Disclaimer: Masashi Kishimoto
Ah, mohon maap walo judulnya natal tapi gak d post pas natal, soalnya natal ma taun baru deket banget, sementara chapter selanjutnya mungkin soal tahun baru, niatnya update pas taun baru juga :3 jadi natalnya d upload sekarang, tapi gambrnya yg 1 upload ps natal (gambarnya ada 2 bwt chapter ini)
Ah, dan buat yg belum tau, maap bgt Sasuke nya author bikin OOC. Disini author mau nyiptain karakter Sasuke yang cool, tapi dia klop and bs gaul terutama sama temen-temen cowoknya gitu, istilahnya supel kali ya? XD Maap kalo ada yg gak suka…
Reply Review:
#Uchiha Kon: weehh, masa si? Kok bisa gitu? :3a iya kok ini SasuNaru gan kayaknya ^^/ yups, ini lanjut. Makasih banyak read reviewnya :D
#liaajah: hmm…itu namanya persahabatan antar cowok kan :3 biasanya persahabatan cowok kan kuat banget XD tp mungkin bs juga sinyal yg anta sebutkan td ^^/ iya ini lanjut, makasih banyak read and reviewnya ya…
#Saitama-kun: ehm, btw gimana kabar pacar baru ore? (baca: Genos-kun) ah, kembali ke topic XD makasih udah nunggu, ini chapter barunya update. Makasih banyak read reviewnya ya…
#Aikhazuna117: ahaha, iya kan melihat waktu juga XD makasih udah nunggu, iya ini lanjut update…makasih banyak read reviewya ya :D
#Retnoelf : wkwkwkwk iya XD judulnya aja shonen-ai yaoi peran utamanya mereka, ya pasti mereka suka satu sama lain XD iya ini next, makasih banyak read reviewnya ya…
Makasih juga buat yg udah log in, jawab lewat PM ya :3 : Aiko Vallery, mifta cinya, choikim1310, SapphireOnyx Namiuchimaki, efi. astuti. 1, yassir2374, Dewi15, yuvikimm97, Yodium, Meli793, acca1 makasih banyak read reviewnya ^^/
.
.
.
Chapter 3: Christmas
.
.
.
"Naruto, kau jadi mau belanja natal atau tidak?" tanya Kushina malam itu.
"Ugh…iya Kaa-san, aku kan sudah janji bakal belanja natal. Pasti kutepati kok…" jawab Naruto dari kamarnya.
"Betul loh. Soalnya Kaa-san dan Tou-san ada acara lain, jadi nggak bisa belanja."
"Iya iya aku ngerti kok. Besok aku belanja," setelah itu terdengar langkah kaki Kaa-san nya itu menjauh. Lalu, barulah Naruto mulai mengeluh lagi. Pasalnya seperti yang ia bilang tadi, dia sudah janji bakal belanja perlengkapan natal. Dia memang tak keberatan melakukannya, karena biasanya ia akan pergi belanja bersama yang lain. Tahun lalu bersama Sakura saat mereka masih pacaran, dan sebelum-sebelum itu ia belanja dengan Kiba dan teman-teman sekolah lainnya. Masalahnya adalah tahun ini. Naruto sudah selesai mengabsen kawan-kawannya dan mengajak belanja natal, tapi natal kali ini mereka semua sudah punya pacar dan akan belanja dengan pacar mereka masing-masing.
"Ugh…! Ajak siapa lagi nih…masa belanja natal sendiri. Menyedihkan banget…!" ucap Naruto sambil menyecroll kontak di smartphone nya. Ia tidak tahu harus mengajak siapa lagi. Saat itulah ia teringat teman-teman les nya.
"Uhh…tapi kan jauh, mana mau mereka belanja bareng," keluh Naruto tapi tetap membuka facebook nya. Ia langsung menge-chat Suigetsu yang memang selalu online.
"Belanja natal? Sorry, aku sudah ada janji dengan gebetanku," begitu balasan Suigetsu.
"Eeeehh? Gebetan? Dapat dari Goukon kemarin?" balas Naruto.
"Bukan lah, dari Goukon kemarin kan mengincar Sasuke semua, nggak ada yang minat padaku. Cih! Gebetanku yang ini anak satu sekolah denganku."
"Geez, bagaimana dengan Juugo?"
"Setahuku sih dia nggak pernah belanja natal sama temannya. Kurasa dia belanja dengan keluarganya yang emang jarang ngumpul kalo nggak hari libur."
"Kalau Sasuke?"
