~ Promise, to You ~
.
.
.
YeWook Fanfiction © R'Rin4869
Rated : T
Genre : Hurt - Romance
Seluruh karakter disini hanya saya buat untuk kepentingan cerita, jangan bashing karakter siapapun disini.
Warning : YAOI, GaJe, Typos dll
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
"Benarkah? Karena apa berita itu merebak?" suara seorang wanita paruh baya terdengar ditelingaku, suara Eomma.
"Karena. . . Jongwoonie kita yang terlalu dekat dengan Ryeowook." sekarang suara Appa yang menjawab.
"Dan mereka dikabarkan gay oleh banyak orang?"
Deg! Jantungku berdetak makin cepat saat mendengarnya.
"Ya, seperti itulah. Banyak sekali yang berbicara soal itu di internet."
Aku bersandar di pintu dalam diam, ini tidak sopan, aku tahu. Aku tidak seharusnya menguping pembicaraan orang tuaku kan? Tapi ini berkaitan denganku. Bahkan dengan Ryeowookieku.
Eomma terdengar menghela napas. "Aku yakin Jongwoon tidak seperti itu. Dia pernah berpacaran dengan yeoja kan?"
"Tentu. Mungkin mereka hanya terlalu dekat. Mereka hanya mengekspresikan kedekatannya itu beberapa kali saat diatas panggung." jawab Appa.
A-apa? Orangtuaku percaya aku dan Ryeowookie bukan gay?
Aku menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan raut bersalahku. Aku ingin berhenti mendengarkan pembicaraan ini. Tapi kakiku tak kunjung mau melangkah dari tempat ini.
"Tapi memang tingkah laku Ryeowook itu, ah sangat mirip dengan yeoja kan?" suara Eomma terdengar lagi.
Ya. Inilah akibat Ryeowookie yang sering membantu Eomma di dapur saat berkunjung kerumahku.
"Dia terlalu manis untuk ukuran seorang namja. Ekspresinya, kebiasaannya pun begitu." suara Appa membuatku makin berdebar. Itu benar, semuanya hampir benar.
"Berada dalam satu grup seperti itu, dengan jadwal yang selalu padat, mereka hanya bisa memperhatikan sesama membernya. Tak ada yang salah dengan itu."
"Tapi mereka jadi tidak punya waktu untuk memikirkan yeoja. Itulah sebabnya mereka dikabarkan gay oleh banyak pihak."
"Tapi bukannya Jongwoon pernah terkena isu berpacaran dengan beberapa yeoja? Oh aku berharap salah satu dari itu benar-benar dijalaninya."
Matilah aku. Eomma benar-benar menginginkanku berpacaran dengan salah satu yeoja itu? Astaga itu sama tidak mungkinnya dengan aku yang harus meninggalkan Ryeowook. Aku terus mendengarkan baik-baik apa yang mereka katakan.
"Seperti Yoona atau Jiyeon maksudmu, yeobo?"
"Ya, Yoona misalnya, dia gadis yang baik dan ceria kan. Aku cukup menyukainya. Bagaimana Jiyeon menurutmu?" suara Eomma terdengar bersemangat.
Yoona? Dia hanya dongsaengku. Dan bisa ditekankan Yoona memang dekat dengan banyak namja. Sikapnya selalu easy going, karena itu tak cuma aku yang dekat dengannya. Dia selalu mudah berdekatan dengan orang lain. Tidak mungkin aku menjalin hubungan dengannya.
"Jiyeon? Yah gadis itu terlalu terang terangan kalau ia mengidolakan Jongwoon, aksesorisnya selalu sama. Banyak yang menganggap mereka pacaran tapi bahkan mereka tidak saling mengenal dengan baik." komentar Appa.
Appa benar. Jiyeon lebih tidak mungkin.
"Dan gadis itu masih terlalu muda. Dia masih bersikap tanpa tahu akibatnya."
"Aku berharap Jongwoon cepat mendapatkan seseorang untuknya." ucap Appa.
Sudah, Appa. Aku tersenyum miris. Aku sudah menemukannya dan itu bukan yeoja seperti yang kalian harapkan, sayangnya.
"Tapi kita bisa percaya pada Jongwoon kan? Aku bisa tenang soal ini."
Eomma. . . sebegitu percayanya padaku?
Cukup! Aku sudah tak sanggup mendengarnya lagi. Kulangkahkan kakiku menjauhi pintu. Kembali kekamarku disini.
