Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

Story © Arleinz Kyousuke

Rated T

Happy reading...

.

.

.

.

.

CHAPTER 3

.

.

.

.

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, pertanda berakhirnya tugas sang mentari pada hari ini. Sang Purnama pun bersiap menggantikan Mentari menerangi langit. Semburat orange mewarnai langit menentramkan hati setiap otang yang melihatnya. Tak terkecuali dengan pemuda bersurai kuning bernama Naruto. Ia akhirnya bisa mengenal lebih jauh gadis yang selalu membuatnya penasaran selama ini. Tapi, hal yang tak terduga sedang menunggunya...

.

.

"Kau...Bukankah kau adalah..."

"Pa-Paman Hiashi..."

"Tou-san, Naruto-kun. Kalian sudah saling kenal?

"Hahahaha. Ternyata itu benar kau, Naruto. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?

"I-iya Paman Hiashi... Kabarku baik."

Paman hiashi...Aku tidak menyangka dia adalah Ayah Hinata. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya...

"Kalian sudah saling mengenal rupanya..."

"Ya, Hinata. Ayah tidak akan melupakan kejadian dulu saat ayah pertama kali bertemu dengan Naruto. Saat itu dia masih berusia 2 Tahun saat orangtuanya mengnalkanku padanya. Apalagi setelah kejadian itu..."

"Kejadian? Memangnya ada kejadian apa antara Ayah dengan Naruto.."

"Ya..itu... Ah, ngomong-ngomong, Mengapa kalian pulang hingga jam 7? Bukankah sekolah berakhir pukul 4 sore?

"Begini Paman, tadi saya menemani Hinata mengurus administrasi sambil saya membayar uang sekolah. Tapi, karena waktu untuk mengurus administrasi lumayan lama, jadinya kami harus pulang jam segini.."

"Oh, begitu. Kalau begitu, terima kasih telah mengantar Hinata sampai ke rumah, sampai-sampai merepotkanmu begini..."

"Ah...tidak apa-apa Paman..Lagipula, kami kan teman. Sebagai teman, kita harus saling membantu.."

"Baiklah kalau begitu..."

"Eeeh.. kalau begitu sudah ya, Paman, Hinata aku pulang dulu.."

"Apa kau tidak mampir dulu sebentar, Naruto..."

"Tidak, Paman. Lgipula jika aku pulang terlalu lama, aku bisa dimarahi Paman Iruka.."

"Iruka ya...Apa kabarnya dia? Apakah dia masih marah denganku..."

"Maaf, Paman, apa yang Paman katakan?"

"Eh..tidak..bukan apa-apa. Kalau begitu hati-hati di jalan.."

"Baiklah, kalau begitu. Hinata, aku pulang dulu ya. Jaa.."

"Hati-hati, Naruto-kun..."

"Yaaa..."

.

Aku segera melangkahkan kakiku menuju rumahku. Tak kusangka aku bisa bertemu dengan Paman Hiashi. Aku mengenalnya saat waktu itu Paman Iruka mengenalkannya padaku. Dia juga merupakan sahabat orangtuaku saat masih hidup. Tapi semenjak pertemuan terakhirku dengannya, ia memang tak pernah terlihat lagi. Ada beberapa hal yang mengganjal di pikiranku. Apa maksud Paman Hiashi tidak bisa melupakan kejadian itu? Apa hubungannya dengan Paman Iruka? Mengapa Paman Iruka marah padanya? Seingatku tidak ada kejadian yang aneh saat aku bertemu dengannya. Memang, saat terakhir kali Paman Iruka bertemu dengannya, aku sempat melihat mereka bertengkar sedikit. Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di kepalaku. Apakah ada yang disembunyikan, atau... Ah..aku tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Lebih baik aku segera pulang dan makan perutku sudah minta diisi sejak dari tadi...

.

.

"Tadaima..."

Tidak ada sahutan dari dalam rumah, nampaknya Paman Iruka berada di kamarnya dan tidak mendengar sahutanku. Aku bertanya-tanya, apa yang sedang dikerjakannya di dalam kamar. Apa jangan-jangan dia... Hahaha... aku malah berpikiran yang tidak-tidak. Maklumlah, Paman Iruka kan belum menikah...Hahaha, padahal umurnya sudah menginjak kepala 3. Daripada itu, lebih baik aku segera mandi dan ganti baju secepatnya.."

