Hatefully Choice

Writted by GASUGA n UGII

Editted by MITAKUN

VERKWAN

Vernon x Seungkwan

Yaoi

Enjoy

Curhat dulu kuy

An

Gasuga: Hai, chap.2 is up! Guys, terima kasih ya buat yg kemarin udah baca chap.1, semoga kalian suka. Aku seneng sih, ada lumayan banyak yg baca, tapi...why why...kenapa kalian tidak meninggalkan jejak :( yang review satu org doang dan aku ngerasa sedih wkwk. Oke gapapa, makasih yang udah review, fav, dan follow cerita ini. Semoga suka sama chap.2 ini ya. Lumayan panjang sih, kuharap kalian nggak bosen

Ugii: terimakasih buat yang udah sempetin baca chap 1. Chap 2 ngebut buatnya. Mudah-mudahan kalian suka sama cerita kami. Juga mohon reviewsnya. Kami butuh masukan. Bow

Mitakun: no comen w cuman tukang edit aja

Cus ah

Enjoy kawan.

Hansol tak bisa mengalihkan penglihatannya ke arah lain selain pasangan yang tengah hangat-hangatnya memadu kasih.

Walau agak jijik, Hansol tetap mematai kedua sahabat kentalnya. Berharap mereka sadar kalau dia masih ada di sana menemani keduanya.

Namun apa daya, Mingyu kalau sudah dalam mode manjanya, bisa membuat Wonwoo hilang ingatan.

Pemuda berwajah kebarat baratan itu akhirnya menyerah dengan merebahkan punggungnya di sandaran sofa.

"Teganya kalian." desah Hansol lirih.

"Apa?"

Wonwoo yang pertama menimpali, telinganya kelewat peka pada suara apapun.

Dia berusaha menyingkirkan tangan Mingyu di pinggangnya. Benar-benar anak ini. Kalau ada maunya pasti tingkahnya seperti anak sekolah dasar. Bahkan mungkin anak sekolah dasar lebih dewasa dari pada kekasih gelapnya ini. Gelap, kulitnya bukan statusnya. Harap di mengerti.

"Kalian. Tega padaku."

"Tega bagaimana sih. Kau yang tega kerena sudah menggaggu waktuku dengan Wonwoo Hyung."

"Kalau tak mau di ganggu kenapa juga datang kemari!" emosi Hansol kini naik ke ubun-ubun.

"Aaiissshh kenapa kalian malah ribut begini." Wonwoo jengah sungguh.

Lebih baik dia nonton kucing kawin dari pada melihat Hansol dan Mingyu bertengkar. Tidak ada menarik-menariknya sama sekali.

"Dia yang mulai Hyung~~"

Hasol berlaga seolah ingin muntah mana kala Mingyu yang katanya seme sejati itu gelendotan di tangan Wonwoo layaknya uke haus sentuhan.

Sementara Wonwoo tentu saja langsung menoyor dahi Mingyu dengan telunjuknya. Dia nyaris megandung mendengar rengekan Mingyu yang demi apa, lebih seram dari valak.

"Diam atau kita tak jadi kencan hari ini."

Mingyu sontak langsung duduk dengan tegak. Tak lagi menye-menye. Malu dong nanti di sangka uke. Apa lagi muka kekasihnya kalau diam sangar sekali.

"Kalian benar-benar mau meninggalkanku sendirian?"

"Kau sudah besar. Berikanlah orang tuamu ini sedikit quality time."

Demi rambut Seungcheol yang akan di cat merah putih, quality time apanya kalau setiap saat mereka selalu bersama.

"Tak apa-apakan Sol kalau kau sendirian hari ini?" tanya Wonwoo lebih lembut.

Hansol tersenyum. Walau terasa berat menjalani sisa hari sendirian tanpa di temani salah satu sahabatnya, tapi Hansol bisa apa.

Mingyu benar. Mereka sekali-kali memang harus jalan berdua saja tanpa Hansol yang harus mereka ikuti.

Biarlah Mingyu bahagia untuk hari ini saja.

.

.

.

Sementara di ruang rapat organisasi kesiswaan, bendahara organisasi sedang menekuk wajahnya. Menatap dengan sengit siapa saja yang berusaha mengajaknya bicara.

Apalagi ketua terpilih dari kegiatan yang sedang mereka rapatkan sekarang. Festival, apalagi memangnya.