Dadaku berdenyut menyakitkan memikirkan kemungkinan terburuk yang harus kuambil. Orangtuaku begitu mengingankannya. Tapi aku malah berhubungan dengan seorang namja. Tapi demi Tuhan aku mencintai namja itu lebih daripada aku mencintai mantanku.
Aku menatap nanar foto Ryeowook yang ada di ponselku. Aku. . . harus bagaimana?
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
"Kau. . . pengecut, hyung." desis Zhoumi.
Aku menunduk. Bahkan aku terlihat sebegitu buruknya di depan salah satu dongsaengku.
"Aku tahu." aku berucap lirih. Ya, kuakui aku memang pengecut. Beginikah harusnya seorang namja bersikap? Aku tampaknya mau menertawakan diriku sendiri karena ini.
"Katakan padaku, sejujurnya, kau masih mencintai Ryeowook atau tidak?" tanya Zhoumi to the point.
Candaan macam apa ini? Jawabannya sudah bisa dipastikan bukan?
Aku mendongak menatap namja tinggi didepanku ini. Tidak! Aku tidak perlu menjawabnya. Semua orang tahu bagaimana perasaanku pada Ryeowook.
Zhoumi mendekatkan wajahnya kearahku. "Kalau kau masih ragu dengan perasaanmu sendiri, bahkan dengan pendirianmu terhadapnya," Ia berbisik pelan, namun dengan nada mengancam. "Biarkan aku yang mengambil alih tugasmu, Hyung. Biarkan aku mengambilnya. Menjadikan Ryeowook milikku. . . selamanya."
Rasanya, jantungku sudah akan berhenti berdetak saat itu juga.
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Pembicaraan dengan Zhoumi kemarin terus terngiang di kepalaku. Ini mimpi buruk jika dia benar-benar serius ketika mengatakannya.
'Akulah namja yang akan membahagiakannya. Aku akan menggantikanmu, Hyung.'
Tidak! Mana mungkin seperti itu! Ryeowook hanya mencintaiku!
'Jadwal Super Junior M akan semakin banyak. Akulah yang akan menjaganya saat itu. Bahkan kalau bisa, aku ingin mengambil hatinya.'
Setetes keringat jatuh menuruni pelipisku. Bayangan-bayangan mereka yang akan tertawa bersama membuatku ketakutan. Bayangan Ryeowookku yang tertawa bahagia dengan namja lain.
Tanpa berpikir panjang aku meraih kunci mobilku yang berada diatas meja. Tujuanku cuma satu, pergi ke dorm.
.
.
.
"Yesung hyung?" suara namja ikan itu menyambutku ketika aku melangkah masuk ke dorm.
Aku mengibaskan rambutku sedikit. Tersenyum gugup. "Annyeong, Hae. Mana yang lain?"
"Annyeong. Ah yang lainnya sedang ada urusan diluar. Hanya ada aku, Sungmin dan Kyuhyun sekarang." jelas Donghae.
Hanya bertiga? Kemana Ryeowook? Pikiranku mulai bertanya tanya.
"Emm, pantas sepi sekali." komentarku. Itu sangat tidak penting untuk sekarang ini.
"Ada apa, hyung?" tanya Donghae.
"Ahniya, tidak ada apa apa, Hae," Aku tersenyum, aku merasa senyumku sangat tidak meyakinkan untuk sekarang ini.
"Tidak ada apa apa? Benarkah?" Donghae mengerutkan keningnya. "Kalau begitu tumben sekali Hyung kesini di siang hari."
"Mwo?" aku menatapnya heran. "Apa maksudmu dengan tumben, Hae?"
"Yah, hyung kan biasanya kesini di malam hari."
Aku terdiam cukup lama. Donghae tahu aku sering ke dorm pada malam hari?
"Darimana-. . ."
"Yah hyung setidaknya kalau kau mau sembunyi-sembunyi kesini pada malam hari jangan bersembunyi di dekat pintu kamarku. Aku melihatnya dengan jelas." Donghae memotong ucapanku, menjelaskan. "Kupikir awalnya hyung itu penampakan lain di dorm ini."
Aku tersenyum kecil. "Mianhae, Hae."
"Kenapa minta maaf? Aku tidak masalah dengan itu kok." Donghae mengibaskan tangannya dengan santai. Dia tersenyum lebar. "Aku tau hyung ingin melihat Ryeowookie."
Aku makin canggung saat mendengar kata-kata Donghae. Anak ini, polos, tapi ternyata dia tahu banyak.
"Dimana Wookie, Hae?"