"Jangan tanya lagi. Dia paling anti sama belanja natal. Pernah sekali aku belanja dengannya dan berakhir bencana karena semua gadis mengerubutinya. Kami malah nggak beli apa-apa karena sibuk ngumpet. Kurasa sejak itu dia trauma."
"Uuhhh…nggak ada kenalan yang bisa kuajak nih? Teman sekelas les? Teman sekolahku pergi sama pacarnya semua!"
"Sama. Teman les juga belanja sama pacar mereka. Ah, gimana dengan Hinata?"
Naruto mengerutkan alis. "Hinata? Siapa ya?" tanya Naruto.
"Astaga. Itu loh cewek rambut hitam yang ikut Goukon. Jelas banget dia tertarik padamu."
"Geez, aku kan nggak kenal dia. Lagian nggak punya nomornya."
"Mau kuberitahu accountfacebook nya?"
Naruto berpikir sebentar. "Enggak deh. Nanti dikira ngasih harapan ke dia, padahal aku nggak minat sama dia."
"Tch! Ya sudah sesukamu saja. belanja natal sendiri sana."
Naruto Cuma bisa cengok lalu menghela nafas panjang. Ia menyandar pada kursi belajarnya dan memutar-mutar kursinya.
"Chee, masa belanja sendiri. Males banget," gumam Naruto. Saat itulah tiba-tiba bunyi kling terdengar dari ponsel Naruto. Sasuke mengiriminya chat.
"Ada acara besok? Temani aku belanja natal dong…" begitu isinya.
Sontak saja Naruto terbelalak dan langsung mengetik chat jawaban.
"Iya mau! Aku juga harus belanja natal tapi nggak ada teman."
Tapi bukannya Sasuke nggak suka belanja natal? Pikir Naruto. Baru saja dia mau menanyakan itu, chat Sasuke berikutnya sudah masuk.
"Fufufu jomblo ya."
Grrr…
Aura membunuh Naruto langsung muncul.
"CE-RE-WET! Kalau kau mengajakku buat belanja berarti kau juga jomblo kan!" balas Naruto.
Sasuke membalasnya dengan mengirim sticker Tuzki yang super menjengkelkan. Naruto sudah hampir marah-marah lagi, tapi ia lalu menghela nafas lelah dan mengetik hal lain.
"Tadi aku tanya Suigetsu, katanya kau nggak suka belanja natal. Kenapa sekarang mengajakku?" ketik Naruto. Lama tak ada jawaban, hingga Naruto berniat tidur barulah sebuah balasan masuk.
"…menghabiskan waktu…"
Jawaban sama yang Sasuke berikan dulu saat Naruto menanyainya di tempat les.
~OoooOoooO~
Naruto menunggu di stasiun hari berikutnya. Rencananya sih mereka bakal belanja di district daerah tempat tinggal Naruto, jadi Sasuke yang akan mengunjunginya. Tak berapa lama menunggu, kereta yang dinaiki Sasuke sampai juga.
"Yo," sambut Naruto saat Sasuke keluar dari kereta. Kali ini Sasuke memakai pakaian kombinasi biru-hitam. Wow, sepertinya dia mengikuti saran Naruto kalau dia lebih cocok dengan warna biru. Dan yang membuat Naruto lebih senang adalah saat melihat kalung pemberiannya masih bergantung di lengan Sasuke. Tunggu, ini kan sangat dingin? Kenapa Sasuke memakai baju pendek? Dan yang Naruto lihat Sasuke Cuma menenteng jaket hangat di tangannya tanpa memakainya. (Readers bisa lihat gambarnya di facebook page: Indonesian Manga*)
"Hoi, pakai jaketmu! Ini dingin," omel Naruto.
"Berisik," balas Sasuke dan bersikeras tak memakai jaket.
"Nanti kau sa—…" Naruto menarik lengan Sasuke yang ada kalungya. 'Tu-tunggu, jangan-jangan dia memakai baju pendek supaya kalung ini terlihat', batin Naruto.
Blush!
Naruto langsung membatu.
"Dobe?" panggil Sasuke. Tak ada jawaban. "Oi Dobe!" Sasuke menyentakkan tangannya dan barulah Naruto sadar. "Kau ini kenapa?"
"Ti-tidak apa-apa kok. A-ehm,…! Pokoknya kalau nanti tambah dingin pakai jaketmu.
Sasuke mengangguk. "Langsung ke tempat belanja?" tanya Sasuke. Giliran Naruto mengangguk.
"Mumpung salju lagi nggak turun," jawabnya. Mereka lalu menaiki bus menuju tempat belanja mereka.
