Latar: tahun ke-7 sebelum pertempuran melawan Voldemort.
Disclaimer: seandainya HARRY POTTER punya saya, Hermione akan menikah dengan Draco, *ngarep*
tapi ini tetap punya tante J.K ROWLING. Saya hanya pinjam
karakternya bentar.
summary: Takdir yang selalu mempermaikan perasaan mereka, akankah dapat menjadi sesuatu yang pantas untuk di
pertahankan? (maaf, summary nya gaje banget)
kata kunci: "DON'T LIKE DON'T READ"
tapi mohon ripiunya. . .,*tampang polos
memelas*
warning: bahaya, tekan back atau anda
akan mual dan membanting fanfict gaje saya.
Typo(s) dimana-mana.
Rated: untuk saat ini rating T, tapi pada chapter berikutnya
tidak dapat di pungkiri akan
rating M, karena terdapat kata-kata kasar dan makian yang tak pantas. *author di hajar*
chapter sebelumnya:
'Sedikit lagi, ukh sial' umpat Hermione ketika dia gagal menggapai buku itu.
"Tak semudah itu nona-tahu-segalanya!" bisik kemenangan draco memanasi telinga Hermione.
"JANGAN RIBUT DI PERPUSTAKAAN KU!" hardik Madam Pince dari kejauhan.
"Sudahlah, aku tak mau mendapat detensy hanya karena kau mud-blood!" kata Draco lalu melemparkan buku yang ditangannya ke sembarangan arah.
"Terkutuklah kau, ferret!" geram Hermione lalu pergi meninggalkan pemuda pucat itu.
Selamat membaca
Chapter 3
.
.
.
DRACO POVSinar matahari menyilaukan mataku ketika hendak membuka mata dari tidur. Ku buka mataku perlahan-lahan dan ketika itu juga terdengar suara ketukan dari jendela kamar.
Ternyata burung hantu yang mengantarkan surat. Dengan satu ayunan tongkat, jendela itu terbuka.
Ku lirik surat yang dijatuhkan di ranjangku.
"Mhom?" gumamku tak percaya.
Segera ku buka surat itu dan membacanya perlahan. Seketika dahiku mengkerut.
"Mhom and dad akan ke Hogwarts?" kataku tak percaya, "untuk apa?"
arghh...sial!
Dengan segera aku berlari ke kamar mandi dan sialnya lagi, si mud-blood itu telah menguasai kamar mandi lebih dulu.
"Granger, tak bisakah kau lebih cepat?" desakku sambil menggedor-gedor pintunya.
"Terserah aku mau berapa lama, Malfoy!" kata Hermione santai dari dalam kamar mandi.
"Sial!" umpatku lalu berjalan menuju sofa dan mendudukkan diriku dengan posisi yang menurutku amat sangat nyaman.
Ku tutup mataku dan kini bayang-bayang masa lalu melintas dibenakku.
Ketika aku mulai mempertanyakan tentang pentingnya status darah bagi keluargaku.
FLASHBACK O.o
Waktu itu aku berumur 12 tahun, ketika aku mulai sadar bahwa mud-blood telah unggul dariku.
"Dad, apakah darah murni adalah golongan yang paling unggul dari semua wizard?" tanya ku polos.
"Tentu saja, hanya pure-blood yang diakui sebagai penyihir." tegas Dady padaku.
"Tapi, ada murid yang kelahiran muggle di Hogwarts dan dia diakui, dad!"
"Jangan berfikir yang macam-macam!" kata dady lalu menatap dingin ke arahku, "tunjukan padanya bahwa dia hanya mud-blood kotor!"
"eh...?" lirihku kaget, "ya dady, akan ku buat dia tahu diri?"
FLASBACK OFF
Aku tertawa getir, "Granger," gumamku seraya membuka kelopak mataku.
Apa yang telah ku buat untuk membuat 'Mud-blood' itu sadar diri bahwa ia tak pantas di dunia sihir?
Oh..., demi bulu kaki merlin, apa kata Daddy kalau tau aku satu asrama dengan seorang 'mud-blood'. Setidaknya aku telah membuatnya bangga dengan pangkatku sekarang, tapi...ralat!
Daddy bangga? Owh, ayolah! Bahkan mengucapkan selamat saja tidak pernah. Sekarang dia akan tau bahwa aku tidak dapat mengalahkan seorang kelahiran muggle, apa aku akan di cruccio?