"Dia pergi, Hyung." suara pintu yang terbuka membuatku menoleh. Sungmin.
"Kemana?" tanyaku penasaran.
"Apakah hal itu penting?" Sungmin menatapku tajam. Ada apa lagi ini?
Aku menarik napas. Menahan emosiku. "Tentu saja, Min."
"Kalau begitu, apakah penting bagi hyung untuk mengetahui bagaimana keadaan Ryeowook saat ini? Apa saja yang sedang dijalaninya? Apa yang diinginkannya? Apakah menurut hyung itu juga penting?" tanya Sungmin. Nadanya, dia sengaja memojokkanku.
Donghae menatap Sungmin. "Sungmin ah,"
"Diam dan tenang di tempatmu, Hae hyung." ujar Kyuhyun yang baru kusadari sedang bersandar di pintu kamarnya. Donghae memutuskan untuk menuruti maknae itu.
"Hyung, kau mendengar pertanyaanku kan?" Sungmin membuatku kembali menatapnya.
"Ne, aku merasa penting untuk mengetahuinya." aku menjawab tegas.
"Lalu, kemana kau selama ini, Hyung?" tanya Sungmin, sinis.
"Aku punya alasan untuk ini, Min!" sanggahku cepat.
"Tidak!" Sungmin nyaris berteriak. Membuatku terlonjak dan mundur beberapa sentimeter.
"Kau tidak punya alasan untuk itu, hyung. Yesung hyung yang kukenal tidak akan mengacuhkan namjachingunya dalam waktu berbulan bulan."
Kulirik Kyuhyun, setan itu dengan asiknya malah memainkan psp-nya. Seolah tidak ada apa apa didepannya. Sementara Donghae, dia menatap Sungmin tidak percaya. Aku juga tidak percaya kalau barusan aku didikte oleh dongsaengku itu.
"Aku-" suaraku seperti tercekat sekarang.
"Kau bukan seperti Hyungku saat ini." ujar Kyuhyun. Nadanya enteng, tapi aku tertohok dengan kata-katanya.
"Aku benci mendengarnya, Min!" emosiku akhirnya meluap. Aku berteriak. "Aku benci saat semua orang mengatakan hal yang seperti itu tentang kami."
"Apa maksudmu, Hyung? Tentang berita gay itu?" Sungmin terperangah.
"Ya, bahkan orangtuaku membicarakannya." napasku terengah. Mengingat bagaimana orangtuaku membicarakanku dan Ryeowook. Kenyataan menghantamku dengan keras.
"Lalu? Bukankah itu benar? Kenapa harus menjauhi Ryeowook karena itu?"
"Karena. . . . Orangtuaku mengharapkanku menjalin hubungan dengan seorang yeoja. Bukan seperti ini." jawabku lemah. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat.
"Dan kau sudah melakukannya, Hyung?!" tuduh Donghae.
"Tidak! Aku tidak menjalin hubungan dengan yeoja manapun!" tukasku buru-buru. "Aku tidak bisa. Tidak pernah bisa." lirihku.
"Lakukan saja. Lakukan kemauan orangtuamu, Hyung." ujar Sungmin. Aku menatapnya shock.
"Bukannya kau bisa melakukannya? Lakukanlah. Kau bukan pure gay, ingat itu. Dan banyak yeoja cantik tergila gila padamu, hyung." tambahnya.
"Aku tidak mau! Aku tidak butuh yeoja manapun, Min!" bantahku. Aku merosot ke lantai, terduduk. Menunduk dalam. Aku hanya butuh Ryeowook!
"Lalu kenapa kau berusaha menjauhinya, hyung?!" Sungmin bertanya dengan nada marah. "Itu sama saja membuat dirimu perlahan melupakannya, dan lalu kau bisa pergi dengan yeoja lain. Begitukah?!"
"Tidak! Cukup, Min," aku menggeleng kuat-kuat.
Lihat? Aku bahkan terlihat sangat bodoh didepan para dongsaengku sendiri. Mempertahankan hal yang kusebut cinta padamu, Ryeowook. Sepertinya semua orang akan berusaha mengambilmu dariku jika aku sedikit saja melepasmu, sayang.
Suara langkah berlalu pelan dari hadapanku. Kusadari Sungmin sekarang sudah masuk kembali ke kamarnya.
"Ryeowook. . . Sekarang sedang sakit, Hyung." ujar Kyuhyun. Tatapannya masih tetap tertuju pada psp-nya.
