Sebuah fic yang terinspirasi dari komik Western Shotgun dengan alur yang sedikit berbeda dengan komik aslinya.. :D
Enjoy then!
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning!
AU, OOC, Rate T – Semi M
3rd Chapter
Love, Life and Truth © Yoruichi Shihouin Kuchiki
BRAAKK
Naruto menyerahkan amplop cokelat yang berisi sejumlah uang di atas meja Tsunade. Wanita yang nampaknya sudah berkepala tiga itu menyeringai tipis. Sinar matanya langsung berubah melihat lembaran-lembaran hijau di depannya. Tanpa ba-bi-bu, wanita berambut pirang itu menghitung dengan cermat lembar demi lembar uang yang diperolehnya. Memang tidak akan ada seorang pun yang bisa menyaingi kehebatan nyonya besar mereka kalau soal uang.
"Kerja kalian bagus," timpal Tsunade setelah selesai melakukan kegiatan hitung-menghitungnya.
Naruto langsung sweatdrop mendengar hal itu. Dalam hatinya dia terus-terusan merutuki Tsunade yang hanya memuji kalau mereka pulang ke rumah dengan membawa hasil mereka. Seandainya sekarang ini mereka tidak membawa hasil apa-apa, bisa-bisa mereka tidak akan dapat jatah makan selama seminggu.
"Lalu bagaimana dengan jatah kami, Nek?" tanya Naruto sambil nyengir lima jari.
Tsunade langsung mendelik tajam kepadanya, "Ini, ambillah untuk kalian," ucapnya seraya memberikan beberapa lembar uang kertas itu.
Wajah Naruto langsung bertekuk ketika melihat beberapa lembar uang yang disodorkan oleh Tsunade di atas mejanya. Kalau dihitung-hitung jumlah uang tersebut memang tidak termasuk banyak. "Ngeh?! Hanya segini?!" protes Naruto spontan sambil memegang lembaran uang tadi di depan mukanya sendiri.
"Itu sudah dipotong dengan ganti rugi karena Sasuke tidak membawa hasilnya kemarin," jawab Tsunade cuek. Dia kemudian memutar kursi putarnya ke kanan dan ke kiri.
Perempatan siku-siku berhasil muncul di urat dahi Naruto, "Kenapa harus aku juga yang kena imbasnya? Itu kan urusan Sasuke!" Naruto masih tetap ngotot sambil menunjuk-nunjuk Sasuke yang daritadi ada di belakangnya.
"Jangan banyak protes! Atau jatahmu mau dikurangi lagi, hah?!" ancam Tsunade horor.
Naruto langsung bergidik ngeri melihat tampang angker Tsunade. Dengan berat hati lagi-lagi Naruto tidak bisa melawan. Dengan hati dongkol pemuda jabrik itu akhirnya meninggalkan ruangan Tsunade diikuti oleh Sasuke dibelakangnya.
"Gara-gara kau meninggalkan korbanmu kemarin, aku harus merasakan imbasnya sekarang," gerutu Naruto kesal. Mereka berjalan menyusuri koridor markas Golden Hawk yang terbilang luas dan panjang.
"Hn."
"Dengan uang segini kita mana bisa makan enak. Akhirnya gagal sudah semua rencanaku," gumam Naruto lagi sambil mengibas-ngibaskan uangnya ke bawah.
"Hn."
"Ah! Kau itu selalu saja menjawab 'hn'—bicara sedikit dong sekali-kali," delik Naruto tajam.
Kali ini Sasuke tidak menjawab dan hanya membalas tatapan Naruto. Naruto menghela nafas berat, "Sudahlah, aku sedang malas untuk bertengkar," sahutnya lesu.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Tidak ada satupun yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Oh ya, siapa gadis berambut merah muda tadi?" kali ini Naruto nampak antusias.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Maksudmu Sakura?" pemuda onyx itu malah balik tanya.
"Jadi namanya Sakura? Kau kenal dia darimana?" Naruto mengangguk-angguk mengerti.
"Dia yang menolongku ketika aku terluka," jawab Sasuke datar.
Naruto menghentikan langkah kakinya dan menghadap Sasuke, "Jadi dia yang mengobatimu? Dia dokter?"
Sasuke mengangkat bahunya, "Entahlah, aku tidak tahu."
