La Tulipe

.

.

.

Apriltaste

.

.

.

Oh Sehun

Luhan

.

.

HUNHAN/GS for Uke

Don't like ? Don't Read and Don't Bash !

Typo Everywhere

.

ANGST PROJECT HUNHAN GS

For HunHan Month

.

.

.

Aku tak akan pernah berhenti untuk mencintaimu.

Kau milikku, Luhan.

.

.

.

Tubuh tegap dengan sorot mata yang dalam itu terdiam, mengamati gerak-gerik wanita yang sedang ditangkap oleh kedua korneanya. Apapun yang dilakukan oleh wanita dengan senyum menawan itu tak akan pernah lepas dari sorot tajam milik Sehun. Walaupun Lelaki itu hanya diam pada sofa ruang tengah, terus mengawasi pergerakan rusa kecilnya.

Luhan, wanita yang tak pernah hilang dari pengawasannya itu tersenyum. Dengan senyum menawan miliknya, mungkin tak akan pernah ada satupun orang yang tahu jika wanita yang tengah hamil itu sedang berjuang. Berjuang untuk menghindari garis takdir yang akan membawanya pada kematian.

Sehun tahu benar apa dan bagaimana Leukimia itu, lelaki itu terus mencari dan membawa semua dokter spesialis dalam terbaik untuk mengobati malaikat hidupnya –Luhan-

Sedangkan wanita itu terus mengatakan jangan berlebihan, ini hanya Leukimia. Demi Tuhan, Semua yang diucapkan Luhan benar-benar selalu membuat Sehun kalut. Lelaki itu tak bisa menganggap penyakit yang diderita istrinya adalah hal yang kecil. Ini bahkan menyangkut dua nyawa yang paling berharga untuknya, -Luhan dan calon buah hati mereka-

Lelaki itu baru mengatahui fakta jika Luhan memiliki penyakit itu, beberapa bulan yang lalu tepatnya di usia lima bulan kandungan Luhan, setelah mereka melakukan pemerikasaan menyeluruh di Rumah Sakit yang akhirnya mendapat hasil positif Leukimia. Wanita itu menceritakan tentang semua yang ada pada hidupnya. Luhan memiliki Leukimia yang diturunkan dari ibunya. Wanita itu bercerita sembari terduduk didepan Sehun, mencoba bersujud dihadapan suaminya. Bahkan beberapa kata seperti kau bisa ceraikan aku, kau bisa menikah lagi, carilah istri yang tepat untukmu, atau aku tak pantas denganmu Sehun. Terus diucapkan oleh bibir kecil itu, seolah-olah ia telah menyerah dengan kehidupannya bersama Sehun.

Dan yang bisa Sehun lakukan,adalah membawa Luhan dengan genangan air mata untuk berdiri kemudian memeluknya. Memberikan kekuatan jika semua ini akan berakhir baik-baik saja. Tak akan ada yang pergi atau menghilang dalam kehidupan ini. Mereka akan selalu bersama. Sehun memilih berjuang mengobati Luhan dengan segala kemampuan yang lelaki itu bisa lakukan.

Luhan tersenyum ketika tatapannya kembali bertabrakan dengan sorot tajam milik Sehun, wanita itu memilih melanjutkan kembali tatanan cantik yang ia berikan pada tangkai-tangkai tulip yang berada dalam sebuah vas kaca di sudut ruangan.

"Kapan kau selesai ?" Sehun sudah tak sabar, yang ia inginkan adalah Luhan yang diam tak melakukan apapun. Demi kesehatannya.

"Sehun, aku hanya menata tangkai tulip. Ini tak akan membuatku kelelahan. Percayalah." Senyuman itu benar-benar membuat lelaki itu menghela nafas berat. Luhan benar-benar keras kepala.

"Kau begitu menyukai tulip ya ?" Tanya Sehun mencoba mencairkan suasana agar tak terlalu dingin untuk mereka berdua. Tidak, disini hanya Sehun yang merasakan rasa berlebihan ketika istrinya melakukan hal kecil. Seperti saat ini.

Yang ditanya hanya mengangguk ringan, sembari memotong daun-daun yang tampak menguning. Bahkan mengganti bunga layu dengan Tulip lainnya yang tampak segar.

"Jadi pada pernikahan kita, kau sendiri yang meminta buketnya menjadi Tulip ?" Sehun memicingkan sorot mata miliknya ketika menatap Luhan. Wanita yang sadar sedang ditatap itu membalas tatapan Sehun sesaat dan kembali dengan aktivitas nya yang menurutnya jauh lebih menyenangkan dibanding menatap wajah datar milik Sehun.

"Kenapa ? Kau tak suka ?" Bibir kecil itu mengerucut Lucu, Sehun benar-benar dibuat gemas dengan ibu hamil yang tampak seperti anak balita didepannya.

"Jadi Nona Luhan, bisa kau katakan alasannya padaku kenapa kau sangat menyukai Tulip ?" Sehun berjalan menuju arah Luhan. Kemudian, memutar kursi roda yang dipakai Luhan untuk menghadapnya. Berjongkok tepat didepan wanita itu agar sorotnya dapat menangkap binar indah yang dimiliki kelopak rusa dengan bulu mata lentik, membawa sebelah tangan Luhan yang kosong untuk ia genggam. Membawanya keudara dan ia kecupi dengan hangat.

"Kau tau Tulip itu memiliki beraneka warna ?" Oh, Luhan mulai menatap Sehun dengan binar-binar senang pada kedua kelopak indah miliknya. Sehun mulai mendengarkan, mencoba menjadi pendengar yang baik untuk teman hidupnya itu. Sehun hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya, lelaki itu tersenyum ketika melihat sebuah lengkungan menyenangkan yang terlihat pada paras cantik istrinya. Luhan tersenyum pada Sehun.

"Tulip itu seperti dirimu Sehun." Lirihnya masih dengan senyum yang terpatri pada wajahnya. Tatapannya ia bawa pada Lelaki didepannya.

Sebelah alis Sehun terangkat, sepertinya lelaki itu tak mengerti apa maksud ucapan dari istrinya.

"Seperti aku ?"

"Ya, sepertimu. Tulip itu dirimu." Sorot indah milik Luhan masih menatap Sehun dengan lembut, wanita itu tak ingin berpaling dari suaminya.

"Tulip itu satu, tapi memiliki beragam warna dengan beragam arti pula. Seperti dirimu yang memiliki Sisi berbeda disetiap waktu, menggemaskan, menyenangkan, menenangkan, dingin tapi juga kadang menyebalkan. Tapi semua itu tetap dirimu, Oh Sehun. Dan aku menyukainya." Tangan sehalus kulit bayi itu mengelus lembut pipi Sehun, lelaki itu hanya terdiam dengan mata terpejam ketika menikmati sentuhan yang diberikan oleh Luhan.

