang terdengar selain suara mesin-mesin yang berbunyi sedari tadi. Jika saja aku boleh mengintip ke arah mata Sakura, aku yakin ada perasaan kesal, dan dengki di dalamnya saat menatap Sasuke. Ia terlihat berbeda. Sakura yang biasanya tersenyum di hadapanku kini menurunkan sudut bibirnya, tak ada lagi bibir yang terangkat ke atas seraya menatapku itu.
"Hinata, kenapa kau kemari?" Gaara yang tampaknya sudah sadar dari lamunannya, kini mendekat ke arah kami. Sakura sendiri segera melepas cengkraman tangannya dari kerah Sasuke dan segera ikut berjalan ke hadapanku.
"Aku.. ingin bertemu dengan Naruto. Hanya itu." jawabku ringan. Bagaimana lagi? Apa yang harus kulakukan jika aku bilang bahwa aku ini Naruto? Bagaimana caranya agar mereka percaya padaku?
"Hinata, kumohon─ Pergi dari tempat ini." mata emerald Sakura yang sayu melihat mataku tajam. Entah gerangan apa yang membuat mereka begini. Sebenarnya siapa diriku hingga membuat mereka melarang Hinata untuk bertemu diriku?
"Sesungguhnya, Naruto itu melakukan apa padaku?" tanyaku lugas. Aku mulai gerah dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus menumpuk di kepalaku ini.
"...Kau─ Naruto itu.." Sakura menundukkan kepalanya dalam. Ia lalu menolehkan kepalanya ke arah Gaara.
"Sakura─" Sasuke yang berdiri di belakang Sakura segera membuka suaranya. Kulihat mata onyx-nya yang menurunkan pandangan sang Uchiha. Kenapa?
"Hinata, apa kau sudah tahu tentang Naruto?"
A-apa-apaan mereka? Aku bukan Hinata! Mana kutahu! Kenapa mereka seakan memojokkanku?!
"A-aku bukan Hinata─" bisikku. "Aku ini Uzu─"
PIIIIII─IIP..PIIIIIIP─
"Apa itu?" ujarku kaget dengan suara nyaring di belakangku. Belum sempat aku menoleh, Gaara dan Sakura segera bergegas cepat dari tempatnya.
"Sakura! Kode darurat nomor 3!" seru Gaara kencang. Kenapa?
"Baik!" Sakura yang langsung mengambil telepon di sebelah kasur tampak terburu-buru. Kenapa? Apa yang terjadi pada tubuhku?
"Sakura, Kardiogenik! Panggil divisi Kardiologi secepatnya!"
"Eh?" Sakura menatap Gaara tak percaya. "Tapi"
"Cepatlah!"
"Ba-baik..."
Aku menatap keduanya takut. Kenapa dengan tubuhku? Kenapa Sakura bereaksi seperti itu?
"Keluarlah dulu" Sasuke yang awalnya juga kaget segera menarik lenganku untuk keluar dari ruangan tersebut yang mulai di datangi dokter dan para perawat lainnya.
.
.
.
"Kau baik-baik saja?" Sasuke yang menemaniku duduk di depan ruangan tadi memberiku segelas coklat panas yang dia beli di mini market. Aku hanya menerimanya mau tak mau. Tubuhku masih lemas melihat kejadian tadi. Suara mesin yang terus berbunyi dan kegelisahan Sakura serta Gaara membuatku takut mengulang kembali kejadian satu jam lalu.
"Sasuke-san, kenapa dengan Naruto?" tanyaku.
"...Entahlah. Apa kau sudah pernah dengar penyebab dia seperti itu?"
"Ah, ya.. dari Gaara-san." jawabku mengingat ucapan Gaara tempo hari. Ia mengatakan bahwa aku adalah pasien kecelakaan darurat yang kondisinya parah.
"Mungkin karena kecelakaan itu. Tapi, kami semua tetap saja berkata 'masih untung dia tetap hidup'. Yah, manusia 'kan selalu seperti itu." balas Sasuke sedikit malas-malasan. Ia menyeruput kopi di tangannya dan kembali diam. Si Uchiha yang satu ini memang selalu begitu. Diam dan hanya menatap lurus kedepan tanpa ada rasa ingin bicara denganku.
