Perfect Nanny
.
Donghae Eunhyuk
.
Chaptered, Yaoi, Homo, Typos, alur lambat.
.
Remake from Perfect nanny candidate. Sasunaru fanfiction by haraguroi harikin
.
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
"Jika butuh bantuan, hubungi aku langsung dan jangan sungkan ."
Lagi-lagi pipi Hyukjae memanas ketika mengingat-ingat apa yang di katakan pemuda tampan yang bernama Donghwa itu padanya. Hyukjae menghela nafas, menundukkan wajah. Kata-kata orang itu, entah kenapa terdengar sangat heroik.
.
.
oOo
.
Saat ini tengah Hyukjae menatap layar handphone di tangannya sambil sesekali menggigit bibir bawahnya, ia ragu apakah harus menghubungi Donghwa atau tidak. Mereka itukan baru saja bertemu. Apa iya Donghwa akan membantunya?
Hyukjae Memantapkan hati, dan juga karena keadaan yang mendesak sekarang, dengan segera ia mencari nama Donghwa di kontak
handphonenya, menghubungi pemuda tampan itu .
Untuk beberapa detik hanya terdengar suara dari nada sambung. Rasanya kenapa berdebar begini, sih?
"Ya?"
Hyukjae tersentak mendengar suara di seberang sana. Donghwa mengangkat panggilannya.
"D-Donghwa Hyung, ini aku, Hyukjae."
"Ah, Malaikat Manis. Jadi, mau menemuiku dimana?"
"Kau—" ternyata dia tahu kalau Hyukjae ingin menemuinya.
"Terlalu to-the-point sekali."
Hyukjae bisa mendengar tawa Donghwa di seberang sana. Dia mentertawakan dirinya sendiri kah ?
"Maaf ya, mungkin itu kebiasaanku." Donghwa berdehem.
"Kita bertemu setengah jam lagi. Akan aku kirim alamatnya ke nomormu oke?"
"Sampai bertemu setengah jam lagi, bye."
"Hei—Donghwa Hyung!" Hyukjae menatap layar handphonenya kesal. Apa-apaan dengan si Donghwa Hyung itu? Ugh, pria itu seenaknya saja.
.
.
oOHaeHyukOo
.
Hyukjae mengaduk-aduk ramyeon yang ada di hadapannya dengan pandangan tidak selera. Bukannya ia tidak suka dengan makanan yang tersaji di depannya, Tapi mungkin, tidak untuk mie yang satu ini.
Hyukjae bahkan belum mencobanya sejak sepuluh menit yang lalu, ketika pelayan itu menyajikannya.
Setelah menelfon Donghwa, setengah jam kemudian Hyukjae bergegas menuju ke tempat dimana Donghwa ingin bertemu dengannya.
Jujur saja, ia sangat kaget ketika Donghwa mentraktirnya makan. Tapi, lebih kaget lagi ketika tahu dimana tempat Donghwa akan mentraktirnya.
Tempat makan di sudut gang kecil yang jauh dari jalan raya. Sempit dan sumpek? Ah, entahlah. Ini bahkan tidak terlihat seperti tempat makan.
"Kalau tidak cepat di makan, nanti bisa mengembang Ramyeonnya." Hyukjae menoleh ke arah Donghwa.
"Nanti malah tidak enak untuk di makan. Sayang kan?"
"Kau—" Hyukjae mendesis, menunjuk mie di mangkuknya.
"Serius ingin membuatku makan ini?" Hyukjae berusaha tidak mengeluarkan suara yang keras. Yah, bagaimanapun Hyukjae memiliki etika.
"Kau gila!" Donghwa terkekeh mendengarnya.
"Memangnya kenapa? Tidak buruk kok." Hyukjae menatap Donghwa dengan pandangan tak percaya. Orang di sampingnya ini telah menghabiskan Ramyeonnya? Tidak keracunan kah ia?
"Ini tempat yang kotor Hyung." Ujar Hyukjae.
"Mana mungkin kita bisa makan di tempat macam ini? Kau bisa keracunan!"
Donghwa menghela nafasnya.
"Aku telah menghabiskan satu mangkuk, apa aku terlihat keracunan?" Hyukjae menggeleng.
"Percayalah, ramyeon ini enak, tidak seburuk tampilannya atau tempat di jualnya. Aku sering kesini."