Luhan terekekeh ringan ketika melihat wajah terpejam milik Sehun. Wanita itu benar-benar gemas dengan wajah Sehun ketika seperti ini. Lelaki itu benar-benar tampak seperti bayi besar, menggemaskan. Sehun yang sadar sedang di tertawakan membuka kelopak matanya, menatap Luhan yang masih terkekeh diatas kursi rodanya.

"Kalau begitu, kau seperti Tulip putih dan Tulip merah untukku." Dengan suara berat miliknya, lelaki itu sukses membuat Luhan terdiam dari tawa kecilnya. Menatap Sehun dengan sorot penuh tanya yang ia berikan untuk suaminya.

"Seperti Tulip putih, murni dan polos. Tulip merah, penuh cinta dan.." Lelaki itu sengaja tak melanjutkan kata-katanya. Sengaja membuat wanita itu penasaran.

"Dan ?" tanya Luhan mengulang kata milik Sehun yang terakhir dengan nada bingung ketara pada ucapannya.

Sehun membawa jemari panjangnya di samping kepala Luhan, membawa anak-anak rambut itu kebelakang telinga istrinya, menyelipkannya disana. Lelaki itu hanya tersenyum menatap Luhan yang benar-benar kebingungan dibuatnya. Badannya sedikit ia condongkan hingga bibirnya tepat berada pada telinga Luhan.

"Dan menggairahkan." Membisikkan kata-kata yang membuat Luhan berdesir pada tubuhnya, merasakan hangat yang diciptakan oleh aliran darahnya. Dan beberapa rasa menyenangkan yang tercipta pada dadanya. Wanita itu tersipu dengan beberapa rona merah samar yang tampak pada kedua pipi gembil itu. Membuat Sehun tak dapat lagi menahan kecupan-kecupan ringan yang ia layangkan untuk seluruh permukaan wajah istrinya.

Seandainya setiap hari Sehun dapat menciptakan senyuman itu pada wajah cantiknya, mungkin wanita itu tak akan pernah merasakan kesedihan yang terlalu mendalam. Seandainya Sehun dapat membuat wanita itu terus bahagia, mungkin wanita itu tak akan terus menangis ditengah malam pada balik punggungnya. Sehun tahu selama ini Luhan mencoba baik-baik saja dihadapannya walaupun pada kenyataannya wanita itu akan hancur ketika hanya disentuh sekalipun. Dan Sehun yang akan menjadi seseorang yang mengumpulkan kehancurannya itu, menyusunnya kembali menjadi satu dengan seluruh hembusan nafas miliknya.

Sehun membawa tubuhnya berdiri, lelaki itu telah selesai dengan aktivitasnya menciumi seluruh permukaan wajah istrinya hingga membuat sang wanita benar-benar memiliki wajah semerah tomat. Sehun berjalan kebelakang, meraih pegangan kursi roda untuk membawa istrinya kedalam kamar. Sekarang sudah menjelang siang, wanita itu perlu istirahat. Karena sore nanti adalah waktu kemoterapi yang harus dijalankan oleh Luhan. Sebenarnya, Luhan masih bisa berjalan seperti biasa. Hanya saja, perasaan khawatir milik Sehun terlalu berlebihan. Hingga membuat wanita itu mengalah dan menuruti apa kemauan suaminya. Duduk diatas kursi roda, dan melakukan segala aktivitas sehari-hari dengan kursi rodanya.

Luhan tak pernah memungkiri jika berbagai pikiran buruk selalu menghantuinya selama ini. Seolah memberikan mimpi buruk untuknya setiap malam. Luhan selalu berpikir untuk kebaikan Sehun kelak. Tak ada hal buruk yang diinginkan oleh Luhan, hanya saja wanita itu merasa waktunya tinggal sebentar lagi. Beragam pikiran mulai dari berpisah dari Sehun hingga meminta lelaki itu menikah lagi benar-benar membuatnya selalu terdiam hampir setengah hari. Setidaknya, jika ia pergi lelaki itu akan baik-baik saja tanpa kehadirannya.

"Kau menangis ?" itu suara Sehun, membuat Luhan semakin menenggelamkan kepalanya. Mencoba mengahapus jejak air mata milliknya. Lengan milik Luhan tertahan ketika jemari Sehun mengehentikannya untuk menghapus bulir-bulir itu.

"Ada apa ? apa yang menganggu pikiranmu ?" Tanyanya dengan nada lembut. Luhan memberanikan diri untuk menatap lelaki itu. Kemudian sedikit bersusah payah, membawa tubuhnya agar tenggelam pada pelukan Sehun. Selanjutnya, isakan hebat dengan tubuh kecil bergetar yang kembali lelaki itu dengar.

"Aku disini sayang." Usapan-usapan lembut coba Sehun ciptakan untuk menenangkan Luhan-nya, mencoba membuat isakan itu berhenti. Jauh didalam hatinya, ia juga merasakan rasa sakit ketika melihat Luhan menangis seperti ini. Sehun tetaplah Sehun seorang lelaki yang tak akan membiarkan sang wanitanya melihat sisi rapuh dari dalam dirinya.

"Maafkan aku Sehun, maafkan aku.." itu suara milik Luhan yang teredam pada dadanya, wanita itu masih sesenggukan ketika mengatakan kalimat yang tak ingin Sehun dengar. Sehun mengerti, Luhan terlalu memikirkan keadaannya. Sungguh, ini bukan salah wanitanya. Apapun yang dilakukan Luhan selalu membuat Sehun mengatakan jika wanita itu sempurna.

"Dengarkan aku Luhan.." Tubuh itu Sehun lepaskan dari pelukannya, kemudian menatap sepasang mata yang telah basah itu. Mencoba memberikan rasa yakin untuk Luhan.

"Ini bukan salahmu, semuanya akan baik-baik saja. Dan jauhkan segala pikiran burukmu itu. Aku tak menyukainya jika pikiran itu terus membuatmu menangis seperti ini. Percayalah, aku mencintaimu. Kau millikku Luhan. Tak akan pernah ada yang lain."

Luhan hanya terdiam ketika lelaki itu menatapnya, berbagai perasaan campur aduk telah ia rasakan saat ini. Sedih, bahagia hingga merasa bersalah pada lelaki itu benar-benar membuat hatinya menjadi tak karuan. Luhan terlalu takut, wanita itu terlalu takut jika garis takdir yang akan memisahkan mereka berdua.