Haahh.. akhirnya badanku telah bersih...Setelah membersihkan badan, saatnya aku mengisi perutku yang telah kosong sejak tadi. Aku pun bergegas menuju dapur, sesaat sebelum aku mendengar langkah kaki seseorang...

.

"Hoi Naruto, kau sudah pulang"

"Astaga..Paman ini mengejutkanku saja-ttebayo.."

"Hahaha..maaf-maaf. Tapi, kenapa kau pulang selama ini, Naruto?"

"Maaf Paman, tadi aku mengantar temanku ke rumahnya..."

"Ehh.. teman? Laki-laki atau perempuan?"

"Sebenarnya, sih.. dia perempuan..."

"Wah.. ternyata kau hebat juga kalau urusan begini, Naruto. Aku tak menyangka kau telah memiliki kekasih. Hebat juga kau... Jadi, sudah berapa lama kalian berpacaran...?"

"Ehh.. tidak. Dia bukan pacarku, Paman.. Dia-dia hanya teman-ttebayo..."

"Emmm.. benarkah? Kau yakin tidak ada perasaan lain dengannya? Atau sebenarnya itu hanya alasanmu untuk bisa lebih dekat dengannya"

Degg..Perasaan lain? Apa maksud Paman Iruka? Apakah yang dimaksunya adalah suka? Haahh.. entahlah, aku pun tidak tahu perasaanku kepadanya. Apakah perasaan ini memang... Hahh... Tapi hal yang masih aku pertanyakan adalah apa hubungan Paman Iruka dan Paman Hiashi? Sebenarnya ada hal apa antara mereka?

"Hoi, Naruto. Jangan melamun, bagaimana dengan pertanyaanku tadi?

"Mmm..y-ya aku-aku yakin kami hanya teman. Ya, Setidaknya untuk saat ini...Sudahlah, aku sudah sangat lapar. Aku ingin segera makan. Tapi omong-omong Paman, aku ingin bertany-"

"Astaga... Naruto... Aku lupa..."

"Lupa apa, Paman?"

"Paman lupa memasak makan malam, Naruto..."

"AAPAA...Bagaimana Paman bisa lupa. Aku sudah sangat lapar, Paman. Paman sendiri, memangnya sudah makan?", teriakku yang kaget mendengar kata-kata Paman Iruka tadi. Maklumlah, perutku sudah meraung-raung minta diisi..

"Sebenarnya, Paman sudah makan tadi di kantor..."

"Jadi, bagaimana dengan nasibku, Pamaaann... Perutku sudah sangat lapar-ttebayo."

"Ehh.. begini saja, bagaimana kalau kau makan saja di Ichiraku?"

"Wahh.. ide bagus Paman..Kebetulan aku sedang ingin sekali makan Ramen di Cafe Ichiraku..."

"Haah..kalau kau setiap saat pasti ingin makan Ramen, dasar maniak ramen. Ini uangnya..."

"Hehehe. Eh... Paman Iruka tidak ikut?"

"Tidak..Paman sudah capek sekali. Lagipula masih banyak pekerjaan menumpuk yang menunggu untuk diselesaikan."

"Begitu...Baiklah, aku pergi dulu..."

"Yaa.. Hati-hati..."

.

Akhirnya aku berjalan kaki menuju Cafe Ichiraku. Keterlaluan sekali Paman Iruka. Dia sudah makan di kantor, sedangkan aku masih kelaparan begini. Tapi tak apalah, lagipula dengan begitu aku bisa makan Ramen di Ichiraku yang sangat enak, yeah! Tapi, aku masih penasaran dengan Paman Hiashi. Apa yang disembunyikannya denganku. Mungkin, nanti aku bisa menanyakannya pada Paman Iruka...

Aku terus menyusuri jalan menuju Cafe Ichiraku. Malam ini, begitu sunyi dan dingin. Ya, karena angin malam begitu dingin hingga seakan-akan menusuk kulitku. Tapi, setidaknya tidak begitu gelap karena Bulan masih setia berada di langit malam, manerangi seluruh Bumi, walaupun cahayanya tidak seterang Matahari.