"A-astaga, ramai sekali," mereka mematung saat melihat district yang mereka kunjungi sangat ramai. Tiba-tiba Naruto teringat chat Suigetsu yang katanya Sasuke trauma gara-gara belanja terus dikejar fans girl. "Sasuke, apa kau—…" Naruto batal berucap saat melihat Sasuke sudah menarik hoodie nya unuk menatapi kepala.
"Apa?" tanyanya.
"Nggak. Nggak apa-apa," balas Naruto. Mereka mulai menusuri district ramai itu dan berbelanja.
"Ini sudah ini sudah," Naruto mencentang daftar belanjaannya sambil jalan. "Oia ngomong-ngomong…" ia melirik Sasuke. "KAN KAU YANG NGAJAK BELANJA, KENAPA MALAH KAU NGGAK MEMBELI APAPUN?!" omel Naruto.
Sasuke tutup kuping. "Karena nggak ada yang menarik," jawabnya simple.
"Chee, nggak menarik atau apa, kau tetap harus beli kan. Kalau nggak kau mau merayakan natal gimana?"
Sasuke membuang pandangan entah kemana. "Percuma juga merayakan natal kalau nggak ada siapa-siapa," gumamnya pelan. Naruto Cuma menatapnya diam, Sasuke yang heran dengan kediaman Naruto langsung balas menatap. "Apaan? Belanjaanmu sudah selesai belum?"
"Urk…well, masih beberapa," dan merekapun pergi ke toko selanjutnya.
~OoooOoooO~
Hari sudah malam saat Naruto menyelesaikan belanjaannya yang segunung.
"Fuaahh akhirnya selesai juga," ucap Naruto. "Oi Sasuke, aku sudah selesai. Kau mau—…" Naruto tak melanjutkan ucapannya saat melihat Sasuke menatap ke suatu tempat. Naruto mengikuti arah tatapannya. Arena ice skating.
"Kau mau main?" tanya Naruto.
"Eh?" seolah Sasuke baru sadar dari lamunannya. "Yeah, ingin mencobanya sesekali."
"Sesekali? Kau belum pernah ice skating?"
Sasuke menggeleng.
"Ya ampun, masa kecilmu nggak bahagia banget ya," komentar Naruto. Sasuke Cuma merengut. "Boleh deh main, tapi aku mau mengantar ini pulang dulu. Merepotkan kalau main bawa belanjaan."
Naruto memanggil taxi untuk mengangkut semua belanjaannya, lalu ia masuk ke taxi bersama Sasuke.
"Nggak keberatan kan mampir ke rumah sebentar?" tanya Naruto. Sasuke menggeleng.
Sasuke membantu Naruto membawa belanjaannya masuk setelah taxi menurunkan mereka di depan kediaman Namikaze.
"Orang tua ku lagi nggak di rumah, makanya aku yang disuruh belanja," ucap Naruto sambil menyalakan lampu-lampu rumah. Ia meletakkan semua belanjaannya di ruang tengah. "Taruh sini saja."
Sasuke menaruh barang-barang di ruang tengah mengikuti Naruto.
"Mumpung sudah di rumah, mau mandi dulu? Habis itu kita main sampe larut deh…" cengir Naruto. Sasuke mengangguk dan mempersilahkan Naruto mandi duluan sementara ia bersantai di kamar Naruto. Sasuke melihat-lihat kamar itu, lampu lava yang Naruto beli waktu itu diletakkan di atas kepala ranjang. Untuk selebihnya dekorasi kamar itu cukup simple. Sasuke menatap gelang di tangannya. Ngomong-ngomong soal itu, dia belum membelikan Naruto apapun sebagai balasan. Ah, mungkin nanti dia menemukan sesuatu yang menarik untuk dibelikan.
"Aku sudah selesai. Tinggal kau sana," ucap Naruto saat keluar dari kamar mandi. Selama Sasuke mandi, Naruto menyiapkan coklat panas dan makan malam walau Cuma menu simple.
"Kau bisa masak juga," komentar Sasuke saat mereka makan.
"Cuma yang simple sih. Kadang Kaa-san pergi tanpa memasakkanku dulu, jadi aku harus belajar masak kalau tidak mau kelaparaan saat malas keluar," jawab Naruto.
Setelah makan, mereka kembali ke district tadi dan menuju arena ice skating.
"Fufufu berarti kau ini pemula ya, biar kuajari," Naruto menyombongkan diri saat mereka memakai sepatu skating.
"Memangnya kau jago?" cibir Sasuke.
