Chapter 3

.

.

.

Baekhyun berdiri di depan fakultas, matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Ia mencari Kyungsoo. Tidak biasanya Kyungsoo menghilang selama seharian dan tidak memberinya kabar sedikitpun.

"Ah! Hyunsik-ah!" teriak Baekhyun, laki-laki yang di panggil Hyunsik itu menoleh. Baekhyun melambai dan menghampirinya.

"Wae?" Tanya Hyunsik

"Kau melihat Kyungsoo? Apa ia sudah pulang? Atau masih di kelasnya?" Tanya Baekhyun. Hyunsik menekuk alis lalu memandang Baekhyun. Sepertinya anak itu sudah menunggu Kyungsoo dari siang.

"Kau tidak tahu?" Tanya Hyunsik. Baekhyun menatap Hyunsik heran. "Kyungsoo tidak masuk hari ini."

"Ne?" Baekhyun terkejut. "Waeyooo? Apa terjadi sesuatu padanya?"

"Kupikir kau tahu, Kyungsoo masuk rumah sakit. Tadi surat sakitnya sudah di berikan pada dosen, aku pikir kau orang pertama yang tahu." Kata Hyunsik. Baekhyun menggeleng dan ia mengecek handphone, barang kali ada pesan dari Kyungsoo. Tapi tidak ada.

"Di-dia sakit apa?"

"Kau benar-benar tidak tahu?"

Baekhyun menggeleng. "Beritahu aku rumah sakit mana!"

"Kalian sedang ada masalah?"

"AH PPALI! BERITAHU AKU!"

.

.

Baekhyun selalu tahu apa yang Kyungsoo lakukan, Baekhyun selalu mengerti apa yang Kyungsoo rasakan. Baekhyun akan menjadi orang pertama yang tahu. Baekhyun, selalu ada untuk Kyungsoo.

"YA! DO KYUNGSOO!" laki-laki sipit itu masuk dan berteriak. Kyungsoo yang saat itu ditemani Kris terkejut melihat Baekhyun dengan napas tersengal-sengal, pakaian berantakan, dan rambut acak-acakan masuk ke dalam kamar dimana ia dirawat. Bahkan Kris ikut terkejut.

"Baek?" Kyungsoo menyahut. Baekhyun berjalan menghampiri Kyungsoo dan langsung memeluk tubuh Kyungsoo. Bahkan Baekhyun menangis.

"Neo michyeseo? Kenapa tidak mengangkat telponku? Kenapa tidak memberitahuku kalau kau sakit? Bahkan kau masuk rumah sakit aku tahu dari orang lain! Kenapa kau bersikap seperti itu? hiks." Baekhyun menangis, sesegukan. Tapi, Kyungsoo hanya tersenyum kecil.

"Mianhae… aku sudah terlalu sering merepotkanmu."

"Pabo!"

"Ne?"

"BAKA! PABO! Kau tidak menganggap aku sahabat lagi eoh?"

"Bukan be-begitu. Hanya saja…"

"Gwenchana-gwenchana! Itu tidak penting. Yang penting aku bisa melihatmu sekarang." Baekhyun mengacak-ngacak rambut Kyungsoo. Kyungsoo merasa lega Baekhyun bisa tersenyum lagi, walau pipinya masih basah karena dia menangis seperti anak kecil barusan. "Ngomong-ngomong kau sakit apa? Apa terjadi sesuatu?"

"Aniya.. aku hanya demam."

"Ah, kau harus menjaga kesehatan Kyungsoo-ah!"

Kyungsoo mengangguk. Baekhyun baru sadar kalau disini mereka tidak berdua, ada Kris di sampingnya. Dan Baekhyun terkejut saat melihat pria berambut pirang itu ada disini.

"Omo! Ka-kau.."

Kris tersenyum.

"Ne… dia Kris, tetanggaku. Ia yang membawaku kemari." Kata Kyungsoo. Baekhyun balas tersenyum kepada Kris.

"Gomawo, sudah membawa sahabatku kemari." Kata Baekhyun.

