Hallo Minna! Maaf banget ya ini lama updatenya... Light banyak tugas sekolah nih... Masa nih ya, buku Lembar Kerja Siswa selama satu semester harus Light kerjakan dalam waktu 1 malam. Itu baru satu pelajaran... Hah! Inspirasi jadi menguap semua! Gak tahu lah... cape menghadapinya.
Oke, cukup curhatnya. Langsung aja,
Detective Conan by Aoyama Gosho
Be Patient For Me Please! Episode 2 by Diamondlight96
WARNING : Little OOC, just my imagination.
"HUAAAAAHH! Hah… hah… ha… Tid…dak…" seru seorang wanita yang terbangun dari tidurnya kala itu. Dia mengerjapkan matanya lalu memandangi menyeluruh ruangan tempatnya sekarang. Peluh menuruni pelipisnya. Nafasnya menderu tidak teratur dan jantungnya berdegup kencang melebihi frekuensi biasanya. Dia memejamkan matanya sekejap lalu menghirup oksigen melalui hidungnya. Tidak lama kemudian, dia keluarkan lagi udara dari mulutnya. Setelah itu dia membuka matanya dan turun dari ranjangnya. Berjalan menuju satu-satunya cermin di ruangan itu.
"Kau terlalu berlebihan, Shiho…" gumam wanita itu saat memandangi bayangannya di cermin. Lalu, dia menyunggingkan senyumannya dan segera berbalik menuju pintu keluar ruangan itu –tempat penelitian sekaligus kamarnya. 'Beruntung yang tadi itu hanya mimpi buruk..', gumamnya.
"Kau sudah bangun? Segeralah siap-siap kita akan segera berangkat ke pernikahannya Shiratori dan Kobayashi…" ucap Agasa yang kini tengah sibuk mempersiapkan jas yang akan dipakainya ke acara pernikahan itu. Shiho menggelengkan kepala dan segera menuju ke arah dapur untuk mengambil segelas air putih dingin dan meminumnya.
"Aku tidak akan pergi kesana…" ujar Shiho yang segera pergi menuju ruang TV dan duduk disana. Mengambil remote TV dan menyalakan TVnya.
"Hah? Kenapa?" tanya Agasa bingung. Dia menghentikan aktifitasnya dan menghampiri Shiho. Menatapnya dengan kerutan yang tampak jelas menggambarkan kebingungannya.
"Tidak… hanya sedang tidak enak badan saja…" ucap Shiho dengan datar. Pandangannya lurus ke depan TV. Tapi, pandangan itu tidak fokus pada TV, pandangan itu kosong dan hampa. Seolah apa yang dilihat mata itu bukanlah TV, melainkan hal lain yang menjadi slide-slide yang berkeliaran di otaknya.
"Ayolah… ini undangan langsung dari Shiratori dan Kobayashi looh… lagipul-"
"CUKUP!" potong Shiho. Dia segera berdiri dari duduknya dan pergi menjauhi Agasa yang terkejut atas sikap yang diterimanya. "Maaf Prof… aku sedang ingin sendiri… aku akan pergi… tenang saja," ucap Shiho. Kemudian dia semakin menjauhi Agasa yang duduk bingung di bangkunya.
"Hah…" Agasa hanya bisa menghela nafas saja. Jujur, dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan kali ini?
Agasa pun beranjak dari tempatnya dan pergi menuju kamarnya untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahan malam ini.
TING TONG
Suara bel rumah Agasa berbunyi. Dengan malas dia berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu pada tamunya.
TING TONG TING TONG
"Iya… tunggu!" seru Agasa. Lalu dia pun membukakan pintunya.
"Eng? Kamu…" suara Agasa sedikit tertahan.
"Hai…! Aku Subaru Okiya… tetanggamu… bolehkah aku bertemu dengan nona cantik penghuni sini? Kemarin aku melihatnya.. aku tertarik padanya. Tadinya aku mau berkenalan, tetapi dia tidak juga mau memberikan jawabannya tentang siapa namanya," ucap orang yang mengaku bernama Subaru Okiya itu panjang lebar. Agasa terdiam dan melihat tubuh Subaru mulai dari atas sampai bawah.
Subaru yang menyadari hal itu merasa tidak enak dilihat seperti itu. Akhirnya dia mendekatkan wajahnya ke wajah –tepatnya telinga- Agasa dan membisikan sesuatu. "Sandiku dalam organisasi hitam adalah Bourbon…" bisiknya pelan. Tapi, itu sangat jelas di telinga Agasa. "Jadi? Boleh aku menemuinya? Ada urusan yang harus aku selesaikan dengannya. Tenang, aku tak akan berbuat jahat padanya… pada Sherry. Karena, aku dan dia itu sama," jelasnya panjang lebar sembari tersenyum lembut ke arah Agasa. Sementara itu, Agasa membelalakan matanya. Ingin sekali dia menghentikan pria itu saat ini juga. Tapi, apa daya? sepertinya tidak mungkin dia lakukan hal itu sekarang. Mengingat dia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan orang yang bersandi BOURBON itu saat ini. Dengan enggan, Agasa mempersilahkannya masuk.
