Chapter lalu:

"Sekarang giliran Pain, 'kan, yak?" si Kakuzu bertanya. Matanya yang berwarna ijo terlihat semakin berbinar dan semakin ijo.

Pain menelan ludah gugup tatkala melihatnya.

"Oke!" Pain nantang, seolah jadi satu-satunya manusia di bumi ini yang bersih tanpa aib dan dosa, "Gua ga takut!"

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Semakin Dekat, Semakin Merapat, Semakin Melekat (c) Uchiha Yuki-chan

Chara: Akatsuki, khususnya Pain, Hidan, Itachi, Sasori, dan dua Flower Boy Akatsuki: Kisame dan Kakuzu

Warning: OOC, OOC, OOC, OOC. Bahasa Kasar. Bahasa Gaul nan tak baku. Bagi para sassaeng fans (?) Akatsuki atau salah satu / lebih chara Akatsuki, dimohon jangan baca fic ini jika kalian tidak ingin mengalami kontroversi hati. I have warned you~

Just for fun. Tidak mengambil keuntungan materi dari fic ini.

Dilarang memposting ulang tulisan ini dengan cara apapun dan di media apapun tanpa seijin penulis, Uchiha Yuki-chan. Oke broh? Happy reading broh

-oOo-

Kisame: Awalnya saat baru bergabung, gua respek banget sama dia. Gua takut, segan, dan salut. Tapi saat suatu hari gua lihat koleksi majalah Playb*oy dan video ikeh-ikeh kimchi(?)-nya di bawah bantalnya, semua rasa itu hilang sempurna. Dan saat itu gua jadi berpikir bahwa gua baru saja masuk organisasi sindikat bokep, bukan organisasi kriminal dengan tujuan ideal. Terkadang, gua bingung dengan ninja lain yang pernah melawan Pain dan bingung harus pakai jurus apa untuk mengalahkan doi. Gampang! Pakai saja jurus Oiroke dan nyamar jadi Maria Ozawa! Dijamin Pain bakal K.O. seketika! Shinra Tensei? Lewat! Meski 'gitu', yang gua salut dari dia, dia punya sense of justice yang tinggi. Dia penentang keras ketidakadilan. Contohnya, pernah suatu waktu dia melihat ada anak kecil yang dimarahi orang dewasa gara-gara anak kecil itu dengan usil melempar batu segenggaman tangan ke orang dewasa itu. Saat Pain mendengar penjelasan mereka, maka Pain langsung bersikap adil. Dia ambil batu sebesar tangannya, lalu dia lempar ke kepala anak kecil itu. Adil banget, 'kan?

Hidan: Bokep-ers nomor satu. Meski gitu, dia tidak suka dibilang gitu. Tiap dihina demikian, dia selalu bilang, "Gua engga bokep! Gua seperti Sasori yang cinta seni. Tapi sense seni gua dalam bentuk lain!" Doi juga punya cita-cita yang beda dari yang lain dari kecil. Saat anak kecil ditanya apa cita-citanya, maka kebanyakan jawab jadi dokter atau polisi. Pain kecil dulu saat ditanya jawabnya pengen jadi Tuhan. Cita-cita yang cukup kompleks… sesuai dengan semboyannya yang sering ia ucapkan hingga sekarang, "I will be the world's new God!" Bleh! Tuhan itu cuma Jashin, keles! Dia sudah seperti versi Naruto-nya Yagami Raisa [?] dari fandom sebelah. Habisnya, sama-sama kurang waras begitu.