"A-ano, menurutmu..mi-misalnya loh, ya. Ji-jika Naruto itu berada di tubuh lain, kau akan bagaimana?" tanyaku gagap. Akhirnya kukeluarkan juga kata-kata ini meski kulihat pandangan Sasuke mulai aneh mendengarnya.
"Tapi dalamnya tetap Naruto, 'kan? Yah aku akan tetap berteman dengannya." jawabnya membuatku langsung ingin meloncat senang jika saja dia tak disini.
"Anu, sebenarnya aku ini─"
"Tapi itu tidak mungkin, 'kan? Mustahil." lanjut Sasuke lagi tegas. Diriku yang ingin meloncat rasa-rasanya ingin langsung terjatuh dari tebing tertinggi mendengarnya.
"Be-benar juga" dengan tawa kecil aku menyesali perkataanku barusan.
Baru saja bicara begitu, tiba-tiba pintu ruangan di depanku terbuka lebar. Para perawat yang awalnya di dalam segera keluar bersamaan Gaara dan Sakura. Rona wajah mereka lebih cerah dibanding barusan. Tampaknya tidak terjadi apa-apa pada tubuhku.
"Gaara, bagaimana?" tanya Sasuke segera bangkit dari duduknya.
"...Dia tidak apa-apa. Hanya saja jantungnya tadi tidak memompa dengan baik hingga seperti itu."
"Dan lagi, Sasuke pasti akan senang mendengarnya!" Sakura tersenyum gembira. "Naruto sudah siuman! Tapi dia kembali tidur setelah bicara dengan kami. Aku baru mau menghubungi keluarganya sekarang."
"HEE─!?" Seruku kencang. Bangun? Tubuhku sudah siuman? Kenapa? Bagaimana bisa dia bangun sementara aku masih ada di sini?
"Kenapa, Hinata?" tanya Sakura yang kaget akan teriakkanku barusan.
"T-tidak mungkin─! Aku ingin bertemu dengannya! Kumohon!"
"Tidak bisa." balas Gaara dingin. Ia menatapku dari atas, seakan memojokkan diriku dengan mata emerald-nya tersebut.
"Kenapa? Aku ini─"
"Kau akan membuatnya drop lagi." tanpa menggubris balasanku, Gaara segera berjalan meninggalkan kami bertiga.
"Ah, Sakura-chan! Kumohon─"
"Aku juga berpikir lebih baik kalian belum bertemu dulu. Maaf, Hinata." Sakura yang seakan ingin melarikan diri dari topik ini segera berjalan, mengikuti Gaara memasuki ruang perawat. Mereka berdua terlihat sangat enggan membuatku bertemu dengan diriku sendiri. Kenapa dengan otak mereka?!
"Kalau begitu, aku pulang duluan." Sasuke yang sedari tadi diam, melangkahkan kakinya. Tidak, dia harapan terakhirku.
"Sasuke-san!"
"Hn?"
"Aku ini Uzumaki Naruto─!" seruku kencang. Ia tidak terlihat kaget, tetap memasang wajah angkuh dan dinginnya itu dimataku.
"O,ya?"
"A-aku serius, Sasuke-san!" dengan langkah kecil aku berjalan ke hadapan Sasuke dan menatapnya tajam.
"...Oh." setelah berkata begitu dengan nada datar, Sasuke kembali berjalan. Ia tidak percaya!
"Sasuke-san!" lagi-lagi aku mengejar dirinya dan ikut berjalan di sampingnya. "Kumohon, aku Naruto! Aku tidak ingat apapun, tapi aku yakin aku ini Naruto. Aku tidak mengenal siapa Hinata dan lagi aku─"
"Hentikan." Sasuke menghentikkan langkahnya. "Kau─ mau sampai kapan membuatku begini?"
"Eh?"
Suasana RS yang sunyi membuatku ikut terdiam. Sasuke sendiri tak lagi bicara, Ia menatapku dengan mata onyx miliknya yang memancarkan sinar kelam di dalamnya. Beda dengan sebelumnya, entah kenapa hatiku sakit melihat raut wajahnya yang terpantul di bola mata milikku.
