Naruto duduk di bangku kelas homeroom-nya—kelas 2-1, menunggu bel pelajaran berbunyi. Kedua sikunya berada di atas meja dengan jari-jari tangannya bertautan. Bangku yang ia duduki terletak di bagian paling sudut belakang kelas—yang merupakan spot favoritnya. Mata birunya yang jernih menatap sekeliling kelas dengan bosan.

"Hey, Naruto." Salah satu dari teman laki-lakinya menyapa sambil menarik kursi di sebelah Naruto dan duduk di situ.

"Yo, Sai," balas Naruto dengan nada bosan.

Tidak lama setelahnya, salah satu temannya yang lain ikut bergabung, duduk berseberangan dengan Naruto. "Apa kau sudah dengar? Anak baru yang masuk sejak kemarin itu benar-benar seorang rebel," ucap Kiba sambil mencondongkan badannya di atas meja.

"Yeah. Aku sudah tahu," jawab Naruto sambil mengangguk. Ia memang sudah tahu tentang rumor kalau anak baru bermarga Uchiha tersebut membawa motor ke sekolah dan punya reputasi yang buruk. Ia juga sudah bertemu dengan pemuda itu kemarin. Naruto harus mengakui kalau siswa baru itu memang seorang badass.

Naruto mendengus saat mendengar banyak murid perempuan di kelasnya yang mulai menggosipkan nama Uchiha Sasuke. Uchiha yang memiliki wajah yang tampan dan tubuh yang bisa dibilang hot, itulah yang dibicarakan gadis-gadis dengan reaksi berlebihan tersebut.

"Sepertinya kita punya kelas yang sama dengannya," kata Sai dengan santai.

Naruto berpaling ke arah Sai. "Kelas apa?"

"Olahraga," sahut pemuda berkulit pucat tersebut. Tangannya kemudian menunjuk ke arah pintu, dimana seorang gadis berambut indigo panjang baru saja memasuki kelas. "Bahkan Hinata sepertinya tertarik pada anak baru itu."

"Apa maksudmu?" tanya Naruto dengan tatapan tak percaya. Tak mungkin sahabatnya yang pemalu itu menyukai seorang badboy.

Gaara yang baru saja bergabung dengan ketiganya menyahut. "Ada yang melihat mereka berdua di ruang latihan tari."

Naruto menampakkan ekspresi terkejut saat mendengarnya. Di ruang latihan tari, itu artinya Hinata sedang berlatih balet. Hinata tidak pernah membiarkan orang lain melihatnya saat sedang latihan, karena itu akan mengganggu konsentrasinya. Naruto bisa merasakan darahnya perlahan-lahan mendidih.

Jangan-jangan, karena itu kemarin Hinata membelanya?

Adegan saat si murid baru melempar bola tepat mengarah ke wajah Hinata muncul di benak Naruto. Hinata melarangnya untuk memberi pelajaran pada Uchiha Sasuke. Jelas-jelas ia melihat laki-laki chicken butt itu sengaja melakukannya, dan ia yakin Hinata juga tak bodoh sampai tidak menyadarinya. Dengan melihat tatapan yang Hinata berikan, ia bisa tahu kalau gadis itu tak ingin si Uchiha terluka.

Aku tak bisa membiarkan Hinata menyukai si brengsek itu.

Sebuah ide terlintas di pikiran pemuda dengan nama lengkap Namikaze Naruto tersebut. Bibir pemuda itu terangkat membentuk sebuah seringai licik. Teman-temannya duduk di sekitarnya hanya terdiam, berbahaya kalau Naruto sudah mengeluarkan seringai seperti itu.

"Sepertinya aku harus memperingatkan anak baru itu, siapa penguasa di sekolah ini."

.

.

Ballerina and the Beast

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing: SasuHina, NaruHina

Main chara: Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata, Namikaze Naruto, Yamanaka Ino

Genre: Romance, Hurt&comfort

Warning: AU, OOC, crackpair, typo, Language, dll.

Chapter 2

New Friend and Foe

.

.