Sasori: Pain ya… Dia kuat, kuat menahan jutsu, lapar, bahkan cobaan. Tapi dia tidak kuat menahan napsu. Punya cita-cita paling absurd yang pernah gua dengar: ingin menjadi Tuhan. Dasar sesat. Tapi meski begitu, Pain pernah mengalami hidup yang menyedihkan semasa kecilnya. Saat itu desanya yang kecil, menjadi zona perang negara-negara besar. Orang tuanya mati semua. Dia sempat kelaparan dan tidak ada tempat tinggal. Hal yang paling bikin gua sedih bukan karena perang, bukan karena doi yatim piatu, bukan karena doi tidak bisa makan. Tapi karena doi bertemu Jiraiya dan pertama kali baca buku bokep. Sumpah, gua sedih banget tiap teringat itu. Karena sejak saat itu, sampai sekarang Pain jadi maniak dan gua sering ditanyain oleh orang-orang apakah Akatsuki itu semacam Maria Ozawa fans club. Dan tak seperti cerita yang diketahui orang-orang, ada alasan lain yang lebih penting mengapa Pain membunuh Jiraiya. Yakni karena Pain desperet sudah tidak sabar menunggu update-an chapter buku Jiraiya sedangkan Jiraiya waktu itu sedang terkena writer's block.

Kakuzu: Gua tahu "semua aib"tentang Pain. Mau tahu? Bayar 1000 ryo dulu.

Itachi: Pein itu ketua kami, tapi karena itulah kelompok kami miskin dignity. Habis bagaimana, dia sudah pulnu, norak dan sesat pula. Iyalah, tiap kali kami melawan musuh dan dia ngomong ke lawan kalau bakal jadi Tuhan, gue rasanya ingin oplas saat itu juga. Malu lah, gue bantai klan gue dan kabur dari kampung cuma buat bergabung sama organisasi delusional seperti itu. Dan dia pulnu banget, sudah seperti video bokep berjalan(?). Tidak perlu baca novel atau lihat video dewasa buat tahu hal-hal 'gitu', cukup berbicaralah dengan Pein selama 20 menit. Dia itu tampang menipu. Keliatan kalem dan berwibawa, tapi coba saja lu lihat kantung dalam jubahnya, penuh majalah dan novel nganu yang biasa ia baca saat istirahat misi. Dia kalau ngomong ke musuh berwibawa dan sok macho gitu, padahal kalau sudah baca nganu dia teriak 'Uwaaahh Uwaaahhh sugooiii' dengan sangat norak dan najyong-nya. Tsk. Udah membantai klan, gue malah gabung dengan organisasi nganu yang dipimpin orang pulnu, di situ saya kadang merasa sedih.

Kisame membaca tiap tulisan dengan keras-keras, memakai intonasi dan ekspresi layaknya membaca puisi. Lebay sangat pokoknya. Niat dan puas banget, akhirnya ada yang dinistai lebih hina dina merana daripada dirinya sendiri. Ouch.

Sedangkan Pein menunduk, ekspresinya tak terbaca. Yang lain menahan tawa, sekaligus siap-siap ngacir ala bences terkena razia satpol pp jika-jika Pein berubah berserk dan butuh Sniker.

Mau bagaimana lagi, pulnu-pulnu begitu Pein yang terkuat. Aw Mas Pein~

Pein mendongak, lantas menatap kawan-kawannya satu persatu. Yang lain menahan tawa, menahan napas, dan menahan kentut (yang ini Hidan yang dari awal memang sudah ingin berwisata ke empang). Ekspresi sang Ketua serius—ekspresi Pein yang ter-IC sepanjang cerita ini berlangsung. Silahkan standing applause.

"Kalian salah," Pein bersuara dalam, so seksi as hell, sembari berdiri, "Beraninya kalian menulis seperti itu tentang gue, huh?"

Glek—suara ludah Itachi dan yang lain terdengar jelas. Kisame bahkan menelan ludah berkali-kali, ketika mulutnya sudah kering dan defisit ludah, dia minum air biar bisa 'glek' dengan lebih greget. Sungguh…. Tidak penting.

"Pein—" ujar Itachi, mencoba paling bijak, "Lu sudah janji ga bakal marah, 'kan?"

Hidan mengangguk-angguk, meski tanpa sadar dia sudah sembunyi di belakang Kakuzu. Eaaa, "L-lagipula ini semua 'kan ide lu sendiri."

