Meitantei Conan Chugakko

Aoyama Gosho

K. Shinichi/E. Conan x M. Shiho/H. Ai

Rate: T - M

Genre: Misteri, School life, romance

Summary: Conan dan Haibara memasuki masa SMPnya, tapi sayangnya organisasi tersebut masih menghilang, ditambah Haibara mulai tumbuh rasa cinta terhadap Conan, sedangkan Conan sendiri memulai debutnya sebagai detektif SMP.

NOte: SElamat Hari Pahlawan bagi semua bangsa Indonesia (10 November)


Keluarga Kudo pun menjalankan rencana dengan bantuan Agasa mereka berencana melenyapkan orang tua Conan dan Ai yang memang kedua orang tuanya hanyalah fiktif, orang tua Ai yang asli memang sudah tiada, sedangkan orang tua Conan adalah mereka yang melakukan rencana tersebut. Conan dan Ai pun menjalankan aktivitas seperti biasa.


Teitan Chugakko

"Hei Conan-kun kau mendapat e-mail dari inspektur Takagi?" Tanya Ayumi dan Conan hanya menggelengkan kepalanya

"Memangnya kenapa? Tanya Ai

"Kasus kemarin masa cepat sekali selesai, ku kira Conan-kun dan Ai-chan yang melakukannya." Ucap Ayumi

'Ya jelas saja selesai orang ayahku yang melakukannya.'

Sedangkan Ai yang melihat Conan hanya facepalm, langsung menjawab ucapan Ayumi. "Oh begitu, tapi kami tidak menyelidikinya sama sekali dan kami tidak dikirimin e-mail oleh inspektur Takagi." Jawab Ai

"Oh iya bagaimana jika nanti kalian masuk club yang kami buat." Ucap Mitsuhiko

"Club?" Tanya Conan dan Ai

"Kami akan mendirikan kembali grup detektif disekolah ini." Ucap Ayumi senang

"Maaf aku lewat, aku sudah bergabung dengan club sepak bola." Ucap Conan

"Heee... kenapa kau tidak beritahu kami?" Ucap Mitsuhiko terkejut

"Lagipula memang boleh masuk club sepak bola menggunakan kacamata?" Tanya Genta

"Nanti aku akan ganti dengan lensa kontak, dan kenapa aku harus melapor ke kalian setiap apa yang ingin ku lakukan." Jawab Conan

"Itu karena kita sahabat, jadi kami harus tahu apa yang sahabat kami lakukan."

"CUKUP TSUBURAYA-KUN SUDAH KUBILANG SEKARANG KALIAN BUKAN ANAK SD LAGI, DAN KAMI JUGA PUNYA PRIVASI BUAT DIRI KAMI SENDIRI" Bentak Ai

"Ta-tapi Ai-chan."

"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN AYUMI-CHAN. AYO CONAN-KUN."

"Hei-hei tunggu dulu Ai, kau mau membawa ku kemana." Ucap Conan yang tangannya terus ditarik oleh Ai. 'Dan kenapa belakangan ini dia cepat sekali emosi kepada mereka bertiga, padahal saat SD dia sangat cuek.'

.

.

.

Atap Sekolah

"Hei tunggu dulu Ai kenapa kau membawa ku kesini, sebentar lagi pelajaran akan dimulai." Ucap Conan

"Jadi sekarang kau tertarik dengan kehidupan SMP, ya Conan-kun."

'Ck sial.'

"Hihihi... tak kusangka orang yang saat SDnya bermalas-malasan dan selalu mengeluh bosan atau menyedihkan soal sekolahnya, sekarang malah tertarik."

"Kau sendiri kenapa selalu membantak mereka bertiga?"

"Siapa yang membentak, aku hanya menegur. Lagipula mereka sudah SMP mereka harus tahu mana yang privasi, mana yang bukan."

"Hhh... lalu kau sendiri mau masuk club mana?" Tanya Conan

"Belum kuputuskan."

"Hee... rupanya kalian sudah jadian ya." Ucap suara yang membuat Conan langsung melindungi Ai

"Sakumo-san." Ucap Conan

"Yo.." Jawab Sakumo

"Kau kenal?" Tanya Ai

"Arcadia Sakumo, salam kenal dan kita teman sekelas."