Seungkwan mendengarkan dengan sangat-amat teliti. Lalu saat ditanya adakah keberatan, dialah orang pertama yang mengangkat tangan. Menjelaskan keberatannya dengan menggebu-gebu. Dan hal itu sudah dia lakukan sebanyak tiga kali. Mendengarkan untuk mencari celah, dan merasa keberatan atas hal yang menurutnya tidak penting untuk acara festival kali ini.

Terutama, di bagian bintang tamu yang akan mereka undang.

Ini sudah rapat ke lima, yang seharusnya menjadi rapat terakhir untuk memutuskan segala sesuatunya sebelum menjalankan rapat pemantapan acara. Tapi di sini, rapat yang seharusnya mudah, menjadi jauuu—h lebih berat karena adanya Seungkwan dalam daftar kepanitiaan acara. Yaitu sebagai seksi acara.

Sebenarnya sebagian besar para panitia sudah cukup lelah dengan semua keberatan yang Sengkwan suarakan. Tapi mau bagaimana lagi. Seungkwan tak semudah itu di lawan, apa lagi posisinya sebagai Bendahara kesiswaan dan seksi acara.

"Kwan, kalau kau terus menolak apa yang kubilang, sebaiknya kau saja yang memberikan ide dan menjalankannya. Kau saja yang jadi ketua." Jihoon, ketua terpilih untuk festival akhirnya bicara. Dia cukup muak dengan semua penolakan Seungkwan selama rapat berlangsung.

Tentang biaya yang harus dibayar oleh siswa yang terlalu mahal, tentang tema festival yang sedikit gloomy, tentang sponsor yang katanya terlalu kecil, dan yang paling utama adalah tentang proposal bintang tamu yang seharusnya sudah dia ajukan kepada kepala sekolah untuk ditandatangani.

Pasalnya, dia sudah sempat bicara dengan bagian manajemen artis tersebut. Dan mereka sudah sepakat tentang budgednya.

Tapi sekarang, karena ketidak-sukaan salah satu anggotanya, acara rapat tenang dan mudah yang selalu dia bayangkan jadi hancur.

Seungkwan berdecak, memasang wajah yang sok diimut-imutkan. "Bukan begitu maksudku, Ji." Bibirnya mengerucut.

"Bahkan di saat rapat begini kau tidak ada sopan-sopannya kepadaku, Kwan. Aku ketua, dan aku berhak memutuskan apa yang menurutku baik. Sedangkan kau di sini, —apa aku boleh jujur?" Jihoon menatap Seungkwan dengan pandangan menyeramkan. Seperti seekor elang yang hendak menyantap anak ayam.

Mau tak mau, Seungkwan mengangguk. Kakak kelasnya itu memang terkenal menyeramkan jika sedang marah. Dan dia sadar diri sudah menyulutkan api kemarahan pada diri Jihoon.

"Sedangkan kau di sini hanya merusuh, membuat semuanya jadi lebih rumit. Kau tidak sadar kalau sudah memberatkan panitia yang lain? Kau merepotkan."

Seungkwan tercengang. Kata-kata Jihoon benar-benar menusuknya sampai hati.

Dia hanya mengutarakan pendapat, tapi kenapa jadi sebegininya. Apakah dia sudah keterlaluan? Tapi kan dia hanya menyuarakan pendapat, apa itu salah?

Seungkwan jadi kesal sendiri. Kenapa sih, tidak di mana-mana dia selalu salah. Ah, ada apa sih dengan orang-orang?!

"Kau kok kasar sekali, sih, Ji?"

Jihoon menghela nafas. Menatap lebih dalam mata Seungkwan yang sekarang terlihat lebih dilebarkan. Jihoon sudah hafal betul bagaimana anak itu. Menyebalkan memang.

"Bisa tidak, kau tidak egois?" Jihoon mencoba bertanya dengan santai. Sebenarnya dari tadi hati dan pikirannya sudah singkron ingin mencakar wajah pemuda Boo ini hingga hilang manisnya. Tapi mana tega Jihoon begitu.

"Kapan aku egois?" Tapi pertanyaan balik Seungkwan justru terdengar jelas menyiratkan penyangkalan dan ketidak-terimaan.

"Kau selalu. Kau selalu, Kwan. Tidak sadar diri sekali"

"Aku tidak!" Suara Seungkwan membesar lagi.

