Thorn.
.
Chapter 3. Dokter Cinta.
.
.
.
Perlahan-lahan Thorn mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk. Ditatapnya Blaze yang mulai gelisah dan salah tingkah karena pertanyaannya itu.
Blaze meneguk ludahnya ketika ia melihat tatapan Thorn yang seakan hendak melubangi keningnya. "A... aku... Ehm... Aku ngga... Bisa... Jawab."
Blaze tidak melihat Thorn yang menggerakkan kakinya mendekati bokongnya.
-Ctut!-
"Adaw. Thorn!" Blaze hampir meloncat kaget ketika jempol dan telunjuk kaki Thorn mencubit bokongnya.
"Kamu tadi memaksaku mengaku kan? Sampai ngelitikin ketekku... Nah sekarang jawab!" Ketus Thorn yang bermuka masam. "Apa harus kubalas?"
"Ah ngga! Jangan... Aku juga gelian!" Blaze menggeser posisi duduknya agak menjauh dari dari si adik yang terlihat kesal.
'Oh... Begitu, awas kau Blaze nanti kalau tidur.' Sumpah Thorn dalam hati. "Jadi kamu juga ngga tau, Blaze?" Ia lanjut bertanya.
Blaze meneguk ludahnya "Aku tahu... Tapi... Aku takut."
"Apa pacaran itu menyeramkan?"
"Ah ngga koq. Pacaran itu indah." Blaze mencoba menjawab dengan hati-hati. Ia paham kalau sampai salah jawab maka ia akan berurusan dengan ketiga kakak tertuanya yang sangat menjaga kepolosan Thorn.
"kalau indah, kenapa kamu takut, Blaze?"
"Bahaya kalau aku salah jawab, Thorn!" Ketus Blaze yang terlihat semakin gelisah.
"Tinggal jawab saja dengan jujur koq, gampang kan?" Thorn mengedikkan bahunya .
"Biar aku yang menjawab." Terdengarlah suara orang ketiga yang agak cempreng.
"Ah, Kak Taufan" Thorn menengok kearah sumber suara yang didengarnya
"Ahh... Selamat, Kak Ufan. Tolong doong." Pinta Blaze ketika melihat ke arah pintu kamar dimana salah satu dari ketiga kakaknya tengah berdiri.
Sebuah senyuman geli mengulas di bibir Taufan yang malam itu terlihat mengenakan baju lengan pendek dan celana boxer. Tanpa permisi ia melangkah kedalam kamar milik kedua adiknya itu dan duduk bagian tepi kaki ranjang milik Thorn.
"Thorn..." Taufan tersenyum lembut sembari memandang adiknya yang baru saja disebut namanya itu. "Pacaran itu bentuk hubungan diantara dua orang."
Thorn yang mendengar itu sedikit memiringkan kepalanya. "Hanya dua saja kak? Ngga boleh lebih?"
"Ppffttt." Mati-matian Blaze berusaha untuk tidak tertawa dengan mengatupkan mulutnya erat-erat. Sementara Taufan hanya sweatdrop mendengar pertanyaan balik itu
"Ah, ngga, Thorn. Hanya boleh dua orang saja." Jawab Taufan sembari mengacungkan dua buah jari.
"Lalu hubungannya seperti apa, Kak Ufan?"
Taufan menarik napasnya sebelum mengusap-ngusap dagunya dengan kedua mata yang terpejam laksana orang bijak. "Beberapa orang bilang pacaran itu hanya membuang-buang waktu, membuang-buang uang membuang-buang tenaga saja." Taufan Berhenti sejenak dan dengan dramatis ia menengadahkan kepalanya dan mendekapkan sebelah tangan di dada. "Tapi yang mengerti akan berkata Pacaran itu indah, seperti embun pagi, seperti kobaran api ditengah kegelapan seperti air di padang gurun, seperti pohon dedaunan di tengah gersang."
"Kak Ufan.. Lebay." Bisik Blaze yang hanya terdengar olehnya sendiri.
Sementara Thorn semakin intense memperhatikan penjelasan sang kakak bahkan sudah mencondongkan badannya karena sangat tertarik dengan penjelasan Taufan "Kalau orangnya bagaimana, kak?"
Taufan menarik napas panjang srbelum kembali menjelaskan. "Mudah saja, Thorn. Kalau kamu berpacaran, haruslah dengan orang yang benar-benar kamu sukai, kamu sayangi, kamu cintai... Yang akan membuatmu merasa kehilangan kalau dia tidak ada, yang bisa membuatmu sampai lupa diri kalau mengingat namanya, yang membuatmu lupa waktu kalau memikirkannya..."
"Oooh." Senyum Thorn mengembang. "Berarti hanya pada orang yang benar-benar dekat dan penting bagi kita ya kak... Lalu bagaimana cara menyatakan kalau kita pacaran, kak?" Malah ia semakin semangat bertanya.