"Well, seenggaknya aku pernah main. Walau yang terakhir sudah dua tahun lalu sih."
Mereka memasuki arena ice skating. Naruto sudah mulai berceoteh lagi. "Untuk permulaan, kau pegangan ke pagar saja deh…kalau aku sih sudah nggak—…"
Gusraakk…!
Dan Naruto jatuh dengan tidak elite nya.
"Hmph…!" Sasuke menahan tawa. "Gimana kalau pegangan ke pagar, tuan professional," cibirnya. Ia memasuki arena skating dan…walau awalnya sempat sedikit hilang keseimbangan, Sasuke malah berhasil meluncur tanpa jatuh seperti Naruto. "Dobe," ejeknya dan berseluncur mulus.
"Awas kau Teme!" geram Naruto dan bangkit. Kali ini ia juga bisa meluncur dengan baik dan mengejar Sasuke. Mereka berseluncur cukup lama, hingga mereka memutuskan untuk istirahat sebentar di pagar pembatas sambil melihat pemandangan kota.
"Fuaah…pemandangan kota malam hari memang bagus banget," komentar Naruto. "Apalagi suasana natal. Banyak banget lampu kerlap kerlip."
Sasuke Cuma menjawab dengan 'hn' seperti biasa.
"Oh ya Sasuke, kau bilang kau mengajakku belanja natal untuk menghabiskan waktu," cerocos Naruto. Dia memang sudah super terbiasa dengan respon Sasuke yang satu itu. "Waktu di tempat les kau juga bilang menghabiskan waktu makanya kau ikut les bahkan sampai jam tambahan. Memang apa maksudnya?"
"Cih! Memang sebegitu sulit dimengerti kata 'menghabiskan waktu'?" cibir Sasuke.
"Geez, maksudku, memangnya kau nggak ada kegiatan lain apa? Dasar pengangguran."
Sasuke menopang dagu nya dan tetap menatap lurus ke pemandangan kota. "Yeah, daripada nggak ngapa-ngapain. Di rumah juga nggak ada siapa-siapa. Jadi aku lebih suka di sekolah. Seenggaknya ada manusia yang bisa kuajak ngobrol."
"…" Naruto tak bisa bereaksi apapun selain menatap Sasuke dalam diam. Mungkin ia harus bersyukur orang tua nya selalu ada untuknya. "Memangnya orang tua mu jarang di rumah?" Naruto memberanikan diri bertanya pada akhirnya.
Sasuke berbalik badan, bersandar pada pagar dan menatap ke atas. "Yeah, nggak pernah," jawabnya.
"Meski natal sekalipun?"
"Bagi mereka semua hari itu sama."
"…" lagi, Naruto tak bisa menjawab. Mungkin ia harus mengalihkan pembicaraan yang kelewat sensitive ini. Ia menatap di kejauhan dan melihat pohon natal raksasa yang terletak di pusat kota. "Ah, Sasuke, kesana yuk. Aku sudah lama ingin mengunjungi pohon natal itu, tapi nggak pernah ada teman. Mereka bilang norak," unjuk Naruto pada pohon itu.
"Ya, memang norak," balas Sasuke spontan.
"Guhu…!"
"Memangnya kau anak SD yang tertarik sama pohon natal raksasa di pusat kota?" cibir Sasuke.
"Be-berisik. Pokoknya aku mau kesana. Kau ikut atau nggak terserah. Asal kau nggak nyasar saja sih," Naruto menjulurkan lidahnya sambil berseluncur keluar arena. Pada akhirnya toh mereka juga tetap mengunjungi pohon itu.
"Uwaaahh gede banget! Dilihat dari dekat tambah keren! Selfie yuk!" girang Naruto dan merangkul pundak Sasuke dan memposisikan smartphone nya untuk selfie.
"Ghh…ogah! Kalau kau mau foto, foto sendiri saja biar aku yang memotret," Sasuke berusaha melepaskan diri.
"Oh, ayolah. Kita kan kesini bareng, nggak seru kalau foto sendirian. Cheers!" Naruto menekan shutter kamera. Gambar yang tertangkap adalah wajah nyengir Naruto dan wajah ogah-ogahan Sasuke yang tengah melirik Naruto dengan tatapan ogah-ogahan yang kelihatan ogah-ogahan dan memang ogah-ogahan. (Gambarnya akan di post di facebook page: Indonesia Manga saat natal ^^/)
"Kukirim ke handphone mu ya, trus kita jadiin wallpaper biar kembar," semangat Naruto.