Jihoon sudah naik pitam. Ternyata benar kata orang, menahan kesabaran saat berbicara dengan Seungkwan memang sangat susah. Dan Jihoon menyesal sudah memasukkan anak itu ke dalam susunan panitia, yang parahnya lagi kedudukannya terbilang penting. Seharusnya dia menjadikan Seungkwan seksi kebersihan saja, biar tidak repot-repot menahan emosi selama rapat berlangsung. Jihoon lelah kawan.

"KAU EGOIS!"

Dan orang di seluruh ruangan yang tadinya sibuk dengan acaranya sendiri, sekarang atesnsinya teralihkan menatap Jihoon yang wajahnya memerah sambil menatap Seungkwan.

"Dari awal pemilihan pengisi acara, kita semua sudah voting dan Vernon mendapatkan voting terbanyak bahkan hampir delapan puluh persen, tapi kau tidak terima! Hey, masalahmu apa?! Ini acara bersama tapi kau mementingkan ego dan identitasmu sebagai haters idol itu dan menolaknya! Apa untuk sekarang egomu itu dibutuhkan?! Ini acara untuk satu sekolah bahkan luar sekolah, bukan untukmu saja!"

Jihoon melemparkan spidol hitam yang tadi digenggamnya dengan kuat. Nafasnya sedikit memburu karena betulan, dia sangat ingin melempar pemuda berwajah bulat di depannya yang merasa bersalah pun sepertinya sangsi.

Seungkwan mengerjap. Lagi, hatinya terasa tertusuk dengan kalimat-kalimat yang Jihoon ucapkan. Apakah benar? Apakah dia memang begitu?

Sedikit merasa bersalah, tapi egonya masih terlalu besar. Iya, dia mengakui betapa egoisnya dia sekarang.

"Ya sudah, siapa saja, gantikan aku sebagai seksi acara. Aku tak mau berurusan dengan bintang tamu festival ini." Putusnya.

Seungkwan mengambil ranselnya dari lantai. Dia berdiri, membungkuk ke kanan, kiri, dan tengah kemudian berjalan menuju pintu keluar.

Langkahnya sengaja dibuat santai padahal hatinya terasa dongkol sekali.

Hah, baru kali ini dia ditolak habis-habisan oleh anggota kesiswaan atas apa yang dipikirkannya. Lagian, memangnya salah kalau dia tidak suka Venon dan menolaknya habis-habisan?!

Hey, ini wilayah teritorialnya! Jangan pernah melewati batasnya atau Seungkwan akan marah besar.

.

.

.

Sendirian itu ternyata tidak ada enak-enaknya sama sekali.

Yaaa,

Hansol yang terbiasa menjalani hari bersama kedua sahabatnya itu kini menjadi susah sendiri.

Biasanya ada Wonwoo yang akan menemaninya mengobrol sembari menunggu pemotretan. Atau bahkan Mingyu yang akan menjadi biang rusuh di tengah-tengah take vocalnya.

Tapi kali ini benar-benar sepi. Pemotretannya juga terasa jadi sangat lama hingga Hansol bosan bukan main.

Entah sudah berapa kali Hansol mendesah lelah dengan para staf yang memperlakukannya secara berlebihan. Hansol tak suka itu.

Maka setelah pemotretan selesai, Hansol meminta izin pada manager Hyung untuk mampir ke cafe di sebrang gedung tempatnya bekerja untuk sekedar membeli latte.

Tentu saja managernya mengizinkan. Toh Hansol juga sering keluar bersama kedua sahabatnya. Jadi tak terlalu masalah.

Hansol melangkahkan kakinya cepat melewati trotoar. Hingga sampai di sebuah cafe. Suasananya sedikit sepi karena sudah lewat jam makan siang.

Hansol hanya memesan latte dingin untuk dibawa kembali ketempat pemotretan. Akan sedikit bahaya jika dia berlama-lama di sana.

Ponselnya berdering. Notifikasi dari managernya. Hanya sebuah pesan singkat dan tautan link sebuah artikel.

'Seungceol, anak emas Pledis yang sedang berkencan'

'Hati-hati jangan sampai kau terkena skandal serupa'

Begitu kira kira isi pesannya.

Hansol tak terlalu peduli sebenarnya. Jadi ia kembali ke acara menunggu pesanan datangnya lagi.

Namun tak beberapa lama lemudian terlihat dari beberapa pasang mata yang melirik ke arahnya. Padahal Hansol sudah memakai penutup kepala pada hoodie-nya serta masker, tapi mata fans mana mungkin bisa ditipu.