Kris mengangguk "Gwenchana, tidak usah khawatir. Kyungsoo sudah lebih baik sekarang."

"Ah! Syukurlah!" Baekhyun duduk dan mengatur napasnya. Ia baru bisa bernapas dengan baik sekarang.

"Ya!" Kyungsoo menjitak kepala Baekhyun "Kemana saja eoh? Kenapa kau begitu sibuk akhir-akhir ini?" Tanya Kyungsoo

Baekhyun mendengus dan menatap Kyungsoo sebal "Aku banyak urusan! Tu-tugasku banyak!"

"Benarkah?"

"Ne! kau tidak percaya? Mau membantuku mengerjakan tugas? Essai disana-sini! Aku bisa gila! Huh!" Kyungsoo mengangguk-ngangguk lagi. Ia ingin bertanya perihal pria yang ditemui Baekhyun saat itu. Mereka terlihat begitu akrab. Kyungsoo jadi penasaran, tapi ia urungkan niatnya karena takut dikira terlalu mencampuri privasi Baekhyun.

"Yosh! Sudah ada temanmu, aku mau pulang dulu kalau begitu!" Kris berdiri dan meregangkan tubuhnya. Andai Kyungsoo tahu kalau Kris sudah menemaninya 24 jam penuh. Kris bahkan lupa untuk mandi.

"Baiklah kalau begitu hati-hati ne!" kata Kyungsoo. Kris mengangguk, setelah berpamitan ia pun pergi. Baekhyun tiba-tiba saja memukul bahu Kyungsoo pelan.

"Ah! WAE?" Kyungsoo berteriak

"Kenapa kau tidak menahannya? Huh?"

"Untuk apa?"

"Ya! Ia sudah menolongmu, bagaimana mungkin kau membiarkannya pulang begitu saja?"

"Aku sudah terlalu banyak merepotkan dirinya. Biarkan dia pulang. Lagipula kami tidak begitu akrab seperti kelihatannya."

"Ck~ Kyungsoo-ya.. bersikaplah baik padanya. Kalian bersebelahan, kau bahkan tidak mengucapkan terimakasih padanya."

"Ah jinjjayo?" Baekhyun menjitak kepala Kyungsoo lagi. "Yak! Appo!"

"Dasar tidak peka!"

"Aissh!"

"Kapan kau akan peka?"

"Kenapa jadi kau yang sewot sih?"

"Lupakan! Ngomong-ngomong… Kau sudah memberitahu ibumu?"

Wajah Kyungsoo seketika berubah, dan ia menggeleng.

"Anak macam apa dirimu? Ibumu harus tahu kalau kau masuk rumah sakit."

"Tidak perlu Baekhyun-ah! Untuk apa? Lagipula kalau ia tahu, ia pasti akan sangat khawatir. Aku juga sedang tidak ingin menemuinya."

"Huffh, mau sampai kapan kau akan seperti ini Kyungsoo-ya? Aku tidak bermaksud ikut campur atau mengatur hidupmu tapi.. ibu tetaplah ibu.. ia benar-benar mengkhawatirkanmu sekarang."

"Aku mau tidur.." Kyungsoo tidak menanggapinya, ia memilih untuk merebahkan dirinya di kasur.

"Kyungsoo.."

"Aku mau tidur.."

"…."

Kyungsoo menutup matanya, sementara Baekhyun hanya diam dan menatap bagaimana mata indah itu menutup.

"Aku akan menjagamu Kyungsoo-ya.. aku janji." Baekhyun berbisik, dan Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban.

.

_YWCFG_

.

Kyungsoo masih harus di rawat untuk satu hari lagi. Sebenarnya ia ingin cepat-cepat pulang, dan berlari ke atap untuk melihat bintang. Di rumah sakit ia tidak berbuat apa-apa.

"Annyeong!"

Suara berat itu..

Kyungsoo menoleh dan terkejut saat melihat Kris datang lagi.

"Kau.."

"Bagaimana kabarmu? Apa sudah lebih baik?"