"Isirahatlah dulu, nanti ku bangunkan jika waktunya ke Rumah Sakit." Sehun membawa tubuh Luhan untuk berbaring diatas tempat tidur mereka, lelaki itu sedikit merapikan dress rumahan yang dikenakan istrinya. Kemudian membawa tubuh kecil itu kedalam selimut.

"Sehun, jangan pergi. Temani aku." Suara lirih milik Sehun membuat lelaki itu tertahan. Lelaki itu tampak terdiam, Sehun tak tahan jika melihat Luhan dalam keadaan kacau seperti ini. Tapi, lelaki itu sadar jika wanitanya membutuhkannya sekarang. Sehun mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Luhan, lelaki itu Lebih memilih kata hatinya untuk menemani wanita yang ia cintai.

.

.

.

.

Sehun terlalu takut, lelaki itu benar-benar menjadi pengecut ketika beberapa perawat dan dokter dirumah sakit mengelilingi tubuh Luhan. Sehun terlalu lemah jika mendengar isakan-isakan Luhan yang tampak kesakitan ketika beberapa cairan kimia dipaksa masuk kedalam tubuh lemah wanitanya.

Sehun terlalu sering menjadi seperti ini, merasakan menjadi lelaki paling tak berguna yang pernah ada. Sehun lebih memilih berada diluar ruangan sembari menahan gejolak rasa sakit pada dadanya ketika isakan itu kembali menyapa pendengarannya. Terkadang lelaki itu ikut menangis.

Langkah panjang miliknya akan ia bawa kedalam setelah beberapa perawat dan dokter itu keluar dari ruangan Luhan. Sepasang mata hitam dalamnya akan menangkap sosok tubuh lemah yang terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menancap pada arteri disebelah kirinya. Wajah cantik dengan hidung bangir itu tampak lelah dan pucat, kelopaknya juga terpejam dengan nyaman, bibir kecil dengan warna merah merona itu bahkan tak seperti tadi pagi. Tampak pasi dengan lapisan yang mengering. Luhan telah selesai menjalani kemoterapi yang dilakukannya hari ini. Wanita itu telah bekerja keras.

Kursi yang semula terletak sedikit jauh dari ranjang putih itu ia tarik, Sehun mendudukan dirinya tepat disebelah tubuh Luhan yang lemah. Lengan dengan jemari panjang miliknya ia bawa untuk mengelus perut Luhan yang tampak membesar, Sehun tersenyum ketika melakukannya beberapa pergerakan halus ia rasakan. Calon buah hatinya merespon usapan yang ia berikan. HItungan bulan atau bahkan hari mungkin, hidupnya akan berubah ketika si kecil itu melihat dunia. Benar, Sehun tak sabar untuk menjadi seorang Ayah.

Senyumnya kembali muncul pada bibir tipisnya ketika membayangkan jika memiliki seorang anak perempuan yang menggemaskan. Dokter kandungan telah memberi tahu mereka jenis kelamin bayi yang Luhan kandung. Seorang bayi perempuan dalam keadaan sehat . Ya perempuan, bisa jadi anaknya akan benar-benar mirip dengan Luhan atau dirinya.

Sejauh ini, Sehun selalu tersenyum tentang calon buah hatinya yang mampu bertahan bersama sang ibu. Sebelumnya, beberapa perasaan dan pikiran mereka selalu tertuju pada kondisi buah hatinya. Bukan hanya Luhan yang merasa khawatir tentang kesehatan bayinya, lelaki itu juga merasakan hal yang sama. Bahkan diawal Luhan didiagnosis, dokter kandungan menyarankan wanita itu untuk menggugurkan bayinya karena kondisi tubuh Luhan yang tak memungkinkan. Tapi, Sehun patut berbangga dengan keputusan istrinya. Wanita itu memilih mempertahankan buah hati mereka. Walaupun mereka tahu, keputusan mereka dapat membunuh calon buah hati mereka sendiri. Nyatanya, Tuhan berkehendak lain dengan menguatkan buah hati mereka yang tumbuh dalam diri Luhan.

Lengan putih dengan jemari lentik itu Sehun genggam, berharap kehangatan yang ia berikan dapat dirasakan oleh Luhan. Tatapan Sehun tak pernah terlepas dari wajah cantik istrinya yang bahkan kini tampak pucat. Wajah tampan miliknya kembali dihiasi senyum ketika membayangkan bagaimana rupa calon buah hatinya. Apakah tampak seperti Luhan atau malah tampak seperti dirinya ? tatapannya menelusuri permukaan wajah Luhan, benar-benar indah dengan kulit putih yang mulus. Masih dalam bayangannya, jika mungkin putrinya kelak akan mirip seperti ibunya. Sehun terkekeh menyadari jika ia akan mempunyai dua Luhan.

Jemarinya ia ulurkan merapikan rambut yang menutupi kening wanita itu, beberapa bulir keringat nampak disana. Sehun mengambil tissue dan mengusapkannya perlahan mencoba tak menganggu istirahat sang istri.

Lelaki itu kembali terdiam, terlarut dalam pikirannya sendiri. Seandainya jika Luhan tak keras kepala seperti ini, mungkin Sehun telah membawa Luhan menjalani pengobatan di Amerika. Sehun telah berniat membawa Luhan kesana jika saja wanita itu tak meminta untuk tetap di Korea. Tapi Sehun sangat menyayangi Luhan dan lebih menuruti segala keinginan wanita itu, termasuk menjalani pengobatan di dalam negeri. Yang tak dapat Luhan hindari hanyalah syarat Sehun tentang perawatan Luhan yang harus ditangani oleh dokter-dokter terbaik di Korea. Bukan apa-apa, hanyalah karena kondisi wanita itu berbadan dua yang harus membutuhkan penanganan ekstra ditambah harapan Sehun agar wanita itu cepat pulih.

Pergerakan perlahan dari tangan Luhan dapat lelaki itu rasakan, sudah hampir tiga jam Luhan tertidur dalam pengaruh obat. Kelopak yang dipadu bulu mata lentik itu bergerak samar. Mencoba terbuka ketika tubuh Luhan masih terasa lemah. Luhan sedikit mengerutkan kening ketika merasa berat pada kepalanya.

"Sehun.." Suara lembut milik Luhan terdengar lirih, tenggorokannya terasa kering dengan suara yang tercekat. Kelopak itu akhirnya terbuka, berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk pada retinanya. Kepalankecilnya bergerak dan terarah kesamping ketika menemukan apa yang wanita itu cari. Sosok Sehun-nya.