"Terimakasih…" ucap Subaru dengan senyum yang tetap menghiasi wajahnya. Dia berjalan melewati Agasa. Tepat di depan batang hidungnya. "Ah…" Subaru membalikan badannya setelah beberapa langkah menjauhi Agasa dan kembali menghadap Agasa. "Boleh aku tahu dimana ruangan Sherry?" tanyanya. Agasa tidak menjawab. Tetapi, dia menatap salah satu pintu di rumahnya. "Oh, terimakasih," ucap Subaru dan pergi menuju ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, dia telah sampai di depan pintu ruangan itu. Lalu, dia mengangkan tangannya hendak mengetuk pintu tersebut. Begitu tangannya bersiap untuk mengetuk, dia mengurungkan niatnya. Dengan tersenyum, dia pun memegang gagang pintu ruangan tersebut dan membukanya lalu memasuki ruangan tersebut.
"Mau apa kau?" tanya sebuah suara sarkastik yang menyambut Subaru di ruangan itu. Lalu, Subaru tersenyum kembali dan membalik menatap seseorang di belakangnya (saat itu dia tengah menutup pintu) dan berjalan ke arahnya.
"Apa kabar?" tanya Subaru ramah pada Shiho yang tengah berdiri tegap dan angkuh menatapnya.
"Mau apa kau?" tanya Shiho mengulangi. Subaru mengkerutkan dahinya lalu melepas kacamatanya dan membersihkannya sebentar lalu memakainya kembali.
"Tidak mau bernostalgia dengan kawan lama, huh?" tanya Subaru sembari menatap Shiho yang sepertinya telah menyadari kedatangannya sebelum dia memasuki ruangan ini.
"Tak ada waktu! Ada apa?" tanya Shiho masih datar. Subaru menggelengkan kepalanya dan berjalan melewati Shiho. Lalu, dia duduk di kursi di depan computer Shiho yang masih menyala. Bekas pekerjaannya sebelumnya yang dia tinggal.
"Oh… kamu sedang melakukan penelitian lagi, Shiho?" tanya Subaru sembari mengutak-atik computer Shiho. Shiho pun mendekatinya.
"Beranjak dari komputerku atau aku sekarang juga tak akan pernah mau mendengarkan maksudmu!" seru Shiho.
"Baik… baiklah…" sahut Subaru akhirnya dan beranjak dari kursi tersebut. Lalu, dia menghampiri jendela di ruangan itu yang menghadap rumah Shinichi.
"Shiho… ada yang harus aku beritahu padamu…" ucap Subaru memulai. Kini, dia mulai bernada tegas.
"Apa?" tanya Shiho datar. Kali ini suasana benar-benar serius.
"Baiklah… emm… Kak Shiho… aku tahu kau pasti mengetahui siapa aku kan? Yah… adik kelasmu yang selalu mengikuti kemanapun kamu pergi. Sejak di Junior High School, aku memang sangat menyukaimu… Lalu, aku mengikuti kamu kemanapun. Saat high School, saat kuliah di Harvard, tetapi ada suatu saat dimana aku tidak bersamamu setelahnya. Jujur saja aku menyesal sekali tidak cepat menemukanmu. Saat itu… saat kau tiba-tiba menghilang dari Harvard. Kau tahu? Aku sibuk sekali saat itu! Sibuk membuat skripsi dan penelitian ilmiah, karena aku juga mengambil jurusan teknologi dan teknivasi ilmu hidup biologi dan criminal, tapi, semua itu aku tinggalkan hanya untuk mencarimu! Untung saja, aku masih bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat begitu aku menyadari percuma. Tapi, setelah lulus dari Harvard, akhirnya aku menemukan jejakmu… sebagai anggota organisasi hitam. Aku meneliti organisasi itu hingga aku memutuskan untuk bergabung. Tapi sayang, aku tak menemukanmu disana, mereka mengatakan, kau, Sherry, sudah mati. Aku frustasi jujur saja! Tapi, yah kau tahu… bila sudah terikat dengan mereka aku tidak bisa keluar. Sampai akhirnya aku jadi badan intelegent mereka. Lalu, kau tahu apa? Akhirnya aku menemukanmu! Aku mendapatkan data dari salah satu anggota jubah hitam… err siapa ya? Ah! Kakek tua bernama Pisco… dia punya seluruh datamu!" jelas Subaru panjang lebar. Lalu dia bersandar pada dinding di sebelahnya. "Entahlah, aku ingin menyelamatkanmu… aku ingin menyelamatkanmu dari si PISCO itu! Aku ingin agar datamu tidak tersalur ke computer utama organisasi… aku ingin memusnahkannya! Tapi, aku… aku… aku membuat semuanya menjadi lebih buruk…" ujar Subaru frustasi. Shiho masih dengan tatapan lurus menatap Subaru.
"Kenapa?" tanya Subaru pada Shiho yang terus memandanginya aneh.
"Tidak… lanjutkan!" seru Shiho seraya duduk di depan komputernya dan langsung mengutak-atik komputernya.
"Yang ada, aku malah membuat organisasi membunuhnya… yah, kau tahu? Saat kau hampir tertangkap oleh Pisco dan kamu dibawa ke gudang bir itu… saat itu Pisco sekejap meninggalkanmu kan? Ya… itu karena aku ingin memberikan waktu untuk lolos padamu. Pokoknya saat itu, aku juga ikut menolongmu…" ujar Subaru panjang lebar.
"Yah… dan sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Shiho pada Subaru. Subaru mengerutkan alisnya dan menyipitkan matanya yang sudah sipit.
"Entahlah, tadinya aku mau menumpang disini, tapi, sepertinya professor yang barusan itu sangat tidak menyukaiku… jadi, aku akan tinggal di apartment saja. Kamu mau menetap bersamaku?" tanyanya pada Shiho.
"Jangan bodoh! Aku tidak mau… sudahlah, sekarang kamu pergi karena aku harus bersiap mengunjungi resepsi pernikahan seseorang…"
"Aku tahu siapa dia!" potong Subaru cepat. Shiho berhenti berbicara. Menunggu kelanjutan dari arah pembicaraan Subaru.