Hansol duduk di salah satu kursi yang tersedia untuk menunggu dengan sabar pesanannya. Sebelum seseorang menghampirinya dan entah sengaja atau tidak menumpahkan minumannya tepat ke bagian penutup kepala milik pemuda berusia sembilan belas tahun itu.

Hansol sontak kaget dan langsung berdiri, membuat hoodienya lepas dari kepala. Wajahnya hampir terekspos jika saja dia tak memegangi maskernya.

Tapi dari rambutnya saja para fans sudah dapat mengenali Hansol. Super sekali.

"Kyaaaa Vernon Oppa!"

Teriakan nyaring itu sukses membuat Hansol tutup telinga.

Sudah cukup dia mendengar teriakan macam itu di setiap aksi panggungnya. Tak bisakah mereka berhenti sejenak? Hansol sungguh sedang lelah.

Hansol bahkan khawatir pada pita suara mereka yang bisa-bisa putus jika mereka berteriak seperti itu terus. Kan kasihan.

"Ma-maaf aku bukan Vernon,"

Hansol bodoh. Kalau hanya dengan melihat rambutnya saja mereka sudah mengenali Hansol, apa lagi dengan mendengar suaranya? Makin jadilah kegilaan fansnya yang sadar kalau orang yang mereka kira Vernon memang betulan Vernon.

"Kyaaaaa! Oppa! Vernon Oppa!"

Ini gawat. Mereka sudah semakin banyak. Hansol heran dari mana mereka berasal. Padahal tadi hanya beberapa, kenapa sekarang dia jadi di kerubungi begini.

Para fansnya yang rata-rata adalah remaja putri mulai mendesak Hansol, pemuda itu serasa sedang di perawani. Mengingat dia yang terpojok pada sudut ruangan.

Dan saat gerombolan itu makin banyak, Hansol melihat sebuah celah di dekat pintu.

Dengan segera dia menerjang para fansnya. Maaf-maaf saja jika dia sedikit kasar dengan mendorong beberapa tubuh demi sampai ke celah itu. Dia tak mau mati karena sesak nafas tergencet fans fanatiknya sendiri. Itu tidak elegan sekali.

Hansol memang bisa keluar. Namun beberapa orang fansnya menyadari kalau Hansol berhasil kabur. Hingga akhirnya mereka berbalik arah dan menatap Hansol yang telah kehilangan maskernya dengan pandangan bernafsu.

"Sialan!" Umpat Hansol sesaat sebelum memacu langkah lebih cepat.

Bodohnya dia malah berlari menuju arah berlawanan dari tempat dia datang. Dan gadis-gadis ganas itu masih saja mengejarnya.

"Ya Tuhaaaan tolong akuuuuuu!"

Sibuk memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa, Hansol tak sadar kalau sesosok mahluk berisi menghalangi jalannya.

Alhasil,

BRUGH

.

Seungkwan benar-benar kehilangan ketenangannya. Dia merasa kesal tingkat galaxi. Merutuki dirinya sendiri yang masih merasa kalah dari orang-orang yang ada di organisasinya.

Seharusnya dia tidak dengan mudah mengundurkan diri dari kepanitiaan festival hanya karena tekanan yang Jihoon katakan padanya.

Harusnya dia teguh pada pendiriannya yang menolak Vernon sebagai bintang tamu.

Dia merasa kalah, dan pasti orang-orang itu menertawakannya. Dia tidak suka ditertawakan atas kekalahannya.

Apalagi saat tadi Minghao tertawa terbahak setelah mendengar ceritanya. Dia marah-marah dan Minghao tertawa. Ada Junhui juga di sana, ikut menertawakannya. Mereka gila, ya? Tidak ada solid-solidnya sekali jadi teman!

Malah Minghao terlihat sangat puas mendengar ceritanya. Ia senang sekali nampaknya kalau Seunkwan kalah. Tentu saja. Minghao kan fansnya Vernon, tentu senang kalau idolanya datang ke sekolah.

Kakinya menghentak pada trotoar di depan pertokoan. Pilihannya untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki —hitung-hitung menghilangkan kesel— ternyata bagus juga. Lebih baik melampiaskan kesal kepada jalanan dari pada harus menabraki orang-orang yang ada di dalam bus dengan kasar, pasti nanti dia ditegur atau bahkan malah di marahi lagi kalau melakukannya. Dan dia sedang tidak mau berdebat, dia sedang malas. Energinya habis terkuras untuk beradu mulut dengan kakak kelas galaknya itu.