Kyungsoo mengangguk. Ia sebenarnya sangat senang karena Kris datang dalam kondisi dirinya yang sedang mati kebosanan. Baekhyun belum pulang kuliah, alhasil ia hanya bisa menonton berita di tv kamar ini.

"Aku pikir kau tidak akan kemari lagi.."

"Sebenarnya aku merindukanmu."

Kris mengacak rambut Kyungsoo pelan, dan Kyungsoo hanya bisa terpaku mendengarnya. Merindukannya? Kris pandai membuat lelucon. Dan Kris sebenarnya senang seklai menggoda Kyungsoo.

"Ish! Jangan bercanda, itu tidak lucu. Dan berhenti menyentuhku! Aku tidak suka!"

"Why?"

"Yang boleh menyentuhku itu Baekhyun! Arraseo?" Suara Kyungsoo meninggi, membuat Kris tersenyum kecil.

"Arraseo-arraseo. Hmm.. apa kalian berpacaran?"

Mata Kyungsoo membulat, ia pun tertawa.

"Hahaha, tidak mungkin kami berpacaran! Baekhyun adalah sahabatku. Kami adalah sahabat selamanya!"

"Benarkah?"

"Ne! kami bahkan bersahabat sejak SMP hingga sekarang."

"Baekhyun sepertinya sangat menyayangimu."

"Tentu saja, ia saaaaaangat sayang padaku. Dan aku saaaaaaangat sayang padanya. Tidak ada yang dapat memisahkan kami berdua."

Kris mengangguk-ngangguk, ia sangat iri pada persahabatan mereka.

"Ya? Kenapa aku jadi bercerita padamu?" Kyungsoo menatap Kris sebal, dan Kris hanya bisa tertawa melihat tatapan menggemaskan itu.

"Why?"

"Kenapa kau jadi begitu baik padaku?"

"Why?"

"Why why why! Apa yang bisa kau katakan hanya 'why'?"

"Why?"

"AAARRRGGHHHH!" Kyungsoo berteriak frustasi. Kenapa harus ada orang semacam Kris? Kenapa Kyungsoo harus mengenalnya? Itulah yang ada di benak Kyungsoo saat itu.

"Hahaha, hey kenapa denganmu? Hahahaha" Kris tertawa dan Kyungsoo hanya memukuli kepala Kris dengan kesal. "Ah! Appo! Appo! Geumanhae!"

"Kau menyebalkan! Pergi sana! Aku mau menunggu Baekhyun!" Kyungsoo sudah menendang Kris namun Kris tetap tidak mau pergi.

"Shireoo!"

"Isshh! Kembalilah ke galaksi! Temui teman-teman alien-alienmu yang lain. Hush hush!"

"Ah shireooo!"

Dan Kyungsoo menendang Kris lagi.

Baekhyun tersenyum kecil di balik pintu. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk. Padahal ia sudah berdiri disana lebih dari dua menit yang lalu.

'Baekhyun adalah sahabatku. Kami adalah sahabat selamanya!'

"Ne, hanya teman.. kita hanya teman. Selamanya.." gumam Baekhyun pelan dan ia pun berjalan keluar untuk pulang.

.

.

Kyungsoo tidak menyukai yang namanya mengerjakan tugas di perpustakaan hingga larut. Ia bahkan melewatkan makan siang demi mengerjakan soal-soal kalkulus ini. Baru saja ia keluar gerbang universitas, Kyungsoo lagi-lagi melihat Baekhyun masuk kedalam mobil dengan pria yang kemarin. Kyungsoo penasaran, bahkan handphone Baekhyun tidak aktif. Wajar kalau Kyungsoo merasa khawatir. Apalagi ini sudah larut, apa yang sebenarnya Baekhyun sembunyikan darinya? Dan siapa pria itu? setahunya itu bukan ayah Baekhyun.

Karena rumah Baekhyun begitu sepi, ia pun memutuskan untuk pulang saja. Percuma saja menunggu Baekhyun sampai besok, anak itu pasti menginap di tempat lain. Mungkin Baekhyun masih bersama pria yang tadi menjemputnya.

