Eurasia, This is Our War
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuNaru
Rated: M
Warning: Perombakan dan pencampur-adukan sejarah dan bahasa secara bejad, EYD berantakan, typo(maybe), imajinasi berdasarkan pelajaran geografi SMP, bahasa inggris dan jepang yang berantakan, Lot of ShikaNaru and ShikaNaru lemon! Jadi jika anti, plis skip sebelum bernafsu nge-flame author polos ini! *Bombay.
Genre: Romance, Tragedy, Hurt/Comfort
Summary: Naruto dan Sasuke. Dua Kolonel Tinggi dalam Perang Besar ke-2. Bertempur meninggalkan tunangan masing-masing yang menunggu di negeri suaka untuk saling membunuh satu sama lain. Kasih sayang yang timbul diantara darah para tentara, dan cinta yang melanggar perintah Para Petinggi.
.
.
.
Naruto mengerjapkan matanya dan mendapati dirinya berada di kamarnya. Mengangkat alisnya, pemuda itu menyentuh sebuah vas yang berada di meja kecil, menyadari bahwa seharusnya vas itu sudah tidak ada sejak 4 tahun yang lalu.
Seingatnya, ia berada di penjara Mizugakure, bertengkar dengan seseorang yang bernama Men.. ra? Menna? Entahlah, ia tidak terlalu peduli. Ia lebih memikirkan tentang suasana ini, suasana yang mengingatkannya pada malam pertamanya dengan Shikamaru.
Mendadak sebuah gerakan di tempat tidurnya yang dikelilingi kain transparan bewarna putih menarik perhatiannya. Siluet dua orang yang tengah bersama membuatnya melangkahkan kaki mendekati mereka, mulai merasakan firasat aneh.
Ini… benar-benar seperti malamnya bersama Shikamaru.
Dan ternyata memang benar.
Di tempat tidur besar itu, Naruto melihat kejadian 4 tahun lalu, dimana ia berada di bawah Shikamaru yang menatapnya dengan tatapan tak terdefenisi.
"Sir?"
"Naruto."
"Tidak bisa semudah itu, Sir U—"
"Naruto."
Erangan frustasi terdengar. "Yeah, Na… Naruto—sial, ini sangat merepotkan."
Naruto terkekeh kecil. Dengan gemas diciumnya pipi pemuda yang tengah memeluknya, mengelus punggung tegap itu dengan tangannya yang besar.
"I love it," bisik Naruto. "Teruslah memanggilku dengan nama itu, Shika."
Sebuah kecupan di dada kembali ia hadiahkan untuk Shikamaru. Rona merah yang nyaris tak terlihat menghiasi pipi Shikamaru seiring dengan sentuhan Naruto yang semakin intens.
"Shika…"
"Berhentilah memanggil namaku seperti itu Sir—Naruto." ucapnya dengan nada berat. Digenggamnya tangan Naruto yang bermain di pahanya. "Aku tipe pemain yang tak sabaran jika terpancing."
Kali ini giliran Naruto yang memerah. Sudah lama ia menginginkan ini.
"Begitu?" gumam Naruto, menatap dalam Shikamaru yang berada di atasnya. Sengaja ia meliukkan lehernya yang jenjang, seolah menyodorkannya secara sukarela pada Shikamaru. Belum lagi gerakan pinggulnya menggoda sesuatu yang sedari berkedut tak nyaman di balik celana kekasih barunya itu.
"Yeah…" sahut Shikamaru sebelum menggesekkan hidungnya ke leher Naruto, mengigit kecil, dan menghisapnya kuat-kuat.
Mulut Naruto terbuka tanpa ada suara yang keluar. Matanya terpejam menahan sejuta rasa yang dikirimkan Shikamaru di lehernya. Hembusan napas yang menerpa membuatnya merinding, sukses membuat kedua lengannya memeluk bahu Shikamaru.
Shikamaru memejamkan matanya kuat-kuat. Dia harus menahan dirinya agar tidak lepas kendali. Bagaimanapun juga, pria yang berada dibawahnya ini adalah atasannya, orang nomor satu di kemiliteran. Tidak mungkin ia akan membiarkan dirinya tampak menyedihkan di depan orang sehebat Naruto.
"Eh?"
Shikamaru menahan napas saat ia merasakan tangan Naruto kini menyelinap ke dalam dan mengelus pantat Shikamaru.
"Kau mempunyai pantat yang seksi, Letnan…" bisik Naruto tanpa menghentikan elusannya. Rona merah di pipi Shikamaru semakin menjadi dan ia memilih untuk menghentikan aksinya memanja leher Naruto.