Sampai setelah hentakan paling kerasnya pada jalanan yang digarisi warna merah, dia merasakan adanya kegaduhan di depannya. Entah apa itu karena sedetik setelah dia mengangkat kepala, badannya ditabrak oleh sesuatu yang jelas besar, berat, dan keras. Yang dia tahu, sesuatu itu adalah manusia.

BRUGH,

Dan keduanya terjatuh. Dengan badan Seungkwan yang otomatis tertimpa. Membuat pantatnya berciuman dengan sangat kasar dengan jalanan.

Seseorang di atasnya berusaha berdiri dengan panik dan mencoba menariknya berdiri juga, mau tak mau dia pun ikut berdiri walaupun pantatnya sangat sakit.

Seungkwan membungkuk, sementara orang itu masih memegangi tangannya, hampir meremas, kentara pegangannya erat sekali.

"Oppaaaaaaa! Tunggu akuuuuuu!"

Seungkwan terkejut dengan suara-suara nyaring yang terdengar sudah dekat dari tempatnya berdiri.

Tangannya yang dipegang oleh orang asing itu semakin terasa diremas, atau mungkin memang sudah diremas.

"Ayo lari! Mereka berbahaya!"

Dan saat tangannya ditarik untuk berlari, matanya justru terbelalak dan kakinya terasa berat untuk digerakkan.

Dia sadar.

Dia,

Ditarik,

Oleh,

Vernon.

Ke—

KENAPA?!

"K-kau?!" Serunya sambil terus berlari mengimbangi kecepatan Vernon.

"Tolong, ikuti aku saja. Ini bahaya! Jika kita berhenti di sini, bahaya!" Pemuda bernama Vernon itu mendesis. Mempercepat larinya saat suara di belakang mereka semakin terdengar luar biasa kencang dan tidak manusiawi.

"Ti—"

"Tolong, tolong aku,"

Seungkwan merasakan tangannya lagi-lagi di pegang erat sebelum sebuah gang yang sangat gelap memerangkapnya bersama orang yang paling dibencinya—yang justru membawanya kabur bersama entah karena apa.

Badannya diapit oleh Vernon, terlalu dekat sampai dia dapat mencium dengan jelas bau parfum pemuda itu yang bercampur dengan bau keringatnya. Sama sekali tidak bau.

Puk,

Matanya melotot sempurna ketika bahu sebalah kanannya tertimpa sesuatu.

Dagu Vernon.

Dengan tangan yang memerangkap tubuhnya di samping pinggang, bertumpu pada dinding di belakangnya.

Gelap, sehingga Seungkwan merasa sangat panik. Dia tidak bisa melihat apapun selain cahaya yang ada di ujung gang yang lumayan jauh di depan, beserta beberapa orang yang masih lari sambil meneriakkan nama Vernon.

"K—kau,"

"Hansol, panggil aku Hansol. Itu tadi yang berlari, fansku."

Seungkwan melotot, sekarang kesadarannya mulai terkumpul.

Tidak, tidak. Seungkwan tidak perlu peduli terhadap pemuda yang sudah kurang ajar menabraknya, membuat pantatnya ngilu, memaksanya berlari, dan memerangkapnya di gang yang gelap dengan posisi kurang ajar seperti ini.

Tidak ada jaminan dia tidak akan diapa-apakan, kan?! Oke, itu memang hanya pikirannya saja.

Tapi serius, apakah Seungkwan harus perduli atas Vernon atau Hansol yang ada di depannya ini?! Tidak, kan? Kalau perlu, Seungkwan akan menendang pemuda itu tepat di pusat kehidupannya agar menyingkir, lalu berlari sambil memanggil fans-fans yang tadi berlarian untuk berbalik arah dan membocorkan tempat persembunyian orang itu.

Oke, mari mulai memanggilnya dengan Hansol.

Nafas Hansol yang tadi didengar Seungkwan berantakan sekarang sudah mulai normal. Dia juga sudah mengangkat kepala dari bahu Seungkwan. Membuat pemuda itu sedikit bernafas lega dengan tidak sadar.

"Maaf." Suara Hansol berat, tidak bernada, dan Seungkwan merasa terkejut. Lebih berat dari yang biasa dia dengar dengan tidak sengaja.