"O-oh maaf Haibara Ai." Jawab Ai

"Lalu apa kau juga membolos Arcadia-san."

"Panggil saja Sakumo, kita kan teman sekelas Haibara-san."

"Ba-baiklah Sakumo-san." Jawab Ai. 'Kenapa aku jadi gugup begini.' Tambah Batinnya

Sedangkan Conan yang melihat interaksi kedua entah kenapa dirinya merasa cemburu, Sakumo yang melihat reaksi Conan hanya tersenyum kecil. "Baiklah sepertinya aku menganggu, oh iya Edogawa-san jangan lupa nanti sore club akan dimulai." Ucap Sakumo dan Conan hanya mengangguk

"Heee,,,, aku tidak tahu kau bisa gugup juga seperti seorang gadis yang baru saja jatuh cinta."

"Memangnya kenapa?" Balas Ai datar

"Ah tidak apa-apa, hanya aneh saja." Jawab Conan sambil tiduran diatap sekolah

"Jadi kau membolos juga."

"Siapa yang menarik kesini duluan."

"Lalu apa kau akan kembali ke kelas sekarang."

"Mau gimana lagi. lagipula aku maish menunggu e-mail dari ibu."

"Oh soal rencana kemarin."

"Oh iya Ai bagaimana jika kau jadi manager saja di club sepak bola."

"Hah?"

"Kan kau belum menentukan mau masuk mana, ayolah." Bujuk Conan

"Ah baiklah aku jadi manager tim sepak bola, tapi aku disana selain jadi manager aku yang menentukan makanan yang kalian boleh makan dan tidak, bagaimana?"

"Oke deal, nanti aku akan bilang kepada Sakumo-san." Jawab Conan.


AI POV

Aku sekarang merupakan salah satu manager dan juga sebagai dokter club tersebut, ini semua saat Conan-kun menyerahkan formulir yang ku isi kepada Sakumo-san, dia pun menerimanya dan langsung menuju club sepak bola. Tapi aku baru bahwa dirinya bisa tersenyum polos seperti anak kecil saat bermain sepak bola dan melihat hal membuat diriku ingin tersenyum juga.

"Haibara-san, apa benar kau berpacaran dengan Edogawa-san." Ucap Manager klub sepak bola bernama Sugihara Masaki

"A...ti-tidak kok." Jawab Ku

"Hoo... begitu berarti aku masih ada kesempatan."

"Hee... jadi senpai menyukai Conan-kun."

"Bisa dibilang begitu, dia pintar, hebat dalam sepak bola ditambah dirinya sepertinya sangat dipercaya oleh pihak kepolisian."

"Hhhh... lebih baik jangan senpai, dia tidak lebih dari murder magnet, dimana ada dia. Pasti akan kasus."

"Hoo... begitu, tapi kau tidak cemburukan."

"Ce-cemburu, apa maksud senpai, kami berpacaran saja tidak."

"Tapi, kau menyukainya. Iyakan, jujur saja." Ucap Sugihara-senpai dan aku hanya mengangguk pelan. "Walau begitu, Edogawa-san sepertinya tidak menyadarinya." Tambahnya

"Dia itu memang tidak peka dalam urusan perasaan wanita senpai."

Setelah aku berkata seperti itu, ponsel Conan-kun yang dititipkan kepada ku berbunyi. "Halo."

"Halo oh Ai-chan, dimana Shin-chan, eh maksudnya Co-chan." Ucap suara yang ku kenal sebagai ibu

"Dia sedang bermain sepak bola bersama-sama teman satu Klubnya."

"Hoo begitu, baiklah bilang kepadanya bahwa rencananya sukses, kemungkinan besok pagi beritanya akan tersiar."

"Emm.. baiklah akan aku sampai kepada Conan-kun ibu."

"Ok dah Ai-chan." Ucap ibu yang lalu menutup sambungannya

"Tadi itu ibu mu Haibara-san?" Tanya Sugihara-senpai

"Bukan Senpai tadi ibunya Conan-kun." Jawabku

"Tapi kenapa kau juga memanggilnya ibu hee... aku jadi ragu dengan ucapanmu yang bilang kalian tidk berpacaran atau jangan-jangan kalian sudah dijodohkan ya." Ucapnya menggodaku

"Ti-tidak kok senpai i-itu karena keinginan ibunya Conan-kun."