BLAM!
Pintu kamar mandi terbuka dengan kasar, membuat aku tersentak dari lamunanku. Ku lirik ke arah sumber suara dan terlihat Granger berlumuran cairan lengket bewarna hitam.
Terukir senyum kemenangan di wajahku, jebakanku berhasil. Granger tampak begitu marah, dia tahu pasti kalau pelakunya adalah aku.
"MALFOY!" teriaknya.
Suaranya menyakitkan telingaku, dasar 'mud-blood'.
"Wah, kau terlihat menarik, Granger!" ejekku.
"DIAM KAU FERRET!" bentaknya dan berjalan ke arahku, "kau menyebalkan, Malfoy!"
"Lalu?" tanyaku polos.
"Akan ku buat perhitungan padamu!"
"Mengancamku?"
"Sebaiknya aktifkan alrm bahayamu ferret, karena aku akan membalasmu!" ancamnya.
Dia telah berdiri di depanku dengan pandangan membunuh. Tangannya sudah mengepal, tapi aku tak dapat menahan tawaku jika memperhatikannya.
"Kau mirip ingus Troll!" ejekku lagi.
Bagaimana tidak lucu, dia hanya memakai baju kaus dengan celana selutut, rambutnya yang bagai semak itu telah lepek karena lendir hitam pekat, ah, bukan hanya rambut, tapi seluruh tubuhnya.
"JANGAN TERTAWA!" bentaknya padaku.
"Hei, suka-suka aku mau ketawa atau tidak!" masih dengan cengiran aku menahan tawa yang akan meledak. Hiburan yang menarik disaat seperti ini.
"MALFOY!" bentaknya lalu mengambil lendir yang melekat dirambutnya dan menempelkannya padaku.
Sial! Aku terlambat menyadarinya. Senjata makan tuan, heh?
"Wah, kau jadi lebih tampan Malfoy!" sindirnya.
"Arrgh...apa-apaan kau!" lendir hitam lengket terhias di pipi kiriku, "sial!"
ku lihat iya berbalik ke kamar mandi, cih, tak akan ku biarkan kau kabur rambut semak!
Ku tarik tangannya membuat iya tertarik ke belakang dan hilang keseimbangan.
"KYA...!" teriaknya ketika tubuh berlendirnya menghantamku dan membuat kami terjatuh ke sofa.
Wajahku menatap jijik padanya. Lendir-lendir itu berpindah padaku. Ini menjijikan!
"Minggir kau Granger!" ku dorong tubuhnya ke samping dan terjatuh ke karpet, dia meringis dan menatap sebal ke arahku.
Ku mencoba berdiri dan menatap tubuhku.
"Granger, kau benar-benar malapetaka, hah?" ketusku lalu masuk ke kamar mandi, aku harus berendam seharian untuk membersihkan kotoran ini.
NORMAL POV
Setelah pertengkaran dengan malfoy tadi, Hermione menjadi benar-benar kesal, dengan wajah sangar ia berjalan menuju Great Hall.
"Mione...," sapa Ron dari meja Gryffindore, tampaknya ia sedang butuh sesuatu dari Hermione.
Dengan ekspresi yang tetap menyeramkan Hermione bergegas menuju tempat sahabatnya itu.
"Mione, kau kenapa?" tanya Ginny hati-hati, "kau terlihat kesal?"
Hermione mendengus lalu duduk di samping Harry.
"Malfoy brengsek!" kata Hermione kesal, "lagi-lagi dia mengerjaiku!"
semua temannya menatap ngeri, .. Mereka tidak mau mencari mati dan akhirnya hanya bisa diam. Ron yang sebelumnya berniat meminjam tugas herbology Hermione kini mengurungkan niatnya. Mungkin setelah makan saja, pikirnya.
"Hey, lihat!" seru Ron pelan dan mengerdikan kepalanya ke arah depan tempat meja makan Profesor.
"Ada apa?" tanya Harry heran.
"Itu, Lucius Malfoy!" jelas Ron.
Seketika itu juga harry, Ginny dan Hermione menatap ke arah yang ditunjuk Ron, benar saja, di sana ada Lucius yang sedang berbicara dengan Prof. Snape.
"Dia siapa?" tanya Hermione seraya melirik ke arah wanita cantik separuh baya di samping Lucius.
"Dia Narcissa Malfoy, istri Lucius" jawab Ron.
"Mau apa mereka ke sini?" tanya Harry.