"Setahuku kau orang yang jarang memuji, Naruto." kini Shikamaru mulai terbiasa dengan panggilan baru atasannya itu. Bibirnya mengecup bahu Naruto, memainkan lidahnya disana. Tangannya menjelajahi perut Naruto, memutar jemarinya di pusar sang pemuda sebelum meraih kejantanan Naruto.
"Ah…"
Mata Shikamaru melebar. Suara desahan Naruto amat seksi, sangat lembut untuk ukuran tentara elit seperti dirinya. Suara itu tak hanya dipenuhi gairah, tapi juga…
Shikamaru menggelengkan kepalanya. Itu tidak mungkin. Memangnya siapa dia hingga berpikir bahwa dia dicintai oleh Naruto?
Hubungan ini hanya sebatas kontak fisik, itu saja.
"Shika… Shika… Shika…" Naruto terus meracau tanpa henti. Tubuhnya panas, terbakar. Setiap tempat yang disentuh Shikamaru terasa aneh, tapi ia menyukainya. Ia tidak bisa berhenti gemetar dan mengeluarkan suara yang tidak pernah ia perdengarkan pada siapapun.
"Jangan memanggilku seperti itu…" Shikamaru mempercepat gerakan tangannya, membuat Naruto terpekik. Kedua tangannya terjulur ke depan, berusaha menggapai Shikamaru yang memandangnya dengan mata setajam elang.
"Ah… Shika—My Shika…" tangan Naruto masih terjulur berusaha menggapai leher Shikamaru. "Umm…"
Jantung Shikamaru berdetak begitu keras. Pemandangan dimana Naruto berusaha meraihnya dengan wajah memohon seperti itu membuat otaknya tidak mampu mencerna apapun. Tidak pernah ia bermimpi bahwa ia akan melihat sisi lain dari seorang Uzumaki Naruto seperti ini.
Mata biru itu meredup ketika Shikamaru tidak menyambut uluran tangannya. Wajahnya memanas menahan emosi yang membuncah-buncah. Napasnya tersengal-sengal dan bibirnya agak terbuka, terus membisikkan nama sang terkasih dengan suara yang semakin lembut di setiap lantunannya.
"Shi—"
Bibirnya terbungkam saat Shikamaru mencium Naruto tiba-tiba, memberikan ciuman hangat yang penuh dengan hasrat. Kedua lengan kokohnya memeluk Naruto erat-erat yang dibalas dengan perlakuan serupa oleh sang kolonel.
Naruto membuka belahan bibirnya, mengait lidah Shikamaru dan menariknya ke dalam mulutnya. Ia ingin Shikamaru mencicipinya, mendominasinya hingga ia berteriak ketika tubuhnya berada dalam genggaman Shikamaru.
Manis.
Mata Shikamaru menggelap. Dia tidak pernah merasakan rasa manis yang seperti ini. Mulut yang lembab dan hangat, rasa manis yang basah membuatnya kalap.
"Hmm… Ngh!" Naruto mendesah tertahan. Shikamaru semakin liar. Ia menjelajahi rongga mulut Naruto tanpa ampun, membelit lidahnya dan menghisap dengan kuat.
"Hiahh!" lenguhan puas meluncur dari bibir terjajah Naruto setelah Shikamaru melepaskan ciumannya. Mata biru Naruto kini tak secemerlang biasanya, meredup oleh gairah yang meledak-ledak. Perlahan ia melirik Shikamaru dengan mata sayu yang semakin membangkitkan gairah sang letnan.
"Good…" Naruto menjilat sisa saliva di bibirnya sembari memberikan tatapan jinak pada Shikamaru. "Very good…"
Shikamaru dapat merasakan rasa sesak di celananya mulai menyiksa. Agak terengah ia meraih tangan Naruto dan meletakkannya di selangkangannya.
"Ah…" lenguh Naruto menghentakkan kepalanya ke bantal. Dia bisa merasakan betapa tegangnya Shikamaru, membuatnya malu sekaligus bangga pada dirinya sendiri. Dengan cepat ia melepaskan celana Shikamaru dan memekik senang melihat milik Shikamaru yang berdiri kokoh.
"Boleh aku mencicipinya?" mohon Naruto tanpa melepaskan pandangannya dari kejantanan Shikamaru.
"Tidak sebelum aku mencicipimu terlebih dahulu."
Berani. Pemuda di atasnya ini benar-benar berani dalam berbicara, membuat jantung Naruto berdegup kencang. Pemuda pirang itu lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan membuka pahanya lebar-lebar, memberikan undangan melalui matanya yang setengah tertutup pada Shikamaru.