Kyungsoo berjalan pelan saat akan memasuki kamarnya. Ini sudah terlalu malam, ia bahkan harus naik gerbang karena sudah terkunci. Ia tidak ingin membangunkan penghuni lain tempat ini.

Dengan langkah lelah, ia melempar tas, melepas sepatu dan jaket lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

"na~man mollasseotdeon Something! bunmyeonghi neukkyeojyeo Must be something! Oooh uooh!"

Kyungsoo hampir saja tertawa terbahak saat mendengar suara Kris bernyanyi. Ia yakin kalau Kris sedang mandi karena ia mendengar suara keran dan shower menyala.

Kamar mandi mereka bersebelahan, hanya terbatas dinding tipis tak kedap suara. Karena itu ia bisa mendengar apa yang Kris lakukan di dalam kamar mandi. Kyungsoo yakin sekali kalau orang seperti Kris adalah manusia dengan kepribadian empat dimensi. Ia bisa menyenangkan dan menyebalkan dalam satu waktu. Bahkan saat ini, Kyungsoo hanya bisa tertawa membayangkan wajah tampan dan dingin Kris bernyanyi lagu Girl group Korea.

"Nothing! It's something! Stop it~ No, uh~"

Kyungsoo tertawa, setidaknya ia bisa melupakan Baekhyun yang menganggu pikirannya saat ini.

'Dia pasti sudah gila! Hahaha' batin Kyungsoo

Kyungsoo tertawa lagi sebelum akhirnya ia tertidur dengan air keran yang menyala.

.

.

"Ada apa? Tumben sekali kau berkunjung kerumahku."

Kyungsoo masuk kedalam rumah Baekhyun, rasanya sudah lama sekali ia tidak bermain kemari. Ini karena Baekhyun yang menolak dan lebih memilih bermain di kost-an Kyungsoo.

"Tidak apa-apa hanya merindukan kamarmu saja." Baekhyun mengangguk, ia juga terkejut saat Kyungsoo menemuinya di hari libur. "Apa ibumu ada?"

"Dia sedang pergi ke Busan menemui nenek. Jadinya aku sendiri disini."

"Ayahmu?"

Baekhyun terdiam, entah kenapa ia tidak suka saat Kyungsoo mulai banyak bertanya. Apalagi bertanya perihal 'Ayah'

"Umm.. a-ayah se-sedang ada urusan. Jadi, akhir-akhir ini ia jarang pulang."

Kyungsoo mengangguk "Huffhh, aku selalu iri padamu. Kau memiliki keluarga yang utuh dan tampak begitu harmonis. Hal yang tidak akan bisa aku dapatkan lagi dari keluargaku."

"….." Baekhyun terdiam beberapa detik sebelum ia berbicara "Apa kau lapar?"

"Ne!"

"Ayo kita buat sesuatu yang enak!"

"OK!"

.

.

Sebenarnya Kris tidak ada niatan untuk pergi ke taman kota jam 10 malam. Ia merasa jenuh dengan tugas dan tidak ada inspirasi sama sekali yang menyangkut sedikitpun di kepalanya.

Sudah dua minggu lebih ia pindah kesamping kamarnya Kyungsoo. Jujur saja ia merasa nyaman berada disana. Selain penghuni disana begitu ramah, ia juga senang bisa melihat Kyungsoo setiap hari. Menyapanya setiap pagi, dan mengganggunya hingga Kyungsoo kesal. Ia bahkan tahu jam berapa Kyungsoo keluar kamarnya dan jam berapa Kyungsoo pulang. Anggap saja Kyungsoo menghiburnya secara tidak langsung, karena ia mulai merasa terbiasa dengan itu.

Satu minggu sebelumnya—

Kris baru saja menyelesaikan maha karyanya yang sudah ia tunda selama satu minggu. Siapa kira melukis adalah hal mudah? Kris akan mengutuk orang yang mengatakan itu.

'Tok tok tok'

Kris terdiam dan berpikir sejenak. Siapa yang mendatanginya jam segini? Ia merasa tidak punya teman yang tahu dimana Ia tinggal sekarang.