Aku menatapnya. Apa? Ryeowook sakit? Sakit apa? Pertanyaan-pertanyaan panik berkecamuk dalam benakku.
Tiba-tiba saja sebuah kunci dan selembar kertas alamat disodorkan di depanku. Sungmin sudah berjongkok didepanku sekarang.
"Dia sakit." ujar Sungmin lemah. Sorot matanya begitu menunjukkan kekhawatiran. "Susul dia, Hyung. Dia butuh kau."
Aku meraih kunci dan kertas alamat itu. Menatapnya dengan perasaan kacau. Bagaimana keadaan Ryeowook?
"Di-dimana dia sekarang, Min?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Runah sakit tentu saja, pergilah ke alamat yang kutuliskan disitu, Hyung." jawab Sungmin.
Aku mengangguk. Berdiri, dan meraih mantelku. Tanpa berkata apapun aku langsung melesat pergi. Yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin sesegera mungkin bertemu Ryeowook dan melihat keadannya.
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
"Haahh menjahili Yesung hyung memang yang paling mudah," Kyuhyun tertawa pelan.
"Jaga bicaramu, Kyunnie," Sungmin mendelik kesal.
"Oh ayolah, Minnie, kau tidak melihat raut wajahnya saat meninggalkan kita barusan? Sangat pucat," Kyuhyun menatap Sungmin.
"Setidaknya aku jadi tau dia masih punya rasa peduli yang begitu besar terhadap Wookie," Sungmin menghela napas, Kyuhyun memeluknya dari belakang.
"Aku pikir kau serius marah padanya, Min," ujar Donghae. Namja itu akhirnya bersuara juga.
Sungmin mengibaskan tangannya. "Tentu tidak, awalnya mungkin aku emosi Hae, tapi aku tidak marah. Alasan Yesung hyung cukup masuk akal. Bagaimanapun hubungan mereka belum diketahui oleh orangtuanya Yesung hyung maupun Wookie. Aku harap mereka bisa melaluinya dengan baik."
"Seperti kita yang sudah melaluinya?" tanya Kyuhyun mesra di telinga Sungmin.
"Aku ingat masa-masa itu benar-benar menegangkan. Kupikir kita akan berpisah, Kyunnie." desah Sungmin.
"Aku tidak mau Yesung hyung dan Ryeowookie berpisah," ujar Hae.
Sungmin mengangguk.
"Mereka akan baik-baik saja kok," ucap Kyuhyun yakin.
"Kita semua berharap begitu,"
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Aku membuka mataku perlahan. Menangkap bias cahaya yang masuk ke mataku. Menguap lebar sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar bangun.
Aku tersenyum. Mencium bau basah pagi hari. Menarik gorden di jendela.
Hahh, pagi yang tenang. Aku merasa hidup normal sekarang. Meninggalkan sejenak kegiatan rutinku sebagai seorang idola yang tergabung dalam grup Super Junior. Ini yang selalu kami harapkan ditengah-tengah jadwal yang padat. Sedikit waktu untuk banyak beristirahat.
Vila ini benar-benar rapi. Aku menyukainya. Sungmin hyung memang menyuruhku untuk memakai kamar manapun yang aku mau, tapi aku lebih memilih kamar paling ujung. Sepertinya ini kamar tamu. Dan lagipula kamar ini dekat dengan halaman belakang. Cukup menyenangkan rasanya walaupun aku hanya bisa memandangi tumpukan salju disana setiap waktunya.
Aku melakukan peregangan badan ringan untuk melemaskan otot-ototku.
"Ukh, jam berapa sekarang?" gumamku. Aku meraih ponselku di ujung ranjang.
"Mwo?" Jam sembilan pagi. Bagiku yang terbiasa bangun pagi, ini sudah siang sekali untuk jam bangun tidur. Tapi tak apalah. Setidaknya semalam tidurku nyenyak sekali.
Aku memutuskan untuk mandi dan sarapan. Pagi secerah ini, sebaiknya tidak kusia siakan dengan berdiam terus diatas tempat tidur kan?
.
.
.
Aku mengeringkan rambutku dengan handuk. Beberapa tetes air jatuh. Aku baru saja selesai mandi, berjalan santai kearah dapur. Perutku sudah lapar sekali sekarang. Huh, setidaknya kali ini aku tidak punya tugas untuk menyiapkan sarapan untuk member lain.