"Dinner is ready."
Shikamaru menyeringai. "Kau berhasil membuatku terpancing, Naruto."
Segala sesuatu yang terjadi berikutnya hanya membuat keduanya gila. Naruto seperti kehilangan dirinya sendiri. Ia melenguh, mendesah, dan berteriak ketika Shikamaru menyentuhnya. Seluruh tubuhnya gemetar dalam kenikmatan yang membuatnya hilang akal. Belaian Shikamaru sukses membuatnya memohon dengan mata berair, meminta agar bawahannya tersebut segera memulai acara utama.
"Hah… Shi—ngh! Ah! Ah!" kedua jari Shikamaru bergerak liar di dalam dirinya, mencoba meregangkan selebar yang ia bisa. Wajah Shikamaru sendiri mulai memucat. Dia bisa merasakan betapa menakjubkannya Naruto. Panas, licin, dan juga… sangat sempit. Jemarinya dicengkram dari dalam dengan kuat. Napasnya bisa terputus kapan saja setiap kali ia membayangkan bagaimana rasanya berada di dalam sini nanti.
"Cukup! Cukup!" raung Naruto karena Shikamaru terus menyentuh prostatnya. "A-aku mau yang lebih be-NGH!"
"Kau ini benar-benar merepotkan." Komentar Shikamaru. Ia tidak ingin berhenti sekarang. Ia masih ingin menikmati wajah sensual yang ditunjukkan atasannya ini. Wajahnya bewarna merah pekat, tubuhnya berkilau oleh keringat, matanya yang setengah terpejam menggelap oleh gairah. Suara-suara yang semakin memercikkan minyak dalam api nafsu di tubuhnya terus mengalun dan geliat tak berarti dari Naruto membuatnya gila.
Mendadak Shikamaru tercekat. Naruto yang tak sabaran kini tengah mempermainkan kesejatiannya, menggerakkan tangannya cepat hingga membuat napasnya terhenti sejenak.
"Ber—hah—henti…" lirih Shikamaru dengan suara tertahan. Sebenarnya dia sudah menahan dirinya sedari tadi. Segala gerakan sensual dan wajah erotis yang Naruto tunjukkan sejak awal membuat hasratnya melambung tinggi hingga ia berpikir bahwa jika ia tidak mengontrol diri, Naruto akan terkoyak dengan lalimnya.
Jangan pernah membangkitkan singa yang tertidur, semua orang juga tahu itu.
"Berikan milikmu, kalau begitu." Ucap Naruto bersikeras. Mata Shikamaru menyipit.
"Jangan salahkan aku kalau kau terluka nanti." Balas Shikamaru seraya menegakkan dirinya. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Naruto dan memposisikannya di pangkuannya.
"Tidak a—AHHHHH!"
"Naruto…" Shikamaru mengerang pelan. Kejantanannya dicengkram dengan kuat oleh Naruto. Rasanya jauh lebih menakjubkan daripada ia merasakannya dengan jari. Ia sudah menduga bahwa ini akan terasa amat nikmat. Tapi dia tidak menyangka akan semenakjubkan ini.
Tanpa basa-basi lagi Shikamaru meraih pinggul Naruto dan menurunkannya dengan tenaga penuh sementara pinggulnya bergerak menghujam Naruto dari bawah.
"HIAAA! SHIKA! AH! AH! AHHHH!" Naruto berteriak kesakitan. Shikamaru masuk sangat dalam, begitu dalam hingga ia merasakan keberadaan kekasihnya itu di dalam perutnya.
Shikamaru tahu Naruto merasa kesakitan. Memejamkan matanya, Shikamaru berusaha berkosentrasi mencoba berbagai sudut untuk menemukan prostat Naruto sementara sebelah tangannya memanjakan milik Naruto.
Ia sudah mencoba di sebelah kiri sudut 45 derajat, dan ia tidak menemukannya. Masuk lebih dalam dan mencoba arah yang berlawanan hanya akan membuat Naruto tambah kesakitan.
'Kalau begitu…'
SLAM!
"UWAAAAA!"
Naruto meraung keras. Matanya terbelalak dengan tubuh melengkung ke belakang. Kedua tangannya memeluk dirinya sendiri saat sekujur badannya gemetar menerima kenikmatan luar biasa yang berasal dari pangkal tubuhnya.
"A-apa itu tadi?" tanya Naruto terbata dengan saliva mengalir dari tepi bibirnya. "Coba ulangi lagi…"
Seringai kemenangan terukir di bibir Shikamaru. Tanpa melepaskan kejantanannya, ia membaringkan Naruto dengan hati-hati.