Pagi yang cerah di Konoha dengan matahari yang bersinar memberikan cahaya dan panasnya. Tak heran kalau setiap orang terlihat bersemangat menjalani hari-hari mereka. Seharusnya begitu, tapi ada seseorang yang tampaknya tidak terpengaruh dengan kehangatan pagi ini. Baginya, setiap hari tak ada yang berbeda, selalu membosankan.

Uchiha Sasuke berjalan dengan langkah malas menuju lapangan olahraga. Sesekali pemuda yang memiliki mata onyx itu menguap, menandakan kalau semalam tidurnya tak terlalu nyenyak. Sekarang memang jadwalnya untuk olahraga—pelajaran yang takkan dilaluinya dengan membolos. Setidaknya, olahraga sedikit bisa mengurangi kebosanannya.

Memasuki lapangan olahraga outdoor, Sasuke melihat hampir semua murid yang mengambil kelas olahraga hari ini sudah berada di lapangan. Mereka terlihat sedang melakukan pemanasan. Ia memutar matanya bosan karena tak menemukan sesuatu yang menarik. Sasuke kemudian berjalan menuju barisan paling belakang.

Sasuke memulai pemanasan dengan meregangkan tangannya ke atas sambil mengedarkan pandangannya—meneliti setiap murid yang ada di lapangan. Kedua manik hitamnya kemudian terkunci pada sebuah obyek yang tak asing lagi. Gadis ballerina bermata pucat.

Sasuke lupa siapa namanya—karena menurutnya itu tak penting. Yang ia ingat, ballerina tersebut telah membuatnya kesal. Sasuke mengamati penampilan Hinata dari atas sampai ke bawah. Gadis itu mengenakan pakaian olahraga seperti yang lain, sebuah kaos dan celana sepanjang lutut. Rambutnya diikat tinggi, hingga Sasuke bisa melihat leher putihnya yang terekspos sempurna.

Well, she has a great body.

Sasuke mendecih. Fisik yang cukup mengangumkan dari gadis bermata lavender itu tak mengubah apapun di matanya. Gadis itu pasti tipikal gadis yang akhirnya akan bergelayut di lengannya dan merajuk untuk bisa menghabiskan one night stand bersamanya. Wajahnya memang innocent, tapi dalam hati tak seorang pun bisa tahu 'kan?

Suara peluit terdengar—membuat lamunan Sasuke buyar dan diikuti oleh teriakan Gai-sensei agar semua muridnya berkumpul. Ia mengumumkan kalau hari ini akan diadakan penilaian lari mengelilingi lapangan sepanjang 400 meter. Murid perempuan akan melakukan pengambilan nilai terlebih dahulu, sedangkan murid laki-laki akan menunggu di pinggir lapangan. Terdengar keluhan dari para siswa, namun Gai-sensei mengacuhkannya.

"Hinata, Tenten, Ino dan Sakura." Gai-sensei memanggil muridnya yang mendapat giliran pertama kali.

Keempat gadis dari kelas homeroom yang berbeda tersebut maju ke garis start. Beberapa murid laki-laki bersiul-siul, menggoda gadis-gadis popular tersebut.

Pertama adalah Haruno Sakura, merupakan gadis paling cantik di Konoha Gakuen sehingga tak heran banyak siswa yang menyukainya. Gadis itu memiliki rambut dengan wana pink yang tak lazim. Kedua adalah Yamanaka Ino, saingan Sakura. Ia memiliki wajah cantik dan juga menjadi salah satu anggota klub karate. Hubungannya dengan Sakura tak terlalu bagus, tapi Ino bersahabat dengan Hinata.

Ketiga adalah Mitsashi Tenten, anggota klub kendo sekaligus pacar Hyuuga Neji—salah satu cowok terpopular di sekolah. Dan terakhir adalah Hyuuga Hinata, ballerina manis yang menjadi kebanggaan sekolah. Walaupun Tenten adalah pacar sepupunya, tapi Hinata tak terlalu dekat dengan gadis yang masih berdarah China tersebut.

Gai-sensei meniup peluit, mengisyaratkan bahwa pengambilan nilai akan segera dimulai. Keempat gadis itu pun memposisikan diri dan bersiap. Gai-sensei berteriak dengan semangat, menghitung mundur mulai dari 3.