"Fansku terlalu brutal sampai mengejarku seperti tadi. Maaf juga karena menabrakmu dan mengajakmu berlari paksa. Demi keselamatanmu, sebenarnya."

Ada kekehan kecil, yang diartikan oleh Seungkwan sebagai ledekan. Dan dengan itu, perasaan kesal Seungkwan yang tadi sempat terlupakan, akhirnya meluap lagi.

"KAU!" Pekiknya sambil menunjuk Hansol. Entah ke mana arah telunjuknya itu, Seungkwan tidak perduli.

"Aku Hansol, Vernon, tadi sudah kubilang."

Seungkwan mendorong tubuh —terlalu dekat Hansol— menjauh, kemudian menyeret hoodie-nya, membawa pemuda kurang ajar itu ke tempat yang lebih terang, agar bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah jelek orang itu.

Dan setelah sampai di ujung gang yang terkena cahaya, Seungkwan berbalik dengan mata yang sudah melotot, telak menatap pada mata Hansol.

"KENAPA SIH, KAU MEMBUAT HARIKU SEMAKIN BERAT?!" Makian pertama, Hansol mundur ke belakang sampai menabrak tembok. Mengerut di sana karen terkejut akan suara nyaring tidak berperasaan itu. Lebih nyaring dari suara fans-fansnya tadi.

"Aku—"

"TIDAK UDAH KAU JAWAB! KAU KIRA DENGAN KEMUNCULANMU YANG BEGINI, AKU AKAN BERHENTI BENCI PADAMU, BEGITU?! TIDAK! AKU AKAN TETAP MEMBENCIMU, DITAMBAH LAGI KARENA HAL INI!"

Seungkwan berniat memukul Hansol, tapi tangannya justru ditangkap dan diangkat ke atas. Merubah posisi, kini dia yang tersudut pada tembok dengan tangan di atas kepalanya.

Tentu saja dengan tangan kekar Hansol yang memeganginya.

"Oh, kau haters-ku?" Hansol bertanya dengan suara kelewat santai, tetep datar, juga pelan di samping telinga Seungkwan.

"Nde!" Seungkwan mendesis tak kalah lirih.

Dia memberontak. Tapi tak bisa karena Hansol jauh lebih kuat darinya.

"Baiklah, kalau kau membenciku."

Tersenyum, dan sudah. Begitu saja. Dia melepaskan tangan Seungkwan sambil tersenyum dan mengangkat bahu.

Seungkwan sudah gelisah sebenarnya, takut benar akan diapa-apakan oleh orang itu. Tapi ternyata tidak.

Dan dia sedikit bersyukur untuk itu.

"Ingat ya, Vernon! Sampai mati pun aku akan tetap membencimu! Dan lihat saja, aku akan menolakmu habis-habisan di depan seluruh anggota organisasi bahkan kepala sekolah sekalipun! Aku membencimu!"

Hansol mengernyit, sama sekali tidak mengerti dengan omongan sambil marah-marah pemuda bulat di depannya. Dia bingung sendiri.

"Kau bicara soal apa, sih?" Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Pikir saja sendiri! Dasar mesum tidak tahu diri! Enyah kau sana!"

Entah dasar apa Seungkwan mengatai Hansol begitu. Hanya itu yang dengan cepat bisa dia ucapkan untuk mengumpat. Karena kalau tidak, seluruh kata-kata kotor dari film Spongebob yang pernah ditontonnya akan keluar. Dan dia yakin, dia sendiri yang akan menyesal.

Seungkwan berbalik, berjalan dengan tergesa untuk meninggalkan Hansol.

"Semoga aku tidak bertemu lagi dengan orang itu! Menjijikan!"

Seungkwan akan berbalik tapi suara Hansol menghentikannya.

"Hei,"

Dia menoleh tanpa berbalik. "APA?!"

Hansol sedikit menyeringai, tidak terlalu kelihatan. Dia menunjuk kaki Seungkwan dari betis dan berhenti di pantat.

"Pantatmu besar. Aku suka"

Dan,

DUAGH

Seungkwan harus merelakan sepatu barunya yang berhantaman dengan dahi Hansol.

Kemudian benar-benar pergi. Walau denga sebelah sepatunya yang berada di tangan Hansol.

.

.

.

Tampa mereka ketahui, sebuah lensa kamera mengambil beberapa gambar mereka berdua.

Tbc