When We Must Part II

Desclaimer : Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki-sensei and Yusuke Murata-sensei

By : Yukari Hyuu-Kei

.

.

Hamazaki Youichi : gapapa, senpai! Telat asal ripiu gak bakal jddi masalah! XD hahah, saia jgga ngerasa KakeiMaki.a gk kerasa .. tpi inilah hasilnya, saia lagi bad mood jadi romance.a jelek DX ... UPDATE!

Matsura Akimoto : hehehe, anda tdk tanya, sih! X) Iya kali, ya? Habis keren banget omongannya! 'dia terlalu keren sampai bikin kesal!' hehe. UPDATE!

Widya Enma : Sweet? Anda ngerasa fict ini kerasa sweet.a? Wah, syukurlah! Saia kira gk kerasa sama sekali! Hehe. Silakan! Silakan munculkan Maki sebanyak2nya, sepuas2nya, seberani2nya sama Kakei! Kekekeke ... UPDATE!

Akita Need –Musicspeech : Hng? ==" aneh juga rasanya, ya? Tpi nama.a jgga klub karaoke yg sering dikunjungi Mizumachi, berarti deket dari rumahnya, donk! Hehehe ...

.

.

Chapter 3—When Meeting

.

.

"Kakei ..." Steve—seorang ace klub American Football di Universitar Phonix[?]—memanggil lelaki seumurannya itu.

"Hn?"

"Minggu depan akan diadakan pembukaan Youth Cup. Kau mau ikut melihatnya, kan?"

"Youth Cup ..." gumam Kakei. Kembali berjalan memorinya dulu. Kenangan indah yang akan selalu dikenangnya. Saat memenangkan putaran awal sampai mendapat nilai seri di final. Ia benar-benar ingin mengulang kenangan itu.

Bukan cuma itu. Ia juga mengingat masa-masa ketika ia memasuki SMP Kyoshin, saat bertemu Kobanzame-senpai, saat bertemu dengan Mizumachi, saat bertemu dengan Ohira-Onishi, saat bertemu dengan ...

Kakei agak sulit melanjutkan ingatannya. Rasanya menyakitkan mengingat kenangan-kenangan yang telah dilalui bersama orang ini.

"Shibuya ..."

"Oi, Kakei ..." Steve memanggil namanya lagi. "Bagaimana?"

Kakei menangguk pelan. Suara logat Inggris orang ini benar-benar mengganggunya. Seketika, Kakei bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya seraya keluar dari ruangan tersebut.

"Kakei! Mau ke mana?"

"Mencari tempat yang sunyi,"

xXxXx

"Oi, Sena!" teriak sosok berwajah monyet yang familiar itu.

"Eh? Ada apa?"

"Minggu depan Youth Cup akan dimulai! Kau mau menontonnya, kan? Hiruma-san sudah mengancam seorang penjaga stadion supaya kita bisa masuk gratis!" ujar Monta girang. Ia kini sedang memikirkan sang Nona Mamori yang pasti juga akan ikut menontonnya.

Sena sweatdrop untuk sementara. Monta berbuat jahat dengan tenangnya ...

Seluruh anggota American Football yang ada di ruangan itu terdiam. Lalu menangguk semangat dengan ekspresi mengatakan tentu saja!.

Maki termenung. Kakei, apa kau juga akan datang? Gumamnya dalam hati.

xXxXx

Kakei menutup pintu kamarnya. Ia tidak menghiraukan suara teriakan kakak cerewetnya dari lantai bawah. Lalu, ia terduduk di kursi laptopnya dan kembali termenung.

Ia kembali mengingat hari terakhir bertemu dengan gadis itu. Ketika tiba-tiba saja gadis itu menyatakan perasaan padanya. Sebenarnya, Kakei tidak heran juga kalau sebenarnya Maki menyukai dirinya. Dari dulu Maki memang suka mengomel kepadanya—yang malah ia anggap sebagai suatu rasa perhatian yang besar.

Entah kenapa, saat Maki mengataka aku menyukaimu, Kakei juga merasa agak senang—entah apa alasannya.

Ia kembali mengingatnya ...

Mata hijau yang selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan. Seakan ia benar-benar mengatakan Kakei, aku percaya padamu ...

Perkataannya yang berhasil membuat Kakei habis pikir. Kalau Mizumachi bilang, Sedikit-sedikit buka mulut, dia ini!

Kakei tersenyum di sela-sela ekspresinya yang kosong.

"Aku tidak pernah menyangka akan begitu merindukan gadis sepertimu ..." Kakei bergumam pelan.

Pikiran tentang Mizumachi, Kobanzame-senpai, bahkan tentang Youth Cup yang ingin dikenangnya tiba-tiba hilang kemana. Ia hanya memikirkan satu hal—gadis berambut oranye yang familiar itu.