Seorang Donghwa sering makan disini? Yang benar saja! Hyukjae menatapnya tak percaya.
"K—kau bercanda?"
"Sama sekali tidak." Donghwa tersenyum menatapku.
"Makanlah. Aku tahu dari tampilanmu selama ini kau selalu makan di restoran mewah. Di samping itu, belajarlah untuk bersyukur untuk segala yang kau dapatkan."
Hyukjae tertegun mendengar kata-kata Donghwa.
Mungkin benar katanya, ia tidak pernah bersyukur atas segala yang sudah ia dapatkan, mungkin sekarang waktunya untuk belajar.
Hyukjae tersentak ketika tangan hangat Donghwa menyentuh pipinya.
"Makanlah." Donghwa tersenyum.
Hyukjae balas tersenyum dan menganggukan kepala.
Hyukjae mulai menyeruput Mie yang sedari tadi enggan untuk di sentuh. Betapa terkejutnya ia merasakan mie yang hampir dingin ini.
Rasanya bahkan lebih enak daripada yang di sajikan oleh Restoran ternama.
Hyukjae menatap Donghwa.
"Enak!" Donghwa tersenyum mendengar ucapan Hyukjae, dan mengusap sudut bibirnya.
"Makanlah."
Hyukjae mengangguk, memakan mienya lagi. Sementara Donghwa kini sedang memesan makanan lain untuknya sendiri.
Pelajaran yang Hyukjae dapatkan kali ini adalah Bersyukur .
.
.
.
oOHaeHyukOo
.
.
.
Hyukjae sedang meminum susu kotaknya sambil mengayunkan kakinya agar ayunan yang di naikinya ini bergoyang. Setelah acara makan siang bersama tadi, pemuda itu mengajak Hyukjae ke tempat pertama kalinya mereka bertemu.
Hyukjae melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sekitar lima belas menit yang lalu, lelaki itu izin untuk mencari kamar kecil. Tapi kenapa sampai sekarang belum kembali?
Sore hari begini, tempat ini cukup ramai di datangi oleh beberapa orang tua yang membawa anak mereka bermain atau beberapa pasangan yang nampak bermesraan di tempat umum macam ini.
Mata Hyukjae tertuju pada beberapa anak kecil yang sedang bermain beberapa meter darinya. Mereka tampak saling berkejaran, mendorong satu sama lain, berteriak dan akhirnya terjatuh. Sebagai tambahan, menangis.
Hyukjae sedikit meringis mendengar suara tangisan salah satu anak kecil yang tadi berlari-larian itu, tidak lama ada sesosok wanita yang menghampirinya, mungkin Ibunya? Dan wanita itu memarahi teman-teman anaknya.
Melayangkan tatapan aneh pada apa yang ia lihat di depannya. Hyukjae berpikir Anak wanita itu juga kan salah, kenapa dia tidak memarahi anaknya juga? Itulah yang tidak Hyukjae suka dari anak kecil. Nakal tapi cengeng. Walaupun kadang mereka terlihat menggemaskan, manis, dan lucu. Pokoknya Hyukjae mendeklarasikan dirinya tidak suka anak kecil. Titik.
Hyukjae tersadar dari pergulatan pikirannya ketika seseorang menepuk pucuk kepalanya lembut.
"Donghwa Hyung." Lelaki itu berjalan ke hadapan Hyukjae yang sedang duduk di ayunan.
"Lama sekali." Hyukjae memajukan bibir tanda ia kesal pada pria itu.
Donghwa tersenyum.
"Maaf, maaf." Lelaki itu memilih duduk di ayunan tepat di sebelah Hyukjae sambil menatap lurus ke depan. Hyukjae terus saja memperhatikannya.
Beberapa detik terdiam, Donghwa menoleh ke arah Hyukjae yang memang sedari tadi masih memperhatikan dirinya.
"Hyukjae, kau ingin bekerja 'kan?"
"Tentu. Makanya aku minta bantuan Donghwa hyung." Hyukjae mengangguk.
"Ada apa Hyung?"
"Sebetulnya ada pekerjaan untukmu." Hyukjae menatap Donghwa penasaran.
"Apa itu, apa itu?" tanya Hyukjae antusias.
