Chapter 3 : Who is He?
Bereavement
" Who is he? "
Author : Damien Cho
Genre : Crime, Mystery, Friendship, Fantasy
Rating : M
Cast : EXO Members ( Included Kris Wu )
Warning : NO NC, NO LIME, M untuk adegan pembunuhan, adegan sadis, dsb
DON'T LIKE,DON'T READ. TYPOS.
THIS STORY PURE OF MINE
NO PLAGIAT. APABILA ADA KESAMAAN, ITU MURNI KEBETULAN.
.
..
...
Enjoy The Story.
Chapter 3
Terdengar suara pintu diketuk, membuat orang-orang yang pada awalnya ingin makan malam kini berhenti. Xiumin adalah orang yang pertama bangkit dari kursi menuju pintu utama. Ketika pintu terbuka, muncullah seorang pria mungil dengan mata besar diiringi senyum ganjil. Tiba-tiba, Jongin langsung menerobos Xiumin dan tersenyum puas. "Apa kau DO Kyungsoo? Putra bungsu keluarga D.O yang terkenal dengan Losingnya?" Kyungsoo mengangguk. Jongin segera mempersilakan anak itu masuk dan meninggalkan Xiumin yang membeku di depan pintu utama.
Losing? Kemampuan yang setar dengan tingkat bangsawan? Sihir yang kata orang mampu menghilangkan kekuatan orang lain hanya dengan kata 'hilang'? Kekuatan yang mampu membuat lawan tak dapat mengeluarkan kemampuan mereka?
'Shit!' pekik Xiumin dalam hati. Losing bukanlah sihir yang bisa diremehkan. Meski membutuhkan jarak dan waktu yang cukup dekat dan singkat. Seseorang dalam pengaruh Losing akan menuruti apa perkataan pengendalinya. Jika si pengendali mengatakan 'Mati.' Jangan harap setelah itu nyawamu akan tetap ada.
Luhan POV
Suasana cukup tegang. Ketika seorang anak laki-laki yang kuketahui bernama Kyungsoo ikut bergabung bersama kami. Dia terus bercerita seolah kami senang dengan kehadirannya. Sampai akhirnya, Kris memutuskan pergi. Kami semua bubar, termasuk aku kala melihat Yixing beranjak. Aku membuka pintu kamar pelan dan melihatnya sedang membaca buku di atas kasur.
"Tak kusangka anak Losing itu akan bergabung. Iya kan... Luhan?" Aku menghentikan langkahku mendengarnya berbicara. Tapi aku hanya bisa diam. "Semakin sulit ditebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang." Aku membalikkan badan menatap Yixing dan bertanya balik. "Apa kita harus saling membunuh?" Dia berdecak kesal. Tanpa menjawab, Yixing meletakkan buku di nakas dan ikut berbaring disamping Xiumin.
Keesokan Hari.
Seluruh murid sudah berkumpul disini. Mereka berbaris sesuai kelompok yang dibagi. Aku mengikuti teman sekelompok menuju Death Vill. Jika kalian bertanya tempat apa itu, aku tidak bisa menjelaskannya. Yang kuketahui adalah setiap kelompok memiliki tempat Ujian mereka masing-masing. Kris memimpin paling depan dengan angkuhnya, disusul Suho yang acuh dengan hawa yang berubah drastis. Tanpa sadar, aku sempat menggigil dan merapatkan jubah yang kukenakan. Kyungsoo menarik tanganku pelan dan mensejajarkan langkah kami. "Jadi, kau Luhan ya?" Aku mengangguk, tak sedikit pun berniat mengeluarkan suara. Dia berdehem paham dan melepaskan tangannya dari tubuhku. Langkahnya berhenti. Otomatis aku pun berhenti. Kami melongok ke depan dan mendapati Kris yang berdiri di depan sebuah gerbang angker. Suho membuka gembok yang mengunci dengan sekali hunus menggunakan pedang airnya. Kami semua masuk kesana dan mengistirahatkan diri di salah satu rumah tak berpenghuni.