.

.

.

Setelah kegiatan Klub, aku memberitahukan Conan perihal rencana keluarganya sukses. Hanya tinggal ke lokasi berikutnya, yaitu ke kantor kementrian sosial, Disaat kami sedang berada di depan sebuah toko, aku melihat tas merek fusae edisi terburu.

"Hei Ai-chan soal rencana berikutnya apa mereka mengajak kita atau tidak." Ucap Cionan-kun, tapi aku masih tetap melihat-lihat tas tersebut. Conan-kun yang menyadari tidak menjawab, mungkin merasa bingung. "Ai-chan." Ucapnya agak keras membuatku merasa terganggu.

"Apa?" Balasku

"Hei-hei aku hanya mau bertanya kenapa kau galak sekali."

"Itu keran kau menganggu ku."

"Hhh... baik-baik nanti akan ku minta ibu ku untuk membeli tas yang sedang kau lihat itu bahkan langsung dari orangnya." Jawab Conan-kun dan membuatku sedikit terkejut. Walau disatu sisi aku juga lupa bahwa siapa ibunya Conan-kun ini hanya dengan sekali ucap dia bisa langsung memilih tas dari merek terkenal di dunia.

"HH... baiklah ayo pulang." Baru saja aku berkata seperti itu

"Kkyyyaaa..."

'Ck, dasar." Batin ku kesal

"Ayo Ai." Teriak Conan-kun dan membuatku mau tidak mau harus mengikutinya

.

.

.

Tidak berselang Conan-kun memecahkan kasus tersebut, ngomong-ngomong soal kasus aku jadi kasihan dengan ketiga sahabat kami yang sepertinya pekerjaannya akan hilang, itu mungkin disebabkan Murder Magnetnya hilang, disaat aku merasa puas entah kenapa aku bisa merasakan bau 'mereka' aku pun segera menarik belakang seragam Conan-kun. Conan-kun yang sepertinya sudah terbiasa dengan tingkah ku yang berubah saat erasakan hawa atau bau 'mereka' Conan-kun langsung pamit kepada Inspektur Megure dan segera menarik tanganku untuk menjauh dari lokasi.

"Hei Ai, kau sudah tidak apa-apa." Ucap Conan-kun dan aku hanya mengangguk, entah hanya firasat ku nada yang diucapkan Conan-kun terdengar nada kecemasan.

Aku dan Conan-kun berjalan pulang sambil bergandengan tangan, untung saja Conan-kun tidak melihat wajahku sekarang, ah sialnya juga detak jantungku juga tidak mau berhenti lagi. Diamlah jantung bodoh.

"Hei Ai." panggilnya

"A-ah iya kenapa?"

"Nanti malam aku akan ke rumah Ran sebentar."

"Hee.. memang kenapa?"

"Aku tidak enak karena belum izin."

"Tapi orang tua mu kan sudah meminta izin." Ucapku dengan nada tidak suka. Oh ayolah walau bagaimana pun aku juga seorang perempuan, mana ada perempuan yang suka dimana laki-laki yang disukainya bicara soal perempuan lain saat bersamanya. "Baiklah asal kau tidak menginap." Tambahku

"Memangnya kenapa?"

"Oh ayolah Conan-kun, soal pengadopsian ini saja belum selesai kau sudah ingin lari atau jangan-jangan kau hanya kabur saja karena takut tidak bisa ketemu kekasihmu itu."

"Baik-baik aku tidak akan menginap." Jawabnya sedikit kesal dan aku hanya tersenyum dan setelah sampai depan rumahnya berdua berpisah, Conan-kun menuju kediaman Mouri, sedangkan aku masuk kerumahnya

"Aku pulang." Ucapku

"OH Ai-chan selamat datang." Ucap sosok 'ibu' dan langsung memelukku. "Dimana Co-chan?"

"Dia kerumah Ran-neechan."