.
.
"Sasuke-san?"
"Sudah cukup." Sasuke yang menundukkan kepalanya, segera memasukkan tangannya ke kantung celana dan menunjukkan sebuah cincin di depan mataku. "Pada akhirnya, meski kau lupa ingatan sekalipun, di kepalamu hanya ada Naruto."
Dengan segera Sasuke melempar cincin di tangannya kencang hingga cincin tersebut terpental jauh di lorong Rumah Sakit. Aku yang melihatnya hanya terpaku. Kenapa? Apa maksudnya? Cincin itu─
"Kau.. Tunangan Hinata?" tanyaku tak percaya.
"...Apa maksudmu? Kau ini Hinata! Ada apa dengan kepalamu?!" seru Sasuke seraya mengguncang tubuhku dengan tangannya yang Ia eratkan di kedua pundak kecil ini.
"Itte─!" spontan, aku segera teriak kecil.
Ah.
"..Maaf." Sasuke melepaskan cengkramannya dan segera pergi dari tempat Ia berdiri. Meninggalkanku yang masih shock.
Aku tidak mengerti. Sebenarnya siapa aku? Naruto? Hinata? Yang mana? Aku yakin aku ini Naruto, tapi sejenak saat tubuhku terasa sakit, aku menyadari betapa lemahnya tubuh ini. Aku perempuan. Hanya satu kalimat itu yang langsung terpikir. Jadi, aku ini siapa?
Mual.
Kepalaku terasa terombang-ambing, rasanya hatiku ikut sakit bersamaan dengan pemandangan yang mulai gelap di mataku.
.
.
.
Normal PoV
"Dia terkena trauma berat. Kurasa hal itulah yang membuatnya berpikir bahwa dia orang lain. Bisa jadi, karena kepalanya terlalu memikirkan orang tersebut, hingga lambat laun otaknya mencerna dan memfungsikan dirinya sebagai orang lain. Sampai Ia sadar sendiri, barulah dia bisa mengenal siapa dirinya. Kira-kira, trauma apa yang membuat gadis itu sampai seperti ini?" tanya seorang Dokter dengan name tag 'Tsunade' di jas putihnya.
"..."
"Ah, kalau kau tidak mau menceritakannya, aku tidak akan memaksamu." wanita bertubuh subur itu tersenyum simpul dan mengambil sebuah berkas di mejanya. "Ini rekam medisnya. Tidak ada yang salah pada tubuhnya, hanya kelelahan dan kurang asupan vitamin. Karena itu dia pingsan. Apa kau keluarganya?"
"..Iya, aku tunangannya." jawab lelaki berambut hitam kelam yang duduk di depan dokter tersebut.
"Hee─Apakah berat memiliki tunangan yang lupa ingatan? Pasti sangat sedih, 'kan?" Tsunade tertawa kecil.
"Tidak juga. Toh, ingatannya tentangku tak sebanyak itu." jawab lelaki tersebut. "Ngomong-ngomong, kepalanya baik-baik saja? Tadi dia terjatuh cukup keras, aku─"
"Tidak apa, untung kau langsung memanggil suster. Tapi ada goresan di kepalanya, tidak apa?"
"─ya."
"Baiklah, Uchiha-san. Hinata bisa pulang besok, atau kau mau dia pulang sekarang saat siuman?"
"Tidak, biarkan dia istirahat dulu disini. Terimakasih banyak." Sasuke lalu ikut berdiri bersama Tsunade dan keluar dari ruangannya. Sasuke lalu menatap ruangan didepannya, kamar tempat dimana Hinata berada sekarang. Dengan langkah berat, Sasuke menatap Hinata melalui kaca kecil di pintu. Gadis itu masih belum siuman hingga sekarang. Tak mau mengganggu lagi, Sasuke lalu bergegas keluar meninggalkan Rumah Sakit.
.
.
"Hei, Hinata. Aku.. Mungkin suka padamu."
"E-eh? Su-sungguh?"
"Besok! Mau pergi denganku? Kita jalan bersama. Lagipula, minggu depan sudah upacara kelulusan. Kita buat kenang di masa SMA ini." lelaki berambut pirang itu tersenyum lebar.