Situasi ini kembali mengingatkanku saat pertemuan pertamaku dengan Hinata. Yah, pertama aku memang merasa aneh, mengapa seorang gadis bisa berada di taman sendirian pada malam hari. Tapi aku merasa bahagia bisa berteman dengannya. Tapi entah mengapa, semakin lama aku merasakan ada perasaan yang tidak biasa. Perasaan yang membuatku merasa tenang. Perasaan yang membuatku sangat senang saat di dekatnya. Padahal kami baru menjadi teman sekelas selama 1 hari, tapi entah mengapa ia sudah seperti teman dekat denganku. Apa mungkin,benar apa yang dikatakan Paman Iruka, bahwa aku...

Perasaan senang menelusup dalam hatiku. Entah apakah aku sudah mulai menyukainya? Maksudku bukan perasaan suka kepada teman tapi suka antar lawan jenis. Jujur saja, aku memang kurang berpengalaman dengan hal seperti ini. Aku belum pernah menyukai seseorang sebelumnya. Hahh.. mungkin waktu lah yang akan menjawabnya. Lebih baik aku segera mempercepat langkahku...

Tidak beberapa lama, aku sampai di ujung jalan. Tepat di samping Sungai Nakano yang membelah Kota Konoha, tempat itu berada. Ya, Taman Bunga Konoha. Disinilah aku pertama kali bertemu Hinata. Taman yang indah dengan berbagai macam bunga dan pepohonan. Tempat yang sangat tepat untuk menenangkan diri menikmati keindahan alam.

Ada beberapa bangku ditaman itu. Aku melihat sekilas bangku panjang kecil tepat di pinggir Sungai Nakano dan dibawah Pohon Sakura. Dulu, aku sering berpikir bahwa tempat itu sangat menakutkan, terutama di malam hari. Tapi, seiring berjalannya waktu, anggapanku tentang tempat itu perlahan sirna dengan keindahan Sungai Nakano dan Pohon Sakura. Kulihat seorang gadis sedang duduk di bangku itu. Waktu itu, aku pertama kali bertemu dengan Hinata di bangku itu persis di tempat yang diduduki gadis itu...

Ehhh... gadis... Aku kembali memperhatikan gadis yang sedang duduk di bangku itu. Ku perhatikan gadis itu dengan seksama dari kejauhan. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena ia duduk membelakangiku. Tapi dari warna rambutnya, aku baru sadar. Itu pasti dia... Tidak salah lagi. Aku pun melangkahkan kakiku ke arah taman, tepatnya gadis itu. Aku yakin kalau gadis itu adalah...

.

.

HINATA POV

Aku langsung bergegas masuk ke dalam kamarku. Aku bergegas mandi dan mengganti bajuku. Ahh.. rasanya sangat enak saat aku merendam tubuhku dalam bak air panas, penatku langsung sirna. Setelah tubuhku bersih, kurebahkan tubuhku ke ranjang berukuran Queen Size. Entah kenapa hari ini aku merasa sangat senang. Entah karena Tou-san yang pulang lebih awal ataupun mungkin karena ini hari pertamaku bersekolah di KHS. Jujur kukatakan pada awalnya aku merasa berat untuk pindah ke Konoha, karena aku harus meninggalkan rumahku yang lama terutama kebun bunga yang berada di depan rumahku dulu. Aku selalu merawatnya dan tidak bosan memandangi indahnya tanaman berwarna-warni hasil kerja kerasku. Tapi entah kenapa aku merasa senang.

Aku tidak terlalu pandai dalam bergaul, bahkan saat aku masih tinggal di Ame, aku tidak memiliki banyak teman. Paling hanya beberapa, itupun tidak terlalu akrab. Aku selalu ingin memiliki banyak teman. Aku ingin menjadi seperti bunga di taman yang bergerombol dan selalu bersama. Itulah sebabnya aku suka dengan bunga. Aku sangat senang saat mengetahui ada taman bunga tidak jauh dari rumahku...

Ya, Taman Bunga Konoha. Aku sangat menyukai tempat itu. Banyak bunga berwarna-warni dan pepohonan rindang yang menyejukkan mata siapa saja yang memandangnya. Terutama saat malam hari. Semilir angin seakan membelai kulitku. Tapi yang membuatku terpesona adalah aku bida memandang sang Purnama yang sedang memancarkan sinarnya. Hatiku terasa tenang dan seluruh penatku sirna saat aku memandangnya, walaupun sinarnya tak secerah sang Mentari. Nampaknya aku akan memasukkan Bulan dalam daftar hal yang kusukai.