"3—2—1… GO!"

Bersamaan dengan bunyi peluit serta teriakan dari sensei pengampu pelajaran olahraga tersebut, keempat gadis itu langsung melesat maju. Hinata dan Tenten memimpin di depan. Ino berada tak terlalu jauh dari keduanya, sedangkan Sakura berada paling belakang. Gai-sensei meneriaki Sakura agar mengeluarkan semangat masa mudanya.

Gerakan berlari yang cepat membuat beberapa helai rambut Hinata melambai-lambai. Hinata belum mengeluarkan semua kemampuan berlarinya, karena gadis itu punya taktik tersendiri. Ia hanya berlari seperti biasa, tanpa merasa khawatir akan kalah. Ini memang bukan pertandingan.

Sekitar jarak 10 meter dari garis finish, Hinata berlari mendahului Tenten yang tadinya berada sedikit di depannya. Ia mendorong tubuhnya agar berlari lebih cepat, membuat jatungnya berdetak semakin kencang.

Sorakan terdengar begitu Hinata melampaui garis finish. Bunyi peluit terdengar lagi, menandakan giliran pertama selesai. Hinata terlihat terengah-engah. Gadis itu langsung duduk di pinggir lapangan dengan kedua kakinya ia luruskan ke depan.

Sasuke tak melepaskan pandangan sedikit pun dari Hinata. Ia sedikit heran dibuatnya, tak menyangka kalau gadis ballerina yang terlihat lemah itu bisa berlari dengan cepat. Beberapa siswa di sekitar Sasuke terdengar memuji gadis berambut indigo yang sementara bisa memecahkan rekor tersebut.

Jadi namanya Hinata, huh?

B&B

Butuh waktu sekitar 45 menit untuk menyelesaikan giliran murid-murid perempuan melakukan pengambilan nilai. Sasuke yang bosan bahkan sampai tertidur karena tak ada pemandangan yang menarik.

Peluit Maito Gai berbunyi lagi dengan melengking. Guru yang memiliki rambut model bowl cut tersebut berteriak penuh semangat—menyuruh murid-murid laki-laki untuk berkumpul.

Dengan langkah malas Sasuke berjalan menuju tengah lapangan. Kedua tangannya ia masukkan dalam celana. Gai-sensei yang melihatnya langsung menyuruhnya mengobarkan semangat masa muda, yang hanya ditanggapi Sasuke dengan tatapan aneh.

"Putaran pertama. Sabaku Gaara, Inuzuka Kiba, Namikaze Naruto dan—Uchiha Sasuke." Gai-sensei kembali mengumumkan.

Sasuke mendengus saat menyadari seseorang yang ingin menghajarnya kemarin kini berdiri tak jauh darinya. Murid bernama Namikaze Naruto—Sasuke bisa tahu karena pemuda itu menaikkan tangannya saat namanya disebut. Pandangan mereka bertemu, dan Sasuke langsung tahu kalau si rambut kuning tersebut menatapnya dengan rasa tidak suka. Ia juga bisa melihat sekilas saat Naruto membisikkan sesuatu ke telinga si rambut merah yang kemudian menatap ke arahnya.

"Chicken butt," desis Naruto saat Sasuke melewatinya. Mata elang Sasuke langsung menatap Naruto tajam, namun belum sempat ia membalas Gai-sensei sudah menginterupsi.

"Semua bersiap!" perintahnya dengan suara lantang. Mau tak mau Sasuke harus menahan keinginannya untuk meninju si rambut kuning itu.

Setelah melihat semua dalam posisi bersiap, Gai-sensei mulai menghitung mundur. "3—"

Sasuke mengambil posisi, dari sudut matanya ia melihat Naruto yang kebetulan di sampingnya sedang menatapnya sambil menyeringai.

"2—"

Kedua manik hitam Sasuke membalas tatapan Naruto dengan dingin. Dari awal bertemu ia sudah tak suka dengan pemuda itu.

"1—"

Sasuke menggumamkan sebuah kata yang membuat Namikaze Naruto mendecih kesal.