'Tok tok tok'

Kris masih diam, tidak ingin beranjak dari tempatnya sekarang.

"YA! KRISSEU! BUKA PINTUNYA PPALI!"

Kris kenal suara itu, itu suara Kyungsoo si tetangga sebelah. Kris buru-buru berlari dan membuka pintu.

"Wae?" Tanya Kris kesal. Laki-laki berbadan mungil itu hanya tersenyum malu-malu.

"Umm.. chogi.."

"Kalau tidak penting aku tutup pintunya. Jadi cepat katakan."

"YAKK!" Kyungsoo menendang kaki Kris membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.

"WAE!?" Kris berteriak

"Aku ingin meminjam kamar mandi!" Kyungsoo menunduk

"Kenapa dengan kamar mandi di kamarmu?"

"Ge..gelap. lampunya rusak. He..he..he.."

Kris mendengus sebal. "Tidak mau. Ke kamar no 11 saja sana."

"Jongdae hyung sedang pulang kampung!"

"Kamar di lantai bawah?"

"Aku tidak bisa turun kebawah karena sudah tidak kuat jadi.. PINJAMKAN AKU TOILET MU!"

Kyungsoo mendorong Kris dan berlari masuk kedalam toilet.

"Yayaya! Dasar tidak sopan!"

"AKU BERTERIMA KASIH UNTUK INI!" teriak Kyungsoo dari dalam Toilet. Kris lagi-lagi menggerutu.

Setelah Kyungsoo selesai dengan urusannya, Kris langsung berkacak pinggang dihadapan Kyungsoo.

"Sudah selesai?"

"Hehe..gomawo!" Kyungsoo berniat untuk lari tapi Kris menahannya.

"Kau mau kemana?"

"Ah wae? Aku kan sudah berterimakasih padamu kan!"

"Ya memang, tapi aku tidak mau kau kembali ke kamar mu." Kris menyeringai. Ia merasa ingin menjaili anak bocah yang satu ini.

"Hah? Kau mau menggunakan kesempatan untuk memperkosaku hah?"

"Apa?" Kris memegang bahu Kyungsoo.

"Aaaah memang benar! Menyingkir! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!"

"Ssstt! kenapa kau begitu berisik?" Kris sudah membungkam mulut Kyungsoo. Dan Kyungsoo meronta minta di lepas.

"Hmmmpphh hep-hepashh!"

"Ja-ngan be-risik!"

"LEP—"

'BLAM'

Tiba-tiba lampu padam dan semua gelap.

"AAAAAAAAAHHH!"

Kyungsoo memeluk Kris erat dan ia terus berteriak. Kris ingin tertawa, tapi secara tidak langsung ia malah ikut memeluk Kyungsoo erat.

"Kenapa kau berteriak eoh? Ini hanya mati lampu biasa."

"Hiksss jangan lepas.. kumohon jangan lepas aku takut! Jebal" Kyungsoo menangis dan memeluk tubuh Kris begitu erat.

"Ck~ kau laki-laki atau bukan? Gelap saja takut!"

"Hiks.."

"…..Arraseo-arraseo tenanglah." Kris mengusap punggung Kyungsoo hingga lelaki itu merasa tenang. Sudah cukup tenang akhirnya mereka mencari penerangan. Dan disinilah mereka saat ini.

Kamar, berdua, cahaya lilin.

"Apa kau baik-baik saja?" Kris menatap Kyungsoo yang memucat, matanya sudah menandakan kalau ia kelelahan.

"Aku terlalu banyak berteriak, kepalaku rasanya sakit."

"Salah sendiri."

"….."

"Kenapa takut sekali dengan gelap? Phobia gelap?"

"…."

"Ya! Jangan melamun, aku jadi takut." Kris mengacak rambut Kyungsoo lagi membuat Kyungsoo menggerutu.

"Aku takut gelap, aku benci gelap, aku tidak suka. Rasanya aku tertidur walau aku membuka mata."

"Mengenai penyakitmu…."

"Kau sudah tau?"

"Hmm.." Kris mengangguk "Saat itu dokter yang memberitahu."