"Dia adalah Ninzaburo Shiratori dari kaum elit divisi satu bagian investigasi yang sekarang menjadi inspektur muda. Lalu keluarganya mempunyai perusahaan besar berlabel Ninzaburo Coorp. Malam ini dia akan menikah dengan Sumiko Kobayashi seorang guru di SD Teitan. Benar kan?" tanya Subaru.
"Darimana kau tahu?"
"Jangan lupakan profesi gelapku sebagai badan intelligent!" jawab Subaru seraya tersenyum manis. Shiho menatapnya malas, lalu kembali pada komputernya.
"Aku tidak peduli! Memangnya, apa profesimu sekarang? Maksudku profesi selain profesi gelap…" tanya Shiho.
"Aku direktur utama cabang perusahaan dari salah satu perusahaan Ninzaburo Coorp. yang terbesar…" jawab Subaru.
"Lalu, apa maumu memberitahukanku segala tentang Shiratori?" tanya Shiho yang mulai berbicara rileks.
"Sebenarnya semenjak aku berniat kemari pun aku hanya ingin mengajakmu pergi berdua ke pesta itu. Bukankah kita diundang kesana sebaiknya membawa pasangan? rasanya tidak mungkin kamu mau bersanding dengan si tua barusan…" jawab Subaru. "Mau?" lanjutnya.
"Apa?" tanya Shiho datar.
"Menjadi pasanganku?" tanya Subaru lagi dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya.
"Ti-DAK!" seru Shiho.
"Oh ayolah… kamu tidak ingin Shinichi tahu kan tentang perasaan kamu yang sebenarnya padanya?" tanya Subaru lagi dengan dihiasi senyuman di bibirnya. Shiho mendelik kaget padanya. Lalu, dia segera mencernanya. Dia tahu, sekarang dia sedang berhadapan dengan orang yang tak kalah cerdasnya dengan dia. Salah satu dari badan intelligent sepertinya sebelumnya.
"Baik, dengan syarat!" seru Shiho pada akhirnya menatap Subaru geram tapi segera diredakannya. Dia beranjak dari kursinya dan mulai mendekati Subaru.
"Ya?"
"Jangan menyentuhku di bagian apapun! Kecuali kau mau aku membencimu seumur hidup!"
"Bagaimana dengan reaksi yang lain? Apa kamu mau mereka semua curiga? kita datang berpasangan tapi sama sekali tidak ada rasa kasih sayang sedikitpun?" tanya Subaru menginginkan reaksi dan jawaban lebih dari Shiho.
"Aku tidak bodoh! Kamu bukan siapapun untukku dan… kita tidak memiliki hubungan kasih sayang apapun! Mengerti? Tidakkah kamu pikirkan itu? Aku tidak peduli orang memiliki anggapan tentang kita!" seru Shiho. "Pergilah, nanti hal itu akan aku pertimbangkan," lanjut Shiho akhirnya.
"Baiklah… pukul 8 malam, aku jemput kamu… Sherry…" ucap Subaru seraya menekankan kata Sherry. Subaru segera beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangan Shiho.
Shiho yang telah menyadari Subaru telah tiada, segera menuju komputernya dan tangannya mulai menari di atas keyboardnya. Namun, tidak lama, dia mendengar bunyi pintu ruangannya dibuka. Dilihatnya siapa yang membuka. Ternyata, Agasa memasuki ruangan itu dan arah pandangannya lurus ke arah Shiho.
"Ada apa, Prof?"
"Siapa tadi, Shiho?" tanya Agasa hati-hati.
"Jangan khawatir… dia tidak berbahaya… dia… kekasihku," jawab Shiho dengan nada yang sangat pelan di kata 'kekasihku'. Agasa mengerutkan keningnya bingung. "Yah… dia mengajakku ke resepsi pernikahan Shiratori dan Kobayashi…" jelas Shiho.
"Tapi, dia anggota org-"
"Aku tahu, tapi dia berbeda… maaf ya, Prof. aku tidak memberitahumu sebelumnya," potong Shiho. Terdengar Agasa menghela nafasnya berat.
"Yah… itu adalah keputusanmu… Jadi, malam ini, kamu akan berangkat bersamanya?" tanya Agasa.
"Ya, dia akan menjemputku pukul 8 malam nanti," jawab Shiho. Agasa mengangguk mengerti lalu segera keluar dari ruangan itu. Tapi, sebelum dia benar-benar keluar, dia berhenti dan terlihat sedikit berpikir. Shiho memperhatikannya.
"Jaga dirimu… dan bersiaplah! 2 jam lagi adalah pukul 8 yang jadi waktu kalian," ucap Agasa tanpa menatap Shiho. Shiho pun tersenyum menanggapinya. Lalu, dia kembali berkutat dengan komputernya. Perlahan dia menundukan kepalanya. Meremas rambutnya keras layaknya seorang yang stress. Lalu, tetap dengan tangan yang meremas rambutnya, dia menatap tajam pada jam meja di meja kerjanya. Pukul 6.49 malam. Dia pun segera bergegas mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari tubuhnya sampai apa yang akan dikenakannya.
'Apa seperti ini tidak apa-apa?' batin Shiho saat melihat penampilannya dengan gaum merah muda selututnya di depan cermin.
Tok Tok Tok
Pintu ruangan Shiho diketuk oleh entah siapa. Shiho pun membukakan pintu untuknya.