Pein menggeleng, gerakan slow motion. Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi setting khas pre-battle scene: penuh angin, dedaunan terbang, dan tatapan tajam, "Tidak, Hidan. Gue tidak terima," Pein menoleh ke arah Hidan, telunjuknya yang tidak lentik tapi berkuteks dan ber-glitter mengarah ke Hidan, "Pertama-tama, elu! Jangan samakan gue dengan Yagami Raisa—setidaknya gue masih normal dan tidak self-cest, oke?!" Pein menaikkan volume suaranya hingga tumpeh-tumpeh(?), "Dan beraninya lu bilang gue ga suka dibilang penyuka rate MA? Gue bangga tauk! Itu bentuk dedikasi gue, akan artian seni yang gue anut!"

"…"

Entah, setting ala battle scene itu tiba-tiba banting stir ketika ekspresi serius dan khawatir Kakuzu dan yang lain berubah menjadi: =A=

SRET! Pein berputar ala balerina(?), lantas mengarahkan telunjuknya pada Kisame yang otomatis megap-megap bagai ikan yang terkena kail pancing, "Dan lu, pemeran utama The Jaws!" ha? "Pertama, koleksi gue ga hanya di bawah bantal, gue juga punya video nganu di lemari, di brankas uang Kakuzu—" Kakuzu langsung melotot dan istighfar(?), "Di salah satu saku jubah boneka Sasori—" Sasori menganga dan menggigit kelima jari kanannya dengan ekspresi gemes, "Dan di bawah tong sampah belakang markas," Itachi menyipitkan padangan…. Ketika ada seekor semut yang menggigit kakinya. Aw semut nakal.

"…Pein," Kisame hanya spicles.

"Dan lu bener, andaikan aja ada orang yang pake jurus Oiroke dan nyamar jadi Maria Ozawa, gue pasti kalah telak. Hmph," Pein menunduk dan mengelus-elus dagu sok bijak, "Tapi gue pengen elu pada ga bocorin ini ke musuh-musuh kita—terutama Naruto. Gue pernah ga sengaja liat dia pakai jurus itu pas latihan. Ckckck… Uzumaki-sama sasuga."

Yang lain lantas saling lirik. Ekspresi mereka ngeri—jauh lebih ngeri daripada seandainya mereka di-shinra tensei oleh Pein. Hanya satu yang secara kompak mereka pikirkan: Ada yang bawa Sniker ga? Kayaknya Pein lagi lapar…

Habisnya, alih-alih menyangkal, tuh Ketua malah dengan bangga mengakui dan meralat negatif imejnya yang sudah negatif tersebut.

Pein berbalik dengan cara memutar: berdiri satu kaki, kaki lain ditekuk di lutut, dan dua tangan terjulur lurus dan menunjuk sok asyik pada Itachi yang seketika semakin mengkerut saja keriput di wajahnya, "Dan lu, Itachilukba!" Apaan sih? "Terimakasih atas pujiannya mengenai aku dan seniku! Aha!" ia mengedipkan sebelah mata hingga terdengar bunyi imajiner 'ting!'—Itachi terpaksa menelan kembali muntahannya, "Dan lu bener, tiap ada misi majalah dan novel-novel itu wajib gue bawa! Tapi lu salah kalau cuma gue taruh di jubah, gue juga save semuanya dalam bentuk scroll jutsu—praktis dan jenius banget ga sih, Ketua lu ini?"

Untuk pertama kalinya, wajah Uchiha Itachi tergambar ekspresi yang sangat bloon banget—iyalah, tiba-tiba mendapatkan culture shock(?) demikian siapa yang ga bakal jadi OoC? Heichou fandom sebelah yang terkenal wajah flat by default-nya, pasti juga gitu seandainya dia iseng main ke cerita ini.

Sasori ingin menghindar—lari pergi atau pura-pura mati, terserah—tapi terlambat ketika Pein secepat kilat melirik ke arahnya dan menyebabkan kedua pandangan mereka bertubrukan. Awawawaw.

"Lu benar, Sasori," Pein menghela napas, mendongak, lantas menatap langit dengan pandangan sendu. Setetes manly tears ia usahakan untuk tidak terjatuh, "Lu benar, gue kesel sama Jiraiya-sensei. Padahal gue sudah jadi fans garis keras dia, tapi dia masih terkena WB dan tidak update. Dia Author dewa—tapi dia malah sibuk dengan urusan Desa Konoha. Sebelum dia gue bunuh, gue sudah bilang berkali-kali 'Sensei please notis mi!' tapi dia malah tetap WB dan bilang tidak punya ide. Di situ….," Pein menunduk dan menelan ludah, "Kadang gue merasa sedih."