"Apa yang harus kita lakukan di tempat ini?" Tanya Jongin memandang Kris. Aku mendudukkan diri ke pojok menunggu mereka memutuskan pilihan. Kris memandang Jongin, lalu beralih kepadaku, dan kembali lagi ke Jongin. "Kita berpisah disini." Kai melebarkan matanya. Aku spontan berdiri dan merengsek maju ke hadapan Kris. "Apa maksudmu, Kris-ssi?" Balasku sarkastik. Kutatap langsung matanya dengan perasaan marah. Kris balas menatapku remeh dan mendorong kasar tubuhku hingga terpental ke belakang. Jongin segera mencengkram kerah jubah Kris dan menariknya kasar. Aku secepat mungkin menahan pergerakan lengannya dan menjauhkannya dari jangkauan Kris. Aku tidak mau orang yang sudah kuanggap sebagai adik jadi bahan amukan Kris. Jongin berusaha melepaskan tanganku dan masih berusaha menghajar Kris. Aku kewalahan. Tak adakah yang berniat melerai di saat seperti ini? Sepertinya tidak. Beberapa dari mereka menatap kami dengan pandangan kasihan dan senang. Baekhyun menggelengkan kepalanya sedih memberitahu tak bisa berbuat apa-apa kala aku menatapnya meminta bantuan.
"Asal kau tahu, Kim Jongin. Selama kau masih berteman dengan orang menjijikan seperti dia, jangan harap kau bisa ikut denganku." Ucap Kris datar. Jongin menggertakkan gigi menahan amarah. Perlahan, tubuhnya mulai tenang. Aku sedikit melonggarkan cengkraman agar Jongin tak kesakitan.
"Baiklah jika itu keinginanmu. Pergi saja dengan segala kebanggaanmu itu. Aku, Sehun, Luhan, Chen, Baekhyun dan Chanyeol tetap disini." Tegasnya. Kris mengeluarkan smirk angkuhnya.
"Aku tidak mau." Sela Sehun cepat. Kami semua menatap Sehun. Termasuk Jongin dengan pandangan 'terluka dan tidak mengerti' miliknya.
"S Sehun...?"
"Aku tidak mau, Kai. Selama ada orang rendahan di kelompok. Jangan harap aku ada disana. Jadi kau pilih aku sahabatmu atau Luhan?" Sehun menekan kata sahabat seraya menatap Kai dalam. Aku menggeram marah. Oke! Aku memang mempunyai asal usul yang tidak jelas. Tapi bukan berarti dia atau siapapun bisa merendahkanku seperti ini. Aku menggenggam tangan Kai dan memintanya menatapku. Jangan ikut Kai. Kau harus tetap disamping Hyung. Pintaku melalui tatapan kami. Seolah mengerti dengan kegelisahanku, ia mengangguk pelan dan balas menatap Sehun yang memandang memohon.
"Maaf, Sehun. Tapi aku akan tetap bersama Luhan-hyung." Jawab Jongin tegas. Sehun tertawa tak percaya.
"Apa? Kau lebih memilih dia?" Tunjuk Sehun dengan raut jijiknya. Ingin sekali, aku menampar wajahnya kalau saja Jongin tak menggenggam tanganku erat. Jongin mengalihkan pandangannya kearah lain, dia tak mau menatap Sehun yang seolah masih memberi harapan untuk berubah pikiran. Sehun berdecih.
"Kau PENGHIANAT!" Teriak Sehun marah. Dia menatap nyalang kearah kami, mungkin lebih tepatnya aku. Kris seperti tidak mau terlibat lebih jauh dan memutuskan pergi keluar lebih dulu. Disusul Suho, menyisakan bagian kami dan Sehun yang masih belum mau meninggalkan sahabatnya.
"Pergilah, Hun-ah. Tidak sebaiknya kau disini." Jongin mengusir Sehun dan menarik tangannya menuju pintu luar. Aku dapat merasakan remasan yang kuat di bahu saat Jongin menepuk bahuku. Tanpa mengatakan apapun lagi, Sehun menyentak Jongin dan berlari keluar setelah membanting pintu. Jongin terdiam kaku. Oh, aku sungguh merasa bersalah dalam hal ini. Tapi aku dan yang lain membutuhkan seseorang yang sebut saja masih 'waras' untuk membimbing kami. Tidak dengan Chanyeol yang gegabah. Tidak dengan Baekhyun yang mudah terkena serangan panik. Tidak juga dengan aku dan Chen yang hanya dari kalangan apa yang mereka sebut 'rendahan'. Dan tidak pula dengan Kyungsoo yang... eh?!
Luhan POV end.
"Kyungsoo-ssi, apa yang kau lakukan disini?" Seisi ruangan terkejut dan memfokuskan pandangan ke orang yang dimaksud. Luhan meringis bingung mendapati Kyungsoo balik menatap bingung.
"Kau tidak ikut mereka, Kyungsoo-ssi?" Selidik Jongin. Kyungsoo mengedikkan bahu. "Aku tidak butuh parasit seperti mereka." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Kyungsoo langsung berbaring dengan tasnya sebagai alas. "Gwenchana hyung... Kita berjuang bersama." Rangkul Chen dan Jongin. Luhan balas tersenyum tulus.