"Entahlah, mungkin rindu pada anak tercinta?" sindir Ron membuat sahabat-sahabatnya tersenyum geli.
"Oh tidak!" gumam Draco.
"Kenapa Drakkie?" tanya Pansy dengan nada manja seperti biasa.
"Itu orang tuamu kan, draco?" tanya Theodore yang berada di depan Draco.
"Hn," jawab Draco sekenanya.
DRACO P.O.V
'akh, sial sial sial, semoga saja mereka tidak tau siapa ketua murid puteri' rutukku harap-harap cemas.
Aku tidak habis pikir, untuk apa mereka repot-repot datang kesini, tidak mungkin karena rindu kan?
Granger Granger Granger, kalau orangtuaku tau, tamat kau!
Ku lirik ke arah partner wanita ku itu, ia terlihat makan seperti biasa. Seharusnya aku buat perjanjian dulu padanya agar dalam sehari ini tidak mengaku sebagai ketua murid.
"Drakkie sayang...," sapa narcissa seraya mengusap lembut rambutku.
Owh, mhom...kau membuat wajahku memerah karena malu.
"Kenapa kesini, mhom?" tanyaku untuk mengalihkan perhatian.
"Mhom hanya menemani daddy mu yang ada urusan dengan Prof. Dumbledore, jadi sekalian saja mengunjungimu," jelas mhom padaku.
"Drakkie, apa benar kamu jadi ketua murid putera?" tanya mhom.
"Ya, tentu saja!" jawabku bangga, walau sedikit tak suka membahas masalah ini.
"Lalu siapa partnermu?" tepat sasaran.
Apa yang harus ku jawab, 'Hermione Granger mhom, si mud-blood kotor'
oh, great!
Jangan harap aku akan mengatakannya.
"Oh mhom! Aku lupa kalau ada tugas untuk nanti yang belum diselesaikan, aku harus ke perpustakaan, mhom!" kataku cepat.
Setelah ku mengatakannya, dengan cepat aku bangkit; pamit, lalu segera keluar dari great hall. Menghindar adalah hal terbaik saat ini.
NORMAL P.O.V
Hermione melirik ke arah Draco yang berjalan tergesa-gesa keluar dari great hall. Rasa kesal masih tersirat dari tatapannya ke arah sang pangeran Slytherin.
"Hey, mau apa si Lucius menatap kesini seperti itu?" gumam Ron pada sahabatnya.
"Tatapan mengejek lagi," cibir Harry.
"Sudah bawaan!" sambung Hermione sekenanya. Setelah menyantap sarapan pagi hari ini, Hermione terlihat berjalan ke kelas astronomi bersama Harry. Di perjalanan mereka berpapasan dengan Lucius, seketika saja suasana menjadi tidak mengenakkan.
"Harry potter sang heroik dan si mud-blood," desis Lucius.
"Jangan mengatakan hal rendahan seperti itu pada sahabatku!" ancam Harry.
Hermione tampak shock dengan panggilan tersebut, ia terdiam dengan mata berkaca-kaca.
"Memang mud-blood kan?" kata Lucius dengan menekankan kata terakhirnya, "tak kusangka darah kotor seperti itu bisa menjadi ketua murid, cih!"
"Jaga ucapan anda, Sir!" kata Harry dengan nada berbahaya.
"Tenanglah, aku hanya mau berpesan pada sahabatmu itu," cibir Lucius dengan nada super angkuh, "jangan sampai dia mengotori anakku dengan darah lumpurnya itu!"
Serasa tersambar petir, Hermione menatap geram sekaligus sedih ke arah Lucius. Tubuhnya bergetar dan wajahnya memanas. Dengan segera ia berlari ke asramanya, hatinya terluka, harga dirinya telah diinjak-injak oleh Malfoy senior itu.
Selagi berlari, air mata mulai merembes ke pipinya, ketika akan masuk melewati lukisan asrama ketua murid, ia berpapasan dengan Draco Malfoy dan hampir saja bertabrakan.
"Hey, hati-hati dong, apa kau tak punya mata!" hardik Draco.
"Diam kau, Malfoy!" bentak Hermione dengan nada serak.
"Kau membentakku, heh?" kata Draco kesal seraya menahan tangan Hermione agar sang gadis tidak pergi, "kau kira kau siapa?"
"LEPASKAN!" Hermione menghentakkan tangannya sekuat tenaga agar terlepas dari cengkraman Draco namun tidak berhasil.