"Fuck!"

"GO!"

Naruto melesat lebih dulu, diikuti Sasuke dan Gaara dalam waktu yang hampir bersamaan. Sasuke sedikit terkejut menyadari kalau ia tidak berada di garis depan. Di sekolah-sekolah sebelumnya, tak ada satu pun yang pernah mengalahkannya dalam olahraga. Sasuke menyeringai. Sepertinya sekolah ini tak terlalu membosankan, pikirnya dalam hati.

Sasuke mempercepat larinya hingga melewati Naruto. Ia berada di garis paling depan sekarang. Di belakangnya terdengar Naruto yang menggerutu dan mengumpatnya.

Hinata yang menyaksikan dari pinggir lapangan membelalakkan mata. Belum pernah ada yang mengalahkan Naruto sampai sekarang. Pemuda itu terkenal bisa berlari dengan sangat cepat sampai dijuluki yellow flash.

Sasuke menengok ke belakang. Naruto sedang menatapnya dengan sangat tajam, sepertinya pemuda itu kesal. Jarak keduanya memang tak terlalu jauh. Tiba-tiba Sasuke memperlambat larinya, hingga sejajar dengan Naruto. Seringai licik makin tampak di wajah tampannya.

Rasakan!

Seringainya makin lebar bersamaan dengan tangan Sasuke yang bergerak cepat menghantam perut Naruto. Tapi seringai itu berubah menjadi ekspresi terkejut saat Naruto menangkisnya dan balik menghantam perutnya. Sasuke tak sempat menghindar.

BUAGH!

Secepat kilat, Naruto menambahi dengan tinjuan di wajah Sasuke hingga pemuda itu jatuh tersungkur.

Suara pekikan kaget terdengar dari kerumunan murid-murid yang menonton di pinggir lapangan. Semuanya tampak menahan nafas, kaget dengan kejadian tak biasa itu, namun juga tak sabar menantikan apa yang terjadi selanjutnya.

"Brengsek! Apa masalahmu, hah?" Naruto meraih dengan kasar bagian depan kaos olahraga Sasuke, bersiap memukul lagi.

"Berhenti! Tak ada yang boleh membuat keributan di kelasku!" Gai-sensei berteriak sambil menghampiri keduanya. Pengambilan nilai otomatis terhenti karena kejadian tersebut.

"Dia yang duluan memukulku, Sensei!" protes Naruto.

Dengan kasar Sasuke melepaskan cengkraman tangan Naruto di bajunya. Sial. Ia tak menyangka pemuda rambut kuning itu akan mengembalikan serangannya. Masih dalam posisi jatuhnya, Sasuke memandang Naruto dengan tatapan penuh kebencian. Pandangannya tiba-tiba terhalangi oleh sesosok gadis yang kini mengulurkan ke arahnya.

Tsk. Dia lagi.

"Mau apa?" tanyanya kasar. Hinata yang masih mengulurkan tangannya hanya tersenyum menanggapi kegalakan Sasuke.

"Tentu saja membantumu. Kau terluka 'kan? Kau harus segera diobati," kata Hinata lembut.

Naruto menarik tangan Hinata, menjauhkan gadis itu dari Sasuke. "Hinata! Jangan dekat-dekat orang berbahaya seperti dia."

Hinata menggeleng. "Tapi Naruto-kun, Uchiha-san sedang terluka. Dia harus diobati." Hinata melepaskan pegangan Naruto dan kembali menghampiri Sasuke. Pemuda berambut kuning tersebut hanya mampu memandang Hinata dengan kecewa.

Sasuke menyeringai. Dari adegan itu, ia bisa tahu apa kelemahan seorang Naruto. Ia tak bisa menyiakan kesempatan ini. Naruto sudah membuatnya malu di depan umum.

"Kalau begitu, bawa aku ke klinik kesehatan." Ucapan Sasuke membuat Hinata langsung tersenyum.

"Baik." Hinata langsung membantu pemuda berambut raven itu berdiri.