"Ya Luhan, kau mengiginkan sesuatu ?" Lelaki itu bergerak cepat ketika melihat sang wanita tersadar. Luhan masih menatapnya dalam diam, entah kenapa efek obat kemoterapi itu membuatnya berpikir menjadi lebih lambat, hingga respon yang dikeluarkannya ikut melambat pula. Akhirnya, yang lelaki itu dapatkan adalah gelengan samar dengan jemari Luhan yang mengerat dalam genggamannya. Wanita itu hanya butuh dirinya disampingnya.

Kelopak indah itu hanya menatap Sehun dalam, sorotnya tak bisa Sehun baca kali ini. Hanya saja, yang lelaki itu sadari ada perubahan raut pada wajah cantik yang selalu ia kagumi. Raut itu menjadi sendu sekarang dengan gurat-gurat tipis penuh kekhawatiran yang tampak jelas disana.

"Ada apa ? Kau bermimpi buruk ?" Tanyanya dengan suara berat yang lembut. Benar-benar nyaman pada telinga Luhan. Luhan mengangguk pelan sebagai jawabannya, air mata kembali mengalir dari kedua pelupuknya. Apa yang dirasakan Luhan ? ia ketakutan sekarang.

"Sehun.. bagaimana jika aku pergi ?" Tatapan itu menerawang, menerobos jauh kedalam bola mata milik Sehun. Mencoba mencari sendiri jawaban yang akan diberikan oleh Lelakinya.

Luhan merasakan semuanya sekarang, suatu saat cepat atau lambat sebuah garis takdir yang bernama kematian akan memisahkan mereka. Selama ini, ia telah mencoba kuat dan baik-baik saja ketika semua perasaan menakutkan itu menghampiri hatinya. Tapi, entah kenapa saat ini perasaan itu semakin menjadi-jadi.

Mimpi buruknya telah kembali dengan membawanya jatuh kedalam kegelapan tanpa cahaya. Yang ia takutkan adalah sebuah kesendirian diselimuti dengan kesunyian yang akan mengelilinginya kelak. Tapi, bisakah wanita itu memilih jika ia tak ingin pergi ? bisakah ia melewati garis takdir ? entahlah, Luhan hanya berharap semua akan menjadi lebih baik ketika dirinya pergi dalam keadaan damai.

"Kau tak akan pergi kemanapun." Sehun menjawab dengan genggaman yang semakin erat. Luhan merasa ada desiran rasa takut yang coba lelaki itu tutupi.

Bagaimana wanita itu menghibur lelakinya jika ia sendiri merasakan hal yang sama ? Luhan juga terlalu takut untuk menyambut hari esok atau selanjutnya. Wanita itu terlalu takut jika kegelapanlah yang akan menyapa ketika terbangun dari tidurnya.

Tak ada jawaban yang berarti, Luhan hanya terdiam dengan bibir yang membungkam. Kemudian, sebuah kecupan kembali ia rasakan pada seluruh wajahnya. Luhan tahu, Sehun terlalu menyayanginya. Lelaki itu mencintainya pada setiap hembusan nafas milik lelaki itu. dan Luhan juga mencintainya pada setiap degup jantung miliknya.

.

.

.

.

Pagi hari yang mungkin tak secerah kemarin, dengan sinar-sinar yang tak terlalu menyilaukan. Bahkan, sang dewa yang senantiasa menyinari kehidupan para manusia itu lebih memilih bersembunyi dibalik gumpalan berwarna abu-abu. Hari tampak sendu sekarang, mungkin sebentar lagi akan turun air yang siap membasahi kota ini.

Berkali-kali wanita dengan surai coklat gelap itu menghembuskan nafasnya, masih menatap langit yang terlihat menyedihkan hari ini. Tangan kurusnya ia bawa untuk mengelus perutnya, sebentar lagi dalam hitungan hari malaikat itu akan melihat dunia.

Beberapa perasaaan berkecambuk didalam hati Luhan. Membayangkan jika hal buruk akan menghampiri hidupnya setelah ini. Biarkan semua orang mengatakan dirinya pesimis, memang ia telah menyerah dengan kehidupan bahagia miliknya bersama Sehun.

Dulu, wanita itu selalu membayangkan jika harinya akan berubah dengan hadirnya lelaki itu didalam kehidupannya. Mungkin, yang semula berwarna abu-abu akan menjadi lebih berwarna ketika lelaki dengan paras tampan itu tersenyum.

Bagaikan air ditengah padang, menyegarkan.

Luhan bersyukur ketika hidupnya selalu dikelilingi oleh semua orang yang menyayanginya. Wanita itu terlahir sebagai putri semata wayang didalam keluarga kecilnya. Ayahnya adalah seorang pekerja keras dan Ibunya adalah seorang yang lemah lembut dengan penuh kasih disetiap sentuhan yang diberikan untuknya.

Ibunya merupakan sosok yang benar-benar Luhan kagumi ketika ia beranjak remaja, senyum milik ibunya bahkan dapat mengalahkan hangatnya selimut miliknya ditengah musim dingin. Sorot milik ibunya dapat meneduhkan hatinya. Satu yang tak pernah Luhan ketahui hingga wanita itu pergi meninggalkan dirinya. Meninggalkan dirinya yang akan melanjutkan hidup bersama ayahnya. Penyesalan selalu datang terlambat ketika ibunya memilih menyerah, Luhan tak pernah tahu jika malaikat miliknya itu tengah berjuang melawan penyakit yang kini diderita olehnya.

Mungkin, dulu ayahnya menjadi satu-satunya lelaki yang paling tampan didalam hidupnya, tapi kini seluruh hatinya dimiliki oleh Sehun. Seorang lelaki yang merebut gelar tersebut. Luhan selalu tersenyum ketika mengingat bagaimana pertengkaran kecil yang dilakukan Sehun bersama dengan Lelaki paruh baya dengan rambut yang setengah memutih, mereka berdua selalu beradu argumen tentang siapa yang akan menang di pertandingan final sepakbola piala dunia.

Luhan selalu merasa beruntung menjadi seorang wanita yang dipilih oleh Oh Sehun. Seorang pebisnis muda dengan perusahaan yang beranak cabang, lelaki berwajah dingin dengan sikap tegas. Tapi selalu memiliki kehangatan yang selalu ditunjukkan lelaki itu dibalik pintu rumah mereka.

Banyak hal yang telah dilalui Luhan selama ini, bahagia dan kesedihan telah ia rasakan. Bahagia karena melihat ayahnya selalu tersenyum bangga pada putri semata wayangnya, bahagia karena melihat Sehun tersenyum, Bahagia ketika menemukan sorot hangat dalam binar lelaki dingin itu, dan Bahagia karena semua orang berada disampingnya ketika ia merasa telah berada pada titik terlemah.

Dan kesedihan karena sebentar lagi ia merasa akan ada sebuah perpisahan.

Perpisahan dengannya bersama semua orang yang menyayanginya.