"Ogah!" balas Sasuke sadis, tapi tetap saja Naruto mengirim foto itu. Mereka mendongak saat butiran salju perlahan mulai turun.
"Sebaiknya kita pulang. Bisa gawat kalau salju nya lebat," ucap Naruto.
"Yeah, aku juga harus segera pulang. Takutnya kereta nggak jalan kalau hujan salju," balas Sasuke.
"Tuh rindu pulang juga," ledek Naruto yang Cuma ditatap flat oleh Sasuke.
Naruto mengantar Sasuke sampai ke stasiun, untung saja mereka tidak ketinggalan kereta meski jalanan sempat macet.
"Aku duluan ya," ucap Sasuke saat mau memasuki kereta.
"Iya hati-hati," balas Naruto. "Oh ya, kau ada acara di Christmas Eve?"
Sasuke Cuma melirik Naruto lewat pundaknya.
"Kalau nggak ada, datang saja ke rumahku. Untuk 'menghabiskan waktu'," cengir Naruto. Sasuke tak merespon, tapi tanpa Naruto ketahui, sebuah senyum tipis terlukis di bibirnya.
~OoooOoooO~
Christmas Eve adalah malam ini. Dan Sasuke tengah mematung di depan cermin kamarnya. Seperti yang telah direncanakan, Sasuke akan mengunjungi kediaman Namikaze, tapi sekarang dia bingung harus membawa apa. Natal biasanya tukar-tukaran hadiah kan? Lalu apa ia harus membawa hadiah untuk ditukar nantinya? Lalu berapa yang harus ia bawa? Cukup satu untuk si Dobe atau untuk kedua orang tua nya juga? Tunggu, bagaimana kalau saudara yang lain juga ikut berkumpul? Apa ia harus membawa kado sejumlah orang yang datang? Well, dia belum pernah merayakan natal "normal" sebelumnya, jadi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Di tengah kebingungannya, ia menatap TV yang tengah menyiarkan berita cuaca. Katanya malam ini salju akan lebat dan mungkin jalur kereta akan terganggu. Sedikit panik, Sasuke menatap keluar dan melihat butiran salju yang belum deras mulai turun. Ia harus cepat ke stasiun, atau bisa-bisa ia tidak bisa pergi karena kereta tak beroperasi. Alhasil dia pergi tanpa membawa kado apapun. Ia Cuma bisa menatap syal Naruto di tangannya sambil menunggu kereta datang, syal yang dipinjamkan Naruto waktu di Goukon, Sasuke bermaksud mengembalikannya. Tapi mengembalikan syal dan nggak memberi kado sepertinya mungkin absurd. Dan ngomong-ngomong soal itu, ia bahkan belum jadi membelikan Naruto sesuatu sebagai ganti gelang yang diberikannya.
"Geez," Sasuke mengacak kepala nya sendiri. Udara semakin dingin, dan Sasuke malah akhirnya memakai syal itu untuk mengurangi hawa dingin yang membuat tubuhnya sedikit menggigil. Tak berapa lama kereta datang dan iapun naik.
"Yo," sapa Naruto dengan cengirannya yang biasa saat Sasuke turun dari kereta. "Beruntung kau datang lebih awal. Aku lihat berita katanya salju bakal deras nanti malam. Mungkin kereta nggak akan beroperasi," celotehnya.
"Hn," Sasuke Cuma menjawab itu. Ia bungkam memikirkan apa yang harus ia lakukan. Apa membeli kado sekarang? Kalau tidak seenggaknya ia harus mengembalikan syalnya sekarang supaya nggak absurd mengembalikan syal saat tukar kado. Tapi saat ini ia memakainya, aneh juga kalau ia melepasnya lalu memberikannya pada Naruto. Ish, mungkin seharusnya ia tak memakai syal itu.
"Ano sa, selain Kaa-san dan Tou-san, beberapa saudaraku juga datang. Nggak papa kan? Kau nggak usah canggung atau apa, mereka gampang diajak bicara kok," ucap Naruto. Sasuke Cuma menjawabnya dengan anggukan. Dia sedikit grogi juga, bisa dikatakan dia itu susah ngomong kalau dengan orang baru. Tak berapa lama mereka sampai di kediaman Namikaze.
"Tadaima," teriak Naruto sambil memasuki rumah. Jawaban 'Okaeri' terdengar dari dalam. "Ayo," ajak Naruto saat melihat Sasuke Cuma diam di depan pintu. Sasuke pun akhirnya melepas sepatu dan ikut Naruto masuk.