Sasori diam, tapi dia berkali-kali mengucek-ucek matanya dan menepuk-nepuk pelan kedua telinganya. Ya kali saja entah bagaimana dia kini berada di dunia ilusi—mengapa si Pein nge-bash karakternya sendiri yang sudah minus demikian?

Ekspresi angst tadi segera hilang, tergantikan oleh raut bahagia dengan kedua pipi yang merona dan dua mata yang entah bagaimana bisa tampak begitu bersinar cerah. Pein menatap ke arah teman-temannya, "Minna-san, terimakasih kalian sudah mengatakan yang jujur mengenai gue. Kalian mengetahui sekali gue—gue terharu. Kalian semua juga tahu banget mengenai gue dan rasa cinta gue ke aliran seni gue," Pein mengangguk mantap dengan tatapan determined, "Sebagai ucapan terimakasih gue, gue bersedia ngajarin kalian tentang taste of art gue! Yosh! Tatakae!"

Angin berhembus.

"Uh… engga, gue masih setia ke aliran seni gue," Sasori.

"….Gue selama ini sepaham ama Deidara, aslinya," Itachi.

"D-Dewa Jashin sudah mengharamkan apapun yang berhubungan dengan seni." Hidan.

"Gue pikir otak gue terlalu bego buat ngerti seni," Kisame bukannya berusaha ngeles, hanya jujur apa adanya dari dalam hati, sebenarnya.

"Belajar tentang seni hanya menghabiskan uang(?)," Kakuzu menggumam, "Dan wait, kenapa cuma jawaban gue yang ga elu bahas?"

Pein menghela napas lega dan bahagia, lantas kembali duduk, "Gue suka punya temen pengertian kayak kalian. Kita BBF sampai mati, ya, coy?"

"BFF maksud lu? Ngapain bawa-bawa drama itu," sela Itachi.

"Ah maksud gue itu. Singkatannya Best Fart Forever 'kan, ya?"

Hidan misuh. Kisame mendelik. Kakuzu tepok jidat. Itachi istighfar layaknya gambar dia di meme-meme. Sasori hanya nge-flat face—intinya semua merasa insaf dengan kemampuan English Pein yang bahkan di bawah beginner.

"Best Friend Forever, Pein," ralat Sasori datar.

"Maksud gue itu."

Entah mengapa nih Ketua hari ini terasa jauuuhhhh lebih menjengkelkan daripada biasanya.

"Nah, sekarang gilirannya elu, Sas," ucap Hidan, mengalihkan topik daripada harus mengurusi Pein dan segala ke-OoC-annya. Mau tak mau ia merasa jengkel, karena sejauh ini, dari semuanya, hanya Pein saja yang tenang, bahkan gembira ria sukacita, saat harga dirinya dinistai demikian. Siyal.

Sasori hanya mengendikkan bahu, "Terserah." Wajahnya datar, ekspresinya seakan tak peduli, tubuhnya terduduk dengan santai.

Jangan salah—di saat itu juga inner dia sudah berserk: misuh-misuh dan menyumpah-nyumpah bahwa gilirannya sudah tiba.

'Awas jika ada yang hina akoh! Akoh akan doa dan bilang ke Ayah dan Mama di surga sana!' batinnya tulus setengah nista.

"Ufu~ Gue ga sabar," Pein udah girang sendiri. Maklumlah, selain Itachi, Sasori 'kan salah satu member yang beken. Wajarlah orang sirik dan minim fans sepertinya akan memanfaatkan momen ini untuk black campaign(?) penistaan Sasori.