"Baguslah kalau kau sudah tahu."

"Apa kau begitu tersiksa?"

Kyungsoo tersenyum kecil, entah kenapa Kris melihatnya bukan sebagai senyuman tapi sebagai tangisan.

"Rasanya seperti.. melewatkan waktu. Aku tertidur, dan aku terbangun. Tapi waktu terus berjalan, waktu yang aku lewatkan.. aku benci."

"…Kenapa?"

"Kau akan sadar, bahwa waktu itu sangat berharga. Aku tertidur.. dan aku melewatkannya. Aku melewatkan waktu-waktu yang sangat berharga."

Kris tiba-tiba memeluk Kyungsoo erat, membawanya kedalam dekapan. Kyungsoo merasa hangat, sakit kepalanya menghilang begitu saja. Ia merasa nyaman bahkan dengan orang semacam Kris.

"Aku boleh bertanya?" Tanya Kyungsoo pelan, dan Kris mengangguk meng-iyakan. "Kenapa kau selalu baik padaku? Padahal aku selalu berteriak padamu."

Kris tersenyum "Tidak tahu. Aku tidak bisa membencimu."

"Apa… kau menyukaiku?" Kyungsoo menatap mata Kris dalam.

Deg

Deg

Deg

"…."

"Lupakan saj—"

Kris mencium Kyungsoo. Untuk pertama kalinya bagi Kyungsoo, ciuman pertamanya di ambil oleh tetangganya yang katanya berasal dari galaksi.

"Ah ma-maaf!" Kris melepas ciuman itu dan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara Kyungsoo masih mematung, rasanya kaku dan waktu seperti terhenti beberapa detik.

Lampu menyala.

"Se-sepertinya aku harus kembali." Kyungsoo tersenyum kikuk dan langsung beranjak dari tempatnya.

"A-ah ya.. se-sebaiknya kau.. kembali. Hah.. Haha kenapa malam ini terasa panas ya? Huffhhh"

"Kalau begitu, selamat malam!"

"Sampai jumpa besok!"

Sebelum Kyungsoo benar-benar kembali, Kyungsoo terdiam dulu di tempat. Ia pun berbalik dan menghampiri Kris.

'Bugh'

Kyungsoo meninju perut Kris kemudian kembali ke kamarnya.

"YAKK! Akh! Appo.." Kris mengaduh pelan "Sialan!"

Keesokan harinya

"Selamat pagi!" teriak Jongdae pada Kris yang baru saja keluar dari kamarnya. Jongdae baru kembali, terlihat beberapa koper yang ia bawa.

"Ah pagi. Kau sudah pulang rupanya."

"Yap!" Jongdae pun berjalan masuk ke kamarnya "Aku masuk dulu. Oh iya, tolong suruh Kyungsoo kebawah. Ada paket untuknya!"

"Kyu-kyungsoo? A-aku?"

"Ah cepatlah, aku sudah kebelet." Jongdae menghilang.

Kris mematung. Kyungsoo orang yang ingin ia hindari saat ini.

Baru saja Kris akan mengetuk pintu, Kyungsoo sudah membukanya duluan.

Hening..

Deg

Deg

Deg

Mata mereka kembali bertemu.

"Ha-hai!" sapa Kris dan Kyungsoo membalas dengan canggung

"Ekhem ap-apa ada perlu?" Tanya Kyungsoo

"Jo-jongdae bilang… ada paket untukmu."

"Benarkah? Ah iya!" Kyungsoo berlari ke bawah sementara Kris masih terdiam. Kenapa ia merasa malu bila berhadapan dengan Kyungsoo?

Hari demi hari berlalu, setiap hari mereka bertemu. Bertegur sapa, lalu kembali ke kamar. Tapi di kamar pun tidak nyaman, mereka pun keluar dan bertemu lagi.

"Hai! Kau mau keluar?" Tanya Kris

"I-iya! Kau sendiri?"

"Tidak!"

Dan Kris orang yang paling sering menghindar.