Saat berjalan menyeberangi lapangan untuk mencapai klinik kesehatan, Sasuke menyempatkan menoleh pada Naruto yang ternyata masih menatapnya sinis. Seringai sekali lagi menghiasi wajahnya, yang langsung membuat Naruto semakin memelototinya.

B&B

Sepanjang perjalanan menuju ke klinik kesehatan yang letaknya lumayan jauh dari lapangan olahraga dilalui Sasuke dan Hinata dalam diam. Pemuda itu berwajah stoic-nya seperti biasa.

"Sepertinya klinik sedang kosong. Tapi aku bisa kok, mengobatimu," ujar Hinata saat melihat tak ada petugas yang berjaga di ruang kesehatan.

"Minggir!" Tiba-tiba Sasuke mendorong tubuh Hinata agar menyingkir. Hinata menatapnya dengan heran.

"Tunggu. Katanya—kau mau diobati." Gadis itu langsung menahan lengan Sasuke.

Sasuke menatap Hinata sesaat lalu pandangannya kembali lurus ke depan. "Kaupikir luka sekecil ini harus butuh diobati? Aku mau ke sini karena ingin membuat si rambut kuning itu kesal."

"Naruto?" tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya—berusaha melihat wajah Sasuke.

"Aku tak peduli siapa namanya," ucap Sasuke acuh. Ia beranjak lagi, namun merasakan tangan Hinata yang masih memegang lengannya membuatnya kembali menatap gadis itu dengan pandangan kesal.

"Kenapa kau tak suka dengan Naruto? Kenapa kalian berkelahi tadi? Padahal akan baik jika kalian berteman." Hinata berujar tanpa mempedulikan tatapan dingin Sasuke padanya. Ia sendiri heran mengapa ia menjadi gadis yang lebih banyak bicara di depan pemuda yang belum lama ditemuinya tersebut.

Tsk.

Sasuke mendecih lagi. Kesabarannya akan gadis itu menipis. Dengan cepat, ia balik menarik tangan Hinata dengan kasar dan memasuki salah satu ruang istirahat di klinik kesehatan yang kosong tersebut. Sasuke segera menghempaskan tubuh mungil Hinata hingga gadis itu jatuh terlentang. Ia menindih tubuh Hinata, membuat pipi gadis itu langsung merona. Sasuke meletakkan kedua tangannya di samping kepala Hinata.

"Kenapa kau selalu ingin ikut campur masalahku?" desisnya tajam. Posisi keduanya yang sangat dekat membuat Hinata bisa merasakan nafas Sasuke yang panas menggelitik pipinya.

Kedua iris Hinata memandang lurus dalam onyx milik Sasuke. Gadis itu mengambil nafas, berusaha menenangkan detak jantungnya yang terasa berdebar-debar. "Tidak. Aku tak ingin ikut campur." Hinata menjawab dengan tenang.

"Katakan, apa yang kau butuhkan? Pelukan, ciuman, atau uang? Atau kau ingin menghabiskan malam denganku?" tanya Sasuke lagi, masih menatap mata pucat gadis yang berada di bawahnya itu.

Hinata terbelalak mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan padanya. Ia tak tahu apa yang membuatnya tertarik untuk dekat dengan pemuda itu. Tapi yang jelas, tujuannya bukan salah satu yang disebutkan oleh Sasuke.

Hinata tersenyum. Iris pearl-nya kemudian terpaku pada lebam di wajah Sasuke. "Pasti sakit, ya? Naruto kan punya tenaga yang kuat sekali," gumam Hinata tanpa sadar.

Apa-apaan gadis ini? Kali ini giliran Sasuke yang terkejut saat merasakan tangan kecil Hinata mengusap wajahnya. Tangan gadis itu terasa begitu lembut, mengingatkan Sasuke akan sentuhan ibunya. Sudah lama sekali sejak ia disentuh seperti ini.

Tersadar kalau dirinya terbawa suasana, Sasuke segera menepis tangan Hinata. "Apa kau selalu seperti ini dengan orang yang baru kau kenal? Kau bahkan tidak tahu aku siapa." Mereka masih berada dalam posisi yang sama seperti sebelumnya.