"Akhirnya acara nista ini akan berakhir juga," Kisame hanya menghela napas lega, sembari otaknya segera merencanakan bunga apakah yang ingin ia petik di taman dan kupu-kupu warna apakah yang ingin ia tangkap hari ini. Uuuu~

-oOo-

Kisame: Sasori yah… gue akui dia tampangnya lumayan, yah… 11:12 lah ama gue gitu. Jumlah fansnya juga 11:12 juga dengan gue. Banyaklah kesamaan di antara kami (?). Fetish bonekanya sudah ga ketolong. Orang-orang tahunya dia anggota Akatsuki, kelompok kriminal yang gahar dan dia spesialis Kugutsu, tapi mereka ga tahu saja boneka yang disimpan di kamarnya tuh bukan kugutsu. Ada barbie lengkap dengan set rumah dan bajunya, ada boneka Cinderella di pojok kamarnya, bahkan di samping bantalnya dia naruh Winnie the Pooh. Aw, greget deh. Masuk kamarnya tuh seperti masuk rumah boneka—serba pink dan fluffy di mana-mana. Panteeesss saja dia selalu melarang siapapun masuk, dan bahkan menempel plang di pintu yang bertuliskan 'M4: Masuk Maka Matilah, Monyet!' yang menurut gue sangat OoC. Gue juga tahu isi kamarnya tanpa sengaja kok: tidak sengaja punya niat, tidak sengaja buka pintu, tidak sengaja masuk diam-diam, dan tidak sengaja berharap Sasori tidak tahu gue di sana. Sorry ya, Sas u_u

Hidan: …Um… gue di sini mau bicara jujur, ya, soalnya ini kan permainan kamvret yang mengharuskan kita jujur. Jujur saja, awal Sasori diperkenalkan sebagai anggota, gue kira dia cewe…. Dan… jujur, waktu itu jantung gue badump badump dan ada suara 'uwaaaa' imajiner di belakang kepala gue. Sumpah deh, gue tau yang lain juga pasti mikir dia cewe. PLISLAH ITU APAAH BULU MATA SETEBAL DAN SELENTIK ITU?! Konan saja gue tahu langsung diam-diam belajar memakai maskara setelah lihat Sasori. Dan saat gue dengar suaranya nge-bass, mood gue langsung rasanya seperti kebanting. Dia anggota bertubuh terpendek dari kami semua (jangan salahkan gue, SEKALI LAGI, kalau gue ngira dia cewek)—tingginya tidak sampai 170 senti. Tapi herannya dia termasuk anggota yang punya banyak fans. Tsk, dasar cewe sekarang saja yang taste-nya sudah abstrak. Tapi emang rata-rata cowo pendek itu banyak fans yah. Hhh… gue jadi inget kan, dengan saudara kembar(?) beda fandom gue, seorang Lance Corporal cebol pembasmi monster raksasa. Nii-chan, pulang, Dewa Jashin kangen lu.

Itachi: Duh ya, Sasori tuh ibaratnya Naruto-nya Akatsuki. Kenapa? Karena sekali dia ngomong soal seni, berasa seperti bacot no jutsu: panjang, berbelit, dan ujung-ujungnya membuat kami tobat karena cavek mendengarnya. Dia cakep, tapi katanya belom pernah pacaran. Alasannya waktu gue tanya dulu, karena dia sudah ga punya hati untuk urusan romens. Bleh, ngibul. Gue tebak, alasan yang sebenarnya adalah karena dia humu… Atau self-cest… Atau kelainan itu yang membuat dia tertarik ke mayat… whatever, dia emang dasarnya freak. Warna rambutnya merah, dan gara-gara itu, dia sering banget dihadang cewe-cewe yang teriak 'Emperor-sama! Gue minta tanda tangan dong!' atau yang nyeleneh 'Apakah hubunganmu dengan uke-mu berambut biru baik-baik saja?' dan yang paling nyeleneh, 'Gue tantang lu maen basket. Cih, dasar cebol maniak gunting!'. Gue 'kan jadi mikir, 'Kita hidup di dunia Ninja apa crossover?' Gue jadi penasaran, emang si Emperor itu mirip banget ya, sama si Sasori?