Wanita itu menyadari, beberapa bulan terakhir ini dirinya telah banyak menangis. Menghabiskan waktu disudut ruangan, memandang langit dengan tatapan kosong. Luhan tahu, siapapun pasti akan mengira dirinya tak normal. Seorang wanita berusia dua puluhan, sedang mengandung hampir sembilan bulan dan terdiam diatas kursi roda. Ia merasa bahwa dirinya bukan seorang istri yang pantas untuk suaminya. Luhan menjadi tak berguna sekarang.

Jemarinya ia untuk menyisir lembut surai panjang itu, beberapa anak rambut tampak pada telapak tangannya. Rambut itu akan terus berkurang, seperti usianya yang juga akan terus berkurang.

Sebuah derit halus dari pintu membawa kepalanya menoleh, wanita itu tersenyum ketika mendapati seorang yang ia kenal berdiri dihadapannya. Seorang wanita lain dengan rambut hitam gelap dengan dress berwarna maroon yang membuat sosok itu tampak lebih cantik dari hari biasa.

"Kau sudah makan ?" Tanya sosok itu dengan membawa paper bag untuk ia letakkan pada konter dapur.

"Sudah.." Luhan hanya menjawab lembut dengan senyuman yang selalu ia tampakkan, mengamati wanita mungil itu yang sedang memasukkan beberapa bahan makanan kedalam kulkas yang terletak pada sudut dapur. Bahkan, untuk keperluan bulananpun harus orang lain yang melakukannya. Bukan dirinya.

Ruang tengah dimana Luhan berada memang tak memiliki penghalang dengan dapur, sehingga ia bisa melihat apa saja yang membuat tamunya itu nampak sibuk dengan beberapa pekikan kecil.

"Kau baik-baik saja ? kau membutuhkan apa ?" Wanita itu berjalan kearah Luhan sembari membawa sepiring berisi penuh dengan potongan buah segar.

"Aku baik-baik saja, berhenti memperlakukanku seperti wanita lumpuh, Baekhyun." Bibir merah Luhan mengerucut sebal ketika Baekhyun atau siapa saja seolah memperlakukannya seperti wanita lumpuh. Sungguh, bahkan Luhan masih bisa berdiri dengan satu kaki sekarang. Baekhyun membawa satu potongan buah itu pada Luhan, dan membuatnya terkekeh ketika wanita yang pura-pura kesal itu menerima begitu saja suapan yang ia berikan.

"Jangan memikirkan apapun, fokuslah pada kesehatanmu." Baekhyun membawa dirinya untuk duduk pada salah satu sofa single yang berhadapan dengan Luhan. Dirinya tahu Luhan telah memikirkan hal yang tak penting sekarang.

"Baekhyun.."

"Hmm.."

"Boleh aku mengeluh padamu ?" Luhan menatapnya kemudian, suara milik Luhan lirih dalam indera pendengaran miliknya.

"Ya, katakan semuanya padaku." Baekhyun membawa tubuhnya untuk menjadi lebih dekat dengan Luhan. Membawa sebelah lengan yang tampak kurus itu kedalam genggamannya. Luhan butuh teman sekarang, wanita itu merasakan sakit terlalu banyak dalam hidupnya.

"Aku menjadi seorang istri yang tak berguna sekarang, aku lelah dengan semua ini. Dapatkah aku pergi lebih cepat ? Sehun merasakan sakit denganku. Lelaki itu tak dapat bahagia jika bersamaku." Suara lembut milik Luhan terdengar tercekat disusul dengan sebuah isakan. Bahu sempit itu tampak bergetar ketika kepalanya ia bawa untuk menunduk.

"Tidak, kau adalah seorang istri yang sempurna untuk Sehun. Kau dapat membuat hidupnya bahagia, lelaki itu menyayangimu dengan seluruh hidupnya bagaimana mungkin kau dengan egois akan meninggalkan dirinya ?" Baekhyun ikut menangis ketika menjawab semua kalimat yang dikatakan oleh Luhan, Baekhyun tahu wanita itu merasa putus asa dengan penyakit yang telah menguasai tubuh kecil itu.

Mungkin dari sekian banyak orang yang berada disisi Luhan, Baekhyun menjadi salah seorang yang ikut merasakan sakit. Baginya, apapun yang dilakukan wanita itu semuanya akan terlalu berakhir bahagia. Atau semua ini adalah balasan dari Tuhan ? bukankah Luhan adalah sumber kebahagian untuk orang disekitarnya ? tapi kenapa hidup wanita itu malah menjadi seperti ini ? Baekhyun merasa Tuhan tak lagi adil pada hidup bahagia sahabat terbaiknya, bisakah ia menyalahkan Tuhan saat ini ?

Baekhyun mengenal wanita itu ketika semester ketiga perkulihannya dimulai. Wanita dengan senyum dan pipi yang selalu merona itu menawarkan bantuan pada dirinya ketika ia tak bisa mengerjakan tugas essay yang diberikan oleh seorang Dosen pengajar.

Saat itu, mungkin bukan hanya para lelaki kampusnya yang mengatakan jika Luhan itu benar-benar tampak seperti jelmaan seorang Dewi. Baekhyun yang seorang mahasiswi pun setuju mengatakan hal demikian. Wanita itu selalu teresenyum kepada siapapun, suaranya yang lembut, sepasang mata yang selalu berbinar indah di wajah cantiknya, tubuh mungil yang lincah dengan hati yang selembut kapas itu berhasil menarik seluruh perhatian orang disekeliling Luhan.

Baekhyun pernah berpikir dengan kepala kecilnya, apakah Luhan adalah seorang malaikat yang diperintah Tuhan untuk menebar kebahagian ? ataukan wanita itu adalah reinkarnasi dari seorang Dewi ? Luhan benar-benar sempurna.

Dan sekarang Baekhyun mengerti, Luhan hanyalah sesosok manusia biasa sepertinya. Seorang wanita yang menginginkan sebuah kasih sayang dari orang-orang tercintanya.

.

.

.

.

Tulip, Luhan terlalu menyukai bunga itu. Entah sejak kapan, yang jelas wanita itu selalu berbinar dan bahagia ketika rumahnya dipenuhi dengan rangkaian Tulip berwarna putih atau merah. baginya, Tulip-tulip itu dapat menggambarkan semua perasaan yang ada didalam hatinya. Perasaan yang tak mungkin untuk diungkapkan. Hanya dirinyalah yang tahu.