"Ah, baik! Terimakasih, Naruto-kun." dengan senyum manis aku menatapnya senang.
.
.
1 jam,
2 jam,
sudah lebih dari 3 jam dan Naruto belum datang juga di tempat janjian. Padahal aku sudah membeli sebuah dress mahal yang kupikir cocok untukku kemarin. Kugulung rambutku dan menata wajahku dengan make-up yang belum pernah kusentuh. Pagi-pagi aku bangun 2 jam lebih cepat untuk bersiap. Kubuatkan bento yang kurasa Naruto akan menyukainya. Tapi tampaknya semua itu percuma. Dia tidak akan datang. Usahaku sia-sia, semuanya akan hancur berantakkan. Di tengah keramaian taman yang penuh dengan pasangan, aku tetap menunggu. Mungkin. Mungkin dia terkena macet, atau bangun kesiangan. Mungkin ada yang tertinggal. Mungkin, Mungkin─ Dia tidak akan datang.
"Hinata─!"
.
.
"Hinata, Hinata!" suara bising mulai menyambut telingaku saat aku membuka mata. Kulihat itu Sakura yang sedang berdiri di samping kasurku.
"Sakura-chan.."
"Syukurlah, kukira kau kenapa-kenapa lagi. Aku kaget sekali saat dengan dari Tsunade-sensei kau pingsan." Sakura tersenyum senang dan kembali duduk di bangku sebelah ranjang tempat aku terbaring.
"Anu, aku pingsan?" tanyaku pelan.
"Iya, kau kelelahan dan kurang vitamin." Sakura lalu mengambil sesuatu di atas meja dan menyerahkanku sebuah vitamin. "Makanlah, kau harus sehat kembali."
Aku mengangguk dan mengambilnya dari tangan Sakura. Kepalaku masih sakit. Aku masih bertanya-tanya, siapa diriku.
"Sakura-chan.."
"Hm? Ada apa?"
"..Kumohon, ijinkan aku menemui Naruto. Sekali saja, kumohon." tatapku ke arah Sakura yang terlihat kaget dengan perkataanku. Ia lalu melembutkan wajahnya dan menggenggam tanganku erat.
"Aku tahu kamu pasti akan sangat memaksanya. Baiklah, aku akan menemanimu. Naruto juga sudah siuman. Mungkin ini keajaiban kalian berdua akhirnya terbangun." Sakura tersenyum manis.
"Sakura-chan, terimakasih!" seruku senang sembari memeluknya erat.
.
.
TOK TOK
"Naruto, aku masuk, ya!" Sakura yang berada di depanku mulai membuka pintu geser berwarna putih itu dan menarikku masuk dengan perlahan. "Naruto, ini Hinata. Aku sudah cerita padamu, 'kan? Dia lupa ingatan."
Saat memasuki ruangan tersebut, kulihat banyak karangan bunga yang tersimpan di meja. Mataku juga langsung menuju ke arah Naruto. Dia sedikit kurus, mungkin karena Ia juga koma. Wajahnya yang kukira akan lemas, ternyata telihat berseri dan bersemangat. Dengan berani aku yang berada di belakang tubuh Sakura segera berjalan ke sampingnya.
"Hinata! Syukurlah, kau juga baik-baik saja. Aku sangat kaget mendengar kau koma."
"Bukankah itu juga berlaku untukmu, Naruto?" Sakura menatap Naruto dan tertawa kecil.
Jadi, dia Naruto. Itu artinya, selama ini aku sendiri yang berpikir bahwa aku ini dirinya? Tapi kenapa?
"A-apa kau Naruto? Uzumaki Naruto?" tanyaku penasaran. Naruto memandangku bingung, begitu pula dengan Sakura.
"..Iya! Aku Naruto. Salam kenal lagi, Hinata." Naruto itu tersenyum lebar.
"Apa hubunganku denganmu?" tanyaku polos. Aku benar-benar penasaran dengan yang satu ini. Baik Sakura dan Naruto terlihat melebarkan matanya, dan menatap bersamaan. Mungkin mereka menganggapku aneh, aku yakin itu.