"Profesor? Ada apa?" tanya Shiho. Agasa tampak terpana melihat Shiho. Namun, dia segera sadar dan langsung ingat tujuan utamanya kemari.
"Cepatlah, di luar Subaru telah menunggu!" seru Agasa. Shiho mengangguk dan segera mengambil beberapa barang pentingnya yang dia masukan dalam tas kecilnya.
"Aku duluan, Prof. dengan siapa prof pergi?" tanya Shiho.
"Dengan Yukiko dan Yusaku. Mereka baru saja sampai tadi…" ujar Agasa.
"Oh, kalau begitu aku pergi sekarang! Ja ne!" seru Shiho dan segera menuju keluar rumah ke tempat dimana Subaru menunggu.
Sama seperti Agasa, Subaru pun terpana melihat penampilan Shiho saat ini. Dengan dibalut gaun merah mudah semakin memperjelas warna kulit putihnya. Olesan kosmetik yang tidak terlalu tebal menjadi ciri khasnya yang sangat menawan.
"Hei!" seru Shiho karena bingung dengan tingkah Subaru yang terus memperhatikannya.
"Eh? ah iya… silahkan masuk!" seru Subaru. Dia membukakan pintu mobil Jaguar XJ Sentinelnya dan mempersilahkan Shiho duduk di sana.
"Pakailah sabuk pengaman… kita sudah telat…" ujar Subaru setelah dia duduk di bangku kemudi.
Jelas terlihat di dalam mobil itu terdapat banyak hal baru yang sepertinya khusus dirancang oleh Subaru sendiri. Diam-diam, Shiho menganalisis semuanya. Menganalisis apa-apa yang terjadi dan apa-apa yang ada dalam mobil ini. Menyadari hal itu, Subaru segera angkat bicara.
"Mobil ini sengaja aku rancang untuk keselamatan dan kenyamananku yang tidak tentu menetap pada satu tempat. Kau tahulah… bagaimana pekerjaanku yang memakan waktu lama di dalam mobil. Mobil ini dilengkapi alat pendeteksi, kaca dan badan anti peluru, ban mobil dengan 2 versi, versi salju dan versi biasa, terlebih yang paling penting alat intelegensi yang membantuku dalam menangani pekerjaanku… yah, kau bisa periksa… Lihat, disitu kamu bisa membuat jus dengan mudah, menonton TV kabel, mengawasi beberapa tempat berbeda di Tokyo, Kyoto dan Hiroshima. Mobil ini lengkap disertai turbo untuk berusaha kabur dari segala macam… Lalu, coba kamu dengar. Aku tidak yakin kamu bisa mendengar deru mesin mobilnya… yah, ini mobil aku rancang sempurna! Dari yang sempurna lalu aku rancang lebih sempurna… Silahkan jika ingin melihat-lihat," ucap Subaru sambil tersenyum dan pandangannya fokus ke depan.
"Tidak perlu, aku sudah tahu semuanya," jawab Shiho.
"Baguslah, sebentar lagi kita akan segera sampai di marriage building, dan jangan terlihat canggung di dekatku," sahut Subaru. Shiho tidak menanggapi. Dia hanya diam dan tidak merespon.
Sesampainya disana, mereka berdua memasuki gedung itu bersamaan. Keduanya berjalan seperti biasa. Tidak berjauhan ataupun berdekatan. Mereka berjalan biasa saja layaknya orang yang belum saling kenal.
"Maaf Pak, undangannya?" tanya seorang petugas di pintu masuk gedung itu. Subaru dan Shiho mengeluarkan undangannya masing-masing. Petugas itu mengerutkan kening heran.
"Kenapa?" tanya Subaru ramah.
"Jadi anda dan nona ini bukan pasangan kekasih?" tanya petugas itu. Shiho dan Subaru saling memandang dengan datar.
"Memangnya ada apa?" tanya Subaru. Petugas itu pun mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak yang tersimpan di balik meja pemeriksaan.
"Ini, ada kupon undian untuk pasangan… nanti ada suatu event dimana kupon ini akan berguna. Bagaiamana?" tanya petugas itu. Subaru memandangi Shiho meminta jawaban. Tapi, Shiho tidak peduli dengannya.
"Baiklah, saya amb-"
"Shinichi! Kudo!" seru beberapa orang gadis-gadis yang berlarian menghampiri sosok yang disebut Shinichi. Subaru dan Shiho spontan memalingkan muka ke arah Shinichi dan Ran yang kini bak artis dikerubungi oleh banyak orang. Mereka sempat tidak percaya, karena petugas tadi ternyata kini sedang berada di hadapan Shinichi untuk meminta tanda tangannya. Membuat Subaru dan Shiho jadi sweatdrop. Setelah itu, petugas itu kembali menemui Subaru dan Shiho.
"Maaf tuan, nona… tadi itu Shinichi Kudo dan saya sangat mengaguminya. Oh iya, tadi kupon yang harus saya berikan pada anda, terlanjur saya berikan pada Shinichi dan Ran. Saya mohon maaf sekali lagi! Ini sebagai ganti, saya berikan kupon yang baru. Saya yakin kalian berdua adalah sepasang kekasih yang malu mengakui hubungan kalian berdua di muka umum… benar kan?" Subaru memandang heran pada petugas itu dan segera mengambil kuponnya, lalu memasuki gedung.
"Hai Shiho! Dengan siapa kamu kesini?" tanya Shinichi dengan senyuman lebarnya. Satu tangannya dia rangkulkan pada pinggang Ran.
"Aku bersama… dia," ucap Shiho menunjuk Subaru.