~oOo~
"Arghhhh...!" Luhan bangkit dengan nafas ngos-ngosan. Ia memegang dadanya panik. Rasa sakit begitu terasa. Aneh. Padahal sebelumnya tak pernah seperti itu. Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada Jongin, Chanyeol, Kyungsoo, dan...
"Baekhyun? Eodiga?" Gumam Luhan bingung. Dia bergegas mengenakan sepatunya dan berjalan ke seluruh ruangan. Luhan membuka pintu keluar, tapi hanya kegelapan malam yang remang-remang di dapatinya.
Crak... crakk... crakk...
Seketika Luhan menahan nafasnya kala mendengar suara aneh tak jauh dari posisi nya. Ia berjinjit menghampiri asal suara, dan detik itu juga, dia hanya bisa terpaku dan membelalak kaget. Luhan menutup mulut dengan telapak tangannya. Pemandangan di depan sama sekali tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya.
Baekhyun memotong-motong seonggok tubuh dengan...
...katana?
Luhan menggigit bibir bawahnya cepat mencegah suara pekikan keluar. Ia bersembunyi di balik dinding sambil tetap mengawasi Baekhyun yang terus memotong. Ingin rasanya Luhan kembali masuk sekarang, tidur dan menganggap ia tak melihat apapun, tapi ia tak bisa. Baekhyun sadar akan kehadiran dirinya.
"Keluarlah hyung. Aku tahu kau disitu." Luhan bergidik mendengar intonasi datar dari mulut Baekhyun. Kemana nada riang yang biasa ia keluarkan setiap hari? Dengan kaki gemetar, Luhan berjalan menghampiri Baekhyun. Dapat dilihat wajah yang biasanya bersih, kini dipenuhi oleh cipratan darah. Segala pakaian, tangan, dan hampir seluruh tubuhnya dipenuhi cairan merah berbau anyir yang membuat Luhan ingin memuntahkan isi perutnya detik itu juga.
"Apa kira-kira Jongin akan senang ya kalau aku membawakannya kepala ini? Setidaknya dia mendapat objek untuk dilindas. Bagaimana menurutmu hyung?" Tanya Baekhyun dengan mengangkat sebuah kepala untuk ditunjukkan. Tapi hanya bagian belakang ditumbuhi rambut bercampur darah yang dapat Luhan tangkap di kegelapan. Ia mundur beberapa langkah menghindari darah yang akan menetes karena terlalu dekat. Luhan diam dan menutup hidungnya mencium bau amis yang pekat.
"Ah iya, Luhan Hyung. Kau suka hati kan?"
Luhan tak menjawab. Tapi kemudian, ia mengangguk sebagai jawaban. Baekhyun menjentikkan jari dan berbalik ke tubuh yang telah tak bernyawa. Luhan menggeleng cepat kala melihat anak yang lebih muda berjongkok dan mengacak isi perut di depannya. Luhan hendak berteriak jangan tapi kenapa suaranya tercekat di tenggorokan?
Baekhyun menggenggam sebuah bongkahan di tangan kirinya. Dia bersenandung riang menghampiri Luhan. Baekhyun memiringkan kepalanya heran mengetahui tatapan Luhan begitu kosong dan terfokus pada satu objek. Kepala yang dibawanya. Merasa tidak diperhatikan, Baekhyun memberikan bongkahan itu tepat di depan Luhan hingga membuat empunya menjerit kaget.
"Kau tidak memperhatikan aku Hyung? Padahal aku sudah berbaik hati membawakan hati ini untukmu?" Rajuk Baekhyun melangkah maju ke depan. Luhan menatap horror dan memundurkan kakinya kala Baekhyun semakin mendekat. "Baekhyun-ah... sadarlah..." Pinta Luhan lirih. Baekhyun berhenti melangkah. Ia mengerutkan dahi bingung.
"Sadar? Sadar apa? Ini Baekhyun." Ujar Baekhyun meyakinkan Luhan. Luhan tetap mundur ke belakang. Ia ketakutan dan masih tetap melihat kepala di tangan kanan teman satu kelompoknya. Air mata jatuh kala kepala itu ikut berputar disaat Baekhyun melangkah tadi. Bila hanya rambut yang awalnya terlihat, kini berganti wajah yang membuat Luhan seolah kehilangan nafas saat mengetahui siapa 'korban' Baekhyun.
"X-Xiumin..!?"
To Be Continued
a/n : terimakasih untuk yang telah memberikan review, memfollow, dan memfav. Untuk cerita ini. Terimakasih juga untuk silent reader yang telah membaca. Silakan jika ingin memberikan kritik dan saran. Tapi tolong jangan menggunakan kata yang kasar.