"Ano, Hinata.. Bagaimana kalau kau bertanya lain kali? Naruto juga baru saja─"
"Tidak apa, Sakura-chan. Dia lupa ingatan, 'kan?" Naruto memotong ucapan Sakura dan menatapku serius. "Aku akan menceritakan apa yang kutahu dari sudut pandangku. Tapi semua itu kembali pada dirimu. Pada akhirnya, yang bebicara bukan ini." Naruto menunjuk kepalanya dengan telunjuk. "Tapi, yang ini, bukan?"
Naruto menunjuk dadanya dan tersenyum simpul. "Hatimu pasti tahu semuanya."
"Naruto-san.." Aku mengangguk dan membalas senyumannya. Aku lalu duduk di sebelah Sakura dan mulai mendengarkan Naruto yang masih duduk di atas ranjangnya.
"Hmm─ dari mana dulu, ya?"
"Bagaimana kalau dari kau hampir mengulang kelas, Naruto?" balas Sakura sedikit mengejek.
"Hei, yang itu malah harus dilewat, 'kan?" Naruto tertawa dan kembali menatapku. "Bagaimana kalau mulai dari saat kau pindah ke Sekolah kami, Hinata?"
"Ah, benar juga. Kata Neji-nii aku ini pindahan."
"Betul, kau pindahan. Saat pindah, kau memikat banyak orang. Kau berteman dengan banyak orang seperti Sakura, Ino, Tenten─"
"Ya, dan kau berteman dengan Naruto, Sasuke, dan Gaara juga. Kau punya banyak teman." sambung Sakura.
"Setelah mau kelulusan, mungkin dari situ masalah-masalahnya mulai terjadi, ya?"
"Masalah?"
"Ah, bukannya sombong! Tapi, kau pernah menyatakan cintamu padaku, dulu." Naruto tersenyum tanpa ada nada ejekkan sedikitpun.
"Be-begitu─"
"Ya, aku sangat berterimakasih dan senang saat itu. Karena─"
"Karena dia ini anak nakal, dan nilainya jelek. Sudah begitu wajahnya tidak tampan, karena itu dia berbunga-bunga saat kau menyatakannya, Hinata." lagi-lagi Sakura menyambungnya dengan tawa.
"Sakura-chan, bisakah kau membuatku terlihat cool? Setidaknya biarkan ingatan Hinata penuh dengan diriku yang keren." Naruto menatap Sakura sedikit kesal dengan candaan yang diselipkan pada raut wajahnya. Aku rasa-rasanya mengerti mengapa aku bisa menyukai Naruto ini.
"Lalu?"
"Lalu─" Naruto lalu mulai serius. "Kesalahanku, aku terlalu senang dengan pernyataanmu hingga tak memperhatikan sekeliling."
"Maksudmu?"
Naruto menatapku dan kembali menundukkan kepalanya. Ia tersenyum pahit dan mulai melanjtkan kalimatnya. Bukan dengan nada tinggi seperti sebelumnya, tetapi dengan nada rendah dalam suaranya.
.
.
"Aku tidak menyadari bahwa sahabatku sendiri menyukaimu lebih dari kau menyukaiku."
"Eh?"
"Mungkin itulah, awal mula semua kejadian ini."
.
.
TBC
Maaf ya untuk chapter ini lebih lama karena aku lagi sibuk-sibuknya
Semoga chapter depan lebih cepat ya!
Dan, akhirnya kalian udah tahu siapa tunangan Hinata kan? Maaf ya kalau nggak sesuai dengan keinginan kalian hehe
Jadi, di chapter ini ketahuan juga deh ditubuh Hinata itu adalah Hinata-nya sendiri.
Kira-kira trauma apa ya yang ngebuat Hinata mikir dia Naruto? /Belummikir/ /dilempar/
Chapter depan bakal bercerita tentang semua masa lalu Hinata. Itu artinya, akan berakhir.
Ya, Fic ini akan selesai di Chapter 5!
Semoga bisa terus lanjut sampai ending.
Silahkan di Review, review kalian sangat membantuku! hehe s
eneng sekali baca review-review dari kalian semua.
Terimakasih banyak sudah mereview!
Sampai ketemu di Chapter depan!