Naruto diam sejenak sambil mengelus-elus dagunya, "Sakura itu manis juga. Kapan-kapan kenalkan padaku ya?" Pemuda bermata biru langit itu menggoda Sasuke sambil menyenggol-nyenggol lengan kirinya. Tapi tidak ada tanggapan sama sekali dari pemuda stoic itu.
Sasuke berjalan mendahului Naruto dan berbelok ke salah satu kamar yang terletak di sisi koridor tersebut. Naruto hanya mendengus sebal ketika pemuda bermata kelam itu masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan satu kata pun. Tanpa protes sedikit pun, Naruto melangkahkan kakinya kembali sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
"Naruto . . . " Suara lembut itu membuat pemuda jabrik tadi urung untuk melangkah lebih jauh.
Naruto menoleh ke arah sosok yang tadi memanggil dirinya, "Hinata?"
Gadis dengan iris lavender itu tersenyum manis, "Kau sudah kembali?"
"Iya, baru saja," sahut Naruto sambil menunjukkan cengiran khasnya.
Kaki jenjang gadis tadi—Hinata melangkah mendekati Naruto dengan langkah malu-malu namun pasti. Jemari-jemarinya terkait dan disembunyikannya di belakang punggungnya, "Kau harus beristirahat, Naruto. Kau pasti lelah," ucapnya malu-malu.
"Tidak perlu khawatir. Lawan seperti tadi tidak akan menguras tenaga," sahut Naruto sambil membusungkan dadanya. Hinata terkekeh geli melihat tingkah Naruto saat itu.
Gadis beriris lavender itu memang memiliki perasaan khusus pada pemuda berambut pirang jabrik itu. Wajar saja, kalau sekarang Hinata begitu perhatian pada Naruto—pemuda yang memiliki efek besar dalam hidupnya. Karena berkat Naruto juga lah, gadis yang nampak anggun dan lembut itu terlepas dari jeratan kegelapan yang hampir sempat menenggelamkan dirinya.
"Oh iya Hinata, tadi aku juga sempat bertemu dengannya." Naruto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Wajah ayu yang tadi menunduk, kini sedikit terangkat setelah mendengar ucapan Naruto tadi. Raut mukanya langsung berubah. Mata lavender itu tengah menatap serius si pemilik iris biru langit tersebut. "Kak Neji?" Hinata mencoba memastikan.
Pemuda jabrik di hadapannya itu hanya mengangguk pelan kemudian berujar, "Dia menanyakan keadaanmu tadi."
Hinata hanya diam dan menunjukkan ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ekspresi yang sangat sulit untuk diartikan, antara senang bercampur sedikit keraguan dalam hati gadis itu. Neji sendiri adalah kapten divisi di kepolisian Konoha sekaligus kakak kandung Hinata. Walaupun mereka bersaudara namun sudah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu. Tepatnya semenjak Hinata memutuskan untuk menjadi seorang hunter dibanding mengikuti jejak kakaknya sendiri.
Hinata melirik ke arah kiri bawahnya, menghindari kedua iris beda warna itu bertemu. "Begitu? Lalu keadaannya sendiri bagaimana?" tanya Hinata sedikit ragu-ragu.
"Kalau dilihat tadi, sepertinya dia baik-baik saja," sahut Naruto sambil tersenyum simpul kepada Hinata. Sebelah tangannya sekarang beralih menyentuh pucuk kepala gadis itu, "Sekali-kali kau harus menemuinya. Kalian berdua kakak-beradik 'kan? Wajar saja kalau ingin bertemu," lanjut Naruto sambil menunjukkan cengiran khasnya.
Gadis itu sedikit tercengang dengan ucapan Naruto. Pemuda itu benar, apapun yang terjadi pada Hinata dan Neji tetap tidak akan mengubah kenyataan kalau mereka berdua adalah kakak-beradik. Sehingga merupakan hal yang lumrah kalau ada saatnya mereka akan saling merindukan satu sama lain dan ingin bertemu walaupun mereka sama-sama tahu kalau kondisi dan waktunya sedang tidak tepat.
Guratan merah tipis melintang di wajah putih Hinata. Malu sekaligus senang karena memang hanya Naruto yang paling mengerti keadaannya. "Terima kasih, Naruto," ujar Hinata kemudian menyunggingkan lengkungan manis dari bibirnya.