Setangkai Tulip itu selalu berada digenggamannya sepanjang hari ini, ia terlalu merasakan sebuah kedamaian bersama bunga-bunga yang telah mencuri perhatiannya selama ini. Genggamannya mengerat ketika sedikit merasakan sakit pada kepalanya. Bunga itu, Baekhyun yang memberikan padanya beberapa saat yang lalu sebelum wanita dengan rambut hitam gelapnya itu pergi dengan beberapa kalimat khawatir yang mampu membuat Luhan terkekeh.

Tulip itu selalu ia pandangi dengan perasaan yang bergemuruh. Pikirnya saat ini, bunga itu dapat layu dengan sendirinya. Lantas bagaimana dengan lelakinya ? apakah perasaan lelaki itu juga akan layu bersama bunga yang ada di genggamannya ?

"Kau belum tidur ?"

Lelaki itu, Sehun telah berada dirumah.

Luhan tersenyum menyambut suaminya yang masih dalam setelan kerja mahal milik lelaki itu. Wanita itu berusaha bangkit dari atas tempat tidurnya yang kemudian dibantu oleh Sehun yang kini sedang duduk disampingnya.

Luhan membawa jemarinya untuk melepaskan simpul rumit yang berada pada leher Sehun. Kemudian membawa jas milik lelaki itu dan melipatnya dalam diam. Mereka terlalu larut dalam pikiran masing-masing.

"Apa ia baik-baik saja ?" Sehun membawa jemari panjangnya untuk mengusap perut besar Luhan, lelaki itu membawa kecupan hangatnya disana. membuat Luhan terkekeh kemudian.

"Ya dia baik-baik saja, Ayah." Luhan menatap Sehun, dengan cepat wanita itu mengecup bibir lelakinya yang cukup membuat Sehun terkejut.

Ya, selama ini dia seseorang yang mampu bertahan denganku setelah dirimu. Ia baik-baik saja dengan rasa bertahan yang luar biasa hebat. Yang bahkan aku sendiri ingin menyerah dan larut dalam kedamaian –Luhan.

"Sehun.." Luhan kemudian membawa tubuhnya merapat pada Sehun. Menyandarkan kepala kecilnya pada bahu tegap lelaki itu. tidak ada jawaban, hanya sebuah pergerakan dari lengan Sehun yang merangkul pundak sempitnya. Semakin menenggelamkan Luhan kedalam rasa nyaman yang lelaki itu ciptakan.

"Aku mempunyai beberapa permintaan, bisakah kau mengabulkannya untukku ?" Tanya Luhan dengan genggamannya yang mengerat pada jemari milik Sehun yang kosong.

"Apapun akan aku berikan untukmu." Hidung lancip itu Sehun benamkan kedalam surai coklat milik Luhan yang mulai menipis karena efek kemoterapi yang dilakukan oleh wanita itu.

"Bisakah kau mengubah kamar kosong disebelah menjadi kamar untuk bayi kita ?" Wanita itu mulai menerawang tentang semua permintaanya.

"Akan kulakukan." Sehun tersenyum ketika mendengar Luhan menjadi banyak bicara sekarang, lelaki itu sadar jika akhir-akhir ini wanita itu lebih sering terdiam dengan gelengan dan senyuman jika seorang mengkhawatirkannya.

"Lalu, aku ingin anak kita bernama Raina. Oh Raina." Kali ini kalimat Luhan membuat Sehun mengerutkan keningnya.

"Raina, yang berarti seorang putri. Ia akan menjadi satu-satunya putri didalam hidup kita." Luhan membawa tubuhnya untuk terlepas dari pelukan Sehun. Wanita itu menatap lelakinya dengan binar yang membuat Sehun berdesir.

"Dan terakhir, aku mencintaimu. Kau bisa merawat Tulip-tulipku kan ? jangan sampai mereka menjadi layu. Karena cintaku padamu tak akan layu dengan mudah. Hiduplah bahagia." Katanya sembari mengecup bibir Sehun dengan lembut. Sehun masih tak mengerti tentang permintaan Luhan yang terakhir. Sehun mengerti wanita itu sangat menyukai Tulip, tapi tolong jagan mengatakan hal demikian seolah ia akan pergi meninggalkan Sehun. Bukan apa-apa tapi sungguh, Sehun telah merasa bahagia dengan adanya Luhan disisinya. Lelaki itu tak munafik untuk mengatakan hal tersebut. Tapi Luhan dapat mengubah hampir seluruh hidupnya. Seketika apa yang dirasakan oleh Sehun adalah sebuah ketakutan yang mampu menggetarkan hatinya.

Telah Sehun katakan berulang kali, walaupun Luhan tak dapat menarik perhatian di detik pertama pertemuan mereka, tapi Sehun mengaku Luhan telah merampas seluruh hidupnya pada detik selanjutnya ketika mereka bertatapan.

Sehun mungkin merasa jika ia adalah pemenang dari seluruh hati yang Luhan berikan untukknya. Dan itu memang benar, karena wanita itu juga mengatakan jika ia telah mencintai Sehun. Untuk pertama kalinya disepanjang hidup miliknya, Sehun merasa nafasnya tercekat ketika wanita dengan senyuman menawan itu menatap dirinya dari balik meja kerja diseberang.

Untuk pertama kalinya pula, Sehun merasakan seluruh aliran darah yang berada pada tubuhnya terasa mendidih ketika ia berdiri disamping wanita itu. dan lelaki itu tak tahu pasti sejak kapan ia menjadi bahagia ketika Luhan hanya menyapa dirinya dipagi hari sebelum jam kerja dimulai.

Yang Sehun tahu, ia telah jatuh hati dengan wanita cantik yang duduk di balik meja kerja didepan sana.

Yang Sehun tahu, wanita itu telah memutar balikkan poros hidupnya.

Yang Sehun tahu, Luhan telah mengubahnya menjadi sebongkah es yang mencair ditengah terik matahari.

.

.

.

.

Hari berganti terasa lebih cepat. Seolah tak memberikan jeda nafas untuk seorang Luhan. Dan wanita itu tahu jika garis takdirnya datang semakin dekat ketika ia merasakan sebuah kontraksi hebat yang melilit perutnya di malam hari. Baru saja beberapa menit yang lalu ia berusaha menggapai mimpi indahnya. Dengan susah payah dan nafas yang tersengal Luhan berusaha membangunkan Sehun yang tampak tertidur dengan gurat kelelahan yang menghiasi wajah tampan lelakinya.

Jemari kurus milinya ia bawa pada Sehun dan menggengamnya erat ketika merasakan kontraksi yang semakin menjadi dibawah sana. Sehun yang merasa terusik membuka sepasang mata tajamnya itu dengan perlahan, mencoba menyesuaikan jumlah cahaya yang ditangkap oleh retinanya.