"Pekerjaannya tidak terlalu sulit. Tidak terlalu melelahkan buatmu, dan baiknya ini pekerjaan tidak berhubungan dengan dunia luar. Aku tahu kau paling tidak mau tersorot matahari." Hyukjae tertawa mendengarnya.
Iya, Hyukjae memang paling malas dengan pekerjaan di luar ruangan dan terkena sinar matahari. Kulitnya yang berwarna putih susu itu akan mudah sekali memerah ketika terkena paparan sinar matahari.
"Apa itu?" Tanya Hyukjae penasaran. Donghwa tampak berpikir sesaat, lalu menatap Hyukjae serius.
"Tapi kau harus janji mau bekerja di tempat ini, aku malas mencarikan pekerjaan lagi." Hyukjae menelan ludah ketika mendengar Donghwa bicara. Kenapa nada bicaranya jadi serius begitu?
Hyukjae mengangguk ragu-ragu. Donghwa tersenyum puas.
"Kau mau kan menjadi Nanny ?"
A-Apa? Tadi Donghwa bilang apa? Hyukjae menatapnya bingung.
"Huh?"
"Menjadi Nanny , tidak sulit kan?" ujarnya lagi.
Huh? Apa tadi? Nanny ? Tapi,
" N—Nanny itu kan perempuan!" pekik Hyukjae.
"Lagipula pekerjaan macam apa itu?"
Donghwa tampak mengusap telinganya setelah mendengar teriakan Hyukjae.
Eh? Apakah ia berteriak sangat keras? Hyukjae menatap sekeliling, beberapa orang memandang Hyukjae bingung. Hyukjae menundukan wajahnya, mengisaratkan meminta maaf pada mereka, dan setelah itu mereka kembali pada aktivitasnya masing-masing. Oh, God ! Hyukjae malu sekali.
"Donghwa Hyung, kau bercanda kan?" Hyukjae menatap Donghwa yang masih mengusap telinganya, terbesit rasa bersalah di benak Hyukjae karena teriakannya. Tapi, itu kan salahnya mengagetkan orang dengan kata-katanya itu.
"Apa salahnya Hyukjae?" Hyukjae memandang Donghwa sengit. Tentu saja salah! Nanny kan kata yang—biasanya—di pakai untuk pengasuh anak.
Lagipula, "Kau mau aku jadi pengasuh anak?" tanya Hyukjae tidak percaya.
"Aku dengar ada yang memerlukan pengasuh anak." Hyukjae menggeleng tanda tidak setuju.
Hyukjae kan sangat tidak suka anak kecil yang cengeng, nakal, dan bau ompol .
Donghwa menghela nafas, ia seakan dapat membaca pikiran Hyukjae yang masih setia melemparkan tatapan sengitnya.
"Ayolah, Hyukjae. Pekerjaan ini tidak terlalu merepotkanmu. Anak yang nanti akan kau urus juga berusia empat tahun, anak seusia itu tidak akan terlalu nakal. Dan juga tidak akan mengompol." Jelasnya.
"Upah yang di tawarkan oleh keluarga itu juga lumayan besar untuk pekerjaan yang tidak terlalu rumit. Kau hanya perlu mengawasi anak kecil saja."
Hyukjae menggigit bibir bawahnya berpikir akan tawaran tersebut. Iya sih, keadaannya saat ini benar-benar sedang di ujung jurang, uang habis, dan lagi ia juga harus mendapatkan uang untuk makan dan bayar sewa. Tapi, anak kecil? Hyukjae kan tidak suka anak kecil.
"Ehm, dan lagi," Hyukjae menoleh kearah Donghwa yang kembali bersuara.
"Kau akan tinggal disana. Jadi tidak perlu pusing membayar sewa tempat tinggalmu atau makan. Mereka menanggungnya."
Hyukjae melongo. Wow, bukankah itu hal bagus untuknya? Sudah di bayar, di fasilitasi tempat tinggal dan di kasih makan pula! Sebagai gantinya ia harus mengurus anak kecil bau ompol dan nakal, walau kata Donghwa anak empat tahun sudah tidak mengompol sih.
"Tapi, Hyung," Hyukjae membayangkan sesuatu.