Kembali ke hari sekarang

Kris menghela napas berat. Ia tidak pernah menyangka kalau orang seperti Kyungsoo akan benar-benar menganggu dirinya lahir batin. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta?

"Tidak tidak! Aku hanya merasa ingin melindunginya saja. Itu saja!" gerutu Kris.

Kris pun beranjak dan ia menghentikan langkahnya saat melihat dua orang laki-laki sedang duduk tak jauh dari kolam taman. Kris mengenalnya, mereka Baekhyun dan Kyungsoo. Dalam kondisi Kyungsoo yang tertidur dan bersandar di bahu Baekhyun.

Kris menghampiri mereka, tidak salah kan kalau ia penasaran?

"Hai!" sapa Kris. Baekhyun terkejut tapi ia langsung tersenyum saat melihat ternyata orang yang menyapanya adalah Kris.

"Oh! Kau rupanya. Duduklah."

Kris pun duduk dan menatap Kyungsoo yang sedang tertidur di bahu Baekhyun.

"Sudah lama ia tertidur?" Tanya Kris

"Belum. Mungkin beberapa menit yang lalu." Jawab Baekhyun

"Sudah lama ia.. mengidap Narkolepsi?"

Baekhyun menggeleng pelan "Semenjak orang tuanya bercerai."

"Oh? Maaf kalau aku jadi ikut campur."

Baekhyun menggeleng lagi "Tidak, lagipula… aku percaya padamu."

Kris menatap Baekhyun dengan pandangan 'aku tidak mengerti'

"Kyungsoo bercerita tentangmu. Ia bilang kalau kau begitu baik dan tidak pernah mengeluh padanya. Aku berterima kasih untuk itu."

"Benarkah?"

"Hmm!" Baekhyun mengangguk "Aku bisa tenang sekarang."

"Maksudnya?"

"Aku bukan sahabatnya yang baik."

"Eyy, kenapa berbicara seperti itu? Kyungsoo bilang kalau kau sangat baik padanya, dan ia sangat sayang padamu."

Baekhyun tersenyum "Ia terlalu polos. Ia tidak tahu apa-apa."

"Apa kalian ada masalah? Maksudku.. kau."

"Aku tidak yakin."

Hening..

"Apa kau menyukainya?" Tanya Kris dan Baekhyun hanya tersenyum sebagai jawaban.

"Dia.." Baekhyun mengelus pipi Kyungsoo yang putih. "Cinta pertamaku."

"….."

"Tapi sepertinya Kyungsoo menyukaimu!" Baekhyun tersenyum lagi. Kris merasa Baekhyun manis kalau tersenyum, tapi senyumnya yang ini terasa mengerikan.

"Mungkin karena aku baik padanya."

"Kau tahu kan kalau cinta pertama itu tidak pernah berhasil?"

Kris diam. "Kita hanya akan menjadi sahabat selamanya. Mungkin sebentar lagi.. aku akan menjadi bukan siapa-siapa untuknya."

"….."

"Perasaanku mengatakan, kalau sebentar lagi… Kyungsoo akan membenciku."

"Apa kau percaya padaku?" Tanya Kris. Baekhyun mengangguk lagi "Pinjam handphone-mu."

"Untuk apa?"

"Sudah sini, aku pinjam."

Baekhyun pun menyerahkan Handphone miliknya lalu menekan nomor disana.

"Ini nomorku."

"Untuk apa?"

"Kurasa kau butuh seseorang untuk bercerita."

.

.

To Be Continued

Hello ^^, sebelumnya aku mau ngucapin makasih banyak buat yang udah mau baca sama review ff ini.

Tetep ikutan jalan ceritanya yah ^^ biar kalian ngerti maksud dari cerita ini entar. aku buat ini sama temen, jd proses nya cepet di banding ff aku lain. maaf juga kalau ada typo, soalnya kita berhubungan di dunia maya(?)

sama mau minta doanya guys buat papah aku yg lagi sakit :(

mood aku buat nulis ff sedikit rusak. maaf ya :(

btw, makasih yaaa. maaf belum bisa balesin satu2

LOVE :*