"Naruto…" bisik Shikamaru lembut. Dielusnya pipi Naruto dan mencium dahinya. "Apa tidak apa-apa?"
Naruto merengut. Apa-apaan Shikamaru? Kenapa ia malah mengajaknya bicara saat ia mulai merasa senang?
"Apa maksudmu?" balas Naruto, berusaha menggerakkan pinggulnya sendiri. Ia dapat melihat Shikamaru mendesis, jelas sekali mati-matian menahan diri.
"Apa tidak apa-apa… bagiku untuk menyentuhmu seperti ini?"
Naruto terdiam sejenak sebelum wajahnya mulai melembut. Digenggamnya tangan Shikamaru yang mengelus pipinya, mencium tangan itu penuh perasaan.
"Apa aku terlihat keberatan, hm?" tanya Naruto balik. Shikamaru memberinya tatapan tak yakin.
"Aku bukan siapa-siapa, kau tahu itu…" ucapnya lagi dengan suara yang semakin lama semakin mengecil. "Tubuh orang seperti dirimu tidak pantas disentuh olehku. Kau bisa mendapatkan yang terbaik, Naruto."
Shikamaru tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Naruto, tapi kata-kata itu meluncur dengan sendirinya. Ia tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk menyentuh pria seperti Naruto. Ia tidak tahu sejak kapan ia menjadi pengecut seperti ini, namun ia sadar bahwa ini salah. Salah untuk Naruto yang telah memiliki tunangan, dan salah untuknya yang terlalu berharap…
Dia bukanlah orang yang tepat.
"Saat pertama kali aku melihatmu, Shika…" suara Naruto membuatnya mendongak, dan terkejut melihat mata biru itu berkilau. "Kupikir kau adalah salah satu dari orang yang paling cepat kupecat, dengan wajah malas dan kuapan ngantukmu yang menyebalkan itu." Lanjutnya terkekeh pelan. Tangannya mengelus punggung Shikamaru, sementara yang sebelah lagi masih memegangi tangannya.
"Tapi kau mengejutkanku. Dengan tangan ini," Naruto mengecup jemari Shikamaru. "Kau menggebrak mejaku, mengatakan bahwa kau mempunyai rencana yang lebih baik daripada melenyapkan sebagian wilayah perbatasan…" ucapnya nyaris menyerupai bisikan. "Dengan bibir ini," Naruto menempelkan bibirnya pada bibir Shikamaru. "Kau berteriak, mengatakan bahwa aku dan pikiranku sangat merepotkan…"
"Kau tahu posisimu sebagai bawahanku, tapi kau adalah orang pertama yang berani melakukan hal seperti itu padaku."
Darah Shikamaru berdesir kencang. Dia tidak pernah tahu Naruto mempunyai tatapan selembut itu, dan suara selirih itu. Dan ada apa dengan bibir Naruto yang bergetar halus di bibirnya ini?
"Aku mungkin seorang Kolonel, tapi aku juga manusia, Shika…" ucap Naruto di bibirnya. "Kau membangkitkan naluriku sebagai seorang manusia yang ingin disentuh oleh… oleh…"
Mata Naruto terpejam erat, bibirnya semakin bergetar. Kedua tangannya kini menyentuh dada Shikamaru, menenggelamkan kepala kuningnya di sana.
"Orang yang kucin—"
"To-tolong hentikan…" potong Shikamaru terbata-bata. Ditangkupkannya kedua tangannya di pipi Naruto dan mengangkatnya, menatap lurus mata biru itu. "Kau akan membuat keadaanku semakin merepotkan."
Senyuman kecil terulas di bibir Naruto. Perlahan ia meraih ikatan kuncir rambut Shikamaru dan melepas ikatannya, membuat rambut hitam Shikamaru terurai di kedua sisi wajahnya.
"Kau tampan, kau tahu itu?" jemarinya menyisir rambut panjang sebahu Shikamaru. "Kau memiliki semua yang kumau, jadi berhentilah menganggap rendah dirimu sendiri."
Sebuah ciuman di dahi Shikamaru mengakhiri segalanya. "Aku mencintaimu, dan itu sudah lebih dari cukup."
Napas Shikamaru menghilang entah kemana. Jantungnya berdegup kencang, dan aliran darahnya berdesir kencang. Angannya melambung tinggi seiring dengan kebahagiaan memenuhi tubuhnya.
"OH!" pekik Naruto ketika Shikamaru mendadak menggerakkan pinggulnya, menghujam prostat Naruto dengan kuat. Kedua lengannya yang kokoh memeluk Naruto erat, bibirnya menodai leher Naruto dengan lembut.