Kulihat ada buah-buahan dan roti diatas meja. Kata Sungmin hyung setiap hari ada yang datang untuk membersihkan vila ini. Mungkin dia yang membawakan makanan untukku. Aku mengangkat bahu cuek dan mulai memeriksa isi kulkas. Beberapa jenis sayuran dan daging ada disini. Lebih dari cukup untuk dimakan seseorang saja dalam waktu dua-tiga hari.
Tapi entah kenapa pagi ini aku malas sekali memasak. Ya sudahlah, aku akan membuat roti isi saja untuk sarapanku pagi ini.
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
Yesung menatap kertas di tangannya dan rumah bergaya klasik di depannya dengan tatapan bingung. Membaca kembali dengan teliti setiap huruf yang ada di kertas itu kemudian mencocokkannya pada alamat rumah di depannya itu.
Alamatnya cocok.
Ta-tapi Sungmin bilang. . . . Yesung berpikir sebentar. Kemudian namja tampan itu mengambil sebuah kunci dari saku mantelnya.
Pagarnya tak terkunci, jelas ada orang didalam sini, pikirnya lagi.
Dengan agak tidak yakin Yesung memasukkan kunci itu lubang kunci di pintu rumah. Memutarnya perlahan sampai terdengar suara 'cklek' pelan. Ia menarik napas sebelum mendorong pintu itu untuk membuka.
"Ryeo-Ryeowook ah," panggil Yesung pelan. Ia meloloskan kepalanya dan melihat kedalam rumah itu.
Pikirannya diliputi rasa cemas. Ia masuk dan mulai memeriksa seisi rumah dengan teliti. Mencoba mencari keberadaan namja manis yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
"Wookie, kau dimana?" panggil Yesung berulang kali. Nada suaranya makin lama makin terdengar khawatir dan nyaris berteriak.
Ia memeriksa kamar terakhir yang berada di paling ujung. Menemukan mantel Ryeowook di atas ranjang tapi matanya tak bisa menangkap sosok Ryeowook.
Dimana dia? Pikir Yesung frustasi.
Ia masuk kekamar itu karena penasaran. Kemudian terdiam cukup lama. Ya, Yesung bisa melihatnya sekarang. Yesung bisa melihat tubuh mungil itu disana. Dibatasi oleh kaca pintu, Ryeowook berada di halaman belakang.
Ryeowook membelakangi Yesung. Tangannya menadah. Beberapa butir salju turun di telapak tangannya. Layaknya anak kecil, ia tersenyum senang melihatnya.
Yesung bisa melihat Ryeowook hanya menggunakan sweater tipis yang membalut tubuhnya ditengah musim dingin seperti ini. Dengan hati-hati ia melangkah. Membuka pintu menuju halaman dan berada tepat di belakang Ryeowook saat ini.
"Hyaa!" Ryeowook hampir menjerit ketika merasakan tubuhnya tiba-tiba dipeluk dari belakang. Sebuah kepala dengan rambutnya yang di cat merah muda menyandar di bahunya. Ia bisa merasakan napasnya yang agak memburu, seperti habis dikejar sesuatu, pikir Ryeowook.
Ia tahu dengan benar siapa yang memeluknya sekarang. Airmatanya hampir menetes saat ini.
"H-hyung," panggilnya gugup.
Yesung membalas panggilan Ryeowook dengan mengeratkan pelukannya. Membuat namja itu sesak napas.
"Ada apa?" tanya Ryeowook penuh kelembutan. "Hyung? Kau mendengarku, kan?" ia mengelus surai Yesung dengan perlahan.
"Eh?" Ryewook terpana. Ia merasakan sweaternya agak basah sekarang. Tepat dibagian bahunya.
Yesung hyung, menangis? Pikirnya.
"Mianhae," Yesung berbisik pelan. Suaranya bagaikan hembusan angin.
"Aku minta maaf, chagi. Maaf, karena aku meninggalkanmu terlalu lama. Maaf, karena aku terlalu lemah untuk berada disampingmu. Maaf, karena aku bukan yang terbaik untukmu." Dengan segenap keberaniannya, Yesung mengutarakan hal ini. Ia tak peduli walaupun Ryeowook nantinya akan berteriak marah atau memakinya sekalipun.
Pertahanan Ryeowook runtuh sudah. Airmatanya mengalir deras. Hatinya terenyuh saat mendengar Yesung mengucapkannya. Ia membalikkan badannya. Menangkup pipi Yesung dengan kedua tangannya. Memaksa namja itu itu menatap manik caramelnya.