Lelaki itu terkejut ketika melihat Luhan yang telah berkeringat dengan raut wajah yang menahan sakit ditambah genggaman jari ramping milik istrinya yang semakin mengerat pada lengannya. Tubuhnya kembali menengang ketika melihat cairan yang telah keluar dari sela kaki Luhan, menandakan calon buah hatinya akan terlahir didunia.

Sehun tak bodoh, lelaki itu tahu jika istrinya tengah mengalami kontraksi hebat. Dengan cekatan, lelaki itu menyambar kunci mobilnya, membawa Luhan pada gendongannya dan secepat mungkin mengendarai kendaraan roda empat miliknya membelah jalanan Seoul ditengah malam menuju Rumah Sakit. Yang ada dipikiran Sehun sekarang adalah hanyalah sebuah keselamatan untuk dua orang yang berharga dihidupnya.

Beberapa perawat langsung membawa Luhan kedalam ruang operasi. Sehun hanya terduduk di depan ruangan dengan lampu merah yang menyala diatas pintunya. Tanda operasi sedang dilakukan. Ia terus menghapalkan segala doa yang ia panjatkan di Gereja, berharap benar-benar tak ada hal buruh setelah rungan itu terbuka nanti.

Beberapa orang dikenalnya datang satu persatu dengan raut yang sulit ditebak, Ayahnya, Ibunya, Ayah Luhan, Chanyeol beserta Baekhyun dan Jongin yang juga datang bersama Kyungsoo. Mereka hanya saling melempar tatapan, menggenggam tangan satu sama lain dengan erat. Bahkan Ibunya hanya terdiam didalam pelukan sang Ayah. Sedangkan, ayah mertuanya saling menautkan kedua tangan keriput miliknya dengan bibir yang terus menggumamkan doa-doa.

Setiap detiknya Sehun merasa lebih berat. Berulang kali ia berdiri dan kembali membawa tubuhnya untuk duduk disamping Ayah Luhan. Lelaki tua itu mengerti dengan sesekali menepuk bahu Sehun, mencoba menguatkan menantu satu-satunya itu. beberapa kali pula, Sehun mengusap wajahnya dengan kasar mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Semua pandangan teralih ketika mendengar sebuah derit pintu ruang operasi yang terbuka, dibaliknya muncul seorang Dokter muda yang dikenal Sehun –Junmyeon- Lelaki yang selalu menangani segala perkembangan Luhan dan buah hatinya. Junmyeon hanya terdiam dan menatap Sehun, Sehun yang mengerti ia mendekat. Kemudian yang didengarnya adalah sebuah permintaan dari Luhan yang dibawa oleh Junmyeon,menemani wanita itu di operasi kelahiran buah hatinya. Dan dengan senang hati Sehun melakukannya, menuruti apa keinginan wanita yang dicintainya.

.

.

.

.

Dulu, baginya rumah sakit tak akan menjadi semenakutkan ini. Entah apa yang berada didalam otak batunya, tapi suasana didalam ruang operasi dengan beberapa orang yang nampak sibuk itu benar-benar membuatnya ikut menahan nafas. Takut jika menghembuskannya akan melukai siapapun.

Sehun berjalan menuju ranjang operasi yang terletak pada tengah ruangan, disana ada Luhan dengan mata yang menatap dirinya. Wanita itu bahkan masih bisa tersenyum kearahnya ketika bagian bawahnya dirobek menggunakan pisau tajam. Bulir-bulir keringat Luhan membuat Sehun ingin membawanya kedalam pelukan terhangatnya, lelaki itu lemah jika melihat wanitanya seperti ini.

Sehun tahu apa yang seharusnya ia lakukan didalam sini, menggenggam erat tangan Luhan ketika wanita itu tengah memperjuangkan seluruh hidupnya. Tapi Sehun telah menjadi lemah disini, lelaki itu menangis ketika melihat wanitanya yang terus menggeram dan berteriak ketika rasa sakit yang dirasakan oleh Luhan.

Luhan, apapun yang dirasakan oleh wanita itu adalah sebuah sakit yang luar biasa dengan oksigen yang terasa membunuh rongga paru-parunya. Nafasnya tersengal ketika ia memaksa sesuatu untuk keluar dari dalam perutnya. Luhan menjadi mengerti bagaimana perjuangan ibunya ketika melahirkan dirinya, ia bersusah payah sekarang.

Luhan, yang wanita itu rasakan hanyalah rasa sakit yang luar biasa pada tubuh bagian bawahnya. Tubuhnya yang lain menjadi semakin lelah, bahkan kepalanya menjadi semakin berat sekarang. Genggamannya pada Sehun ia eratkan, wanita itu berpegangangan pada poros hidupnya. Seolah tak akan melepaskan lelaki itu sama sekali.

Dadanya naik turun ketika berupaya meraup segala udara yang berada disekitarnya, beberapa kali ia menatap lelaki yang berada disampingnya. Hatinya tiba-tiba merasa sakit ketika melihat lelaki itu menangis, Luhan menjadi semakin bersalah memintanya untuk datang menemaninya.

Rasa sakit itu kembali datang, seperti dirobek dengan paksa. Wanita itu kembali tersengal dengan geraman atau bahkan teriakan yang mungkin dapat membantunya untuk meringankan rasa sakit yang ia rasakan. Luhan masih terus berjuang dengan beberapa kecupan ringan yang diberikan Sehun padanya.

"Kau bisa sayang, jangan menyerah." Itu kata yang diucapkan Sehun tepat disamping telinganya ketika ia berhenti mendorong bayinya untuk keluar. Dengan berbekal kata itu, Luhan terus berusaha membuat sang malaikat hidupnya dapat melihat dunia. Beberapa kali wanita itu terisak karena merasakan lelah yang sangat menerpa tubuhnya. Luhan merasa tak sanggup sekarang.

Beberapa menit dengan tenaga yang tersisa dari Luhan, wanita itu merasa ada sesuatu yang berhasil keluar dari tubuhnya bersamaan pecahnya tangisan seorang bayi. Ia tersenyum ketika pertama kali mendengar suara tangisan yang memenuhi ruangan operasi. Ia telah melihat dunia.

Sehun membawa sang bayi yang tengah dilapisi kain putih itu padanya, dengan gerakan lemah Luhan menerimanya. Cantik, seorang bayi perempuan yang nampak mirip dengan dirinya dan kulit seputih milik Sehun.

Lelaki itu tersenyum ketika melihat dua malaikat hidupnya. Tapi apakah rasa kebahagian miliknya akan berlangsung lama ?