Pemuda jabrik itu kembali memperlihatkan cengiran khasnya. Seolah cengiran itu memang benar-benar sudah menjadi trademarknya.
oOo
Pagi kembali menjelang di kota Konoha. Sudut-sudut jalan pun mulai ramai, hanya bunyi tembakan senjata saja yang masih belum terdengar. Pertokoan di pinggir jalan juga sudah mulai ramai dikunjungi oleh pembeli. Para penduduk di kota itu sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
"KRIEETT"
Gadis musim semi itu membuka pintu salah satu toko roti yang ada di jejeran pertokoan di jalan itu. Pelayan toko roti itu langsung menyambut dengan ramah gadis tersebut.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan itu ramah.
Sakura tersenyum kemudian melirik ke lemari kaca yang berisi berbagai macam roti dengan rasa dan variasi yang berbeda. Kedua maniknya memperhatikan satu-satu setiap jenis roti itu. Telunjuknya diletakkan di depan dagunya—nampak sedang memilih roti mana yang akan dibelinya. Tak beberapa lama kemudian, jari telunjuknya kembali beralih menunjuk sepotong roti isi berbentuk bulat.
"Aku minta yang ini dua kemudian yang itu tiga," ucapnya sambil kembali menunjuk ke arah roti panjang yang ada di deretan roti yang sudah Sakura tunjuk sebelumnya.
Pelayan tadi mengangguk mengerti sambil tersenyum. Kemudian dengan cekatan dia langsung membungkus kelima roti tersebut dan menyerahkannya kepada Sakura. Sakura langsung merogoh dompetnya dan memberikan dua lembar uang kertas kepada pelayan itu tadi.
"Terima kasih," ujar pelayan tadi ramah.
Sakura tersenyum simpul kemudian melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari toko tersebut. Gadis itu berjalan dengan santai menyusuri jalan yang mulai padat sambil menggandeng bungkusan yang lumayan besar dengan sebelah tangannya. Surai merah muda itu berniat untuk pulang ke rumahnya. Ini sudah hari kelima ia di Konoha dan mungkin lusa—Sakura akan kembali ke desanya.
"GREEEBB"
Tiba-tiba sesosok lelaki yang tak dikenal merampas bungkusan Sakura dan membawanya lari. Tentu saja hal itu membuat Sakura terkejut dan spontan berteriak, "Kembalikan belanjaanku!"
Sakura langsung mengejar lelaki yang telah mencuri belanjaanya tersebut. Bahkan sebuah kantung yang berisi makanan pun menjadi incaran pencopet? Konoha ternyata lebih berbahaya dari yang ia duga!
"Hei! Kembalikan punyaku!" Sakura terus meneriaki si pencopet tadi sambil tetap berusaha mengejarnya.
Padahal banyak orang di jalanan itu. Tapi tak ada satu pun yang berniat membantu gadis berambut soft pink itu. Mereka malah menonton acara gratis di pagi hari itu tanpa merasa iba atau tergerak hatinya untuk menolong gadis yang mulai kelelahan itu.
Langkah Sakura sudah semakin berat. Gadis itu sudah tidak sanggup lagi mengejar lelaki tersebut. Tapi kalau bungkusan itu tidak ia dapatkan kembali, bisa-bisa Sakura tidak makan. Karena uangnya pun sudah pas-pasan. Sementara lelaki itu menyeringai puas ketika ia tidak lagi melihat sosok Sakura yang mengejarnya. Namun tiba-tiba—
"BRUUUKK"
—ada sebelah kaki yang menghadang langkah lelaki itu tadi saat penglihatannya sedang tidak fokus ke depan. Sehingga membuatnya langsung terjatuh beserta bungkusan milik Sakura tadi. Lelaki tadi meringis kemudian menatap tajam ke arah pemuda berambut raven yang dengan sengaja menghadang kakinya tadi.
"Sialan ka—"
"BUUUKK"
Pemuda tersebut tidak memberi laki-laki itu kesempatan untuk mengucapkan sumpah serapahnya. Pemuda beriris kelam itu langsung menendang wajah lelaki yang masih tersungkur itu tadi. Akibatnya wajah lelaki itu kini berubah menjadi bengkak dan kemerahan.
Pemuda itu—Sasuke menatap sinis ke arah lelaki tersebut, "Mencuri bungkusan makanan milik orang lain? Memalukan! Apa kau benar-benar miskin dan kelaparan sampai-sampai harus mencuri sepotong roti?!" imbuhnya angkuh.