"Tidak tahu. Yang jelas, aku merasa kau adalah orang yang baik." Hinata tersenyum hangat, seakan-akan Sasuke adalah teman lamanya.

"Tsk." Tak ingin terlibat lebih jauh dengan gadis yang menurutnya aneh itu, Sasuke lekas berdiri. "Apa lagi?" tanyanya kesal saat merasakan lagi-lagi tangan Hinata menahannya.

"Kau 'kan belum diobati." Hinata berkeras mengobati luka tersebut. Ia kemudian member sinyal agar pemuda itu duduk.

Sasuke mendesah. Tak ada cara lain selain menuruti kemauan gadis itu, pikirnya. "Kau keras kepala," ucapnya sambil memerhatikan Hinata yang sedang mengambil kompres.

"Hm… banyak yang sering mengatakannya, sih." Hinata sedikit terkikik saat mengatakannya. Gadis itu mengusap memar di wajah Sasuke dengan pelan. Wajahnya terlihat sangat serius.

Diam-diam, Sasuke meneliti setiap lekuk wajah Hinata yang terlihat serius. Tak bisa dipungkiri, wajah gadis itu memang manis. Ada sesuatu yang membuat gadis itu berbeda. Seingatnya, Hinata tidak pernah berusaha merayunya. Ia juga tidak mengeluarkan ekspresi-ekspresi manja seperti yang biasa ditunjukkan fangirls-nya. Mungkin—hanya mungkin—gadis itu memang tulus berteman dengannya.

Menarik juga. Aku bisa menggunakannya untuk mengalahkan si kuning itu.

B&B

Hyuuga Hiashi sedang berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya di kediaman Hyuuga sambil menatap tangan kanannya yang baru saja datang. Ia member sinyal agar anak buah kepercayaannya tersebut mengikutinya masuk ke dalam ruangan.

"Bagaimana?" tanya Hiashi langsung setelah duduk di kursinya. Hyuuga Hiashi adalah seorang pria yang gemar bekerja setiap hari. Beliau adalah pemilik Hyuuga corp yang mempunyai banyak cabang di berbagai kawasan. Ia berusia 48 tahun dan memiliki dua orang putri, Hyuuga Hinata dan Hyuuga Hanabi.

"Sudah saya siapkan, Tuan Hyuuga." Kabuto—nama orang kepercayaan Hiashi tersebut menyerahkan sebuah map berwarna biru tua. Setelah mendapat isyarat untuk duduk, pria berkacamata itu duduk di depan meja kayu atasannya yang lebar.

"Putriku harus dijodohkan dengan orang yang tepat. Harus dari keluarga yang setara dengan Hyuuga."

Hyuuga Hiashi memang berencana ingin menjodohkan putrinya. Pergaulan jaman sekarang yang semakin tak teratur membuatnya khawatir dengan putri sulungnya tersebut. Terutama setelah menjadi ballerina, pasti banyak anak laki-laki yang mendekati putrinya tersebut. sebagai seorang ayah, ia menginginkan yang terbaik untuk putrinya.

Kabuto tersenyum sembari membetulkan letak kacamatanya. "Tidak perlu khawatir, Tuan. Pemuda ini berasal dari keluarga terpandang yang menjadi rekan bisnis kita selama bertahun-tahun."

Tuan Hyuuga membolak-balik lembaran-lembaran arsip dari map yang diserahkan Kabuto. Mata pucatnya meneliti setiap lembaran. Setelah beberapa menit, kepala keluarga Hyuuga tersebut memasukkan kembali arsip yang dibacanya ke dalam map. "Info tentang putranya belum lengkap."

"Kebetulan sekali dia satu sekolah dengan nona Hinata," sahut Kabuto, ia tersenyum lagi.

Hyuuga Hiashi mengerutkan keningnya. "Benarkah?" tanyanya meyakinkan. Hinata memang gadis yang sedikit tertutup tentang kehidupan sekolahnya. Putrinya itu jarang mau jika diajak mengikuti pesta-pesta yang diadakan rekan bisnis Hyuuga. Dengan alasan harus berlatih balet, mau tidak mau Hiashi menuruti keinginan anaknya.