Berbicara mengenai Bulan, terbersit sebuah nama dalam kepalaku. Seorang Pemuda yang tiba-tiba saja datang pada malam itu, saat aku sedang memandang sang rembulan. Pemuda berambut Kuning yan berkilau keemasan diterpa cahaya Bulan. Mata Sapphirenya seakan memantulkan cahaya Bulan dari dalam Iris matanya. Ya, dia adalah Naruto Namikaze. Entah kenapa aku selalu ingin menatap mata yang sebiru lautan itu. Aku juga masih ingat pertemuan pertamaku dengannya.

Saat itu, aku sedang duduk di salah satu bangku di Taman Bunga Konoha. Memandang kilauan cahaya Bulan dari Bumi. Tiba-tiba entah darimana ia datang. Lalu, kami berbicara dan saling berkenalan satu sama lain. Awalnya aku berpikiran dia hanya Pemuda berandalan yang selalu keluyuran di Malam hari. Tapi saat aku melihat senyumnya dan melihat matanya, pikiran itu seakan sirna. Ya, matanya, sepertinya aku sangat terobsesi pada matanya.

Tetapi pada akhirnya, pertemuan singkat itu harus berakhir. Salah satu penjaga suruhan Ayahku menjemputku pulang. Awalnya, Naruto ingin mengantarku pulang, namun penjaga itu melarangnya. Sesampainya di rumah, Tou-san menyambutku dengan wajah yang cemas. Nampaknya ia begitu khawatir denganku. Maklum, sejak kepergian Neji nii-san untuk kuliah di luar kota dan kematian ibuku, pastinya akulah satu-satunya keluarganya di kota ini. Semenjak saat itu ia melarangku untuk keluar rumah malam-malam. Aku pun tidak bisa menolak karena aku tidak tega melihat wajah Tou-san seperti itu.

Semenjak saat itu, aku tidak bertemu lagi dengan Naruto-kun. Entah kenapa aku mulai menambahkan suffix "kun" di akhir namanya. Aku sangat merindukan mata sapphirenya yang sebiru lautan itu. Aku ingin sekali berbicara lebih banyak dengannya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku ingin lebih lama memandang matanya. Sepertinya matanya telah meracuni pikiranku.

Namun akhirnya takdir berkata lain. Saat hari pertamaku di KHS aku kembali bertemu dengannya. Bukan hanya sekelas, tapi juga satu meja. Wajahnya masih sama saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Matanya juga masih saja bisa membuatku terpukau. Tapi entah kenapa saat didekatnya, aku sulit memandang matanya. Aku terlalu malu saat pandangan kami bertemu.

Menurutku, Naruto-kun itu orangnya sangat baik. Ia berbicara denganku seolah telah mengenalku sejak lama. Ia juga orang yang cukup berisik terutama saat berada dengan kedua temannya yang kuketahui bernama Sasuke dan Kiba. Kadang aku tertawa melihat tingkahnya yang lucu. Ia memang orang yang sangat baik. Bahkan ia mau berlama-lama menungguku dan mengantarku pulang. Dia memang seperti mengubah seluruh hidupku. Perlahan aku menyadari ada sesutu yang tak biasa di hatiku. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Sesuatu yang benyak aku lihat di drama-drama di TV. Mungkinkah...

.

"Hinata...", terdengar suara Tou-san memanggilku...

"Ya, tou-san..."

"Ayo kita makan malam..."

Ah aku sampai lupa kalau aku belum mengisi perutku sejak tadi. Aku pun segera bergegas keluar dan makan malam dengan Tou-san.

"Bagaimana hari pertamamu di sekolah, Hinata?"

"Eh..baik Ayah.."

"Begitu. Jadi, sepertinya kau sudah berteman baik dengan Naruto?"

"Umm..ya. Naruto-kun orang yang baik."

"Begitu. Yah, ia memang orang yang baik tapi memang agak sedikit berisik."

"Ya, Tou-san. Dia selalu berisik di kelas, terutama saat bersama dengan teman-temannya. Ia juga sering mengucapkan kata dattebayo di akhir kalimat yang diucapkannya. Menurutku itu sangat lucu..."