"Aku tidak akan di suruh berpakaian seperti ' Nanny ', kan? Kau tahu maksudku kan?" Hyukjae menatap Donghwa. Yah, berpakaian seperti maid-maid yang ada di Anime atau bacaan fiksi yang sering di baca sahabatnya itu, membuat Hyukjae geli membayangkannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Hyukjae, Donghwa malah tertawa terbahak, membuat Hyukjae yang melihatnya bingung.
"Ya Tuhan, Hyukjae," bisa di lihat Donghwa mencoba menghentikan tawanya.
"Jadi itu yang kau takutkan? Di suruh berpakaian layaknya Maid ?" Hyukjae mengangguk. Yah, bukan hanya itu saja sih. Tapi itu memang salah satunya.
Donghwa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum aneh.
"Ada-ada saja kau ini. Tentu saja tidak! Kau ini kan laki-laki." Ucapnya.
"Kau hanya perlu mengasuh anak kecil berusia empat tahun, itu saja. Tidak ada persyaratan konyol macam itu."
Hyukjae menunduk malu, itu kan yang terlintas di pikirannya ketika Donghwa menyebut kata 'Nanny'.
"Kau yang bilang ' Nanny '! Wajar aku berpikir begitu." Hyukjae menyalahkan Donghwa.
Donghwa menghela nafas berat. "Itu kan hanya perumpamaan untuk pengasuh anak, Hyukjae." Hyukjae mengangguk lesu, merasa tidak enak pada Donghwa karena ia telah berpikir yang aneh-aneh.
Lelaki itu memandang Hyukjae sambil tersenyum.
"Jadi, bagaimana?"
Hyukjae menimang-nimang menerima tawaran Donghwa atau tidak. Sungguh sebenarnya ia ingin sekali menerimanya, namun jika mengingat-ingat yang harus ia lakukan adalah mengurus mahluk yang tidak ia suka—anak kecil. Hyukjae sedikit ragu.
Entah kapan Donghwa telah berada di hadapannya, Hyukjae baru sadar ketika lelaki itu berjongkok dan memegang tangannya, mata itu menatap Hyukjae.
"Tenang saja. Jika kau butuh bantuan, aku akan datang dan membantumu." Tangan Donghwa menangkup pipi kanan Hyukjae.
"Semua akan baik-baik saja."
Hyukjae menelan ludahnya. Rasa hangat ini seperti mengalir ke seluruh tubuh. Perasaan ini, Hyukjae merasa aman dan terasa di lindungi.
Hyukjae mengangguk, sudah di putuskan ia menerima tawaran Donghwa.
"Aku mau bekerja sebagai pengasuh. Tapi," Donghwa memandang Hyukjae penuh tanya. Hyukjae tersenyum.
"Ketika aku dalam zona tidak nyamanku, kau akan jadi orang nomor satu yang kelimpungan, Hyung. Kau harus menjagaku, Pangeran Tampan."
Donghwa tersenyum.
" Baiklah ," Dia berdiri dan menggenggam tangan Hyukjae, mengajak Hyukjae untuk ikut berdiri dengannya. Sungguh terkejut ketika ia sadar bahwa Donghwa membawanya ke dalam kepelukan.
"Do-Donghwa Hyung."
"Mulai sekarang," Donghwa berbisik, Hyukjae merinding merasakan hembusan nafas lelaki itu di tengkuknya.
"Aku akan menjadi pelindungmu, Hyukjae."
.
.
.
.
.
To be next episode...
.
.
.
Cieeee full of Donghwa x Hyukjae moment XD
Jangan keroyok Donghwanya yakk
Tenang aja ini bener bener ff HaeHyuk kok XD
Chap depan kayanya Donghaenya bakal muncul nih hayoo
Aku mau sedikit curhat, ffn suka error ya?? Inikan udah chap 3 tapi di ffn kemarin pas di cari ff ini muncul cuma 1 chapter aja, tapi kalau udah di buka baru ada chap lainnya, ihh kok sebel ya error gini...
Si kakaknya jisung nyuruh aku pindah ke wattpad aja masaa hehehe
Oh dan buat scarlenjeon aku udah jelasin di atas di tiap chap, udah ada notice juga di chap dua. Yupss ini remake dan aku udah mengantongi ijin untuk remake ini. :)
Terakhir kata, aku tagih riview kalian hahahah XD