Kabuto mengangguk dengan semangat. "Bahkan mereka seangkatan, Tuan."

Hiashi masih memasang ekspresi datar. Ia menegakkan posisi duduknya di kursi. "Segera atur pertemuan. Kalau bisa akhir pekan ini," perintahnya yang langsung disambut anggukan dari Kabuto.

"Baik, Tuan."

.

.

t.b.c

.

.

Ow… gomen kalau updatenya lama. Karna ini fic paling akhir yg ku publish, jadi updatenya juga belakangan. Hehe :D

Ini baru tertulis Sasuhina n naruhina, tapi ke belakang pairnya bakal nambah lagi untuk pemeran utama. ^^

Oke… saya mau jawab yg pada ripiu dulu ya.

Hyou Hyouichiffer: iaa… masih chap awal2. Konfliknya tar dulu. hoho :DD. Baca lagi yaa, arigatou ^^

Erryta: eh? Benarkah? Makasiii :* . baca lagi yaa. arigatou ^^

Lollytha-chan: masa sih? padahal gak berniat bikin sasu keren *plak*. Baca lagi yaa Lolly-chan :*. Arigatou :D

lavender hime chan: okee.. chap depan saya banyakin badboynya si sasu :D. hmm, di chap ini ada kok. tapi yg jelas, naru bakal punya peran sangat penting. *gayanya*. Ehehe, baca lagi yaa :* arigatou :D

ReeMashiba: wah, makasih ^^. Iyaa. Baca lagi yaaa :3. Arigatou ^^

Yamanaka Emo: ohoho jeng, waktu ngetik itu ane sambil liat anak2 kecil main bola, jadi kebablasan. *plak*. Okeee. Baca lagi yaaa :*. Arigatouu :D

Mewmew: ahaha… gomen apdetnya lama. Jangan bosen yaa :D. arigatou ^^

Yukio Hisa: hoho… gomen ne, gak bisa kilat-kilat banget . hmm… saat ini masih sahabat kok. keke. Baca lagi yaaa. Arigatou :D

Animea Lover Ya-ha: iya, tetep semangat kok. baca lagi yaaa. Arigatouu :D

uchihyuu nagisa: ahahaa… sasu pa emang belagu *digetok sasu FC*. Kalo gitu, baca lanjutannya yaaa. Arigatouu ^^

Widy Kakitaka, Fujisawa Yukito, laven agrava gaciall 134 : seperti yang saya bilang di message. Ohoho.. saya ngga tahu kok bisa sama… bahkan baca novel pun saya jarang banget. T_T. apalagi novel indo… ehehe :D. jadi maaf ya kalo ada yang sama. Saya bener2 ngga tahu menahu. Dapet ide buat cerita ini aja dadakan. Plot konfliknya udah saya pikirin sih, yah ngga tahu ke depan nanti masih sama pa ndak. Jadi… mohon pengertiannya yaa :*. Buat Dolpin-9: well, kalau ngga suka ngga papa kok. ^^. Yang jelas, kalau terinspirasi dari sesuatu pasti saya cantumin, spt di ff saya yang lainnya. ^^

RK-Hime males Login: hoho… maap update ngga kilat. Jangan bosen yaaa. Arigatouu :D

[no name]: ahha… okee nanti saya buat lebih bad lagi itu anak :DD. Baca lagi yaaa. Arigatou ^^

Vytachi W.F: iia… Sasuke emang kasar di sini. Hoho, kalo gitu baca lagi yaaa :*. Arigatouu :D

Zoroutecchi: hoho, oke senpaiiii. Ane lanjutin fic ini. keke :DD. Santai… rate M nya belum muncul banget kok. otee… ntar baca lagi yaaa Zo-senpai. Keke :DD. Arigatou ^^

Ya… semoga chap 3 ini ngga terlalu mengecewakan ya. Sempet galau mau publish apa ngga ,

Seperti biasa, komen, review, kritik, dll akan saya trima dengan senang hati.^^

Jaaaa~~~

Regards,

Ayuwaza Shia

.

.

Click the review button, please? ^^v