"Okaeri, loh, mana temanmu?" tanya Kushina saat Naruto memasuki ruang tengah.
"Itu," Naruto menunjuk Sasuke yang memang agak jauh di belakang.
"Ah, selamat datang," Kushina menyambut dengan ramah.
"…" Sasuke tampak kikuk. "Umm…maaf mengganggu," ucapnya.
"Haha sama sekali tidak. Malah bagus Naruto membawa teman, dia ini seperti nggak punya teman dekat. Menyedihkan sekali," Kushina mengacak rambut Naruto.
"Ish, Kaa-san, aku punya banyak teman kok!" protes Naruto.
"Huh? Tapi Kaa-san tidak pernah melihatmu membawa mereka ke rumah untuk main. Kaa-san jadi khawatir sebenarnya di sekolah kau nggak punya teman," Kushina melangkah menuju ruang sebelah.
"Punya kok!" Naruto menggembungkan pipi nya. "Ayo Sasuke," ajaknya mengikuti langkah Kushina. "Perapiannya ada di ruang sebelah."
Sasuke tambah grogi saat melihat banyak saudara Naruto sudah berkumpul di sana, mungkin sekitar ada sepuluh orang. Mereka terlihat sedang ngobrol dan tertawa, juga minum. Tapi mereka langsung menyambut hangat saat Sasuke memasuki tempat itu.
"Ah, silahkan duduk. Kau mau minum?"
"Atau mau coba sake juga boleh," mereka tertawa.
"Heh, awas saja kalau berani memberikan mereka sake," omel Kushina yang terlihat tengah menuju dapur. "Karin-chan, bisa bawa makanannya kemari?"
"Iya," terdengar jawaban dari dapur.
"Karin?" Sasuke menatap Naruto dengan sebelah alis terangkat. Naruto Cuma nyengir kuda.
"Ini baru kuangkat dari ove—…" Karin muncul ke ruangan itu dan langsung membatu melihat Sasuke.
Prang…!
Diapun menjatuhkann nampan di tangannya.
~OoooOoooO~
"Sorry mengagetkanmu," ucap Sasuke sambil meminum coklat panasnya setelah mereka semua makan. Anggota keluarga yang lain masih mengobrol dengan riuhnya.
"Ti-ti-ti-ti-tidak apa-apa. Haha…hahaha," jawab Karin yang jelas terlihat sangat grogi. Mungkin dia takut kalau fakta tentang dia yang dua tahun lebih tua dari Sasuke itu diketahui, atau sifat aslinya, atau yang lain-lain.
"Hei Sasuke, mau ikut main poker?" teriak Naruto.
"Boleh," senyumnya tipis dan ikut bergabung dengan Naruto dan yang lainnya tanpa mempedulikan kalau Karin baru saja meleleh melihat senyumannya.
"Yang kalah, harus buka baju, gimana?" usul Naruto. Sasuke melotot.
"Hahaha ide bagus. Ide bagus."
"Hei, ini musim dingin, jangan bertaruh semacam itu," omel Kushina.
"Kan ada perapian."
"Hush, perempuan dilarang berada di ruangan ini. Kami mau mulai pokernya."
"Dasar, jangan main terlalu larut loh…ah, nanti kubawakan bir lagi," ucap Kushina. "Ayo Karin. Kau nggak mau seruangan dengan laki-laki mabuk yang nanti bakal telanjang kan?"
Tapi terlihat sekali Karin ingin tinggal. "A-a-aku akan pergi sebentar lagi. Masih ingin di dekat perapian," alasan Karin.
"Alasan tuh," bisik Naruto ke Sasuke. "Pasti dia pengen liat kamu telanjang."
"Tch! Kenapa juga taruhannya harus telanjang sih," Sasuke balas berbisik.
"Lho? Poker biasanya gitu kan," cengir Naruto.
Permainan dimulai. Dan sesuai perjanjian, yang kalah menanggalkan satu pakaiannya dari yang terluar, mereka terus main sambil tertawa nggak jelas, apalagi karena orang dewasa nya mulai mabuk.
"Yoosh! Aku menang!" girang Naruto sambil meletakkan tiga kartu terakhirnya.
"Haha aku juga punya yang triple."
Pada akhirnya Cuma Sasuke yang nggak punya kartu triple dan dinyatakan kalah.
"Huahaha kau kalah lagi. Ayo buka bajumu," ejek Naruto.
"Berisik," gerutu Sasuke yang kini sudah tak memakai syal dan jaketnya, masih memakai baju dan celana panjang. Ia melepas baju panjangnya, tapi ternyata ia masih mengenakan baju tipis lengan pendek di balik itu. Bajunya itu membentuk sempurna lekuk tubuh Sasuke.