Pein: Sama seperti Itachi, salah alasan terpenting gue rekrut Sasori bukanlah poin kekuatannya. Tapi poin tampang. Iyalah, gue sudah rekrut wajah-wajah bak kesemek ketlindes gerobak macam Kakuzu dan Kisame, gue pengen Akatsuki naik pamornya dengan cowok-cowok bishie—biar ga disangka organisasi para gelandangan jomblo miskin tampang berkedok kriminal penguasa dunia. Soalnya meski gue ganteng, kalau gue aja yang jadi peran visual, ga bakal cukup. Iya, ga? Meski begitu, Sasori itu kek epitome muka sadis hati teletubis: dia bisa menjadi menye-menye jika ada yang bahas soal orang tua. Sering banget dia nasehatin anak kecil buat patuh pada orang tua dan blahblahblah. Padahal dia sendiri bunuh neneknya -_- Saking fetish-nya, pernah dia minta ke gue gimana kalau Akatsuki dijadikan keluarga. Gue sebagai Ayah, Konan Ibu (hmmm), Hidan Deidara Tobi Zetsu Sasori sebagai anak, Itachi sebagai Kakek, dan Kakuzu sebagai leluhur. Gue hanya kicep, tak pernah menyangka usul seperti itu terucap dari seorang ninja S-Class, dengan ekspresi datar andalannya. Intinya, gue harap sesudah kami mencapai tujuan kami menguasai dunia, dia bisa ketemu jodohnya, merit, dan punya anak dan bikin keluarga sendiri. Ah ya, tentunya sebelum itu dia musti berhenti jadi humu dong.

Sasori membaca sendiri semua tulisan teman-temannya. Tak ada yang berubah dari ekspresinya, nada suaranya pun masih datar seakan tak peduli. Meski rasanya saat itu juga dia ingin berlari ke kamar, nangis sembari memeluk teddy bear kesayangannya. Teman-teman jahat sih! Saso-kun, 'kan jadi sebel!

"Pertanyaannya sekarang adalah," cowok rambut merah itu menatap teman-temannya, "Emang selama ini imej gue humu, ya?"

"Banget!" teman-temannya menjawab serempak, tanpa ragu, bahkan Kisame mengangguk berkali-kali.

Sasori otomatis dongkol. Dengan geram ia menoleh ke Itachi, lantas menunjuk keriputnya dengan jempol kaki, "Kalau gue humu, lu apa? Inses? Udah humu, inses ama adik sendiri, keriputan lagi!"

"Jangan bawa-bawa Sasu-chan!" Itachi ngejambak rambut Sasori.

Sasori menampar Itachi, "Lu jangan bawa-bawa ortu gue!"

Itachi balas nampar, lantas berkacak pinggang dan menggembungkan kedua pipi, "Eh bego yang bawa ortu lu tuh si Pein, bukan gue!"

Yang lain hanya diem. Menatap antara terkejut dan siok melihat dua anggota terkece dan ter-kewl Akatsuki kini main jambak dan tampar ala cewek SMA labil yang rebutan cowok.

"Lu juga Pein!" Pein nyaris jantungan ketika saat enak-enaknya ngupil, Sasori nonjok idungnya yang dari awal tidak begitu mancung, "Lu ngatain gue humu karena iri 'kan, Konan naksir gue?!"

Pein muntah di wajah Kisame yang tak berdosa, "APA?! Konan?! Naksir lu? Nonsex!!"

"…."

"Nonsense, maksud lu?" Hidan mengangkat tangan ragu.

Pein mengangguk, lantas mengacungkan jempol dengan tidak tahu malunya, "Maksud gue itu," Pein kembali menatap ke Sasori, dan kembali mengalihkan topik yang sempat membuatnya ingin segera diving ke empang, "Ngaku aja deh. Lu humu ama Deidara, 'kan?"

"Ha? Banci itu?" Sasori menggelinjang jijik.

"Habisnya lu ga pernah deket atau interaksi ama cewek, Sas," Hidan menyahut.

"Emang lu udah pernah, hah? Lu kemana-mana ama Kakuzu aja kayak pengantin baru!"

Hidan empet, "Setidaknya gue ga dipanggil 'Danna' ya!"

Sasori ketawa ngejek banget, "Emang siapa yang mau manggil 'Danna' ke orang tampang budak kayak lu!"