"Perkenalkan, Subaru Okiya…" ucap Subaru dengan nada beratnya tetapi senyum hangat tetap menghiasi.
"Shinichi Kudo… dan ini ad-" ujar Shinichi terpotong oleh Subaru yang selalu ingin menebak.
"Aku tahu, dia istrimu kan? Ran Kudo? Ya, aku tahu! Shiho sering menceritakan padaku tentangmu, Nona… dan rencananya, dia juga ingin sepertimu saat ini… hamil… benar kan?" ujar Subaru seraya mengedipkan sebelah matanya pada Shiho.
"Apakah aku boleh tahu, kamu mengetahui itu darimana?" tanya Shinichi. Dia pikir dia belum menyebarkan berita kehamilan Ran pada orang luar.
"Ah, seperti yang tadi aku beritahukan, Shiho yang memberitahuku karena dia ingin punya anak dariku… benar kan?" jelas Subaru. Wajah Shiho sudah seperti kepiting rebus sekarang. Dia segera menampar Subaru yang sama sekali tidak bereaksi, lalu meninggalkan mereka bertiga.
Ran hendak mengejarnya, tetapi Shinichi menghalanginya.
"Biarkanlah, dia butuh sendiri…" ujar Shinichi.
"Oh iya, maaf Subaru, saya hanya ingin memberitahu, jangan bersikap seperti itu pada Shiho di depan kami… dia juga masih ada rasa malu…" ungkap Ran.
"Maaf, tadi aku hanya berniat menjahilinya. Ya sudah, aku pergi! Ja ne!" seru Subaru menyusul Shiho yang tengah berlari entah kemana.
Shinichi dan Ran memasuki ruangan yang menjadi pusat resepsi. Di pintu masuknya terdapat dua orang door man yang mempersilahkan Shinichi dan Ran memasuki ruangan. Dengan bertautan tangan mesra, ran dan Shinichi akhirnya memasuki ruangan tersebut. Dari arah pintu masuk, mereka sudah disajikan banyak pemandangan yang membuat mata belanja. Dengan segala kemewahan dan artistic juga makanan-makanan yang terhampar sepanjang mata memandang dengan susunan rapi. Dari sana juga mereka telah dapat melihat Kobayashi dan Shiratori yang sedang bercengkrama bersama tamu undangan yang lain.
"Ayo," ucap Shinichi sambil menggandeng tangan Ran untuk memasuki ruangan itu lebih jauh. Ran tersenyum menanggapi dan mengangguk setuju.
Tidak lama mereka berjalan, beberapa orang menghampiri Shinichi dan Ran. Mereka yang menghampiri adalah Kyogoku dengan Sonoko yang menggelayut manja di lengan kirinya. Lalu, Heiji dan Kazuha yang mengenakan pakaian yang serasi.
"Lama tidak bertemu, Kyogoku," sapa Ran seraya tersenyum ke arahnya.
"Ya, apa kabar? Masih menjalani Karate?" tanya Kyogoku lembut.
"Ahahaha, yah jarang sih setelah menikah itu… masih banyak yang harus aku urus…" ucap Ran sambil tertawa gelid an wajahnya memerah. "Bisa jadi, untuk saat ini aku tidak akan pernah mengikuti Karate lagi sampai beberapa bulan ke depan… Atau satu tahun kedepan," lanjut Ran sambil tersipu. Kyogoku mengerutkan keningnya menatap Ran heran.
"Kenapa? Bukankah teknikmu sangat hebat? Gerakanmu juga tidak bisa dibilang sangat buruk kok… Malah sangat bagus!" tanya Kyogoku yang tidak mengerti tentang apa yang dikatakan Ran.
"Hehehe… itu…"
"Itu karena Ran kini sedang mengandung anak kami… Jadi aku ikut serta dalam melarangnya," sahut Shinichi cepat membantu Ran dalam menjawab.
"Ah? Me- apa?" tanya Heiji membulatkan matanya tidak percaya.
"Ran…!" seru Sonoko dan Kazuha sembari memeluk Ran. Mengabaikan para pria yang berdiri shock melihat tingkah pasangan mereka. Terutama Shinichi yang mengkhawatirkan kandungan Ran saat ini. Mereka berpelukan terlalu erat.
"He-hei! kalian berhenti! Nanti bayiku… bagaimana bila terjadi sesuatu dengan bayiku?" seru Shinichi sedikit panik. Para wanita mendelik menatap Shinichi. Mereka mengeluarkan aura jahat, kecuali Ran yang tetap tersenyum menghadapinya.
"Kamu terlalu berlebihan Shinichi!" seru Sonoko sambil menjulurkan lidahnya dan kembali ke samping Kyogoku. Begitu juga dengan Kazuha yang kembali ke samping Heiji.
"Shinichi, tidak apa kok…" ucap Ran sambil tersenyum. Shinichi hanya menghela nafasnya.
"Ran, Shinichi aku pinjam dulu ya, ada urusan penting!" seru Heiji yang sudah connect dengan apa yang terjadi. Dia segera menarik Shinichi dan Kyogoku bersamaan lalu pergi meninggalkan para wanita itu.
"Hei! Kenapa kamu juga tidak pinjam Kyogoku padaku! Dia kan punyaku!" seru Sonoko seraya menggembungkan pipinya sebal. Kazuha dan Ran tertawa menanggapinya. Melihat hal itu, Sonoko segera mendelik padanya. "Apa?" seru Sonoko ketus. Tapi, melihat sahabatnya masih tertawa juga, akhirnya dia malah ikut tertawa.