"Hahaha..Itulah Naruto. Dia sangat mirip dengan orangtuanya. Wajah dan rambutnya mengingatkanku pada Ayahnya dan sikapnya mirip sekali dengan Ibunya."

Aku tersenyum saat Tou-san membicarakan Naruto. Aku yakin saat ini Naruto-kun pasti sedang bersin-bersin...Hahaha. Tapi, tadi Tou-san bilang ia sangat mirip dengan orangtuanya. Apakah Tou-san mengenal orangtua Naruto? Sebenarnya apa hubungan Naruto-kun dengan Tou-san?

Setelah makan malam aku bergegas menuju halaman depan. Halaman yang cukup luas dan dipenuhi Pohon rindang dan Bunga berwarna-warni. Aku duduk di teras rumah sembari memandang ke arah langit. Kulihat langit yang bertaburan bintang yang bercahaya. Tapi bukan bintang yang membuatku terpukau. Namun aku terpesona pada keindahan sang Rembulan yang masih setia memancarkan sinarnya. Situasi ini mengingatkanku saat aku pertama kali bertemu Naruto-kun. Terbersit keinginan di benakku untuk mengunjungi Taman Bunga Konoha, tempatku pertama kali bertemu dengannya. Setidaknya aku bisa menikmati malam yang indah ini lebih baik.

"Umm..Tou-san?"

"Ya. Ada apa Hinata?"

"Bolehkah aku keluar sebentar?"

"Bukankah ini sudah malam. Tidak baik seorang gadis keluar rumah pada malam hari sendirian."

"Umm..tidak apa, Tou-san. Aku hanya ingin mencari udara segar, aku sedang bosan di rumah. Lagipula aku hanya pergi ke Taman Bunga Konoha."

"Apa kau yakin kau tidak apa-apa? Apa Ayah harus memanggil penjaga untuk menjagamu?"

"Tidak usah, Tou-san. Aku bisa menjaga diri..."

"Baiklah kalau begitu. Tapi jangan pulang terlalu larut."

"Baik. Tou-san. Terima kasih. Kalau begitu aku pergi dulu. Ittekimasu..."

"Itterashai..."

,

Akhirnya aku bisa pergi ke Taman Bunga Konoha. Aku ingin sekali memandangi Bulan dari pinggir Sungai. Tempat itu memang tepat sekali berada di dekat rumahku. Aku jadi bisa sering berkunjung ke sana...

Aku terus menyusuri pinggir jalanan yang menurutku cukup sepi. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang disini. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang dan beberapa kendaraan. Aku menikmati semilir angin yang membelai kulitku. Dinginnya angin malam tak menyurutkan niatku.

Akhirnya aku sampai. Nampak pintu gerbang yang tak terlalu besar menyambutku. Kulangkahkan kakiku ke dalam Taman penuh bunga itu. Aku menuju bangku panjang yang tidak jauh dari sungai dan Pohon Sakura. Sesaat setelah aku duduk, aku langsung memandang cahaya sang rembulan. Terasa sangat indah. Terasa sangat menenangkan. Terasa sangat menyejukkan hati.

Kualihkan pandanganku ke sekililing. Tidak ada seorangpun disini kecuali aku. Ya, itu dapat dimaklumi mengingat ini sudah malam. Pohon Sakura bergetar ditiup angin, seakan menari mengikuti arah angin. Kualihkan pandanganku ke arah sungai. Pantulan wajahku terlihat di air. Tiba-tiba aku melihat pantulan sosok pemuda berada dibelakangku. Aku tak terlalu bisa melihatnya karena kurangnya pencahayaan. Tapi aku masih bisa melihat garis wajahnya. Aku mendengar ia memanggil namaku. Aku bisa mengenali suaranya yang khas. Dengan segera ku balikkan badanku untuk melihat dengan jelas wajahnya. Dia...

.

.

.

.

.


~TBC~


Yosh, update for a new chapter. Setelah berminggu-minggu, akhirnya update juga... Gara-gara laptop author lagi rusak, dan sebagian data di laptop ilang, jadinya author baru bisa update hari ini...T_T. Yosh, akhir kata Author ucapkan Arigato Gozaimasu dan Happy Reading... :v