"AH, SHIKAMARU!" teriak Naruto seperti orang gila. Tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak pernah tahu bahwa seks bisa senikmat ini, semanis ini. Shikamaru terus membuatnya pusing dengan semua yang ia berikan. Kenikmatan, kehangatan, dan juga… kasih sayang.
"Naruto… Naruto…" desah Shikamaru bagaikan mantra. Seluruh sel dalam raganya meraung nikmat. Hati dan tubuhnya berseru kencang, membuat gerakan pinggulnya semakin cepat.
"More! Harder! Fas—GOSH! HYAAA!" kedua tangan Naruto terangkat kesisi kepalanya, menyerah. Shikamaru semakin menggila, seorang petinggi militer yang selama ini ia hormati pasrah di bawahnya, berteriak memanggil namanya.
"Nikmat sekali, Shika! No—NGH!" Naruto memekik tertahan ketika Shikamaru mengangkat sebelah kakinya agar bertumpu di bahunya, melesakkan kejantanannya semakin dalam.
Naruto melihat bagian persatuan mereka. Ia bisa melihat bagaimana dirinya dimasuki oleh kejantanan Shikamaru. Keluar masuk dengan cepat, menghentak. Pinggulnya seakan terdorong ke tenggorokannya saat lubangnya digempur habis-habisan. Ia juga bisa melihat betapa kerasnya kejantanan Shikamaru, merah dengan urat berkedut-kedut. Tapi yang membuatnya melenguh adalah lubangnya yang memakan Shikamaru dengan lahapnya, merekah dan menghisap Shikamaru ketika ia menarik keluar, meremas ketika mendorong ke dalam.
Shikamaru mengikuti arah pandang Naruto. Napasnya semakin memburu melihat betapa erotisnya pemandangan di bawah sini.
SLAMM!
"AAA!" Naruto tersentak. "SO-SO GOOD! Hah… hah— A-apa yang kau la—ngghh… lakukan pada anusku, Shika? I-ini sangat ni… ni—OHHH! INI NIKMAT SEKALI, DAMN IT! Ah! AH!" racau Naruto tanpa henti. Ia seperti orang kerasukan. Ia terus mendesah, mengerang, merintih, melenguh, dan meraung tanpa henti. Malam yang seharusnya tenang menjadi begitu panas tak tertahankan. Shikamaru pun kehilangan kendalinya, mengikuti jejak Naruto yang entah sejak kapan menjadi begitu liar.
Malam itu adalah awal dari semuanya, dan awal dari tahun-tahun kebersamaan mereka.
.
.
.
Naruto menggeliat tak nyaman, menggesek-gesekkan kakinya ke permukaan tempat tidur. Kerasnya busa, suara decitan per, dan bau apek menguar dari bidang yang tengah ditidurinya. Membuka sebelah matanya, Naruto baru akan membuka mulutnya untuk mengumpat tentang betapa terhinanya dia karena mendapati kasurnya yang empuk berubah menjadi kasur para budak sebelum ia menyadari adanya sosok lain di hadapannya.
Pupilnya mengecil seketika, seiring dengan naiknya bulu kuduk di tengkuknya.
"Holy shit!" seru Naruto seraya merapatkan dirinya selekat mungkin di dinding. Wajahnya begitu pucat seakan baru melihat hantu. Otaknya yang masih belum berfungsi benar berusaha mencerna pemandangan awkward di depannya.
Dia tidak pernah—dan tidak akan pernah—memiliki ketertarikan untuk memperbolehkan seseorang selain Shikamaru menitipkan bokong di kasurnya. Apalagi tidur dengan begitu bebas, mendominasi kasurnya begitu saja.
Lalu sebenarnya apa yang terjadi disini?
"Ngh…"
Mata biru laut Naruto mengerjap cepat dan segera menajamkan penglihatannya. Lensanya menangkap pergerakan sosok itu yang mulai menggeliat pelan. Mengerutkan dahinya, Naruto melempar pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Crap!"
Pemuda itu mengumpat kasar. Sekarang ia ingat dimana dia dan apa yang telah terjadi padanya. Membuat kekacauan di kedai minum, dipenjara sampai jaminan dari Headquarter datang, dan ditempatkan satu sel dengan tentara rendahan Negara Api.
Benar-benar sial.
"Hei kau, bangun dan segera enyahkan tubuh ringkihmu dari sini!" seru Naruto seraya mengguncang-guncangkan tubuh itu dengan kakinya, dan segera mengerenyit jijik saat kakinya tanpa sengaja bersentuhan langsung dengan punggungnya.
Slap!