"Dengan ciuman, Thorn." Jawab Taufan sembari menunjuk pada bibirnya sendiri. "Pada bibir orang yang kita, atau kamu sangat sukai itu dan nyatakan bahwa kamu menyukainya, kamu mencintainya... Dan ajaklah dia menjadi pacarmu.. atau mintalah ijin supaya kamu boleh jadi pacarnya."
Kedua mata Thorn langsung berbinar-binar. Alam pikirannya bahkan sudah melayang entah kemana.
"Thorn, jika berhasil maka kamu akan menghabiskan masa-masa yang indah berdua dengan pacarmu, siapapun itu... Pastinya aku yakin kamu berhasil. Ngga ada yang bisa menolak senyummu yang masih murni dan polos itu." Gantian Blaze yang menyambung penjelasan Taufan. "Yah, tapi hati-hati juga.."
"Hati-hati kenapa, Blaze?" Thorn bertanya sembari menengok ke arah kakaknya yang disebut namanya itu.
"Jangan sampai kamu berpacaran dan hanya dimanfaatkan saja... Entah untuk dicontek waktu ulangan, atau untuk diminta dijajani... Ya diperas." Dengan raut muka yang serius Blaze mengambil alih tugas Taufan menjelaskan perihal pacaran kepada Thorn. "Karena itulah aku takut menjawab pertanyaanmu, Thorn. Bahaya kalau sampai ngga lengkap atau salah jawab."
"Oh.. Begitu" Thorn menganggukkan kepalanya dan mulai senyum-senyum sendirian. "Wah, berarti aku gampang nih kalau mau pacaran."
"Aku sih yakin kamu gampang kalau mau dapat pacar, Thorn." Lanjut Taufan. "Kita, keluarga BoBoiBoy ini imut dan ganteng semua, hanya berbeda sifat saja."
"Memang ada yang kamu incar, Thorn? Setelah sekarang kamu tahu apa itu pacaran?" Tanya Blaze sembari menarik napas lega.
"Ada!" Senyum polos Thorn mengembang selebar-lebarnya. Hilang sudah rasa galau yang menghantui dirinya selama beberapa hari ini.
"Siapa?" Dua buah suara lain serentak terdengar dan nampaklah Gempa bersama Halilintar sudah berada di ambang pintu. Sepertinya mereka diam-diam ikut mendengarkan.
"Ya, Thorn, siapa?" Taufan ikutan bertanya.
Thorn menarik napasnya dalam-dalam dengan kedua mata terpejam. Semua kakak-kakaknya menatap tanpa berkedip kearahnya.
Secepat kilat Thorn langsung menerjang dan melingkarkan kedua lengannya pada leher Blaze sebelum menempelkan bibirnya pada bibir si kakak.
Blaze hanya terdiam dengan mata yang membelalak ketika bibirnya terasa dikulum dan dijilat dengan lembut oleh Thorn.
"Aku mau Blaze jadi pacarku..." Bisik Thorn langsung ke dalam telinga kakaknya. "Jangan tolak aku ya? Blaze? Kamu yang paling aku sayangi diantara semuanya... Kamu yang paling mengerti aku... Dan... Kamulah yang aku cintai, Blaze."
Blaze yang disebut namanya langsung terkulai lemas. Ia hanya mengangguk kecil saja. "Ya... Aku... Ngga... Bisa... Menolak..."
Halilintar yang biasanya dingin dan cuek sampai tercengang melihat pemandangan itu. Sedangkan Gempa berulang kali menggelengkan kepalanya seakan menolak realita yang terpampang dihadapannya.
Sementara Taufan sendiri meneguk ludah dan berangsur-angsur menjauh dari tempat kejadian perkara melewati Gempa dan Halilintar yang masih shock. "Aku lupa bilang, harus pendekatan dulu, sebaiknya ngga didepan orang banyak dan bukan saudara sendiri..."
Gempa yang tersadar dari shock-nya langsung mendelik. "Mau kemana kau Taufan?!" Bentaknya dengan penuh amarah.
"Aku pergi dulu ya? kerumah Fang!" Sahut Taufan yang sudah berada di dekat pintu depan rumah. "Tiga hari lagi aku pulang!"
"Jangan harap! Hali, kejar Taufan!" Perintah Gempa dengan suara yang menggelegar. "Pasung dia sampai besok malam! Rusak sudah Thorn-ku yang polos!"
Titah diberikan dan Halilintar langsung bergerak secepat kilat sesuai namanya dan memiting Taufan sebelum menyeretnya kembali kedalam rumah.
"Huaaa! Gempaaa! Jangan pasung akuuuu! Niatku kan baiiiik!" Jerit Taufan ketika dibawa masuk kedalam kamar oleh Halilintar. "Thooorn, Blaaaaze. Toloooong!"
Yang dipanggil namanya tidak mendengarkan. Bagi Thorn dan mungkin Blaze, dunia hanya milik mereka berdua saja
.
.
.
Tamat