Sementara itu, Subaru masih dalam pencariannya terhadap Shiho. Dia menelusuri setiap hall yang dia yakin di lewati oleh Shiho. 'Apa yang aku lakukan disaat seperti ini?' batin Subaru. Dia hampir frustasi karena tidak bisa menemukan apa yang dicarinya. Shiho Miyano.
Cklek..
Terdengar suara pintu yang menutup di sekitarnya, lalu, dengan cepat Subaru mengedarkan pandangannya dan menangkap sosok yang dia kenal sebagai Shiho berjalan santai dengan wajah datarnya.
"Shiho? Kemana saja?" tanya Subaru seraya mendekati Shiho. Shiho tidak menanggapinya dan terus berjalan lurus ke arah ruangan utama.
"Shiho!" seru Subaru dan mulai menggenggam tangannya. Shiho langsung menepis tangannya, namun, dia gagal karena tenaga Subaru lebih besar darinya.
"Maafkan aku… Aku tidak-" kata-kata Subaru terputus saat dia melihat tatapan mata Shiho padanya yang seolah menghujamnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah, aku tahu itu… ayo, kita hampiri yang lainnya," sahut Shiho dan melepaskan genggaman tangan Subaru. Dia lalu berjalan mendahului Subaru yang segera menyusulnya.
Mereka berdua berjalan beriringan sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu ruang utama. Lalu, door man membukakan pintu untuk mereka. Mereka pun masuk dengan saling acuh tak acuh. Walau sebenarnya, yang mengacuhkan adalah Shiho.
Mereka memasuki ruangan itu dengan diam. Walau suasana ramai, tapi, keheningan masih merayapi Shiho dan Subaru. Mereka akhirnya duduk di salah satu meja yang tersedia.
"Shiho? mau makanan apa? Aku bawakan…" ucap Subaru mencairkan suasana. Shiho tidak memperdulikannya. Dia masih lekat menatap pasangan pengantin yang kini tengah tersenyum bahagia sambil memberikan salam hangat mereka terhadap para tamu. Subaru mengikuti arah pandang Shiho. Lalu dia tersenyum. Membuat kesipitan matanya makin sipit.
"Mereka terlihat bahagia ya? Ah! Bagaimana kalau kita menghampiri mereka juga? hm? mau?" tanya Subaru pada Shiho. Shiho menatapnya lalu segera pergi meninggalkannya. Subaru pun mengikuti Shiho dari belakang. "Aku ikuti kemanapun kau pergi…" sahut Subaru. Mereka berjalan dalam diam.
"Shiho!" seru seseorang. Shiho mengalihkan pandangannya pada arah suara itu.
'Ran?' batin Shiho. Dia pun tersenyum dan melambaikan tangannya membalas Ran. Shiho pun mendekati Ran disertai Subaru yang masih berada di belakangnya.
"Shinichi? Dimana?" tanya Shiho karena sadar Shinichi tidak ada disana.
"Oh, dia tadi pergi dengan Heiji dan Kuogoku! Ah, dia siapa?" ujar Sonoko seraya menunjuk ke arah Subaru. Subaru tersenyum pada Sonoko.
"Saya Subaru Okiya, kekasih Shiho Miyano…" ucap Subaru seraya menundukan sedikit tubuhnya. Shiho tersentak dan men-death glare Subaru. Dan setelah saat itu, mereka pun berbicara panjang lebar. Subaru ternyata orang yang mudah diajak berbicara. Belum lagi senyumannya yang terlihat manis itu.
"Hai, Ran… Dimana Shinichi?" tanya Kobayashi yang ternyata datang bergabung bersama mereka ditemani oleh Shiratori.
"Tadi dia pergi bersama Heiji… Oh ya, selamat ya… semoga rumah tanggamu dengan Inspektur Shiratori bisa terjalin selamanya," ujar Ran seraya tersenyum lembut yang dibalas oleh Kobayashi.
"Kau Shiho, Kazuha dan Sonoko kan? Ayo, kita pergi ke tengah-tengah. Akan ada acara dansa berpasangan tak lama lagi!" ucap Shiratori dan segera mengapit tangan Kobayashi. "Kami duluan…" lanjutnya seraya pergi meninggalkan Ran dan yang lainnya.
"Kalau begitu, kami juga pergi dulu ya! Ayo, Shiho… kita berdansa?" ucap Subaru. Dia memberikan tangannya pada Shiho dan diterima dengan baik oleh Shiho.
"Kami duluan ya, Ran, Sonoko, Kazuha!" seru Shiho dan pergi meninggalkan mereka.
Ran tersenyum mengiringi kepergian Shiho dan Subaru. Pasangan baru. Lalu, dia tersenyum sendiri membuat kedua sahabatnya bingung akan tingkahnya.
"Ran?" tanya Sonoko. Ran tersentak dan segera membalikan tubuhnya menghadap Sonoko.
"Ya?" sahut Ran.
"Kamu tahu tidak kemana perginya para laki-laki menyusahkan itu?" tanya Kazuha. Ran mengerutkan dahinya.
"Entahlah…" jawab Ran. Lalu, dia mengusap perutnya lembut. "Hihihi…" tawanya. Membuat kedua sahabatnya tambah bingung. "Aku tak sabar menunggu kelahiranmu," ucap Ran bahagia.
Sonoko melihat kejadian tersebut, lalu dia menangis haru.
"Eh? Kenapa?" tanya Ran pada Sonoko.