Sprooot…!
Karin mimisan sendiri dipojokan sambil berpura-pura meminum coklat panasnya yang sudah habis dari tadi.
"Huu nggak seru," ucap Naruto. Dia sekarang Cuma memakai boxer bergambar rubah dan kaos oblong. Sementara orang-orang lainnya juga sudah nggak lengkap lagi pakaiannya, ada yang Cuma memakai celana panjang, ada juga yang Cuma memakai boxer dan syal. Tapi sejauh ini belum ada yang Cuma memakai boxer.
"Yosh, ayo mulai lagi. Giliranmu yang ngocok Sasuke," ucap Naruto. Karin langsung merinding mendengar kata-kata ambigu Naruto. Sasuke mengocok tumpukan kartunya lalu mulai membagikan kartu itu. Entah memang sial atau apa, Sasuke yang kali ini sebagai Bandar malah mendapatkan kartu kecil semua. Alhasil putaran itupun Sasuke kalah lagi.
"Gyahahaha payah banget, kalah dua kali berturut-turut," ejek Naruto diantara tawa yang lainnya. Sasuke Cuma bisa merengut kesal dan membuka kaos tipisnya itu, menampakkan tubuhnya yang lumayan terbentuk.
Guussraakk…!
"Hoi kalian, sudah hentikan permainannya, ini sudah larut ma—…Gyyyaaa…" Kushina yang baru memasuki ruangan itu langsung histeris melihat Karin yang sudah berbaring di lantai dengan bersimbah darah.
"Pffttt…!" lagi-lagi tawa Naruto meledak sementara Kaa-san nya panic menolong Karin.
"Aku baik-baik saja, ya, baik-baik saja," ucap Karin sambil sok cool membetulkan letak kacamata nya dan berjalan keluar ruangan. Tapi parahnya dia malah menabrak pintu, meski lagi-lagi sok cool berjalan lurus seperti biasa.
"Bwahahaha ekspresinya jadi konyol banget liat kamu telanjang Sasuke," tawa Naruto.
"Berisik," ucap Sasuke dan mulai memberesi kartunya karena Kushina sudah menyuruh permainan berhenti.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu putih banget. Kayak mayat," Naruto menyentuh dada lalu perut Sasuke yang hampir membentuk six pack sempurna. "Dan tubuhmu juga bagus mengingat kau ini hobi nya duduk diam di dalam kelas."
"…" Sasuke Cuma menatap flat sampai Naruto nyengir kuda dan berhenti menyentuh tubuhnya.
"Ayo Naruto, sudahi permainannya dan kembali ke kamar," perintah Kushina sambil menaruh bir untuk para pria disitu. "Jangan ikut-ikutan mereka."
"Ah, Kaa-san, mumpung malam liburan masa nggak boleh begadang," protes Naruto sambil mulai memakai pakaiannya. Sasuke juga sudah selesai memberesi kartu dan mulai berpakaian.
"Apanya yang melarang begadang? Ini sudah jam 2 pagi tauk! Kaa-san baru saja mengabulkann permintaanmu itu. Sekarang kembali ke kamar. Ah, karena ruangan yang lain terpakai, Sasuke-kun, kau tidur di kamar Naruto tidak apa-apa ya? Ranjangnya lumayan besar kok. Atau kalau tidak, ada futon juga kalau mau."
"Iya, tidak masalah," jawab Sasuke. Ia dan Naruto lalu menuju lantai dua. Saat di tangga naik, mata Sasuke terpaku ke pemandangan di luar. Salju nya menumpuk banyak sekali, dan hujan salju masih turun dengan derasnya.
"Hoi, ada apa?" tanya Naruto yang sudah di depan.
"…tidak ada apa-apa," Sasuke mengikuti langkah Naruto.
"Ngomong-ngomong, mana kado untukku nih? Natal kan mestinya tukar-tukaran kado," ucap Naruto iseng saat mereka memasuki kamar.
"Ugh…" Sasuke tak bisa menjawab.
"Hee? Jangan bilang kau kesini nggak bawa kado untukku?" goda Naruto. "Kalau gitu aku juga nggak ngasih kado ke kamu deh."
Sasuke Cuma berpikir itu tidak masalah, ini memang salahnya sendiri tidak mempersiapkan kado.
"Ah, tapi…" Naruto membanting bokongnya di ranjang. "Syal itu, jadi kado untukmu juga nggak apa-apa," tunjuknya.