"Apa kau pernah diajari sopan santun di negaramu, Sampah?" sebuah suara berat dengan aksen Timur yang kental memasuki pendengaran Naruto. Tercenung sejenak, Naruto menatap sosok Sasuke tanpa berkedip sedikitpun. Bahkan denyutan nyeri di kakinya akibat tamparan keras Sasuke tidak diacuhkannya.
Seluruh dunia pun tahu; Naruto lemah terhadap yang cantik-cantik.
"Kenapa takdir begitu tolol memberikan anugerahnya pada seorang pecundang?" gumam Naruto tanpa sadar, miris sekaligus tak terima melihat kenyataan yang terlalu kejam padanya. Dan begitu ia menangkap memar biru di pipi sosok dewa itu, Naruto mau tak mau merasa lega karena setidaknya ia masih mampu untuk memukul Sasuke.
"Baka." Dengus Sasuke dingin, menyeringai puas melihat lebam yang diberikannya di mata kiri dan lengan Naruto kini semakin membiru. Oh yeah, sepertinya dipenjara sehari tidak buruk juga.
And now think about it. Penjara Mizugakure hanya melepaskan tentara yang menjadi tahanan setelah mendapat jaminan dari Headquarter negara masing-masing yang harus di tanda tangani oleh Kolonel dan Para Petinggi. Tanpa ada jaminan, maka menjadi tahanan seumur hidup bukanlah mimpi belaka.
Dahi Sasuke berkedut.
Bagaimana bisa ia keluar dari sini jika ia tidak bisa mendapatkan jaminan? Dia kabur dari negaranya! Dan siapa yang bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh Para Petinggi—khususnya ayahnya—jika ia ketahuan meninggalkan negara saat penyerangan?
Demi Manda, dia tidak pernah merasa seidiot ini sebelumnya.
"Tahanan sel 23," serempak mereka berdua menoleh kearah pintu sel mereka, dimana seorang penjaga berseragam seadanya mengetuki jeruji sel dengan tongkat panjang. "Takahashi dan Menma. Kami akan mengadakan pemeriksaan sel. Berkumpul di aula, sekarang."
Naruto sedikit mengerenyit mendengar seseorang memanggilnya dengan nama samaran. Dia terbiasa dipanggil dengan nama yang 'lebih terhormat'.
Tapi seterhormat apapun namanya yang selalu disebut dengan embel-embel kebesaran, dia tetap paling senang ketika Shikamaru yang memanggil namanya.
Naruto. Hanya Naruto. Bukan Sir Uzumaki, Kolonel, atau kata-kata 'wah' lainnya. Mendengar nama kecilnya disebut dengan suara berat yang terkesan malas namun tetap seksi itu membuat angannya melambung tinggi.
Ya, dia sangat suka. Terlebih jika kekasih rusanya itu meneriakkan namanya saat mencapai orgasme hebat, membuat tubuh maskulin itu bergetar dalam kenikmatan yang manis setiap malam. Lalu saat sang letnan pertama membisikkan kata 'terima kasih' dan memeluknya dengan tubuh bercucuran keringat. Seperti mimpinya ta—
Tunggu.
Naruto memandangi bagian tengah celananya yang entah sejak kapan menggembung.
'Fuck you, Shikamaru. Bahkan bayanganmu saja sudah membuatku berada dalam masalah.' Geram Naruto mencoba mengendalikan dirinya untuk tidak kabur dari penjara, kembali ke negaranya dan melemparkan tubuhnya ke pelukan Shikamaru.
"Apa ada masalah, Menma-san?"
Dengan getir Naruto mengangguk, berusaha menyembunyikan sumber masalahnya dan tidak mengacuhkan pandangan dingin sosok cantik di sampingnya.
"Err… keberatan jika aku menggunakan kamar mandi dulu?"
Ingatkan dia untuk mengurung Shikamaru dan mengikatnya agar ia bisa 'bermain' sepuasnya setelah kembali ke Negara Angin nanti.
.
.
.
Nara Shikamaru sadar betul bahwa posisi yang diemban kekasihnya itu bukan posisi main-main. Kekuasaan nyaris tak terbatas untuk menggerakkan tentara negara dan dapat berunding langsung dengan Para Petinggi bukanlah keistimewaan yang bisa dimiliki oleh sembarang orang. Latar belakang politik yang kuat dan kemampuannya yang mampu memukau para skeptis sekalipun menjadikan Uzumaki Naruto—kekasihnya—bagaikan sosok agung yang tak tersentuh.