"Ran… kamu telah dewasa! Hwaaa… aku jadi bingung… nanti bila aku dan Kyogoku menikah bagaimana ya?" ucap Sonoko sambil mengusap air matanya. "Kamu gimana, Kazuha? Dengan pria hitam itu?" tanya Sonoko pada Kazuha.
"Eh? Aku rasa Heiji baik… yah, entahlah, dia masih menyebalkan!" seru Kazuha. Ketiganya saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak.
Beberapa saat kemudian, lampu yang menerangi ruangan tiba-tiba mati. Yang menyala hanyalah lampu di sekitar panggung di ruangan itu.
"Selamat malam…" ujar seseorang dengan pengeras suara dari atas panggung itu. Wanita-wanita yang melihatnya kemudian menjerit histeris.
"KYAAA! Shinichi! Heiji! Kyogoku! Saguru! Takagi!" jerit wanita-wanita disana. Kelima orang itu kini tengah berdiri dengan coolnya di atas panggung itu. Shinichi sebaga guitarist, Heiji sebagai vocalist, Takagi sebagai keyboardist, Kyogoku sebagai bassist, dan Saguru sebagai Drummer.
Ran, Sonoko, Kazuha dan Shiho speechless melihatnya. Mereka tidak mengerti dan tidak pernah menyangka dengan apa yang terjadi.
"Baiklah, untuk persembahan pada pengantin baru kita dan untuk kalian semuanya, kami akan menyanyikan sebuah lagu… juga… lagu ini, spesial untuk pasangan kami… yang kami cintai sepenuh hati… Kazuha Toyama, dengan ini, aku persembahkan lagu untukmu… Aku… mencintaimu," ucap Heiji. Dia menatap Kazuha di sekitar para tamu. Otomatis para tamu pun memandanginya.
"Heiji…" ucap Kazuha. Dia menitikan air mata bahagianya yang segera dihapusnya. Ran dan Sonoko yang ada di sisinya merangkulnya hangat.
"Ran!" ucap Shinichi kemudian.
"Sonoko…" sahut Kyogoku.
"Miwako…" ucap Takagi.
"Dan aku… err, yah! Semua wanita disini! Ladys! I love you!" seru Saguru membuat wanita-wanita disana semakin berteriak mengerikan.
Mereka mulai memainkan sebuah lagu yang ternyata dikhususkan untuk Kazuha Toyama.
mungkinkah kau tahu
rasa cinta yang kini membara
dan masih tersimpan
dalam lubuk jiwa
ingin kunyatakan
lewat kata yang mesra untukmu
namun ku tak kuasa
untuk melakukannya
mungkin hanya lewat lagu ini
akan kunyatakan rasa
cintaku padamu rinduku padamu
tak bertepi
mungkin hanya sebuah lagu ini
yang selalu akan kunyanyikan
sebagai tanda betapa aku
inginkan kamu
Heiji menyanyikannya dengan penuh perasaan membuat yang mendengarnya melambung tinggi. Tidak disangka ternyata suaranya sangatlah enak didengar. Kazuha sampai terharu dibuatnya.
"Ran, berdansa denganku, ya?" ujar Shinichi setelah dia menyelesaikan tugasnya di atas panggung itu. Ran tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Shinichi pun membawa Ran ke ruang tengah dan berdansa disana. Berbaur dengan semua manusia yang juga berdansa disana.
"Ran, hati-hati…" ucap Shinichi. Ran mengangguk dan mulai berdansa disana.
"Ran, aku benar-benar bahagia… sangat bahagia!" seru Shinichi sembari mereka tetap melakukan dansa.
"Kenapa?"tanya Ran pada Shinichi.
"kau tahu? Ini seperti mimpi saja. Tadi kamu melihat tidak reaksi Kazuha dan Heiji setelah acara?" tanya Shinichi sambil terkikik geli. Diikuti Ran yang juga tertawa membayangkannya.
"Hahaha… benar… emmhhh…" Ran menghentikan dansanya. Dia memegangi perutnya.
"Kenapa?" tanya Shinichi khawatir.
"Shin, kamu bisa antar aku ke toilet? Aku benar-benar ingin kesana… aku… masih merasa mual," ujar Ran. Shinichi tersenyum dan menuntun Ran menjauhi kerumunan itu dan segera menuju ke toilet.
"Kamu mau aku antar masuk ke toilet?" tanya Shinichi mengedipkan matanya pada Ran. Ran bersemu merah.
"Ti…DAK!" seru Ran sambil berlalu menuju toilet meninggalkan Shinichi yang terkikik geli di luar sana.
Shinichi menunggu Ran di luar. Tangannya dia simpan di dadanya dan dia bersender di tembok di dekatnya. Dia tersenyum-senyum sendiri memikirkan rumah tangganya dengan Ran, kekasih pujaannya yang sejak dia kecil dia cintai. Bagaimana mereka melalui hari-hari mereka dan semuanya. Saat dia menjadi Conan, saat dimana Ran terus menunggu tanpa bosan.
CKLEK…
Lamunannya terhenti tat kala seseorang keluar dari toilet laki-laki di dekatnya. Shinichi melihat orang yang membuyarkan lamunannya itu. Pakaian serba hitam mulai dari topinya hingga sepatunya. Lalu, dia melihat wajahnya. 'FBI?' batin Shinichi.
"Hallo Shinichi Kudo!" sapanya.
"James?" sahut Shinichi.
"Sedang apa disini?" tanya James pada Shinichi. Shinichi tersenyum menanggapinya.
"Itu, aku sedang menunggu Ran di toilet…" jawab Shinichi.
"Ran? Oh ya, bagaimana kabarnya?" tanya James.