Sasuke kemudian memungut bungkusan Sakura yang tercecer di jalan. Lelaki tadi nampak geram, "Kembalikan milikku!" teriaknya sambil memegang ujung celana Sasuke.
"Kau bilang milikmu untuk barang yang kau rampas dari orang lain?!" Sasuke menaikkan nada bicaranya dan menatap tajam lelaki yang ada di bawahnya.
Sekilas lelaki tadi sedikit ngeri melihat ekspresi Sasuke dan merangkak mundur menghindari pemuda itu.
"BUUUKK"
Kali ini tubuh lelaki itu yang menjadi sasaran empuk dari tendangan kaki jenjang Sasuke. "Pergilah dan jangan buat kekacauan lagi! Atau kau akan merasakan hal yang lebih menyakitkan dari itu!" ucap Sasuke dingin.
Jaketnya yang terbuka tertiup oleh angin yang tiba-tiba berhembus saat itu. Sehingga membuat pemuda bermata onyx itu tak sengaja memperlihatkan senjatanya yang terselip di jaketnya kepada lelaki tadi. Lelaki itu langsung merinding dan menyadari kalau Sasuke adalah seorang hunter. Tanpa ba-bi-bu, lelaki tersebut langsung lari dari hadapan Sasuke dan tak mau lagi berurusan dengan pemuda itu. Karena lelaki tadi sadar betul akan sangat merepotkan kalau dirinya yang hanya penjahat kelas teri berhadapan dengan seorang hunter sepertinya.
Sasuke menatap punggung lelaki yang telah menjauh itu dengan tatapan dingin. Kedua onyx kelamnya kemudian beralih ke bungkusan putih yang diangkat dengan sebelah tangannya itu. Pemuda itu kemudian menoleh ke belakang saat menyadari ada derap langkah seseorang yang tampak terburu-buru.
Onyxnya melebar dan mulutnya sedikit terbuka ketika sosok merah muda itu kembali terteangkap oleh indera penglihatannya. Ekspresi gadis yang masih terengah-engah itu pun sama seperti dirinya—tidak percaya.
"Sasuke . . . " Hingga akhirnya bibir gadis musim semi itu kembali melantunkan nama pemuda yang kebetulan telah menolongnya.
oOo
"Terima kasih sudah menolongku." Kedua anak manusia yang berbeda gender itu kini tengah duduk di kursi panjang yang ada di taman kota.
"Hn." Sang pemuda hanya menjawab dua kata khasnya.
Tapi hal itu tidak membuat sang gadis kecewa. Seolah dia telah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu. Sang gadis musim semi itu hanya tersenyum lembut sambil menatap pemuda yang akhir-akhir ini terus menarik perhatiannya. Keduanya sama-sama diam untuk sesaat.
Sakura kemudian membuka bungkusan miliknya tadi—nampak merogoh sesuatu dari dalamnya. Ekor mata Sasuke melirik kegiatan yang dilakukan gadis di sebelahnya itu. Sakura kemudian mengambil sepotong roti yang dibelinya tadi dan menyerahkannya kepada Sasuke.
"Ini, anggaplah traktiran dariku karena telah menolongku," ujar Sakura kemudian sambil tersenyum ceria.
Sasuke memandang roti itu dengan tatapan malas, "Tidak, terima kasih," tolaknya spontan.
Sakura menggembungkan pipinya ketika mendengar penolakan dari pemuda di sampingnya itu. Gadis itu mendengus sebal, "Ayolah! Apa kau mau menolak rasa terima kasih dari seorang gadis?" Raut wajah kecewa terlihat jelas dari wajah ayu gadis itu.
Sasuke mendengus sebal sebelum akhirnya roti itu beralih dari tangan Sakura ke tangannya. Raut muka gadis itu pun kembali berubah menjadi ceria seperti biasanya. Gadis aneh! Dia bisa kembali ceria hanya karena Sasuke menerima pemberiannya.
"Ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan? Mencari buruan lagi?" tanya Sakura penasaran.
Sasuke mulai menggigit roti tadi. Ia memejamkan matanya ketika lidahnya merasakan manis dari roti itu. Sejujurnya Sasuke memang tidak suka makanan manis. "Hanya sedang mencari angin saja," jawab Sasuke singkat.