"Kau-" Draco sempat melihat wajah sang gadis yang sudah merah dan basah, "menangis?" suaranya mulai melembut.
".. .-BLOOD!" desis Hermione perlahan-lahan namun memberi penekanan pada setiap kata-katanya.
"A-apa maksudmu?" tanya Draco heran, "kau sudah gila, hah?"
"KAU YANG GILA! KAU BRENGSEK! Anak dan ayahnya sama saja!" bentak Hermione dan terus memberontak agar dilepaskan.
"Dengar Granger, ...kita!" ancam Draco dengan begitu sinis dan semakin menarik Hermione ke dekatnya. Terlihat kilatan amarah dimata abu-abunya menatap mata coklat susu Hermione.
"Uukhh...," ringis Hermione ketika Draco menggenggam pergelangan tangannya dengan sangat kuat.
"Terserah aku mau menyangkut pautkan orang tuamu, lagipula kalian sama-sama menyakitkan!" kata Hermione sambil terus berusaha melepaskan cengkraman Draco.
"Kau tau apa tentang kami, jangan berlagak kau mengenal kami!" desis Draco dan semakin mengeratkan cengkramannya.
"Akh! S-sakit, l-lepaskan, Malfoy. . .," Hermione mulai memelas, ia terlihat sangat lelah dan air mata masih saja membanjiri wajahnya.
"Kau," amarah sang pangeran telah memuncak, wajahnya yang putih pucat mulai memerah dengan urat-urat leher yang mulai menegang.
"Malfoy, lepaskan aku, sakit!" Hermione terus memberontak dan mulai memukul tubuh Draco.
Dengan geram si Malfoy junior itu menarik Hermione ke ruang rekreasi dan menghempaskan sang gadis ke sofa hingga tertelentang. Dengan cepat ia mengunci pergerakan Hermione dengan kedua tangannya yang berada di samping kiri-kanan telinga Hermione sebagai penopang tubuhnya agar tidak menindih sang puteri Gryffindor. Kakinya juga mengunci pergerakan kaki si gadis. Hermione mulai terisak.
"Kau tau apa tentang aku dan Ayahku, Granger?" lirih Draco, "berhentilah menjadi nona-tahu-segalanya, Kau tidak tau apa-apa!"
"Menjauh dariku!" bentak Hermione ditengah isak tangisnya.
"Kau kenapa?" tanya Draco sambil menatap intens ke mata coklat susu si gadis, "kau sudah gila, mud-blood jalang!"
"Berhenti mengatakan itu padaku, Ferret!" bantah Hermione, "Kau dan ayahmu sama-sama bermulut kotor!"
"KAU YANG KOTOR!" bentak Draco dan meninju sofa disamping Hermione, membuat sang gadis menutup matanya dengan bibir gemetar.
"Kau kira hikz- kau kira kau begitu bersih? Kau kira kau tak tersentuh, hah?" kata Hermione yang berusaha menahan tangisnya, "kau kira hanya kau yang pantas berada di tingkat yang tinggi, kau salah, Malfoy!"
Draco terdiam, keringat mulai mengalir indah di pelipisnya.
"Cih, aku memang tidak tersentuh, lalu kau mau apa? Menyentuhku?" sindir Draco, "kau memang wanita jalang!"
PLAKKK
Hermione menampar pipi kanan Draco dan menatapnya tajam, "Kau, pantas mendapatkan itu!"
"Kau-" kata Draco ditengah ke kagetannya, baru kali ini ada orang yang berani menamparnya, yeah...kecuali ayahnya, "kau akan menyesal, Granger!"
"KYAA. . .!" teriak Hermione.
= BERSAMBUNG =
Lily love snowdrop: hehehe thanks ^^"
Kukira ga bagus cz bener-bener gad a inspirasi pas bikinnya T.T makasih ya, dah setia ripiu
Ya ampunnnnnn aku lupa…kya…bodohnya aku…
Hilda: drco my boyfriend! Buahahahaah *gubrak*
Yupz, sekian chapter 3 nya…
Maaf kalau ga memuaskan T.T"
Aku memang author menggenaskan; apdate lelet dan cerita makin memosankan, tapi tetap keren kan…. Nyahahahah*narsis kumat*
Mohon ripiunya ya…..ripiu kalian sangat berarti untuk menumbuhkan semangat ku….. T.T