"Udah! Udah! Sesama makhluk humu diem deh!" Pein mencolok mata Hidan dan Sasori, "Gue ga ngerti, kenapa ga ada satupun dari kalian yang ikhlas dengan jawaban temen-temen lu hah! Kampret! Huh! You make me soooo angry bird!"

"….."

"Pein, plis jangan ngomong pakai bahasa Inggris lagi," Kisame nangesh, "Lu ngomong English, gue yang paling bego pun tahu English lu sinting. Di situ gue merasa sedih, Pein."

"Lagian lu ga marah kita katain bokep karena lu emang dasarnya ga tahu malu," Itachi menyahut, "Gue berharap suatu saat nanti Konan tahu kebiasaan najong lu ini."

"Amin," Sasori menyela dengan tulis hati.

Pein ngibasin tangan acuh tak acuh, "Dia ga bakal tahu. Ga ada yang bisa misahin gue ama Bebeb Maria, Chuyunk Britney, ama Mama Lindsay. Konan mah ga ada apa-apanya dari mereka—"

"Oh jadi gitu. Gue jelek dibanding para idola sejak masa batita lu itu?"

Semua kicep saat mendengar suara asing itu. Semua menoleh, dan bagaikan tiba-tiba mendapatkan serangan Kira dari fandom sebelah, mereka terkena pukulan tak kasat mata right in the kokoro saat melihat Konan, Deidara, Tobi, dan Zetsu yang berdiri di dekat mereka.

"Dan kalian ngatain gue banci dan humu, un?" Deidara yang biasanya terkesan girly, entah kenapa kini terlihat sangat macho, gahar, dan seme abies! Rawr~

"Kenapa ga ada yang omongin Tobi dan Zetsu-senpai?" Tobi nyeletuk.

"Eh, Konan! Kapan balik, Yang?" tanya Pein dengan panggilan yang membuat tak hanya Konan, namun semuanya bergidik jijay, "Yang barusan lu dengar Cuma becanda kok. Hehehe. Konan mah the most amazon girl lah!"

"….."

"…..Lu mau ngatain gue kayak tarzan, hah?"

"Amazing, Pein. Amazing," bisik Itachi sambil nangis.

"Ah iya, maksud gue amazing, Konan," Pein pengen maskeran pakai kotoran saking malunya kelihatan bego di depan gebetan sendiri, "Jangan marah, ya. Cuma lu yang gue cinta," Pein masang senyum (yang menurutnya) manis.

Konan membuang muka, pipinya merona. Sedangkan yang lain benar-benar tengah menahan muntah. Itachi malah rasanya pengen geledah jubah Pein dan rontokin koleksi DVD tuh Ketua langsung di depan Konan.

"Konan," Pein memegang pundak Konan dan menatap kedua mata cewek itu dalam-dalam.

"Pein…" Konan mulai termakan gombalan Pein yang memang dari awal punya wajah mirip kain pel berduri(?).

"I love you, horny~"

"…"

Suasana fuwa fuwa yang tengah dirasakan Konan sukses rusak seketika.

Semuanya, kecuali Konan, menangis berjamaah.

Kisame langsung menenggak racun entah darimana, "Honey, Pein… H-Honey… uhuk!" ralat Kisame lemah dengan kejang-kejang dan mulut berbusa—LEBIH BAIK SAYA MATI DARIPADA MEMILIKI KETUA TAK ADA HARGA DIRI—batinnya.

Dan semenjak hari itu, Pein tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa menghafalkan minimal 10 kata per hari. Jika tidak? Konan sudah memiliki magnet super kuat yang bisa mencabut serentak 10 pierching Pein dalam sekali tarikan kuat.

'Kan atit

-end-

Yukeh: …..maaf jika ending aneh. Yah, apa yang kamu harapkan dari humor Akatsuki saya yang dari awal saja sudah tidak ada yang normal u_u Dan jujur, di chapter terakhir ini saya enjoy banget bully Pein wakakaka #jambakpierchingPein

Terimakasih sudah membaca :""")

Feedback?

Yukeh.