Sasuke Cuma bisa diam, terkesiap akan sikap bocah blonde itu. Iapun menghela nafas lelah lalu melepas jaketnya dan melemparkannya tepat ke muka Naruto.
"Kalau begitu itu kado dariku," ucap Sasuke dan melangkah menuju jendela.
"Haha…"
Sasuke Cuma melirik wajah Naruto yang terpantul di kaca jendela.
"Hahaha…" Naruto tertawa, bisa Sasuke lihat ekspresi Naruto yang kelihatan begitu gembira. Tidak yakin kenapa sih, tapi Sasuke juga jadi ikut tersenyum, tapi lalu mengalihkan pandangan ke salju di luar sana.
"Ah, kalau begitu ayo kita foto. Aku pakai jaketmu dan kau pakai syal ku, sebagai tanda kita sudah bertukar hadiah," girang Naruto dan lagi-lagi seenaknya merangkul pundak Sasuke.
"Ogah, aku males foto. Lagian kau ini cowok tapi suka amat sama foto," protes Sasuke dan menjauhkan tangan Naruto.
"Aku juga nggak biasa foto. Tapi ini kan moment berharga, ayo! Chee—…" tepat saat shutter kamera ditekan, Sasuke mendorong tangan Naruto menjauh sehingga gambar yang tertangkap Cuma speedline.
"Pelit amat," Naruto menggembungkan pipinya.
"…" terdiam sesaat. "…aku mau difoto asal…"
"…asal?"
Sedikit tersipu, Sasuke melirik tumpukan salju di luar sana. Loading sesaat, hingga Naruto menahan tawa walau akhirnya tawa dia pecah juga.
"Bwahahahaha jangan bilang kau pengen buat boneka salju baru mau foto bersama Bwahahahaha," tawa Naruto yang teringat kalau waktu itu Sasuke bilang bahkan belum pernah main ice skating. Mungkin saja bocah satu ini juga belum pernah melakukan hal-hal yang orang awam lakukan seperti membuat boneka salju.
"Ce-cerewet!" omel Sasuke. Jelas sekali kalau tebakan Naruto benar.
"Haha hahaha baiklah baiklah, besok Kaa-san paling juga ngomel menyuruhku membersihkan salju yang menumpuk. Hahaha sekalian saja buat boneka salju," Naruto menepuk pundak Sasuke masih sambil tertawa, ia lalu menuju ranjang. "Sudahlah, itu untuk besok. Sekarang kita tidur saja, nanti Kaa-san bakal ngamuk melihat lampu kamarku masih menyala."
Sedikit kesal juga sih karena diledek habis-habisan, tapi Sasuke Cuma diam saja lalu mematikan lampu. Ia naik ke ranjang, menyusul Naruto menarik selimut sampai ke pundak. Mereka tidur saling memunggungi di kedua tepi ranjang. Mereka diam cukup lama, mencoba tidur.
"Oi Dobe," panggil Sasuke pada akhirnya.
"Ngg…" jawab Naruto ngantuk.
"…" tak langsung membalas. "…terimakasih sudah mengundangku. Ini natal terindah yang pernah kualami," Sasuke menyembunyikan kepalanya di balik selimut. Naruto tak menjawab, tapi tanpa sepengetahuan Sasuke, ia tersenyum.
"Sudahlah, cepat tidur biar besok bisa bangun pagi untuk membuat boneka salju," ucap Naruto. "Oyasumi, mimpi indah sama boneka salju ya…pffftt…" ledek Naruto yang alhasil membuatnya kena timpuk bantal guling oleh Sasuke.
.
.
.
~To be Continue~
.
.
.
Ada yang tahu sticker Tuzki? XDDD favorite banget deh . kalau yang nggak tau, silahkan buka facebook dan cari stickernya XD
Dan soal acara natal nya, maaf kalau nggak sama persis dengan natal yang sebenarnya. Author bukan umat yang merayakan natal jadi nggak tahu detailnya, semua data diambil dari Manga, Anime, dan film yang pernah author tonton walau bukan umat yang ngerayain natal, tapi author suka liat natal (biasanya di film film dan anime), hiasannya dan lampu-lampu nya dan salju tuh bagus banget . #obsesi: pengen berenang di salju. Kapan di Indo ada hujan salju?
*link gambar: h# t# t# p# s# : / / w# w# w# . facebook indonesianmanga / photos / a . 589490527856838 . 1073741834 . 387318041407422 / 594182847387606 / ? type = 3 & theater (hilangkan spasi dan #)