"Aku memaafkanmu, hyung. Aku selalu memaafkanmu." ujarnya pelan. Tersenyum. "Aku tidak peduli berapa lama kau meninggalkanku, aku tak peduli bagaimana aku melaluinya, aku tak peduli meskipun ada yang lebih baik darimu, hyung. Asal kau tetap kembali padaku."
Yesung mendekap tubuh itu erat. Ryeowook sudah begitu kuat untuknya, kenapa dia harus jadi selemah ini?
"Kau tau aku tak akan bisa pergi darimu, Wookie."
Ryeowook mengangguk. "Aku tahu itu dengan jelas." ia balas memeluk Yesung dengan erat.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Ryeowook hampir saja tertawa saat mendengarnya. "Aku tahu, hyung." responnya. "Aku juga mencintaimu. Selamanya, hyung."
Yesung menghela napas lega saat mendengarnya. Seluruh kekhawatirannya seolah lenyap tanpa bekas.
"Aku berjanji tak akan meninggalkanmu."
"Itu juga yang kau janjikan bertahun tahun lalu, hyung." Ryeowook mengingatkan. "Dan aku berjanji akan terus menunggumu jika kau meninggalkanku."
Mereka saling bertatapan. Tatapan lembut itu, mengartikan banyak hal atau bahkan kata-kata yang mereka sendiri tak bisa mengungkapkannya untuk mengekspresikan perasannya masing-masing. Mereka bisa mengetahuinya dengan banyak hal. Tanpa harus bicara satu sama lain.
Mereka saling memahami. Saling mencintai satu sama lain. Bullshit dengan segala hal tentang rumor atau apapun itu yang berada diluar sana. Disini hanya ada mereka berdua. Dan keduanya telah memilih satu sama lain dengan hatinya. Hati mereka tak bisa berbohong kan?
Biarkan mereka yang melakukannya. Biarkan mereka yang membuktikan, sejauh apa yang disebut kasih sayang dan cinta.
"Saranghaeyo, nae Ryeowookie," Yesung mengecup bibir merah itu. Menatapnya dalam.
"Nado, hyung. Nado Saranghaeyo nae Jongwoonie hyung,"
.
.
.
~Y~~W~
.
.
.
[ T . B . C ]
~Y~~W~
.
.
.
Akhirnya saya update jugaaaa~~ mana suaranya yang nunggu fic ini? *hening seketika*
Yaah saya tau fic ini jelek banget -_- mohon maaf semuanya *bow* apalagi updatenya selalu ngaret.
Duh ini udah jam satu pagi, aku ngantuk banget. Jadi ga bisa balesin review satu-satu ya. :(
Mianhae. Tapi aku mau jawab yang satu ini dulu untuk menjelaskan.
Anisayws : iyaa saya tau kalau ini temanya agak ga jelas. Tapi kalau bertele tele saya rasa ngga kok. Ini kan baru chapter dua, dan saya mau menjelaskan semua situasinya dulu. Lagipula saya punya plotnya kok bukan cuma asal tulis cerita tanpa dasar ;;) saya hanya mau menunjukkan sedikit dari kehidupan mereka disini, ga terlalu fokus dulu dengan konflik pasangannya.
Errr soal clue untuk masalah kan saya udah ngasih tau kalau disini tuh yesung udah 'ga peduli sama wookie' apa kurang jelas ya? Duh diliat deh, masalahnya tuh bukan tidak jelas tapi belum jelas karena saya pake POV wookie dulu di dua chapter sebelumnya, yang notabenenya wookie kan memang ga tau apa apa soal masalah sebenarnya. Ini masalahnya udah muncul kok. Kalo ngebosenin saya juga tau. Yah saya berterima kasih sama reviewannya ;;) anda kayaknya memperhatikan sekali sama cerita ini ya ahaha.
Saya bukan ngga perhatian sama reader soal kualitas cerita. Saya berusaha kok. Cuma saya lebih mngutamakan kebebasan saya untuk menceritakan atau mengimajinasikan sesuatu. Bebas aja menurut saya. Dan saya berterima kasih kalau reader suka sama apa yg saya tulis. Kalau ngga ya ngga usah dibaca kan? Kkkkk~
Thanks reviewannya~~ :)) saya akan berusala lebih baik lagi *bow* review kamu saya pertimbangkan banget malah.
.
NAH AKHIR KATA SAYA MOHON MAAF UNTUK KEKURANGAN FIC INI DAN SAYA MOHON REVIEWNYA BAGI YANG SUDAH MEMBACA~
GOMAWO :))
SEE YOU~~