"Hoo kalau begitu bagaimana kita makan malam ibu sudah buatkan makan malam untuk kita, tapi karena Co-chan tidak ada, nanti bagiannya kita bagi tiga saja ya."

"E-eh tidak usah, aku sudah bilang supaya tidak menginap."

"Hoo begitu, baiklah sekarang kita makan malam duluan saja."

Ini pertama kalinya aku makan dengan sosok 'ayah' dan 'ibu' , walau aku sering mkan bersama profesor Agasa dan grup detektif. Tapi, entah kenapa ada rasa yang berbeda. Eh kenapa penghilatanku jadi kabur.

"A-Ai-chan kamu kenapa? Kamu menangis." Ucap sosok 'Ibu memandangku cemas

Eh apa katanya aku menangis, kenapa aku memangis. Tapi dihatiku terasa sanagt senang dan hangat dengan suasana seperti ini, kemudian ibu menghampus air mataku dengan ibu jarinya. Mulai hari ini tidak ada sosok 'ibu' dan sosok 'ayah', mulai sekarang mereka adalah keluargaku. Mereka orang tua ku.


Conan POV

"Aku pulang." Ucapku saat aku masuk ke rumahku. Aku yang melihat rumahku dalam keadaan sepi dan gelap langasung merasa heran, apa mereka sudah pergi tidur. Tapi, tumben Ai sudah tidur biasanya dia begadang sampai tengah malam.

Aku segera menyalakan lampu ruang makan, rupanya makan malam bagianku masih ada. Aku yang melihat pesan di atas plastik yang menutupi makan malam ku langsung mengambil dan membacanya

Ai-chan meminta kami untuk tidak memakan makan malam bagianmu, bukankah itu manis atau mungkin dia benar-benar menyukaimu ah ibu tidak sabar menikahkan kalian.

Itulah sekiranya yang tertulis kertas pesan tersebut, aku hanya bisa tertawa canggung sesudah membaca pesan dari ibuku, sesudah itu aku segera memansakan makan malam ku. Sambil menunggu, aku memikirkan kembali ekspresi Ran saat aku meminta izin supaya tinggal kembali dengan keluargaku, tatapan Ran mengisyaratkan kesedihan yang mendalam, jujur saja aku tidak tega meninggalkannya setelah semuanya aku benar-benar merasa berdosa stelah diri asli ku meninggalkan dirinya sekarang akupun meninggalkannya lagi, setelah beberapa menit aku mendengar bunyi Oven, menandakan makan malam ku selesai dipanaskan.

"Kau sudah pulang Conan-kun." Ucap Ai melihatku sedang makan malam. Aku yang melihat Ai menatapnya bingung, setelah aku aku menalan makanan dimulutku baru aku berucap kepadanya

"Kau mamakai piyama beruang berkacamata." Ucapku, sepertinya Ai yang tadi baru setengah sadar, langsung sadar sepenuhnya dan wajahnya langsung memerah.

"Me-memang ada apa salah kalau aku mamakai piyama seperti in." Ucapnya sambil menolehkan wajahnya

"Ah tidak, aku hanya merasa bingung saja soalnya selama ini piyama yang kau pakai selalu polos." Ucapku yang segera membereskan makan malamku, Ai yang mendengarnya langsung menatapku dengan tatapan pembunuh, membuatku menelan salivaku.

"Terserahlah, yang penting sekarang au mandi dulu."

"Aku sudah mandi tadi dirumah Ran."

"Hoo.. begitu kalau begitu selamat tidur."

Eh kenapa dia jadi marah kepadaku, aku berkata hal yang salah. Aku kan cuma mengucapkan semuanya dengan jujur, kenapa dia jadi marah kepadaku, tidak lama setelah itu aku pun menyusulnya hanya saja jika masuk ke kamarnya, aku masuk ke kamarku. Yang aku bingung sejak kapan dirumahku jadi ada tiga kamar. Ah sudaahlah, lebih baik aku tidur dan membaca berita, kebetulan besok sekolah libur jadi sisa rencanany bisa dijalan kan besok.

To Be Continue


Shioreinz: uuu ceritanya seeruuu lanjuuuuuttttttttt

A: makasih