Bukan hal yang mudah untuk menjalin hubungan dengan orang dengan derajat setinggi itu, terlebih jika dia hanyalah seorang letnan. Derajat mereka terlalu berbeda, dimana ia hanya orang biasa yang diberi sedikit anugerah berupa kecerdasan, tidak lebih
Sementara Naruto? Sebutlah dia prodigy di depan semua orang, dan mereka akan mengangguk tanpa ragu. Terlahir dari keluarga Uzumaki yang mendominasi kursi pemerintahan dengan reputasi melahirkan generasi sempurna tanpa cela. Bergabung di pasukan elit pada usia 15 tahun dan langsung mendapat kepercayaan untuk memimpin Batalyon I di garis depan.
Kekasihnya merupakan tentara termuda yang diterima di Wind Country Elite Force—Pasukan Elit Negara Angin—dan langsung mendapat kepercayaan untuk memimpin Batalyon II di Frontline. Ia baru berusia 14 tahun waktu itu dan lulus dari pelatihan hanya dalam kurun waktu 2 tahun. Naruto sudah bertarung di garis depan sementara ia masih menjalani pelatihan. Dan ketika ia berhasil mendapat jabatan tertinggi, ia—Nara Shikamaru—hanya mampu memegang jabatan letnan.
Perbedaan yang sangat jauh.
Karena itu ia tidak habis pikir mengapa Naruto mau menjadi kekasihnya sementara banyak orang yang lebih baik di luar sana. Bahkan ia sudah dijodohkan dengan Hyuuga Hinata, calon pemimpin keluarga Hyuuga. Wanita anggun, bangsawan terhomat. Jika mereka berjalan beriringan, mereka akan terlihat seperti dua potongan puzzle yang menyatu.
Lagipula, sebenarnya dia tidak mengerti mengapa ia bisa jatuh ke dalam cengkraman Naruto bahkan setelah ia mengetahui semua itu. Walaupun kekasih pirangnya itu luar biasa, sifat aslinya ternyata jauh dari bayangan orang. Dia keras kepala, tidak suka dibantah, mulut beracun, suka seenaknya, dan manja.
Senyum simpul terukir di bibir Shikamaru. Siapa yang menyangka bahwa Naruto mempunyai sisi manis seperti itu? Menyusup ke ke kamarnya di asrama hampir setiap malam hanya karena ingin dipeluk, membisikkan kata-kata mesra sebelum jatuh tertidur di lengannya, dan bangun dengan geliat manja yang menyebabkan mereka butuh waktu ekstra untuk menenangkan diri.
"Letnan?"
Shikamaru terkesiap, cepat-cepat mendongakkan kepalanya dan mendapati sekretaris Naruto memandangnya dengan dahi berkerut.
"Anda baik-baik saja? Saya sudah berkali-kali memanggil Anda dan sepertinya Anda bahkan tidak sadar bahwa saya ada disini." Lanjutnya lagi sembari menahan senyum. Kapan lagi ia bisa melihat letnan jenius yang amat dibanggakan Kolonel mereka melamun seperti gadis remaja?
Senyum canggung menghiasi bibir pemuda itu. "Saya baik-baik saja. Dan…" Shikamaru melemparkan pandangan bertanya. Sang Sekretaris mengangguk sedikit sebelum menyerahkan sebuah surat lusuh pada Shikamaru.
"Surat ini baru datang tadi pagi, dibawa oleh perwakilan dari Mizu…" jelasnya hati-hati, sepertinya ada sesuatu yang cukup menganggunya.
"Dan dia menyebutkan sesuatu tentang 'tidak tahan alkohol', jika Anda ingin informasi tambahan."
Wajah Shikamaru memucat seketika. Satu-satunya orang yang cukup keras kepala untuk meminum minuman keras walaupun segelas cocktail saja mampu membuatnya tumbang, satu-satunya orang yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencoba minuman lain selain jus ketika Shikamaru tidak ada hanya dia.
Dengan tak sabar Shikamaru membuka amplop itu. Kekhawatirannya semakin bertambah saat ia menyadari bahwa seharusnya segala surat yang datang dari negara lain dikirim ke kantor Kolonel atau wakilnya.
Bukan kepada letnan yang bertanggung jawab untuk urusan strategi seperti dirinya.
"Sudah kuduga, kucing betina itu…" desah Shikamaru putus asa. Dia tidak menduga bahwa Naruto yang selalu bersikap penuh perhitungan itu bisa jatuh hanya karena sake.
Walau mungkin ia juga ikut andil dalam masalah kali ini. Pertahanan Naruto yang lemah terhadap minuman beralkohol membuat Shikamaru mengawasinya secara ketat, sehingga di usianya yang sudah kepala dua, Uzumaki Naruto, Pimpinan Kemiliteran Negara Angin hanya boleh minum air putih dan jus. No tea or coffee—kafein akan membuatnya ketagihan.