Entah kenapa, sebenarnya Kakei tidak ingin mengingat sang Shibuya Maki. Bukan karena ia membencinya, tentu saja. Ia hanya ingin mengobati rasa sakit setelah meninggalkannya. Tapi sekarang, apa boleh buat, ingatannya sudah kembali dan ia tidak mungkin menyangkal kenyataan ini.

Kakei mendesah pelan. Kalau saja tadi temannya itu tidak mengingatkannya tentang Youth Cup, ia tidak akan merasakan sakit sedemikian rupa.

xXxXx

Jepang, 00.00 PM

Maki tetap tidak bisa memejamkan matanya. Yang kini dalam pikirannya hanyalah sosok berambut biru itu.

...

Maki beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengambil album di atas meja hiasnya.

Kenangan Kyoshin angkatan 17

Foto pertama, foto ketika klub American Football Kyoshin mulai merangkak naik—setelah Kakei bergabung di Kyoshin Poseidon—

Maki tersenyum kecil. "Dia benar-benar penyelamat Kyoshin ..."

Lalu, di lembar selanjutnya, terpasang dengan rapi foto para angota Poseidon sedang berlibur ria di Laut Izu atas kemauan sang ace—Mizumachi.

Maki tertawa getir. "Dasar Mizumachi ...!"

Lalu Maki langsung membuka ke halaman terakhir. Foto terakhir—yang diambil ketika mereka—Kakei dan Maki—terakhir kali bertemu.

Foto ini tidak membuat Maki tersenyum maupun tertawa seperti sebelumnya. Foto ini justru membuat Maki mengehela napas panjang.

"Kakei ... kapan kita bisa bertemu lagi?"

Mata Maki basah. Air mata mengucur dingin melewati pipinya. Membuatnya tersedan.

Entah kenapa, rasa kehilangan yang dialami Maki berbeda dengan rasa kehilangan yang pernah dirasakannya di hari-hari yang lain. Ia benar-benar merasa kehilangan sosok Kakei Shun, satu-satunya laki-laki yang berhasil menarik hatinya.

Maki, ya Maki, baru menyadari perasaan sukanya terhadap Kakei belum lama ini. Dan, baru saja satu hari Maki memberitahukan hal ini kepada Kakei, tapi Kakei sudah pergi ke luar negeri. Maki benar-benar merasa kehilangan.

"Kalau saja aku sadar lebih cepat ..."

Deg!

Jantung Kakei berdegup kencang. Entah apa yang terjadi, tapi ia merasa ada sesuatu yang sudah terjadi—dan itu bukanlah sesuatu yang diketahui olehnya.

"Apa yang ...?"

Jangan-jangan, pikirnya. Shibuya ... apa yang sedang kau rasakan sekarang? Aku ingin kembali bersamamu lagi ...

xXxXx

"Oi, Kakei!"

Yang dipanggil namanya menoleh.

"Ayo cepat! Pembukaan akan segera dimulai!"

.

.

"Aku akan duduk di bangku Amerika," ujar Steve antusias. "Kami pasti akan memenangkan Youth Cup lagi tahun ini! Dan kau sendiri, Kakei?"

Kakei terdiam. "Mana mungkin aku mendukung tim yang menjadi lawan negaraku sendiri?" Kakei tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan Sang Steve Gordon [nama apaan neh?] sendirian di bangku pendukung Amerika.

"JEPAAANG!"

Kakei menoleh kecil ke arah suara berasal. Oke, itu suara aneh yang sudah familiar di telinganya, jadi mudah saja Kakei mengenalinya.

"Jangan-jangan ..." gumam Kakei.

"BERJUANGLAH JEPAAANG!" seruan yang lain juga terdengar bersahutan setelah si peneriak pertama menjerit histeris menyemangati tim yang dibelanya.

"Mizumachi?"

"Ngha~ Kakei-chan! Kau datang juga? Kukira kau akan membela Amerika!" canda Mizumachi sambil nyengir kuda. Kakei tersenyum dingin.

"Mizumachi! Kau ini seenaknya meninggalkan seseorang, ya?" tukas seorang gadis dari belakang mereka berdua.

"Aku kan drigen suporter Jepang! Mesti datang awal, dong!" tawa Mizumachi membuat gadis itu merengut kesal.

"Eh?"

"Shibuya?"

"Kakei!"

Maki memeluk Kakei erat. Ia benar-benar tidak ingin melepaskan Kakei lagi. Padahal, mereka berdua baru berpisah selama tiga bulan, tapi rasanya sudah jauh lebih dari itu.

"Ke mana saja kau? Dasar bodoh! Aku merindukanmu, tahu!"

"Kau pikir tidak untukku, ya?"

End

Fuu ... akhirnya selesai juga *strum guitar* [maap sang author lagi kerasukan jin gitar]

Gimana? Gimana? Baguskah? Bagusan yang When We Must Part atau yang When We Must Part II? Hehe ...

Watashi no koe ga, kikoete masu, ka?

Kalau denger, ayo REVIEW!