"Sudah dua kali kau menolongku . . . Dan kalau dipikir-pikir kita selalu bertemu dengan cara yang tidak biasa. Kalau diingat pertemuan pertama kita juga begitu." Sakura sedikit menundukkan badannya kemudian menyobek roti di tangannya menjadi bagian-bagian yang sangat kecil—seukuran dengan ujung kuku. Gadis musim semi itu kemudian melempar potongan-potongan roti itu ke arah burung pipit yang tengah berkerumun di bawah kakinya.
Sementara Sasuke hanya diam. Memorinya kemudian terputar ke ingatan saat pertama kali ia bertemu dengan gadis yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Gadis yang tanpa curiga sama sekali langsung menolong orang asing sepertinya.
Sakura kembali menyandarkan tubuhnya di bangku panjang itu. "Aku heran kenapa waktu itu kau pergi dari rumahku tanpa pamit. Aku khawatir dengan lukamu yang belum sembuh benar waktu itu," lanjut Sakura panjang lebar.
" . . . " Sasuke tidak memberikan tanggapan apa-apa dan terus mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir tipis gadis itu.
"Kata temanku—Juugo, kau adalah anggota Golden Hawk. Apa itu benar?" Kedua manik klorofil milik Sakura kini menatap lekat sang pemilik onyx.
Sasuke agak terkejut ketika mendengar pertanyaan Sakura barusan. Pemuda berambut raven itu pun akhirnya menatap Sakura. Onyx dan emerald itu kembali bertemu. Sasuke memejamkan matanya kemudian membukanya lagi untuk menjawab pertanyaan Sakura tadi.
"Ya," jawab Sasuke singkat.
Sakura sedikit terkejut mendengar pengakuan Sasuke barusan. Karena seperti yang ia tahu dari Juugo kalau anggota Golden Hawk adalah orang-orang yang berbahaya. Untuk beberapa saat ia tidak bisa bicara apa-apa.
"Kenapa? Kau takut padaku setelah tahu hal itu?" Sasuke tersenyum miring sambil tetap menatap Sakura.
Sakura menarik nafas sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. "Kau bukanlah orang jahat. Jadi aku tidak perlu takut padamu," ucapnya kemudian.
Sasuke tertawa renyah mendengar jawaban gadis itu, "Apa orang yang telah membunuh banyak orang bukanlah orang jahat?" Manik kelamnya menatap lurus kedua klorofil Sakura.
Kedua alis Sakura bertaut. Gadis itu nampak tidak mengerti dengan maksud ucapan Sasuke. "Bagiku hunter juga sama dengan pembunuh. Karena pada akhirnya mereka juga ikut melibatkan dirinya ke dalam pertumpahan darah dari para buruan atau musuhnya. Membunuh dan dibunuh sudah menjadi roda yang akan terus bergulir di kehidupan para hunter."
Sasuke bicara tanpa keraguan sedikit pun. Tentu saja hal itu membuat Sakura sedikit merasakan takut. Sakura menyentuh dadanya yang entah kenapa terasa sakit. "K—kenapa? Bukankah seseorang juga berhak untuk hidup sekalipun dia adalah penjahat nomor satu?!" Sebelah tangan Sakura meremas bagian bawah bajunya. "Kalau terus membunuh dan dibunuh maka rantai kebencian itu tidak akan pernah putus . . . " Suaranya mendadak lirih.
Angin mendadak berhembus membelai mahkota mereka berdua. Manik kelam Sasuke kini memandang langit yang mulai berubah menjadi gelap. "Seseorang akan terus membenci dan mendendam ketika harta mereka yang paling berharga direbut seenaknya." Memorinya kemudian secara tidak sengaja terputar balik. Mengingat kejadian kelam dan tragis yang menimpanya saat dia masih kecil. Saat kedua orangtua pemuda stoic itu dibantai tepat di hadapannya oleh kakak kandungnya sendiri.
"Dulu, orang tuaku dibunuh di depan mataku sendiri oleh orang yang tidak ku kenal. Karena trauma dan shock sampai sekarang aku tidak bisa ingat siapa orang yang telah membunuh kedua orangtuaku—" Sakura menarik nafasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Aku tahu betul bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat berharga. Oleh karen itu, jangan membunuh lagi Sasuke . . . "
Ada sebersit rasa takut untuk mengungkapkan hal yang mungkin lancang kepada Sasuke—orang yang baru dikenalnya. Namun entah keberanian darimana yang Sakura dapat sampai akhirnya kalimat yang tadi nya masih menyangkut di ujung pita suaranya akhirnya bisa keluar dan berhasil ia katakan. Sakura tahu dan bahkan sangat merasakannya—bahwa pemuda bermata kelam itu hanya kesepian. Entah alasan logis apa yang membuat Sakura ingin sekali menghapus semua kepedihan dan kesepian yang ada di dalam diri pemuda itu.