"Baik, saat ini dia sedang mengandung anak kami," jawab Shinichi tersenyum.
"Oh? Selamat! Eng? Mengandung? Shinichi! Ikut aku!" seru James dan langsung membawa Shinichi ke dalam toilet pria. Tak disangka oleh Shinichi, disana telah berkumpul Jodie Starling dan Shuichi Akai.
"Loh? Kalian semua disini?" tanya Shinchi.
"Ow Shinichi! Kemari!" seru Jodie.
"Ada apa ini?" tanya Shinichi. Dia bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"Baiklah kemari… akan kami jelaskan sesuatu padamu…" ujar James.
"Haruskah anak kecil itu mengikuti rencana kita?" tanya Shuichi dingin.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Shinichi geram.
"Tch, tentu saja kau! Untuk apa kamu ikut? Kamu bukan FBI! Dan kamu sudah tidak ada urusan lagi dengan organisasi terkutuk itu," ucap Shuichi dengan menekankan kata 'terkutuk'.
"Memangnya ada apa?" tanya Shinichi.
"Kau tidak tahu? Organisasi terkutuk itu telah menelusup masuk ke pesta ini… Dan kamu malah bersantai dan tertawa? Aku tidak mengerti! Bukankah kami telah memberi tahu ayahmu?" tanya Shuichi dingin.
Shinichi membelalakan matanya terkejut. Lalu, dia menatap satu per-satu orang di toilet itu. Terlihat lebih dari 15 anggota FBI disana.
"Apa tujuan mereka?" tanya Shinichi sarkastik.
"Kau" ucap Jodie.
"Eh?"
"Tepatnya orang yang paling dekat denganmu guna untuk memancingmu… Dia… Ran," lanjut Jodie.
bersambung
GIMANA? RADA GAK NYAMBUNG YA? =.=a
Maaf ya, disini mungkin kurang terasa... soalnya Light juga bikinnya pas mau menghadapi ujian...
Lalu, yang chapter kemarin itu adalah mimpinya Shiho. Di chapter pertama, Shiho tertidur kan? Lalu, chapter kedua itu mimpinya. Terus chapter ketiga, pas dia bangun.
Ya sudah, mohon sarannya untuk perbaikan ke depannya! Jangan lupa share ide-ide nya juga ya!
Nanti light kembangin! Soalnya Light lagi sarat ide nih!
Jangan bosa review! Karena ini untuk perbaikan ke depannya...
Balas Review!
hinamori haibara ran : Lebay? hentai? Yah... baiklah... nanti ada perbaikan lebih lanjut ya, jadi gak ada hentainya. Thanks reviewnya!
Nishikawa Azura : Maaf ya baru balas... oh... iya tadinya mau rate M, tapi nanggung deh, udah rada tobat nih Lightnya, jadi ga enak bikin rate M nya... hahaha... iya kalau suka fic ini, terus review ya! Untuk kemajuan fic ini... dan untuk meramaikan Fandom Conan...
CyeAmakusaKuchiki : ini udah update... semoga suka ya
Q-Ren : Siip! Nanti kalau mau tahu tentang anak mereka, terus ikuti fic ini ya! Rencananya mau dibikin sampai 6/7 chapter... yah, mungkin lama ya nunggunya. Oke, kalau gak keberatan, review lagi ya untuk perbaikan ke depannya! Agar readers jadi enak bacanya...
Uchiha : Tenang aja pecinta ShinRan, ini fic masih belum terbayangkan... hahaha
Kamui : makasih udah ngasih semangat... iya nih kalo ga ada yang ngasih semangat jadi males bikinnya.. bayangan sih udah ada, cuma, berhubung banyak tugas jadi males bikin... apalagi kalo ada yang ngejelekin. Tapi, makasih kamu masih setia mendukung :)
seandainya gue jadi ran kudo : hahaha, siip! ini update! Shiho ga akan terlalu aku buat sedih, buktinya di chapter ini dia terlihat bahagia kan? #ditimpuk, enggak juga sih, tapi, masih mnding lah..
shiho kudo : iya! ini udah update!
Cyne C. Leonhard : thanks thanks thanks! iya ini update! thanks reviewnya! review lagi ya biar ini fic ga jadi fic abal! kalo udah abal ini fic jadi males Light lanjutin...
hikaru-chan : kamu mau Shiho mati? Ah, jangan dulu... lihat entar deh! Terus lanjutin setia sama ini fic ya!
edogawa Luffy : Kamu kecewa nggak? Itu yang ch. 2 kan... mimpinya Shiho...
AKIHIME MORITA : Maaf ya kalau di Fic chapter ini kurang terasa... sayanya pusing sih, lagi banyak tugas skolah!
L : Sorry nih, light udah tobat, jadi ga bisa rate M lagi... entar kali ya kalau lagi mood? hahahaha
Kanna Ayasaki : ini udh update... minta sarannya!
Merai Alixya Kudo : santai... aku juga suka ShinRan kok...
kki21njuU Ch : Kayaknya sekarang jadi ngebosenin ya?
SoraHinase : iya ini masih lanjut antara chapter 6/7 tamatnya
hana 'natsu' phantomhive : oh, saat itu light lagi gila gara-gara rate M di fandom lain... jadi ngawur deh itu chpter.
aku asadia : oh, Sonoko emang sama Kyogoku. Di mimpinya Shiho, dia kan bertamu ke rumah Ran? Bukan berarti berpasangan dengan Kaito.
watashikk 21 : ini udah Light usahain update... untuk seluruh reviewer dan readers yg Light cintai... #lebay, plaak!