"Oh Raina." Itu adalah nama yang diberikan Luhan untuk buah hati mereka. Luhan menggumamkan nama cantik itu sembari mengusap lembut kedua pipi merah sang buah hatinya. wanita itu tersenyum ketika bayi itu berhenti menangis didalam dekapannya. Luhan bersyukur, buah hatinya terlahir dalam keadaan sehat, wanita itu terus tersenyum ketika seseorang yang mampu bertahan denganya selama ini akhirnya dapat melihat dunia. Pikir Luhan sekarang, setidaknya dengan adanya Raina hidup Sehun akan menjadi lebih baik. Raina akan menjadi penggantinya kelak. Raina yang akan menjadi teman hidup Sehun mulai sekarang. Karena Luhan percaya, segala bentuk cinta dan kasih sayang miliknya mengalir dalam diri Raina

Tapi yang tiba-tiba yang Luhan rasakan adalah tubuhnya yang melemah, dadanya yang terasa sesak dengan kepala yang terasa berat. Tubuhnya tak dapat lagi menahan rasa lelah yang menerpanya. Tubuhnya menyerah.

Luhan tahu ini adalah waktunya, perlahan dengan senyuman yang terpatri pada wajah cantiknya. Luhan membawa kecupannya pada sang buah hati, kening, kedua kelopak mata kecil yang masih terpejam, hidung, dan bibir kecil itu. Kemudian, wanita itu menatap Sehun. Sehun yang menyadari hanya menatap Luhan dengan senyuman yang dimilikinya, apa yang dilihat lelaki itu telah berbeda. Luhan menjadi redup dengan sinar yang biasa mengelilingi wanita itu, wanita itu tampak sendu dengan wajah yang benar-benar berubah. Tampak pucat dengan bibir yang hampir membiru.

Dengan perlahan, Luhan memberikan sang buah hati pada Sehun ketika rasa sakit menyerang rongga dadanya, membuat ia benar-benar kehilangan nafasnya. Sehun membawa Raina kedalam pelukannya ketika Luhan menatapnya dengan sebulir air mata yang jatuh pada mata indah itu.

"Sehun, aku lelah. Bisakah aku beristirahat ?" Luhan masih menatapnya dengan sorot lelah, gurat-gurat halus tampak pada wajah cantik yang selalu Sehun puja, nafas wanita itu sudah tak lagi beraturan. Tapi, Luhan masih tersenyum menatap Sehun. Sehun tahu dari suara lirih Luhan, wanita itu telah memustukan untuk menyerah. Luhan telah sampai pada titik puncaknya. Wanita itu telah berada pada akhir perjuangannya.

Garis takdirnya sudah dekat, sebentar lagi. Sehun tak bisa menahannya lebih lama, karena lelaki itu juga tak ingin melihat sang wanitanya tersiksa semakin dalam. Dengan paksaan, Luhan membawa lengannya pada wajah Sehun. Mengusap sebelah pipi tirus milik lelakinya. Sebelum pada akhirnya, tangan kurus itu jatuh terkulai. Membuat Sehun menahan gejolak yang siap meledak didalam hatinya.

Waktu benar-benar terasa berhenti untuk Sehun. Yang Sehun tahu, bulir air matanya ikut turun ketika melihat Luhan dengan perlahan menutup kedua kelopak matanya yang selalu penuh binar indah itu. Sehun membawa kepalanya mendekat, mencium kening Luhan dengan dalam, mengecup kelopak itu dan berakhir pada bibir ranum yang selalu ia kagumi. Dan Sehun tahu, sudah tak ada lagi nafas kehidupan pada wanitanya.

Selanjutnya, tak ada lagi yang Luhan rasakan. Hanya kegelapan yang membawanya jatuh kedalam kedamaian. Semua kenangan hidupnya dan kehangatan yang Sehun berikan akan selalu tersimpan didalam hatinya. Ini adalah waktunya, dimana wanita itu pergi meninggalkan semua orang yang ia cintai. Wanita itu pergi dengan sebuah senyuman, dengan sebuah cinta yang selalu bersemi didalam hati lelakinya. Tulip yang selalu tampak cantik dan berbinar itu kini perlahan mulai layu, ia telah mati bersama cahaya yang selalu berada disekitarnya.

"Beristirahatlah dengan damai sayang, aku mencintaimu."

Luhan telah selesai dengan perjuangannya, wanita itu telah memutuskan pergi dengan damai menuju keabadiannya.

.

.

.

.

Raina, ini ibu.

Jadilah seorang putri yang selalu bahagia.

Jadilah seorang putri yang selalu tersenyum.

Jadilah seorang teman untuk Ayahmu. Karena ibu tahu, lelaki itu merasa kesepian.

Raina,

Jangan menyusahkan Paman Chanyeol dan Jongin atau Bibi Baekhyun dan Kyungsoo.

Jangan pula merengek pada Kakek dan Nenek.

Jangan pernah menangis ditengah malam hanya karena Ayah membentakmu.

Percayalah, lelaki itu mencintaimu.

Raina,

Tumbuhlah menjadi seorang wanita lemah lembut dengan penuh cinta.

Karena kau tahu, kebahagiaan bersumber dari sebuah cinta.

Seperti dirimu karena kau adalah buah cinta kami.

Kau tak sendirian sayang, ada Ayah yang akan selalu berada disampingmu.

Dan Ibu,

Yang selalu tersenyum melihatmu. Ibu mencintaimu

Oh Luhan

.

.

.

.

END

Ikutan latah; INI UDAH ANGST BELOM SIH ?

Jujur Yuri ga ngerti ini Angst ato engga, karena emang kalo nulis yang sedih-sedih itu ikutan nangis /Author Baperan emang -.-/

Dan menurut Yuri semua tentang HunHan itu sedih, udah LDR, ga cepet konfirm mana ini para author bikin project begini. Kan tambah sedih T_T

Sebenernya Yuri juga gatega ngebuat Luhan berakhir kek gini.

Yodah deh ya, kalo emang ga Angst anggep aja Angst. Karena emang projectnya kudu Angst. Gapapalah sekali-kali Yuri maksa :*

OIYA, HABEDEE BUNDA LULUKU UNCH UNCH UKENYA OH SEHUN DEDEQ GEMESHNYA OOM SEHUN !

Makin Cans,Unyu,Bening, makin rapet(?) itu sosialitanya dikurang-kurangin kasian daddy kan T_T tapi gapapa daddy duitnya juga banyak. Makin enaable ya bun, pas enaena sama daddy /kecup-kecup/

Oke abaikan.

Malem ini Yuri Akhirnya bisa update barengan Author-Sunbaenim yang udah unch unch didunia perfanfictionan; Summerlight92, Baby Aery HHS, HHS Hyuuga L, Fujo Aoi

Akhirnya ya ampun bisa barengan juga T_T

Jangan Lupa Review ya ! tolong budayakan review :*

See You~

-Keep the faith-SL-