"Kucing betina?" suara yang terdengar bingung membuyarkan lamunan Shikamaru. Pemuda itu tersenyum simpul, senyuman yang menambah kharismanya hingga siapapun—termasuk sekretaris muda itu—akan tertegun melihatnya.
"Ya, sepertinya Negara Mizu menemukan kucing betinaku disana." Ucap Shikamaru tanpa melepas senyumnya. "Dan sepertinya ia membuat masalah."
Sekretaris itu terkikik geli. "Oh, dan ini laporan hari ini. Topik kucing ini membuatku nyaris melupakan tugasku yang lain."
Shikamaru meraih laporan yang diberikan gadis itu dan membacanya. Seketika dahinya berkerut. "Kau yakin?"
Anggukan pasti menjadi jawabannya. "Jangan meremehkan keluarga Hyuuga, Nara-san."
Shikamaru menguap malas, tapi matanya seolah menyeringai. "Kau ini benar-benar merepotkan—"
"—Hanabi."
.
.
.
"Kau yakin dengan semua ini?"
Minato menganggukkan kepalanya sedikit sebelum mendongak dan memberikan tatapan yakin pada lawan bicaranya. Seorang pemuda berambut merah menatapnya serius, menginginkan jawaban yang memuaskan.
"Tentu saja, Yang Mulia. Putra saya akan melaksanakan perintah Anda dengan sempurna."
"Apa tidak apa-apa jika Kolonel Uzumaki sendiri yang turun tangan? Kalian Para Petinggi tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ia masih dibutuhkan Negara Angin. Jika terjadi sesuatu padanya, negara akan berada dalam masalah." Sahut Gaara cepat. Sebagai presiden, dia tidak ingin negaranya yang akhirnya mendapatkan kolonel yang handal mengalami kehilangan sebesar itu.
Senyum tipis terulas di bibir Minato. "Kami sudah sepakat, Gaara-sama. Anda tidak berpikir misi ini bisa dilakukan orang lain, kan?"
Gaara diam. Perkataan Minato ada benarnya. Misi membunuh kolonel Negara Api bukan misi yang bisa diemban sembarang orang. Apalagi ini adalah misi rahasia. Kalaupun misi ini gagal, kemungkinan Naruto terekspos oleh negara musuh amat kecil, dan siapapun tak akan mengira bahwa mereka akan mengutus kolonel mereka untuk menyusup ke Negara Api. Jadi Naruto bisa berbohong soal identitasnya dan mereka tidak akan mencurigai Naruto sebagai pemimpin kemiliteran Negara Angin.
Tapi tetap saja…
"Tidak ada lagi yang bisa kukatakan, terlebih Uzumaki sudah bergerak ke daerah musuh…" ucap Gaara. "Tapi aku ingin kalian melakukan sesuatu. Kirimkan Aburame ke posisi Uzumaki, dia pembawa pesan terbaik kita dan sampaikan ini pada Uzumaki." Gaara menyodorkan secarik surat pada Minato yang langsung mengangguk dan melesat pergi.
Gaara memandang keluar jendela. Kerutan samar tercetak di dahinya.
'Berhati-hatilah pada keluarga Hyuuga, Uzumaki.'
.
.
.
Oh, yeah… hiatus yang lama sekali. Hahaha… *ketawa canggung. Gomen ne, Ita sibuk banget ama UN dan SNMPTN, jadinya yah… *garuk-garuk kepala.
Oh ya, mungkin chapter depan bakal jadi lebih serius. Dan jika ada yang terganggu ama lemon Shikanaru, author minta maaf. Udah masuk scenario, soalnya…
Ita nggak bisa bales reviewnya semua, tapi Ita akan jawab pertanyaan yang paling banyak muncul.
'Ini pairingnya SasuNaru. Ingat ya, SasuNaru, atau bisa dibilang SasuNaruSasu. Soalnya Ita agak bosen sama Sasuke seme yang cool, pendiam, dingin, pokoknya lebih macho dari si uke. Bukannya nggak suka, tapi pengen nyoba sesuatu yg beda. Bukannya lebih menarik, kalau pas dari luar keliatannya dia lemah, cantik, mulus, pendek… tapi dalemnya beda. Sekilas ga akan ada yang nyangka sifat dominannya bisa buat Naruto yang lebih tinggi dan keliatan kuat takluk. Uwooo… bayanginnya aja nosebleed nih *mesum parah. Intinya seme like uke, dan uke like seme. Hohoho…'
So, please review?