Sasuke bangun dari duduknya. Pemuda itu kini membelakangi Sakura dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya. "Kau berkata seperti itu seolah kau yakin kalau aku tidak akan membunuhmu," ucap Sasuke tiba-tiba.
"Seorang hunter tidak akan membunuh orang yang bukan menjadi buruannya 'kan?" sahut Sakura yakin. Kaki jenjangnya hampir melangkah mendekati Sasuke. Sebelum akhirnya—
"DOOORRR"
Sebuah peluru melesat dengan cepat tepat di samping telinga gadis merah muda itu. Helaian anak rambut yang tersibak di samping telinga Sakura pun terpotong akibat peluru yang melesat tadi dan membelah angin. Pemuda onyx itu menatap tajam ke arahnya dengan pistol yang masih berada dalam genggamannya. Ada sorot mata kemarahan yang terpancar dari kilatan matanya.
"Seorang hunter juga akan membunuh orang yang berusaha mengganggu jalannya," sahut Sasuke dingin kemudian menyelipkan pistolnya ke dalam jaketnya. Pemuda itu masih menatap tajam Sakura sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis itu.
Tubuh Sakura gemetaran, keringat dingin mengucur dengan deras dari sekujur tubuhnya. Jantungnya berdebar hebat seakan-akan mau copot. Kedua lututnya kini mendadak lemas sehingga tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Gadis itu terduduk lemas tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Sasuke. Pemuda itu hampir membunuhnya.
Sakura menoleh ke arah pohon di belakangnya yang menjadi sasaran peluru Sasuke tadi. Ada bekas peluru yang dalam di batang pohon tersebut. "Sasuke . . . " gumam Sakura lirih.
Dan untuk yang pertama kalinya, gadis itu merasa hancur dan rapuh seketika.
Apa sesuatu hal yang salah ketika aku menginginkan kedamaian?
Apa sesuatu hal yang salah ketika aku tidak mau kembali merasakan kehilangan?
Aku tahu betul bagaimana rasanya dan aku yakin kau bahkan jauh lebih mengetahuinya.
Jangan membunuh dan jangan terbunuh!
Salahkah aku mengaharapkan secercah sinar dari onyx kelam milikmu?
~TBC~
Author's Note :
Maaf chapter 3 ngaret apdet. Author sedang kehilangan inspirasi untuk ngelanjutin fict-fict MC nya. Selain itu juga author sudah kembali ke kehidupan di dunia nyata sehingga waktu untuk ngetik juga semakin berkurang T.T
#jangan curcol woi
Terima kasih banyak untuk yang sudah mereview di chapter 2 kemarin : Momo Haruyuki, Kuromi no Sora, yukarindha yoshikuni, CN Bluetory, me, Ai Asami, Hoshino Kumiko, Anka-Chan, , Aika Yuki-chan, Asakura Ayaka, Fiyui-chan, Vanille Yacchan, Chintya Hatake-chan
Makasih banget untuk kalian semua. Maaf belom bisa balas review kalian satu-satu soalnya modem aku lagi lemot banget ToT
#curcol lagi
Sekali lagi aku minta maaf kalo chapter ini kependekan, alurnya lompat-lompat dan feelnya berasa datar. Aku juga mau minta maaf karena gak akan bisa apdet cepet lagi. Begitu juga untuk fict MC ku yang lain seperti She is Mine, Oh, My Girl!, When Shinobi Meets Shinigami #sekalian promosi XD
Maaf kalau ada di antara kalian yang juga menunggu fict di atas kagak apdet-apdet. Harap tetap bersabar menunggu karena liburan author sudah berakhir jadi kagak bisa apdet kilat lagi. :'(
Pokoknya aku mau terima kasih sebanyak-banyak dan juga minta maaf sedalam-dalamnya sama kalian semua.
Cukup bacotannya! Akhir kata terima kasih sudah mau membaca chapter ini. Dan seperti biasa,
REVIEW PLEASE.. :D
